Pages

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

UEFA Europa League, si anak tiri yang siap mencuri perhatian

Mari sekilas flashback ke tahun 90an, lalu lihat liga Eropa mana yang paling banyak dibicarakan oleh banyak orang saat itu. Jawabannya pasti Liga Italia Seri a. Liga yang pada tahun 90an dipandang sebagai liga terbaik dunia ini kini berada sungguh bertolak belakang dibanding masa keemasannya. Mereka mencoba bangkit dari ketertinggalannya atas English Premier League (EPL), La Liga, dan sekarang Bundesliga. Adalah tugas AC Milan, Juventus, Inter Milan, Napoli, Udinese, Roma dan Lazio sebagai lo sette magnifico untuk mengembalikan Seri a ketempat terhormatnya.

Di era 90an kita sama-sama mengetahui bahwa lo sette magnifico diisi Parma dan Fiorentina sebagai refleksi Napoli dan Udinese masa kini. Pada masa itu, Seri a memang menjadi tujuan utama para bintang dunia. Juventus adalah klub yang mengirim Zinedine Zidane ke planet lain. Di Juve, Zidane menjelma menjadi pemain terbaik yang seolah bukan penduduk bumi.

Milan juga memiliki pemain sekaliber il Genio Dejan Savicevic, yang mampu membawa Milan "melabrak" Barcelona di final Liga Champions 1993/1994 empat gol tanpa balas. Bukan cuma mereka saja, kita semua tahu bahwa Lazio menjuarai Piala Winners terakhir pada tahun 1996/1997, Inter menjadi finalis Piala UEFA 1995/1996, belum lagi kiprah Parma yang dua kali meraih gelar di ajang yang sama. Mereka sangat respek pada kompetisi Eropa, apapun kastanya.

Giuseppe Signori-Pierluigi Casiraghi di Lazio, Manuel Rui Costa-Gabriel Batistuta di Fiorentina, Hernan Crespo-Enrico Chiesa di Parma, Ivan Zamorano-Ronaldo di Inter, Abel Balbo-Daniel Fonseca di Roma melengkapi nama-nama besar lainnya adalah pelaku langsung dari masa keemasan Seri a.

Kini, Seri a seolah-olah raksasa yang tertidur pulas. Inter memang menjadi juara Liga Champions 2 tahun lalu, Milan juga meraihnya di 2006/2007, tapi hanya sebatas itulah pencapaian terbaik klub-klub Seri a sepanjang empat tahun kebelakang, yang menjadi basis bagi UEFA untuk menghitung koefisien negara, yang menjadi legitimasi keikutsertaan wakil-wakil mereka di kompetisi terakbar benua biru ini. Jika dibandingkan dengan wakil dari Bundesliga, prestasi klub Seri a memang kalah di lima tahun belakangan ini.

Bayern Muenchen memang takluk ditangan Inter Milan pada final Liga Champions 2009/2010, namun wakil-wakil Bundesliga di Liga Europa berprestasi jauh lebih baik. Klub-klub seperti Werder Bremen, Vfb Stuttgart, Hamburger SV maupun Schalke lebih menghargai kompetisi ini ketimbang klub-klub Seri a. Hal inilah yang membuat Bundesliga perlahan namun pasti mendongkel Seri a di peringkat koefisien.

Europa League. Itulah jawaban atas kudeta Bundesliga terhadap Seri a di peringkat koefisien yang dirilis UEFA. Klub-klub Bundesliga memang lebih memandang kompetisi kelas dua Eropa ini dengan sepantasnya. Contoh nyata tersaji di musim 2009/2010. Saat itu Hamburger SV, Werder Bremen dan Vfl Wolfsburg masih gagah sebagai wakil Jerman untuk bertarung di Liga Europa.

Saya akan coba jabarkan penghitungan peringkat koefisien UEFA, yang berlaku di kompetisi Liga Champion dan Liga Europa secara garis bersar.
1. Dua poin diberikan atas setiap kemenangan, dan satu poin setiap draw.
2. Bonus poin untuk klub yang lolos ke penyisihan grup Liga Champions (4 poin).
3. Lolos ke babak knock-out Liga Champions (5 poin).
4. Lolos ke babak perempat final, semi final dan final kompetisi baik Liga Champions maupun Liga Europa.

Dapat dilihat bahwa Liga Champions memang menawarkan lebih banyak poin, namun Liga Europa juga demikian. Dua poin setiap kemenangan, satu poin setiap hasil imbang, dan satu poin bonus setiap kelolosan dimulai dari babak 8 besar membuat Liga Europa turut memegang kunci dalam penentuan peringkat koefisien UEFA.

Sementara Italia saat itu hanya menyisakan Juventus, namun kemudian Juve tersungkur ditangan Fulham. Dari 3 wakil Italia yang mengikuti Europa League sejak fase grup, hanya Roma yang lolos ke babak 32 besar, itupun langsung keok ditangan Standard Liege. Sementara Lazio dan Genoa sudah kandas di penyisihan grup.

Saat itu Hamburg dan Wolfsburg maju hingga ke delapan besar. Hamburg bertahan hingga semifinal sebelum dihentikan Fulham, yang menjadi kuda hitam saat itu sebelum ditaklukkan Atletico Madrid di partai final.

Italia memang harus memberi respek lebih pada kompetisi ini, bukan hanya sekedar mengejar posisi tinggi di Seri a untuk meloloskan mereka ke Liga Champions. Kurang respeknya wakil mereka makin nyata terlihat di musim lalu dimana mereka hanya menyisakan Napoli di babak 32 besar, itupun langsung tumbang ditangan Villareal. Kurang seriusnya Napoli sudah terlihat di babak penyisihan saat mereka mencadangkan Marek Hamsik, Edinson Cavani dan Ezequiel Lavezzi yang berakibat dibantainya mereka oleh Steaua Bucaresti tiga gol tanpa balas.

Napoli memang berhasil menempati posisi keempat Seri a musim lalu yang meloloskan mereka ke Play-off Liga Champions, namun lihatlah akibatnya pada Seri a. Mereka resmi terkudeta oleh Bundesliga, yang berarti mulai musim ini Seri a hanya boleh mengirim maksimal 3 wakil ke fase grup Liga Champions.

Jika Seri a ingin mengembalikan martabatnya, serta menarik minat lebih banyak pemain bintang dunia, maka klub-klub mereka harus mulai kembali menapaktilasi the 90's magnificent seven. Respect every single game. Tahun inipun penyakit klub-klub mereka belum sembuh. Udinese resmi tersungkur setelah dikandaskan AZ Alkmaar di babak 16 besar UEFA Europa League. Jerman? Merka masih punya Hannover 96 dan Schalke 04 disini, plus Bayern Muenchen di Liga Champions. Kini AC Milan menjadi harapan tunggal Seri a dalam mendulang poin di papan klasemen koefisien UEFA, itupun jika mereka mampu menyingkirkan tim super Barcelona.

Europa League kini memberi jawaban mengapa mereka tidak bisa lagi disepelekan. Kompetisi ini siap berjalan sejajar dengan saudara mereka, UEFA Champions League.

Sunday, January 29, 2012

Kisah Pemain Pinjaman

Seorang teman saya terdiam lemas sehabis pertandingan antar perkumpulan memperingati hari kemerdekaan yang berlangsung seru. Bukan karena dia lelah setelah menjalani pertandingan, tapi justru karena sama sekali tidak dipasang. Dia pulang dengan perasaan kesal. Dendam. Merasa tidak dihargai. “Gak ada yang enak dari situasi dicadangkan,” sungutnya. Hadiah turnamen ini pun hanya seekor kambing.

Setelah saya amati, perkumpulan sepak bola teman saya itu memang mengusung semangat "kekeluargaan" yang tinggi. Pemilihan susunan pemain berdasarkan "like and dislike" dan sejenisnya. Pemain lain yang di luar "geng" mereka umumnya dicadangkan, dan hanya sebatas didaftarkan untuk memenuhi kuota.

Dengan skala lebih global, mungkin masih ada yang ingat terhadap Fernando Morientes. Striker asal Spanyol yang biasa dipanggil Moro itu berhasil tampil impresif di Liga Champion 2003/2004 saat membawa klub yang meminjamnya, AS Monaco ke final sebelum dihentikan tim kejutan lainnya, FC Porto yang saat itu diperkuat Deco dan dilatih Jose Mourinho.

Namun saat itu tidak ada yang menyangkal kehebatan Moro walaupun Monaco gagal menjadi kampiun. Klub pemilik aslinya, Real Madrid, malah menjadi korban akibat dua golnya ketika mereka bertemu di babak perempat final. Moro akhirnya mampu menjadi top skorer Liga Champions dengan 9 gol dan mencetak 10 gol di Ligue 1.

Moro membuktikan diri mampu mengalahkan kontribusi Raul Gonzalez dan Ronaldo, duet maut lini depan Madrid yang saat itu tidak tersentuh dan memaksanya untuk menjalani peminjaman dengan Monaco. Sama dengan teman saya tadi, keengganan untuk menjadi penghangat bangku cadanganlah yang memotivasi Moro untuk berpetualang bersama Monaco.

Banyak pihak mengkambinghitamkan kekeliruan Madrid terhadap klausul perjanjian kontrak peminjaman Moro. Madrid bisa membuat Moro tidak bermain di pertandingan itu jika mereka mengaktifkan "own-club tied." Kisah Morientes ini tampaknya menjadi pelajaran berharga umumnya bagi klub-klub Eropa. Akhirnya, kini hampir semua klub yang meminjamkan pemainnya ke klub lain mengaktifkan klausul "cannot play against his own team" dalam kontrak peminjaman si pemain.

Peminjaman pemain sudah sangat biasa terjadi antar klub-klub sepak bola. Klub besar seperti Manchester United bahkan memiliki Royal Antwerp sebagai feeder mereka. Mereka memanfaatkan Antwerp untuk “menyekolahkan” pemain baru mereka, yang umumnya masih muda untuk mendapatkan pengalaman bermain. Klub Belgia ini pun mendapatkan manfaat dari transaksi ini karena mereka bisa menggunakan tenaga pemain United yang mereka pinjam tersebut.

Klub asli si pemain meminjamkan pemainnya karena berbagai pertimbangan. Untuk pemain muda yang dianggap potensial tetapi belum layak menghuni tim utama, klub-klub sering meminjamkan pemainnya. Contohnya adalah Dany Welbeck (Manchester United) yang musim lalu dipinjamkan ke Sunderland, dan Daniel Sturridge (Chelsea) yang dipinjamkan ke Bolton. Kini, mereka berdua mapan di tim utama setelah kembali dari masa pinjaman.

Faktor lainnya adalah si pemain memang tersingkir dari tim karena kalah bersaing, ataupun melimpahnya stok pemain yang ada pada sebuah klub. Morientes pada waktu itu masuk dalam kategori ini. Atau ada pula alasan lain, seperti mengisi libur kompetisi. Hal ini dilakukan oleh Thierry Henry dan Landon Donovan, serta David Beckham dua musim lalu.

Mari kita ke pertandingan Liga Inggris 22 Januari 2012 Minggu malam jam 8 WIB antara Manchester City melawan Tottenham Hotspurs. Di musim ini, Emmanuel Adebayor tampil gemilang bersama Tottenham Hotspurs. Penyerang asal Togo ini seolah menemukan kembali sentuhannya seperti saat bermain di Arsenal. Namun segala talenta dan kehebatannya disia-siakan City, dan menjadi sia-sia pula bagi Tottenham Hotspurs ketika terhalang oleh klausul kontrak peminjaman "cannot play against his own club."

Ketiadaan Adebayor mengubah dimensi permainan Spurs saat menghadapi City. Adebayor bukan sekadar penyerang yang cepat dan tangguh di udara, tapi juga memiliki kontrol bola yang baik sehingga mampu menahan bola lebih lama dan hal ini membuka ruang bagi lini pertahanan lawannya.

Jermain Defoe memang gak bisa dibilang tampil jelek dalam mengisi peran Adebayor semalam, terbukti dia mampu mencetak satu gol, dan kecepatannya cukup merepotkan Joleon Lescott dan membuat Stefan Savic membuat blunder. Namun, kehadiran Adebayor diyakini akan mampu membuat pertahanan City lebih menderita, dan hasilnya bisa saja berbeda.

Lebih lengkap di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1343-kisah-pemain-pinjaman.html

Friday, January 20, 2012

Perjuangan Klub Sepak Bola dari Selatan Italia

“Beberapa hari setelah mencetak gol ke gawang Milan, ada seorang fans yang menghampiri saya, lalu memberikan saya seekor kuda balap miliknya.” Demikianlah pengakuan penyerang Napoli, Ezequiel Lavezzi kepada wartawan. Lavezzi, yang oleh para Neapolitan sudah dianggap nyaris setara dengan Diego Maradona memang sangat terkesan dengan fanatisme warga Naples terhadap tim sepak bola mereka, Societa Sportiva Calcio Napoli.

Seperti halnya di wilayah Basque dan Catalonia di Spanyol, wilayah selatan Italia memang mewakili sikap inferior terhadap wilayah tertentu lainnya. Perasaan inferior yang secara naluriah bisa berubah menjadi kebencian yang ditumpahkan ke lapangan hijau lewat penampilan terbaik adalah sebuah kepuasan tersendiri yang merupakan sisi lain yang menarik dari sepak bola.

Wilayah selatan Italia sering diperlakukan seolah warga negara kelas dua oleh mereka yang berada di utara. Pasalnya, Italia bagian utara adalah wilayah industri maju yang diisi oleh kota segitiga emas, yaitu Milan, Turin, dan Genova. Karakter disiplin, well-mannered, well-organized tapi dingin dan kaku itu berbanding terbalik dengan karakter keras, lugas, kurang disiplin, tapi hangat dan ramah dari wilayah selatan.

Semua orang pasti pernah mendengar cerita tentang mafia, sindikat kejahatan terorganisir yang berbasis di selatan Italia. Baru-baru ini diberitakan bahwa sindikat kejahatan Camorra, yang notabene salah satu yang tertua di Italia mengincar pemain-pemain Napoli dan kerabatnya.

Pesepakbola, terutama yang bergaji besar adalah target mereka. Edinson Cavani dan Marek Hamsik baru-baru ini menjadi korban perampokan dan perampasan mereka. Betapa sepak bola adalah bagian tidak terpisahkan dari sebuah masyarakat, dan perlindungan terhadap pesepakbola adalah pekerjaan rumah yang menanti Italia selatan, jika ingin para pesepakbola jago itu bertahan.

Italia selatan secara geografis dan klimatologi memang tidak seberuntung utara. Curah hujan tinggi di musim hujan dan panas yang menyengat di musim panas, kontur tanah yang tidak rata, menjadikan Italia selatan miskin hasil bumi karena sulit penggarapannya. Kontribusi selatan terhadap perekonomian Italia dinilai masih rendah.

Hal ini berpengaruh ke sektor sepak bola. Prestasi klub sepak bola mereka seperti Napoli, Palermo, Cagliari apalagi Reggina, Messina  dan Livorno jauh di bawah bayang-bayang klub utara seperti Milan, Juventus, ataupun Inter. “Kami adalah kaki, kalian bola.” Mungkin itulah yang ada di benak orang-orang Italia utara merujuk pada peta negara mereka yang berbentuk seperti sebuah kaki wanita yang menendang bola.

Keajaiban sesaat sepak bola Italia selatan yang paling terkenal tentu kisah Diego Maradona, yang sempat membawa kejayaan bagi Napoli di tahun 80-an. Maradona menjadi simbol budaya dan seolah menjadi dewa di Napoli setelah memberi dua gelar seri A dan satu gelar Piala UEFA, prestasi yang masih belum bisa diulangi hingga saat ini.

Nomor 10 Napoli dipensiunkan untuk menghormati jasa-jasanya. Jauh sebelum kebintangannya di kota Napoli, kedatangan Diego dari Barcelona dengan transfer tujuh juta pound yang merupakan nilai fantastis saat itu adalah prakarsa para petinggi Napoli yang bersikeras mendatangkan sang bintang demi memperbaiki keadaan mereka.  

"It is time that this city stops suffering, at least in the stadium." Demikian pernyataan Napoli saat kedatangan si anak emas. Penyambutan lebih dari 90 ribu orang di stadion San Paolo saat kedatangan perdananya adalah hal yang pertama kali terjadi di dunia olahraga. Pengkultusan tidak masuk akal yang mendekati ketuhanan, demikianlah sihir Maradona saat itu.


lebih lengkap lagi di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1323-perjuangan-klub-sepak-bola-dari-selatan-italia.html

Tuesday, January 3, 2012

Winter transfer market

Winter market atau bursa transfer musim dingin telah dibuka. Memang tidak seramai musim panas, tapi transfer musim dingin cukup menentukan keberhasilan klub di akhir musim. Lihat AC Milan musim lalu, keberhasilan mereka mendatangkan Antonio Cassano dan Mark Van Bommel membuat mereka meraih scudetto ke 18 mereka.

Belanja musim dingin ini memerlukan perhitungan yang lebih matang dibanding dengan saat belanja musim panas. Budget yang ada pada umumnya dipakai saat summer transfer, dan klub juga sudah memperhitungkan posisi keuangan mereka diawal tahun untuk itu, yang umumnya tidak mengagendakan transfer musim dingin. Keengganan pemain untuk pindah di pertengahan musim juga jadi kendala transfer musim dingin ini. Pemain akan lebih sulit untuk beradaptasi dengan tim yang sudah berjalan setengah musim.

Transfer musim dingin bisa jadi diprioritaskan apabila pada pertengahan musim klub berada pada keadaan yang mendesak, misalnya karena ada pemain andalan cedera atau performa yang tidak memuaskan sehingga butuh tambahan pemain baru. Milan adalah contoh nyata dalam hal ini setelah tumbangnya Cassano. Mereka ngotot ingin mendatangkan Carlos Tevez.

Jika saya simpulkan dari berita-berita yang berseliweran, rasanya ada beberapa klub besar yang berpotensi menjadikan winter transfer kali ini menjadi ramai. Berikut klub-klub ini:
1. AC Milan
Milan benar-benar kepincut dengan kemampuan Tevez yang setara dengan Cassano. Sebenarnya Milan telah menyiapkan Maxi Lopez (Catania) sebagai alternatif, namun sampai dengan deadline yang diberikan oleh Catania (31 Desember 2011) mengenai transfer ini, belum ada pergerakan apapun dari Lopez. Ini berarti Milan yakin bahwa mereka akan mendapatkan Tevez.
Rumor lain Milan bersiap mendatangkan Riccardo Montolivo (Fiorentina), Cesare Natali dan Samir Hadanovic (keduanya Udinese), entah di bursa transfer ini atau di musim panas. Yang sudah hampir pasti datang di musim panas mendatang adalah Seydou Keita (Barcelona).

2. Paris Saint Germain
Setelah mendaratkan pelatih andal Carlo Ancelotti, PSG semakin dikaitkan dengan beberapa big name. Kehadiran pelatih sekelas Carletto diyakini akan membuat banyak bintang mau merapat ke kota Paris. Alexandre Pato (Milan), Ricardo Kaka (Madrid) dan David Beckham (LA Galaxy) sudah beberapa hari terakhir muncul, tapi muncul lagi nama Salomon Kalou (Chelsea) dan Mauricio Isla (Udinese) sebagai target tambahan.

3. Arsenal
The gunners benar-benar butuh tambahan kualitas jika mereka ingin bersaing memperebutkan gelar EPL. Untuk itulah legenda mereka Thierry Henry didatangkan, walaupun hanya 2 bulan. Wenger berharap king Henry mampu menularkan mental juara kepada para college boys Arsenal. Namun kedatangan Titi bisa membuat Marouane Chamakh hengkang ke klub lamanya, Bordeaux. Arsenal, yang juga memiliki urgensi transfer yang sama di lini belakang. Wenger telah mengincar bek tangguh Blackburn Rovers, Christopher Samba, yang seharga 8 juta pound, tapi persoalan klasik berupa dana segar masih menghinggapi awak Ashburton Grove. Menyikapi perkembangan ini, Tottenham Hotspurs kabarnya siap menikung.

4. Inter Milan
Massimo Moratti mungkin lagi sakit. Banyak sumber bilang kalo dia siap jual satu-satunya playmaker mereka, Wesley Sneijder. Manchester United sudah siap menampung, mengingat mereka masih belum bisa menemukan pengganti Paul Scholes. Jika gagal mendapatkan Sneijder, mereka bersiap mengincar wonderkid Ajax Amsterdam, Cristian Erikssen. Inter juga dikabarkan sedang mencarikan klub untuk Mauro Zarate. Tapi perkembangan terkini malah bilang kalo Barcelona mengincar Diego Forlan untuk menggantikan David Villa yang cedera. Tidak hanya mercato-out, Inter juga bersiap membenahi lini tengah mereka yang amburadul ditinggal cedera Sneijder. Freddy Guarin (Porto) dan Casemiro (Sao Paolo) diincar jika Sneijder jadi hengkang.

5. Lainnya
Juventus mengikat Marco Borriello dari AS Roma, hal ini memicu hengkangnya Amauri, yang dikabarkan diincar Fiorentina untuk menggantikan Alberto Gilardino yang hengkang ke Genoa. Juve juga berniat kembali mendatangkan Martin Caceres (Sevilla). Dari ibukota Roma, dua klub sedang berupaya berbenah. Roma berusaha mempertahankan Daniele De Rossi dari tangkapan Manchester City. City membutuhkan tenaga De Rossi saat Yaya Toure memperkuat Pantai Gading di Piala Afrika. Sementara Lazio mengincar Rasmus Elm dari AZ Aalkmar dan menjajaki kemungkinan pertukaran dengan klub Jerman, Hoffenheim, Zdravko Kuzmanovic dengan Djibril Cisse.

Dari Spanyol, walaupun membantah, Barcelona diberitakan terus membujuk Neymar (Santos) untuk hengkang. Bujukan pribadi dari Dani Alves dan Lionel Messi boleh jadi membawa hasil.


Mari kita tunggu kelanjutan telenovela Winter Market ini.

Monday, October 24, 2011

Kiper-kiper Spanyol

Tim nasional mana yg terbaik di dunia saat ini? Jika ukurannya gelar dalam 3 tahun kebelakang tentu Spanyol. Ditambah fakta salah satu klubnya yaitu Barcelona menjadi klub tersukses dan tak terkalahkan dengan materi mayoritas pemain2 asli Spanyol. Belum lagi Real Madrid, klub yg selalu dihuni bintang sepakbola papan atas. Liga Spanyol kini adalah salah satu destinasi pemain-pemain terbaik dunia.

Salah satu sektor posisi pemain yg layak disorot sebagai kunci keberhasilan tim matador adalah pos penjaga gawang. Walaupun Spanyol adalah tim yg seimbang penyerangan dan pertahanannya, peran portero gak kalah penting. Sebuah pertandingan yg ketat dan seru, biasanya memiliki hasil akhir yg ditentukan oleh detail2 kecil di lapangan, salah satunya adalah penyelamatan2 yg dilakukan oleh seorang penjaga gawang. Pasti masih inget dong penyelamatan super signifikan Iker Casillas saat menggagalkan peluang emas Arjen Robben di final Piala Dunia 2010. Bukan maksud mengecilkan arti gol Andres Iniesta, dan ramalan dari si Paul Gurita, tapi tanpa penyelamatan legendaris tadi, piala dunia tadi udah terpajang rapi di lemari KNVB (PSSI-nya Belanda).

Negara di semenanjung Iberia yg memiliki provinsi seperti Castila (Madrid), Catalan, Andalusia, Basque, Galicia, Valencia dan Aragon ini termasuk negara yg mengapresiasi peran kiper. Terbukti dengan pemberian gelar el zamora untuk penjaga gawang yg jumlah kebobolannya paling sedikit di liga. Selama ini, pos kiper Spanyol mutlak digenggam Iker Casillas. Masih 30 tahun tapi sudah matang sejak 5 tahun lalu, sehingga posnya memang sulit digeser, bahkan oleh Victor Valdes, kiper Barcelona yg notabene peraih titel el zamora dalam beberapa musim terakhir La Liga.

Selain Casillas dan Valdes, ada Pepe Reina yg juga menjadi andalan. Pengalamannya bermain di liga Inggris yg keras bersama Liverpool diharapkan mampu menjadikannya pelapis sepadan bagi San Iker. Kiper yg punya refleks cepat serta lemparan dan tendangan super akurat ini juga sudah dikenal luas di publik Spanyol maupun penikmat sepakbola eropa. Tapi apakah hanya mereka bertiga?

Sekarang Spanyol gak perlu khawatir kalau Iker Casillas pensiun atau absen. Kiper2 hebat lainnya sudah siap menjadi suksesor. Dijamin deretan nama ini bisa bikin tim nasional sekelas Inggris iri. Atau mungkin pemerintah Indonesia bisa narik mereka aja kali ya buat dinaturalisasi... Berikut profil singkat mereka:

1. David De Gea
De Gea baru musim ini ditransfer klub raksasa Inggris, Manchester United. Walaupun performanya diawal musim masih dianggap belum maksimal dan terkesan belum memenuhi ekspektasi Sir Alex Ferguson, tapi kiper ini sangat berbakat dan masih muda. Ditangan Sir Alex yg memang pintar mengeluarkan kemampuan terbaik dari anak buahnya, De Gea adalah calon kiper hebat.

2. Diego Lopez
Penggemar La Liga mungkin sudah akrab dengan nama ini. Pernah menjadi cadangan Casillas di Madrid, kiper ini menjelma menjadi tembok kokoh Villareal. Permainannya yg konsisten sempat membuat kiper bertinggi nyaris 2 meter ini beberapa kali dipanggil ke tim nasional.

3. Sergio Asenjo
Dua musim lalu, pemain ini dianggap sebagai salah satu kiper paling berbakat di eropa. Di usianya yg masih 18 tahun saat itu, dia sangat tangguh di Real Valladolid. Musim selanjutnya, dia digaet Atletico Madrid. Sayangnya, permainannya dianggap menurun dan cedera mulai akrab dengannya, yg membuatnya digusur De Gea. Sekarang sepeninggal De Gea ke MU, Asenjo siap membuktikan kapasitasnya.

4. Javi Varas
Ini adalah sosok yg baru naik daun di kancah La Liga. Kiper 29 tahun ini naik pangkat jadi kiper utama Sevilla setelah Andres Palop menurun permainannya karena faktor usia. Sejauh ini performanya mengundang pujian dari klub, dan imbasnya dia langusng diganjar perpanjangan kontrak hingga 2016 plus kenaikan gaji. Paling aktual adalah menahan gempuran para pemain Barcelona termasuk menahan tendangan penalti Lionel Messi.