Pages

Showing posts with label La Furia Roja. Show all posts
Showing posts with label La Furia Roja. Show all posts

Monday, July 2, 2012

Post match review Final Euro 2012: Spanyol vs Italia


Spanyol, Raja diantara Raja

Suatu sore, saya manyaksikan sebuah tayangan menyangkut siapa bangsa yang paling unggul di dunia sepakbola. Salah satu bangsa yang disebut tentu saja bangsa yang mengklaim sebagai penemu olahraga paling ngetop sejagat ini yaitu Inggris. Mereka pertama memainkan olahraga mirip sepakbola bernama Royal Shrovetide Football Match pada abad 12 di kota Ashbourne di Derbyshire, Inggris. Olahraga yang dimainkan selama dua hari disaat shrove tuesday dan ash wednesday lebih menyerupai rugby dan bola tersebut dibawa mengelilingi kota.
Kemudian olahraga itu dimainkan pula di Universitas Cambridge dimana mulai dirumuskan beberapa peraturan, yang akhirnya dihasilkan dari pertemuan di sebuah cafe para anggota perkumpulan Freemason di Grant Queen Street, London. Dalam peraturan yang salah satunya melarang penggunaan tangan dalam bermain itulah cikal bakal sepakbola modern hingga saat ini.
Namun segala kejayaan mereka sebagai bangsa dengan jumlah jajahan terbanyak saat ini seolah tidak terjadi di dunia permainan yang mereka temukan, yaitu sepakbola. Mereka hanya bisa menjuarai Piala Dunia satu kali, yaitu saat kejuaraan berlangsung di rumah sendiri. Setelah itu, Inggris lebih akrab dengan berbagai kegagalan, dan sejak tahun 2000an, The Three Lions lebih banyak menjadi sirkus media akibat tingkah pemain-pemainnya diluar lapangan dan kompetisi English Premier League yang mereka klaim sebagai kompetisi sepakbola terbaik dunia, namun tidak dengan tim nasionalnya.
 
Bangsa berikutnya adalah Jerman. Adolf "Adi" Dassler, selain berjasa dalam prestasi empat medali emas Jesse Owens di Olimpiade 1928, dia adalah pencetus sejarah sepakbola Jerman. Adik dari Rudolf Dassler (selanjutnya dikenal sebagai founder produk Puma) ini mendesain sepatu yang mampu mengatasi problem lapangan becek. Hal ini berandil besar dalam kejayaan tim asuhan Sepp Herberger. Sepatu Adidas kreasi kepala perlengkapan olahraga tim nasional Jerman itu membawa timnya berhasil meraih gelar Piala Dunia tahun 1954. Itu terjadi hanya empat tahun setelah negara itu tercatat sebagai anggota FIFA. Jerman menjadi juara dengan mengalahkan tim yang saat itu superior, The Magyars Hungaria. Sejak saat itu, Jerman menancapkan kukunya sebagai salah satu raksasa sepakbola dunia dengan tiga gelar Piala Dunia dan tiga gelar Piala Eropa.
Sedikit ke selatan di dekat laut Mediterania, terdapat bangsa Romawi yang memainkan olahraga sejenis sepakbola. Olahraga itu dikenal dengan nama harpastum yang dimainkan di masa kerajaan Romawi. Selanjutnya setelah abad ke 16, olahraga bernama calcio yang berasal dari kata "kick" di Piazza Santa Croce kota Firenze. Saat itu Calcio hanya dimainkan oleh para bangsawan dan rakyat biasa hanya menonton. Permainan tersebut masih menggunakan tangan. Beberapa abad kemudian, bangsa Italia kemudian membuktikan kelasnya dengan menjuarai 4 kali Piala Dunia dan sekali Piala Eropa.

Lalu ke benua latin, kita menemukan sebuah negara tropis besar bernama Brasil. Thomas Donahue, seorang pekerja asal Skotlandia dan Charles William Miller membawa sepakbola di akhir abad 19 ke satu-satunya negara Amerika Latin berbahasa Portugis ini. Negara juara dunia 5 kali ini sudah pasti disebut juara sejati sepakbola karena prestasi mereka yang masih tak tertandingi hingga kini. Orang boleh jadi mengenal Pele, Garrincha, Rivelino, Jarzihno, Romario, Rivaldo, Ronaldo, atau Ronaldinho. Tidak banyak yang mengenal Arthur Freidenreich sebagai salah satu pemain legendaris mereka. Freidenreich adalah pemain kulit hitam pertama yang mampu menembus tim sepakbola yang saat itu didominasi oleh kaum putih. Freidenreich juga tercatat sebagai orang pertama yang menemukan tendangan pisang.

Namun jika banyak orang masih memperdebatkan siapa bangsa paling unggul di dunia sepakbola, saya beranggapan bahwa pertanyaan besar tadi sudah terjawab semalam. Bangsa-bangsa itu harus menyingkirkan perdebatan sebagai bangsa penguasa sepakbola kepada Spanyol.


Spanyol mampu menyempurnakan penampilan tak terkalahkan mereka sepanjang gelaran Euro 2012 dengan kemenangan telak 4-0 atas salah satu bangsa unggul sepakbola lainnya, Italia. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi negara pertama yang mempertahankan gelar Piala Eropa, sekaligus negara pertama yang mampu memenangi tiga kejuaraan besar terakhir yang mereka ikuti. Sebuah pencapaian yang sangat sulit dilewati oleh negara manapun.
La Furia Roja mampu mematahkan segala mitos, anomali, kritik sepakbola membosankan tiki-taka, taktik tanpa striker, maupun keraguan akan performa mereka yang cenderung mengalami grafik menurun sebelum menghadapi Italia di final. Mereka menjawab semuanya dengan penuh gaya, kemenangan telak empat gol tanpa balas atas tim yang justru dikenal karena pertahanan kokohnya.

Italia sebenarnya memiliki grafik performa yang meningkat dibanding Spanyol. Penampilan gagah gli azzuri di babak semifinal menyingkirkan Jerman adalah salah satu penampilan terbaik di turnamen ini, sementara Spanyol hanya menang adu penalti melawan Portugal dalam sebuah partai membosankan. Namun ternyata penampilan Italia melawan Jerman adalah penampilan puncak mereka. Tim biru tidak mampu mempertahankan bentuk terbaik saat menghadapi sang juara bertahan.
La Nazionale bermain terbuka membiarkan para pemain Spanyol bebas berkreasi. Pressing ketat yang mereka lancarkan ketika menghadapi Jerman nampak tak berbekas karena faktor kelelahan dan konsentrasi. Permainan duo Claudio Marchisio-Daniele De Rossi juga tidak dalam titik optimal sehingga Andrea Pirlo yang juga tidak diberikan ruang oleh Xavi dan Iniesta tidak mampu melepaskan umpan-umpan dan mengatur permainan seperti biasanya. Faktor kebugaran ini pula yang membuat para Italiano tidak tampil seperti biasanya.
Cesare Prandelli kali ini harus mengakui kemenangan taktik Vicente Del Bosque yang tetap keukeuh memainkan pola false nine dengan menempatkan Cesc Fabregas di posisi penyerang palsu tersebut. Terbukti gerakan cerdik Cesc mampu melahirkan gol pertama yang disumbangkan David Silva. Prandelli tidak cepat menginstruksikan pressing ketat dan proteksi para gelandang akan serangan balik cepat Spanyol, terbukti gol Jordi Alba kemudian praktis mengakhiri perlawanan mereka di babak pertama.
Prandelli sebetulnya memiliki opsi di babak kedua untuk mengembalikan skema tiga bek, yang di pertemuan mereka di babak penyisihan terbukti mampu mengimbangi Spanyol. Riccardo Montolivo yang sebenarnya bermain paling bagus di lapangan tengah malah ditarik keluar dan diganti Thiago Motta, yang ironisnya langsung mengalami cedera di sentuhan pertamanya. Ketinggalan dua gol, jatah pergantian pemain habis dan harus bermain dengan sepuluh orang menghadapi tim terbaik dunia adalah sebuah situasi yang sangat mengenaskan bagi Italia. Dua gol tambahan dari duo Chelsea, Torres dan Juan Mata akhirnya menutup malam bersejarah bagi Spanyol, kontras dengan Italia. Italia tidak mampu menang dengan kekuatan anomali mereka, termasuk melanjutkan trend tim biru setelah Chelsea yang mampu meraih gelar tahun ini. Segala mitos dan mistis tersebut patah oleh tiki-taka Spanyol.
Espana makin menyempurnakan malam mereka dengan rekor-rekor dan berbagai penghargaan yang diraih para punggawa mereka. Iker Casillas menjadi pemain dengan rekor 100 kemenangan di tim nasional, dan kemenangan ke 100 tersebut diraih semalam. Centurion. Sementara Sergio Busquets di usia yang baru menginjak 23 tahun telah memenangi seluruh kejuaraan besar yang mungkin diraih oleh seorang pesepakbola. Busquets telah meraih gelar La Liga (3 kali), Copa Del Rey (2 kali), Liga Champions (2 kali), Piala Super Eropa (2 kali), Piala Dunia Antarklub (2 kali), Piala Eropa (2 kali) dan Piala Dunia (1 kali). Selain itu, Fernando Torres secara dramatis meraih sepatu emas dengan total tiga golnya selama Euro 2012. Gelar itu diraihnya dengan mengumpulkan menit lebih sedikit daripada para pesaingnya dan jumlah sebuah assist yang sama dengan yang dikumpulkan Mario Gomez. Gelar pemain terbaik juga naga-naganya akan diraih tidak jauh dari Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Iker Casillas atau Cesc Fabregas.

Gelar tidak resmi sebagai bangsa paling unggul di dunia sepakbola sebenarnya bukan sekadar prestasi tim nasional mereka. Klub-klub mereka juga tidak tersaingi secara prestasi maupun kekuatan finansial. Sepak terjang Barcelona yang dalam 5 tahun terakhir berhasil meraih banyak gelar dan Real Madrid yang dinobatkan sebagai klub abad ke 20 membuat negeri Iberia tersebut patut menyebut diri mereka sebagai raja diantara raja.
Sejarah baru telah diukir. Sekarang, siapa bisa hentikan Spanyol?

Sunday, July 1, 2012

Preview Final Euro 2012: Spanyol vs Italia

The Final

Setelah selama hampir sebulan disuguhi atraksi fenomenal dari tim-tim terbaik benua biru, tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu para pecinta sepakbola, termasuk kita yang dari timur jauh untuk menyaksikan laga final Piala Eropa 2012 antara Spanyol melawan Italia. Dalam lima pertemuan terakhir termasuk di babak penyisihan yang berkesudahan 1-1, kedua tim sama-sama memenangi satu laga, dan dua laga sisanya berakhir imbang. Hal ini menyimpulkan tipisnya disparitas kekuatan kedua tim.

Perjalanan mengagumkan si biru
Sekitar tujuh bulan lalu, sepakbola Italia diguncang berita menggemparkan. Seorang penyerang dari klub AC Milan, Antonio Cassano rubuh di bandara Malpensa beberapa jam setelah Milan menahan imbang AS Roma pada lanjutan kompetisi seri a Italia. Cassano didiagnosa mengalami serangan stroke yang hampir merenggut nyawanya.

Saat itu fantanito padahal sedang berada dalam permainan terbaik sepanjang karirnya dengan memimpin perolehan assist dan menjadi duet sehati bagi Zlatan Ibrahimovic di Milan. Fantanito juga menjadi pilihan utama pelatih Cesare Prandelli di tim nasional Italia untuk menjalani babak kualifikasi Euro 2012. Segenap pemain dan pengurus Milan dilanda keguncangan hebat, keguncangan yang kemudian membuat Milan mengambil langkah cepat dengan mencoba membeli Carlos Tevez dari Manchester City, walaupun belakangan transfer tersebut urung terwujud.

Presiden FIGC, federasi sepakbola Italia, Giancarlo Abete menjenguk Cassano seraya berkata “Lupakan Milan, lupakan Euro. Pentingkan kesembuhanmu.” Fantanito sudah tidak lagi diharapkan untuk menjadi ujung tombak la nazionale. Ia menyusul Giuseppe Rossi, yang telah lebih dulu mengalami cedera parah yang memaksanya absen setahun lebih.

Cesare Prandelli jelas sangat pusing dengan fakta bahwa dua penggedor utamanya tidak dapat dia gunakan dalam wajah baru tim nasional yang telah dia kampanyekan. Prandelli sejak awal menegaskan akan meninggalkan cara lama catenaccio dalam pendekatan permainan timnas. Bahkan Prandelli dengan gamblang pernah berkata bahwa ia ingin meniru permainan tiki-taka Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola yang dominan untuk mengalahkan lawan.

Cassano dan Rossi sejatinya adalah kepingan penting pola baru ini. Kedua pemain ini bukanlah penyerang atletis yang mampu mengintimidasi bek lawan secara fisik layaknya penyerang-penyerang konvensional. Prandelli berupaya menggunakan false nine dalam strateginya, yang membuat Italia bermain lebih dalam dan mengalir.

Namun siapa sangka salah satu dari kedua attacante, yaitu Cassano hari ini akan bersiap untuk menghadapi partai final di kejuaraan yang sebenarnya nyaris tidak bisa dia ikuti. Keteguhan dan kesabaran sang pemain dalam menghadapi sakitnya adalah kunci kesembuhan, ditambah dari dukungan luar biasa dari berbagai pihak. Demikian dengan Prandelli, dia tetap menaruh keyakinan pada pemain bengal ini meskipun baru menjalani comeback-nya, yang tentu saja belum kembali ke bentuk terbaiknya.

Kepercayaan Prandelli tidaklah salah. Cassano menjadi salah satu aktor penting bagi perjalanan brilian gli azzuri walaupun belum mencapai match fitness sempurna. Selain selalu menjadi starer, Cassano mencetak satu gol ke gawang Republik Irlandia dan sebuah assist untuk Mario Balotelli pada partai melawan Jerman di semifinal. Cassano jugalah yang membuat Balotelli merasa telah menemukan teman sehati. Balotelli yang semula diplot menjadi pilihan setelah Rossi, kini membuktikan siapa dirinya kepada para pengkritik. Sifat yang mirip antara keduanya membuat Balotelli merasa nyaman dan imbasnya adalah penampilan terbaiknya saat melawan Jerman.

Secara tim, performa Italia kali ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik di turnamen. Mereka bermain dengan hati, begitulah anggapan banyak pecinta sepakbola. Ucapan dari Arrigo Sacchi benar-benar terbukti. “For Italians, football is not a game. It’s a reflection of society. So football has to be sufferance, sacrifice, craftiness and improvisation. Italians have brought football to their style of life.” Begitulah gambaran permainan tim nasional mereka di Euro 2012 ini. Mereka adalah tim yang bermain dengan hati dan memberikan segalanya di lapangan. Mentalitas yang juga mereka bawa ke kehidupan sehari-hari mereka dalam menghadapi krisis ekonomi yang menjerat, juga mentalitas yang sama yang membawa mereka empat kali meraih Piala Dunia.
 
Perjalanan berliku Italia menuju final Euro 2012 bisa dikatakan sebuah perjalanan epik, sama seperti perjalanan Chelsea menjuarai Liga Champions baru-baru ini. Mereka melaju dengan berbagai kesulitan dan kejanggalan. Publik juga tidak menempatkan mereka sebagai unggulan utama, seolah lupa bahwa tim ini telah memenangi empat Piala Dunia dan sebuah Piala Eropa. 

Banyak orang yang memuja Andrea Pirlo seolah pemain ini adalah anak kemarin sore yang tiba-tiba muncul mengejutkan banyak orang. Italia selalu menjadi tim underdog sejak babak knock-out, namun mampu menjawab segala keraguan publik. Publik juga seolah lupa bahwa Pirlo juga bermain seperti sekarang ketika membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Hanya saja di 2006 gli azzuri masih diperkuat pemain-pemain berpengaruh lainnya seperti Francesco Totti, Alessandro Del Piero dan Fabio Cannavaro, sehingga atensi media dan lawan terbagi kepada pemain-pemain tersebut dan saat itu Fabio Cannavaro didaulat menjadi pemain paling berpengaruh dalam kemenangan Italia dengan ganjaran Ballon d’or.

Tidak banyak yang membahas peran para partner Pirlo di tengah. Mereka melakukan berbagai dirty jobs demi membuat sang regista nyaman mengorkestra permainan. Jika di 2006 Pirlo memiliki Gennaro Gattuso, kini Pirlo memiliki duo Claudio Marchisio dan Daniele De Rossi sebagai dua pelindung sang deep-lying playmaker seperti halnya strategi yang dikembangkan Antonio Conte di Juventus, dimana tugas tersebut diemban oleh Marchisio dan Arturo Vidal.

De Rossi, walaupun bagian dari skuad 2006, juga dapat dianggap sebagai pemain kunci tim ini. Pemain yang selalu memberikan 110% dari setiap penampilannya mengungkapkan bahwa dia selalu memperlakukan setiap pertandingan dengan sama, yaitu sikap totalitas. “Saya memperlakukan partai melawan Jerman di semifinal besok, sama pentingnya dengan partai Roma melawan Triestina di Coppa Italia beberapa waktu lalu.” Demikian ungkap De Rossi dalam wawancaranya sebelum partai melawan Jerman.

De Rossi melalui turnamen ini nyaris tanpa cela. Dia rela bermain dengan peran apapun yang diinstruksikan pelatih. Kemampuan defence-nya yang baik membuatnya dua kali menempati posisi sentral pertahanan dan menambah panjang daftar pemain yang mampu berposisi sebagai false defender sebagai tuntutan sepakbola modern yang meninggalkan peran rigid dari para pemain di lapangan. Sejauh ini, tidak ada De Rossi yang menyikut Brian McBride seperti di 2006, atau De Rossi yang melakukan diving epic pada partai melawan Paraguay di Piala Dunia 2010.


Apakah Spanyol tim yang membosankan?
Sementara Spanyol sedari awal turnamen sudah difavoritkan untuk mampu mempertahankan gelar mereka, sekaligus mencetak hattrick kemenangan di kejuaraan besar secara beruntun. Filosofi tiki-taka yang mereka kembangakan telah menyumbangkan dua gelar turnamen besar terakhir yang mereka ikuti.

Sebagai bangsa yang sukses menjadi tujuan wisata sepakbola, Spanyol menularkan demam sepakbola klub-klub mereka kepada tim nasional. Sebelum raihan Euro 2008, publik menganggap Spanyol hanyalah tim yang mampu bermain cantik namun tidak mampu meraih gelar. Kerumitan sosio-kultural yang membagi negara ini kedalam suku castillan, catalonia, aragon dan basque ini menjadikan potensi disintegrasi dalam tim lebih besar. Namun sejak 2008, mereka berubah menjadi tim juara dari sekedar tim yang bermain cantik.

Tiki-taka Spanyol menghasilkan minimal 9 passing dalam satu tembakan ke gawang. Sistem yang mulai dibilang membosankan oleh berbagai pihak ini adalah pengembangan dari totaal voetbaal karya Rinus Michels di tahun 1970an. Sistem ini mengharuskan rotasi posisi pemain yang bahkan lebih banyak menghasilkan pemain palsu. Tidak ada bomber bertipe poacher yang kuat di udara dan mampu berduel dengan bek lawan, sebagai gantinya mereka menggunakan false nine yang bermain lebih kedalam dan berupaya menarik bek lawan meninggalkan posnya. Inilah jawaban mengapa duo Fernando, Torres dan Llorente jarang masuk skuad.  

“Pemain palsu” lainnya dalam tim ini adalah Gerard Pique dan Sergio Busquets. Kedua pemain ini sejatinya memiliki kemampuan passing dan control permainan yang bagus. Tuntutan tiki-taka membuat mereka bermain jauh ke belakang demi lancarnya aliran bola di wilayah sepertiga pertama lapangan.

Tiki-taka ini dikombinasikan dengan elemen-elemen kejutan yang bisa dipercikkan oleh Xabi Alonso. Kemampuan passing jarak jauh dan eksekusi bola mati pemain asal Basque ini setara dengan Pirlo. Produktivitas gelandang tengah ini jugalah yang turut membawa Spanyol mengatasi perlawanan Prancis di babak perempat final. Elemen kejutan lainnya yang bisa menjadi senjata Del Bosque adalah duo Fernando, yaitu Torres dan Llorente serta Jesus Navas. Ketiga pemain yang masih miskin minute play dan minim argo gol ini seolah hanya diperlukan di saat genting saat skema tiki-taka tidak kunjung melumpuhkan lawan.

Jadilah saksi sejarah
Menarik ditunggu duel tim yang sejatinya memang terbaik di Eropa saat ini. Duel dua negara yang sedang mengalami krisis ekonomi dan berupaya menjadikan sepakbola sebagai obat dari kesusahan yang mereka hadapi sehari-hari. Kedua tim inilah yang menyajikan partai paling seru di babak penyisihan Euro 2012. Namun jika dilihat dari grafik, kelelahan tim Spanyol, yang mayoritas pemainnya memperkuat Barcelona dan Real Madrid yang bermain di lebih dari 50 pertandingan membuat mereka perlu mewaspadai faktor keletihan yang membuat grafik permainan tim ini terkesan kian menurun dari awal hingga ke partai puncak.

Sementara Italia yang mengalami start lebih lamban daripada Spanyol, kian menampilkan penampilan yang menanjak dari babak awal hingga final. Pencapaian epik Italia hingga ke final saat ini ditengah berbagai masalah yang mereka hadapi bahkan sudah membuat mereka seperti menjadi jawara turnamen ini bahkan sebelum bertanding. Pemenang pertandingan ini adalah tim yang mampu menjaga intensitas permainannya, lebih disiplin di belakang dan mampu memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menciptakan gol. Kedua tim ini memiliki ketiga faktor tersebut. Pertandingan paling seru jilid dua siap mentas. Jadilah saksi sejarah.

Italia dikabarkan tidak akan kembali menggunakan skema 3 bek seperti di pertemuan mereka di babak penyisihan. Formasi diamond kesukaan Prandelli akan beradu dengan formasi 4-6-0 Vicente Del Bosque yang menurut pandangan saya sama sekali tidak membosankan, namun membunuh lawan pelan-pelan.

Apapun hasilnya, kedua tim ini telah berhasil menjawab slogan turnamen ini. Siapakah diantara dua penjaga gawang terbaik dunia, Iker Cassilas dan Gianluigi Buffon yang akhirnya akan mengangkat trofi Henry Delaunay? Let’s create history together.

Tuesday, June 5, 2012

David Villa, alasan Euro 2012 bukan milik Spanyol

David Villa, akankah Spanyol mampu berjaya tanpa gol-golnya?

Spanyol telah bertransformasi dari sekadar tim kaya talenta miskin prestasi menjadi tim impian yang bertalenta sekaligus berprestasi. Siapa yang meragukan kehebatan tim yang mampu menjuarai dua kejuaraan besar terakhir yaitu Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010?

Sebelum meraih gelar Euro 2008, Spanyol sebenarnya selalu dipandang sebagai tim bagus yang diperhitungkan untuk menjuarai turnamen. Kekayaan skuad mereka  sejak era Pep Guardiola, Fernando Hierro hingga awal 2000an dimana Raul Gonzalez menjadi kapten tim seharusnya menjadi jaminan prestasi tertinggi. Spanyol adalah tim yang memainkan sepakbola atraktif yang selalu ditunggu-tunggu penonton, namun mereka bukanlah tim bertradisi juara.

Era dahaga gelar tersebut berakhir di tahun 2008. Skuad Luis Aragones mampu menjungkalkan Jerman di partai final Euro 2008 lewat gol tunggal cerdik Fernando Torres. Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa partai melawan Italia yang mereka menangakan lewat drama adu penalti setelah tendangan Daniele De Rossi gagal membuahkan gol adalah titik balik mereka karena setelah itu mereka secara perkasa mengatasi kuda hitam Rusia tiga gol tanpa balas lalu mengalahkan Jerman di final. Sebuah siklus penuh prestasi dimulai. “Sebelumnya kami hanya ingin lolos dari perempat final. Setelah berhasil melaluinya, semua seakan menjadi lebih mudah bagi kami.” Kenang Xavi Hernandez.

Siapapun menyadari bahwa era penuh prestasi Spanyol ditopang penuh oleh skuad Barcelona. Barcelona yang Anda kenal telah memukau dunia ini telah memulai rentetan prestasinya saat ditukangi Frank Rijkaard yang kemudian disempurnakan Pep Guardiola. Rijkaard telah membangkitkan sebuah filosofi sepakbola terkenal Belanda yaitu Totaal Voetbaal warisan Johan Cruyff, yang ironisnya tidak pernah mengecap prestasi kala dia bermain di tim nasional Belanda.

Namun selain para punggawa Barcelona, Spanyol juga berutang pada seorang pemain kelahiran Langreo, sebuah kota kecil di region Asturias, bagian utara Spanyol 30 tahun lalu bernama David Villa Sanchez. David Villa nyaris tidak menjadi pesepakbola jika bukan ayahnya yang selalu mendorongnya. Sang ayah terus mendorong anaknya untuk mendaftar ke akademi Sporting Gijon. Terbukti David Villa terhitung telat dalam memulai petualangannya di sepakbola, karena dia memulainya di usia 14 tahun. Memang dasarnya berbakat, pemain yang dijuluki El Guaje ini mampu menembus tim inti hanya dua tahun setelah menghuni skuad B. Dengan modal 38 gol dari tiga tahun pengabdiannya untuk Gijon senior, David Villa pindah ke Real Zaragoza.

Singkat cerita, David Villa angkat nama setelah pindah ke Valencia. Dia mencetak total 108 gol bagi los ches dari 166 penampilannya. Rekor impresif golnya turut dibawa ke tim nasional. Striker bertinggi 175 cm ini menjadi pencetak gol terbanyak di tiga turnamen besar yang diikuti Spanyol. 3 gol di Piala Dunia 2006, 4 gol di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Jangan lupakan juga bahwa dia adalah topskor abadi tim nasional Spanyol saat ini dengan torehan 51 gol dari 82 penampilan.

David Villa adalah salah satu striker pencetak gol alami terbaik di dunia. Finishing touch yang brilian, tendangan akurat yang tidak pernah menyiratkan keraguan adalah alasan mengapa klub sesukses Barcelona rela mengeluarkan 40 juta euro demi mendapatkan tanda tangannya. Musim pertama dijalaninya dengan kesuksesan menjuarai La Liga dan Liga Champions, salah satu golnya menjungkalkan perlawanan Manchester United dalam final di Stadion Wembley tahun lalu.

David Villa bukanlah alumni La Masia dimana filosofi tiki taka tidak mengalir dalam permainannya. Jika mengamati permainannya di skuad Barca, David Villa seperti terasing dalam tim karena gaya permainannya tidak sama. Posisinya sebagai penyerang memang tidak banyak melibatkannya terlalu banyak dalam permainan, namun jika diberi ruang, dia akan langsung menjadikannya gol. Rasio golnya memang menurun ketimbang yang dia torehkan di Valencia, tapi hal itu banyak dikarenakan pergeseran posisinya ke sayap kiri untuk memberi tempat penyerang tengah kepada si fenomenal Lionel Messi. Diversitas permainan el guaje terlihat dari gayanya menyisir sayap kiri dan mengirim cross ke kotak penalti, padahal Messi jarang menyantap bola-bola seperti itu. Gaya seperti itu bukanlah Barca banget. Jatah penalti yang sudah hak milik la pulga juga turut menurunkan rasio golnya. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kehadirannya membuat serangan Barca semakin berbahaya. Tidak ada yang mampu melepas tembakan sebaik, seakurat, dan melepasnya di saat tidak terduga untuk mengejutkan kiper lawan, kecuali Messi mungkin.

Cedera retak tulang kering saat menghadapi Al Saad di Piala Dunia Antarklub adalah bencana bukan hanya untuk sang striker, tapi juga untuk Barcelona. Tanpa pemain yang telah mencetak 23 gol dalam satu setengah musim ini, Barcelona harus rela hanya kebagian Copa Del Rey. Ketiadaan pencetak gol alami yang mengandalkan insting dalam permainan sistematis Barcelona sangat terlihat dari laga El Classico jilid dua La Liga. Kala itu, Barcelona memang seperti biasa mengendalikan permainan, namun mereka baru membuat tembakan ke gawang di babak kedua. Ketiadaan seorang striker oportunis seperti dirinya belum mampu ditutup oleh barisan penggedor muda berbakat Barcelona macam Cristian Tello atau Isaac Cuenca, bahkan Alexis Sanchez sekalipun.

Imbas ke tim nasional Spanyol memang belum terbukti. Bangkitnya Fernando Torres setelah dua musim hanya menjual kaus di Chelsea sudah cukup mengurangi kekhawatiran Vicente Del Bosque akan ketajaman skuadnya. Permainan tiki taka memang terus berjalan, namun di tim nasional, sistem ini terbukti tidak menjadikan Spanyol tim yang produktif membobol gawang lawan.

Sajian teraktual di Piala Dunia 2010, Spanyol hanya mencetak masing-masing satu gol sejak babak knock-out hingga menjadi juara. Dalam tujuh gol yang total disarangkan Spanyol, empat diantaranya disumbangkan oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan David Villa. Spanyol boleh saja memiliki stok pemain berbakat yang melimpah, tapi andalan mereka untuk membuat gol tetap dipegang David Villa. Tanpa gol, sebuah tim tidak akan mampu menang. Dan selama ini ketergantungan Spanyol terhadap pemain berusia 30 tahun itu dalam mencetak gol terlampau besar. Di Euro 2008, dia memang absen di final. Namun gol-golnya berandil besar membawa skuad yang menduduki peringkat teratas FIFA ini melaju ke partai puncak.

Ketidakhadiran Carles Puyol, tidak stabilnya performa Gerard Pique musim ini dan merenggangnya hubungan antar pemain Barcelona dan Real Madrid akibat El Classico yang kerap dipanas-panasi oleh Jose Mourinho adalah kendala lain yang harus diatasi oleh Spanyol. Keberhasilan meraih dua gelar besar dalam dua turnamen terakhir memang membuat publik tetap menempatkan La Furia Roja sebagai unggulan, namun Xavi Hernandez sendiri seperti menyiratkan bahwa rasa penasaran gelar mereka telah usai. "Jika kami gagal menjuarai Euro 2012 maka hal ini bukanlah kegagalan karena kami telah memenangi Euro dan Piala Dunia di dua keikutsertaan terakhir kami."

Lalu, apakah Spanyol akan mampu melangkah jauh?

Tergantung Fernando Torres.