Pages

Showing posts with label Persikad Depok. Show all posts
Showing posts with label Persikad Depok. Show all posts

Monday, February 13, 2012

Denyut sepakbola kota Depok


Pendekar Ciliwung
Sabtu (11/2/2012) lalu adalah partai kandang terakhir Persikad Depok di kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia. Persikad memiliki 4 partai sisa yang kesemuanya tandang. Partai kemarin mempertemukan mereka dengan Persikasi Bekasi, dimana pada pertemuan pertama di kandang lawan, Persikad menyerah 1-2.

Hanya 5 menit menggunakan sepeda motor waktu yang diperlukan untuk perjalanan dari rumah ke Stadion Merpati, stadion yang buat saya juga menyimpan kenangan sebagai tempat bermain di pertandingan antar kelas pada waktu SMP, 15 tahun lalu. Stadion ini sangat sederhana fasilitasnya. Ruang parkir sempit, tribun yang hanya berkapasitas kurang lebih 1000 orang, dan kondisi rumput lapangan yang tidak rata.

Saya menyaksikan pertandingan di Tribun kelas satu, yang hanya seharga 15 ribu saja. Lagu dangdut dan Ebiet G. Ade membahana menjelang pertandingan, lagu Honky Tonk Woman-nya Rolling Stones mengalun di jeda pertandingan dan panduan dari announcer kocak berlogat Betawi-Depok yang kental adalah a simple happiness. Kalau untuk jalan-jalan ke mal-mal besar di Jakarta, mungkin uang segitu gak ada artinya. Tapi, membelanjakan 15 ribu rupiah untuk menyaksikan sebuah pertandingan grass roots level sepakbola Indonesia ternyata memiliki cerita tersendiri yang cukup menginspirasi dan menyentuh.

Pertandingan sendiri berlangsung menarik. Persikad yang ingin menang mengusung formasi ofensif 4-3-3. Dipimpin kapten Ahmad Sobari yang berpartner dengan Razi dan Imran di lini tengah, Persikad tampil mendominasi permainan. Sementara tim tamu bermain defensif dengan memasang hingga 5 pemain belakang dan 2 gelandang bertahan dalam skema 5-4-1. Persikad akhirnya menang tipis 1-0 melalui strikernya yang bernama Aidil setelah sundulannya hasil umpan lambung Sobari tidak mampu dibendung kiper lawan. Aidil adalah salah satu peserta seleksi Timnas U-21.

Dua minggu lalu saat melawan Perserang Kab. Serang, saya sama sekali tidak mengenal pemain-pemain Persikad. Tapi kini dengan modal sebuah koran lokal dan mem-follow akun twitter @superdepokcyber yang dibuat oleh salah seorang suporter loyalnya, saya mulai akrab dengan klub berjuluk Pendekar Ciliwung ini.

Pengetahuan saya makin bertambah setelah secara kebetulan saya duduk menonton disebelah seorang Ibu yang ternyata adalah istri dari seorang staf pelatih dari Persikad. Dari beliau, saya mendapat cukup banyak cerita mengenai pasang surut klub ini.

Saya tahu kalau tim ini benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan. 2008 adalah tahun awal kehancuran tim saat Pemerintah setempat memutuskan untuk menyetop anggaran dana untuk operasional klub. Imbasnya, gaji pemain tidak dibayar hingga 10 bulan. Seperti posting di blog saya http://footballerwannabe.blogspot.com/2012/01/pleasure-of-watching-grassroots-level.html beberapa waktu lalu, saat itu padahal Persikad sedang meniti jalan menuju Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (kala itu belum ada ISL, jadi Divisi Utama adalah kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia).

Persikad sempat diperkuat pemain-pemain asing yang cukup bagus seperti J.P. Boumsong (sekarang Persiram), Yusuke Sasa (sekarang Persikabo) dan Nana Onana (sempat di Persija) dan beberapa pemain Indonesia berkelas menengah seperti Nana Priatna, Guntur Gunawan, Syahroni, Irfan Sapari dan Nehemia Solossa. Di klub Persikad juga Muhammad Roby mengawali karir sepakbolanya, bahkan Syamsir Alam dan Irfan Bachdim juga dikabarkan pernah berlatih disini.

Krisis keuangan yang parah membuat tim tidak mampu menggelar dua pertandingan kandang, yang berakibat hukuman degradasi dari Divisi Utama ke Divisi Satu serta larangan berkompetisi di Divisi Satu selama setahun. Sepakbola kota Depok lalu mati suri. Seorang pemain yang mengalami cedera patah tangan bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk biaya operasi.

Dari Ibu tadi saya mendapat informasi terkini tim ini. Kini dengan bantuan dari seorang tokoh lokal perorangan yang tidak dia ungkapkan identitasnya, Persikad mencoba bangkit. Dengan regulasi yang membatasi usia pemain hingga 23 tahun saja, Persikad diperkuat pemain-pemain muda. Pemain seperti Razi, Ahmad Sobari, Syukron, Tri Sumantri, Agung dan Aidil kini menjadi tulang punggung tim guna perjuangan mereka meloloskan diri ke Kompetisi Divisi Utama. Jika lolos ke Divisi Utama, Persikad diperbolehkan kembali untuk diperkuat pemain-pemain senior.

Persikad sekarang berbeda dengan Persikad yang kala itu diperkuat beberapa pemain asing dan bersaing di papan atas Divisi Utama. Sekarang, tim Persikad tidak memiliki Training Camp, mess atau sejenisnya. Tidak adanya fasilitas standar klub sepakbola tersebut membuat para pemain harus berada dalam kondisi prihatin. Mereka bahkan harus pergi ke stadion secara sendiri-sendiri tanpa menggunakan bus tim saat pertandingan. Begitu pula persoalan gizi pemain yang biasanya diatur oleh seorang ahli nutrisi, kini hanya diserahkan kepada masing-masing pemain, yang tentu berakibat buruk bagi pemain. "Banyak yang sakit mas, ada beberapa yang kena thypus segala, gara-gara pola makan gak diatur akibat ketiadaan mess." Kata Ibu tadi.

Ya begitulah Persikad sekarang. Jauh dari kemewahan yang umumnya didapat oleh tim sepakbola. Jersey original pun belum diproduksi, jadi gak ada tuh kita melihat seragam biru khas tim ini dipakai oleh penonton yang hadir di Stadion Merpati.

Sisa 4 pertandingan tandang akan menentukan nasib tim ini. Jika setidaknya mampu menduduki posisi runner-up, mereka akan lolos ke babak selanjutnya yang akan dibagi kembali menjadi grup baru. Mirip model kualifikasi Piala Dunia zona Asia-Oseania.

Walaupun bukan asli Depok, saya tetap memiliki ikatan emosional dengan kota ini. Saya sudah tinggal 20 tahun disini dan tentu saja berharap olahraga sepakbola menjadi bagian dari kota ini, menjadi khas kota ini. Denyut sepakbola kota ini masih ada, semoga ada pihak-pihak yang peduli untuk memberikan bantuan bagi klub ini. Menyalurkan talenta-talenta emas sepakbola Indonesia dari kota ini.

Monday, January 30, 2012

The Pleasure of watching the grassroots level of Indonesian football

Saat banyak orang menantikan Indonesian El Classico Persib vs Persija, Minggu 29 Januari 2012, saya menyempatkan diri untuk hadir di pertandingan di kota saya sendiri yang boleh dikatakan sebagai 'grassroots' level di persepakbolaan Indonesia, yaitu kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia antara Persikad Kota Depok melawan Perserang Kabupaten Serang di Stadion Merpati, Depok.

Awalnya saya ragu buat nonton, karena sejak pagi hari cuaca didominasi hujan dan mendung, tapi saya tekadkan untuk berangkat demi menuntaskan rasa penasaran. Pertandingan berlangsung di Stadion Merpati Depok, yang terletak diantara pemukiman ramai dengan jalan yang cukup sempit. Seorang wartawan pernah bilang kalo lokasi Stadion ini mirip-mirip dengan Stamford Bridge milik Chelsea di London.

Saya memutuskan untuk menggunakan angkot (angkot disini aman) daripada mobil pribadi atau motor, karena this is my first time watching them, saya gak tahu situasi dan kondisi tempat parkir di stadion, serta antisipasi aja jika ada kejadian yang gak diinginkan.

Setengah jam sebelum kick-off yang rencananya dilakukan pukul 15.00, saya berangkat. Perjalanan hanya 15 menit dari Stasiun Depok Baru ke venue menunjukkan aktivitas yang normal, yang berarti stadion tidak ramai. Benar saja, stadion yang berkapasitas kurang lebih hanya 1000 penonton itu tampak lengang dan sepi. Padahal, harga tiket hanya 15 ribu rupiah untuk kelas satu (seated) dan 10 ribu rupiah untuk kelas dua (non-seated).

Saya lalu memutuskan untuk membeli selembar tiket kelas satu, setelah sebelumnya sempat melihat-lihat kelas dua yang sudut pandangnya terbatas karena ada spanduk besar di pagar tribun. Di kelas dua ini nampak hadir sekelompok suporter loyal Persikad yaitu Depok Mania (Dema), itupun jumlahnya kira-kira hanya 100an orang.

Animo sepakbola di kota ini seakan lesu darah, namun saya percaya bahwa saat ini adalah saat restorasi bagi klub berjuluk "Pendekar Ciliwung". Sekitar 5-6 tahun lalu, denyut nadi sepakbola kota ini sangat kencang dengan berkompetisi di Divisi Satu, yang saat itu setingkat dibawah kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia, Divisi Utama. Beberapa pemain asing seperti J.P. Boumsong (sekarang Persiram), Yusuke Sasa (sekarang Persikabo), dan juga Nana Onana (sempat di Persija) dan beberapa pemain lokal bereputasi lumayan seperti Nana Priatna serta Nehemia Solossa saat itu membawa Persikad menduduki posisi 4 (kalau tidak salah) di Divisi Satu. Posisi itu memang tidak cukup membawa tim ini lolos ke babak play-off kompetisi, tapi sempat menghangatkan olahraga terpopuler sejagat ini di kota Depok.

Setelah itu, tim ini mengalami titik terendahnya berupa kesulitan finansial. Para pemain tidak digaji selama beberapa bulan. Cerita miris ini juga berakibat tim tidak bisa menggelar pertandingan, yang berbuntut dihukumnya tim dalam bentuk degradasi. Tim inipun dijual, sepakbola Depok mati suri. Dan kini, here they are.

Saya duduk nyaman di tribun kelas satu lapangan yang terletak di Jalan Merpati, Depok Jaya ini, memandangi lapangan yang diisi kedua tim yang sedang melakukan pemanasan yang diiringi musik dangdut dan announcer kocak. A simple happiness. Dulu saya ingat pernah mencetak gol tendangan "paloneto" disini di pertandingan antar antar kelas saat SMP. Unforgettable childhood memory.

Saya tidak mengenal satupun pemain Persikad sekarang. Klub ini bagaimanapun pernah menghasilkan pemain kelas nasional seperti Muhammad Roby. Kabarnya, Syamsir Alam juga pernah sempat berlatih disini. Sekarang, pemain-pemain Persikad diisi wajah-wajah baru yang kelihatan masih muda, berusia 18-25 tahun. Di kubu Perserang juga demikian. Merekalah sebenarnya bagian dari embrio sepakbola nasional, dari 'the grassroots' level.

Pertandingan dimulai tepat waktu pukul 15.00. Kedua tim nampak menggunakan formasi identik 4-3-1-2. 10 menit pertama nampak Perserang menekan tuan rumah dan sempat memiliki peluang bagus melalui tendangan bebas. Namun dari sebuah skema serangan balik, sang trequartista bernomor 7 Persikad membawa Persikad unggul setelah menyelesaikan crossing mendatar dari pemain jangkung bernomor punggung dua. Hanya beberapa saat, gol itu kemudian dibalas oleh trequartista Perserang, juga bernomor punggung 7. Lalu hujan cukup deras mengguyur kota ini yang menyebabkan lapangan menjadi licin dan aliran bola menjadi mandek, dalam arti sebenarnya. Umpan-umpan pendekpun menjadi tidak berguna. Setelah silih berganti menyerang dengan masing-masing tim membuahkan 3 tembakan ke gawang, kedudukan 1-1 bertahan hingga babak pertama usai.

Suara khas Mick Jagger dalam lagu Honky-Tonk Woman membahana di jeda pertandingan. Klasik banget. Saat jeda ini pula penonton mulai berdatangan karena hujan juga mulai reda. Tribun kelas satu ini diisi oleh berbagai kalangan, dari anak kecil sampai orang tua, menjadikan pertandingan ini seperti rekreasi keluarga. Bapak Wakil Walikota Depok, KH Idris Abdul Shomad juga baru hadir di jeda babak pertama, sebagaimana diumumkan oleh announcer kocak berlogat Depok yang kental.

Pertandingan berlangsung dibawah gerimis di babak kedua. Lapangan yang sudah tergenang air dan berlumpur di beberapa tempat membuat kedua tim sulit mengembangkan permainan. Striker pengganti bernomor 77 sempat membawa Persikad unggul setelah membelokkan flick header dari si jangkung nomor 2 dari sebuah sepak pojok. Sayangnya, si nomor 7 yang menurut saya bermain baik sebagai trequartista ditarik keluar karena cedera. Hilangnya tusukan dari pemain yang berani mendribel bola ini membuat tim tamu ganti mengendalikan permainan hingga akhirnya menyamakan kedudukan melalui sundulan pemain bernomor 7 mereka. Sudah 2 gol dia ciptakan di pertandingan ini. Si jangkung nomor 2 yang kuat di duel udara sempat membuat asa para pendukung menjadi bergelora, tapi sayangnya sundulannya hanya membentur mistar gawang. Pertandinganpun berakhir dengan skor imbang 2-2.

Penonton nampak kecewa, namun bisa menerima. Posisi kedua grup IV Divisi Satu memang masih digenggam, namun inilah partai kandang terakhir di putaran 1 tim ini dengan rekor dua kali menang dan dua kali imbang. Di putaran kedua, Persikad hanya memiliki satu partai kandang melawan Persikasi Kabupaten Bekasi, yang berlangsung pada 11 Februari 2012. Situasi yang disebut berat oleh sebagian penonton yang bercakap-cakap dibelakang saya, karena hanya dua tim teratas yang lolos ke babak berikutnya.

Sebuah kepuasan besar menyaksikan langsung pertandingan tim dari kota sendiri. Walaupun hanya pertandingan kasta ketiga dari kompetisi sepakbola Indonesia, pertandingan berlangsung seru dan menarik. Beberapa pemain potensial juga berkompetisi disini. Trequartista bernomor 7, gelandang sayap jangkung bernomor 2, dan gelandang jangkar bernomor 14 yang juga kapten kesebelasan, serta penjaga gawang Persikad yang sempat memblok sebuah tendangan penalti dibabak pertama adalah pemain-pemain potensial yang akan menjadi masa depan dari tim Pendekar Ciliwung.

Semoga sepakbola kota Depok segera bangkit!


Aditya Nugroho
@aditchenko