Pages

Showing posts with label Manchester United. Show all posts
Showing posts with label Manchester United. Show all posts

Friday, October 16, 2015

Membela Memphis Depay

Penyerang sayap Manchester United, Memphis Depay tengah tertekan. Ia dianggap gagal menjustifikasi harga mahal dan ekspektasi tinggi yang berada di pundaknya. Kritik pun datang dari banyak pihak, terutama pendukung.

Bahkan, di media sosial begitu banyak yang menyebut Depay hanyalah pemain dengan ego Cristiano Ronaldo, namun dengan kemampuan seperti Bebe. Begitu pula dalam pembicaraan warung kopi di sebuah daerah sub-urban Indonesia yang juga tidak ketinggalan memberi kritik pedas kepada pemain ini. Cerita seperti ini bukanlah hal baru di Manchester United, klub yang memang paling populer di dunia.

Memang tidak mudah untuk sukses di di klub seperti ini, tapi meski demikian, bukan berarti mereka yang gagal bersinar di sana adalah pemain yang buruk.

Final Liga Champions 1999 di stadion Camp Nou Barcelona dipandang sebagai salah satu laga final paling dramatis sepanjang sejarah kompetisi Liga Champions. United keluar sebagai juara setelah mencetak dua gol pada masa injury time untuk membalikkan ketertinggalan atas Bayern Muenchen.

Laga tersebut memang sudah lama berlalu, namun dampaknya dapat dirasakan United hingga sekarang. Bagaimana tidak, sejak kemenangan tersebut, penggemar-penggemar baru Red Devils bermunculan. Banyak pula di antara mereka yang saat itu baru melek sepak bola. 16 tahun telah berlalu sejak final itu, dan mereka yang saat itu baru melek sepak bola, kini mungkin sudah menjadi dedengkot di kelompok suporter mereka.

Fenomena ini pun tidak bisa disepelekan, karena dalam lansekap industri sepak bola, bertambahnya penggemar berarti bertambahnya reputasi dan uang. Laga 90 menit tersebut tidak pelak lagi adalah tonggak sejarah bagi United hingga mereka kemudian menjadi klub terpopuler dunia dengan jumlah pendukung yang diklaim oleh majalah Forbes sebanyak lebih dari 659 juta orang, atau sepersepuluh dari pendukung bumi. Artinya, satu dari sepuluh penduduk bumi adalah pendukung Manchester United! Luar biasa, bukan?

Reputasi United memang tidak dibangun dalam waktu sembilan puluh menit di Camp Nou saja. Sebelumnya, United telah memberi tanda-tanda bahwa mereka akan menjadi penguasa baru Liga Inggris. Selepas final ’99 itu, United memang mendominasi kompetisi domestik Inggris sekaligus menjadi pionir bagi mendunianya kompetisi Premier League menggeser kompetisi Seri A Italia yang berjaya tahun 90an. Belum lagi puja-puji pada banyak pemain mereka seperti Eric Cantona, Peter Schmeichel dan tentu saja Class of '92. Eks manajer Sir Alex Ferguson pun dipandang sebagai salah satu manajer sepak bola terbaik yang pernah ada.

Maka tidak mengherankan jika banyak pemain yang belum dianggap terkenal-terkenal amat jika mereka belum bermain di United, padahal di klub sebetulnya mereka sudah terkenal. Ambil contoh Matteo Darmian. Saat bek sayap ini masih bermain di Torino, siapa yang mengenalnya selain pemerhati Liga Italia? Kini, sepertinya pendukung United sudah tahu berapa ukuran sepatunya dan siapa nama orang tuanya. Contoh yang sama berlaku pada Ander Herrera dan Anthony Martial.

Kembali kepada Memphis Depay dan kritikan yang kini melandanya. Depay, yang baru berusia 21 tahun dibeli dari PSV Eindhoven dengan mahar 30 juga pounds pada awal musim ini. Ia datang ke Inggris membawa predikat topskor kompetisi Eredivisie Belanda. Oleh United, Depay diberikan nomor 7, yang sebelumnya dikenakan oleh pemain-pemain besar seperti Cantona, David Beckham dan Cristiano Ronaldo. Di mata pendukung United, Depay setidaknya lebih terkenal daripada Darmian, Martial atau Herrera, dan semestinya, ia langsung tokcer dan menjadi pemimpin serangan United.

Delapan laga pembuka Liga Primer Inggris dilaluinya dengan hanya sumbangan satu gol. Bukan hanya minim gol, pemain sayap kiri ini juga terlihat lemah dalam akurasi tendangan. Situs squawka pun mencatat hanya 44% tendangan Depay yang tepat sasaran. Ia pun beberapa kali menyia-nyiakan peluang bersih di depan gawang lawan dan juga kerap membuang momentum dengan terlalu banyak menggocek bola. Predikat flop sudah kadung divoniskan oleh para pendukung meski kompetisi masih berada di tahap awal.

Para pendukung ini sepertinya lupa, bahwa Cristiano Ronaldo pun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bersinar. Pada awal karirnya di United, Ronaldo lebih banyak dikenal sebagai pesepak bola egois yang doyan menggocek bola dan mewarnai rambut. Namun jelang kepindahannya ke Real Madrid, Ronaldo menjelma sebagai pemain terbaik dunia.

Bukan bermaksud membela Depay tanpa alasan, dan bukan bermaksud mengatakan bahwa Depay akan menjadi sehebat Ronaldo di masa depan, tapi memang sungguh prematur untuk menjatuhkan vonis gagal kepada pemain yang memang belum setengah musim merumput di Liga Primer Inggris. Tentu saja ada proses adaptasi yang perlu dijalani, belum lagi lingkungan baru, taktik yang berbeda serta atmosfer pertandingan yang juga jauh berbeda ketimbang di Eredivisie.

Bahkan, jika pun akhirnya Depay benar-benar gagal, ia sejatinya tidak perlu berkecil hati. Angel Di Maria tetaplah pemain yang sama hebatnya ketika ia dianggap gagal oleh United. Di PSG, ia tengah merajut jalan untuk menebus kegagalannya. Begitu pula pemain seperti Diego Forlan yang justru menunjukkan performa menanjak setelah meninggalkan United. Hal yang nyaris serupa juga terjadi pada Juan Sebastian Veron ataupun Jaap Stam.

Pendukung United memang boleh saja mengritik pemain-pemainnya, atau menghakimi mereka yang bermain buruk dan egois. Tapi percayalah, penilaian ini tidaklah menjadikan mereka pemain yang buruk. Mereka dapat pindah ke klub lain, dan menemukan permainan terbaik mereka di klub baru. Pemain yang pada dasarnya bagus, belum tentu bisa bermain baik di sebuah klub, atau sebuah liga. Terdapat unsur cocok-tidak cocok antara pemain, klub, liga, pelatih, gaya permainan dan lainnya. Dalam menilai sesuatu, memang tidak bisa hanya dari satu sisi saja.

Friday, November 2, 2012

The Debt United



Sebagai pendukung klub, mana yang anda pilih antara stabilitas keuangan yang bagus namun prestasi biasa saja atau performa lapangan yang bagus namun memiliki resiko besar di finansial? Jawabannya jelas relatif. Sebagai “pendukung sejati”, boleh jadi anda akan selalu membela apapun kebijakan klub, boleh jadi pula hanya peduli akan performa di lapangan dan tidak peduli akan tabel dan kurva njelimet yang menunjukkan performa keuangan klub. Namun suka atau tidak suka, angka-angka inilah yang menentukan kelangsungan hidup sebuah klub.

Ambil contoh Leeds United. Para pendukung klub ini sempat mengalami ketegangan membanggakan saat berlaga di semi final Liga Champions musim 2000/2001. Anda yang sudah bermain Playstation sejak era Winning Eleven 12 tahun lalu mungkin senang memakai tim ini sebagai jagoan karena lawan akan sulit menandingi kecepatan lari Harry Kewell, kemampuan duel udara Mark Viduka, kekuatan bertahan Rio Ferdinand, hingga akuratnya tendangan bebas kaki kiri Ian Harte.

Kekalahan di semifinal Liga Champions ternyata tidak terbayar oleh hasil di Liga Primer. Leeds hanya menduduki peringkat kelima karena kalah bersaing dengan Newcastle United. Kegagalan lolos ke Liga Champions ini berbuntut panjang karena berarti kegagalan mendapatkan pemasukan besar untuk melunasi utang-utang mereka.

Disitulah awal kehancuran The Whites dimulai. Pemain-pemain hebat tersebut tidak mampu menyelamatkan klub dari kebangkrutan. Nyatanya, hutang yang timbul akibat kebijakan transfer dan gaji tinggi pemain membuat kehebatan Leeds tergerus hingga harus menjual pemain-pemain mahal mereka. Pelucutan kekuatan tim membuat performa semakin menurun. Setelah terdegradasi ke Championship Division musim 2003/2004, Leeds masuk administrasi tahun 2007, yang kemudian mengharuskan mereka bermain di divisi tiga. Anda tentu tidak mau klub favorit anda bernasib seperti itu.

Kekhawatiran akan jeratan badai finansial mulai menghinggapi pendukung Manchester United sejak tahun 2005. United mulai menjadi klub dengan hutang menumpuk sejak Malcolm Glaazer mengambil alih klub 7 tahun lalu. Seperti dilansir CNBC, Glazer mengambilalih Manchester United dengan nilai 1,4 miliar US Dollar. Glazer membeli klub dengan utang sebesar 600 juta US Dollar untuk mengakuisisi klub yang menurut survei memiliki 659 juta pendukung di seluruh dunia (sumber lain 330 juta) dari pengusaha Irlandia John Magnier dan JP McManus. Sebuah klub dengan image global.

Hutang tentu saja berbunga. Hutang akuisisi United membebankan setan merah pada kewajiban membayar bunga sebesar 60 juta poudsterling per tahunnya. Glazer tahu persis bahwa dengan image yang mendunia, pendapatan komersial United akan sanggup melunasi pembayaran bunga hutangnya. Tidak heran, banyak suporter United yang membenci Glazer karena hal ini tentu melemahkan United di bursa transfer.

Ironis memang karena dari perspektif finansial, United selalu menjadi salah satu yang terdepan. Firma keuangan Deloitte menempatkan United di posisi ketiga Deloitte Football Money League 2011 dan majalah Forbes menempatkan United sebagai The Most Valuable Soccer Club selama 8 tahun berturut-turut.

Selama ini, Glazer dapat duduk tenang di rumahnya di Florida, jauh dari markas latihan United di Carrington. Glazer yang jarang menonton langsung di Old Trafford juga tidak pernah mendengarkan nyanyian pengusirannya oleh para pendukung. Dia juga mungkin tidak peduli-peduli amat pada syal hijau-emas yang diayun-ayunkan puluhan ribu pendukung yang diinisiasi oleh sekelompok pendukung yang tergabung dalam MUST (Manchester United Supporters Trust). Toh selama dalam kepemilikannya prestasi United tetaplah stabil. 4 gelar Premiership, sebuah gelar Liga Champions plus dua kali menjadi finalis dalam kurun waktu 7 tahun jelas bukan prestasi buruk, malah menjadi catatan positif dalam Curiculum Vitae sang pengusaha.

Glazer mungkin tidak terlalu mengerti sepak bola, namun setidaknya dia tahu bahwa prestasi demi prestasi yang ditorehkan skuad Sir Alex Ferguson akan mengalihkan perhatian para suporter pada sektor finansial. United memang tetap bertahan sebagai klub elit berkat tangan dingin Fergie dan pemain-pemain seperti Paul Scholes, Nemanja Vidic, Wayne Rooney, Ryan Giggs dan Patrice Evra yang mampu bermain dengan standar tertinggi mereka dalam waktu yang lama.

Glazer ”hanya” mengeluarkan uang transfer pemain sebesar 150 juta euro (bersih), bandingkan dengan Roman Abramovich yang memoles Chelski dan Sheik Mansour dengan jumlah jauh lebih besar. Glazer bahkan harus menjual Cristiano Ronaldo seharga 80 juta euro ke Real Madrid karena United memang tidak lagi memiliki cukup taji di bursa transfer. Sementara Chelsea menggunakan utang untuk membeli pemain dan Arsenal menggunakannya untuk membangun stadion, hutang Manchester United selama ini yang berjumlah nyaris 500 juta pound tersebut diputar oleh Glazers untuk membeli perusahaan lain. Kebencian suporter makin membesar ketika harga tiket terus naik. Dengan kenaikan harga tiket hingga 42% sejak Glazer mengambilalih klub, Glazer telah mengambil sepak bola dari kaum pekerja.

Keadaan menjadi tidak bersahabat bagi pengusaha keturunan Yahudi Lithuania ini musim lalu. Kalah selisih gol dari Manchester City di Premier League dan tersingkir di babak penyisihan grup Liga Champions adalah sinyal tanda bahaya. Tidak ingin suporter semakin berisik, Glazer mengambil langkah strategis dengan menggelar Initial Public Offering (IPO) saham United di New York.

Glazer memiliki alasan bagus mengapa mengadakannya di New York. Investor Amerika Serikat familiar dengan kepemilikan Glazer pada klub NFL Tampa Bay Buccaners dan First Allied Corp, selain itu penempatan Manchester United sebagai Most Valuavble Soccer Club oleh majalah Forbes yang berbasis di Amerika Serikat juga ditengarai akan menempatkan United pada posisi tawar yang bagus. Tidak hanya itu, Glazer memindahkan markas holding company United ke Cayman Island, yurisdiksi Tax Haven yang dikenal memegang erat kerahasiaan bank dan tarif pajaknya rendah. Dengan demikian, United adalah klub asal kota Manchester di Inggris dengan pemilik di Florida, sahamnya terdaftar di NYSE, dan perusahaan induknya berlokasi di Cayman Island. Makin lama makin mirip Lord Voldemort dengan horcrux-nya.

Tujuan dari IPO senilai 100 juta US Dollar tersebut seperti telah banyak dikupas oleh media, adalah untuk membantu mengurangi hutang dari klub termasuk bunganya. Teorinya, dengan dibayarnya bunga, beban keuangan klub tentu akan berkurang, dan United memiliki dana segar untuk bermain di bursa transfer pemain.

Namun kabar terakhir justru menyebutkan bahwa harga saham United kini berada di kisaran 14 US Dollar per lembar, bukan 16-18 seperti ekspektasi mereka sebelumnya. Chris Smith dari Forbes bahkan tidak menyarankan untuk membeli saham A United, saham yang dilepas untuk publik. Saham yang tidak akan membuat anda memperoleh dividen dan hanya bernilai sepersepuluh dari saham B yang dimiliki pihak keluarga Glazer. Sejarah juga berbicara bahwa tim-tim olahraga bukanlah ”pemain” yang bagus di bursa saham. Jangan lupa bahwa dengan skema ini, Glazer tidak akan kehilangan kekuasaannya atas United.

Kedatangan Robin Van Persie dan Shinji Kagawa dengan total lebih dari 40 juta pound adalah bentuk pancingan dan kibasan angin surga yang dilakukan Glazer kepada fans United untuk menunjukkan bahwa United baik-baik saja dan Opa Glazer amat peduli pada klub ini. Ini juga ditunjang dengan deal baru terkait sponsorship senilai 200 juta pound dengan Chevrolet untuk durasi 7 tahun, tentu akan tetap memberikan pemasukan komersial yang besar sekaligus memperpanjang kiprah Glazer di United.

Keluarga Glazer percaya meskipun ditangan mereka Manchester United bertransformasi menjadi The Debt United, namun dengan skema-skema transaksi keuangan canggih yang kerap mereka jalankan plus tangan dingin Fergie, semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya begitulah menurut mereka, untuk saat ini.

(Tulisan ini telah dimuat di @bolatotal - www.bolatotal.com -)

Wednesday, August 29, 2012

Kenapa Robin Van Persie Harus Pindah ke Manchester United


Robin Van Persie, yang ditunggu akhirnya datang
 
Saga transfer paling dinanti di musim baru 2012/2013 ini tidak lain adalah saga transfer penyerang asal Belanda, Robin Van Persie. Striker 29 tahun yang musim lalu menjadi pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris ini pada akhirnya berlabuh di klub rival, Manchester United dengan nilai transfer 24 juta poundsterling.

Van Persie mendapat gaji 200 ribu pound per minggu, ada pula yang menyebut 250 ribu, dan akan mengenakan kostum bernomor 20 yang terakhir digunakan oleh striker legendaris United, Ole Gunnar Solksjaer.

Setelah melalui saga yang melelahkan, Manchester United akhirnya yang menjadi pilihan sang penyerang mengalahkan Juventus dan Manchester City sebagai pesaing mereka. Dalam wawancaranya pasca perkenalan dengan tim barunya itu, Van Persie menyebut bahwa dia membutuhkan tantangan baru dari karirnya. “Tantangan” yang dapat juga diartikan sebagai trofi, sesuatu yang sulit ia dapatkan bersama Arsenal.

Bukannya mengikuti eksodus pemain Arsenal ke Manchester City, Van Persie justru memilih United. Sempat pula terdengar kabar bahwa sang pemain tertarik bergabung dengan Juventus, namun dengan situasi Juventus yang tengah kisruh akibat skandal pengaturan skor yang menimpa pelatih Antonio Conte, Van Persie akhirnya urung bergabung ke klub tersukses Italia asal kota Turin tersebut.

Tidak ada yang tahu apakah keputusan Van Persie benar atau salah sebelum musim 2012/2013 berakhir, tetapi memilih Manchester United adalah pilihan logis bagi sang striker yang kini dianggap sebagai pemain “nomor sembilan” terbaik dunia saat ini. Manchester City mungkin tim yang komplet, namun lini depan yang telah sesak dengan pemain bintang akan sangat membatasi peran the Dutchman. Selain itu tanpa mengecilkan pelatih lainnya, Sir Alex Ferguson adalah salah satu pelatih tersukses di Eropa yang telah teruji berkali-kali mampu mengeluarkan sisi terbaik anak asuhannya.

Ferguson pasti sadar sepenuhnya saat menyebut Van Persie adalah pemain yang akan menjadi penerus Eric Cantona, mantan anak emasnya yang mampu menjadi penyelesai serangan dengan kemampuan kelas dunia yang sekaligus menjadi katalis tim yang dibelanya.

Fergie juga menyebut bahwa kedatangan Van Persie akan menghindarkan United dari kegagalan pahit musim lalu saat hanya kalah selisih gol dari rival sekota Manchester City. Gol-gol sang penyerang akan mengubah peruntungan United. Kehadiran Van Persie juga diyakini akan membuat suksesi United berjalan mulus. Sudah veterannya Paul Scholes dan Ryan Giggs tentu memberikan lubang regenerasi yang menganga bagi United, dan Fergie menilai bahwa Van Persie siap mengemban harapan tersebut.

Bagaimana Van Persie bisa menyatu dengan taktik United? Mengingat potensi terbaik Van Persie keluar saat dimainkan sebagai ujung tombak, Fergie bisa dengan leluasa menempatkannya didepan Wayne Rooney atau Danny Welbeck, dengan Javier Hernandez sebagai pelapisnya. Dukungan dari Shinji Kagawa, Nani, Antonio Valencia, Tom Cleverley atau Paul Scholes juga siap didapatkannya.

Fergie perlu mencermati bahwa musim lalu banyak gol Van Persie berasal dari umpan terobosan brilian dari Alex Song. Untuk itu, Fergie perlu memaksimalkan peran pemain-pemain kreatif macam Kagawa, Scholes maupun Cleverley dengan kombinasi tusukan dari kedua sayap yang menjadi ciri khas serangan Manchester United selama ini. Tambahan lagi, kedatangan Van Persie kini membuat United memiliki dua striker yang menempati pos dua besar pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris musim lalu.

Hal lain yang perlu diperhatikan Fergie adalah Wayne Rooney. Keberadaan Van Persie-Rooney di lini depan United memang akan menggelorakan harapan para suporter akan terciptanya duet penyerang super, seperti yang terjalin pada Andy Cole-Dwight Yorke yang membawa United memenangi treble winner tahun 1999. Namun, Wayne Rooney bukanlah tipe penyerang yang “klik” dengan duetnya jika dilihat dari sepak terjangnya bersama United selama ini.

Rooney berkali-kali dikorbankan menjadi “orang kedua” saat Ruud Van Nistelrooy dan Cristiano Ronaldo masih bercokol di Old Trafford. Selepas kedua orang itu pergi, Rooney menjadi “bintang utama” United yang cenderung tidak dapat berbagi peran dengan rekan duetnya. Kombinasinya dengan Dimitar Berbatov, Danny Welbeck maupun Javier Hernandez memang tidaklah buruk, namun hanya Rooney yang terlihat paling bersinar ketimbang mereka. The Shrek sepertinya sulit untuk dikorbankan lagi.

Dilain pihak, Van Persie juga terbiasa dengan status bintang utama di Arsenal. Dengan reputasi sebagai pencetak gol terbanyak plus permainan yang sedang berada pada puncaknya, Van Persie boleh jadi tidak akan terima menjadi “pemain kedua” dibelakang Rooney. Adalah PR terbesar Fergie untuk mengatasi persoalan ini. Ditangannya kini telah terhampar dua senjata termutakhir di liga yang boleh jadi bagai pisau bermata dua. Boleh jadi membuat timnya semakin kuat, atau sebaliknya akan membuat kekuatan timnya terkikis karena ego kebintangan yang sulit dihilangkan dari keduanya.

Well, Van Persie tentu telah mempertimbangkan hal ini sebelum memutuskan pindah ke United. Peluang meraih gelar yang lebih besar bersama klub sesukses Manchester United membuatnya berani menerima segala beban dan menjawab segala tantangan yang kini berada dihadapannya, termasuk mengenai pembagian perannya dengan Wayne Rooney, partnernya kini. Dan melihat gol setengah volinya ke gawang Fulham minggu lalu, banyak suporter United yang pasti berpikir "Harusnya dari dulu punya yang begini."

Saturday, October 29, 2011

Kesaktian Sir Alex Ferguson

Apa yg membuat Manchester United begitu digdaya dan disegani? Plus dikabarkan punya market terluas di dunia, punya jumlah suporter terbanyak di dunia? Gampang. Paling enak kalo liat lemari gelar mereka dalam 20 tahun terakhir, tepatnya 5 tahun setelah Sir Alex Ferguson mulai melatih disana.

Semua kesuksesan ini adalah bisa dibilang mahakarya dari seorang Sir Alex Ferguson. Gelar demi gelar udah berhasil diraih opa karismatik ini bersama skuadnya. Kalo saya perhatiin, Sir Alex gak sekedar punya ilmu kepelatihan yg bagus, tapi lebih dari itu adalah kemampuan manajerialnya yg mencakup kemampuan memotivasi pemain mengeluarkan kemampuan terbaiknya, melindungi pemain dari sorotan berlebihan media, menemukan bakat2 istimewa dan merangkulnya masuk tim, dan tidak lupa memanfaatkan pemain binaan akademi lalu kemudian menjadikan mereka pemain bintang.

Fergie juga adalah seorang bos tangan besi. Dia paling anti sama pemain tengil dan gak bisa fokus sama sepakbola. Gak pernah segan2 juga dia ngusir pemain keluar dari klub, walaupun si pemain berstatus bintang. Contohnya insiden sambit sepatu ke David Beckham dan perseteruannya dengan Jaap Stam yg berimbas sang raksasa hengkang ke Lazio. Tapi biarpun begitu, Fergie terhitung jarang menjelek2an pemainnya di media. Cuma sekali gw denger dia ngomelin Rio Ferdinand dan Patrice Evra saat dibantai Manchester City 6-1 dalam kekalahan terburuk sepanjang karir kepelatihan Fergie.

Fergie gak segan pula memaki dan protes kepada wasit saat keputusan korps baju hitam itu dia nilai merugikan timnya, juga bersitegang dengan manajer klub lain seperti Arsene Wenger dan Jose Mourinho. Mourinho boleh mengklaim dirinya sendiri sebagai pelatih terbaik, tapi Fergie sampai saat ini masih yg tersukses. Ukurannya adalah Fergie mampu menjaga konsistensi dan prestasi klub walaupun pemain datang dan pergi.

Menelaah kelebihan Fergie soal strategi bermain, The Scotsman ini bisa memainkan pola apa aja dengan syarat formasi pertahanan diisi 4 orang. 2 center back tangguh dan 2 full back disiplin adalah harga mati taktik Sir Alex. Dari jaman Paul Parker-Steve Bruce-Garry Pallister-Dennis Irwin, lalu Garry Neville-Jaap Stam-Ronny Johnsen-Mikael Silvestre, sampai Phil Jones-Rio Ferdinand-Nemanja Vidic-Patrice Evra semua adalah jagal2 tangguh yg setia menjaga benteng United. Lalu ditengah dan depan bisa diisi siapa aja karena Fergie gak pernah terpaku sama pola tertentu, misalnya kaya Zdenek Zeman yg maniak 4-3-3 atau Alberto Zaccheroni yg doyan 3-4-3

Faktor yg membantu versatilitas Fergie adalah tentu kedalaman skuad. Dia gak pernah bingung kalo 3 bahkan 4 pemainnya terkapar di ruang medis tim, karena selalu punya pengganti sepadan yg gak akan mengurangi kekuatan skuadnya. Fergie juga ogah mengandalkan seorang atau dua orang bintang. Kolektivitas adalah segalanya, tidak ada pemain yg tidak tergantikan. Ditangan Fergie pula pemain2 MU jadi pemain yg punya kemampuan multiposisi. Kecuali Phil Jones yg memang fleksibel dari sononya, Fergie menuntut pemain2 lain MU bisa menjalankan berbagai peran. Pemain2 versatile inilah yg memudahkan kerja sang bos. Wayne Rooney pernah dicobanya jadi sayap kiri dan gelandang tengah, padahal semua tau kalo posisi naturalnya adalah striker. Begitu pula Antonio Valencia yg disulap jadi bek kanan.

Dengan pengalamannya lebih dari 25 tahun menangani MU, Fergie tau benar dapur dari klub berjuluk setan merah ini, termasuk pengetahuan mengenai sepakbola Inggris dimana gak heran dia adalah pelatih terlama sepanjang sejarah MU, dan termasuk salah satu di dunia yg terlama menukangi sebuah klub. Tapi Fergie gak bisa berbohong sama usianya yg makin uzur. 2-3 tahun lalu sempat menyatakan minat untuk pensiun, tapi manajemen, pemain dan fans selalu membujuknya buat bertahan. Jika tiba waktunya Fergie benar2 gak beredar lagi di Carrington, PR besar menanti manajemen MU. So, be prepare to hijack Pep or Mou!