Pages

Friday, July 7, 2017

Buku Pertemanan Bernama La Storia, Kisah-Kisah Menarik AC Milan Era Berlusconi

Penampakan Buku (foto: Ahmad Syakib)

Ide yang direalisasikan jelas lebih baik ketimbang hanya mengendap di kepala atau sekadar dibicarakan sambil lalu. Ketika suatu masa menjadi begitu berkesan, tentunya sayang sekali jika runtutan kejadian itu tidak dicatat dengan rapi. Memori demi memori indah ini akan rata tergulung oleh banjir konten-konten digital yang semakin sulit dibendung. Kepala kita akan cepat penuh dengan informasi-informasi, baik penting atau tidak penting, fakta atau hoax, dan karenanya kita akan hidup sebagai manusia dengan memori jangka pendek.

Jika membicarakan AC Milan sekarang ini, boleh jadi kita sudah lupa dengan kehebatan seorang Marco Van Basten. Tidak usahlah Van Basten yang eranya sudah lewat nyaris tiga dekade, dengan George Weah atau Jon Dahl Tomasson atau Maurizio Ganz saja mungkin sudah lupa. Semuanya akan dengan mudah disapu bersih oleh meme, video pendek atau media-media lain yang begitu masif memberitakan sepak bola pada era kekinian.

Maka ketika keinginan menuliskan kisah-kisah mengesankan ini bersambut dengan ajakan dari dua orang kawan bernama Ahmad Syakib dan Haryadi “Koebil” Mulyana yang berkecimpung di penerbitan buku Tukang Kawos, dengan penuh syukur saya perkenalkan buku La Storia, Kisah-Kisah Menarik AC Milan Era Berlusconi. Padahal tadinya saya ragu mereka mau menerima ide ini. “Emangnya di zaman Madrid-Barcelona dan hegemoni klub-klub Inggris kaya sekarang masih banyak yang ngikutin Milan? Apalagi beli buku yang bahas Milan,” tanya saya waktu itu pada Syakib, yang dijawabnya dengan enteng. “Udah, buat aja dulu. Gak usah mikirin ada yang baca apa enggak.”

Ya, penyusunan buku ini jadi lebih mudah karena faktor pertemanan tadi dengan dua abang-abang yang tidak hanya doyan begadang, tapi juga tipe pekerja keras yang tidak pernah ragu melangkah dan selalu berani mencoba hal-hal baru, termasuk di dalamnya menerbitkan buku ini (udah kaya testimoni kisah sukses aja nih).

Pada saat menyusunnya, saya betul-betul diberi kebebasan dalam mengeksplorasi tema buku. Paling-paling, saya diberikan referensi bacaan dan arahan-arahan soal topik yang memang dirasa perlu saja. Saya yang mulai mendukung Milan sejak musim 1994-95 juga sedikit mengambil konten dari tulisan-tulisan di blog ini, lalu melakukan penyuntingan dan pemutakhiran data. Yang ada saya malah merasa tidak enak karena penerbit tidak membebankan target ini-itu, seperti yang Syakib bilang tadi. Faktor bantuan luar biasa dari teman juga saya rasakan betul ketika memikirkan sampul (cover) buku. Alhamdulillah, idola kita semua, Galih Satrio di tengah kesibukannya bersedia mendesain sampul buku buat saya dan mengijinkan beberapa gambar yang telah dibuatnya untuk saya jadikan teaser.


Penampakan cover depan dan belakang. Designed by: Galih Satrio

Tidak lupa, berkat teman-teman yang lain, buku ini jadi ramai dan terkesan wah (padahal banyak kekurangannya) karena beberapa nama yang tidak asing lagi di telinga kita bersedia menuliskan kata pengantar, sebut saja Marini Saragih yang walaupun belum pernah bertemu muka, tapi sudah lama saya kenal sebagai sesama rekan pencinta sepak bola yang tulisan-tulisannya selalu dinantikan. Lalu ada Bagus Priambodo, seorang jurnalis media nasional penuh ide kreatif tentang sepak bola nasional, yang beberapa kali pernah nongkrong dan ngopi bareng. 

Dan alangkah beruntungnya saya ketika Andibachtiar Yusuf—yang karya-karyanya saya kagumi dan kebetulan ia juga salah satu pemilik penerbitan Tukang Kawos—bersedia membantu mengumpulkan kata pengantar dari beberapa tokoh terkenal yang sebelumnya saya tidak pernah bayangkan bisa berinteraksi. Mereka adalah Toel Maldini (presiden kelompok suporter Milanisti Indonesia), Gading Marten (presenter, aktor, public figure) dan Ricardo Salampessy (pemain timnas Indonesia dan Persipura Jayapura). Hal-hal semacam ini belum tentu bisa terulang lagi buat saya.

Sedikit membahas isi buku, mengapa bahasan dipersempit ke suatu era yang sudah lewat? Tentu alasannya karena saya tumbuh besar berbarengan dengan era itu. Masa kanak-kanak dan remaja di mana saat itu saya masih punya banyak waktu untuk menonton siaran langsung pada malam atau dini hari, berbeda dengan hari-hari penuh pertimbangan ini-itu sekarang ini. Era Berlusconi pula yang menurut pandangan saya memiliki peran yang besar mengubah wajah industri sepak bola Eropa pada umumnya. Baik buruknya industri sepak bola yang kita saksikan sekarang ini, dapat dikatakan ada andil seorang Silvio Berlusconi. 

Tidak hanya soal industri, era Berlusconi ini juga menghasilkan tim-tim berpengaruh yang juga dilatih juru taktik legendaris seperti Arrigo Sacchi, Fabio Capello dan Carlo Ancelotti. Di buku ini, saya mencoba membahas era demi era ini, termasuk cerita menarik dari para pemain yang tidak hanya pemain terkenal, tetapi juga para pemain flop atau para cameo yang pernah mencatatkan namanya sebagai bagian dari skuat Milan. Sisi lain yang dimiliki Milan pada era ini juga menghadirkan cerita-cerita unik dan mengejutkan, yang membedakan klub ini dengan klub lain.

Kebetulan memang era Silvio Berlusconi baru saja berakhir pada April 2017, untuk kemudian Milan menyongsong era baru bersama manajemen baru. Menurut saya, ini adalah momen yang tepat untuk menerbitkan kumpulan tulisan yang menjabarkan era ini. Tetapi walaupun mayoritas isi buku membahas era Berlusconi, tapi saya juga sedikit membahas tentang era sebelum Berlusconi dan juga kiprah manajemen baru beserta harapan-harapan, yang saya sertakan juga sedikit tanda tanya di sana.

Saya hanyalah penggemar layar kaca yang mengikuti perjalanan Milan melalui televisi, internet atau tabloid atau majalah yang pernah saya baca. Saya belum pernah ke Milan, belum tahu seperti apa suasana di San Siro atau Milanello, belum paham betul hal-hal yang terjadi langsung di episentrum Milan. Saya yakin lebih banyak teman-teman lain yang tentunya lebih paham Milan luar-dalam dan karena itulah buku ini masih jauh dari sempurna. Pemikiran-pemikiran dan opini-opini yang saya tulis di buku ini, belum tentu juga semuanya setuju.

Terima kasih kepada teman-teman atas sambutannya pada buku ini, atas pertanyaan-pertanyaan, atas kesediaannya memesan dan menantikan. Sangat berarti buat saya.

Oh iya, buku ini statusnya masih Pre-Order (PO) hingga tanggal 15 Juli 2017. Saat tulisan ini dibuat, buku masih dalam proses cetak. Bagi yang memesan sebelum PO ditutup, penerbit rencananya akan memberikan merchandise menarik, dan buku juga akan ditandatangani langsung oleh penulis (ehem!)

Pemesanan dapat dilakukan langsung melalui penerbit Tukang Kawos (Instagram ID: tukangkawos, dapat menghubungi nomor yang ada di bio). 

Selain langsung ke penerbit, saya juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang bersedia menjadi reseller. Untuk saat ini, pihak reseller dapat dihubungi melalui akun Twitter berikut: 
@pilihbuku 
@infosupporter 
@superdepokcyber
@seriea_lawas90. 

Pihak penerbit juga masih membuka kesempatan kepada siapa saja yang berminat menjadi reseller. 

Khusus untuk member Milanisti Indonesia, silakan menghubungi akun @Merchandise_MI dan dapatkan harga spesial.

Akhir kata, semoga teman-teman semua selalu sehat dan sukses.


-Aditya Nugroho, Juli 2017-