Pages

Showing posts with label Footballosophy. Show all posts
Showing posts with label Footballosophy. Show all posts

Sunday, May 8, 2016

Debat Kusir Sepak Bola Menyerang Dan Sepak Bola Ultra Defensif



Segera setelah keberhasilan Atletico Madrid menyingkirkan Bayern Muenchen dalam semifinal Liga Champions musim 2015-16, terjadi perdebatan yang memang tak pernah usai menyoal sepak bola negatif. Oleh sebagian pengagum sepak bola menyerang, kemenangan Los Rojiblancos dipandang tidak layak. Kesebelasan asal kota Madrid ini disebut hanya menunggu lawan berbuat kesalahan, lalu melancarkan serangan balik mematikan, bagaikan kucing garong yang menunggu ibu-ibu lengah dalam mengawasi ikan asin yang akan digorengnya. Licik dan kurang bermartabat.

Ribut-ribut soal ini rasanya hampir setiap tahun terjadi, dan bukan hal yang sama sekali baru. Tidak sedikit yang mengutuk kesebelasan yang memainkan sepak bola negatif walaupun tidak sedikit pula yang membelanya.

Kalau bicara selera, saya jelas lebih menyukai sepak bola menyerang. Johan Cruyff, Gustavz Sebes, Rinus Michels, Tele Santana dan Pep Guardiola adalah sedikit tokoh pelatih atau pelaku sepak bola yang saya kagumi. Saya juga menyukai skill tinggi yang dimiliki pemain seperti Roberto Baggio, visi luar biasa dari Juan Roman Riquelme, juga kepemimpinan Socrates dan kisah Laszlo Kubala. Karena itulah blog ini bernama Classic Number 10, bukannya Center Half, Stopper atau Bek Sayap.

Sepak bola jelas tidak dapat disamakan dengan olahraga-olahraga beregu lain. Dalam olahraga bola voli misalnya, terjadi banyak angka yang tercipta dalam satu pertandingan. Begitu pula bola basket, atau bahkan futsal sekalipun yang mirip dengan sepak bola. Dalam olahraga yang perpindahan skornya terjadi begitu cepat, memang wajar saja jika upaya menggagalkan peluang mencetak angka akan diberi penghargaan lebih. Sepak bola? Dalam 90 menit pertandingan, malah begitu banyak yang berakhir tanpa satu gol pun.

Padahal, gol adalah tujuan utama sebuah kesebelasan bermain. Sebanyak apapun umpan pendek yang dilakukan, dan seberapa besar penguasaan bola yang dimiliki, tidak akan ada gunanya jika sebuah kesebelasan tidak mampu mencetak gol. Mencetak gol sebanyak mungkin semestinya menjadi tujuan utama mengapa sebuah kesebelasan bertanding sepak bola. Maka karena itulah, kesebelasan yang bermain hanya untuk melimitasi peluang lawan mencetak gol akan lebih tidak disukai.

Kembali ke kemenangan Atletico, akan sangat wajar jika banyak yang mencaci ketimbang memuji. Kisah sukses Atleti melaju ke babak final mengulangi cerita yang mereka jalani dua tahun silam menurut pendapat saya tidak bisa disamakan dengan kisah kemenangan tim underdog. Kesebelasasn Atletico Madrid sekarang berbeda dengan FC Porto tahun 2004 misalnya, apalagi Leicester City yang memenangi Liga Primer Inggris musim 2015-16.

Sejak ditangani Diego Pablo Simeone, Atleti telah bertransformasi dari kesebelasan yang semula hanya menjadi bayang-bayang duopoli Real Madrid-Barcelona, menjadi kesebelasan dengan kekuatan yang kini nyaris setara. Kekuatan finansial mereka pun, meski masih berada jauh di bawah Madrid-Barca, namun telah berada jauh di atas level Valencia, Sevilla atau Villareal misalnya. Pendek kata, Atleti kini bukanlah kesebelasan medioker yang miskin dan teraniaya, tetapi kini mereka telah merangkak naik menjadi bagian dari golongan elit.

Sekadar menafsirkan kegusaran banyak orang, para penggemar sepak bola menyerang menyayangkan pilihan taktik Atleti yang memilih untuk bermain dengan mentalitas kucing garong dan kesebelasan gurem. Hanya menunggu lawan berbuat kesalahan, lalu melancarkan serangan balik yang efektif dan mematikan. Dengan barisan pemain-pemain ciamik seperti Koke, Saul Niguez, Antoine Griezman, hingga Fernando Torres yang tengah bangkit, para penggemar sepak bola jelas berharap Simeone menginstruksikan kesebelasannya untuk meladeni armada Pep Guardiola dengan berani dan terbuka.

Jika memang demikian, mereka mungkin lupa bahwa timnas Brasil tahun 1994 adalah timnas Brasil yang berciri defensif. Pada saat berlaga di babak final melawan Italia, mereka lebih banyak bermain aman, dan tidak lupa menjaga Roberto Baggio, pemain berbahaya Italia dengan ketat. Kesebelasan asuhan Carlos Alberto Pareira ini pada akhirnya memaksakan laga diakhiri dengan adu tendangan penalti yang akhirnya mereka menangi. 

Pareira menggelar taktik ini atas dasar kewaspadaannya pada kehebatan Italia. Namun pendekatan Pareira jelas berbeda ketika lawan yang dihadapi adalah Rusia atau Kamerun, yang kemampuannya berada di bawah mereka. Hal yang sama dapat kita lihat dari Atleti. Mereka akan mendominasi permainan saat menghadapi Rayo Vallecano atau Granada, tetapi jelas keadaannya berbeda ketika menghadapi Barcelona. Pendek kata, mau kesebelasan kita bermain seperti apa adalah pilihan mutlak yang tidak bisa dihakimi. Ini hanyalah pilihan taktik, sesederhana itu.

Kemenangan yang didapat dengan mendominasi penguasaan bola dan menghibur dengan pertunjukan skill tentu saja merupakan kemenangan yang paripurna. Tapi percayalah, kemenangan yang didapat dari kecerdikan dan kesabaran pun akan terasa tidak kalah sempurnanya. Saya pernah merasakannya saat mengalahkan tim yang di atas kertas lebih kuat dalam turnamen classmeeting SMA dulu. Ini menjadi salah satu kekayaan dari olahraga sepak bola yang tidak dimiliki olahraga lain. Dalam balapan Formula 1 misalnya, sangat jarang kita melihat pebalap tim gurem berbagi podium dengan pebalap Ferrari, Red Bull atau McLaren.

Pada akhirnya, mengatur seperti apa sepak bola harus dinikmati adalah sebuah kesia-siaan. Ini hanyalah soal selera, dan kita tidak dapat menyalahkan selera pribadi yang tentunya subjektif. Seperti halnya kita tidak bisa mencibir orang yang lebih doyan makan dada ayam penyet daripada paha ayam penyet, makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk, atau makan soto ayam dengan kuah dicampur atau dipisah. Mendebatkan siapa yang benar antara Guardiola dan Simeone, sepak bola menyerang melawan sepak bola ultra defensif hanyalah membuang-buang waktu. Suka atau tidak, kemenangan akan bergilir antara kesebelasan dengan gaya berbeda tersebut, namun sayangnya perdebatan mengenai siapa yang pantas menang, sepertinya tidak akan berakhir karena memang mungkin sudah sifat dasar manusia untuk merasa bahwa pilihan dan seleranya adalah yang paling benar.

Sunday, July 6, 2014

Untuk Anda Si Nomor 10 (Bukan Surat Terbuka)

Disclaimer: Jangan tertipu dengan judul Blog ini. Entri ini memang bertujuan untuk sedikit memberi pandangan berbeda kepada si nomor 10. Oh iya, ini bukan surat terbuka seperti yang lagi ngetrend di kalangan pendukung fanatik capres sekarang ini. 

“Woi! Oper dong bolanya ke gue! Mata lo di mana?”
“Lo ngerasa lebih jago? Ayo kita man to man di lapangan.”
“Minggir lo! Cuma gue yang boleh ambil eksekusi penalti ini!”
Dan kalimat-kalimat makian yang tidak pantas ditulis.

Kalimat-kalimat seperti itu seringkali kita dengar dari seseorang. Seorang pemain bola di lapangan yang merasa dirinyalah yang paling jago. Dan karena merasa paling jago, dia juga merasa mengemban beban yang tinggi untuk timnya, dan untuk itulah ia juga merasa berhak memarahi rekan setim yang tidak mendukungnya. Ada lagi, dia seolah merasa memliki license untuk banyak menggiring bola, dan menembak ke gawang lawan, seberapapun seringnya ia gagal. Jika ia berhasil, maka itu karena kehebatannya. Jika ia gagal, itu karena memang kebetulan. A self-proclaimed key player.

Mau bermain di manapun, kapanpun, dalam suasana apapun, orang ini selalu serius. Jiwa kompetisinya sangat tinggi dan ia juga amat membenci kekalahan. Ia akan memberikan segenap kemampuannya dan akan sangat terganggu jika mengalami kekalahan. Itu semua benar, tapi sebetulnya yang membuat dia lebih terganggu adalah jika ada rekan setim yang lebih jago darinya.

Orang-orang seperti itu jelas ada. Mereka akan memperlakukan orang lain seperti itu, baik dikenalnya ataupun tidak. “I am the captain. I am the most passionate on this game. I am simply the bestI am the center of this teamIt’s always be about me.”

Agar kelihatan tidak terlalu menyudutkan, sebetulnya si nomor 10 ini bisa melakukan berbagai hal luar biasa dalam sepak bola. Hal-hal yang membuat sepak bola lebih mengejutkan, terutama dalam perkembangan taktik yang makin mengurangi ruang untuk berkreasi ini. Jika tidak bisa melakukan hal-hal luar biasa seperti ini, maka anda bukanlah nomor 10 beneran. Di antaranya adalah:
  • Si nomor 10 bisa menjadi motivator rekan-rekannya, bahkan tanpa perlu berteriak-teriak. Sejurus akselerasi kilat yang membelah selapis-dua lapis pertahanan lawan akan membuka ruang. Dari situ, ia bisa mengeksekusinya langsung atau mengoper kepada rekannya yang semula bingung bagaimana cara menembus pertahanan sdisiplin lawan.
  • First touch adalah hal kecil yang membedakan apakah seorang pemain berkelas top atau biasa-biasa saja. Tidaklah berlebihan, karena dengan first touch yang prima, seorang nomor 10 bisa mengarahkan bola ke tempat di mana lawan kehilangan kewaspadaan.
  • Imajinasi tinggi mutlak dimiliki si nomor 10. Gaya bermainnya tidak boleh monoton. Gocek ya gocek terus, posisi menembak ya dari arah yang sama. Tidak demikian. Nomor 10 harus menjelajah ke setiap jengkal pertahanan lawan. Ia mungkin bukan seorang ramdeuter yang mencari ruang tanpa bola di kakinya, melainkan ia membuka ruang kepada rekan-rekannya dengan bola di kakinya. Imajinasinya harus tanpa batas dan tak tertebak lawan.
  • Skill tertinggi di antara rekan-rekannya juga harus dimiliki si nomor 10. Bola adalah teman sejatinya. Satu hentakan, terobosan, gerak tipu, tembakan atau gocekan bisa mengubah arah permainan.
Tidak gampang, bukan? Jadi jika anda tidak memiliki atribut-atribut di atas, tahu dirilah sedikit dan berhentilah merasa bahwa anda adalah si nomor 10. Tanpa harus merasa sebagai si nomor 10, anda masih boleh bermain sepak bola.

Bukannya membantu tim, kemampuan tanggung anda justru malah akan membuat permainan menjadi tidak menarik dan rekan-rekan anda menjadi sebal. Mulailah bermain untuk tim dan melakukan simple passing yang presisi dan milikilah kesadaran posisi yang akan menguntungkan tim anda sendiri. Karena seperti kata Cruyff, “Playing simple football is the hardest thing to do.”

Tapi bagaimanapun, ada kalanya kita tidak bisa mengubah keadaan. Akan selalu ada si nomor 10 di manapun anda bermain. Jika anda berada satu tim dengan pemain seperti itu, dukunglah jika memang ia si nomor 10 beneran. Tapi jika ia hanyalah si nomor 10 nanggung, berbesar hati saja untuk terus mengoper kepadanya. Toh jika kualitasnya abal-abal, kejelekannya akan mudah terlihat, dan sepak bola tentu selalu punya caranya sendiri untuk menggiring pemain-pemain seperti itu ke luar lapangan.

Ya, karena sepak bola itu bersebelas, bung. Dan seperti halnya dalam kehidupan: kecuali anda memang benar-benar sempurna (dan memang tidak mungkin ada yang sempurna), maka anda tidak berhak untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Ah, kenapa ending tulisan ini jadi kaya tag line motivator begini?

Sunday, October 20, 2013

Saat Gol Hantu Memanusiakan Sepak Bola

Anda yang memiliki rejeki bagus dan juga kesempatan yang memadai tentu akan senang mengunjungi benua Eropa, benua berupa daratan luas dengan batas-batas negara yang tegas. Benua asal para penakluk yang jika digabungkan luasnya, akan berukuran tidak jauh berbeda dengan luas wilayah Indonesia.

Berbicara Eropa, tentu sangat disayangkan jika Anda tidak mengagendakan sedikit saja waktu untuk melihat sepak bola, meskipun Anda tidak menggemari olahraga ini. Di benua tempat pertama kali sepak bola diklaim dimainkan dan dirumuskan aturannya inilah sepak bola seperti agama. Manusia boleh lahir dan mati, bangunan boleh berdiri kokoh lalu berjamur dan runtuh, namun sepak bola bukannya memudar malah terus berpendar.

Perkembangan sepak bola memang tidak secepat perkembangan teknologi komputer atau telepon genggam. Dengan kesederhanaannya, sepak bola pada dasarnya adalah permainan yang mempertandingkan 11 orang dari sebuah komunitas atau kampung. Kesederhanaan itulah yang membuat perkembangan sepak bola tidak secepat perkembangan teknologi.

Namun saat komersialisasi digaungkan, mulailah sepak bola tersaji seperti yang setiap pekannya Anda saksikan. Sebuah klub sepak bola kini telah banyak memiliki manajemen sekuat perusahaan besar, meskipun omzet mereka masih jauh. Perusahaan apparel yang dulunya dibayar oleh klub sepak bola untuk menyediakan perlengkapan bermain, kini berbalik menjadi pihak yang membayar. Kontrak televisi lantas menggila, dunia bisnis lantas melirik sepak bola sebagai lahan promosi yang sangat potensial, penggemar sepak bola terutama di benua Asia lantas dijejali berbagai gimmick dan tontonan sepak bola tengah malam yang tidak jarang mengaduk-aduk emosi mereka sendiri, memenuhi pikiran mereka dengan ilusi berbalut fanatisme. Sebelum era semacam ini timbul, pemanfaatan tertinggi pada sepak bola baru dilakukan oleh para politisi untuk menyebarkan propaganda.

Kembali ke stadion-stadion di Eropa, jika Anda pernah berkunjung ke salah satu stadion ternama, Anda akan menyaksikan fasilitas anjangsana yang sekilas lebih cocok untuk kaum borjuis, namun ternyata cocok untuk seluruh kelas dalam masyarakat. Di stadion sepak bola, mungkin saja tidak berlaku prinsip sama rata sama rasa. Anda duduk sesuai dengan harga karcis yang Anda bayar. Namun Anda akan menyaksikan pertunjukan yang sama, pertunjukan adu tehnik dua puluh dua orang pesepak bola dan adu strategi dua orang pelatih. Ditambah lagi, Anda akan menyaksikan protokoler dan prosedural kelas elit, bahkan sebagian ada yang sudah menerapkan teknologi garis gawang agar hasil pertandingan benar-benar valid dan human error diperkecil kemungkinannya. Pertandingan sepak bola adalah sebuah event penting yang hasilnya memang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan. Football is a serious business.

Maka agak lucu jika dengan perangkat pertandingan yang sudah berada pada tingkat kecanggihan pesawat Air Force One, kontroversi masih saja muncul. Stefan Kiessling, penyerang berambut kuning keemasan bertubuh tinggi dan agak kurus adalah salah satu pesepakbola handal saat ini yang diabaikan oleh tim nasionalnya. Meski ia terus menjawab segala keraguan lewat rekor golnya yang mengagumkan dan statistik-statistik yang mencengangkan, namun Jogi Loew tidak kunjung meliriknya untuk menjadi salah satu penggawa Die Nationalmannschaft.

Kiessling akhirnya memilih cerita lain, meskipun ia tidak bermaksud melakukannya. Ia mencetak gol yang kemudian banyak disebut sebagai gol hantu, karena bola sebenarnya memang tidak masuk ke gawang melainkan hanya menyentuh samping gawang. Ekspresi Kiessling sungguh datar hingga semuanya berubah saat wasit mengesahkan momen tersebut menjadi sebuah gol. Bukan sembarang gol, namun gol yang memenangkan klubnya, Bayer Leverkusen. Publik geram, pengelola liga kebakaran jenggot, perangkat pertandingan merasa kecolongan, namun tidak sedikit pula yang menertawakan sekaligus menganggap momen tersebut sebagai hal unik dalam sepak bola. Ya, hal-hal yang membuat permainan ini tidak kehilangan sisi manusia. Manusia yang tidak lepas dari kesalahan.

***

(Sementara itu di belahan bumi lainnya, 13 tahun silam)
“Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo
Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo”

Begitulah teriakan yang terdengar nyaris di seantero sekolah kala laga classmeeting digelar. Parodi chantCampione.. Campione..” yang biasa didengar dari layar kaca kemudian mereka ubah menjadi “Sociale.. Sociale..” melambangkan kelas 3 IPS atau Sosial, seakan menunjukkan superioritas skill sepak bola sekaligus rasa kebersamaan yang lebih cair antar sesama dibandingkan anak-anak IPA. Ya, anak-anak yang terkesan lebih serius, ilmiah, individualis, tidak banyak bicara, sinis, terpelajar namun selalu kalah dalam bermain sepak bola di sekolah.

Pada hari itu, semua berubah di lapangan. Laga semifinal classmeeting antara kelas IPA saya dengan kelas IPS berlangsung sengit karena ternyata kami mampu memberi perlawanan. Skor masih imbang 1-1 hingga penghujung pertandingan. Kami semua nampak siap melanjutkan laga dengan perpanjangan waktu, namun sebuah momen mengubah segalanya.

Rekan saya, sebut saja Mr. K, melepas tendangan langsung ke gawang IPS. Merasa bola tidak akan masuk, kiper IPS hanya mendiamkannya. Bola memang tidak masuk, dan Mr. K juga menunjukkan gestur kekecewaan. Namun apa daya, hakim garis dan wasit serentak mengangkat bendera dan tangan ke arah tengah lapangan pertanda tendangan tersebut gol. Sempat terjadi moment of silence beberapa saat untuk mencerna apa yang baru saja terjadi, namun kencangnya bunyi peluit dari wasit mengonfirmasi bahwa gol hantu telah terjadi. Teriakan “Sociale” lalu berubah menjadi koor masal bernada kekecewaan pada kepemimpinan wasit. Ya, laga saat itu memang tidak dapat dibandingkan dengan laga Bundesliga yang dilakoni Stefan Kiessling. Gawang yang terbuat dari bambu dan tidak terpasangnya jaring memang menyulitkan pengambilan keputusan.

IPS meradang, menggugat, marah dan kecewa. Sementara kami hanya diam tanpa merayakan gol seperti biasa, meskipun tersenyum simpul dalam hati. Laga usai, kami menang. Wasit dicerca, emosi melanda, namun beruntung keributan tidak meledak. Gestur sportivitas juga kami berikan pada lawan, hasil akhir sudah ditentukan. Sepak bola memang kadang seperti ini. Aneh, unik, kejam, tidak terduga seperti gambaran umum kehidupan.

Pada hari itu, meskipun bukan dengan cara yang kami inginkan dan bukan dengan cara yang ilmiah serta terukur, kami berhasil mengubah stigma di sekolah dimana anak IPA tidak bisa mengalahkan anak IPS dalam bermain sepak bola.

Tuesday, August 27, 2013

Ayo Main Bola (Part-2)

Rasanya, semua penggemar sepak bola pernah memiliki keinginan untuk menjadi pesepak bola profesional. Bayangan akan popularitas yang berbanding lurus dengan kemapanan finansial tanpa batas serta kebanggaan membela nama bangsa di lapangan hijau adalah lamunan yang lebih indah dari apapun juga.

Berbagai hal melatarbelakangi kegagalan jutaan anak untuk menjadi pesepakbola. Mereka pada akhirnya menggeluti profesi lain, meski sepak bola tidak pernah hilang begitu saja dari benak mereka. Sepak bola hadir dalam bentuk lain seperti tulisan, kerelaan begadang menonton siaran langsung, atau kerelaan merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli jersey original. Apapun itu, saya rasa semua orang punya momen sepak bolanya masing-masing.

Momen sepak bola yang saya maksud di sini adalah momen ketika mereka masih bisa memainkan sepak bola tanpa beban. Tanpa takut dicari istri, tanpa takut diambek pacar, tanpa memikirkan dibayar berapa dan sebagainya. Permainan sepak bola kanak-kanak yang dimulai saat yang punya bola datang, dan baru berhenti jelang adzan maghrib berkumandang, atau ketika bel masuk sekolah berbunyi. Ya, sepak bola murni tanpa aturan-aturan ribet dan jargon-jargon modernitas. Permainan sederhana sebelas lawan sebelas, malah bisa lebih bisa kurang.

Saya merasakan momen seperti itu di bangku sekolah dan kuliah. Saat itulah kondisi fisik berada pada puncaknya dan saya juga belum terjebak pada ikatan-ikatan (you know what I mean) tertentu. Sepak bola saat itu bukanlah pelarian, bukanlah motif rekreasi, melainkan hanya permainan belaka. Permainan menyenangkan yang memiliki gravitasi dan candu.

Di sekolah, saya menikmati segala ledekan karena saat itu badan saya kecil dan perawakan saya yang tidak meyakinkan sebagai pesepakbola. Segala ledekan itu kemudian saya ubah menjadi gol-gol yang kebanyakan berasal dari lekatnya imaji saya pada permainan Andriy Shevchenko. Ya, permainan simpel yang mengandalkan kecepatan dan penyelesaian akhir klinis adalah gaya saya saat SMA dulu.

Tuhan menjadikan sepak bola sebagai alat pengatrol posisi di pergaulan. Di masa SMA yang katanya masa-masa paling indah itu, saya bukanlah sosok populer. Saya tidak pandai ngebanyol dan mencela teman, tidak jago-jago amat main gitar, tidak pintar-pintar amat di kelas, tidak pandai menggombali perempuan, juga tidak mengoleksi sepatu Nike Air Jordan. Average Joe yang mudah diabaikan. Tapi berbekal sedikit kebisaan bermain sepak bola itulah, saya pada akhirnya cukup mendapat pengakuan. Ya, setidaknya teman-teman di sekolah dulu akan dengan mudah mengindentifikasi saya sebagai si pemain bola classmeeting, atau mungkin si penggila sepak bola yang malas mencatat pelajaran dan mengerjakan PR.

Cerita ini berlanjut sampai kuliah. Saya masih rajin bermain sepak bola di lapangan dekat kampus. Meski tidak pernah terpilih mewakili tim fakultas, tapi setidaknya saya pernah mencetak gol kemenangan dalam sebuah laga final sarat gengsi melawan tim gabungan senior dan alumni. Saat melakukan tendangan jarak jauh itu, entah bagaimana saya seperti menjadi orang lain. Atmosfer pertandingan saat itu menjadikan kaki lebih ringan dan insting lebih tajam dari biasanya, sehingga gol tersebut memang seperti hanya menunggu waktu untuk terjadi.

Sebegitulah kepingan kenangan sepak bola yang saya punyai, di samping puluhan atau bahkan ratusan kenangan sepak bola lapangan kecil yang telah saya mainkan.

Detik ini, saya sudah genap 6 bulan tidak memainkan sepak bola dengan varian apapun entah di lapangan besar (standar sepak bola) ataupun di lapangan futsal. Memang ada alasan kondisi fisik, namun yang mengkhawatirkan adalah mulai terbentuknya kemalasan-kemalasan tak beralasan. Entah merasa terlalu capai dan malas bergerak, terlalu sibuk atau sok sibuk, malas mengeluarkan motor atau mobil untuk menuju lapangan, malas ini dan malas itu, takut begini takut begitu.

Mungkin saya telah memasuki fase hilangnya rasa kehilangan tidak bermain sepak bola. Rasa di mana tidak memainkan sepak bola bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan karena banyak hal-hal lain yang (terasa) lebih penting. Saya tahu fase ini akan datang, tapi saya akan coba untuk menolaknya sebisa mungkin atau setidaknya menundanya selama mungkin.

Bagi kalian yang masih punya kondisi fisik dan waktu yang memungkinkan untuk terus bermain sepak bola santai atau kompetitif, nikmatilah masa-masa itu. Lawanlah segala kemalasan dan cobalah abaikan segala urusan-urusan rekreasional lain. Nikmatilah bermain sepak bola sebelum sepak bola hanya menjadi bahan obrolan atau bahan tulisan saja.

Monday, July 8, 2013

Ayo Main Bola!

Rasanya masih teringat jelas di memori saat gue dicela teman-teman (bukan teman yang baik sih) yang mengatai betapa culunnya gue karena gak bisa main bola dan gak tau gimana caranya nendang bola. Sebuah celaan yang kemudian seperti membangunkan monster yang telah lama bersembunyi dalam badan.

Monster itu menstimulus gue buat belajar main bola, lalu membungkam mulut para pencela itu. Gue gak tumbuh sebagai pesepakbola profesional juga sih, tapi gue bukanlah pesepakbola buruk. Gue hanya punya dua tujuan setiap bermain bola, yaitu bermain baik dan mencetak gol. Gak pernah sedikitpun terbersit untuk mencederai lawan. Gue bermain, karena gue mencintai permainan ini, bukan karena motivasi lain seperti taruhan atau gagah-gagahan. I see football as a beautiful game.

Passion gue teramat tinggi keterlaluan pada permainan ini. Jeleknya, passion ini seperti hantu yang sempat menghambat langkah gue karena terlalu sulit move on dan sulit menerima kenyataan kenapa gue gak bisa jadi pemain bola. Banyak tahap pencarian gue lalui sebelum mencapai tahap ikhlas seperti sekarang. Mencoba berdamai dengan hidup dan berusaha terlihat seperti bapak-bapak normal yang suka upload foto anak di social media dan menjadi karyawan yang rajin kerja lembur serta berdedikasi tinggi adalah bukti bahwa gue sudah pasrah dan rela menjalani dunia paralel di mana pemikiran gue gak sejalan dengan apa yang gue lakukan.

Meski demikian, gak ada penyaluran yang lebih besar pada sepak bola selain memainkannya. Ya, bermain sepak bola di lapangan adalah hal yang lebih menyenangkan daripada liburan mahal dengan kapal pesiar romantis sekalipun, atau teriak-teriak di karena adrenalin yang dibuat-buat saat memainkan water sport di pantai eksotis. Bahkan setelah gue menemukan kesenangan alternatif berupa menjadi penulis sepak bola sekalipun, tidak bermain sepak bola secara reguler adalah sebuah kegagalan tak termaafkan.

Perubahan status dari bujangan ke pajangan, plus dari mahasiswa girang ke karyawan senang udah cukup mereduksi waktu bermain bola. Apalagi sebuah catatan statistik kampret berupa hasil medical check up resmi mengalienasi gue dari lapangan bola. Kolesterol gue tinggi, akibat terlalu larut dalam rangkaian tipuan hedonisme berupa makanan-makanan lezat.

Lebih sakit membaca ini daripada tidak menemukan nama gue di pengumuman UMPTN. Tidak bermain bola adalah situasi terburuk yang bisa gue bayangkan, daripada tidak punya payung saat hujan deras atau tidak punya pacar selama sekolah. Dan kini, udah 3 bulan lebih lamanya gue istirahat dari lapangan. 3 bulan tidak menyenangkan yang tidak ingin gue alami lagi.

Well, gue gak mau curhat sebenernya. Gue akan tambahin sedikit bobot dalam tulisan ini. David Conn, si jurnalis sport business pernah bilang dalam salah satu chapter di bukunya tentang lost generation of football yang terjadi di Inggris, yang notabene negara yang mendaulat diri sebagai penemu sepak bola.

Conn bilang bahwa ciri paling kentara dari modernisasi sepak bola adalah di dunia penyiaran. Rupert Murdoch melalui Sky Sports yang menjadikan sepak bola sebagai tontonan berbayar telah mengubah paradigma orang-orang Inggris. Paradigma itu adalah menjadi penonton yang baik karena stasiun TV menayangkan tontonan bagus, yang sayang untuk dilewatkan. Tidak hanya siaran langsung, tapi juga highlight pertandingan dan analisa canggih dari para pundit berjas dan berdasi, tidak mau kalah necis dengan pengamat pasar modal ataupun pengacara. Tayangan sepak bola sudah dikemas sedemikian ruma sehingga para pemirsa termanjakan, dan uang berlangganan yang mereka keluarkan terasa tidak percuma. Ya terang saja, kalau sudah mengeluarkan uang untuk berlangganan, masak sih kita harus beranjak dari sofa sambil makan pizza dan minum berkaleng-kaleng soda atau bir? Ngapain juga capai-capai main bola di lapangan, mendingan nonton orang main aja di TV. Kebiasaan ini juga membawa dampak obesitas, yang akhirnya makin mengurangi produksi generasi sehat yang mampu menjadi pesepakbola.

Terdengar berlebihan? Fenomena ini kemudian berkembang lebih liar. Dari revolusi penyiaran, kemajuan sektor industri pada akhirnya membutuhkan terlalu banyak ruang untuk pembangunan kantor dan gedung mereka. Ruang publik tereduksi, lapangan bola dihabisi. Semakin sulit bermain bola jika lapangan rumput plastik yang tersedia memaksa kita merogoh kocek 300 ribu rupiah perjamnya, atau kira-kira seorang anak sekolah harus patungan 30 ribu rupiah untuk bermain bersama teman-temannya. Tidak heran, lebih banyak anak muda yang lebih memilih nongkrong di minimarket dengan modal 30 ribu perak itu, karena bisa mendapatkan seporsi junk food dan segelas sirop beku, plus bisa ngegodain cewek.

Balik lagi ke absennya gue dari lapangan. Well, sudah saatnya mengakhiri penderitaan ini. Gue harus segera kembali ke lapangan dan dapetin lagi hal-hal yang bisa bikin gue seneng. Jadi seorang pria beranak satu di usia boring 30an bukan berarti menghilang dari lapangan. Bagaimanapun juga, sepak bola lebih enak dimainkan daripada sekadar dibicarakan atau ditonton saja. Ayo main bola!

Sunday, March 17, 2013

Sepak bola Lebih Dari Klub!



Debat apakah yang paling tidak berujung di dunia? Jika anda menjawabnya debat dalam tayangan ILC, maka anda juga perlu melihat timeline twitter setiap akhir pekan: Debat mengenai klub favorit.

Klub favorit, percayalah, bisa membuat anda gila tanpa anda sadari. Anda rela menabung, membelanjakan uang, mengorbankan waktu, berkelahi dengan orang lain hanya untuk membela mereka. Dan debat mengenai klub siapa yang paling hebat seakan lebih seru ketimbang acara malam mingguan atau tahun baruan anda bersama teman-teman.

Seperti menjadi kepuasan tersendiri jika klub favorit anda memenangi laga. Anda secara sukarela memberikan sepersekian hati anda kepada mereka sehingga anda larut dalam kegembiraan ketika mereka menang padahal anda tidak ada di lapangan, anda merasa bagian dari klub padahal mereka berada ribuan kilometer dari tempat anda berpijak, anda merasa klub adalah bagian dari hidup padahal bagi klub anda hanyalah bagian dari data numerik yang disimpan rapi oleh bagian marketing tim itu.

Tapi anda tidak peduli, anda menikmatinya dan anda suka seperti itu. Itu keren dan asik. Begitulah anda berpendapat.

Terserah saja bagaimana anda menjalani hidup sendiri, atau bagaimana anda menyuruh otak untuk menyukai apapun, atau bahkan tidak menyukai apapun. Namun sepertinya banyak yang melupakan bahwa klub anda adalah bagian kecil dari sebuah dunia dan keluarga besar bernama sepak bola.

Dalam bukunya, Alex Bellos bilang kalau bagi orang Brazil, sepak bola adalah jalan hidup. Bagi sebagian penduduk bumi, semua orang Brazil bisa bermain sepak bola. Dan jika tim lokal anda ingin meningkatkan level permainan, maka kontraklah dua atau tiga orang pemain Brazil. Dengan kebiasaannya menari, berpesta dan bersantai di pantai, orang-orang Brazil memiliki kaki-kaki alamiah untuk bisa menggocek, menendang juga meliuk-liuk layaknya penari samba.

Bagi orang Brazil, sepak bola adalah kendaraan untuk meningkatkan taraf hidup sekaligus meraih kebahagiaan. Meski harus meninggalkan tanah air, meninggalkan Cahaya matahari sepanjang tahun, menjauhi pantai dan karnaval untuk bermain sepak bola di tim yang berada di belahan dunia lain, mereka rela melakukannya. Tercatat, Brazil adalah negara pengekspor pemain bola terbanyak dunia.

Lalu bagaimana jika anda mengartikan sepak bola adalah sebuah bendera klub? Klub favorit anda adalah segalanya, apapun yang melawan mereka adalah musuh anda, siapapun yang mendukung mereka adalah teman anda, anda boleh saja kalah dalam hidup namun klub anda tidak boleh kalah, anda boleh saja kalah berdebat dalam hal-hal remeh namun jika menyangkut debat klub favorit anda maka anda selalu benar.

Banalitas dan bigotry adalah hal yang kadang memang mengasyikkan, karena anda merasa bebas dan tidak peduli pada apapun selain yang anda bela. Kepuasan tersendiri juga timbul saat klub rival mengalami kekalahan, apalagi terjerembap dalam kesulitan. Seolah siapapun yang berafiliasi dan menempel pada klub rival anda itu adalah musuh anda juga, yang perkataannya harus anda debat, yang kemenangannya harus anda gugat.

Menjalani hidup seperti itu, bagaimanapun adalah pilihan (termasuk menjalani hidup cara apapun). Namun jauh dibalik segala glorifikasi atas kemenangan tim favorit yang posternya sudah menyesaki dinding kamar anda itu, ada hal yang lebih besar dan lebih berharga untuk diperjuangkan: yaitu perjuangan dan perdamaian.

Daripada memandang sepak bola melalui kacamata kuda dan menghasilkan satu bendera klub saja, alangkah lebih bermanfaat jika sepak bola dijadikan sebagai alat perdamaian seperti yang dilakukan Didier Drogba dan kawan-kawan untuk menghentikan perang saudara di negaranya, Pantai Gading. Akan lebih bermakna pula jika sepak bola dipandang secara luar biasa menjadi penyelamat hidup seorang Antonio Cassano, yang tumbuh di lingkungan kriminal di kota Bari. Jika tidak bermain sepak bola, mungki Cassano akan menjadi perusuh di setiap pertandingan yang ditontonnya.

Atau bagaimana jika kita menanyakan seperti apa sepak bola bagi seorang Bambang Pamungkas? Ia tidak peduli pada hal lain, namun hanya peduli pada kebenaran. Ia bermain di timnas meski klub melarangnya, ia menginisiasi perjuangan.

“In the field, what’s in here (name on back) is not important than what’s in here (crest on chest)” begitu kata pelatih fiksi Eric Dornhelm ketika menegur Santiago Munez saat sang pemain terus menerus membawa bola sendiri dan tidak pernah mengoper kepada kawannya. Dengan bahasa lain, Dornhelm mencoba mengajak Munez untuk berpikir lebih luas, tidak sesempit sebelumnya.

Jika anda bisa berbicara bahwa klub lebih besar daripada pemain, maka seharusnya tidak sulit berbicara bahwa sepak bola lebih dari klub.

Magis dalam sepak bola: Tendangan 1st time

2 Pemain yang tidak dapat anda tolak dalam tim

Apakah yang ada dalam benak anda ketika saya menyebut nama David Ginola dan Faustino Asprilla? Dua jagoan tahun 90an? Dua pemain kontroverisial? Atau anda dengan dangkal menyebut saya tua padahal sebetulnya anda lah yang tidak beruntung karena tidak pernah menyaksikan kedua pemain tadi bermain.

Jika anda belum pernah melihat gol-gol yang mereka ciptakan, coba saja buka situs youtube untuk melihat kompilasi gol-gol cantik yang pernah mereka ciptakan.

Menyebut dua nama itu mewakili perasaan terdalam saya terhadap jenis-jenis gol yang kerap mereka ciptakan, yaitu gol tendangan 1st time yang keras menghujam dan tak terhentikan oleh kiper lawan. Kemampuan melakukan tendangan 1st time yang baik adalah kombinasi dari timing, kepercayaan diri dan naluri yang kuat. Anda tidak perlu mengukur di mana posisi gawang lawan, di mana penjaga gawang berdiri, di mana bek lawan berada. Anda tinggal menghantamkannya saja sesuka hati.

Mencetak gol lewat tendangan 1st time adalah salah satu perasaan terhebat di muka bumi. Seperti seluruh alam semesta berkonspirasi untuk mengizinkan gol tercipta, seperti ada kekuatan lain yang merasuki tubuh anda dan ini bukanlah kebetulan kosmik semata. Sesuatu yang mungkin tidak dapat anda lakukan di situasi normal.

Mencetak gol lewat sepakan tanpa mengontrol lebih dulu selalu istimewa. Ada kegembiraan membuncah ketika tendangan itu menembus gawang lawan, mendengar bunyi jala gawang berkoyak, melihat teman-teman menghampiri dan memberi selamat, dan mendengarkan riuh penonton yang berdecak kagum.

Tendangan ini seperti tidak direncanakan. Ia seperti tidak memiliki rumus, tidak memiliki skema, dan tidak ada dalam rancangan pelatih sedetil Jose Mourinho sekalipun. Ini murni kehebatan pemain. Dalam final Liga Champions tahun 2002, Zinedine Zidane tidak pernah diinstruksikan oleh Vicente Del Bosque untuk melakukan tendangan voli surgawi itu. Tendangan dengan cara mengangkat kaki kiri hingga di atas kepala ketika menerima crossing lambung Roberto Carlos saat menghadapi Bayer Leverkusen, tim kuda hitam Liga Champions saat Michael Ballack mulai angkat nama itu adalah sebuah kesuksesan tiada tara dari sang maestro.

Anda mungkin harus mencobanya sendiri di lapangan untuk mengetahui sensasinya. Tendangan 1st time itu hanya bisa anda lakukan ketika jiwa dan raga anda sudah menyatu dengan permainan, alam bawah sadar anda sudah berpikir sepak bola setiap saat, dan salah satu tujuan anda hidup di dunia ini adalah untuk setidaknya menjadi penggemar sepak bola, jika memang gagal menjadi pesepakbola. Menciptakan gol semacam itu memberi ekstasi berlebih karena anda berhasil menggabungkan unsur-unsur yang terukur dan tidak terukur sekaligus: perjudian, spekulasi, presisi, keyakinan, dan kelenturan fisik.

Tidak peduli apakah anda sedang lelah-lelahnya di lapangan, langit sedang mendung dan petir menyambar-nyambar, atau pemain lawan mengintimidasi tiada henti. Jika momen itu datang, sebuah kekuatan yang lebih dahsyat daripada Pil NZT akan merasuki tubuh anda. Anda akan menghitung langkah lebih tepat, mengambil ancang-ancang lebih pasti, menyelaraskan gerak pinggul dan pundak, lalu mengangkat kaki dengan presisi 100% mengayunkannya tanpa ragu lalu jebol sudah gawang lawan. Tenaga dari tendangan seolah sudah ter-setting secara otomatis dan posisi gawang lawan sudah terekam di otak anda, dan bola tidak akan nyasar. Voila. Sebuah magis baru saja anda ciptakan di atas hamparan rumput hijau.

Terkadang, pemain dengan skill seperti ini bukanlah pemain terbaik, bukanlah pemain terhebat. Baik Ginola maupun Asprilla memang pemain hebat di masa mereka, namun mereka bukan yang terbaik. Ginola dan Asprilla lebih dikenal sebagai pemain flamboyan, seniman lapangan yang berbuat semaunya, contoh pemain yang hampir pasti tidak akan mendapat tempat di kompetisi level tinggi jaman sekarang.

Namun kedua pemain ini adalah cermin sejati seseorang yang sangat passionate terhadap permainan sederhana yang tujuannya hanya mencetak gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Keduanya selalu menyatu dengan permainan ini di manapun mereka bermain, dan keduanya adalah contoh sempurna pelampiasan sukacita yang sempurna di lapangan hijau.

Mereka tidak meminum Pil NZT untuk melakukannya, mereka hanya bermodalkan kecintaan pada permainan dan hanya menggunakan keterampilan alami yang merupakan hadiah dari Sang Pencipta.

Jika anda ingin menjadi penghibur sejati di lapangan sekaligus mimpi buruk bagi lawan, silahkan rajin berlatih dengan meminta teman anda mengirim umpan dengan variasi ketinggian dan kecepatan agar alam bawah sadar anda selalu menyadarkan otak dan saraf untuk selalu responsif akan datangnya sebuah magis.