Pages

Showing posts with label EPL. Show all posts
Showing posts with label EPL. Show all posts

Monday, October 15, 2012

Salary Cap Dan Balance Of Power


Beberapa hari belakangan, media Inggris sibuk memberitakan tingkah badung yang kesekian kali dari Ashley Cole. Kali ini tweet-nya mengenai FA menuai kontroversi. Cerita mundurnya John Terry dari timnas juga masih hangat diperbincangkan. Namun wacana pengenaan salary cap pada kompetisi English Premier League (EPL) cukup menarik perhatian banyak pihak, karena efeknya lebih dari sekadar dampak yang ditimbulkan oleh Cole maupun Terry. Richard Scudamore, sang bos EPL, mengungkapkan keseriusannya untuk menerapkan pembatasan gaji tersebut dalam kompetisi glamor yang berisi bintang-bintang kelas dunia itu.

Sebenarnya apa sih salary cap? Well, sudah banyak yang membahas definisinya secara mendetail, yang intinya adalah pembatasan anggaran gaji pemain-pemain dalam tim dalam jumlah tertentu. Salary cap ini bisa ditetapkan per pemain, bisa juga per tim. Tujuannya jelas untuk mengerem biaya gaji klub yang sudah sedemikian besarnya. Salary cap ini juga dinilai akan membuat kompetisi semakin seru karena setiap tim memiliki kemampuan yang lebih merata dalam  hal negosiasi dengan pemain incaran. Dengan demikian, klub-klub kecil memiliki kesempatan lebih besar untuk menggeser kemapanan klub-klub papan atas.

Urgensi penerapan salary cap ini makin mendesak setelah EPL dikabarkan telah mencapai kesepakatan hak siar baru mulai musim depan. Jumlah yang dikabarkan mencapai 3 miliar pounds ini dikhawatirkan makin menjerumuskan klub-klub EPL kedalam efek delusional yang malah akan membuat mereka semakin banyak melakukan pemborosan. Sekarang saja, 4 dari 10 pemain berpenghasilan terbesar dunia bermain di EPL.

Klub-klub EPL menghabiskan angka 1,8 miliar pounds untuk biaya gaji pemain, atau 70% dari pendapatan klub. Belum lagi melihat fakta total utang klub-klub EPL yang berjumlah total 3.3miliar seperti dilansir telegraph. Rangkaian situasi ini menjadi alarm tanda bahaya bagi pengurus EPL.

Jika anda bertanya kepada anak-anak yang baru menggemari sepak bola setahun atau dua tahun belakangan, jangan heran jika klub favoritnya adalah salah satu klub EPL, jika bukan Real Madrid atau Barcelona. Hal ini menunjukkan peningkatan popularitas dan mutu EPL secara keseluruhan. Meski demikian, tercatat hanya 8 dari 20 klub EPL yang mampu membuat profit berdasarkan data di tahun 2010-2011. Perkembangan yang tidak sehat ini akhirnya membuat para pemangku kebijakan mempertimbangkan salary cap demi menyelamatkan klub-klub dari perilaku over-spending dan terlebih, selamat dari kebangkrutan sanksi UEFA.

Klub seperti Manchester City jelas paling disorot dalam hal ini. Mengalami kerugian 197 juta pound, atau terbesar sepanjang sejarah klub sepak bola, City berargumen bahwa inilah harga dari sebuah kesuksesan baik secara komersial maupun di lapangan. Meskipun mengeluarkan biaya gaji besar, City juga berinvestasi pada akademi dan pusat latihan pemain. Investasi pada pos ini tidak dihitung sebagai kerugian oleh UEFA.

EPL bercermin pada olahraga-olahraga Amerika Serikat yang memang menerapkan salary cap. NBA, NFL dan MLS menggunakan salary cap untuk melindungi klub-klubnya dari ancaman kebangkrutan akibat over-spending. Bagaimanapun, EPL tidak dapat dibandingkan dengan NBA maupun NFL, karena pemain-pemain bola basket maupun American Football terbaik dunia memang berkumpul disana, sementara pemain sepak bola terbaik lebih merata penyebarannya.

Klub-klub EPL perlu mengeluarkan gaji tinggi guna bersaing dengan klub tradisional juara seperti Real Madrid, Barcelona dan klub kaya raya baru Zenit St Petersburg, Anzhi Makhachkala, bahkan Shanghai Shenhua dan Guangzhou Evergrande dalam merekrut pemain-pemain bintang. Salary cap tidak berpengaruh pada mutu dan reputasi NBA atau NFL, berbeda dengan kasus EPL. Pengenaan salary cap disaat kebangkitan ekonomi dari timur ini dikhawatirkan banyak pihak malah justru akan mengurangi daya saing EPL dalam bursa transfer.

Lalu, apakah EPL dapat mempertahankan reputasi sebagai liga terbaik dunia dengan adanya salary cap? Para pemain dan agen pemain yang pemasukannya terancam karena aturan ini boleh jadi tidak setuju, dan EPL harus menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk, dari eksodus bintang, menurunnya daya tarik sebagai tujuan para bintang, hingga ancaman pemogokan.

Apa boleh bikin, EPL melakukan ini demi menekan biaya. Hal serupa tapi tak sama sebenarnya sudah dilakukan liga lain. Spanyol telah terlebih dahulu mengamandemen fasilitas pajak Beckham Law sejak dua tahun lalu, dan kini Prancis dibawah pemerintahan sosialis Francois Hollande dikabarkan akan menaikkan tarif pajak hingga 75% untuk orang yang berpenghasilan diatas 1 juta euro setahun. Pesepakbola jelas banyak berada di kelompok ini. Italia pun demikian, penghematan klub-klubnya mengakibatkan eksodus para bintang. Semuanya demi penghematan dan menyelamatkan klub-klub sepak bola dari ancaman gulung tikar.

Pengenaan salary cap ini boleh jadi memang akan menurunkan daya saing kompetisi, namun spirit penghematan yang sudah diteriakkan berkali-kali oleh Uni Eropa sudah sepatutnya turut menyentuh dunia sepak bola, tempat dimana pelaku-pelakunya selama ini terkesan kebal terhadap krisis ekonomi. Hal yang sangat ironis bahwa meski mampu menggaji mahal pemain, klub terlilit utang besar dan terancam bangkrut.

Setiap kebijakan yang diambil tentu ada pro dan kontra, ada positif dan negatifnya. Dikabarkan 14 dari 20 klub telah menyatakan setuju tentang keberadaan aturan ini. Terlepas dari itu, para pemain maupun agennya tidak peduli akan kondisi klub karena pada dasarnya mereka akan bermain di klub yang mampu membayar mereka lebih besar. Walaupun mungkin tidak semuanya, tapi pada umumnya footballers follow the money. Para pesepakbola itu tidak hanya bertindak atas dasar keputusan sendiri. Mereka tentu punya keluarga, pasangan, sponsor atau agen yang terkadang punya pengaruh besar dalam pengambilan keputusan mereka.

Harus diakui, kebangkitan klub-klub Rusia maupun Cina seiring dengan peningkatan ekonomi dan ditambah sistem perpajakan yang masih bersahabat bagi ekspatriat kaya membuat para pemain bintang kini memiliki destinasi baru. Kepindahan Hulk dan Axel Witsel ke Liga Rusia maupun Dario Conca dan Lucas Barrios ke Liga Cina saat masih berada di usia produktifnya mengonfirmasi gejala balance of power di dunia yang kini turut menyentuh sepak bola. Inilah tantangan bagi EPL dan liga-liga utama Eropa secara umum.

Friday, September 14, 2012

Anton (not) the new Roman

Not ordinary Sugar Daddy
 
 
Penyerbuan Tariq Ibn Zayid tahun 711 Masehi mengawali invasi bangsa Arab ke Eropa melalui Spanyol. Pasukan pimpinan Tariq kemudian berhasil menguasai wilayah selatan Spanyol yang saat itu dipimpin oleh seorang bangsawan bernama Roderic. Atas keberhasilannya, Tariq Ibn Zayid lalu menamai bukit besar disana dengan namanya, Jabal Tariq, atau Bukit Tariq. Bangsa barat kemudian melafalkannya dengan Gibraltar.

 
Berabad-abad kemudian, Gibraltar kemudian menjadi wilayah strategis yang diperebutkan Spanyol dan Inggris. Sebagai wilayah yang membatasi benua Eropa dengan Afrika, wilayah ini jelas potensial. Inggris, seperti biasa, menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa penakluk dengan wilayah kolonial terbesar di dunia lalu mengambil Gibraltar sebagai bagian dari jajahan mereka.

 
Apa hubungannya Gibraltar dengan sepak bola? Nanti dulu, kita akan kesana sebentar lagi. Gibraltar, seperti halnya Cayman Island, Mauritius, Seychelles, Isle of Man, British Virgin Island dan lain-lain dalam dunia ekonomi adalah sebuah yurisdiksi menguntungkan yang dapat mereka manfaatkan. Wilayah ini dinamakan surga pajak, atau dikenal dengan istilah tax haven. Yurisdiksi semacam ini memungkinkan para pemilik modal dari seluruh dunia untuk membuat anak perusahaan yang berdomisili di wilayah semacam Gibraltar ini, lalu menggunakannya sebagai perusahaan perantara sebagai upaya untuk menghindari pajak yang tinggi.

 
Gibraltar turut menarik minat sebuah perusahaan bernama Thames Sports Investment (TSI). Melalui perusahan milik keluarga Zingarevich, multi miliuner Rusia ini, klub EPL Reading FC dibeli dari pemilik lamanya, Sir John Madjeski. Anton, anak dari Boris Zingarevich pemilik TSI, kini menjadi Presiden klub berjuluk The Royals tersebut. Dengan modal 25 juta pound untuk mengakuisisi Reading, bertambahlah daftar “Sugar Daddy” di kancah sepak bola Eropa.

 
Anton Zingarevich bukanlah orang yang asing dengan negeri Ratu Elizabeth. Di usia 16 tahun, dia bersekolah di Bearwood College, tempat dimana ia suka menghabiskan waktu menonton Reading FC bertanding di Elm Stadium, kandang lama Reading. Keterikatannya dengan klub ini sejak usia muda memang menjadi salah satu pengaruh keputusannya membeli 51% saham Reading. Memiliki klub sebenarnya bukanlah kenginan baru Zingarevich. Pada tahun 2004, Zingarevich sebenarnya dikait-kaitkan dengan Everton, yang saat itu membutuhkan suntikan dana, salah satunya agar calon bintang mereka, Wayne Rooney mampu mereka pertahankan. Namun batalnya negosiasi membuat Bill Kenwright, presiden Everton terpaksa menjual Rooney ke Manchester United. “Sayang sekali dia tidak jadi membeli klub ini, Zingarevich adalah seseorang yang memiliki passion pada dunia sepak bola, pengetahuan sepak bolanya seperti ensiklopedia.” Begitu komentar Kenwright mengenai sosok yang juga mampu bermain sepak bola dengan cukup baik ini.

 
Diluar kehidupan sepak bola dan bisnisnya, Anton sering menjadi magnet kerumunan wartawan. Bisa jadi dia tidak terlalu menyadari karena yang menjadi magnet tersebut boleh jadi Yekaterina Demankova, sosok yang selalu berada di sisinya. Super model keturunan Belarusia yang dikenal dengan nama Katsia ini adalah wanita yang dia temui dari hobi selancarnya di dunia maya. Dari perkenalan yang terjadi di tahun 2008, setahun kemudian mereka memutuskan untuk menikah.

 
Musim lalu, klub yang berdiri pada tahun 1871 ini sempat terseok-seok di kompetisi Champions Division. Namun kedatangan Zingarevich memberi dampak signifikan, terutama keberhasilan mereka memperpanjang kontrak Jimmy Kebe dan mendatangkan bomber Jason Roberts. Mereka lantas memenangi 15 laga dari 17 partai terakhir mereka, yang membuat mereka menempati posisi teratas klasemen Championship Division musim 2011/2012.

 
Pelatih Brian McDermott dipertahankan. Zingarevich beranggapan bahwa McDermott memiliki visi untuk membangun tim secara jangka panjang. Tidak salah memang, karena McDermott memang mengawali karir di Reading sebagai kepala tim pencari bakat sejak tahun 2000, pengalaman yang membuatnya sempat melihat bakat besar Eden Hazard saat usia sang gelandang masih 16 tahun. Dengan pola 4-4-2 andalannya, McDermott meraih penghargaan manajer terbaik divisi Championship musim lalu. pemain-pemian seperti Jobi McAnuff, Jimmy Kebe dan Jason Roberts adalah kunci keberhasilan mereka menjuarai kompetisi kasta kedua Inggris itu.

 
Zingarevich lebih jauh menegaskan bahwa dia bukanlah Roman Abramovich baru. Jika Abramovich langsung mengubah wajah Chelski dengan membeli pemain-pemain bintang berharga mahal dan sering memecat pelatih yang dianggapnya gagal, tidak dengan Zingarevich. Sadar bahwa Reading bukanlah klub yang sudah mapan bertarung di level kompetisi tertinggi, Zingarevich, yang berasal dari kota St. Petersburg ini ingin membangun Reading secara perlahan tapi pasti. “Dalam 5 tahun, target kami adalah tetap bertahan di EPL, kemudian dalam 10 tahun mampu berada di zona eropa.” Demikianlah visi jangka panjangnya.

 
Di awal kepemilikannya ini, Zingarevich hanya menghabiskan dana 5 juta pound untuk membeli striker kompatriot Rusianya, Pavel Pogrebnyak. Zingarevich bahkan turun langsung menemui sang striker guna meyakinkannya bermain di Berkshire. Diluar itu, skuad Reading diisi mayoritas pemain yang membawa mereka promosi ke EPL musim lalu. Sayangnya, mereka gagal membawa pulang Gylfi Sigurdsson, gelandang serang andal yang sempat bersama mereka pada tahun 2009. Pergerakan yang jauh dari agresif ini memperkuat anggapan bahwa Reading adalah tim yang memang menjalankan sepak bola dengan bijak.

 
Zingarevich akan memperbaiki fasilitas latihan dan akademi The Royals, termasuk menjalin kerjasama dengan klub-klub Asia dan Amerika Utara. “Kami ingin pemain-pemain berbakat di seluruh dunia bermain untuk tim ini. Kami ingin mengumpulkan mereka untuk kemudian kami jadikan fondasi tim kami di masa depan.”

 
Menarik menunggu kiprah tim ini dalam lima tahun kedepan ditangan “sugar daddy” yang juga terlihat visioner dan tidak meledak-ledak ini.

 
(Tulisan ini dimuat di www.footballfandom.net | follow @footballfandom1)

Wednesday, August 29, 2012

Kenapa Robin Van Persie Harus Pindah ke Manchester United


Robin Van Persie, yang ditunggu akhirnya datang
 
Saga transfer paling dinanti di musim baru 2012/2013 ini tidak lain adalah saga transfer penyerang asal Belanda, Robin Van Persie. Striker 29 tahun yang musim lalu menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris ini pada akhirnya berlabuh di klub rival, Manchester United dengan nilai transfer 24 juta poundsterling.

Van Persie mendapat gaji 200 ribu pound per minggu, ada pula yang menyebut 250 ribu, dan akan mengenakan kostum bernomor 20 yang terakhir digunakan oleh striker legendaris United, Ole Gunnar Solksjaer.

Setelah melalui saga yang melelahkan, Manchester United akhirnya yang menjadi pilihan sang penyerang mengalahkan Juventus dan Manchester City sebagai pesaing mereka. Dalam wawancaranya pasca perkenalan dengan tim barunya itu, Van Persie menyebut bahwa dia membutuhkan tantangan baru dari karirnya. “Tantangan” yang dapat juga diartikan sebagai trofi, sesuatu yang sulit ia dapatkan bersama Arsenal.

Bukannya mengikuti eksodus pemain Arsenal ke Manchester City, Van Persie justru memilih United. Sempat pula terdengar kabar bahwa sang pemain tertarik bergabung dengan Juventus, namun dengan situasi Juventus yang tengah kisruh akibat skandal pengaturan skor yang menimpa pelatih Antonio Conte, Van Persie akhirnya urung bergabung ke klub tersukses Italia asal kota Turin tersebut.

Tidak ada yang tahu apakah keputusan Van Persie benar atau salah sebelum musim 2012/2013 berakhir, tetapi memilih Manchester United adalah pilihan logis bagi sang striker yang kini dianggap sebagai pemain “nomor sembilan” terbaik dunia saat ini. Manchester City mungkin tim yang komplet, namun lini depan yang telah sesak dengan pemain bintang akan sangat membatasi peran the Dutchman. Selain itu tanpa mengecilkan pelatih lainnya, Sir Alex Ferguson adalah salah satu pelatih tersukses di Eropa yang telah teruji berkali-kali mampu mengeluarkan sisi terbaik anak asuhannya.

Ferguson pasti sadar sepenuhnya saat menyebut Van Persie adalah pemain yang akan menjadi penerus Eric Cantona, mantan anak emasnya yang mampu menjadi penyelesai serangan dengan kemampuan kelas dunia yang sekaligus menjadi katalis tim yang dibelanya.

Fergie juga menyebut bahwa kedatangan Van Persie akan menghindarkan United dari kegagalan pahit musim lalu saat hanya kalah selisih gol dari rival sekota Manchester City. Gol-gol sang penyerang akan mengubah peruntungan United. Kehadiran Van Persie juga diyakini akan membuat suksesi United berjalan mulus. Sudah veterannya Paul Scholes dan Ryan Giggs tentu memberikan lubang regenerasi yang menganga bagi United, dan Fergie menilai bahwa Van Persie siap mengemban harapan tersebut.

Bagaimana Van Persie bisa menyatu dengan taktik United? Mengingat potensi terbaik Van Persie keluar saat dimainkan sebagai ujung tombak, Fergie bisa dengan leluasa menempatkannya didepan Wayne Rooney atau Danny Welbeck, dengan Javier Hernandez sebagai pelapisnya. Dukungan dari Shinji Kagawa, Nani, Antonio Valencia, Tom Cleverley atau Paul Scholes juga siap didapatkannya.

Fergie perlu mencermati bahwa musim lalu banyak gol Van Persie berasal dari umpan terobosan brilian dari Alex Song. Untuk itu, Fergie perlu memaksimalkan peran pemain-pemain kreatif macam Kagawa, Scholes maupun Cleverley dengan kombinasi tusukan dari kedua sayap yang menjadi ciri khas serangan Manchester United selama ini. Tambahan lagi, kedatangan Van Persie kini membuat United memiliki dua striker yang menempati pos dua besar pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris musim lalu.

Hal lain yang perlu diperhatikan Fergie adalah Wayne Rooney. Keberadaan Van Persie-Rooney di lini depan United memang akan menggelorakan harapan para suporter akan terciptanya duet penyerang super, seperti yang terjalin pada Andy Cole-Dwight Yorke yang membawa United memenangi treble winner tahun 1999. Namun, Wayne Rooney bukanlah tipe penyerang yang “klik” dengan duetnya jika dilihat dari sepak terjangnya bersama United selama ini.

Rooney berkali-kali dikorbankan menjadi “orang kedua” saat Ruud Van Nistelrooy dan Cristiano Ronaldo masih bercokol di Old Trafford. Selepas kedua orang itu pergi, Rooney menjadi “bintang utama” United yang cenderung tidak dapat berbagi peran dengan rekan duetnya. Kombinasinya dengan Dimitar Berbatov, Danny Welbeck maupun Javier Hernandez memang tidaklah buruk, namun hanya Rooney yang terlihat paling bersinar ketimbang mereka. The Shrek sepertinya sulit untuk dikorbankan lagi.

Dilain pihak, Van Persie juga terbiasa dengan status bintang utama di Arsenal. Dengan reputasi sebagai pencetak gol terbanyak plus permainan yang sedang berada pada puncaknya, Van Persie boleh jadi tidak akan terima menjadi “pemain kedua” dibelakang Rooney. Adalah PR terbesar Fergie untuk mengatasi persoalan ini. Ditangannya kini telah terhampar dua senjata termutakhir di liga yang boleh jadi bagai pisau bermata dua. Boleh jadi membuat timnya semakin kuat, atau sebaliknya akan membuat kekuatan timnya terkikis karena ego kebintangan yang sulit dihilangkan dari keduanya.

Well, Van Persie tentu telah mempertimbangkan hal ini sebelum memutuskan pindah ke United. Peluang meraih gelar yang lebih besar bersama klub sesukses Manchester United membuatnya berani menerima segala beban dan menjawab segala tantangan yang kini berada dihadapannya, termasuk mengenai pembagian perannya dengan Wayne Rooney, partnernya kini. Dan melihat gol setengah volinya ke gawang Fulham minggu lalu, banyak suporter United yang pasti berpikir "Harusnya dari dulu punya yang begini."

Tuesday, August 14, 2012

Preview EPL musim 2012/2013



Tidak terasa, musim baru kompetisi Eropa segera dimulai. Liga 1 sudah dimulai dengan hasil imbang Paris Saint Germain dan dua gol Zlatan Ibrahimovic pada debutnya sebagai pengisi headline. English Premier League (EPL) dan La Liga dimulai akhir pekan ini, lalu Seri A Italia dan Bundesliga Jerman dimulai seminggu kemudian.

Kompetisi Eropa sudah siap dibuka kembali tirainya termasuk untuk kita negeri para penonton. Penonton yang rela begadang di sela-sela hari sibuk dan penonton yang mahir untuk saling mencela klub asing favoritnya di twitter dan berbagai forum suporter.

Saya akan berlagak seperti pengamat sepak bola ternama yang hobi bermain api, yaitu memprediksi EPL musim 2012/2013 walaupun saya hanya manusia biasa, bukan Tuhan.

Liga ini telah beberapa tahun terakhir dianggap kompetisi terbaik dunia. Kata siapa? Tentu saja kata Richard Scudamore. Scudamore, CEO EPL, pernah berkata bahwa “jualannya” EPL adalah kekuatan tim yang merata, hasil pertandingan yang sulit diprediksi, dan penentuan gelar juara yang bisa terjadi hingga pekan terakhir. Well, bisa dibilang segala perkataan itu terbukti di musim lalu, yang puncaknya adalah momen 13 Mei 2012 atau momen gol Sergio Aguero.

Pergeseran kekuatan amat mungkin terjadi. Lihat saja progressdari Tottenham Hotspurs. Penunjukan Andre Villas-Boas mungkin sebuah perjudian mengingat kegagalan pelatih muda ini di Chelsea. Namun dengan skuat bagus yang merupakan pilihannya, permasalahan who’s in charge ini coba dia buang jauh-jauh dari White Hart Lane. Si penggemar jongkok ini siap memimpin Spurs dengan dendam sebagai bahan bakarnya, layaknya dendam Dave Mustaine kepada James Hetfield dan Lars Ulrich.

Newcastle United amat mungkin menjadi tim one season wonder. Para pesaing mereka pasti sudah mempelajari cara menghentikan Papiss Cisse dan Yohan Cabaye. Jangan lupakan bahwa dua pemain ini akan menghadapi tantangan 2nd season syndrome.

Pergerakan lambat the Toon Army bursa transfer membuat sang bos Alan Pardew berang, buktinya ia masih berharap dapat memulangkan eks anak emas Andy Carroll ke St. James Park (Saya lebih suka menyebut nama itu ketimbang Sports Direct Arena).

Liverpool dan Everton amat mungkin menjadi tim overachieved. Liverpool ada di kelompok ini? Well, sorry to say bahwa prestasi jelek mereka belakangan telah melempar mereka dari kasta tim elite. Meski demikian, kedatangan Brendan Rodgers yang musim lalu mampu menyihir Swansea memberi harapan baru pada fans The Kop.

Hal ini juga berlaku untuk Everton. Jika mampu melanjutkan performa bagus seperti paruh kedua musim lalu, tidak akan ada yang meragukan pencapaian tim arahan David Moyes ini.

Last but not least, siapakah yang akan berada di posisi empat besar? Manchester City sebagai juara bertahan sangat pasif di bursa transfer kali ini. Saga Robin Van Persie memang memengaruhi pergerakan mereka mengingat hanya The best striker in the world yang diinginkan pelatih Roberto Mancini.

Liga Champions akan menghalangi ambisi mereka mempertahankan gelar. Jika musim lalu mereka rontok di babak penyisihan, tentu musim ini para direksi berharap mereka melangkah lebih jauh. Keadaan itu sangat berpotensi menggagalkan ambisi City mempertahankan gelar juara EPL.

Van Persie urung pergi sejalan dengan perbaikan signifikan Arsenal di bursa transfer. Kedatangan Lukas Podolski, Olivier Giroud dan Santi Cazorla mengeluarkan The Gunners dari patron tim feederpemain bintang.

Para Goonersakan makin sumringah menyambut pulihnya Jack Wilshere yang dijadwalkan terwujud Oktober nanti. PR Arsene Wenger kini adalah mempertahankan Alex Song dari kejaran Barcelona. Kombinasi Song dan Mikel Arteta musim lalu terbukti mengamankan engine room Arsenal. Jika barikade pertahanan mereka bermain konsisten sepanjang musim, Arsenal boleh jadi menjadi kandidat kuat peraih posisi empat besar, bahkan lebih.

Bagaimana dengan Chelsea? Mereka mendadak menjadi kalap belanja layaknya para wanita muda yang sedang menyerbu midnight sale. Entah apa yang terjadi pada Roman Abramovich, puluhan juta euro cek pembelian pemain ditandatanganinya seolah dalam keadaan ditodong pistol.

Eden Hazard, Marko Marin dan Oscar sudah didapatkan, namun Andre Schuerlle dan seorang bek kanan masih diincar. Bukankah keberadaan pemain-pemain bekarakter menyerang dan berteknik tinggi ini justru menjadi bumerang? Apakah mereka mampu melebur dalam taktik pragmatis Roberto Di Matteo? Keraguan semakin nyata melihat hasil-hasil buruk di laga pramusim dan Community Shield.

Terakhir, Manchester United. Kedatangan Shinji Kagawa akan semakin memperluas pilihan taktik Sir Alex Ferguson. Kagawa bisa dimainkan di posisi sayap maupun second striker. Jika musim lalu United bermasalah ketika Wayne Rooney absen, kini tidak lagi. United semakin tertolong dengan makin matangnya Danny Welbeck.

Belum lagi menyebut kesembuhan bek tangguh Nemanja Vidic dan gelandang kreatif Tom Cleverley. Walaupun Lucas Moura akhirnya terbang ke Paris, United sangat layak diunggulkan di posisi teratas kandidat juara EPL. Jika dengan skuat musim lalu saja mereka mampu menyulitkan Manchester City, mengapa sekarang mereka tidak bisa meraih lebih dari itu?


Bagaimana dengan prediksi Anda?

Monday, January 9, 2012

Menyikapi "sisi miring" dari sepakbola

Masih ingat rumus phytagoras? Rumus untuk menghitung sisi segitiga siku-siku yang kita pelajari waktu jaman SD ini selalu menghasilkan sisi miring segitiga yang lebih besar daripada sisi lurusnya. Rumus a kuadrat + b kuadrat = c kuadrat membuktikan bahwa c kuadrat sebagai sisi miring adalah penjumlahan dari 2 sisi lurus.

Sepakbola sebagai olahraga kadang-kadang menunjukkan hal tersebut. "Sisi miring" dari olahraga ini terkadang menunjukkan betapa permainan sepakbola bukanlah sekedar sebelas lawan sebelas belaka. Ada beberapa pertandingan dimana hasil akhirnya ditentukan oleh hal-hal non teknis.

Kesalahan Chris Foy
Pada pertandingan babak ketiga Piala FA semalam antara Manchester City melawan Manchester United, kita ditunjukkan oleh sebuah kemenangan yang kontroversial. Jika kita menganalogikan dua "sisi lurus" adalah permainan tim di lapangan dan strategi pelatih, maka "sisi miring" yang kemarin beraksi adalah kepemimpinan wasit Chris Foy.

Are you sure, ref?
The dangerous tackle
Saya mencatat 3 kesalahan fatal dibuat Foy pada pertandingan semalam. Yang pertama tentu kartu merah langsung kepada kapten City, Vincent Kompany saat menekel Nani. Tackling tersebut dipandang brutal oleh Foy karena menggunakan dua kaki mengangkat keatas dan kedua kaki bek asal Belgia tersebut mengarah ke tulang kering Nani sehingga terdapat indikasi sengaja mencederai, walaupun nyatanya tackle tersebut mengenai bola secara bersih dan tidak ada cedera sedikitpun pada Nani.

Yang kedua adalah saat skor 2-3, Aleksandar Kolarov menerobos sisi kanan pertahanan United dan melepaskan crossing mendatar yang mengenai tangan Phil Jones. Foy bisa saja bilang dia tidak melihat kejadian itu, atau dia melihatnya tapi menilai tangan Jones tidak dalam posisi aktif. Tapi dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa Jones mengambil posisi menjatuhkan diri seperti seorang kiper saat memblok crossing Kolarov, dan bola jelas mengenai tangannya.

Ketiga tentu insiden Patrice Evra yang "merauk" muka Sergio Kun Aguero. Saat menerima lemparan kedalam, Evra udah jelas memegang muka Kun, dan saat Kun berusaha meloloskan diri, sang kapten United malah mendorong muka si Argentino yang membuatnya terjatuh. Bola memang masih dikuasain pemain City lainnya sehingga wasit memainkan advantage ball untuk City. Tapi saat melihat Aguero terkapar, barulah dia meniup peluit pelanggaran, dimana dia tidak memberikan kartu atas pelanggaran Evra tersebut. Padahal, Evra sudah mendapat kartu kuning, yang berarti seharusnya dia diusir keluar lapangan. Kun Aguero sendiri membuktikan ketangguhan mentalnya. Dijegal dan dihajar bek-bek United, dia masih bisa membobol gawang United yang dikawal oleh Anders Lindegaard, dan konsisten membahayakan lawan sepanjang pertandingan.

Gol Wayne Rooney
The amazin volley
Sundulan pengubah keadaan
Terlepas dari insiden-insiden tersebut, termasuk saat Micah Richard dijegal oleh Rio Ferdinand saat Ferdy menjadi orang terakhir di lini pertahanan United, pertandingan semalam berlangsung sangat menarik. Gol sundulan Rooney di babak pertama adalah aksi krusial yang langsung membangunkan City, tapi penyelesaian Rooney itulah yang sejatinya mengubah peruntungan United. Ditambah sundulan lainnya menyambar bola muntah hasil tepisan penalti kiper kedua City Costil Pantilimon. Selanjutnya, tendangan voli Danny Welbeck membawa United makin diatas angin. Kombinasi-kombinasi inilah yang membuat United unggul mutlak di babak pertama, dan memaksa Roberto Mancini melakukan perubahan pendekatan permainan, dengan memasukkan Pablo Zabaleta dan Stefan Savic menggantikan otak tim, David Silva dan inverted winger, Adam Johnson.

Paul Scholes
Sang legenda
Hal menarik lain tentu saja kembalinya the legend Paul Scholes. Entah bujuk rayu macam apa yang digunakan Fergie untuk membawanya kembali, yang jelas kehadiran Scholessey menegaskan kepanikan Fergie akan kinerja lini tengah mereka, ditambah faktor cedera Tom Cleverley dan Anderson. The ginger prince memang sempat membuat blunder akibat passing lemahnya diserobot Zabaleta, yang langsung mengirimkan low cross kepada Kun Aguero dan berbuah gol kedua untuk City, tapi secara keseluruhan penampilan Scholes mampu menstabilkan lini tengah United.

Sikap suporter Indonesia
Kita sebagai suporter Indonesia tentu tidak perlu bereaksi lebay terhadap hasil pertandingan tim favorit kita di Eropa, apalagi sampe berantem segala demi ngebelain mereka yang belom tentu kenal dan peduli sama kita orang Indonesia. Mereka jauh disana udah berbenah dan bersaing menuju singgasana terbaik dunia dan menjadikan sepakbola sebagai industri dan tontonan berkualitas, sementara sepakbola kita masih berkutat dengan perebutan kekuasaan dan pembodohan dari badut-badut pemimpin sepakbola kita, serta gerakan makar yang belum tentu menyelesaikan masalah. Lihatlah orang-orang yang katanya kapitalis itu, mereka betul-betul menjaga sepakbola. 

Sisi Miring Sepakbola
Dari pertandingan semalam, kita bisa mencontoh beberapa hal. Sikap pantang menyerah Kun Aguero dan kawan kawan patut dicontoh, meskipun tertinggal 0-3 di babak pertama, mereka mampu memaksakan skor 2-3. Skenario sesuai Battle of Istanbul 2005 Milan vs Liverpool memang tidak terulang, tapi perjuangan mereka sangat membanggakan. Tidak terpengaruh provokasi lawan, dan tidak terpengaruh kepemimpinan yang buruk dari wasit. Saat mereka dirugikan wasit pun para pemain mereka hanya melakukan protes tanpa tindakan anarkis. Mereka tetap fokus ke pertandingan.

Sisi miring dari pertandingan sepakbola bagaimanapun adalah bagian dari pertandingan. Kesalahan wasit yang juga manusia adalah hal yang harus disikapi dengan bijak oleh tim yang bertanding. Wasit juga manusia, tinggal bagaimana kita sebagai pelaku dan pendukung pertandingan mau menyikapi keadaan secara manusia atau bukan.

@aditchenko



Monday, January 2, 2012

Reportase pertandingan EPL di pergantian tahun

Tahun baru ini dibuka EPL melalui kekalahan duo Manchester penguasa klasemen EPL, Manchester City dan Manchester United. City sebenarnya memiliki keuntungan karena sehari sebelumnya di Old Trafford, United menyerah 2-3 atas Blackburn Rovers, si juru kunci klasemen. Tapi, City tidak mampu memanfaatkan momen berharga tersebut.
Life is not fair for Citizen
Di Stadium of Light, City memiliki keuntungan dengan cederanya pilar-pilar lini belakang The Black Cats. Mereka kehilangan Kieran Richardson, Phil Bardsley dan Titus Bramble. Sementara City memamerkan kedalaman skuadnya dengan mencadangkan Marion Balotelli, Sergio Aguero, David Silva dan Joleon Lescott. Mereka memainkan Edin Dzeko, Adam Johnson, Nigel de Jong dan Aleksandar Kolarov di starting eleven.

Pertandingan sebenarnya berlangsung seimbang dengan kedua kubu saling melancarkan serangan. City lewat Edin Dzeko berkali-kali memaksa pendukung Sunderland berdebar-debar dengan peluang-peluangnya. Sayangnya penyelesaian akhir yang kurang mantap dari The Bosnian masih belum bisa membawa City unggul. Justru di menit-menit akhir pertandingan saat City gencar menyerang, Sunderland mampu mencuri gol. Menit 93, gol offside dari penyerang asal Cina, Ji Dong Woon mampu membuat City menjalani 4 laga tanpa kemenangan di EPL. Smells crisis, Roberto?


Berba-Top
Sebelumnya, United gagal memanfaatkan momen bagus mereka saat menjamu Blackburn Rovers. Pemain under-rated seperti Yakubu Aiyegbeni dan Christopher Samba menunjukkan kepantasan mereka bermain di klub besar. Strategi Steve Kean kali ini patut diacungi jempol karena mampu bertahan dengan baik dan menyerang dengan efektif.

Poros Ruben Rochina, Mauro Formica, Yakubu dan Morten Gamst-Pedersen cukup ampuh merepotkan barisan pertahanan United. Percobaan Fergie dengan menempatkan banyak pemain sayap di lini tengah kali ini kurang sukses. Nani, Danny Welbeck, Rafael dan Carrick di babak pertama kalah dominan dari lini tengah Rovers yang diperkuat dengan kehadiran Steven N'zonzi yang bermain taktis di posisi holding midfielder. United juga kurang memperlihatkan kreativitas dalam membongkar pertahanan Rovers, ditambah Nani yang sedang off-day, mereka beruntung Dimitar Berba-top sedang top form, walaupun di "filter" dengan baik oleh Chris Samba.

Baik Sunderland maupun Blackburn menunjukkan bahwa posisi di klasemen tidak menjamin hasil akhir di EPL. Pendapat yang dilontarkan oleh CEO pengelola EPL, Richard Scudamore mengenai EPL yang memang sulit ditebak menjadi sebuah hipotesa masuk akal melihat hasil pekan ini. Konstelasi klasemen menjadi makin menarik karena jarak yang memisahkan the big 4 makin tipis. Belum lagi kebangkitan Liverpool sekembalinya the skipper Steven Gerrard, yang mengalahkan pesaing langsung mereka, Newcastle United 3-1 di Anfield.

Robin Van Persie, currently the best striker in the world
Kekalahan Chelsea di Stamford Bridge melawan Aston Villa lebih tidak bisa diterima lagi. Inkonsistensi permainan dan hasil the blues akan semakin menyulitkan langkah mereka menuju singgasana juara. Gol ke 150 Didier Drogba menjadi penghibur bagi skuad Andres Villas Boas. Sementara Spurs ditahan tim jago kandang Wales, Swansea dengan skor 1-1. Hasil-hasil ini tentu membuat bos Arsenal, Arsene Wenger sumringah, pasalnya hanya timnya, anggota papan atas yang mampu memetik kemenangan di pekan ini berkat gol The only player in Arsenal, Robin Van Persie.

@aditchenko