Pages

Showing posts with label Post-match review. Show all posts
Showing posts with label Post-match review. Show all posts

Monday, July 2, 2012

Post match review Final Euro 2012: Spanyol vs Italia


Spanyol, Raja diantara Raja

Suatu sore, saya manyaksikan sebuah tayangan menyangkut siapa bangsa yang paling unggul di dunia sepakbola. Salah satu bangsa yang disebut tentu saja bangsa yang mengklaim sebagai penemu olahraga paling ngetop sejagat ini yaitu Inggris. Mereka pertama memainkan olahraga mirip sepakbola bernama Royal Shrovetide Football Match pada abad 12 di kota Ashbourne di Derbyshire, Inggris. Olahraga yang dimainkan selama dua hari disaat shrove tuesday dan ash wednesday lebih menyerupai rugby dan bola tersebut dibawa mengelilingi kota.
Kemudian olahraga itu dimainkan pula di Universitas Cambridge dimana mulai dirumuskan beberapa peraturan, yang akhirnya dihasilkan dari pertemuan di sebuah cafe para anggota perkumpulan Freemason di Grant Queen Street, London. Dalam peraturan yang salah satunya melarang penggunaan tangan dalam bermain itulah cikal bakal sepakbola modern hingga saat ini.
Namun segala kejayaan mereka sebagai bangsa dengan jumlah jajahan terbanyak saat ini seolah tidak terjadi di dunia permainan yang mereka temukan, yaitu sepakbola. Mereka hanya bisa menjuarai Piala Dunia satu kali, yaitu saat kejuaraan berlangsung di rumah sendiri. Setelah itu, Inggris lebih akrab dengan berbagai kegagalan, dan sejak tahun 2000an, The Three Lions lebih banyak menjadi sirkus media akibat tingkah pemain-pemainnya diluar lapangan dan kompetisi English Premier League yang mereka klaim sebagai kompetisi sepakbola terbaik dunia, namun tidak dengan tim nasionalnya.
 
Bangsa berikutnya adalah Jerman. Adolf "Adi" Dassler, selain berjasa dalam prestasi empat medali emas Jesse Owens di Olimpiade 1928, dia adalah pencetus sejarah sepakbola Jerman. Adik dari Rudolf Dassler (selanjutnya dikenal sebagai founder produk Puma) ini mendesain sepatu yang mampu mengatasi problem lapangan becek. Hal ini berandil besar dalam kejayaan tim asuhan Sepp Herberger. Sepatu Adidas kreasi kepala perlengkapan olahraga tim nasional Jerman itu membawa timnya berhasil meraih gelar Piala Dunia tahun 1954. Itu terjadi hanya empat tahun setelah negara itu tercatat sebagai anggota FIFA. Jerman menjadi juara dengan mengalahkan tim yang saat itu superior, The Magyars Hungaria. Sejak saat itu, Jerman menancapkan kukunya sebagai salah satu raksasa sepakbola dunia dengan tiga gelar Piala Dunia dan tiga gelar Piala Eropa.
Sedikit ke selatan di dekat laut Mediterania, terdapat bangsa Romawi yang memainkan olahraga sejenis sepakbola. Olahraga itu dikenal dengan nama harpastum yang dimainkan di masa kerajaan Romawi. Selanjutnya setelah abad ke 16, olahraga bernama calcio yang berasal dari kata "kick" di Piazza Santa Croce kota Firenze. Saat itu Calcio hanya dimainkan oleh para bangsawan dan rakyat biasa hanya menonton. Permainan tersebut masih menggunakan tangan. Beberapa abad kemudian, bangsa Italia kemudian membuktikan kelasnya dengan menjuarai 4 kali Piala Dunia dan sekali Piala Eropa.

Lalu ke benua latin, kita menemukan sebuah negara tropis besar bernama Brasil. Thomas Donahue, seorang pekerja asal Skotlandia dan Charles William Miller membawa sepakbola di akhir abad 19 ke satu-satunya negara Amerika Latin berbahasa Portugis ini. Negara juara dunia 5 kali ini sudah pasti disebut juara sejati sepakbola karena prestasi mereka yang masih tak tertandingi hingga kini. Orang boleh jadi mengenal Pele, Garrincha, Rivelino, Jarzihno, Romario, Rivaldo, Ronaldo, atau Ronaldinho. Tidak banyak yang mengenal Arthur Freidenreich sebagai salah satu pemain legendaris mereka. Freidenreich adalah pemain kulit hitam pertama yang mampu menembus tim sepakbola yang saat itu didominasi oleh kaum putih. Freidenreich juga tercatat sebagai orang pertama yang menemukan tendangan pisang.

Namun jika banyak orang masih memperdebatkan siapa bangsa paling unggul di dunia sepakbola, saya beranggapan bahwa pertanyaan besar tadi sudah terjawab semalam. Bangsa-bangsa itu harus menyingkirkan perdebatan sebagai bangsa penguasa sepakbola kepada Spanyol.


Spanyol mampu menyempurnakan penampilan tak terkalahkan mereka sepanjang gelaran Euro 2012 dengan kemenangan telak 4-0 atas salah satu bangsa unggul sepakbola lainnya, Italia. Dengan kemenangan ini, Spanyol menjadi negara pertama yang mempertahankan gelar Piala Eropa, sekaligus negara pertama yang mampu memenangi tiga kejuaraan besar terakhir yang mereka ikuti. Sebuah pencapaian yang sangat sulit dilewati oleh negara manapun.
La Furia Roja mampu mematahkan segala mitos, anomali, kritik sepakbola membosankan tiki-taka, taktik tanpa striker, maupun keraguan akan performa mereka yang cenderung mengalami grafik menurun sebelum menghadapi Italia di final. Mereka menjawab semuanya dengan penuh gaya, kemenangan telak empat gol tanpa balas atas tim yang justru dikenal karena pertahanan kokohnya.

Italia sebenarnya memiliki grafik performa yang meningkat dibanding Spanyol. Penampilan gagah gli azzuri di babak semifinal menyingkirkan Jerman adalah salah satu penampilan terbaik di turnamen ini, sementara Spanyol hanya menang adu penalti melawan Portugal dalam sebuah partai membosankan. Namun ternyata penampilan Italia melawan Jerman adalah penampilan puncak mereka. Tim biru tidak mampu mempertahankan bentuk terbaik saat menghadapi sang juara bertahan.
La Nazionale bermain terbuka membiarkan para pemain Spanyol bebas berkreasi. Pressing ketat yang mereka lancarkan ketika menghadapi Jerman nampak tak berbekas karena faktor kelelahan dan konsentrasi. Permainan duo Claudio Marchisio-Daniele De Rossi juga tidak dalam titik optimal sehingga Andrea Pirlo yang juga tidak diberikan ruang oleh Xavi dan Iniesta tidak mampu melepaskan umpan-umpan dan mengatur permainan seperti biasanya. Faktor kebugaran ini pula yang membuat para Italiano tidak tampil seperti biasanya.
Cesare Prandelli kali ini harus mengakui kemenangan taktik Vicente Del Bosque yang tetap keukeuh memainkan pola false nine dengan menempatkan Cesc Fabregas di posisi penyerang palsu tersebut. Terbukti gerakan cerdik Cesc mampu melahirkan gol pertama yang disumbangkan David Silva. Prandelli tidak cepat menginstruksikan pressing ketat dan proteksi para gelandang akan serangan balik cepat Spanyol, terbukti gol Jordi Alba kemudian praktis mengakhiri perlawanan mereka di babak pertama.
Prandelli sebetulnya memiliki opsi di babak kedua untuk mengembalikan skema tiga bek, yang di pertemuan mereka di babak penyisihan terbukti mampu mengimbangi Spanyol. Riccardo Montolivo yang sebenarnya bermain paling bagus di lapangan tengah malah ditarik keluar dan diganti Thiago Motta, yang ironisnya langsung mengalami cedera di sentuhan pertamanya. Ketinggalan dua gol, jatah pergantian pemain habis dan harus bermain dengan sepuluh orang menghadapi tim terbaik dunia adalah sebuah situasi yang sangat mengenaskan bagi Italia. Dua gol tambahan dari duo Chelsea, Torres dan Juan Mata akhirnya menutup malam bersejarah bagi Spanyol, kontras dengan Italia. Italia tidak mampu menang dengan kekuatan anomali mereka, termasuk melanjutkan trend tim biru setelah Chelsea yang mampu meraih gelar tahun ini. Segala mitos dan mistis tersebut patah oleh tiki-taka Spanyol.
Espana makin menyempurnakan malam mereka dengan rekor-rekor dan berbagai penghargaan yang diraih para punggawa mereka. Iker Casillas menjadi pemain dengan rekor 100 kemenangan di tim nasional, dan kemenangan ke 100 tersebut diraih semalam. Centurion. Sementara Sergio Busquets di usia yang baru menginjak 23 tahun telah memenangi seluruh kejuaraan besar yang mungkin diraih oleh seorang pesepakbola. Busquets telah meraih gelar La Liga (3 kali), Copa Del Rey (2 kali), Liga Champions (2 kali), Piala Super Eropa (2 kali), Piala Dunia Antarklub (2 kali), Piala Eropa (2 kali) dan Piala Dunia (1 kali). Selain itu, Fernando Torres secara dramatis meraih sepatu emas dengan total tiga golnya selama Euro 2012. Gelar itu diraihnya dengan mengumpulkan menit lebih sedikit daripada para pesaingnya dan jumlah sebuah assist yang sama dengan yang dikumpulkan Mario Gomez. Gelar pemain terbaik juga naga-naganya akan diraih tidak jauh dari Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Iker Casillas atau Cesc Fabregas.

Gelar tidak resmi sebagai bangsa paling unggul di dunia sepakbola sebenarnya bukan sekadar prestasi tim nasional mereka. Klub-klub mereka juga tidak tersaingi secara prestasi maupun kekuatan finansial. Sepak terjang Barcelona yang dalam 5 tahun terakhir berhasil meraih banyak gelar dan Real Madrid yang dinobatkan sebagai klub abad ke 20 membuat negeri Iberia tersebut patut menyebut diri mereka sebagai raja diantara raja.
Sejarah baru telah diukir. Sekarang, siapa bisa hentikan Spanyol?

Friday, June 29, 2012

Post Match Review Euro 2012: Jerman vs Italia

Mario Balotelli, meledak disaat yang tepat

Beberapa jam sebelum pertandingan Jerman melawan Italia, saya melakukan chat dengan beberapa teman yang merupakan pendukung klub-klub seri a. Ada pendukung Milan seperti saya, dan ada juga seorang Internisti. Mereka seperti sepakat untuk tidak mendukung tim nasional Italia karena la nazionale sekarang didominasi oleh pemain-pemain dari klub rival, Juventus.

Percakapan cheesy itu segera saya tinggalkan. Hal itu mengingatkan saya juga akan tweet dari para MU-haters yang menjelek-jelekkan Wayne Rooney dan Danny Welbeck di tim nasional Inggris. Tidaklah apple to apple membandingkan klub dengan negara, dan tidaklah relevan membawa-bawa fanatisme klub terlalu berlebihan untuk mendukung negaranya. Lagipula inipun negara orang nun jauh disana dan pertandingan ini tidak akan memberi dampak apapun kepada Indonesia. Ya, kitalah negeri para penonton yang rela ribut-ribut dan begadang demi menyaksikan pertunjukan bangsa lain. Saya gak mau ambil bagian yang ribut-ribut dan ribet-ribetnya, tapi saya rela begadang. Saya ingin begadang menyaksikan tim nasional favorit nomor dua setelah tim nasional Indonesia dan ingin menyaksikan pertandingan yang saya yakin akan berlangsung seru dan menarik. Mungkin juga penuh drama.

Jerman sangat banyak diunggulkan karena berbagai faktor. Namun italia memiliki keunggulan historis sebagai tim yang tidak pernah mampu ditundukkan Jerman dalam 7 kali pertemuan, yang dua diantaranya terjadi di Euro dengan hasil 1-1 pada tahun 1988 dan 0-0 pada tahun 1996. Dalam hal produktivitas selama turnamen, Jerman boleh berbangga karena hingga semifinal, mereka mampu mencetak 9 gol sementara Italia hanya 4, paling sedikit diantara semifinalis. Italia juga tim yang sepanjang sejarah tidak mampu mencetak gol ke gawang lawan di semifinal Euro.

Jerman menurunkan formasi dengan pakem andalan mereka yaitu 4-2-3-1 fluid dengan dua gelandang pivot Sami Khedira dan Bastian Schweinsteiger menopang tiga gelandang serang Lukas Podolski, Mesut Ozil dan.. Wow Toni Kroos. Sebuah kejutan kecil buat saya karena dengan dipasangnya Kroos yang lebih suka bermain di sentral permainan, Situs Zonal Marking juga ternyata sama terkejutnya. Jerman akan menumpuk gelandang untuk menghambat kinerja Andrea Pirlo di jantung permainan Italia. Lalu di depan, Mario Gomez yang berupaya mengejar gelar topskor dipasang sebagai ujung tombak. Di belakang dan penjaga gawang, susunan mereka sama.

Cesare Prandelli, yang sebelum pertandingan tim asuhannya dilanda masalah kebugaran sebenarnya agak membuat sedikit dahi berkerut dengan menempatkan 3 pemain berposisi natural center-back dan menempatkan seorang pemain kidal di sisi kanan pertahanannya. Hal ini karena Ignazio Abate dikabarkan tidak fit dan Cristian Maggio terkena hukuman akumulasi kartu kuning. Dengan dipasangnya Federico Balzaretti di posisi bek kanan, Prandelli memiliki seorang inverted full-back dalam timnya.

Pangeran Siahaan, seorang pecinta sepakbola, dalam salah satu artikelnya pernah menuliskan bahwa salah satu tujuan dipasangnya seorang inverted full-back adalah untuk menanggulangi bahaya yang ditimbulkan oleh inverted winger lawan. Saya tidak melihat seorang inverted winger di posisi head to head Balzaretti, karena disitu berdiri Lukas Podolski, seorang kidal murni yang hanya menggunakan kaki kanannya untuk berjalan. Namun melihat orang dibelakang Podolski, saya baru paham karena disitu ada Philip Lahm, juga seorang inverted full-back yang sangat lihai membantu serangan dan cukup produktif mencetak gol dan assist.

Di tengah hingga kedepan, Prandelli memasang pemain yang persis seperti ketika mereka mengalahkan Inggris. Andrea Pirlo dilindungi oleh dua gelandang pekerja yang pandai dalam menerapkan taktik, Claudio Marchisio dan Daniele De Rossi. Sementara Riccardo Montolivo dipercaya sebagai trequartista menopang duet maverick, Antonio Cassano dan Mario Balotelli.

Jerman sebenarnya memulai pertandingan dengan baik. Mereka mengambil inisiatif serangan melalui permainan cepat yang mereka kembangkan. Mesut Ozil lebih banyak bergerak ke kanan tempat Giorgio Chiellini beroperasi. Chiellini yang sejatinya adalah seorang bek tengah tampil amat disiplin menjaga daerahnya, meskipun beberapa kali Ozil dan Jerome Boateng mengancam lewat posisinya.

Sementara Lukas Podolski sayangnya seperti menghilang di lapangan. Hal ini memaksa Philip Lahm bekerja lebih keras menyokong serangan dari sisi kiri. Cederanya Abate seperti blessing in disguise bagi anak asuh Prandelli karena keterbatasan Balzaretti yang tidak nyaman menyerang melalui sisi kanan membuatnya lebih banyak statis di posisinya yang justru membuat Lahm dan Podolski terhambat. Meski demikian, Jerman sempat memperoleh kans bagus ketika sodokan Mario Gomez dari sebuah sepak pojok mempu menaklukkan Gianluigi Buffon, namun Pirlo yang berdiri di garis gawang mampu mengamankan bola dengan tenang.

Pirlo, seperti biasa, bagaikan seorang dirigen yang handal mengalirkan bola ke segala arah dan merusak konsentrasi pertahanan Jerman. Pirlo walaupun mengeluhkan waktu istirahat yang lebih cepat dua hari ketimbang Jerman sebenarnya menyimpan keuntungan yang mungkin dia tidak sadari. Dengan bermain di Juventus yang tidak mengikuti kompetisi eropa musim 2011/2012, Pirlo hanya tampil di kisaran 30-40 pertandingan. Bandingkan dengan Ozil yang tampil lebih dari 50 kali untuk Real Madrid. Ozil, seorang playmaker jempolan dan calon pemain terbaik di masa depan menyaingi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dalam pertandingan semalam tampil di sisi kanan. Kekurangan Ozil yang kurang memiliki awareness dalam membantu Boateng bertahan, dimanfaatkan dengan baik oleh Chiellini yang sesekali naik membantu serangan, juga Antonio Cassano yang memiliki tendensi menyerang dari sisi kiri lalu mengeluarkan passing magis ataupun crossingnya.

Dan salah satu gerakan cerdik sederhana yang diakhiri crossing sempurna, fantanito membuat Balotelli yang dengan keunggulan fisiknya mampu mengatasi duel udara dengan Holger Badstuber. Gol ke 21 lewat sundulan di turnamen ini sekaligus gol pertama Italia di babak semifinal. Ini juga menandai pertama kalinya Jerman tertinggal terlebih dahulu di turnamen ini. Italia lebih menunggu serangan lawan ketika unggul satu gol. Hal ini sempat membuat Jerman kembali tersengat untuk menyerang pertahanan Italia. Para gelandang Italia yang bermain dengan formasi diamond dan rapat kembali menjadi perisai yang sangat kokoh bagi lini belakang. Kali ini setelah bola mampu direbut, Riccardo Montolivo dengan kemampuan long pass yang eksepsional mampu membebaskan Balotelli dari penjagaan duet Badstuber dan Mats Hummels yang tiba-tiba limbung seperti para bek lawan era 90an ketika menghadapi Gabriel Batistuta.

Posisi mereka yang sejajar dan terlalu terpaku pada bola menjadi makanan empuk Balotelli. Dengan ketangguhan dan kecepatannya, Balotelli melepaskan tendangan sangat keras ke pojok kanan gawang Manuel Neuer, yang selanjutnya tampak bertepuk tangan atas gol ala Kojiro Hyuga dalam serial kartun Jepang, Kapten Tsubasa tersebut. Balotelli nampak seperti mengumpulkan segala potensinya sebelum pertandingan ini, dan meledakkannya di saat yang tepat. Ini adalah kali pertama Italia mampu mencetak dua gol di babak pertama sejak pertandingan mereka melawan Rumania di Euro 2000.

Joachim Loew membuat dua pergantian di awal babak kedua. Miroslav Klose dan Marco Reus masuk menggantikan Mario Gomez yang terisolasi dan Lukas Podolski yang menghilang. Penduduk Polandia yang mayoritas mendukung Jerman karena faktor kedekatan dan keberadaan dua pemain asal mereka, Podolski dan Klose terus meneriakkan dukungannya dengan meneriakkan “scheibe.. scheibe.. scheibe” dengan mengagumkan. Pergantian yang sempat merepotkan barisan pertahanan Italia karena pergerakan Reus mampu memecah konsentrasi Balzaretti dan sempat meloloskan Philip Lahm. Pertahanan Italia yang super ketat kembali perlu mendapatkan kredit. Belum lagi menyebut Gigi Buffon tampil dengan kelasnya yang sejajar dengan Iker Casillas. Anak-anak muda Jerman frustasi karena tidak kunjung mampu membongkar pertahanan Italia terlihat kehilangan semangat tempur, yang sepertinya hilang dari tim Jerman yang biasanya dikenal mampu tampil pantang menyerah hingga akhir.

Masuknya Antonio Di Natale, Alessandro Diamanti dan Thiago Motta menjaga ritme serangan balik Italia yang berbahaya. Andai penyelesaian akhir mereka lebih tenang, mereka bahkan bisa mencetak dua atau tiga gol tambahan lewat dua kans Marchisio dan satu peluang Di Natale. Mereka juga tidak perlu membiarkan Ozil mencetak gol penalti yang sempat menaikkan asa para skuad Der Panzer, yang di akhir-akhir laga menjadikan Manuel Neuer sebagai libero dengan formasi 1-3-2-3-2. Dalam tweetnya, Opta menyebut statistik pertandingan yang sebenarnya cukup berimbang dengan Jerman sedikit memegang kendali. Jerman melepaskan 20 tendangan, 8 diantaranya tepat sasaran. Italia melepaskan 11 dengan 4 tepat sasaran. Ball possession dimenangi Jerman dengan 56 berbanding 44 persen, dan Jerman mampu memperoleh tendangan penjuru sebanyak 14 kali berbanding nihil untuk Italia.

Italia membuktikan diri sebagai tim yang penuh tradisi hebat dan lekat dengan anomali sejarah seperti saya pernah tuliskan di preview pertandingan ini di tulisan sebelumnya. Kekuatan Jerman dengan segala progress mereka dalam beberapa tahun terakhir mentah ditangan tim dengan sejarah unik. Italia seolah meneriakkan slogan Jas Merah (Jangan melupakan sejarah). Jerman juga meneruskan catatan antiklimaks mereka pada Piala Dunia 2002, 2006 dan 2010 serta Piala Eropa 2008. Di kejuaraan itu, Jerman selalu tampil impresif di babak penyisihan namun kalah di babak semifinal atau final.

Prediksi saya bahwa Italia akan berbicara jauh hingga ke final dan mungkin menjadi juara akhirnya menjadi kenyataan. Juga prediksi saya di babak penyisihan dalam post match review Italia melawan Spanyol dalam salah satu pertandingan paling seru yang pernah saya saksikan. Prestasi final Italia ini seolah menyempurnakan siklus enam tahunan mereka mampu melaju ke final turnamen besar sejak tahun 1994. Jika di 1994 dan 2000 mereka takluk di partai puncak, tahun 2006 mereka mampu menjadi juara. Lalu apakah tahun 2012 ini saatnya Italia kembali juara? Well, who knows.

Apapun hasil di final nanti, pencapaian Prandelli adalah sesuatu yang brilian. Prandelli mampu membawa Italia ke final setelah dua tahun lalu Italia hancur-hancuran di Piala Dunia. Prandelli juga tidak lagi memiliki pemain-pemain bermental juara dan berkharisma macam Francesco Totti, Alex Del Piero, Fabio Cannavaro atau Paolo Maldini dalam timnya. Sosok itu kini hanya dimiliki dalam diri Gianluigi Buffon, Daniele De Rossi dan Andrea Pirlo.

Sementara jauh disana, dua orang lelaki paruh baya turut berbahagia dengan kemenangan Italia, namun air muka mereka selalu berubah setiap menyaksikan seorang pemain bernama Andrea Pirlo. Di sebuah kedai kopi, dua orang bernama Max Allegri dan Adriano Galliani makin terdiam ketika Andrea Pirlo diumumkan sebagai man of the match. Espresso mereka yang memang pahit akan terasa semakin pahit saja.

Allegri dengan aksen selatannya kemudian berseloroh, yang jika di twitter cocok dengan tagar #AwalnyaSederhana. "Kita sudah punya Cassano dan Montolivo. Mengapa tidak sekalian beli Balotelli?" Galliani menjawab "Tapi bagaimana dengan Ibra? Kamu kan 100 persen mengandalkannya dalam setiap serangan. Lagipula, Silvio tidak akan membiarkannya pergi." #kemudianhening

Monday, June 11, 2012

Post Match Analysis Euro 2012: Spain vs Italy

De Rossi, melebihi ekspektasi

Saya beruntung menyaksikan salah satu pertandingan sepakbola paling seru sepanjang 20 tahun lebih saya menyaksikan pertandingan olahraga si kulit bundar ini. Pertandingan tersebut berlangsung tadi malam tanggal 10 Juni 2012 bertempat di Arena Gdansk, Polandia antara Spanyol melawan Italia.

Pertandingan ini mempertemukan dua tim yang memiliki tradisi juara. Spanyol adalah pemenang dua major tournament terakhir, sementara Italia adalah salah satu negara tersukses di dunia sepakbola dengan empat gelar Piala Dunia dan satu kali Piala Eropa. Namun begitu, publik banyak menjagokan tim la furia roja yang juga diwakili oleh sebagian besar pemain dari the mighty club Barcelona.

Tidak banyak yang menempatkan keyakinannya untuk menjagokan Italia. Italia yang penuh masalah menjelang turnamen dianggap akan rontok dengan gampang oleh supremasi tiki-taka yang dianggap sebagai lambang tertinggi level permainan sepakbola. Siapapun yang mencoba melawan tiki-taka akan dianggap sebagai pihak antagonis perusak sepakbola.

Cesare Prandelli awalnya memilih caranya sendiri menghadapi sepakbola sempurna tiki-taka yang diusung Spanyol. Semula Prandelli menyiapkan formasi klasik 4-3-1-2 untuk meredam pola 4-3-3 atau 4-2-3-1 arahan Vicente Del Bosque. Namun cederanya bek sentral tangguh Andrea Barzagli dan kekalahan 0-3 dari Rusia pada uji coba terakhir sebelum berangkat ke Polandia memaksa Prandelli menggunakan cara darurat, yaitu cara Juventus.

Juventus ditangan Antonio Conte mengikuti arus sepertiga dari tim seri a yang menggunakan skema tiga bek. Memang tidak salah juga karena dia memiliki tiga center-back tangguh dalam diri Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini dan Barzagli. Mencadangkan salah satu dari mereka atau menggeser Chiellini ke posisi bek kiri adalah sebuah kemubaziran. Dasar inilah yang dibawa Prandelli untuk La Nazionale, walaupun sepanjang babak kualifikasi Italia selalu menggunakan skema empat pemain belakang.

Cederanya Barzagli diselesaikan dengan menempatkan seorang Daniele De Rossi, yang telah beberapa kali menempati posisi itu di AS Roma. Keraguan dijawab De Rossi dengan elegan. Pangeran baru AS Roma itu tidak disangka mampu mengobati kerinduan penggemar sepakbola akan kehadiran seorang libero handal, walaupun dia tidak secara murni memerankan peran libero karena peran membangun serangan telah dipegang oleh Andrea Pirlo. Tapi setidaknya intercept, visi permainan dan komando De Rossi menjadikan Italia memiliki alasan untuk bersikap optimistis di sisa turnamen.

Tiga bek lawan tiga gelandang serang. Itulah pemandangan yang sering terjadi di sepanjang babak pertama hingga ditariknya David Silva dan Francesc Fabregas. Tiga bek Italia dihadapi Del Bosque dengan tidak menempatkan seorang striker-pun dalam starting lineup-nya. Fabregas sebagai false nine ditopang oleh dynamic duo Andres Iniesta dan David Silva yang selalu membentuk kombinasi segitiga yang rapat.

Kombinasi segitiga rapat tersebut diladeni Italia dengan tiga bek yang juga bermain rapat. Disiplinnya tiga penjagal itu sangat menyulitkan Spanyol dalam melepas tendangan ke gawang Gigi Buffon maupun mengirimkan final ball yang mematikan. Kedisiplinan De Rossi dan kawan-kawan terlihat dari jumlah intersep, blok maupun tekel yang mereka lakukan, sehingga hanya dua saja tembakan yang akhirnya mengarah ke gawang Buffon di babak pertama.

Italia meladeni dengan pertahanan kuat, bukan dengan bertahan. Pertahanan kokoh tersebut dibarengi dengan kejeniusan Andrea Pirlo yang kerap membagi bola diagonal dengan eksepsional kepada Cristian Maggio maupun Emanuele Giaccherini di kedua wing back. Kadang Pirlo juga mengombinasikannya dengan simple passing kepada Motta dan Marchisio, dua gelandang box to box yang dipasang Prandelli. Dinamisnya Motta dan Marchisio sering melahirkan mara bahaya bagi Iker Casillas, yang membuat timeline twitter mendadak diramaikan oleh kaum wanita. Dua percobaan Marchisio dan Motta membuat kiper tangguh ini kelabakan.

Lini depan Italia yang dihuni oleh duet mavericks beda generasi Antonio Cassano dan Mario Balotelli tampil kurang impresif, meskipun Cassano beberapa kali mengancam Casillas dengan tembakan-tembakannya. Balotelli yang sebenarnya lebih diharapkan daripada Cassano yang baru sembuh dari penyakit jantung, sayangnya bermain below par seperti anak muda yang grogi karena baru bermain dengan tim senior. Momen dimana Balotelli terlalu lama menembak bola setelah merebut bola dari Sergio Ramos adalah wujud nyata kelabilan striker bengal ini dalam pengambilan keputusan.

Prandelli melakukan pergantian emosional beberapa saat setelah momen itu. Striker kenyang pengalaman Antonio Di Natale dimasukkan untuk mengubah dinamika pertandingan. Terbukti kekhawatiran saya salah. Di Natale, pemain tajam di kompetisi lokal bersama tim medioker Udinese yang di dua turnamen terakhir Italia gagal bersinar, ternyata malah membuat gol yang sangat klinis hanya 3 menit setelah memasuki lapangan. Umpan cerdas Pirlo setelah menggiring bola melewati garis tengah lapangan diselesaikan Toto dengan finishing yang amat berkelas.

Kekokohan pertahanan yang digalang De Rossi bagaimanapun akhirnya jebol juga oleh umpan terobosan tipikal David Silva, yang sudah sering dia peragakan di Manchester City. Fabregas lalu dengan cerdik menaklukkan Buffon.  Skor satu sama menjadikan pertandingan semakin menegangkan, apalagi setelah Fernando Torres dan Jesus Navas dimainkan. Torres dan Navas yang lebih sering mendribel bola hingga ke sayap membuat pertahanan Italia menjadi lebih renggang. Pergantian yang mengubah total jalannya pertandingan menjadi lebih terbuka ini menghasilkan serangkaian peluang dari kedua kubu yang membuat jantung berdebar. Hanya karena kurang jitunya penyelesaian akhirlah yang membuat skor tidak beranjak dari satu sama.

Spanyol boleh saja menguasai ball possession dengan keunggulan 60-40, ditambah jumlah tendangan ke gawang dan tendangan sudut yang lebih banyak. Tapi soal ancaman nyata ke gawang lawan, Italia jelas lebih unggul. Spanyol benar-benar kehilangan sosok David Villa. Hasil imbang dari pertandingan yang benar-benar berimbang ini menunjukkan kepada dunia akan kehebatan mental Italia. Jika banyak yang beranggapan masalah yang dihadapi gli azzuri melemahkan mereka, justru hal tersebut salah besar. Italia bermain semalam tidak seperti sebuah tim yang sedang didera masalah.

Saya pribadi berharap kedua tim ini bertemu lagi di babak final.