Pages

Tuesday, December 13, 2011

Neverending Clash of Titans

Bicara PSSI memang gak ada habisnya. Sebagai induk organisasi dari olahraga yang paling digemari di tanah air yaitu sepakbola, PSSI sebenarnya dibebani peran integral untuk memperbaiki prestasi sepakbola kita.

Salah satu sarana, dan boleh jadi mutlak adalah penyelenggaraan kompetisi. Kompetisi ibarat pabrik besar pesepakbola, dimana timnas sebagai pemakainya. Analogi ini ibarat perkebunan dan toko buah. Sebagus apapun toko, percuma kalo buah yang dijualnya berkualitas jelek. Kompetisi yang baik akan memudahkan timnas. Timnas tinggal memilih 20-23 pemain-pemain terbaik hasil kompetisi, yang nantinya dikerucutkan ke 11 terbaik sebagai starting eleven.

Kompetisi sepakbola yang ideal sebenernya punya kriteria simple. Yaitu diakui secara internasional dalam bentuk FIFA dan badan-badan yang bernaung dibawahnya, dan tentunya dalam hal ini diakui PSSI sebagai anggota FIFA. Tapi permasalahannya, apa kompetisi legal udah pasti sehat? Nanti dulu.

Kompetisi yang sehat, selain legal juga mengutamakan kepentingan yang lebih besar, dalam hal ini klub dan pemain didalamnya. Karena pemain adalah pelaku langsung dari permainan sepakbola, dan klub adalah penghasil sekaligus penyambung hidup pemain-pemain itu.

Kalo boleh gue ceritain, mungkin bisa panjang lebar dan ngebosenin jadinya. Tapi secara garis besar kronologisnya berawal dari pengurus lama. Sekelompok orang yang saat itu gerah dengan buruknya kualitas kompetisi ISL (Indonesia Super League) berinisiatif membuat sebuah kompetisi tandingan bernama LPI (Liga Primer Indonesia). Dengan jargon heroik berupa pengelolaan profesional, peningkatan standar mutu dan pembiayaan mandiri tentu aja sangat gampang menarik simpati berbagai kalangan.

Rezim lama lengser, datanglah rezim baru. Rezim baru yang diawal kepengurusannya aja udah kontroversial dengan meminggirkan Alfred Riedl ini lalu membuat kebijakan lain yang bahkan lebih kontroversial. Ide mereka memang baik, yaitu melebur kompetisi ISL dan LPI kedalam satu wadah yaitu Liga Prima Indonesia (juga LPI), termasuk melebur klub-klub didalamnya. Yang namanya peleburan atau penggabungan di perspektif bisnispun berarti harus ada kepengurusan baru, dan cuma satu pengurus yang bertahan, karena gak mungkin dalam satu kapal ada 2 nahkoda.

Tapi sebagaimana kita semua tau, itulah yang terjadi sekarang. PSSI gagal menjadi mediator netral dalam penyelesaian masalah kepemilikan klub-klub tadi, karena sebagai penetral, mereka justru sama sekali gak netral. Secara sepihak, mereka memutuskan siapa pemilik klub, dan mengacak-acak kepengurusan yang sudah ada.

Gak heran kalo klub-klub yang merasa dirugikan jadi mundur dari kompetisi LPI. Langkah ini diikuti banyak klub yang akhirnya menjadikan embrio yang menghidupkan kembali nadi ISL. ISL pun menjalankan kompetisinya. Ironisnya bagi ISL, the table has turned. Mereka kini menjadi kompetisi breakaway, sementara LPI menjadi kompetisi legal. Banyak mudaratnya dari keadaan ini, bahkan lebih besar pengaruhnya ke timnas daripada pada saat LPI menjadi breakaway league.

Pemain-pemain yang selama ini menjadi punggawa timnas, kebanyakan memperkuat tim ISL. Sementara PSSI tidak mengakui eksistensi klub ISL dari sisi legalitas. Habislah klub ISL tersebut tidak bisa mengikuti kompetisi yang berada dibawah PSSI, berimbas pula kepada didiskualifikasinya Persipura dari Liga Champion Asia, yang notabene berada dibawah naungan AFC, Federesi Sepakbola Asia.

Soal Persipura yang menjadi korban itu adalah konsekuensi dari tidak terselesaikannya dualisme kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia. Persipura bahkan mempertimbangkan untuk mengikuti Liga Australia saja karena keputusan PSSI untuk tidak mendaftarkan mereka di Liga Champions Asia telah melukai perjuangan mereka yang merebut gelar juara ISL musim lalu.

Gak berhenti di pemain dan Persipura aja korban situasi ini. Coach RD akhirnya mundur dari timnas U-23. Komentarnya sesaat setelah pertemuannya dengan pengurus PSSI sangatlah bijak dan ksatria "Saya meresa gagal tidak memenuhi target emas" begitulah katanya kepada wartawan. Tapi kita semua taulah apa alasan sebenarnya dari pengunduran diri Coach RD. Dia merasa tidak akan maksimal melakukan pekerjaannya jika tidak bisa memilih pemain terbaik untuk timnas. RD berharap masalah dualisme kompetisi ini bisa diselesaikan bagaimanapun caranya.

Kesalahan yang sama kembali diulang. Setelah sebelumnya melengserkan Alfred Riedl, kini RD dibiarkan pergi. Orang-orang kompeten dan eksepsional itu tidak ubahnya korban dari pertikaian yang terjadi diantara kalangan elit PSSI. Ditambah lagi, kini PSSI tidak mengakui program SAD (Sociedad Anonima Deportivo) yang berkompetisi di Quarta Division Uruguay karena SAD adalah programnya Nirwan Bakrie, yang bukan lagi bagian dari elit PSSI sekarang.

Kita bisa lihat bahwa kisruh ini terjadi karena pertikaian antar elit. Clash of Titans. Balas dendam rezim baru setelah mereka kini punya kuasa. Keliatan kalo disini sepakbola identik dengan politik, dan tentunya siapa yang berpihak pada penguasa dialah yang berjaya. Penguasa tidak melihat lagi MANFAAT dari suatu program, tapi melihat SIAPA yang memiliki program itu. Kalo bener ungkapan "Sepakbola adalah identitas suatu bangsa" maka bener keliatan karakter bangsa kita ini seperti apa.

Semoga Neverending Clash of Titans ini segera berakhir! Solusi apapun yang terbaik sangat dinantikan bangsa ini.

No comments:

Post a Comment