Pages

Showing posts with label Silvio Berlusconi. Show all posts
Showing posts with label Silvio Berlusconi. Show all posts

Monday, August 8, 2016

Life After Berlusconi

Spekulasi tentang penjualan saham AC Milan oleh sang patron Silvio Berlusconi kepada grup investor dari negeri Cina akhirnya menjadi kenyataan. Tepat pada tanggal 5 Agustus waktu Italia, Berlusconi melalui perusahaannya yang juga menjadi induk dari Milan, Fininvest, resmi melepas kepemilikan Milan sebanyak 99,9% lebih dengan nilai 740 juta euro kepada grup yang dikabarkan bernama Haixia Capital dan Yonghong Li. Nilai ini termasuk pelunasan hutang-hutang Milan yang jika dijumlahkan bernilai sekitar 220 juta euro.

Bersama Berlusconi, Milan telah menjalani periode pasang surut prestasi. Namun yang patut diingat, Berlusconi adalah salah satu presiden tersukses dari sebuah klub. Bukan semata jumlah gelar yang didapat (total 28 gelar dalam 30 tahun, 5 di antaranya Liga Champions), namun cara Berlusconi mengelola klub pula yang menjadi inspirasi banyak kesebelasan di Italia, dan mungkin saja bahkan berpengaruh hingga ke seluruh benua Eropa. Termasuk obsesinya akan keindahan di lapangan, berwujud sepak bola menyerang dengan permainan atraktif.

Namun kemudian kekuatan finansial Berlusconi tak lagi mampu menopang kebutuhan Milan, termasuk berkompetisi dengan para pesaing di domestik maupun kontinental, yang sudah dikelola dengan lebih modern. Pengelolaan modern dimaksud yaitu menjadikan klub sepak bola sebagai institusi yang mandiri, atau istilah keuangannya sustainable.

Kepayahan Milan dalam menghadapi persaingan terlihat dari lemahnya pergerakan di bursa transfer, sehingga kualitas pemain-pemain yang memperkuat Rossoneri pun tidak mampu menyaingi para rival. Pun demikian dengan mentalitas pemenang yang sudah hilang sejak para senatori pensiun atau hengkang tahun 2012 silam. Dampaknya begitu jelas, yaitu merosotnya prestasi berujung nihilnya keikutsertaan di kompetisi antarklub Eropa selama tiga musim beruntun.

Namun hari-hari ini telah berlalu, dan kita masih akan memiliki banyak waktu untuk mengharu-biru mengenang era Berlusconi. Segera setelah Berlusconi mengumumkan penjualan, Milan kembali bergerak di bursa transfer dan dipastikan akan diguyur dana transfer sebesar 350 juta euro yang diberikan secara gradual. Dana 100 juta euro disiapkan untuk musim ini, di mana 15 juta di antaranya dapat segera cair, dan sisa 85 juta baru akan didapat tiga minggu dari sekarang, atau paling lambat Januari tahun depan.

Dengan hadirnya pemilik baru dan keluarnya dana untuk transfer pemain, berikut hal-hal yang perlu segera dilakukan:

Membeli Sedikit Saja Pemain-Pemain Yang Dibutuhkan
Sejak dibukanya bursa transfer 1 Juli kemarin, Milan baru mendatangkan tiga pemain, yaitu penyerang yang juga merupakan capocannonieri kompetisi Seri B Italia, Gianluca Lapadula, lalu bek kiri asal River Plate, Leonel Vangioni, dan yang terbaru adalah bek tengah Lanus asal Paraguay, Gustavo Gomez. Pembelian Gomez sendiri baru diresmikan sehari sebelum penjualan klub.

Pembelian pemain-pemain ini memang masih jauh dari kata cukup untuk meningkatkan daya saing. Namun karena waktu bergulir kompetisi resmi yang semakin dekat, ada baiknya untuk tidak terlalu banyak mendatangkan pemain baru. Pertimbangannya, akan sulit bagi pelatih Vincenzo Montella untuk mempersiapkan tim dengan pemain-pemain yang belum terbiasa dengan metodenya.

Namun sayangnya, Milan baru akan mendapatkan injeksi 100 juta euro saat bursa transfer musim panas akan ditutup. Kini menjadi tugas dari Adriano Galliani bersama Marco Fassone, CEO baru yang ditunjuk oleh grup investor Cina untuk meyakinkan para pemilik klub pemain incaran untuk setidaknya mau menerima penundaan pembayaran.

Jika memang sulit mendapat persetujuan penundaan pembayaran itu, ada baiknya Milan segera merampungkan penjualan pemain. Carlos Bacca yang memang ingin pergi sebaiknya segera dicarikan klub baru, begitu pula Alessandro Matri dan Luiz Adriano. Dana segar dari penjualan mereka, ditambah 15 juta euro yang sudah di tangan, dapat digunakan untuk membeli dua atau tiga pemain.

Mungkin Galliani dan Fassone dapat memfokuskan diri untuk bernegosiasi ulang dengan bek Villareal, Mateo Musacchio. Banderol 30 juta dapat dipenuhi segera setelah Bacca dijual. Untuk gelandang bertahan, Badelj mungkin saja dapat diikat dengan mahar 10-12 juta euro. Sementara target lain yaitu Juan Cuadrado dan Simone Zaza dapat diupayakan kedatangannya dengan skema pinjaman dengan kewajiban membeli.

Segera Umumkan Struktur Organisasi Baru
Sembari memperkuat tim dengan pemain-pemain baru, tidak kalah pentingnya adalah pengumuman struktur organisasi baru di kursi manajemen. Pembagian peran harus jelas dan tegas, plus jabatan harus diemban oleh mereka yang memiliki kompetensi. Jika Fassone menjadi CEO, ada kemungkinan bahwa ia perlu menunjuk direktur olahraga baru, dan semoga saja berasal dari mantan legenda.

Kehadiran para legenda di jajaran manajemen tidak hanya berfungsi sebagai duta klub. Lebih dari itu, pengisi peran ini dapat menggunakan pengaruh dan pengalamannya sebagai pemain untuk bisa berdiplomasi dengan klub penjual maupun si pemain langsung. Paolo Maldini sepertinya cocok untuk menduduki jabatan ini.

Hidupkan Kembali Scouting dan Perbaiki Kebijakan Transfer
Pembelian pemain yang dilakukan Milan dalam tiga tahun ke belakang, dalam pandangan pribadi penulis, tidak didasari oleh kegiatan scouting yang dilakukan oleh pemandu bakat. Pembelian dilakukan dengan melihat ketersediaan pemain di bursa, harga yang cocok atau mengandalkan hubungan baik dengan sesama direktur olahraga atau pemilik klub lain.

Model seperti ini memang tidak selamanya salah, namun tidak semestinya selalu dijalankan. Pembelian pemain, termasuk penggajiannya sebaiknya memperhatikan betul kualitas si pemain dan kecocokannya dengan kultur dan nilai-nilai klub. Sudah saatnya Milan kembali membeli pemain-pemain dengan bakat yang nyata, untuk kemudian ditempa menjadi bintang. Contohnya adalah pembelian pemain-pemain seperti Thiago Silva atau Ricardo Kaka.

Kerjasama Komersial
Performa keuangan Milan dalam hal pendapatan komersial sebetulnya sudah bagus. Milan konsisten menjadi klub dengan pendapatan komersial tertinggi di Italia, dengan nilai total kerjasama berkisar di atas 100 juta euro setahun. Kehadiran investor dari negeri Cina semestinya dapat meningkatkan pendapatan Milan dari sektor ini, dengan cara menggali potensi-potensi kerjasama komersial baru berbentuk sponsorship atau penjualan merchandise.

Rencanakan Pembangunan Stadion Baru
Stadion merupakan hal penting bagi klub sepak bola di masa ini demi menghimpun seluruh potensi pendapatan. Di Italia, sepanjang pengetahuan penulis, tidak ada stadion sepak bola baru yang dibangun pemerintah. Negara ini terakhir kali menyelenggarakan kejuaraan sepak bola ataupun olahraga berskala global tahun 1990 lalu, sehingga tidak ada urgensi untuk membangun stadion baru.

Milan tidak dapat meniru langkah West Ham United yang menyewa London Olympic Stadium, stadion yang dibangun pemerintah kota untuk menyambut Olimpiade London tahun 2012 sebagai kandang baru mereka menggantikan Boleyn Ground. Yang dapat Milan lakukan adalah membangun stadion baru, proyek yang sebetulnya pernah diinisiasi oleh Barbara Berlusconi tahun 2015, namun gagal karena harga tanah yang terlalu mahal di distrik Portello.

Thursday, December 31, 2015

Mihajlovic, Si Pengisi Kekosongan yang Bukan Legenda Milan

Sinisa Mihajlovic (Photo from Bleacher Report)

Bagi siapa pun yang sehari-harinya bekerja dalam tekanan berat dari atasan dan dihantui masa depan yang tidak jelas, plus arah yang juga tidak jelas dari tempatnya bekerja, sejenak kembali ke kampung halaman bisa membantu mengurangi beban, jika menghilangkannya sama sekali juga tidak mungkin.

Sinisa Mihajlovic, pelatih Milan yang memiliki ayah seorang Serbia dan ibu seorang Kroasia, memanfaatkan libur natal dan tahun baru untuk mendatangi rumah masa kecilnya di Borovo, perbatasan antara Kroasia dan Serbia. Rumah yang terakhir kali dilihatnya 24 tahun yang lalu. Dalam foto, Mihajlovic mengenakan topi dan kacamata, mungkin agar tidak terlalu mencolok dan mudah dikenali, sehingga ia bisa meresapi betul momen nostalgia yang berharga ini, sebelum kembali ke kota mode metropolitan untuk dituntut memberi hasil dari investasi besar 150 juta euro (and still counting).

Mihajlovic dikenal sebagai pemain yang keras ketika masih bermain. Namun di luar lapangan, ia adalah pribadi yang berbeda. Jonathan Wilson, penulis buku Behind The Curtain, Travels in Eastern European Football, pernah menceritakan seklumit masa lalu dan awal karir bermain Mihajlovic di situs media Guardian sekitar tahun 2013. Dalam tulisannya yang begitu kaya data, tidak bias seperti fanboy, dan penuh dengan cerita yang jarang dibicarakan orang ini, Wilson menceritakan bahwa perang saudara di kawasan Balkan pada awal 90an banyak berpengaruh pada kepribadian dan gaya main Mihajlovic, dan bukan tidak mungkin, gaya melatihnya kini. "Ia adalah murid yang pandai ketika di sekolah. Selalu duduk di kursi paling depan," ujar guru sejarah sekaligus pelatih tim sepak bola sekolahnya. Seorang temannya juga menambahkan tentang sisi kompetitif Mihajlovic yang membuatnya selalu ingin memenangi pertandingan olahraga yang diikuti, meskipun tetap cemerlang di pelajaran sastra Serbia-Kroasia.

Bagi seseorang dengan latar belakang seperti ini, menghadapi presiden klub yang begitu demanding dan kadang megalomania seperti Silvio Berlusconi mungkin saja tidak sebanding dengan situasi perang. Namun Mihajlovic tentu mahfum bahwa menggigit tangan orang yang memberi kita makan adalah perbuatan tak berkelas yang tidak tahu diuntung.

Berlusconi, di sisi lain adalah sosok presiden klub yang jika dibolehkan akan bersedia duduk di bangku cadangan tim untuk meneriaki pemain-pemainnya, bahkan akan mengambil tendangan penalti sendiri untuk Milan. Berlusconi sudah sering mengatur dan mendikte pelatih-pelatih Milan sebelumnya, mendatangi mereka pada jeda pertandingan, dan merobek selembar buku jurnalnya untuk menulis taktik yang diinginkan dan siapa yang harus bermain dan tidak boleh bermain. 

Mengritik mereka di media juga bukan hal luar biasa baginya, termasuk untuk Mihajlovic. Tanyakan saja hal ini kepada Zaccheroni, yang ia sebut sebagai seorang penjahit yang tidak mampu mengolah bahan bermutu tinggi, atau bagaimana ia menyuruh Ancelotti untuk memainkan dua penyerang ketimbang memainkan Rui Costa dan Seedorf di belakang Shevchenko, meski formasi pohon natal Carletto memenangkan banyak pertandingan penting.

Mihajlovic tentu sudah melakukan segala yang ia mampu. Datang dengan diwarisi skuat dengan mentalitas loyo yang dijangkiti krisis kepemimpinan dan mudah puas, hingga saat ini setidaknya ia telah menciptakan lini belakang temporer yang cukup menjanjikan dan lini tengah yang mau bertarung. Jangan lupa, Milan juga amat mungkin menembus final Coppa Italia karena di babak perempat final ‘hanya’ perlu menyingkirkan Carpi untuk bertemu salah satu di antara klub divisi di bawah mereka, Spezia dan Alessandria di babak semi final.

Namun Berlusconi tetap Berlusconi. Jangan sesekali berbicara taktik dengannya, apalagi menguliahi bagaimana cara mengelola klub sepak bola. Suka atau tidak, torehan gelar liga domestik dan kontinental adalah pencapaian tak terbantahkan yang menjadikannya salah satu presiden klub sepak bola tersukses sepanjang masa, yang menjadikan namanya pantas diabadikan menjadi nama stadion Milan. Apalagi intuisinya dalam menunjuk pelatih. Siapa yang begitu visioner menunjuk Arrigo Sacchi hingga pelatih ini kemudian menjadi salah satu yang tersukses di Eropa pada masa jayanya, dan siapa yang memulai era sugar daddy sepak bola ini jika bukan Milan tahun 90an? 

Sejak awal, Mihajlovic memang bukan pilihan utama untuk melatih Milan. Kedatangan Ancelotti, Emery atau Conte lebih diharapkan. Bahkan Sarri lebih dulu disebut-sebut sebelum pilihan dijatuhkan pada Mihajlovic. Sebagai pilihan kesekian, memang akan lebih mudah bagi Berlusconi untuk mengkritisi sang pelatih ketika satu-dua kekalahan didapat, dan para pemain terlihat begitu sulit mengalahkan lawan yang lebih lemah. Berlusconi tetap bersikukuh bahwa membongkar pasang skuat dan menggonta-ganti pelatih adalah solusi tepat guna yang akan segera membawa Milan kembali pada era kejayaan Sacchi, Capello atau Ancelotti.

Meski baru menjalani seperempat jalan dari kontrak dua tahun yang ditandatangani, pekerjaan Mihajlovic seperti sudah dicap gagal. Milan masih menyebut-nyebut nama Conte, Emery dan yang terbaru adalah Di Fransesco untuk menangani Milan mulai musim depan. Mihajlovic seperti hanya diperlakukan sebagai batu loncatan pengisi kekosongan sebelum Milan mendapatkan pelatih yang benar-benar diinginkan. Terlebih Mihajlovic bukan legenda Milan seperti halnya Seedorf dan Inzaghi, maka memecatnya tidak akan memberi tanggung jawab moral berlebih, bukan? 

Sayangnya bagi Mihajlovic, jadwal berat telah menanti. Setelah Bologna pada pembukaan tahun, Roma, Fiorentina, Empoli dan Inter Milan telah menanti di Seri A, dan Carpi telah menunggu di perempat final Coppa Italia pada pertengahan bulan. Januari bukanlah bulan bersahabat bagi Milan tahun lalu. Ketika itu di bawah Inzaghi, Milan menutup tahun dengan menahan imbang Roma di Olimpico dan mengalahkan Real Madrid dalam laga uji coba di Dubai, namun kemudian Milan mengalami tiga kekalahan dari empat laga Seri A pada Januari 2015 atas Sassuolo, Atalanta dan Lazio. 

Kekalahan ini meredupkan momentum positif yang akhirnya menggelincirkan mereka dari papan atas hingga akhir musim. Padahal Milan mendatangkan cukup banyak pemain pada winter transfer seperti Salvatore Bocchetti, Gabriel Paletta dan Alessio Cerci. Musim ini juga begitu, bukan? Sudah datang para pemain di musim panas dan dingin, kok masih gagal juga? Pecat saja pelatihnya. Siklus ini masih akan berjalan entah sampai kapan.

Sudah empat pelatih menangani Milan sejak tahun 2012, dan para fans akan lebih mudah mencari-cari kesalahan dan kelemahan pelatih-pelatih malang itu, ketimbang berpikir bahwa permasalahan yang lebih besar berada pada bagaimana klub ini dijalankan. Bagi Mihajlovic, tidak ada pilihan selain memaksimalkan 'Kevin-Prince Boateng yang akan membantu di banyak area' dan 'kembalinya Balotelli dan Menez bagai mendapat pemain baru'.

Tuesday, May 19, 2015

Tidak Mudah Menjadi Pemilik Baru Milan

"Sepuluh atau lima belas tahun silam, kompetisi Seri A Italia mungkin masih menjadi destinasi utama para bintang sepak bola dunia. Namun saat berada di puncak kejayaan tersebut, mereka tidak banyak berpikir akan masa depan."

Begitulah ucapan James Palotta, presiden klub AS Roma, sekaligus pemilik asing pertama bagi klub Seri A Italia pada awal jabatannya. Perkataan pria asal Amerika Serikat ini memang menyimpulkan bahwa Seri A adalah simbol dari dua hal, yaitu kejayaan era 90an hingga awal milenium dan potret dari rangkaian mismanagement yang akhirnya menggerus reputasi mereka sendiri. Dalam laporan Deloitte Football Money League 2015, posisi klub-klub Italia semakin tertinggal saja dibandingkan klub-klub Inggris dan Jerman.  Meski perbaikan sudah tampak pada musim ini dengan performa menawan klub-klub Italia di kompetisi antarklub Eropa, namun secara percepatan, mereka sudah lebih dulu tertinggal dan tentu saja harus bekerja lebih keras lagi.

Dari Simbol Kejayaan Menjadi Raksasa Terluka
Berbicara tentang kejayaan Seri A pada masa 90an tersebut, nama AC Milan sangat identik dengannya. Sebagai klub yang pertama kali memperkenalkan model bisnis 'beli pemain bintang, bermain atraktif lalu meraih gelar dengan gaya', langkah revolusioner Milan kemudian ditiru oleh para rival mereka di negeri Peninsula, dan bahkan menular hingga ke ranah Britania. Model pengelolaan klub seperti ini -meski dapat diperdebatkan- kemudian diadopsi oleh sebagian klub Liga Primer Inggris saat mereka mulai membangun reputasi global.

Milan saat itu mencontohkan cara untuk menjadi pemenang sejati yang melegenda. Bahwa untuk menjadi klub yang namanya tidak lekang zaman, dibutuhkan kemenangan yang kontinyu dan menyeluruh. Bukan tahun ini juara lalu tahun depan melempem, bukan pula sekadar juara domestik tapi tak berdaya di kancah Eropa. Kejayaan Milan saat itu berupa gelar back to back Eropa 1989-1990 dan juara liga domestik tiga musim beruntun 1992-1994 seakan menjadi contoh terbaik.

Jika periode ditarik lebih panjang lagi hingga tahun 2011 -tahun terakhir kali Milan meraih trofi- akan terpampang total 15 trofi domestik dan 14 trofi kontinental dan intetnasional. 29 trofi bergengsi itulah yang didapat pada masa kepemimpinan seorang raja media, politisi sekaligus sosok pria flamboyan dengan total kekayaan sebesar 8,2 US$ bernama Silvio Berlusconi.

Dengan koleksi trofi sebanyak itu, yang turut menjadikan Milan sebagai salah satu pemegang Badge of Honour Liga Champions yang merupakan simbol kejayaan kontinental, sekaligus menempatkan Milan sebagai salah satu klub dengan koleksi trofi internasional terbanyak di dunia, Berlusconi jelas merupakan salah satu presiden klub tersukses sepanjang sejarah sepak bola.

Maka sudah teramat wajar jika apapun langkah Milan akan didasari keinginan Berlusconi. Seleranya yang tinggi dan kehidupannya yang glamor senantiasa dinapaktilasi Milan di lapangan. Dari helikopternya, ia mampir kapanpun ia suka ke Milanello, kompleks latihan Milan. Pada jeda pertandingan, ia dapat menuju ruang ganti untuk berbicara pada pelatihnya perihal keinginan bermain dengan dua penyerang, lalu di tribun kehormatan stadion San Siro membisiki Adriano Galliani dan (dulu) Ariedo Braida terkait keinginannya menggaet seorang pemuda berbakat besar dari Brasil.

Namun di samping sumbangan berbagai gelar, kealpaan Berlusconi dalam mengikuti tuntutan perkembangan sepak bola modern dan serangkaian kasus hukum yang dideritanya lah yang kemudian menggerus kejayaan Milan. Pria kelahiran 1936 ini, entah dengan sadar atau tidak, terus menggunakan formula suksesnya yang sudah ketinggalan zaman ketika klub-klub pesaing telah melangkah lebih jauh tentang bagaimana meningkatkan pendapatan klub dengan membangun stadion baru dan ketika UEFA melalui Financial Fair Play telah mengatur batasan kerugian yang bisa ditolerir agar diperbolehkan mengikuti kompetisi di bawah bendera mereka.

Milan pun berangsur melemah. Terkini, sudah dua musim berturut-turut Milan gagal lolos ke Eropa, plus dibarengi suguhan penampilan menyedihkan di lapangan, kebijakan pembelian pemain gratisan yang telah melewati masa terbaik, pemain-pemain yang kebingungan dan tidak bersemangat di lapangan, tidak jelasnya hirarki kapten tim, dan imbasnya membuat para tifosi dengan mudah menunjuk tiga pelatih terkini mereka sebagai sosok yang tidak kompeten.

Harapan Baru Atau Harapan Palsu?
Lalu secercah cahaya datang dari arah timur. Dari benua Asia, rencana pembelian Milan oleh sekelompok investor yang diwakili oleh seseorang yang bernama Bee Taechaubol mau tidak mau memenuhi agenda rapat Berlusconi. Pria asli Milan ini pun pasang mata, telinga, lalu menggunakan kepalanya untuk berpikir, sekaligus hati kecilnya untuk mempertanyakan.

"Apakah mereka benar-benar memiliki uang dan komitmen untuk menjadikan Milan kembali berjaya, atau hanya sekadar mencari popularitas sesaat?”

"Milan memang sudah mengalir dalam darah saya, namun saya rela terlepas dari klub ini andai benar-benar ada pihak yang mampu membeli dan berniat mengembalikan kejayaan Milan."

Berlusconi menolak keras penjualan Milan kepada pihak yang tidak tepat.

Untuk itulah ia memberi syarat berat baik dari segi materi maupun non-materi. Secara materi, syarat yang diajukan Berlusconi sebagai mahar bagi siapapun yang ingin membeli Milan adalah uang sebesar 1 miliar euro, plus pelunasan hutang-hutang yang seperti dikutip dari Forbes, kini berjumlah 278 juta US$. Sekadar perspektif, dengan uang sebanyak ini, 650 ribu penganggur di Eropa dapat tertampung untuk bekerja. Sementara dari sisi non-materi, Berlusconi menginginkan Galliani dan Barbara Berlusconi, anaknya, untuk tetap berada di jajaran direksi dan turut memegang kendali. Sedikit terdengar megalomania memang, namun ia memang merasa paling tahu bagaimana mengelola klub Italia.

Para Milanisti yang sudah merindukan kejayaan akhirnya lelah dengan era Berlusconi, dan mereka tentu senang dengan kemunculan sosok pria Thailand yang kemudian akrab disapa dengan sebutan Mr. Bee. Namun sebelum terjebak dalam euforia, jawablah terlebih dahulu pertanyaan yang amat mendasar, yaitu apakah Mr. Bee benar memiliki uang sebanyak itu untuk menjadi pengendali baru klub merah-hitam? Kita lihat satu persatu.

Menurut Bloomberg, Mr. Bee memiliki perusahaan keluarga bernama Landmark Development Group Co. Ltd dengan penyertaan saham 5% atas perusahaan properti tersebut. Sementara menurut data dari Forbes, kekayaan Mr. Bee dari perusahaan-perusahaan lain yang dimilikinya termasuk Landmark Development Group Co. Ltd tadi berjumlah 261 juta US$, dengan profit sebesar 100 juta US$ pada tahun 2013. Hal ini mengundang Forbes untuk bertanya, lewat akun twitternya, bagaimana Mr. Bee dapat membeli sepertiga dari saham Milan dengan jumlah kekayaan yang tidak memenuhi price tag yang ditetapkan Berlusconi?

"Saya memang tidak memiliki (uang) sebanyak itu, tapi saya bisa mencarikannya." Mr. Bee, dalam sebuah wawancara dengan Wordfolio setelah menginjeksi modal kepada sektor SME (Small Medium Entrepreneur) dua tahun lalu di Thailand.

Berita kemudian berseliweran. Bahwa Mr. Bee adalah sosok yang ditunjuk untuk menggolkan perjanjian ini oleh para investor di belakangnya. Sentuhan Raja Midas yang menaikkan reputasi Mr. Bee disebut berhasil meggiring banyak nama tycoon untuk menjadi sponsornya dalam mengakuisisi Milan. Mengenai siapa saja investor tersebut, spekulasi kemudian bergerak liar. Doyen Sports, perusahaan pemilik hak ekonomi banyak pemain dunia disebut menjadi salah satu sponsor Mr. Bee, yang kemudian dikampanyekan akan turut menggiring para pemain-pemain terkenal yang dimilikinya ke San Siro, sesuatu yang amat seksi dan menyejukkan bagi Milanisti. Begitu pula beberapa nama yang kemudian muncul seperti dua pengusaha Turki bernama Fettah Temince dan Tevfik Arif, bahkan keluarga Rothschild.

Apakah berita-berita tersebut benar adanya? Entahlah. Namun yang jelas hal ini masih belum mampu membuat kubu Berlusconi bergeming. Pihak sponsor Mr. Bee bisa saja menggoreng berita apapun yang ia mau, dan menggiring opini bahwa pihaknya telah siap membeli Milan. Namun selama belum ada klaim tanggapan yang valid dari pihak Berlusconi, maka realisasi proses pengambilalihan ini pantas untuk dipertanyakan.

Harga Milan sesuai valuasi dari Forbes tahun 2015 ini adalah 755 juta US$, tergerus 100 juta US$ dibanding tahun lalu dan menjadikan mereka sebagai klub urutan 10 dengan nilai tertinggi di dunia setelah sebelumnya menempati posisi 8. Jauh dibandingkan Real Madrid di posisi teratas yang bernilai 3,2 miliar US$. Jika Berlusconi memasang harga 1 miliar euro plus pelunasan hutang, yang jika ditotal akan menunjukkan nilai 1,3 miliar euro atau sekitar 1,6 miliar US$, maka jumlah uang yang tengah dikumpulkan Mr. Bee jelas masih jauh dari cukup. Meskipun nilai yang disyaratkan tersebut jauh lebih besar ketimbang hasil valuasi Forbes, Berlusconi sebagai pemilik, tentu saja memiliki hak penuh untuk menerima atau menolak segala tawaran. Berlusconi jelas tahu dengan siapa ia berurusan, dan baginya, nilai tersebut sebanding dengan apa yang sejak tiga dekade lalu dibangunnya.

Maka tidak mengherankan jika negosiasi belum mencapai kata sepakat, meski hal ini dikabarkan hanyalah ditunda. Bisa jadi cerita ini hanya mengulangi penolakan Berlusconi pada tawaran seorang pengusaha Singapura, Peter Lim, yang pada awal tahun menawarkan 970 juta euro, juga calon pembeli lain dari Tiongkok, Richard Lee. Untuk saat ini, harapan Milan untuk memiliki presiden baru plus diperkuat para pemain yang terkoneksi dengan Doyen Sport seperti Radamel Falcao, Geoffrey Kondogbia atau Gabriel Barbosa, praktis perlahan menguap.

Menjual klub tidaklah semudah menjual mobil atau rumah. Terlebih bagi seorang Berlusconi, Milan adalah hasil karyanya yang paling agung, dan andai terealisasi, deal penjualan Milan adalah deal terbesar sepanjang hidupnya.