Pages

Sunday, December 8, 2013

Calon Jagoan Rusia Baru Bernama Arsenal Tula

Sepak bola Rusia dalam beberapa tahun terus berkembang pesat. Keterlibatan para oligarki lokal yang banyak membiayai klub-klub sepak bola menjadi salah satu alasan untuk setidaknya memperkenalkan daerah mereka kepada kalangan luas melalui sepak bola, di luar dampak-dampak negatif yang mereka tinggalkan.

Penyelenggaraan Piala Dunia yang akan berlangsung tahun 2018 di negeri ini juga memberi angin segar dalam hal peningkatan kualitas infrastruktur. Belum lagi melihat kiprah pengelola liga mereka yang terus memperjuangkan penyatuan liga Rusia dengan Ukraina demi meningkatkan popularitas.

Semua hal di atas mencerminkan sepak bola yang tengah berkembang. Momentum positif ini juga ditandai dengan kemunculan berbagai klub antah berantah yang tiba-tiba mencuat ke permukaan, sebut saja Zenit St. Petersburg, Anzhi Makhachkala dan Terek Grozny yang kini mapan di Russian Premier League, liga sepak bola tertinggi Rusia.

Baik Zenit, Anzhi maupun Terek didanai oleh para miliuner yang juga pengusaha lokal. Dengan modal pendanaan tersebut, pemain-pemain hebat bereputasi internasional mampu mereka datangkan. Maka tidak heran jika prestasi cepat diraih dan mereka dengan cepat menyejajarkan diri dengan klub-klub Moskow yang memiliki tradisi lebih kuat.

Namun dalam waktu yang dirasa tidak akan terlalu lama lagi, kita dapat melihat sebuah klub yang akan turut meramaikan sepak bola level tertinggi Rusia, yaitu FC Arsenal Tula.

Arsenal Tula tidak ada hubungannya dengan The Gunners Arsenal FC yang bermarkas di London, Inggris ataupun Arsenal de Sarandi yang berbasis di Buenos Aires, Argentina. Arsenal Tula berasal dari Tula, kota kecil berpenduduk 500 ribu jiwa yang berjarak 193 kilometer di sebelah selatan Moskow. Sepanjang sejarahnya, klub yang telah berdiri sejak tahun 1946 dengan nama FC Zenit Tula ini telah sering berganti nama, yaitu sebanyak 8 kali. Mereka juga belum pernah mengecap pengalaman berkompetisi liga teratas Rusia hingga kini.

Tahun 2011 lalu, mereka masih bermain di kompetisi Liga Amatir, atau terendah dalam piramida kompetisi sepak bola Rusia. Prestasi klub ini mulai mencuat sejak ditangani oleh pelatih yang juga mantan pemain top Rusia, Dmitri Alenichev pada tahun yang sama.

Reputasi karir bermain Alenichev tidaklah main-main. Hingga kini, ia masih menjadi satu-satunya pemain Rusia yang pernah mengangkat trofi Liga Champions. Saat itu, ia menjadi bagian dari tim FC Porto yang memenangi Liga Champions tahun 2004 di bawah asuhan Jose Mourinho. Alenichev juga menjadi satu dari tiga pemain selain Ronald Koeman dan Ronaldo Luiz Nazario yang mencetak gol dalam dua laga final antar klub Eropa secara beruntun. Sebelum mencetak gol pada final Liga Champions tahun 2004 ke gawang AS Monaco tersebut, ia juga membobol gawang Glasgow Celtic dalam final Piala UEFA tahun 2003. Dua gol tersebut berkontribusi pada kejayaan Porto di Eropa.

Karir Alenichev sebagai pelatih ia mulai tahun 2010 saat menangani tim nasional Rusia U18. Selepas pensiun sebagai pemain tahun 2006, Alenichev memang tidak langsung menjadi pelatih, melainkan terlebih dahulu menjadi politisi. Namun ia tidak mampu menampik romansa ketegangan di lapangan hijau setelah tim nasional U18 mengontaknya.

Arsenal Tula beruntung dilatih oleh seorang mantan pemain yang pernah mengecap ilmu dari pelatih-pelatih hebat macam Oleg Romantsev, Fabio Capello dan Jose Mourinho. Dengan pengalamannya tersebut, Alenichev membuat klub semenjana dari kota kecil bertransformasi menjadi klub dengan mental juara dan permainan atraktif. Alenichev menyukai permainan menyerang dari naluri yang didapatnya semasa bermain, juga ditularkan oleh Oleg Romantsev yang menjadi pelatihnya di Spartak Moskow.

Alenichev hanya butuh setahun untuk mengangkat prestasi Arsenal Tula dari Liga Amatir ke Professional Football League (setara Divisi Dua). Dan hebatnya lagi, Arsenal Tula kemudian dibawanya promosi ke Rusian Football National League, atau satu divisi saja di bawah kasta sepak bola tertinggi, Russian Premier League. Ia selalu membawa klubnya promosi setiap tahun.

Yang cukup menarik, pada awal petualangannya di Arsenal Tula, Alenichev sempat menggunakan pengaruhnya sebagai mantan pesepakbola top untuk menarik beberapa rekannya semasa bermain. Pesepakbola seperti Yegor Titov, Vladimir Beschasthnykh, Yuri Kovtun, Dmytro Parfenov dan Dmitri Khlestov adalah mantan pemain nasional Rusia maupun Ukraina era 90an akhir hingga 2000an awal yang diajak Alenichev untuk bermain di Arsenal Tula selama semusim, padahal pemain-pemain ini sebelumnya sudah menyatakan pensiun dari sepak bola. Keberadaan para veteran ini ternyata mampu meningkatkan motivasi dari skuat secara keseluruhan, meski hanya setahun berselang mereka kembali pensiun.

Hingga pekan ke 24 Rusian National League, Arsenal Tula menduduki posisi ke-4 yang berarti zona play-off promosi ke Russian Premier League. Mereka hanya berselisih 6 angka dari Alaniya Vladikavkaz yang berada di posisi kedua, tempat idaman yang akan membawa mereka promosi secara otomatis. Penyerang mereka Aleksandr Kutyn juga menduduki posisi teratas sebagai pencetak gol terbanyak.

Transformasi kilat dalam waktu 3 tahun dari klub amatir menjadi klub yang bertarung memperebutkan tiket promosi ke kasta tertinggi bukanlah prestasi sembarangan. Alenichev jelas menjadi sosok yang paling menentukan di balik semua ini. Berbekal filosofi melatih dan pengalamannya sebagai pemain, ia sukses membawa tim tanpa anggaran belanja besar ini ke level yang jauh dari perkiraan mereka sebelumnya.

Tuesday, November 19, 2013

Steaua Bucuresti, Juara Eropa Pertama Dari Blok Timur

Steaua Bucuresti, atau dikenal dengan nama Steaua Bucharest dalam lafal Inggris adalah klub yang mencuri perhatian dunia pada dekade 1980an. Mereka adalah klub blok timur pertama yang memenangi European Cup (kini Liga Champions) sekaligus mengukir rekor tak terkalahkan dalam 104 pertandingan. Segala prestasi itu bagaimanapun tidak lepas dari kontroversi demi kontroversi.

Valentin Ceaucescu, Anak Penguasa Yang Gemar Sepak Bola
Perawakan tinggi besar dan kepala plontos. Pelatih ini mungkin membuat anak asuhannya takut. Catatan bermainnya juga tidak sembarangan. Gavrilia Balint semasa bermain adalah penyerang dari klub yang lekat dengan militer Rumania, Steaua Bucuresti di era 1980an. Karir Balint mungkin tidak seimpresif kompatriotnya Florin Raducoiu apalagi Gheorghe Hagi.

Namun ada dua hal luar biasa yang ia pernah lakukan dalam karirnya. Pertama adalah tendangan penalti yang menentukan ke gawang Barcelona. Kedua adalah sebuah sundulan yang dilepaskannya ke gawang rival, Dinamo Bucuresti dalam sebuah partai final Piala Rumania tahun 1988 yang menjadi puncak dari gunung es penyakit persepak bolaan negeri ini.

Derby Steaua melawan Dinamo juga dikenal dengan The Eternal Derby. Segera setelah gol tersebut, hakim garis mengangkat bendera tanda Balint berada pada posisi offside. Jika gol di menit-menit akhir tersebut bersih, maka Steaua akan dengan bangga menggenggam gelar juara, namun pesta tersebut harus ditunda.

Pemandangan ini tidak mengesankan sekelompok orang yang duduk di boks VVIP. Anda tidak akan terkejut membaca nama keluarga orang ini: Ceaucescu.

Seorang pria bernama Valentin Ceaucescu, tanpa basa-basi memberi isyarat kepada para pemainnya untuk meninggalkan lapangan. Sebagai manager klub sekaligus anak dari Nicolae Ceaucescu, sang penguasa Rumania, Valentin tentu ingin melihat klubnya juara. Terlebih, pertandingan disaksikan sang ayah, yang jelas-jelas kurang memberikan support kepadanya untuk menjadi seorang manajer klub.

Kontan seluruh anggota tim Steaua meninggalkan lapangan. Mircea Lucescu, pelatih Dinamo saat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil mencoba mempengaruhi pemain-pemain Steaua. “Ayolah, kalian ‘kan profesional,” ujarnya. Namun hal itu tidak digubris para pemain klub berjuluk Militarii, klub yang menjadi perpanjangan tangan militer Rumania ini.

Tiga puluh menit telah berlalu, pemain Steaua masih tidak mau melanjutkan pertandingan. Wasit akhirnya memutuskan untuk menghentikan pertandingan lalu menobatkan Dinamo Bucuresti sebagai pemenang. Namun beredar cerita bahwa beberapa hari kemudian, piala diberikan kepada Steaua atas titah pemerintah.

Dinamo, yang sebenarnya juga didukung oleh satuan polisi rahasia di bawah Departemen Dalam Negeri, telah menguasai liga Rumania di era 1970an. Dari perspektif raihan gelar juara, dua klub ibukota ini adalah yang tersukses di Rumania. Dinamo meraih 18 gelar, sementara Steaua 23. Kedua klub juga sama-sama tidak pernah terdegradasi dari kompetisi tertinggi negeri ini.

Valentin, sebagai penggemar sepak bola tulen, merasa bahwa ia menyelamatkan sepak bola Rumania dari permainan kotor para elit yang berada dibalik Dinamo. Sebelum Valentin terjun langsung memanajeri Steaua, Dinamo mengukir kesuksesan meski apa yang mereka gapai juga tidak lepas dari kontroversi.

Mereka memang menjadi klub Rumania pertama yang melaju hingga babak semifinal European Cup tahun 1984, namun kesuksesan mereka kala itu juga tidak lepas dari bantuan polisi rahasia. Sebelum pertandingan The Eternal Derby berlangsung, para polisi rahasia sering meneror pemain-pemain Steaua. Kapten Tudor Stoica misalnya, diteror keluarganya yang berada di Craiova. Geram melihat situasi demikian pada klub favoritnya, Valentin datang untuk menyeimbangkan kekuatan.

Bagaimanapun, Jonathan Wilson dalam bukunya yang berjudul “Behind The Curtain” menceritakan versi lain dari skandal tahun 1988 ini. Dikisahkan bahwa Valentin tidak menyuruh pemain-pemainnya untuk melakukan aksi walk out, namun hal itu adalah instruksi sang pelatih. Dan ketika Valentin hendak menyelamati tim Dinamo di ruang ganti mereka, ofisial tim Dinamo lah yang memberikan piala tersebut kepadanya.

Entah mana yang benar, dalam pemerintahan seperti itu, segala cerita memang simpang siur.

Valentin adalah seorang penggemar sepak bola, berbeda dengan saudara mudanya, Nicu. Valentin tidak mau mengikuti langkah ayahnya di bidang politik. Minatnya pada sepak bola dan ilmu pengetahuan fisika nuklir membuatnya menolak dijadikan sebagai “putra mahkota”. Akhirnya sang ayah menyiapkan Nicu sebagai penerusnya kelak, bukan Valentin.

Ditangan Valentin, Steaua mampu mendatangkan pemain manapun dari seluruh penjuru negeri untuk bermain di klubnya. Jika ia melihat potensi pada salah seorang pemain lawan, maka hampir bisa dipastikan bahwa sang pemain tidak lama kemudian akan berganti kostum ke merah-biru.

Paling terkenal adalah Georghe Hagi. Pemain terbaik sepanjang sejarah Rumania ini sempat “dipinjam” Steaua dari klub Sportul Studentesc hanya untuk satu partai saja pada tajuk Piala Super Eropa tahun 1987 melawan Dynamo Kiev. Maradona dari Carpathian kemudian mencetak gol tunggal kemenangan Steaua. Setelah pertandingan itu, Steaua menolak mengembalikan Hagi kepada Sportul. Hagi kemudian menjadi salah satu legenda klub dengan mencetak 76 gol dari 97 pertandingan.

Hasil fantastis kemudian diraih setelah kedatangan Valentin. Dengan perannya sebagai mastermind, Steaua mengukir rekor tak terkalahkan dalam 104 pertandingan selama kurun waktu Juni 1986 hingga September 1989. Sebuah rekor dunia saat itu, dan hingga kini masih bertahan sebagai rekor Eropa. Rumor berkembang dengan kencang bahwa selain kehebatan materi pemain, adanya permainan dengan ofisial pertandingan juga berperan penting dalam rekor yang membawa kejayaan ini.

Sosok Valentin sendiri sangat dekat dengan pemain Steaua. Marius Lacatus, striker Steaua pernah mengajak Valentin menginap di apartemennya ketika revolusi yang menewaskan kedua orang tua Valentin pecah tahun 1989. “Bagi kami (pemain Steaua), Valentin adalah teman yang baik, ia bukanlah bos,” papar Lacatus soal kedekatan Valentin dengan pemain-pemain Steaua.

Meski kehebatan Steaua tidak lepas dari politik, tidak bisa dipungkiri bahwa pada era tersebut Steaua mencetak tim terbaik sepanjang sejarah mereka. Steaua mampu menjadi tim blok timur pertama yang memenangi Piala Champions tahun 1986. Ya, mereka menjawab prestasi semifinal Dinamo tiga tahun sebelumnya dengan gelar juara. Hasil ini mereka dapatkan dengan mengalahkan Barcelona dalam sebuah partai final tak terlupakan di Stadion Ramos Sanchez Pizjuan, Sevilla, lewat drama adu penalti.

Hilangnya Sang Raja Penalti Secara Misterius
Dalam drama tersebut, kiper Helmut Duckadam mampu menyelamatkan 4 penalti secara beruntun, sebuah rekor yang bertahan hingga 2 dekade lebih. Sebelum akhirnya penjaga gawang Sligo Rovers, Ciaran Kelly mengikuti prestasinya tersebut dalam final Ford FAI Cup melawan Shamrock Rovers tahun 2010 lalu.

Adu penalti Steaua melawan Barca tersebut dapat disebut adu penalti paling unik. Mihai Majearu, penendang utama Steaua maju sebagai algojo pertama hanya untuk melihat kiper Javier Urruti memblok tendangannya. Duckadam kemudian membalas dengan penyelamatannya atas tendangan Jose Alexanco. Penalti kedua oleh Boloni kembali diblok Urruti, meninggalkan tekanan pada Duckadam. “Setelah tendangan Boloni, pertarungan psikologis datang. Saya harus menahan tendangan Angel Pedraza.” Ujar Duckadam. “Saya yakin Pedraza akan menendang ke sisi yang sama dengan Alexanco, dan ternyata saya menebak dengan benar.” Empat penalti pertama digagalkan kiper.

Tendangan ketiga diambil oleh penyerang andalan, Marius Lacatus. Dengan tenaga yang cukup, ia menendang hingga membentur mistar gawang sebelum masuk. Duckadam melanjutkan perannya. Ia kembali bergerak kearah yang sama, yaitu sisi kanannya saat Pichi Alonso mengambil tendangan ketiga. Gavrilia Balint kemudian menjadikan skor 2-0 untuk Steaua, membalikkan tekanan pada kubu Barcelona, karena Marcos harus mencetak gol. Duckadam kemudian bergerak kearah sebaliknya, yaitu arah kirinya. Ia menebak dengan benar dan Steaua juara.

Setelah laga ini, kontroversi kembali terjadi. Duckadam yang kemudian didaulat sebagai pahlawan dan reputasinya saat itu menyamai atlet senam Nadia Comenadici tiba-tiba menghilang setelah partai final. Penguasa mengatakan bahwa ia ditembak oleh anak buah Ceaucescu, sebagian mengatakan bahwa tangannya dipotong. Kubu militer cemburu pada kesuksesan yang ia dapat, melebihi ketenaran dari penguasa.

Duckadam kemudian “muncul” kembali lima tahun berselang (setelah revolusi saat Ceaucescu sudah dieksekusi) dengan tangan yang sudah sehat. Meski tidak pernah ingin membahas kejadian buruk ini, namun diyakini bahwa Duckadam memang dilukai tangannya oleh anak buah Ceaucescu, sehingga penyembuhannya memakan waktu selama itu.

Pemain-pemain Steaua memiliki televisi, video dan kehidupan mewah dalam bayaran mahal yang mereka terima. Sebuah hal ironis karena selama pemerintahan Ceaucescu tersebut rakyat Rumania hidup dalam garis kemiskinan. Ceaucescu terjebak pada utang negara yang besar. Demi membayar utang, Ceaucescu membatasi jumlah dan kualitas makanan, listrik dan air. Ia juga hanya menyiarkan televisi 2 jam sehari, itupun dari satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah yang ada. Tipikal kekuasaan totaliter.

Kemunduran
Seperti sempat disinggung, meski tim ini lekat dengan kontroversi, tidak diragukan lagi, Steaua  era ini adalah tim terbaik sepanjang sejarah mereka. Mereka dihuni oleh pemain-pemain bagus. Miodrag Belodedici adalah libero elegan yang juga pemain pertama yang merebut Piala Champions di lebih dari satu klub. Selain di Steaua, Belodedici juga meraih gelar ini di klub negara nenek moyangnya, Red Star Belgrade tahun 1991. Laszlo Boloni adalah pengatur permainan handal dari Hongaria, sementara lini depan diisi duet maut Marius Lacatus dan Victor Piturca.

Kesuksesan Steaua tidak hanya setahun, menunjukkan mereka bukanlah tim “one hit wonder”. Mereka kemudian melaju hingga semifinal European Cup tahun 1988, dan final tahun 1989 menghadapi the dream team AC Milan. Di final tersebut, mereka secara tragis menyerah 0-4 dari tim yang dihuni duet Ruud Gullit dan Marco Van Basten. Dua pemain Belanda itu mencetak masing-masing dua gol untuk Rossoneri.

Kekalahan atas Milan tersebut sekaligus mengakhiri kejayaan Steaua hingga kini. Di tahun yang sama dengan laga itu, revolusi kemudian pecah pada bulan Desember. Revolusi menggiring Nicolae Ceaucescu dan istrinya, Elena ke tiang eksekusi. Ketiga anak mereka, Valentin, Zoia dan Nicu tidak ikut dieksekusi. Hukuman mati ini sekaligus mengakhiri tirani mereka selama 22 tahun sekaligus memasuki era baru yang menandai masuknya kapitalisme.

Seperti yang sudah-sudah, kapitalisme kemudian melucuti kekuatan tim ini. Meski sempat merebut 3 gelar liga domestik, mereka tidak dapat mengelak dari gravitasi baru berbentuk uang. Ya, uang juga yang akhirnya membawa Georghe Hagi dan kawan-kawan meninggalkan negeri untuk kemudian terbang ke arah barat untuk bermain di kompetisi kapitalis yang lebih menjanjikan (saat itu).

Wednesday, October 30, 2013

Selamat Ulang Tahun, Anak Emas

Diego Armando Maradona. Sebagian kecil penduduk bumi menyebutnya “Tuhan”. Memang bukan sembarang sebutan, karena Gereja Maradona memang benar-benar ada di Argentina, dikenal dengan nama Iglesia Maradona. Kitab sucinya adalah buku Biografi Maradona, dan hari natal mereka peringati setiap tanggal 30 Oktober (tepatnya hari ini) yang merupakan hari lahir Maradona. Belum lagi menyebut berapa ratus (mungkin ribu) penduduk Naples yang menamai anaknya dengan nama depan Diego. Namun saya tidak ingin membuat polemik dengan ikut-ikutan menyebutnya Tuhan. Cukup anak emas saja.

Tidak perlu menjadi seorang penggemar sepak bola sungguhan untuk mengakui bahwa Maradona adalah seniman sejati sepak bola. Siapapun yang pernah menyaksikan golnya ke gawang Inggris pada babak perempat final Piala Dunia 1986, baik langsung maupun lewat youtube tentu akan mengakui bahwa pemain yang mampu melewati  7 orang pemain dari jarak 55 meter dalam waktu 12 detik saja bukanlah seorang pemain sembarangan.

Bakat tersebut memang sepertinya hanya diberikan Tuhan kepada sejumlah kecil manusia. Bagaimana seorang pemain mampu mengontrol bola dengan lengketnya, dengan gerakan yang lincah seperti penari, namun juga sangat cepat. Okelah gol-gol tersebut pernah ada yang menirunya, contohnya Saed Al-Owairan di Piala Dunia 1994, George Weah tahun 1996, juga penerusnya bernama Lionel Messi tahun 2008. Namun tetaplah gol Maradona lebih tinggi nilainya karena terjadi di sebuah babak menentukan Piala Dunia.

Maradona merayakan gol tersebut bersama jutaan rakyat Argentina, yang memang pada tahun yang sama harus merelakan Kepulauan Malvinas kepada pihak Inggris (kemudian berganti nama menjadi Kepulauan Falkland). “Mereka memang bangsa yang suka berperang, sementara bangsa kami biasa berdansa, makan dan minum-minum.” Begitulah ungkapan hati rakyat Argentina mengenai kekalahan perang mereka dari Inggris, seraya menyebut bangsa itu sebagai pencuri.

Aksi Maradona di lapangan tersebut seolah menjadi obat pelipur lara bagi rakyat Argentina. Bukan hanya karena Argentina akhirnya memenangi laga (dan akhirnya memenangi Piala Dunia), namun beberapa menit sebelumnya Maradona juga mencetak gol yang tidak kalah “sakral”nya dalam dunia sepak bola, apa lagi jika bukan gol “tangan Tuhan” itu.

Nyatanya, kisah Maradona memang jauh dari kesempurnaan milik Tuhan. Selain aksi mendorong bola dengan tangan tadi, puluhan tingkah kontroversial Maradona di luar lapangan makin menggambarkan betapa sosok Maradona jauh dari ketuhanan. Ingat saat ia turut mendukung komersialisasi sepak bola dengan hendak datang ke Indonesia untuk memberikan seminar dan coaching clinic dengan tiket jutaan rupiah? Itu adalah tindakan yang bertolak belakang dari seseorang yang memiliki tato bergambar Che Guevara dan Fidel Castro di tubuhnya.

Namun memang sulit untuk tidak menyebut Maradona jika ditanya siapakah 3 pemain sepak bola terbaik sepanjang masa. Saya punya versi sendiri soal ini selain Maradona, yaitu Pele, dan Johan Cruyff. Kesamaan dari ketiganya adalah vitalnya peran mereka di lapangan. “Mereka adalah strategi dari tim masing-masing” begitulah ucapan dari seorang pengamat sepak bola yang saya kenal. Dengan kata lain, Maradona, sama seperti Pele dan Cruyff adalah roh permainan.

Pele dan Cruyff memimpin tim yang dianggap terbaik sepanjang masa, yaitu tim nasional Brasil 1970 dan Belanda 1974. Namun meski tim nasional Argentina 1986 bukan termasuk jajaran tim terbaik, keberadaan Maradona seorang adalah pembedanya. Maradona mengangkat tinggi-tinggi level permainan Argentina tahun 1986.

Jalan hidup Maradona mungkin tidak “selurus” Pele dan Cruyff. Namun Maradona memperlihatkan sisi manusiawi sebagai makhluk lemah dan kerap berbuat salah. Pengakuannya ketika ditanya gol “tangan Tuhan” pun tidak kalah nyelenehnya. “We've robbed them. But whoever robs a thief gets a 100-year pardon.”

Apapun itu, selamat ulang tahun ke-53, Diego!

Sunday, October 27, 2013

So You Think You Know Neymar

Internazionale Milan boleh meraih gelar treble winners tahun 2010 lalu, namun yang mereka hadapi setelah itu adalah kepergian Jose Mourinho, yang kemudian menjadi awal kemunduran mereka hingga kini. Barcelona juga meraih treble winners setahun sebelum Inter, namun hingga kini prestasi Barcelona masih stabil (jika ukurannya adalah gelar-gelar La Liga yang masih mereka dapatkan dan pencapaian minimal semifinal Liga Champions sejak 2009 tersebut).

Barcelona yang kini kita saksikan bukanlah tim asal jadi. Adalah Johan Cruyff, mantan pemain dan pelatih mereka yang mengusulkan pembangunan akademi La Masia tahun 1976 kepada Josep Luis Nunez, presiden Barca saat itu. Ia belajar dari keberhasilan Ajax Amsterdam yang mampu meraih tiga gelar beruntun Piala Eropa (sekarang Liga Champions) tahun 1971 hingga 1973 lewat penampilan memukau talenta-talenda dari akademi sendiri. Seperti kita tahu, talenta-talenta tersebut juga menghasilkan salah satu tim terbaik dunia sepanjang masa yang tanpa mahkota, yaitu tim nasional Belanda tahun 1974.

Cruyff mendapatkan keinginannya dari Nunez tahun 1979, dimana ia kelak menuai hasil yang ia tanam lewat pemain-pemain macam Pep Guardiola dan Guilermo Amor yang ia tangani awal tahun 90an. Selanjutnya, La Masia menelurkan generasi Xavi Hernandez, Carles Puyol, Victor Valdes, Andres Iniesta hingga Lionel Messi dan kawan-kawan yang biasa kita saksikan kini.

Maka tidaklah mengherankan saat semalam Barcelona mampu mengalahkan Real Madrid yang dihuni pemain berharga ratusan juta euro. Terlepas dari kontroversi yang memang suka atau tidak menjadi bagian dari permainan sepak bola, Barca memang lebih superior. Pelatih Tata Martino mengusung pola 4-3-3 seperti biasa, juga pemain yang biasa ia turunkan, dengan preferensi menaruh Cesc Fabregas sebagai false nine dan menempatkan Leo Messi di sayap kanan. Taktik yang biasa digunakan Barca kala menghadapi lawan kuat yang pertahanannya rapat.

Tata Martino belajar banyak dari keberhasilan tim nasional Brasil pada Piala Konfederasi beberapa bulan lalu. Alih-alih menjadikan Messi sebagai sentral permainan, ia justru lebih mengandalkan Neymar. Hal ini terlihat dari banyaknya aliran bola mereka di daerah final third yang ditujukan kepada pemuda yang oleh pengamat dinilai overrated itu. Situs Whoscored memperlihatkan bahwa 36% dari serangan Blaugrana berada pada sisi kiri dimana Neymar bermain.

Nyatanya, Neymar sudah berkali-kali membuktikan bahwa ia bukanlah pesepakbola yang hanya hebat di Youtube dan memiliki yacht seharga 30 juta dollar serta mansion senilai 15 juta dollar. Lebih dari itu, Neymar adalah seorang pesepakbola cerdas dengan pemahaman taktik yang tinggi.

Keputusannya pindah ke Barca awal musim sempat mengundang keraguan karena Neymar lebih menonjol sebagai pemain yang sering “bermain sendiri” sementara Barcelona adalah tim yang dapat menghasilkan ratusan passing per laga. Pindahnya Neymar ke Eropa juga dinilai terlalu cepat, apalagi Piala Dunia di rumah sendiri sudah di depan mata.

Namun dari sepertiga musim yang telah dilalui, Neymar telah menunjukkan bahwa ia adalah seorang team player, menyamai reputasinya sebagai pesepakbola Youtube yang sering dinilai dangkal oleh para penggemar awam. Gol pertama yang ia ciptakan tepat saat bendera Catalonia berkibar dan teriakan “Independence” bergemuruh di tribun ultras adalah buah dari pergerakan yang cerdik dan eksekusi dengan presisi tinggi.

Carlo Ancelotti bukannya tinggal diam. Sebagai pelatih yang telah memenangi dua gelar Liga Champions dan memenangi gelar juara liga di tiga kompetisi berbeda (Italia, Inggris dan Prancis), Carletto jelas lebih dari berpengalaman, ia adalah Guru. Ancelotti menurunkan Dani Carvajal alih-alih Alvaro Arbeloa yang tampangnya mirip bintang film porno itu. Ancelotti belajar dari final Piala Konfederasi saat Arbeloa berkali-kali dikadali oleh Neymar.

Kedatangan Neymar juga dapat dilihat sebagai bukti tajamnya visi petinggi Blaugrana. Meski memiliki akademi terbaik dunia, mereka masih membutuhkan pemain dengan kemampuan seperti Neymar agar permainan mereka tidak terlalu text-book. Namun Barca juga tidak pernah sembarangan mengambil talenta. Jika mereka mengincar seorang pemain dari luar klub, pastilah pemain tersebut memang benar-benar memenuhi standar tinggi yang mereka miliki. Neymar, setidaknya telah mampu membuktikan diri bahwa ia memiliki standar tersebut.

Keberadaan Neymar nyatanya memberi alternatif dan kesegaran pada permainan Barca yang terlalu Messi-sentris. 6 assist dan rataan 2 key-passes per laga yang telah ia sumbangkan dan rambut ayam yang telah ia cukur juga membuktikan bahwa Barcelona telah menjadi rumah yang baik untuknya, bukan hanya makin mengembangkannya secara taktikal, namun juga membuatnya lebih rendah hati. Hal yang tidak mudah mengingat saat bermain di Santos, ia telah mencetak lebih dari 200 gol. Puja-puji juga ia dapatkan, dan ia tidak pernah salah. Neymar disebut nekat dengan pindah ke Barcelona untuk berbagi tempat dengan Messi, bintang yang telah menjadi ikon kota.


Kompetisi memang masih berada pada fase awal. Madrid juga masih memiliki banyak amunisi untuk terus membuat hidup Barca susah hingga akhir kompetisi nanti, belum lagi ancaman yang datang dari The Wonder Team Atletico. Tapi dalam kasus Neymar, setidaknya ia telah membuktikan bahwa ia bukanlah pemain yang overrated, melainkan wrongly-rated.

Sunday, October 20, 2013

Saat Gol Hantu Memanusiakan Sepak Bola

Anda yang memiliki rejeki bagus dan juga kesempatan yang memadai tentu akan senang mengunjungi benua Eropa, benua berupa daratan luas dengan batas-batas negara yang tegas. Benua asal para penakluk yang jika digabungkan luasnya, akan berukuran tidak jauh berbeda dengan luas wilayah Indonesia.

Berbicara Eropa, tentu sangat disayangkan jika Anda tidak mengagendakan sedikit saja waktu untuk melihat sepak bola, meskipun Anda tidak menggemari olahraga ini. Di benua tempat pertama kali sepak bola diklaim dimainkan dan dirumuskan aturannya inilah sepak bola seperti agama. Manusia boleh lahir dan mati, bangunan boleh berdiri kokoh lalu berjamur dan runtuh, namun sepak bola bukannya memudar malah terus berpendar.

Perkembangan sepak bola memang tidak secepat perkembangan teknologi komputer atau telepon genggam. Dengan kesederhanaannya, sepak bola pada dasarnya adalah permainan yang mempertandingkan 11 orang dari sebuah komunitas atau kampung. Kesederhanaan itulah yang membuat perkembangan sepak bola tidak secepat perkembangan teknologi.

Namun saat komersialisasi digaungkan, mulailah sepak bola tersaji seperti yang setiap pekannya Anda saksikan. Sebuah klub sepak bola kini telah banyak memiliki manajemen sekuat perusahaan besar, meskipun omzet mereka masih jauh. Perusahaan apparel yang dulunya dibayar oleh klub sepak bola untuk menyediakan perlengkapan bermain, kini berbalik menjadi pihak yang membayar. Kontrak televisi lantas menggila, dunia bisnis lantas melirik sepak bola sebagai lahan promosi yang sangat potensial, penggemar sepak bola terutama di benua Asia lantas dijejali berbagai gimmick dan tontonan sepak bola tengah malam yang tidak jarang mengaduk-aduk emosi mereka sendiri, memenuhi pikiran mereka dengan ilusi berbalut fanatisme. Sebelum era semacam ini timbul, pemanfaatan tertinggi pada sepak bola baru dilakukan oleh para politisi untuk menyebarkan propaganda.

Kembali ke stadion-stadion di Eropa, jika Anda pernah berkunjung ke salah satu stadion ternama, Anda akan menyaksikan fasilitas anjangsana yang sekilas lebih cocok untuk kaum borjuis, namun ternyata cocok untuk seluruh kelas dalam masyarakat. Di stadion sepak bola, mungkin saja tidak berlaku prinsip sama rata sama rasa. Anda duduk sesuai dengan harga karcis yang Anda bayar. Namun Anda akan menyaksikan pertunjukan yang sama, pertunjukan adu tehnik dua puluh dua orang pesepak bola dan adu strategi dua orang pelatih. Ditambah lagi, Anda akan menyaksikan protokoler dan prosedural kelas elit, bahkan sebagian ada yang sudah menerapkan teknologi garis gawang agar hasil pertandingan benar-benar valid dan human error diperkecil kemungkinannya. Pertandingan sepak bola adalah sebuah event penting yang hasilnya memang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan. Football is a serious business.

Maka agak lucu jika dengan perangkat pertandingan yang sudah berada pada tingkat kecanggihan pesawat Air Force One, kontroversi masih saja muncul. Stefan Kiessling, penyerang berambut kuning keemasan bertubuh tinggi dan agak kurus adalah salah satu pesepakbola handal saat ini yang diabaikan oleh tim nasionalnya. Meski ia terus menjawab segala keraguan lewat rekor golnya yang mengagumkan dan statistik-statistik yang mencengangkan, namun Jogi Loew tidak kunjung meliriknya untuk menjadi salah satu penggawa Die Nationalmannschaft.

Kiessling akhirnya memilih cerita lain, meskipun ia tidak bermaksud melakukannya. Ia mencetak gol yang kemudian banyak disebut sebagai gol hantu, karena bola sebenarnya memang tidak masuk ke gawang melainkan hanya menyentuh samping gawang. Ekspresi Kiessling sungguh datar hingga semuanya berubah saat wasit mengesahkan momen tersebut menjadi sebuah gol. Bukan sembarang gol, namun gol yang memenangkan klubnya, Bayer Leverkusen. Publik geram, pengelola liga kebakaran jenggot, perangkat pertandingan merasa kecolongan, namun tidak sedikit pula yang menertawakan sekaligus menganggap momen tersebut sebagai hal unik dalam sepak bola. Ya, hal-hal yang membuat permainan ini tidak kehilangan sisi manusia. Manusia yang tidak lepas dari kesalahan.

***

(Sementara itu di belahan bumi lainnya, 13 tahun silam)
“Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo
Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo”

Begitulah teriakan yang terdengar nyaris di seantero sekolah kala laga classmeeting digelar. Parodi chantCampione.. Campione..” yang biasa didengar dari layar kaca kemudian mereka ubah menjadi “Sociale.. Sociale..” melambangkan kelas 3 IPS atau Sosial, seakan menunjukkan superioritas skill sepak bola sekaligus rasa kebersamaan yang lebih cair antar sesama dibandingkan anak-anak IPA. Ya, anak-anak yang terkesan lebih serius, ilmiah, individualis, tidak banyak bicara, sinis, terpelajar namun selalu kalah dalam bermain sepak bola di sekolah.

Pada hari itu, semua berubah di lapangan. Laga semifinal classmeeting antara kelas IPA saya dengan kelas IPS berlangsung sengit karena ternyata kami mampu memberi perlawanan. Skor masih imbang 1-1 hingga penghujung pertandingan. Kami semua nampak siap melanjutkan laga dengan perpanjangan waktu, namun sebuah momen mengubah segalanya.

Rekan saya, sebut saja Mr. K, melepas tendangan langsung ke gawang IPS. Merasa bola tidak akan masuk, kiper IPS hanya mendiamkannya. Bola memang tidak masuk, dan Mr. K juga menunjukkan gestur kekecewaan. Namun apa daya, hakim garis dan wasit serentak mengangkat bendera dan tangan ke arah tengah lapangan pertanda tendangan tersebut gol. Sempat terjadi moment of silence beberapa saat untuk mencerna apa yang baru saja terjadi, namun kencangnya bunyi peluit dari wasit mengonfirmasi bahwa gol hantu telah terjadi. Teriakan “Sociale” lalu berubah menjadi koor masal bernada kekecewaan pada kepemimpinan wasit. Ya, laga saat itu memang tidak dapat dibandingkan dengan laga Bundesliga yang dilakoni Stefan Kiessling. Gawang yang terbuat dari bambu dan tidak terpasangnya jaring memang menyulitkan pengambilan keputusan.

IPS meradang, menggugat, marah dan kecewa. Sementara kami hanya diam tanpa merayakan gol seperti biasa, meskipun tersenyum simpul dalam hati. Laga usai, kami menang. Wasit dicerca, emosi melanda, namun beruntung keributan tidak meledak. Gestur sportivitas juga kami berikan pada lawan, hasil akhir sudah ditentukan. Sepak bola memang kadang seperti ini. Aneh, unik, kejam, tidak terduga seperti gambaran umum kehidupan.

Pada hari itu, meskipun bukan dengan cara yang kami inginkan dan bukan dengan cara yang ilmiah serta terukur, kami berhasil mengubah stigma di sekolah dimana anak IPA tidak bisa mengalahkan anak IPS dalam bermain sepak bola.

Sunday, October 13, 2013

Haruskah Sebatas Mengulangi Euforia?

Belum sampai 3 x 24 jam kita menyaksikan timnas sepak bola U-19 Indonesia melaju ke putaran Piala Asia U-19 dengan rekor kemenangan sempurna. Euforia sepak bola kembali membuncah layaknya gempita publik bola Indonesia pada momen Piala Asia 2007, Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011.

Mari sejenak kita melihat ke belakang. Pada Piala Asia 2007, timnas yang kala itu diasuh Ivan Venkov Kolev dengan formasi andalan 3-4-3 memang membuka turnamen dengan mengalahkan Bahrain lewat gol Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas. “Gue pelukan sama penonton di sebelah gue pas golnya Bepe kemaren, padahal kami gak saling kenal!” ujar salah satu teman saya, sebut saja namanya Revi yang memang rajin menonton langsung pertandingan timnas di Gelora Bung Karno. Sayangnya setelah itu Indonesia menyerah dari kaki Arab Saudi dan Korea Selatan, sehingga gagal lolos ke babak berikutnya pada turnamen yang akhirnya dimenangi oleh Irak itu.

Meski kalah, determinasi timnas merah putih patut diacungi jempol mengingat lawan yang dihadapi kualitasnya satu-dua tingkat di atas. Sepak bola Indonesia bergairah lagi. Sejak saat itu, jersey home merah-putih dan jersey away putih-hijau laris bagaikan kacang goreng, tanpa harus menunggu midnite sale. Para penggemar kasual maupun musiman juga otomatis merasa memiliki tim ini.

Selanjutnya, datanglah Piala AFF. Indonesia yang saat itu dilatih Alfred Riedl memukau publik lewat penampilan spektakuler di babak penyisihan. Malaysia diganyang 5-1, Thailand digasak 2-1, dua momen yang jarang terjadi pada timnas Indonesia. Stadion GBK penuh sesak, gemuruh lagu kebangsaan berkumandang tanpa dikomando, nasionalisme publik seakan berada pada puncaknya. Sepak bola (atau timnas) dianggap sebagai pemersatu bangsa meski akhirnya penampilan timnas di final antiklimaks dan harus menyerah di tangan Malaysia.

Pada SEA Games 2011, tim asuhan Rahmad Darmawan nyaris menggondol medali emas andai tidak kalah adu penalti dari “hantu” yang sama bernama Malaysia. Publik pun dengan masygul menyebut sepak bola Indonesia sebagai “sepak bola nyaris”. Nyaris menang, nyaris juara, nyaris berprestasi. Nyaris yang tidak memberi kita apapun.

Euforia yang padam dan suporter yang patah arang kemudian mengawali salah satu periode terburuk sepak bola Indonesia, yaitu munculnya dualisme pada federasi. Perpecahan di kalangan elite menular hingga ke lapisan bawah, kondisi yang berlangsung hingga dua tahun. Prestasi timnas di lapangan hijau mengenaskan dan terus mengukir sejarah kelam. Sepak bola Indonesia seperti di-restart, euforia tahun 2007 dan 2010 seakan tak berbekas.

Setelah fase kegelapan itu, muncul sekelompok pemuda yang kembali “menyalakan tombol euforia”. Kali ini gelar benar-benar mereka genggam dan permainan cantik betul-betul diperagakan, bukan lagi sekadar nyaris. Pemain-pemain U-19 ini bermain dengan cara yang tidak seperti pemain Indonesia pada umumnya: bermain long pass, goreng menggoreng lalu stamina kendor setelah memasuki menit ke-65.

“Anda semua ingin membanggakan orang tua? Keluarkan kemampuan terbaik kalian sekarang!!” Begitulah talk team pelatih Indra Sjafri kala jeda pertandingan lawan Korea Selatan. Hasilnya dapat terlihat di babak kedua dimana pemain-pemain timnas bermain dengan penuh determinasi sekaligus menunjukkan kematangan luar biasa hingga akhir laga. Jagoan-jagoan dari negara penyebar virus K-Pop itu bahkan dipaksa memainkan umpan lambung karena tekanan pemain-pemain Indonesia yang tak kenal lelah.

Seperti bangsa yang tidak pernah mau belajar, muncullah ide-ide absurd soal timnas ini, dari ide yang menyangkut pada komersialisasi hingga politisasi. Tanpa bermaksud menggurui, seharusnya mereka belajar dari pengalaman yang sudah lewat dimana pembebanan yang berlebihan dan penanganan yang keliru (apalagi kepada sekelompok pemuda yang usianya masih belasan tahun) hanya akan merusak masa depan mereka. Mengapa tidak dibiarkan saja mereka fokus pada sepak bola dan menapaki jenjang timnas dengan proses panjang, karena memang tidak ada jalan pintas untuk menggapai kesuksesan. Semua prestasi besar memerlukan waktu.

Biarkan saja timnas U-19 ini melanjutkan perjuangan ke level yang lebih tinggi lagi, yaitu Piala Asia. Jangan pula dihujat jika tahun depan mereka kalah. Disamping bermain di kandang lawan, mereka juga akan menghadapi lawan-lawan tangguh dengan level permainan jauh di atas. Calon lawan nanti juga pasti sudah mengantisipasi kekuatan kita. Perjuangan mereka masih harus ditunggu lagi hingga ke level senior, dimana disitulah segalanya dipertaruhkan.

Tidak ada cara yang lebih baik selain mempersiapkan lagi pasukan timnas selanjutnya. Kemenangan yang sudah diraih timnas U-19 harus dilanjutkan dengan pembinaan yang serius. Untuk membentuk tim jurara ini, Indra Sjafri sampai harus blusukan ke daerah-daerah pelosok karena pemain yang diwariskan dari tim U-16 tidak ada yang layak, dan juga PSSI tidak memiliki sistem pembinaan memadai yang mampu menyaring talent pool pemain di seluruh penjuru negeri dengan 17 ribu pulau ini.

“Tonight is proof that Indonesian Youth Football can compete with the best in Asia. Focus on kids, they are the future. Great game!” Demikian isi kicauan Tom Byer, seorang ahli pengembangan bakat pemain muda yang telah sukses membantu Jepang dan kini sedang menjajaki kerjasama dengan Indonesia.

Sejalan dengan pencetakan pemain, pencetakan pelatih berkualitas juga harus dilakukan. Tidak mungkin PSSI berharap ada 1000 orang seperti Indra Sjafri yang rela blusukan sekaligus mampu memoles bakat mentah macam Evan Dimas, Ilham Udin, Maldini Pali dkk. Saatnya cara-cara kuno dan mindset “Indonesia gudangnya bakat alam” ditinggalkan. Tanpa dilatih dan dibina dengan benar, bakat-bakat alam itu hanya akan tersia-siakan.

Jika kita tidak belajar dari pengalaman, euforia ini juga hanya akan sekadar singgah layaknya euforia 2007, 2010 dan 2011, lalu restart lagi dan terus memulai dari awal. 

Saturday, October 12, 2013

Timnas Tanpa Kepentingan

“It’s not like watching Indonesia.” Begitulah judul artikel full English salah seorang penulis kenalan saya di sebuah media, menggambarkan betapa atraktifnya penampilan tim nasional Under 19 sehari setelah mengalahkan Filipina. Ia mungkin sengaja menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan tim ini lebih luas lagi ke skala global. 

Filipina memang memainkan sepak bola negatif. Mereka menumpuk seluruh pemainnya di daerah sendiri, termasuk 8 pemain di kotak penalti. Strategi ini lazim dipakai tim yang menghadapi Barcelona ataupun Bayern Muenchen, tim dengan kemampuan luar biasa dalam mengendalikan permainan dan mengolah bola. Indonesia, dengan level yang berbeda dengan Barca dan Bayern tentunya, mampu memaksa Filipina (yang juga dibawah level lawan-lawan Barca dan Bayern) melakukan itu.

Okelah kualitas Filipina memang masih di bawah Indonesia. Tapi yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana tim Indonesia U-19 menjaga konsistensi dan tetap membumi meskipun mereka baru mengakhiri dahaga 22 tahun gelar internasional Indonesia. “Kalo elo baru juara kelas, selain ada kebanggaan, pasti juga ada beban untuk mempertahankan prestasi. Belum lagi pujian-pujian dari sekeliling yang malah melenakan.” Begitulah ujar salah seorang mentor saya mengomentari kondisi timnas U-19. “Tapi sepertinya euforia berlebihan ini tidak terjadi di tim U-19.”

Ya, tim U-19 ini memang beda. Maksudnya, beda dari tim Indonesia pada umumnya. Dari segi permainan, level tim ini memang masih di bawah Vietnam, yang mereka kalahkan di final Piala AFF U-19 bulan lalu. Namun tim ini memiliki modal luar biasa yang bahkan menurut saya tidak dimiliki oleh tim-tim olahraga di Indonesia.

Tim ini terus diajarkan untuk rendah hati. Pelatih Indra Sjafri juga menanamkan disiplin tinggi kepada anak asuhannya. Tidak ada pemain yang merasa seperti pemain bintang, yang lalu merasa layak untuk tampil di acara infotainment menggandeng selebritis yang turut memanfaatkan momentum ini untuk menjadi social climber.

Krioterapi dan 4-3-3
Saya menulis ini sesaat setelah pertandingan penentuan lawan “tim drama dengan pemain berbedak tebal” Korea Selatan berakhir. Indonesia berhasil mengalahkan Taeguk Warriors 3-2 yang otomatis membawa tim ini ke putaran final Piala Asia di Myanmar tahun depan, sesuatu yang bahkan sudah tiga periode tidak mampu dicapai timnas senior. Lagipula, melihat permainan timnas yang begitu menyulitkan sebuah tim juara bertahan Piala Asia (dan juara 12 kali Piala Asia junior), hal ini sudah membanggakan. Sudah lama kita tidak memiliki timnas seperti ini.

Apapun hasilnya nanti di Piala Asia, tim U-19 ini dapat saya anggap sebagai timnas terbaik yang dipunyai Indonesia sejak pertama kali saya menyaksikan pertandingan timnas. Mereka mungkin bukan yang terbaik secara teknis, namun dilihat dari mentalitas dan sikap, mereka jelas patut dicontoh. Permainan mereka juga sangat tenang, tidak asal membuang bola ke depan dan juga tidak banyak menggocek bola. Jarak antar pemain begitu rapat dan transisi bertahan-menyerang  juga mulus, apalagi kombinasi umpan satu sentuhan yang mereka peragakan di daerah final third. Mereka membalikkan mindset orang Indonesia pada umumnya yang menganggap pemain paling jago adalah yang paling hebat menggoreng bola.

Timnas U-19 adalah contoh nyata betapa proses yang tidak instan tanpa jalan pintas dan sikap yang benar adalah jalan menuju kesuksesan. Proses pelatnas jangka panjang, penempatan psikolog dalam tim, juga penggunaan metode krioterapi menunjukkan tim ini tidak menutup mata pada perkembangan zaman.

Krioterapi adalah metode yang banyak dipakai tim-tim Eropa, termasuk pemain macam Phillip Neville, Javier Zanetti maupun Raul Gonzalez yang karirnya awet di level tertinggi meski sudah berusia senja. Krioterapi menggunakan media es batu, dimana pemain berendam di kolam yang dipenuhi es batu tersebut (tentu suhu kolam telah diatur) dalam beberapa menit. Metode ini disamping meningkatkan ketahanan, juga efektif untuk mempercepat pemulihan cedera. Sayangnya meski lazim digunakan di Eropa, krioterapi ini masih jarang digunakan di Indonesia.

Berbicara sedikit pola permainan, pola 4-3-3 yang digunakan memang cocok dengan karakter sepak bola Indonesia. Timnas senior juga menggunakan pola ini, meski pengaplikasiannya di lapangan jauh berbeda. Tentang penggunaan pola 4-3-3 ini, pelatih Indonesia di masa lalu seperti Toni Pogacnik dan Anatoly Polosin memang telah lama mengamati kelebihan Indonesia dalam permainan sayap. Kini, tidak ada salahnya pola 4-3-3 yang cocok dengan kultur kita ini diimplementasi seluruh jenjang tim nasional, bahkan jika perlu hingga ke klub-klub.

Seorang teman malah mengingat trio gelandang Muhammad Hargianto, Zulfiandi dan Evan Dimas sehebat Andres Iturraspe, Javi Martinez dan Ander Herrera (tentunya dalam level berbeda) yang membawa Athletic Bilbao meluluhlantakkan Manchester United di Old Trafford. Ya, baik Hargianto maupun Zulfiandi dan kapten Evan Dimas memang seperti sudah menyatu benar permainannya, dengan chemistry tingkat tinggi yang terjalin. Khusus Evan Dimas, first touch, positioning dan visi permainannya bahkan sudah berada di level Asia. Mengingat usianya yang masih 18, bukan tidak mungkin ia akan menggapai prestasi lebih tinggi lagi (semoga ada klub Jepang atau bahkan Eropa yang segera mengontraknya, jangan main disini).

Catatan positif lainnya adalah stamina pemain. Hal ini sudah ditunjukkan lewat penampilan mereka kala menjuarai Piala AFF U-19 di Sidoarjo lalu ketika mereka mampu mempertahankan ritme permainan meski harus melakoni babak perpanjangan waktu dan bermain setiap dua hari sekali. Pola latihan dan metode krioterapi yang dijalankan berkontribusi pada rataan VO2 Max pemain-pemain timnas U-19 yang diatas 60 ml/(kg.min), padahal kadar VO2 Max ideal berada pada angka 57-58. Memadainya VO2 Max pemain ini amat mendukung taktik zone press yang diterapkan, bahkan sejak pemain lawan menguasai bola di daerahnya sendiri.

Bagaimanapun dibalik segala kehebatan dan kebanggaan, juga euforia dan harapan tidak usahlah menanamkan optimisme berlebihan. Tim ini masih muda, masih akan menapaki jalan panjang untuk terus membela bangsa bersebelas di lapangan hijau. Jangan lupakan pula bahwa tim ini masih relatif bebas kepentingan, juga semua kemenangan ini didapat kala bermain di kandang sendiri. Kini setelah mampu memukul Korea Selatan dengan permainan impresif, jangan heran jika terjadi perebutan panggung antar para pahlawan kesiangan yang mengaku ikut-ikutan membentuk tim ini. Semoga saya salah.

Tuesday, September 17, 2013

Review Torino vs Milan: Milan yang Beruntung

Ada beberapa poin penting yang dapat diangkat sehubungan dengan ‘keberhasilan’ Milan memaksakan hasil imbang dalam laga lawan Torino, Minggu (15/9) dini hari lalu. Saya lebih suka menyebutnya ‘keberhasilan’ karena memang hasil ini sangat menyakitkan buat Torino. Mereka pantas meraup tiga poin dari Milan yang masih kagok dengan pola 4-3-1-2.

Poin pertama adalah kegagalan pola 4-3-1-2 di laga ini. 4-3-1-2 bukanlah pola asing. Musim lalu, mereka juga menggunakannya pada awal musim (dan hasilnya jelek) sampai kemudian mereka stabil dengan pola 4-3-3. Salah satu titah Berlusconi pada Allegri di libur kompetisi adalah dipakainya kembali pola 4-3-1-2. Berlusconi tidak asal suruh, ia kemudian memberikan trequartista-trequartista handal Ricardo Kaka, Riccardo Saponara lalu kemudian Keisuke Honda nanti di Januari sebagai amunisi penggunaan 4-3-1-2.

Perubahan pola permainan membutuhkan  waktu adaptasi. Bukan hanya Kaka yang harus beradaptasi, tapi juga pemain-pemain lain. Kelemahan pola 4-3-1-2 Milan dieksploitasi betul oleh Giampiero Ventura, pelatih Torino yang menggelar pola 4-2-3-1 (dengan modifikasi 3-5-2), sebuah pola seimbang yang mengandalkan lebar lapangan. Tiga gelandang serang, Danilo D’Ambrosio, Omar El Kaddouri dan Alessio Cerci begitu leluasa memanfaatkan sisi lapangan yang kurang mendapatkan cover dari pemain-pemain Milan. Sementara Kaka cukup kesulitan karena harus berhadapan dengan double pivot milik Il Toro, Giuseppe Vives dan Matteo Brighi.

Cerci menunjukkan kelasnya di pertandingan ini. Ia bergantian dengan bek sayap Matteo Darmian meneror sisi kiri pertahanan Milan yang dijaga Urby Emanuelson. Meski bek sayap kiri adalah posisi naturalnya, namun dalam beberapa musim kebelakang Urby lebih banyak ditempatkan sebagai gelandang. Bukan hanya Urby tidak optimal, namun ia juga tidak mendapatkan bantuan dari gelandang-gelandang Milan lainnya. Dengan demikian, Cerci dengan leluasa melakukan gerakan cutting inside sementara Darmian rajin mengirimkan crossing. Salah satu gerakan cutting inside Cerci ia akhiri dengan assist kepada D’Ambrosio. Cerci juga dengan padu bekerjasama dengan Ciro Immobile, penyerang yang meski belum mencetak gol, namun lihai membuka ruang dan memberikan umpan. Gol kedua yang dilesakkan Cerci adalah buah dari kejelian Immobile.

Jika memakai pola 4-3-3, bek sayap Milan mendapatkan proteksi dari penyerang sayap, sehingga ancaman lawan dari sayap lebih terminimalisir. Pola 4-3-1-2 yang lebih narrow membutuhkan fullback yang komplet alias kuat dalam bertahan dan menyerang, gelandang-gelandang yang memiliki kemampuan menguasai bola, juga penyerang yang mampu menahan bola.

Milan tidak memiliki ketiganya pada pertandingan lawan Torino. Absennya Ignazio Abate dan Mattia De Sciglio sangat berpengaruh. Ricardo Kaka juga tidak mendapatkan bantuan yang cukup dari Riccardo Montolivo dan Sulley Muntari, sementara Robinho dan Mario Balotelli terlalu sering kehilangan bola. Tidak heran, Kaka sering terpaksa menjemput bola melebihi garis tengah lapangan, lalu bingung akan mengumpan kemana.

Poin kedua adalah masih dipasangnya Robinho dan Muntari sebagai starter. Allegri menganggap penyerang Brasil ini cocok bermain dengan pola 4-3-1-2, ia juga mencetak gol ke gawang Cagliari pekan sebelumnya. Namun konsistensi adalah musuh Robinho, yang juga membuatnya gagal mempertahankan level permainan tertinggi. Ia menunjukkannya lagi saat laga kemarin. Untungnya, Allegri cepat menariknya keluar di awal babak kedua.

Sementara Muntari, meski ia mencetak gol (beruntung), tetapi ia sering memaksakan umpan-umpan diagonal yang tidak akurat. Situs Whoscored memperlihatkan umpan akurat Muntari rata-rata hanya dua kali. Jaraknya dengan De Jong dan Montolivo juga terlalu jauh dan ia juga terlalu sering membuat pelanggaran dengan rataan 3,5 kali.

Poin ketiga adalah perubahan taktik yang dilakukan Allegri. Masuknya Alessandro Matri turut andil. Matri memiliki kemampuan flick dan kontrol bola yang lebih baik ketimbang Robinho, dan itu ditunjukkannya berkali-kali kemarin. Balotelli mendapatkan lebih banyak peluang ketika Matri masuk. Sayangnya, pertandingan kemarin bukanlah yang terbaik baginya, kecuali penalti yang diambilnya di menit akhir.

Sementara itu masuknya Valter Birsa menggantikan Kaka yang cedera memodifikasi pola 4-3-1-2 ke 4-3-2-1. Balotelli ditarik lebih kedalam menemani Birsa, meninggalkan Matri sebagai penyerang tunggal. Dengan pola ini, sisi pertahanan Milan lebih terlindungi karena Muntari dan Poli kini bermain lebih melebar. Hal yang sedikit aneh namun sangat menguntungkan Milan adalah ditariknya Alessio Cerci setelah Il Toro unggul dua gol. Tidak heran Cerci terlihat kesal ketika diganti. Tanpanya, Torino praktis kehilangan daya sengat dan memberi angin kepada Milan untuk ganti mendominasi laga.


Dua gol balasan Milan tercipta setelah Cerci keluar. Artinya, kemampuan Milan merebut satu poin tidak lepas dari kekeliruan yang dibuat Ventura. Gol-gol yang tercipta juga tidak didapat dengan cara impresif dan skema open play yang rapi. Milan masih kesulitan membongkar pertahanan lawan dengan taktik ini, dan sebaliknya lawan begitu mudah mengeksploitasi pertahanan Milan dari sayap yang kurang mendapatkan cover dari gelandang. Menghadapi Glasgow Celtic yang memiliki permainan cepat dan semangat tempur khas Britania di Liga Champions nanti, Milan patut waspada. Apalagi Montolivo dan Kaka mengalami cedera yang didapat dari laga lawan Torino. Tidak ada salahnya jika Allegri mencoba menggelar taktik 4-3-2-1 ketimbang memaksakan 4-3-1-2.

Tuesday, August 27, 2013

Ayo Main Bola (Part-2)

Rasanya, semua penggemar sepak bola pernah memiliki keinginan untuk menjadi pesepak bola profesional. Bayangan akan popularitas yang berbanding lurus dengan kemapanan finansial tanpa batas serta kebanggaan membela nama bangsa di lapangan hijau adalah lamunan yang lebih indah dari apapun juga.

Berbagai hal melatarbelakangi kegagalan jutaan anak untuk menjadi pesepakbola. Mereka pada akhirnya menggeluti profesi lain, meski sepak bola tidak pernah hilang begitu saja dari benak mereka. Sepak bola hadir dalam bentuk lain seperti tulisan, kerelaan begadang menonton siaran langsung, atau kerelaan merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli jersey original. Apapun itu, saya rasa semua orang punya momen sepak bolanya masing-masing.

Momen sepak bola yang saya maksud di sini adalah momen ketika mereka masih bisa memainkan sepak bola tanpa beban. Tanpa takut dicari istri, tanpa takut diambek pacar, tanpa memikirkan dibayar berapa dan sebagainya. Permainan sepak bola kanak-kanak yang dimulai saat yang punya bola datang, dan baru berhenti jelang adzan maghrib berkumandang, atau ketika bel masuk sekolah berbunyi. Ya, sepak bola murni tanpa aturan-aturan ribet dan jargon-jargon modernitas. Permainan sederhana sebelas lawan sebelas, malah bisa lebih bisa kurang.

Saya merasakan momen seperti itu di bangku sekolah dan kuliah. Saat itulah kondisi fisik berada pada puncaknya dan saya juga belum terjebak pada ikatan-ikatan (you know what I mean) tertentu. Sepak bola saat itu bukanlah pelarian, bukanlah motif rekreasi, melainkan hanya permainan belaka. Permainan menyenangkan yang memiliki gravitasi dan candu.

Di sekolah, saya menikmati segala ledekan karena saat itu badan saya kecil dan perawakan saya yang tidak meyakinkan sebagai pesepakbola. Segala ledekan itu kemudian saya ubah menjadi gol-gol yang kebanyakan berasal dari lekatnya imaji saya pada permainan Andriy Shevchenko. Ya, permainan simpel yang mengandalkan kecepatan dan penyelesaian akhir klinis adalah gaya saya saat SMA dulu.

Tuhan menjadikan sepak bola sebagai alat pengatrol posisi di pergaulan. Di masa SMA yang katanya masa-masa paling indah itu, saya bukanlah sosok populer. Saya tidak pandai ngebanyol dan mencela teman, tidak jago-jago amat main gitar, tidak pintar-pintar amat di kelas, tidak pandai menggombali perempuan, juga tidak mengoleksi sepatu Nike Air Jordan. Average Joe yang mudah diabaikan. Tapi berbekal sedikit kebisaan bermain sepak bola itulah, saya pada akhirnya cukup mendapat pengakuan. Ya, setidaknya teman-teman di sekolah dulu akan dengan mudah mengindentifikasi saya sebagai si pemain bola classmeeting, atau mungkin si penggila sepak bola yang malas mencatat pelajaran dan mengerjakan PR.

Cerita ini berlanjut sampai kuliah. Saya masih rajin bermain sepak bola di lapangan dekat kampus. Meski tidak pernah terpilih mewakili tim fakultas, tapi setidaknya saya pernah mencetak gol kemenangan dalam sebuah laga final sarat gengsi melawan tim gabungan senior dan alumni. Saat melakukan tendangan jarak jauh itu, entah bagaimana saya seperti menjadi orang lain. Atmosfer pertandingan saat itu menjadikan kaki lebih ringan dan insting lebih tajam dari biasanya, sehingga gol tersebut memang seperti hanya menunggu waktu untuk terjadi.

Sebegitulah kepingan kenangan sepak bola yang saya punyai, di samping puluhan atau bahkan ratusan kenangan sepak bola lapangan kecil yang telah saya mainkan.

Detik ini, saya sudah genap 6 bulan tidak memainkan sepak bola dengan varian apapun entah di lapangan besar (standar sepak bola) ataupun di lapangan futsal. Memang ada alasan kondisi fisik, namun yang mengkhawatirkan adalah mulai terbentuknya kemalasan-kemalasan tak beralasan. Entah merasa terlalu capai dan malas bergerak, terlalu sibuk atau sok sibuk, malas mengeluarkan motor atau mobil untuk menuju lapangan, malas ini dan malas itu, takut begini takut begitu.

Mungkin saya telah memasuki fase hilangnya rasa kehilangan tidak bermain sepak bola. Rasa di mana tidak memainkan sepak bola bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan karena banyak hal-hal lain yang (terasa) lebih penting. Saya tahu fase ini akan datang, tapi saya akan coba untuk menolaknya sebisa mungkin atau setidaknya menundanya selama mungkin.

Bagi kalian yang masih punya kondisi fisik dan waktu yang memungkinkan untuk terus bermain sepak bola santai atau kompetitif, nikmatilah masa-masa itu. Lawanlah segala kemalasan dan cobalah abaikan segala urusan-urusan rekreasional lain. Nikmatilah bermain sepak bola sebelum sepak bola hanya menjadi bahan obrolan atau bahan tulisan saja.

Saturday, August 17, 2013

Sergio Van Dijk Bukan Tidak Layak, Hanya Belum Mampu Dimaksimalkan

Jelang laga uji coba Indonesia lawan Filipina yang berlangsung Rabu (14/8), keputusan berani dibuat oleh pelatih Jacksen F. Tiago dengan tidak menyertakan penyerang Persib Bandung, Sergio Van Dijk dalam skuatnya.

Tidak disertakannya Van Dijk mengundang pertanyaan. Performa penyerang berusia 31 tahun ini di Indonesia Super League (ISL) sangat cemerlang. Dalam 24 laga yang telah dimainkan, ia mampu menceploskan 19 gol untuk Persib. Koleksi Van Dijk hanya kalah dari striker Persipura, Boaz Solossa yang telah mengoleksi 24 gol.

Kiprah Van Dijk di Persib memang kerap mengundang pujian. Banyak pelatih yang menyebutnya penyerang terbaik di Indonesia saat ini. Penilaian yang wajar, permainan efektif Van Dijk tercermin dari sentuhannya pada bola yang maksimal hanya tiga kali. Penempatan posisinya juga baik, ia kerap bergerak ke segala arah dan terlibat dalam penyusunan serangan. Kelebihan yang jarang dimiliki oleh penyerang Indonesia pada umumnya.

Dengan level permainan seperti itu, Van Dijk memang tak tertandingi di kompetisi ISL. Kualitas lawan yang dihadapi berada dibawah levelnya. Tidak jarang pula ia mencetak gol lewat aksi individu dan juga bola-bola mati. Performa brilian Van Dijk sejauh ini telah menjadi katalis prestasi Persib, yang kini bersaing ketat dengan Arema dan Mitra Kukar untuk memperebutkan posisi ke-2 kompetisi ISL.

Meski begitu, laga internasional adalah soal lain. Tim nasional bukanlah Persib yang memberinya panggung utama. Van Dijk diturunkan dalam laga kompetitif resmi lawan Arab Saudi dalam debutnya, selanjutnya ia juga bermain di laga uji coba melawan Belanda, Arsenal dan Liverpool. Beratnya lawan-lawan yang dihadapi pada awal karir Van Dijk di tim nasional Indonesia menghambat kontribusinya. Hal ini memang diamini Van Dijk sendiri. “Kalau bisa kita menghadapi lawan yang selevel dulu. Lawan yang terlalu tangguh akan membuat kepercayaan diri berkurang. (karena kemungkinan menang yang lebih tipis – red)” Ujarnya seperti dikutip Republika.  

Permainan tim nasional Indonesia yang masih mengandalkan kemampuan individu ketimbang kerjasama tim juga makin menyulitkan Van Dijk untuk unjuk kemampuan. Tim nasional masih belum menemukan skema untuk memaksimalkan kemampuan Van Dijk secara maksimal. Akibatnya, potensi Van Dijk belum nampak saat mengenakan kaus merah putih. Bukan hanya belum mencetak gol, ia juga jarang memberi ancaman bagi pertahanan lawan.

Laga lawan Filipina beberapa hari lalu adalah persiapan tim nasional menghadapi agenda berat dalam waktu dekat, yaitu Kualifikasi Piala Asia. Ada kemungkinan besar bahwa pelatih Jacksen memang tidak memasukkan nama Van Dijk dalam rencananya menghadapi Cina dan Irak bulan Oktober dan November ini, dan nantinya Arab Saudi bulan Maret tahun 2014 karena Van Dijk memang belum bisa termaksimalkan.

Dalam laga-laga tersebut, PSSI dan Badan Tim Nasional memang membebani Jacksen target untuk meraih hasil maksimal, sehingga tidak mengherankan jika Jacksen lebih memilih untuk mengandalkan pemain-pemain yang lebih cocok dengan karakter permainan. Pendeknya, keputusan Jacksen meninggalkan Van Dijk adalah murni karena pertimbangan taktik.

Dari stok penyerang yang dipilih Jacksen dalam laga uji coba melawan Filipina, nama-nama yang bercokol adalah Greg Nwokolo, Boaz Solossa, Titus Bonai dan Patrich Wanggai. Terdapat pula kesamaan diantara keempatnya, yaitu mereka adalah penyerang-penyerang yang bertipe pekerja keras, mengandalkan kecepatan dan mampu memerankan banyak peran di lini depan.

Sementara Van Dijk adalah tipe pemain yang berbeda. Ia adalah tipe penyerang yang tidak banyak berlari dan membawa bola, tidak menonjol pula dalam hal kecepatan. Van Dijk boleh jadi lebih unggul dari skill dan taktik. Namun demikian, ia membutuhkan tim yang mengelilinginya sebagai poros serangan.


Semoga situasi yang terjadi belakangan ini tidak membuat tim nasional terus mengabaikan Van Dijk. Keberadaan predator dengan rekor gol mengesankan sekelas Van Dijk tetaplah sebuah keuntungan besar. Jika memang Van Dijk tidak dimasukkan dalam rencana tim nasional di Kualifikasi Piala Asia, semoga tim nasional tidak mengabaikannya pada turnamen Piala AFF tahun depan. Dan saat turnamen Piala AFF tersebut tiba, semoga kita bisa menyaksikan tim nasional yang lebih baik dan dengan Van Dijk sebagai poros permainan.

Akhirnya, Seorang Playmaker Indonesia

Penantian panjang telah dilalui oleh seorang Stefano Lilipaly untuk membela tim nasional Indonesia, negara asal ayahnya. Meski sudah menyatakan keinginannya membela Skuat Garuda sejak 2 tahun silam, namun kesempatan baru ia dapatkan pada tanggal (14/8) beberapa hari lalu dalam laga uji coba menghadapi Filipina di Stadion Manahan, Solo.

Lilipaly, pemain kelahiran Arnhem 23 tahun lalu adalah pemain yang dibesarkan dari sistem pembinaan sepak bola Belanda. Ia sudah bermain sepak bola sejak berusia 7 tahun. Klub amatir RKSV DCG adalah tempat ia memulai perkenalannya dengan sepak bola. Setelah itu, ia bergabung dengan akademi sepak bola AZ Alkmaar selama setahun sebelum pindah ke akademi Utrecht.

Performa menjanjikan ditunjukkan Lilipaly di skuat junior Utrecht, atau dikenal dengan tim Jong Utrecht. Ia membawa timnya menjuarai Piala KNVB tingkat junior tahun 2010. Dalam laga final melawan De Graafschap yang dimenangi Utrecht dengan skor 4-1, Lilipaly mencetak dua gol. Rangkaian penampilan gemilangnya ini membawa sang gelandang ke tim B senior, meski tidak sampai menembus posisis starter di kompetisi Eredivisie. Sulitnya menembus posisi starter membuatnya hijrah ke Almere City, tim yang bermain di kompetisi kasta kedua Eerstedivisie.

Hingga kini, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini masih tercatat sebagai pemain di Almere bersama pemain keturunan Indonesia lainnya, Leroy Resodihardjo. Di musim kompetisi Eerstedivisie 2012/2013, Lilipaly tercatat bermain sebanyak 13 kali, dengan sumbangan 2 gol. Almere sendiri mengakhiri kompetisi di posisi 13 dari 18 peserta.

Lilipaly adalah pemain dengan kemampuan teknis yang mumpuni, dengan posisi ideal sebagai gelandang serang, tidak mengherankan jika pemain ini mengidolakan Andres Iniesta, gelandang serang Barcelona. Tergabungnya Lilipaly dalam skuat tim nasional belanda U-15 dan U-18 adalah pengakuan atas kemampuannya tersebut.

Hadirnya pemain seperti Lilipaly di tim nasional Indonesia sungguh melegakan. Inilah sebenarnya tipe pemain yang telah ditunggu-tunggu oleh tim nasional, seorang playmaker. Seorang pemain yang tidak sekadar mampu menguasai bola, tapi juga lihai mendistribusikannya dan juga mampu melakukan gerakan tanpa bola yang efisien. Dalam beberapa tahun terakhir, kompetisi sepak bola Indonesia nyaris tidak menghasilkan pemain bertipe seperti ini. Posisi ‘si nomor 10’ ini lebih banyak dipegang oleh pemain-pemain asing seperti Zah Rahan. Taktik yang digunakan klub-klub Indonesia juga umumnya tidak mengakomodasi keberadaan pemain-pemain bertipe seperti ini.

Lilipaly, yang penampilannya baru disaksikan secara luas oleh publik sepak bola Indonesia dalam laga uji coba lawan Filipina, memberi impresi positif dalam debutnya dengan memberi sebuah assist pada gol pertama Indonesia yang dicetak oleh Greg Nwokolo, penyerang naturalisasi. Tidak sekadar assist tersebut yang ia sumbangkan, namun ia mengawalinya dengan pergerakan tanpa bola yang cerdas untuk menerima umpan chip dari Hasim Kipuw.

Debut positif Lilipaly di tim nasional mengundang pujian dari pelatih Jacksen F. Tiago. Dikatakannya, Lilipaly mampu memecahkan konsentrasi pemain lawan, meski terlihat belum padu dalam melakukan kerjasama dengan rekan-rekannya. Dengan Lilipaly di lapangan, Indonesia memang bermain dengan cara yang berbeda seperti yang biasa terlihat. Posisi Lilipaly yang berada di belakang duet penyerang memberi opsi dalam mengalirkan permainan, karena selama ini Indonesia lebih banyak mengandalkan serangan dari sektor sayap maupun permainan umpan panjang.

Belum padunya Lilipaly terlihat jelas karena ia bahkan baru melakukan sentuhan pertama dengan bola pada menit ke-7. Sebelum itu, Lilipaly seperti invisible di lapangan. Kerjasama Lilipaly dengan rekan-rekannya di lini tengah belum terbangun. Trio gelandang lainnya yang kala itu dipasang yaitu Raphael Maitimo, Ahmad Bustomi dan Taufik lebih banyak mengalirkan bola langsung kepada duet Greg dan Boaz Solossa tanpa melalui Lilipaly. Karakter permainan Greg dan Boaz yang lebih mengandalkan melakukan tusukan dan menggiring bola ke sisi lapangan juga membatasi peran Lilipaly.

Meski demikian, Lilipaly segera membuat perbedaan. Dua percobaan tembakan pertama ke gawang lawan adalah kontribusinya. Beberapa kali upaya giringan bolanya juga mampu membongkar lini belakang The Azkals, meskipun ia acap melakukan terlambat mengirimkan umpan.

Dari sisi taktik, dipasangnya Lilipaly sebagai playmaker memang mengubah gaya permainan Indonesia yang terbiasa mengandalkan kecepatan pemain-pemain sayap. Gaya baru dari permainan Indonesia ini memang masih butuh pemantapan. Ketiadaan gelandang sayap membuat serangan sayap Indonesia bertumpu pada dua fullback, sambil sesekali dibantu pergerakan melebar Greg dan Boaz. Dengan demikian, kedisiplinan tinggi dalam menyerang sekaligus bertahan mutlak dimiliki oleh duet fullback Indonesia jika memakai pola ini.


Bagaimanapun, bermainnya Lilipaly di tim nasional adalah sebuah keuntungan, yang jika mampu dimaksimalkan akan mampu meningkatkan level permainan tim nasional Indonesia.