Pages

Friday, December 26, 2014

5 Pertandingan Sepak Bola Kanak-Kanak Paling Mengesankan

Waktu masih sering main bola, posisi favorit gue ada 3, yaitu penyerang kedua, trequartista dan penyerang tengah. Gue sangat suka mencetak gol, dan posisi-posisi itu memungkinkan gue mencapai tujuan itu. Pernah juga gue bermain sebagai sayap kiri, tapi penempatan itu lebih karena teman-teman satu tim melihat gue memiliki lari yang cepat dan fasih menendang dengan kaki kiri. Sesuai lah dengan taktik sepak bola masa itu.

Beberapa pesepak bola dengan kategori ‘pemikir sejati’ mungkin akan menganggap visi gue dangkal, karena hanya memikirkan gol. Tapi setidaknya berkat gol-gol yang pernah gue ciptakan, tercipta kenangan-kenangan yang begitu membekas. Jika saja dulu sudah ada ponsel kamera, mungkin gue bisa mengunggah saja videonya ketimbang bercerita seperti ini. Kenangan-kenangan indah di berbagai jenis lapangan (rumput asli, rumput sintetis, tanah merah, pasir, semen halus, semen kasar) bisa gue gambarkan dalam lima laga paling berkesan yang pernah gue jalani.

5. 2-3 vs IPS-2 (Classmeeting SMA 1 Depok)
Jaman SMA dulu, sepak bola mini adalah ajang yang paling bergengsi di ajang classmeeting sekolah. Pas duduk di kelas dua, undian mempertemukan kelas gue dengan salah satu tim kuat kelas 3, yaitu anak-anak IPS-2. Jaman gue dulu sih, anak IPS itu identik dengan anak-anak yang prestasinya kalah mentereng dibandingkan dengan anak IPA. Untuk itulah para jagoan bola yang umumnya gak memikirkan prestasi akademik duduk di kelas IPS. Dan kelas IPS-2 ini memiliki beberapa pemain yang memang skillnya bagus.

Semalam sebelum pertandingan, sayangnya gue dan teman-teman harus begadang mengerjakan tugas makalah. Jaman dulu, jarang yang punya komputer. Gue beruntung menjadi salah satu anak yang punya, dan jadilah rumah gue dijadikan base camp setiap kali ada tugas seperti ini. Ngerjain tugasnya sih sebentar, tapi main-main dan ngobrolnya yang lama. Alhasil, kami begadang sampai pagi. Ada yang main PS, main game di komputer, main gitar, main kartu, sampai ada yang curhat segala. Dalam kelompok tugas, sebagian besarnya adalah anggota tim sepak bola. Jadilah kami bertanding layaknya zombie pada keesokan harinya.

Meriahnya atmosfer pertandingan membuat mata kantuk kami terbelalak. Tidak ada rasa capai, lelah, apalagi mengantuk. Laga tensi tinggi pun kami jalani, karena senior-senior ini memang amat bernafsu mengalahkan juniornya. Gue bukanlah pemain yang percaya diri, karena itu butuh waktu buat gue agar bisa nge-grip dengan pertandingan. Sempat beberapa kali kontrol gue gak sempurna, dan umpan-umpan juga kerap salah.

Tapi sekalinya udah panas, gue menjadi sangat menyatu, dan ternyata cukup mampu menjadi katalis performa tim. Pemantik itu semua adalah tendangan keras gue yang membentur mistar gawang. Gue dan teman-teman melihat jelas bola itu udah melewati garis gawang. Tapi karena bola kembali ke luar garis dan kiper lawan menangkapnya, wasit urung mengesahkan gol itu.

Kampret.

Mereka lalu unggul lewat sebuah skema serangan balik hingga turun minum.

Gue dan teman-teman gak menyerah. Berposisi di belakang dua penyerang, gue terus berusaha menerobos kukuhnya pertahanan lawan. Beberapa peluang berhasil diciptakan, dan salah satunya berbuah gol lewat seorang teman. Pendukung pun bergemuruh, suasana makin panas layaknya pertandingan sepak bola beneran. Laga berakhir seri pada waktu normal, lalu dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Extra time ini menggunakan sistem sudden death. Sialnya, kiper tim gue emang sangat grogian. Upayanya meninju bola hasil lemparan ke dalam malah masuk ke gawang sendiri. Bitter. Pait banget. Kami semua gak percaya dengan yang baru terjadi. Lawan pun bersorak girang bercampur lega. Kiper lawan pun menghampiri lalu menyelamati gue sambil bilang “Sorry ya, tendangan lo tadi memang udah gol.”

Setelah itu, gue dibelikan minuman oleh cewek-cewek :)

4. IPA-4 vs IPS-1 (Liga Kelas 3, SMA 1 Depok)
Seperti yang gue bilang, kelas IPS memang megang banget dalam urusan persepak bolaan sekolah. Kelas IPS-1 di angkatan gue pas kelas 3 ini berisi ‘The Dream Team’ dalam skala SMA kami. Pemain-pemain handal berkumpul di situ. Mereka bahkan lebih cocok untuk menjadi pemain bola beneran.

Ini adalah sebuah laga dalam liga kelas 3 yang kami buat menjelang ujian. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa bahagianya masa SMA kami dulu yang gak ada ujian penentuan kelulusan. Buktinya, udah mau lulus aja masih bisa bikin liga sepak bola. Kelas gue, IPA-4 bertemu dengan kelas The Dream Team itu dalam sebuah laga yang di mana kelas kami semestinya menjadi bulan-bulanan.

Bayangan akan bully dari lawan semakin jelas saat laga baru berjalan beberapa menit, penyerang andalan IPS-1 yang terkenal dengan tendangan kerasnya berhasil membobol gawang kami. “Dengarkan jeritannya!” seru salah seorang pemain IPS-1 ketika gol tersebut tercipta.

Tapi gue sedang menjalani hari yang indah saat itu. Gak sampai tiga menit, gue udah membalas gol itu. Bola berhasil gue curi dari bek tangguh lawan, lalu gue giring dengan cepat dan gue tendang sekeras-kerasnya. Gol.

Wajah mereka berubah menjadi tegang. Laga yang semula menjadi milik mereka, berubah menjadi imbang. Gue yang tadinya gak terlalu diperhatikan lawan, mendadak dijaga ketat. Gol tadi memang mengubah segalanya. Kami berhasil memaksa tim hebat bermain kagok.
Laga hampir berakhir imbang ketika kelas kami dihukum tendangan bebas. Tendangan pun diambil, dan kiper gue gagal mengantisipasi bola yang sebetulnya pelan. Lagi-lagi bitter, dan kelas gue kalah.

Tapi gue memiliki kesan tersendiri untuk laga barusan. Seusai pertandingan, sang andalan lawan menghampiri gue dengan bilang bahwa gue bermain baik dan berhasil membuat mereka kesulitan.

3. 2-4 vs 2-6 (Pertandingan Antarkelas, SMP 2 Depok)
Ini adalah pertandingan perdana gue di jenjang SMP. Waktu SMP dulu, gue cukup jadi korban bully lantaran badan gue yang pendek, kecil dan gaya gue yang cenderung culun. Bukan gaya yang dilirik cewek-cewek saat itu lah. Beda sama mereka-mereka anak basket yang gayanya (dan sepatunya) keren. Jadi, kalo ada pertandingan sepak bola, gue gak pernah diajak. Gak ada yang mengira anak seculun ini bisa main bola.

Tapi, saat pembuktian itu akhirnya tiba. Beberapa anak yang jago bola itu memilih main basket (yang banyak ditonton cewek-cewek), padahal di saat bersamaan ada jadwal tanding sepak bola antarkelas. Gue pun diajak main dengan alasan kurang orang.

“Elu main jadi bek aja ya. Kalo ada bola, elu buang aja jauh-jauh sekuat tenaga.” 

“Nanti kalo elu dapet bola, langsung aja oper ke gua daripada elu bingung.”

“Kalo gak kuat, bilang aja ya, nanti bisa digantiin yang lain.”

Tuh kan, betapa gue dianggap sebagai anak laki-laki lemah yang berkebutuhan khusus.

Pertandingan berjalan, dan tim kami terus kebobolan. Gue memang gak seneng jadi bek, jadilah gue sering kalah duel dengan penyerang-penyerang lawan. Performa gelandang dan penyerang-penyerang gue amat memprihatinkan. Gak tajam dan lesu darah. Gue gemes melihat itu semua, dan kemudian maju meninggalkan pos di belakang. Bola berhasil gue kuasai, lalu umpan gue kirim ke sisi lapangan. Dari situ, serangan diolah dan gue kemudian mendapat umpan tarik yang gue selesaikan dengan tendangan kaki kiri yang keras. Gol.

Bukan hanya lawan yang terkejut, tapi ternyata teman-teman gue ikut terperangah. Lha, mereka kan belum pernah melihat gue main bola, dan mereka udah punya mindset untuk menganggap gue sebagai ‘anak bawang’. 

Sekarang gue tunjukin kalo elu bawangnya, dan gue ulekannya. Hahaha.

Satu gol belum cukup bikin puas. Sebuah solo run gue lakukan yang gue akhiri dengan tendangan keras yang juga berbuah gol. Dan menjelang laga usai, gue memberi assist untuk seorang rekan. Pertandingan selesai dan kami memang kalah, tapi pertandingan itu mengubah masa-masa sekolah gue.

“Gak nyangka gue, ternyata elu bisa juga ya main bola!” kata seorang teman.

Berakhir sudah era dianggap enteng dan gue secara informal diterima dalam pergaulan. 

2. Deloitte vs KPMG (BIG 4 Accounting Firm friendly match)
Sewaktu masih sibuk berat di Deloitte, gue masih menyempatkan diri main bola, walaupun hanya di lapangan rumput sintetis. Ada masa di mana kami terus menantang sesama firma akunting Big Four untuk bermain bola, dan kami selalu menang dalam laga informal itu. 

Salah satu yang berkesan buat gue adalah saat menghadapi KPMG.

Pertandingan itu adalah salah satu pertandingan di mana gue berhasil mencetak gol dalam setiap percobaan tendangan yang gue lakukan. Posisi gue waktu itu adalah penyerang tengah. Classic number nine poacher.

Entah berapa gol yang gue bikin dalam pertandingan itu, gue sendiri sampai lupa. Yang jelas, waktu itu gue berhasil mencetak gol dalam berbagai posisi, berbagai cara. Sundulan, tendangan keras, tendangan bebas, bola muntah. Dengan kaki kanan dan kiri. Dalam salah satu gol yang gue bikin, temen gue sampai bilang “Gila lu ya, mau nendang dari manapun bisa gol”

1. Tim Angkatan Jurusan vs Alumni (Final Pekan Olahraga Jurusan)
Jaman kuliah dulu pernah ada slogan “Jangan sampai kuliah ngeganggu bola” seakan menunjukkan fanatisme jurusan kami akan olahraga ini. Banyak laga seru dan panas tercipta, tapi buat gue sendiri sih, gak ada yang lebih berkesan dari laga ini.

Laga final ini berlangsung saat gue ada jadwal kuliah. Karena gue menjadi kordinator kelas, gue gak bisa bolos, dan sialnya pertandingan tetap berjalan tanpa gue (ya iyalah). Gue pun ketinggalan satu babak di mana tim gue tertinggal satu gol.

Saat gue bergegas menuju lapangan, baru sadar kalau gak bawa celana pendek. Akhirnya gue tetap memakai celana jeans yang digulung. Untung aja pertandingan ini gak resmi-resmi amat, jadinya gue tetap diperbolehkan main. Skor kemudian berubah satu sama ketika seorang teman gue mencetak gol penyeimbang. Setelah itu, laga berlangsung amat seru.

Pertandingan itu seolah seperti menjadi milik gue. Langkah lebih ringan dari biasanya, dan umpan-umpan gue begitu akurat saat itu. Memang magical moment benar adanya. Saat laga sudah mau habis, gue yang berdiri agak jauh dari kotak penalti mendapatkan bola liar. Setelah gue kontrol, seorang teman meminta bola itu dioper kepadanya, tapi insting gue bilang untuk menembak langsung aja.

Kali ini, gue mengikuti insting. Begitu berada di sudut yang tepat, bola gue hajar keras dengan kaki kanan. Cukup tinggi untuk menjauhi jangkauan kiper, namun bola bergerak parabolik untuk menukik tepat ke arah pojok kiri atas gawang. Gol.

Dalam kondisi normal, mungkin akan sulit buat gue mengulangi tendangan tadi. Penyerang Italia Raimondo Orsi pun pernah mengalami momen serupa saat final Piala Dunia 1934 menghadapi Cekoslowakia. Saat itu, ia melepas tendangan voli dari angle yang sulit, namun berhasil berbuah gol penyama kedudukan. Ketika wartawan memintanya mengulangi gerakan tendangannya dalam sebuah wawancara, Orsi pun tidak mampu melakukannya. Tentu apa yang dilakukan Orsi memiliki skala yang jauh lebih besar, tapi setidaknya banyak kesamaan yang tercipta antara momen gue dan Orsi.

Ya begitulah sepak bola. Ia memiliki momen ajaib yang sulit terjadi dalam situasi normal. Dalam pertandingan, kita kadang seperti menjadi orang lain, padahal itu adalah versi terbaik dari diri kita. Sepak bola mampu mengaduk-aduk emosi dan membawa pelakunya seakan menuju dimensi yang berbeda. Padahal tidak sama sekali. Ilusi-ilusi seperti inilah yang tampaknya jarang gue alami ketika melakukan kegiatan lain.

Sepak bola buat gue udah seperti gambaran hidup. Kadang senang kadang sedih. Sepak bola juga seperti sosok kakak yang membela adiknya yang di-bully teman-temannya.
Selang beberapa waktu kemudian, sepak bola hadir dalam bentuk tulisan. Gue yang berpikir bisa sedikit menulis, kemudian memberanikan diri untuk tercebur dalam belantara dunia tulis menulis. Banyak hal menyenangkan, tapi tidak sedikit juga yang tidak menyenangkan. Sekarang gue memilih untuk vakum sejenak untuk menulis secara komersil, dan kembali ngeblog sendiri.

Anyway, itulah cerita pertandingan-pertandingan berkesan buat gue, si penggemar sepak bola yang gagal jadi pesepak bola profesional, dan masih jauh juga dari kata penulis profesional. Dan akhirnya gak jadi penulis profesional juga sih. Sekarang, sayangnya gue udah jarang bermain sepak bola. Ada rasa kehilangan yang amat sangat akan sebuah momen ajaib dan momen-momen menyenangkan yang hanya bisa terjadi di lapangan.

Saat permainan sepak bola remeh temeh sudah berubah menjadi semakin komersil, yang ditunjukkan dengan tarif mahal lapangan futsal, harga sepatu dan jersey yang juga semakin gak masuk akal, dan waktu luang yang semakin sedikit, memang tidak bisa dipungkiri lagi jika bermain sepak bola adalah hal yang kini teramat mewah.


Friday, December 5, 2014

Bibras Natkho, Gelandang Komplet Yang Underrated

Foto: Sports.ru
Selalu menarik ketika membahas pemain-pemain yang produktif mencetak gol meski tidak berposisi sebagai penyerang. Yaya Toure dan Frank Lampard adalah contoh gelandang yang mampu mencetak lebih dari 20 gol dalam semusim dan termasuk dalam kriteria tersebut. Kita juga mengenal Marco Materazzi, mantan penggawa timnas Italia yang semasa bermainnya pernah dua kali mencetak dua digit gol salam semusim. Capaian tersebut jelas menarik karena sejatinya mencetak gol bukanlah tugas utama mereka di lapangan.

Di kompetisi Liga Primer Rusia kini, terdapat pemain yang berpotensi menghadirkan cerita seperti pemain-pemain tadi. Seorang gelandang bertahan asal klub CSKA Moskow bernama Bibras Natkho adalah pemain yang dimaksud.

Natkho menjadi buah bibir kala berhasil mencetak hat-trick ke gawang FK Rostov pada sebuah laga kompetisi domestik, Agustus silam. Namun torehan ini masih belum seberapa lantaran gelandang asal Israel ini mampu mempertahankan ketajaman hingga kini berhasil mencetak delapan gol di Liga Primer Rusia. Jumlah golnya untuk sementara ini mampu melampaui rekan-rekan setimnya seperti Ahmed Musa, Seydou Doumbia maupun Zoran Tosic yang notabene berposisi sebagai penyerang atau pemain sayap. Bahkan jika berbicara level kompetisi domestik, jumlah gol Natkho sejauh ini hanya mampu disamai penyerang subur Zenit St Petersburg asal Brasil, Hulk.

Kontribusi berupa produktivitas gol Natkho tentu terbilang mengejutkan. Gelandang berusia 26 tahun ini adalah pendatang baru di skuat CSKA arahan Leonid Slutsky, di mana ia harus bersaing dengan nama-nama yang lebih tenar seperti Pontus Wernbloom, Rasmus Elm, Roman Eremenko, Giorgi Milanov, hingga sang idola publik, Alan Dzagoev.

Kemahirannya dalam bertahan memberikan keuntungan. Dalam skema 4-2-3-1 yang menjadi andalan Slutsky, keberadaan seorang gelandang dengan naluri bertahan mutlak dibutuhkan. Cederanya Elm juga turut berperan bagi pembuktian kualitas Natkho, sehingga waktu bermain didapatkannya. Kini, Slutsky dapat menempatkannya dengan siapapun, baik dengan Wernbloom, Eremenko maupun belakangan ini dengan Dzagoev. Bersama Natkho di pusat permainan, CSKA pun menjelma sebagai tim yang amat menonjol dalam penguasaan bola, akurasi umpan, hingga jumlah tembakan ke gawang lawan. Situs Whoscored menempatkannya pada urutan teratas dalam dua aspek, yaitu akurasi umpan dan tembakan ke gawang lawan, dan berada di urutan kedua dalam hal rataan penguasaan bola di Liga Primer Rusia.

Sebagai bagian dari ruang mesin CSKA, pemain yang juga seorang Muslim ini tidak hanya menonjol dalam bertahan. Natkho juga memiliki kemampuan yang cukup apik sebagai pengatur serangan dan juga sebagai pengumpan. Dengan visi yang baik, ia juga kerap mengirim umpan-umpan diagonal kepada Tosic, Musa maupun Milanov yang kerap beroperasi di sayap. Berbekal kemampuannya ini, Natkho juga telah membukukan empat assist. Jumlah ini sekaligus yang terbanyak di CSKA sejauh ini.

Dengan catatan-catatan impresif ini, maka tidaklah terlalu berlebihan jika menyebut Natkho adalah salah satu pemain paling underrated di Eropa. Kemampuannya yang lengkap adalah asetnya yang teramat besar untuk diabaikan. Ditambah lagi, fakta bahwa CSKA mendatangkannya dari PAOK Saloniki tanpa mengeluarkan uang transfer sepeserpun, membuatnya layak dikedepankan sebagai salah satu pembelian terbaik.

Fakta statistik yang tak terbantahkan ini sebetulnya juga tidak teramat mengejutkan jika melihat sepak terjang pemain bernomor punggung 66 ini. Natkho sudah terpilih memperkuat timnas Israel dalam berbagai kelompok umur -termasuk menjadi kapten tim U-19- dan hingga kini pun ia masih menjadi andalan timnas senior. Artinya, Natkho memang pemain dengan kelas internasional. Bukan karir internasional biasa pula mengingat ia menjadi minoritas Muslim dalam skuat yang didominasi pemain beragama Yahudi.

Keberhasilan Natkho menembus skuat Israel dan hingga kini menjadi andalan juga menghadirkan kisah tersendiri. Kakek buyutnya berasal dari Karachay-Cherkessia, wilayah utara pegunungan Kaukasus yang berbatasan dengan Georgia, yang juga masih menjadi bagian dari negara Rusia. Penduduk asli wilayah ini sering disebut sebagai Circassian. Sang kakek buyut bersama para Muslim lainnya melakukan emigrasi ke wilayah Turki pada pertengahan abad ke-19 sebelum kembali berpindah ke Kfar Kama, wilayah Israel utara (yang sempat menjadi wilayah Palestina).

Di kota inilah Natkho lahir, lalu kemudian tumbuh sebagai pesepak bola. Karir yuniornya dihabiskan di klub Hapoel Tel Aviv, di mana ia kemudian memulai debut tim senior musim 2006-07 bersama Ben Sahar, penyerang yang sempat bermain di Chelsea. Total, ia bermain sebanyak 147 kali untuk Hapoel, termasuk beberapa performa di kompetisi antarklub Eropa. Performa gemilang ini kemudian membawanya ke Rusia di mana Rubin Kazan menjadi destinasi selanjutnya. Di Kazan, ia menjadi pemain andalan dan bermain selama empat musim sebelum hijrah ke PAOK. Semasa bermain di klub wilayah selatan Rusia tersebut, harga pemain ini sempat menyentuh 12 juta euro menurut situs Transfermarkt, menandakan bahwa ia bukanlah pemain dengan kelas medioker.

Seperti dikutip dari situs Russianfootballnews, darah olahraga memang mengalir deras dari keluarga besarnya. Adam, salah satu kerabatnya pernah bermain untuk klub Kuban Krasnodar dan Druzhba-Maikop. Ia juga memiliki sepupu bernama Nili Natkho, seorang mantan pebasket yang tewas dalam kecelakaan mobil tahun 2004 silam.

Beberapa kalangan menjuluki Natkho dengan fantastis, yaitu Xavi dari Circassian. Bukan julukan sembarangan lantaran merujuk pada playmaker Barcelona, Xavi Hernandez. Meskipun memiliki kemiripan dalam beberapa aspek teknis, tentu saja Xavi berada beberapa level di atas Natkho jika dilihat dari pengalaman maupun pencapaian. Natkho juga belum teramat teruji lantaran belum pernah bermain di liga top Eropa. Namun dengan menjadi pemain kunci di sebuah tim papan atas Rusia, jalan menuju pengembangan karir jelas terbuka lebar untuknya.

Sunday, November 23, 2014

Ingatlah Kontribusi Paolo Rossi Pada Satu Hal

Paolo Rossi, taken from Old School Panini

Perjalanan karir sepak bola seorang Paolo Rossi memang amat berwarna. Mengawali karirnya di Juventus, Rossi sempat cedera lutut parah yang membuatnya harus dioperasi. Bianconeri kemudian meminjamkannya ke Como dan Vicenza sambil menjalani penyembuhan. Di Como, ia hanya bermain sebanyak enam kali dengan nihil gol.

Rossi yang mengawali karir bermain sebagai pemain sayap, patut berterima kasih pada sosok Edmondo Fabbri, pelatihnhya kala memperkuat Vicenza. Fabbri melihat naluri gol yang tinggi sebagai aset utama Rossi, sehingga pelatih yang pernah menukangi timnas Italia tahun 60an ini tidak ragu menempatkan pemain kidal ini sebagai penyerang tengah.

Rossi, penyerang kelahiran Prato tahun 1956 ini seperti diketahui kemudian muncul sebagai salah satu penyerang tertajam sepanjang sejarah klub yang bermarkas di stadion Romeo Menti dengan torehan 60 gol dalam 94 pertandingan, termasuk menjadi topskor kompetisi Seri B saat usianya masih 20 tahun. Karirnya di Vicenza inilah yang kemudian menjadi titik balik dari pemain yang semula terancam mengakhiri karir di usia muda menjadi penyerang legendaris Italia.

Cerita kemudian berlanjut. Rossi menjadi tumpuan serangan Italia dalam Piala Dunia 1978. Bersama Franco Causio dan Roberto Bettega, mereka membentuk tridente menakutkan meski kemudian harus puas menduduki posisi ke-4 turnamen yang dimenangi tuan rumah Argentina itu. Rossi sendiri membukukan tiga gol pada turnamen yang melesatkan nama Mario Kempes tersebut.

Pahitnya karir mewarnai perjalanan selanjutnya. Tahun 1980, Rossi terjerat skandal judi Totonero yang membuatnya dihukum tiga tahun tidak boleh bermain. Ia kembali ke Juve saat menjalani hukuman, yang kemudian berkurang setahun setelah menjalani sidang banding. Pengurangan hukuman tersebut berandil membawa Rossi ke status legenda. Hukumannya usai hanya beberapa bulan sebelum Piala Dunia 1982 berlangsung, dan pelatih timnas Italia Enzo Bearzot melakukan perjudian besar dengan memanggilnya.

Sisanya adalah sejarah. Rossi berandil besar membawa Italia juara, salah satunya dengan torehan hat-trick ke gawang tim super Brasil yang beranggotakan Socrates, Zico dan Paulo Roberto Falcao. Rossi, pada usianya yang ke-26 saat itu, telah melalui hal-hal yang amat berwarna sebagai pesepak bola. Cedera parah, pergeseran posisi, terjerat skandal, lalu memenangi Piala Dunia sekaligus merebut gelar pemain terbaik. Rossi sendiri tercatat sebagai pemain ketiga setelah Garrincha dan Kempes yang mendapatkan tiga gelar sekaligus dalam satu Piala Dunia, yaitu juara, pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Nama Rossi kemudian identik dengan Juventus setelah ia menjadi andalan Bianconeri pasca Piala Dunia 1982. Ia berandil besar membawa Juve berjaya di Eropa dengan merebut gelar European Cup (sekarang Liga Champions) tahun 1985 untuk kali pertama dengan torehan lima gol dan kolaborasi apik dengan Michel Platini. Gelar ini melengkapi kemenangan mereka pada Cup Winners Cup dan Piala Super Eropa setahun sebelumnya. Kini ia pun bekerja sebagai pengamat di stasiun Juventus Channel, yang menegaskan keterikatannya yang erat dengan Si Nyonya Tua. Ketika membicarakan namanya, publik pun lebih mengingat kiprahnya di Juve, di samping kiprahnya bersama tim Azzurri.

Tidak banyak yang mengangkat cerita singkatnya kala memperkuat Milan. Ya, Rossi sempat bersama Milan pada musim 1985-86. Sayangnya, karir pria bertinggi 178 cm ini tidaklah cemerlang di Rossoneri. Selain fakta bahwa Milan tengah berada dalam titik nadir sebelum kedatangan Silvio Berlusconi, permainan Rossi juga tengah menurun akibat rangkaian cedera yang diderita meskipun baru menyumbangkan gelar Eropa untuk Juventus. Selama 20 kali memperkuat klub merah-hitam, Rossi hanya mencetak dua gol.

Namun siapa sangka jika dua gol tersebut sebetulnya terjadi pada momen yang amat megah: Derby Della Madonnina. Laga yang berlangsung pada 1 Desember 1985, atau 29 tahun silam ini kemudian berakhir imbang 2-2.

Dua gol itulah yang menjadi torehan paling sensasional Rossi untuk Milan, dan sayangnya menjadi satu-satunya karena tidak ada lagi gol dari pemain ini untuk Rossoneri. Torehan ini kemudian sempat diikuti oleh seorang penyerang yang juga mantan penggedor Vicenza seperti Rossi, Gianni Comandini pada tahun 2001. Seperti halnya Rossi, dua gol ke gawang Inter juga menjadi sumbangan tunggal Comandini untuk Milan karena ia memang tidak mampu mencetak gol ke gawang tim lain selain Nerazzuri selama berbaju Milan.

Baik Rossi, maupun Comandini tetaplah berada di hati Milanisti meskipun mereka tidak termasuk jajaran legenda terkait minimnya kontribusi secara keseluruhan. Namun ketika membicarakan Derby Della Madonnina, sulit untuk tidak membicarakan jasa dua pemain ini.

Dalam derby yang akan berlangsung dini hari (24/11) nanti, adakah penyerang Milan yang mengikuti jejak Rossi dan Comandini dengan sumbangan dua gol? Tentu saja dengan harapan sumbangan golnya tidak mandek setelahnya. Jawablah pertanyaan ini, Torres, Menez, El Shaarawy dan Pazzini!

Saturday, November 8, 2014

Tentang Kemenangan Persib

Tidak ada buku manual bagaimana cara menjadi penggila sepak bola, namun seperti yang selalu saya bilang, mendukung tim lokal adalah cara yang paling menggugah.

Sepak bola Indonesia memang terus mengalami degradasi, bukan lagi stagnansi. Apapun yang kita lihat, baca maupun dengar adalah hal-hal mengecewakan, kekalahan demi kekalahan, dan juga baru-baru ini sepak bola gajah. Bagi suporter lokal, hal itu nyatanya tidak menyurutkan minat mereka untuk menonton bola. Sebagaimanapun bobroknya sepak bola, passion dari suporter akan selalu ada. Dan tidak akan mati.

Saya sendiri belum merasa mantap ketika seseorang bertanya “klub Indonesia favorit lo apa?” beberapa waktu lalu di sebuah acara nonton bareng Liga Inggris. Maklum, saya tidak dilahirkan dari keluarga dengan minat sepak bola yang tinggi, sehingga meskipun ayah saya berasal dari Surabaya dan ibu saya dari Bandung, tidak pernah sedikitpun saya pernah mendengar cerita-cerita yang memercikkan kebanggaan atas klub Persebaya maupun Persib.

Masuknya sepak bola ke dalam hidup saya sepertinya kebetulan kosmik. Setelah diolok-olok dalam permainan sepak bola masa kanak-kanak, saya merasa amat sebal kepada para pencela itu, lalu dengan amarah yang mendidih di kepala, saya belajar bermain sepak bola, bukannya berusaha menonjok mereka (gak berani juga sih, mereka berjumlah banyak dan berusia lebih tua daripada saya saat itu). Cerita layaknya kapten Tsubasa tidak menghinggapi kehidupan saya, karena saya toh gagal menjadi pesepakbola profesional sesuai keinginan saya, dan berakhir sebagai ‘tukang insinyur’ bidang pajak. Tapi setidaknya saya bukanlah penendang, pengumpan dan penggocek bola yang buruk. Dan yang terpenting, berkat celaan masa kanak-kanak itu, sepak bola datang memberi warna hidup dalam bentuk tontonan, dunia tulis menulis, dan teman-teman baru.

Ketiadaan pengaruh keluarga, plus fakta bahwa saya besar di pinggiran kota Jakarta membuat saya sempat berpaling kepada tim ibukota, Persija Jakarta. Saya sempat mendukung tim tersebut, namun rasanya aneh ketika mendukung Persija namun masih menyimpan simpati promordial atas Persib, klub yang menjadi rival dalam satu dekade terakhir ini. Dukungan inipun agak terasa hambar.

Lalu ketika denyut sepak bola kota Depok mengalir, klub Persikad Depok tampil mengarungi belantara sepak bola Indonesia divisi bawah. Saya pun sempat menceburkan diri dengan menonton langsung beberapa laga kandang mereka di Stadion Merpati, tempat saya biasa bermain semasa SMP. Menyaksikan Persikad adalah bentuk romantisme sepak bola sesungguhnya, karena dari segi apapun, Persikad sulit mengambil hati penonton netral seperti saya. Namun jika menyaksikan sendiri betapa sulitnya keadaan mereka, cerita miris dari para pemain, stadion yang ala kadarnya, juga investor yang datang dan pergi dengan begitu mudahnya, orang tidak berperasaan pun akan tersentuh mendukung klub ini.

Saya sudah cukup lama tidak menyaksikan Persikad di stadion Merpati karena sekarang sedang libur kompetisi. Gairah sepak bola lokal saya pun sempat terhenti. Namun hal ini sesaat berubah semalam. Momen tersebut adalah saat Persib bertanding di final kompetisi ISL melawan Persipura, klub yang dalam lima tahun terakhir begitu superior dan baru-baru ini mencapai babak semifinal AFC Cup. Ketika menyaksikan tim ini di layar kaca, saya masih merasakan sedikit unsur Persib dalam diri karena keterkaitan asal usul, dan saya pun turut gembira ketika sepakan penalti Ahmad Jufriyanto berhasil memastikan gelar juara. Namun rasanya, kegembiraan ini lebih pantas dimiliki oleh para Bobotoh beneran.

Kemenangan Persib lantas membawa lamunan saya kepada Persikad. Menantikan Persikad menjuarai liga Indonesia mungkin sama saja berharap Indonesia menjadi peserta Piala Dunia. Para pendukung Persikad boleh jadi tidak akan pernah merasakan momen paripurna sebagai pendukung sepak bola, yaitu menyaksikan klubnya juara. Namun mendukung Persikad bagi saya bukanlah soal kapan menjadi juara, namun lebih kepada wujud nyata kecintaan terhadap olahraga sepak bola. Hanya dengan mendukung klub inilah saya bisa menyelami denyut sepak bola Indonesia secara langsung dan merasakan seperti apa mendukung klub lokal, klub yang ada di depan mata. Tidak jauh seperti mereka yang ada di Eropa sana. Menyoraki, merasa cemas, senang dan sedih sekaligus mengintimidasi pemain dan suporter lawan dapat dirasakan hanya dengan meluangkan waktu selama 90 menit di stadion Merpati, dan buat saya sih kegiatan ini lebih menyenangkan ketimbang menonton film seru di bioskop sekalipun. Ya, menonton sepak bola di stadion, bagi saya sudah seperti piknik.

Momen kemenangan Persib ini, bagaimanapun telah meluruskan pikiran saya untuk terus menonton sepak bola langsung dari dekat. Siapa tahu kebetulan kosmik lainnya hadir dalam bentuk kesempatan menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di Eropa. Siapa tahu.

Wednesday, August 6, 2014

Menyaksikan Langsung Umpan Diagonal Pirlo

Cepat, klinis dan tidak sekadar menunggu bola di kotak penalti lawan adalah ciri seorang second striker klasik. Dan kira-kira dua tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan seorang mantan pemain yang mengusung gaya tersebut. Dialah Andriy Shevchenko. Di stadion GBK kala itu, saya menyaksikan Sheva yang bermain untuk Milan Glorie.

Sedikit memodifikasi gaya bermain lantaran usia, Sheva kemudian menjadi seorang target man yang berada di antara dua bek tengah lawan. Dalam sebuah kesempatan ketika berhasil lolos dari jebakan offside, Sheva membobol gawang tim gabungan Indonesia dengan sebuah penyelesaian akhir yang amat dingin, tidak jauh berbeda ketika ia masih bermain. Sheva seperti bisa mencetak gol bahkan dengan mata tertutup.

Bermain di posisi deep-lying playmaker dapat membuat kita amat menikmati permainan karena dari posisi itulah bola dialirkan ke segala arah. Di posisi itu, siapa lagi yang lebih baik ketimbang seorang Andrea Pirlo. Dan semalam, saya melihat langsung bagaimana Pirlo (susah memotretnya karena kualitas kamera ponsel yang tidak secanggih kamera DSLR andalan para turis kece) mengirim puluhan umpan terobosan diagonal ke sisi kiri pertahanan lawan dengan amat smooth dan effortless dalam latihan terbuka klub Juventus. Pirlo seperti bisa mengirim umpan bahkan dengan mata tertutup.

Saya tidak ingin membahas detail statistik Pirlo bermain, atau bagaimana perannya secara taktikal karena sudah ada 12334565437 orang yang telah membahasnya. Yang saya ingin kedepankan adalah bagaimana Pirlo mengirim umpan.

Passing, passing, dan passing adalah senjata mematikan dalam sepak bola kekinian. Banyak tim yang amat terobsesi dengan passing, namun lupa bahwa gol harus dicetak. Namun banyak pula tim yang memang mengusung gaya possession football demi meruntuhkan sistem pertahanan lawan lalu kemudian mencetak gol ketika pertahanan tersebut melonggar. Bisa melakukan simple passing dengan presisi adalah keahlian yang dibutuhkan untuk menyusun serangan.

Simple passing atau umpan pendek mendatar yang dikirimkan kepada rekan terdekat terlihat amat sederhana dan mudah dilakukan. Namun jika simple passing tersebut dilakukan 10-20 kali dalam satu serangan, dan dalam satu babak terjadi 20 serangan, bayangkan betapa pentingnya kebisaan seorang pemain melakukan sebuah simple passing. Sepak bola jaman sekarang bukanlah mendribel bola melewati dua-tiga pemain lanjut berlari dengan heroik, lalu seolah tidak masalah untuk mengirim umpan yang salah. Sepak bola jaman sekarang adalah seperti yang digambarkan oleh pelatih rekaan bernama Erick Dornhelm kepada pemain yang juga rekaan bernama Santiago Munez dalam sebuah sesi latihan yang juga rekaan dalam film bertema sepak bola berjudul Goal.

Bagi Pirlo, mengirim umpan terobosan diagonal ke sisi sayap maupun umpan terobosan ke kotak penalti mengalahkan perangkap offside sudah seperti seorang Sergio Busquets mengirim umpan pendek kepada Xavi (Hernandez) atau (Andres) Iniesta untuk mengolah permainan Barca.

Tanpa bermaksud membandingkan Pirlo dengan Busquets, apa yang dilakukan Pirlo secara kasat mata terlihat lebih menentukan. Ia tidak sekadar mengirim umpan diagonal, namun juga menjadi algojo bola mati atau bahkan melakukan dummy running yang akan berperan langsung pada gol yang tercipta. Dengan karakter unik dan kebisaan yang  jarang dimiliki pemain lain, maka tidak heran jika Pirlo akan menjadi pusat permainan tim manapun yang diperkuatnya.

Sesuai dengan judul biografinya, ‘I Think Therefore I Play’, Pirlo adalah pemikir di lapangan. Ia tidak banyak beradu fisik dengan lawan dan jarang melakukan sliding tackle. Ia bermain dengan ratusan skenario untuk membangun serangan, untuk itu sebagian orang menjulukinya sebagai ‘sang arsitek’. Ia sudah teramat berkharisma tanpa harus berteriak dan memarahi teman-temannya. Ia sudah mengalirkan bola sejauh puluhan meter tanpa harus berlari kencang dengan dribel heroik. Entah kapan sepak bola Italia (atau bahkan sepak bola di negeri manapun) mampu memproduksi lagi pemain seperti Pirlo.


Sunday, July 13, 2014

Ketika Joachim Loew Beradapatasi

Pertengahan tahun 2000, mendukung timnas Jerman mungkin akan menjadi bahan tertawaan. Tim dengan permainan kaku seperti robot, dengan pemain-pemain tua mendominasi, skema yang tidak jelas ditambah lagi liga yang kurang komersil dan kompetitif. Sepak bola Jerman kala itu mengalami stagnan yang parah.

Namun seperti halnya bangsa besar, kegagalan total pada Euro 2000 bukannya membuat mereka semakin terpuruk, melainkan menjadi alasan kuat untuk bangkit. Jerman melalui DFB (Federasi Sepak bola) melakukan serangkaian program yang kelak membuat timnas Jerman menjadi seperti yang kita lihat sekarang dan klub-klub asal Bundesliga kerap berjaya di Liga Champions Eropa.

DFB ketika itu menyadari bahwa kunci kegagalan timnas adalah minimnya talentpool alias ketersediaan pemain-pemain berbakat berkelas dunia. Berangkat dari kesadaran itu, mereka lantas memperbaiki sistem pembinaan pemain dan kompetisi, dua hal krusial yang menjadi rahasia keberhasilan sepak bola sebuah negara.

Pembinaan pemain dimulai dengan pembangunan 366 fasilitas latihan yang tersebar di seluruh negara. Dengan terbangunnya infrastruktur, maka talenta yang semula terlantar kemudian akan tersalurkan dengan baik.

Satu terobosan penting kemudian dilakukan terkait imigran. Menyadari bahwa negeri Luftwaffe memang banyak dihuni oleh imigran asal Turki, Polandia maupun benua Afrika, mereka melonggarkan kebijakan terkait imigran tersebut sehingga talenta-talenta mereka dapat memberi warna baru bagi sepak bola Jerman.

Kini kita saksikan sendiri betapa Jerman seakan tidak pernah kehabisan talenta. Kolaborasi talenta pribumi seperti Thomas Mueller, Mario Goetze maupun Marco Reus bersanding dengan Ilkay Guendogan, Mesut Ozil, Sami Khedira dan lainnya. Bahkan meskipun Reus dan Guendogan absen dari Piala Dunia 2014 ini, kekuatan Jerman seakan tidak terpengaruh.

Barisan talenta ini telah diuji pertama kali saat mereka menjadi tuan rumah tahun 2006. Kala itu di bawah Juergen Klinsmann, Jerman bermain lebih atraktif dan cair. Mereka akhirnya terhenti pada babak semifinal di tangan Italia yang akhirnya menjadi juara turnamen. Namun meski gagal, harapan baru mewarnai sepak bola mereka.

Selanjutnya, Jerman terus menunjukkan peningkatan permainan dan prestasi. Di bawah Joachim Loew yang menjadi asisten Klinsmann tahun 2006, Jerman terus memperlihatkan permainan cantik hasil kolaborasi para pemain-pemain berbakat yang seakan tidak ada habisnya. Tahun 2008 mereka menjadi finalis Piala Eropa, 2010 mereka menjadi semifinalis Piala dunia, dan 2012 mereka juga menjadi semifinalis Piala Eropa.

Setelah puas hanya menjadi finalis ataupun semifinalis, banyak yang beranggapan bahwa Jerman masih kehilangan sebuah ciri khas yang di masa lalu menjadikan mereka sebagai tim juara, yaitu mental. Jerman yang sekarang dinilai hanya bisa bermain cantik dan mengesankan di awal turnamen, namun melempem jelang akhir turnamen. Karena alasan itulah, Loew kemudian beradaptasi.

Kedatangan Pep Guardiola ke Bayern Muenchen awal musim lalu memberi ide pada Loew. Dengan bermaterikan sebagian besar pemain Bayern, Loew juga sedikit mengkopi apa yang dilakukan Pep terhadap kapten Philipp Lahm, yaitu menggeser sang bek sayap ke gelandang bertahan. Dengan kemampuan yang lengkap, Lahm ternyata tidak canggung memerankan posisi ini.

Kondisi ini menambah variasi permainan bagi Loew. Pola 4-1-4-1, 4-2-3-1 atau 4-3-3 dapat digunakannya sekaligus dalam satu pertandingan. Dan dengan trend taktik baru belakangan ini, Loew juga berani memainkan seorang single pivot dalam diri Lahm. Dipakainya single pivot, berarti memperkaya variasi serangan karena gelandang-gelandang lain memiliki lisensi untuk menyerang. Bedakan saja permainan Khedira di Real Madrid dengan di Nationalmannschaft sebagai contoh.


Yang jelas, adaptasi yang dilakukan Loew berhasil membawa Jerman ke babak final untuk pertama kalinya sejak 12 tahun silam. Baginya, inilah pencapaian tertinggi setelah final Piala Eropa 2008. Menang atau kalah nantinya, Loew telah meninggalkan impresi positif sekaligus memperlihatkan suatu hal. Bahwa dengan materi yang dimilikinya sekarang, Jerman akan tetap menjadi kandidat juara Piala Dunia setidaknya dalam tiga Piala Dunia ke depan.

Sunday, July 6, 2014

Untuk Anda Si Nomor 10 (Bukan Surat Terbuka)

Disclaimer: Jangan tertipu dengan judul Blog ini. Entri ini memang bertujuan untuk sedikit memberi pandangan berbeda kepada si nomor 10. Oh iya, ini bukan surat terbuka seperti yang lagi ngetrend di kalangan pendukung fanatik capres sekarang ini. 

“Woi! Oper dong bolanya ke gue! Mata lo di mana?”
“Lo ngerasa lebih jago? Ayo kita man to man di lapangan.”
“Minggir lo! Cuma gue yang boleh ambil eksekusi penalti ini!”
Dan kalimat-kalimat makian yang tidak pantas ditulis.

Kalimat-kalimat seperti itu seringkali kita dengar dari seseorang. Seorang pemain bola di lapangan yang merasa dirinyalah yang paling jago. Dan karena merasa paling jago, dia juga merasa mengemban beban yang tinggi untuk timnya, dan untuk itulah ia juga merasa berhak memarahi rekan setim yang tidak mendukungnya. Ada lagi, dia seolah merasa memliki license untuk banyak menggiring bola, dan menembak ke gawang lawan, seberapapun seringnya ia gagal. Jika ia berhasil, maka itu karena kehebatannya. Jika ia gagal, itu karena memang kebetulan. A self-proclaimed key player.

Mau bermain di manapun, kapanpun, dalam suasana apapun, orang ini selalu serius. Jiwa kompetisinya sangat tinggi dan ia juga amat membenci kekalahan. Ia akan memberikan segenap kemampuannya dan akan sangat terganggu jika mengalami kekalahan. Itu semua benar, tapi sebetulnya yang membuat dia lebih terganggu adalah jika ada rekan setim yang lebih jago darinya.

Orang-orang seperti itu jelas ada. Mereka akan memperlakukan orang lain seperti itu, baik dikenalnya ataupun tidak. “I am the captain. I am the most passionate on this game. I am simply the bestI am the center of this teamIt’s always be about me.”

Agar kelihatan tidak terlalu menyudutkan, sebetulnya si nomor 10 ini bisa melakukan berbagai hal luar biasa dalam sepak bola. Hal-hal yang membuat sepak bola lebih mengejutkan, terutama dalam perkembangan taktik yang makin mengurangi ruang untuk berkreasi ini. Jika tidak bisa melakukan hal-hal luar biasa seperti ini, maka anda bukanlah nomor 10 beneran. Di antaranya adalah:
  • Si nomor 10 bisa menjadi motivator rekan-rekannya, bahkan tanpa perlu berteriak-teriak. Sejurus akselerasi kilat yang membelah selapis-dua lapis pertahanan lawan akan membuka ruang. Dari situ, ia bisa mengeksekusinya langsung atau mengoper kepada rekannya yang semula bingung bagaimana cara menembus pertahanan sdisiplin lawan.
  • First touch adalah hal kecil yang membedakan apakah seorang pemain berkelas top atau biasa-biasa saja. Tidaklah berlebihan, karena dengan first touch yang prima, seorang nomor 10 bisa mengarahkan bola ke tempat di mana lawan kehilangan kewaspadaan.
  • Imajinasi tinggi mutlak dimiliki si nomor 10. Gaya bermainnya tidak boleh monoton. Gocek ya gocek terus, posisi menembak ya dari arah yang sama. Tidak demikian. Nomor 10 harus menjelajah ke setiap jengkal pertahanan lawan. Ia mungkin bukan seorang ramdeuter yang mencari ruang tanpa bola di kakinya, melainkan ia membuka ruang kepada rekan-rekannya dengan bola di kakinya. Imajinasinya harus tanpa batas dan tak tertebak lawan.
  • Skill tertinggi di antara rekan-rekannya juga harus dimiliki si nomor 10. Bola adalah teman sejatinya. Satu hentakan, terobosan, gerak tipu, tembakan atau gocekan bisa mengubah arah permainan.
Tidak gampang, bukan? Jadi jika anda tidak memiliki atribut-atribut di atas, tahu dirilah sedikit dan berhentilah merasa bahwa anda adalah si nomor 10. Tanpa harus merasa sebagai si nomor 10, anda masih boleh bermain sepak bola.

Bukannya membantu tim, kemampuan tanggung anda justru malah akan membuat permainan menjadi tidak menarik dan rekan-rekan anda menjadi sebal. Mulailah bermain untuk tim dan melakukan simple passing yang presisi dan milikilah kesadaran posisi yang akan menguntungkan tim anda sendiri. Karena seperti kata Cruyff, “Playing simple football is the hardest thing to do.”

Tapi bagaimanapun, ada kalanya kita tidak bisa mengubah keadaan. Akan selalu ada si nomor 10 di manapun anda bermain. Jika anda berada satu tim dengan pemain seperti itu, dukunglah jika memang ia si nomor 10 beneran. Tapi jika ia hanyalah si nomor 10 nanggung, berbesar hati saja untuk terus mengoper kepadanya. Toh jika kualitasnya abal-abal, kejelekannya akan mudah terlihat, dan sepak bola tentu selalu punya caranya sendiri untuk menggiring pemain-pemain seperti itu ke luar lapangan.

Ya, karena sepak bola itu bersebelas, bung. Dan seperti halnya dalam kehidupan: kecuali anda memang benar-benar sempurna (dan memang tidak mungkin ada yang sempurna), maka anda tidak berhak untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Ah, kenapa ending tulisan ini jadi kaya tag line motivator begini?

Tuesday, April 15, 2014

Saatnya Overhaul, Milan

Milan menang dalam 4 laga beruntun. Diawali laga melawan Fiorentina, kemudian berlanjut pada Chievo, Genoa dan Catania. Sebuah streak kemenangan terbanyak musim ini, seakan memperlihatkan bahwa tim ini sudah back on track dan siap menyongsong musim depan yang lebih baik.

Benarkah demikian?

Anda boleh berpendapat lain, namun saya sudah beberapa tahun belakangan tidak menyukai apa yang terjadi pada tim ini. Yang saya maksud adalah visi dari manajemen. Tanpa bermaksud sok tahu, dari yang saya baca (mungkin bacaan yang sama dengan kalian), Milan memang tidak mampu mengganti para pemain bintangnya yang hengkang akibat krisis finansial yang melanda.

Bukan itu yang sebetulnya mengganggu, well, krisis finansial memang tak terhindarkan apalagi dengan berbagai kontroversi yang dibuat Berlusconi yang salah satunya membuat Milan harus turut menganggung denda 500 juta euro yang dibebankan kepada Fininvest, salah satu perusahaan Berlusconi. Namun yang cukup mengganggu adalah, Milan hanya melakukan perekrutan yang sifatnya tambal sulam. Ibarat sebuah mobil, Milan sudah waktunya turun mesin, namun bukannya melakukan itu malahan sibuk mengecat body agar tetap terlihat kinclong. Melihat hal ini, saya jadi sepenuhnya memahami curhat Paolo Maldini yang berkata bahwa Milan memang tidak memiliki real project. Skuat yang ada hanya bermanfaat 2-3 tahun, yang tentunya tidak mengherankan jika tidak terjalin kekompakan, apalagi menimbulkan kebanggaan dan identitas.

Memang bukan perkara mudah. Ini adalah kebijakan yang diambil, dan yang namanya kebijakan, bisa benar dan bisa salah. Dalam hal ini, saya pribadi menilai Milan telah keliru dalam mengabaikan pendidikan pemain muda. Setelah Billy Costacurta, Demetrio Albertini dan Max Ambrosini, siapa lagi yang lolos ke tim utama? Justru mereka harus menebus Ignazio Abate, Luca Antonini dan juga Alessandro Matri setelah mereka bersinar lebih dulu di klub lain. Atau, mereka harus rela melihat Pierre Aubameyang, Marco Donadel, dan bahkan Matteo Darmian yang ternyata cukup cemerlang setelah klub-klub lain memberikan kepercayaan.

Bagi Milan, adalah penting untuk lolos setiap tahun ke kompetisi Eropa agar pendapatan mereka stabil, sehingga mereka mampu membayar gaji pemain-pemain yang menurut pendapat saya berkemampuan nanggung. Bukankah lebih baik mengembangkan pemain-pemain muda dari akademi lalu mengombinasikannya dengan talenta-talenta muda dari klub lain walaupun harus membeli mahal sedikit? Daripada membeli pemain gratis berusia 28-32 tahun namun masa jayanya telah lewat dan gajinya di atas 1,5 juta euro?

Satu-satunya yang patut diapresiasi dari kebijakan Milan adalah menyangkut marketing. Di liga Italia, merekalah yang mendapatkan pemasukan tertinggi dari segi sponsorship. Dalam hal ini, Milan memang telah banyak mencontoh klub-klub Inggris. Selain cukup aktif di social media, Milan juga (dengan nama besar Berlusconi) mampu menjalin berbagai kerjasama komersial menguntungkan, yang berbuah pendapatan di atas 100 juta euro per musimnya.

Namun sayangnya kerjasama komersial ini juga berkorelasi dengan prestasi. Dengan menduduki zona champions, tentu banyak pihak yang masuk sebagai sponsor. Untuk itulah selalu ada tekanan masuk zona Champions tiap musimnya agar mendapatkan dana untuk membayar hutang, dan tentunya hal ini memerlukan dana untuk membeli pemain-pemain berpengalaman. Catat, pemain berpengalaman yang didapat dengan free transfer bukan berarti tidak perlu biaya sama sekali, karena mereka tentunya memiliki gaji besar.

Dengan menurunnya prestasi Milan sekarang ini, ditambah ancaman tidak lolos ke kompetisi antar klub Eropa, memang semestinya sudah saatnya bagi Milan untuk melakukan overhaul secara besar-besaran. Buang pemain-pemain senior bergaji besar minim kontribusi, percayakan pemain-pemain akademi macam Bryan Cristante dan Andrea Petagna. Beli pemain muda potensial, mahal sedikit gak masalah, namun efeknya berkepanjangan.


Dan tentunya dengan tidak mengikuti kompetisi Eropa, Milan sadar betul bahwa mereka tidak memiliki pendapatan cukup untuk membayar biaya gaji di atas 150 juta euro setahun. Semestinya keadaan ini memaksa mereka untuk melakukan restrukturisasi gaji musim depan, caranya ya dengan melepas pemain-pemain berkategori senior gaji besar minim konribusi tadi. Tidak perlu berharap untuk kembali lolos ke Liga Champions musim depan, melihat Juventus, Roma, Napoli, bahkan Inter Milan masih akan setangguh sekarang musim depan. Betulkan mesin, jangan hanya kilapkan cat.

Perjuangan Si Anak Punk

Anda ingin dicap sebagai penggemar sepak bola yang unik dan berbeda dari yang lain? Saran saya mulailah memperhatikan Atletico Madrid, tontonlah pertandingannya, koleksilah jersey-nya. Anda akan sekeren dan sekece penggemar baru Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund.

Berbicara Atleti, berarti membicarakan tim underdog. Secara alamiah, tidak semua orang menyukai hegemoni. Bayern Muenchen adalah penguasa baru, Real Madrid atau Barcelona adalah penguasa lama, sementara Chelsea meski baru 1 dekade ini menggebrak namun sudah 7 musim beruntun lolos ke semi final Liga Champions. Atleti? Mereka hanyalah anak bau kencur dibandingkan 3 semifinalis lainnya.

Jika diibaratkan sebagai anak musik, Atleti ini seperti anak punk. Bermodal tampang gahar, penampilan urakan, musik yang berisik dan minim pertunjukan skill. Mereka tidak peduli pada kord miring atau solo gitar yang keriting. Mereka hanya ingin meluapkan ekspresi seliarnya, berteriak sekenanya, dan melawan segala bentuk kemapanan meskipun hanya sepukul dua pukul.

Oleh masyarakat, anak-anak punk mungkin dijauhi. Mereka dicap suka berbuat onar, gak jelas, dekil dan stereotip-stereotip beserta generalisasi lain yang memang sudah terdoktrin. Tapi jangan lupa, mereka kini adalah underdog. Seorang underdog bisa berubah dari troublemaker menjadi liberator. Lihatlah sosok Bane dalam film Batman. Coba katakan, Bane itu penjahat atau liberator?

Atleti bukanlah Bayern Muenchen yang begitu digdaya, rapi, intelek dan kece. Bayern seperti halnya musik band Dream Theater yang begitu presisi, rumit, rigid, megah dan berkelas. Apakah semua suka musik seperti itu? Tidak juga.

Bagaimana dengan Real Madrid? Madrid itu seperti musisi Glam Rock yang dulunya berjaya, namun sekarang masih mencoba mengumpulkan puing-puing kejayaan. Proyek megah senilai MRT Jakarta seperti Los Galacticos jilid 1 dan 2 terus digulirkan namun hasilnya masih nihil. Terakhir kali mereka merebut Champions League adalah tahun 2002 saat Zinedine Zidane cs sukses mengandaskan pasukan Cristoph Daum, Bayer Leverkusen.

Kalo Chelsea itu seperti musik apa? Hmm mungkin seperti musik dance, elektrik dan hip-hop yang digemari mayoritas anak-anak muda. Mereka lamban di intro, lalu menghentak di chorus, lalu mengakhiri lagu dengan klimaks. Persis seperti gaya Jose Mourinho.

Jadi, 'musik' apakah yang akan berkumandang di Lisabon nanti? Mampukah anak-anak punk asuhan Diego Simeone membuat kejutan?

Tuesday, March 18, 2014

Krisis Milan Bukan Buah Kesalahan Selama Setahun-Dua Tahun

Saat kekalahan atas tim seperti Udinese, Sassuolo atau Parma sudah dipandang sebagai hal biasa, maka jelas ada yang salah dari Milan. Milan bagaimanapun adalah bagian dari kejayaan sepak bola Italia. Sepak bola Italia memiliki kultur keras yang mengutamakan hasil pertandingan di atas segalanya, bahkan terlihat obsesif. Anda tidak akan menemukan presiden klub seperti Maurizio Zamparini di Liga Inggris misalnya.

Memainkan sepak bola indah tanpa hasil adalah hal tak termaafkan di Italia. Berbeda dengan di Spanyol, misalnya. Tanyakan saja kepada Fabio Capello yang dipecat justru saat baru mengantar Real Madrid menjadi juara liga. Alasannya, di tangan Capello, permainan Madrid tidak atraktif.

Namun sebaiknya kita memandang krisis yang terjadi secara berimbang. Anda boleh berpendapat lain, namun menurut pandangan saya krisis ini bukanlah kesalahan pelatih tertentu, bukan pula disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang dilakukan awal musim ini atau musim lalu. Krisis ini ibarat bom waktu yang telah meledak sejak ditanam kira-kira satu dekade lalu.

Satu dekade lalu, siapa tak gentar menghadapi tim yang diperkuat poros serangan Pirlo, Kaka, Rui Costa, Seedorf dan Shevchenko, dengan dilindungi seorang hard man bernama Gattuso. Memasuki lini pertahanan, siapa yang tak terkesima dengan bek-bek elegan (tidak usah jauh-jauh ke era Baresi) seperti Maldini, Nesta atau bek raksasa seperti Jaap Stam.

Ya, Milan pernah mengalami masa itu. Masa di mana Liga Champions adalah DNA mereka, masa di mana tim-tim lawan bergidik gentar ketika memasuki halaman San Siro.

Namun sebagaimana kehidupan berjalan, terdapat sebuah siklus, peralihan, perputaran. Saat mengalami masa-masa penuh kejayaan, memang akan mudah berpikir untuk terus mempertahankan skuat alih-alih memikirkan regenerasi. Lebih kece memikirkan pembelian pemain matang berusia 27 tahun ke atas daripada mendidik tiga-empat orang teenagers dan menyisipkan mereka sesekali ke tempat latihan dan starting line-up.

Sayangnya, pembelian pemain-pemain tua dan mempertahankan para senatori hingga titik terakhir karir mereka adalah pilihan yang diambil. Memang tidak salah, di tengah industrialisasi sepak bola yang menggila, mungkin tidak ada klub yang menghargai pemain-pemainnya yang telah berjasa seperti halnya Milan. Semangat kekeluargaan ini pula yang membedakan Milan dengan klub lain. Saat Zlatan Ibrahimovic dipanggil ke ruang direksi pasca insiden latihan dengan Oguchi Onyewu, Ibra sudah berpikir bahwa hukuman berat telah menanti, namun Adriano Galliani, layaknya seorang ayah yang sabar dan penuh kasih sayang, merangkulnya sambil berbicara pelan namun tegas “Menghukummu? Ini adalah Milan. Di Milan, kita tidak melakukan cara seperti itu.”

Bagaimanapun, tidak ada sistem buatan manusia yang dapat berjalan sempurna. Kedigdayaan Maldini dkk membuat para petinggi menutup mata pada pentingnya regenerasi. Praktis pemain terakhir lulusan akademi (atau tim primavera) adalah Billy Costacurta, Demetrio Albertini dan Max Ambrosini. Terdapat “masa tenggang” memainkan pemain dari akademi sebelum muncul Mattia De Sciglio dan Bryan Cristante. Alessandro Matri dan Ignazio Abate malah harus “disekolahkan” dulu sebelum ditarik kembali.

Sebelum timbul masalah keuangan, Milan mungkin masih bisa mengabaikan lulusan akademi dan membeli pemain yang sudah jadi. Mereka juga masih mampu membeli pemain muda dengan status hot prospect sekaligus membayar gaji mingguan mereka yang besar. Tapi, itu dulu. Rangkaian kasus Berlusconi melalui Fininvest yang berakibat denda 400 juta euro menjadi pukulan telak yang membuat Milan harus menjual Kaka ke Madrid tahun 2009 lalu. Kesulitan keuangan juga sudah terendus ketika Milan harus menjual Sheva ke Chelsea tahun 2006.

Ketika krisis finansial baru sebatas gejala, atau setidaknya masih bisa diatasi dengan performa stabil di Eropa yang mendatangkan uang banyak, Milan memang masih mampu membeli banyak pemain, tapi ya itu tadi, kualitas pemain-pemain yang dibeli pun tidak sebaik sebelumnya. Seraya mempertahankan para senatori, Milan pun masih bisa melaju dan bersaing.

Milan bahkan masih mampu menggeliat ketika Ibra dan Robinho didatangkan sekaligus. Keberadaan pemain berbakat yang disia-siakan klub mereka sebelumnya ini adalah berkah bagi Milan karena mereka langsung menyumbangkan gelar scudetto. Namun tibalah masa itu. Masa di mana senatori tersebut sudah waktunya meninggalkan Milanello lantaran usia senja. Tidak punya dana cukup untuk mengganti pemain yang memiliki kualitas sebaik mereka, Milan pun terpaksa mendatangkan pemain-pemain yang “seperti itu”.

Keputusan mendatangkan pemain seperti Ibra maupun Robinho harus diakui adalah keputusan yang sifatnya temporer. Usia membuat mereka hanya bisa bermain bagus semusim-dua musim saja, dengan pengecualian untuk Ibra. Saat senatori tersebut pergi, tiba pula saat persiapan Financial Fair Play. Dengan biaya gaji yang nyaris mencapai 200 juta euro semusim, tentu tidak feasible bagi Milan yang pendapatannya hanya berkisar 230-250 juta. Milan pun beroperasi dengan kerugian, dan Financial Fair Play mengharamkan hal itu.

Milan tidak mampu menahan kibasan euro dari nouveu riche PSG yang menginginkan Ibra sekaligus Thiago Silva, pembelian terbaik Milan seperti halnya pembelian mereka kepada Kaka dan Sheva di masa lalu. Kini, Milan tidak mampu menahan Thiago selama mereka menahan Sheva dan Kaka. Tanpa Ibra dan Thiago Silva, tanpa senatori, tidak mampu membeli pengganti yang sepadan, beginilah jadinya.

Keadaan ini akhirnya membuat klub kembali melirik akademi. Pembelian pun sempat bijak, misalnya pembelian Montolivo, Balotelli, El Shaarawy, Saponara, Gabriel atau Niang. Keikutsertaan Liga Champions pun masih dapat dipertahankan. Namun saat momentum sedang bagus, sayangnya kekeliruan kembali terjadi. Pembelian yang terlalu berat ke lini depan adalah bunuh diri seakan mereka menganggap duet Mexes-Zapata tidak jauh berbeda dengan Maldini-Nesta. Belum lagi masalah intervensi taktik, cedera pemain dan pemain-pemain tidak berkontribusi positif yang masih saja dipertahankan.

Sekarang, Milan dihadapkan pada berbagai kesulitan. Masa-masa mediokritas di depan mata. Tanpa mengikuti kompetisi Liga Champions, Milan jelas kehilangan potensi pendapatan hingga 50 juta euro. Secara hitungan kasar, pendapatan Milan akan turun drastis menjadi di bawah 200 juta euro semusim. Jika ingin mematuhi Financial Fair Play, tidak ada jalan lain selain melakukan cuci gudang demi meringankan biaya gaji, sekaligus menjadikan youth project berporos De Sciglio-Cristante-El Shaarawy sebagai andalan, bukan slogan kosong semata.

Sudah saatnya Milan bertransformasi menjadi klub yang lebih berpikiran bisnis. Hal ini memang boleh jadi membuat Berlusconi harus melepas sebagian sahamnya demi kelangsungan hidup Milan. Identitas boleh jadi tergerus, namun dalam sepak bola modern seperti sekarang ini, hal tersebut memang tak terhindarkan, bukan?

Pembangunan stadion baru memang akan memaksa Milan untuk berkata arrivederci kepada San Siro yang megah dan bersejarah. Namun dengan membangun stadion baru modern berkapasitas 55 ribu-70 ribu, Milan dapat berharap untuk memperoleh pendapatan 100 juta euro setahun, yang tentu saja mengikis ketergantungan berlebih pada pemasukan dari hak siar. Tidak ada salahnya pula Milan mencontoh kebijakan klub seperti Dortmund yang hanya membeli pemain muda dan meningkatkan peran pemain akademi. Lihatlah bagaimana Dortmund kini menjadi klub papan atas setelah 1 dekade lalu sempat bangkrut.


Ibarat sebuah siklus, Milan kini memang berada di bawah. Namun kehidupan selalu memberi pilihan untuk merangkak ke atas. Sekarang, klub-klub Seri A seperti Juventus, Napoli, dan Roma sudah beberapa langkah lebih maju ketimbang Milan. Mengejar mereka mungkin sulit sekarang ini, namun tentu dapat dimulai secara gradual dan terukur.