Pages

Showing posts with label Der Panzer. Show all posts
Showing posts with label Der Panzer. Show all posts

Friday, June 29, 2012

Post Match Review Euro 2012: Jerman vs Italia

Mario Balotelli, meledak disaat yang tepat

Beberapa jam sebelum pertandingan Jerman melawan Italia, saya melakukan chat dengan beberapa teman yang merupakan pendukung klub-klub seri a. Ada pendukung Milan seperti saya, dan ada juga seorang Internisti. Mereka seperti sepakat untuk tidak mendukung tim nasional Italia karena la nazionale sekarang didominasi oleh pemain-pemain dari klub rival, Juventus.

Percakapan cheesy itu segera saya tinggalkan. Hal itu mengingatkan saya juga akan tweet dari para MU-haters yang menjelek-jelekkan Wayne Rooney dan Danny Welbeck di tim nasional Inggris. Tidaklah apple to apple membandingkan klub dengan negara, dan tidaklah relevan membawa-bawa fanatisme klub terlalu berlebihan untuk mendukung negaranya. Lagipula inipun negara orang nun jauh disana dan pertandingan ini tidak akan memberi dampak apapun kepada Indonesia. Ya, kitalah negeri para penonton yang rela ribut-ribut dan begadang demi menyaksikan pertunjukan bangsa lain. Saya gak mau ambil bagian yang ribut-ribut dan ribet-ribetnya, tapi saya rela begadang. Saya ingin begadang menyaksikan tim nasional favorit nomor dua setelah tim nasional Indonesia dan ingin menyaksikan pertandingan yang saya yakin akan berlangsung seru dan menarik. Mungkin juga penuh drama.

Jerman sangat banyak diunggulkan karena berbagai faktor. Namun italia memiliki keunggulan historis sebagai tim yang tidak pernah mampu ditundukkan Jerman dalam 7 kali pertemuan, yang dua diantaranya terjadi di Euro dengan hasil 1-1 pada tahun 1988 dan 0-0 pada tahun 1996. Dalam hal produktivitas selama turnamen, Jerman boleh berbangga karena hingga semifinal, mereka mampu mencetak 9 gol sementara Italia hanya 4, paling sedikit diantara semifinalis. Italia juga tim yang sepanjang sejarah tidak mampu mencetak gol ke gawang lawan di semifinal Euro.

Jerman menurunkan formasi dengan pakem andalan mereka yaitu 4-2-3-1 fluid dengan dua gelandang pivot Sami Khedira dan Bastian Schweinsteiger menopang tiga gelandang serang Lukas Podolski, Mesut Ozil dan.. Wow Toni Kroos. Sebuah kejutan kecil buat saya karena dengan dipasangnya Kroos yang lebih suka bermain di sentral permainan, Situs Zonal Marking juga ternyata sama terkejutnya. Jerman akan menumpuk gelandang untuk menghambat kinerja Andrea Pirlo di jantung permainan Italia. Lalu di depan, Mario Gomez yang berupaya mengejar gelar topskor dipasang sebagai ujung tombak. Di belakang dan penjaga gawang, susunan mereka sama.

Cesare Prandelli, yang sebelum pertandingan tim asuhannya dilanda masalah kebugaran sebenarnya agak membuat sedikit dahi berkerut dengan menempatkan 3 pemain berposisi natural center-back dan menempatkan seorang pemain kidal di sisi kanan pertahanannya. Hal ini karena Ignazio Abate dikabarkan tidak fit dan Cristian Maggio terkena hukuman akumulasi kartu kuning. Dengan dipasangnya Federico Balzaretti di posisi bek kanan, Prandelli memiliki seorang inverted full-back dalam timnya.

Pangeran Siahaan, seorang pecinta sepakbola, dalam salah satu artikelnya pernah menuliskan bahwa salah satu tujuan dipasangnya seorang inverted full-back adalah untuk menanggulangi bahaya yang ditimbulkan oleh inverted winger lawan. Saya tidak melihat seorang inverted winger di posisi head to head Balzaretti, karena disitu berdiri Lukas Podolski, seorang kidal murni yang hanya menggunakan kaki kanannya untuk berjalan. Namun melihat orang dibelakang Podolski, saya baru paham karena disitu ada Philip Lahm, juga seorang inverted full-back yang sangat lihai membantu serangan dan cukup produktif mencetak gol dan assist.

Di tengah hingga kedepan, Prandelli memasang pemain yang persis seperti ketika mereka mengalahkan Inggris. Andrea Pirlo dilindungi oleh dua gelandang pekerja yang pandai dalam menerapkan taktik, Claudio Marchisio dan Daniele De Rossi. Sementara Riccardo Montolivo dipercaya sebagai trequartista menopang duet maverick, Antonio Cassano dan Mario Balotelli.

Jerman sebenarnya memulai pertandingan dengan baik. Mereka mengambil inisiatif serangan melalui permainan cepat yang mereka kembangkan. Mesut Ozil lebih banyak bergerak ke kanan tempat Giorgio Chiellini beroperasi. Chiellini yang sejatinya adalah seorang bek tengah tampil amat disiplin menjaga daerahnya, meskipun beberapa kali Ozil dan Jerome Boateng mengancam lewat posisinya.

Sementara Lukas Podolski sayangnya seperti menghilang di lapangan. Hal ini memaksa Philip Lahm bekerja lebih keras menyokong serangan dari sisi kiri. Cederanya Abate seperti blessing in disguise bagi anak asuh Prandelli karena keterbatasan Balzaretti yang tidak nyaman menyerang melalui sisi kanan membuatnya lebih banyak statis di posisinya yang justru membuat Lahm dan Podolski terhambat. Meski demikian, Jerman sempat memperoleh kans bagus ketika sodokan Mario Gomez dari sebuah sepak pojok mempu menaklukkan Gianluigi Buffon, namun Pirlo yang berdiri di garis gawang mampu mengamankan bola dengan tenang.

Pirlo, seperti biasa, bagaikan seorang dirigen yang handal mengalirkan bola ke segala arah dan merusak konsentrasi pertahanan Jerman. Pirlo walaupun mengeluhkan waktu istirahat yang lebih cepat dua hari ketimbang Jerman sebenarnya menyimpan keuntungan yang mungkin dia tidak sadari. Dengan bermain di Juventus yang tidak mengikuti kompetisi eropa musim 2011/2012, Pirlo hanya tampil di kisaran 30-40 pertandingan. Bandingkan dengan Ozil yang tampil lebih dari 50 kali untuk Real Madrid. Ozil, seorang playmaker jempolan dan calon pemain terbaik di masa depan menyaingi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dalam pertandingan semalam tampil di sisi kanan. Kekurangan Ozil yang kurang memiliki awareness dalam membantu Boateng bertahan, dimanfaatkan dengan baik oleh Chiellini yang sesekali naik membantu serangan, juga Antonio Cassano yang memiliki tendensi menyerang dari sisi kiri lalu mengeluarkan passing magis ataupun crossingnya.

Dan salah satu gerakan cerdik sederhana yang diakhiri crossing sempurna, fantanito membuat Balotelli yang dengan keunggulan fisiknya mampu mengatasi duel udara dengan Holger Badstuber. Gol ke 21 lewat sundulan di turnamen ini sekaligus gol pertama Italia di babak semifinal. Ini juga menandai pertama kalinya Jerman tertinggal terlebih dahulu di turnamen ini. Italia lebih menunggu serangan lawan ketika unggul satu gol. Hal ini sempat membuat Jerman kembali tersengat untuk menyerang pertahanan Italia. Para gelandang Italia yang bermain dengan formasi diamond dan rapat kembali menjadi perisai yang sangat kokoh bagi lini belakang. Kali ini setelah bola mampu direbut, Riccardo Montolivo dengan kemampuan long pass yang eksepsional mampu membebaskan Balotelli dari penjagaan duet Badstuber dan Mats Hummels yang tiba-tiba limbung seperti para bek lawan era 90an ketika menghadapi Gabriel Batistuta.

Posisi mereka yang sejajar dan terlalu terpaku pada bola menjadi makanan empuk Balotelli. Dengan ketangguhan dan kecepatannya, Balotelli melepaskan tendangan sangat keras ke pojok kanan gawang Manuel Neuer, yang selanjutnya tampak bertepuk tangan atas gol ala Kojiro Hyuga dalam serial kartun Jepang, Kapten Tsubasa tersebut. Balotelli nampak seperti mengumpulkan segala potensinya sebelum pertandingan ini, dan meledakkannya di saat yang tepat. Ini adalah kali pertama Italia mampu mencetak dua gol di babak pertama sejak pertandingan mereka melawan Rumania di Euro 2000.

Joachim Loew membuat dua pergantian di awal babak kedua. Miroslav Klose dan Marco Reus masuk menggantikan Mario Gomez yang terisolasi dan Lukas Podolski yang menghilang. Penduduk Polandia yang mayoritas mendukung Jerman karena faktor kedekatan dan keberadaan dua pemain asal mereka, Podolski dan Klose terus meneriakkan dukungannya dengan meneriakkan “scheibe.. scheibe.. scheibe” dengan mengagumkan. Pergantian yang sempat merepotkan barisan pertahanan Italia karena pergerakan Reus mampu memecah konsentrasi Balzaretti dan sempat meloloskan Philip Lahm. Pertahanan Italia yang super ketat kembali perlu mendapatkan kredit. Belum lagi menyebut Gigi Buffon tampil dengan kelasnya yang sejajar dengan Iker Casillas. Anak-anak muda Jerman frustasi karena tidak kunjung mampu membongkar pertahanan Italia terlihat kehilangan semangat tempur, yang sepertinya hilang dari tim Jerman yang biasanya dikenal mampu tampil pantang menyerah hingga akhir.

Masuknya Antonio Di Natale, Alessandro Diamanti dan Thiago Motta menjaga ritme serangan balik Italia yang berbahaya. Andai penyelesaian akhir mereka lebih tenang, mereka bahkan bisa mencetak dua atau tiga gol tambahan lewat dua kans Marchisio dan satu peluang Di Natale. Mereka juga tidak perlu membiarkan Ozil mencetak gol penalti yang sempat menaikkan asa para skuad Der Panzer, yang di akhir-akhir laga menjadikan Manuel Neuer sebagai libero dengan formasi 1-3-2-3-2. Dalam tweetnya, Opta menyebut statistik pertandingan yang sebenarnya cukup berimbang dengan Jerman sedikit memegang kendali. Jerman melepaskan 20 tendangan, 8 diantaranya tepat sasaran. Italia melepaskan 11 dengan 4 tepat sasaran. Ball possession dimenangi Jerman dengan 56 berbanding 44 persen, dan Jerman mampu memperoleh tendangan penjuru sebanyak 14 kali berbanding nihil untuk Italia.

Italia membuktikan diri sebagai tim yang penuh tradisi hebat dan lekat dengan anomali sejarah seperti saya pernah tuliskan di preview pertandingan ini di tulisan sebelumnya. Kekuatan Jerman dengan segala progress mereka dalam beberapa tahun terakhir mentah ditangan tim dengan sejarah unik. Italia seolah meneriakkan slogan Jas Merah (Jangan melupakan sejarah). Jerman juga meneruskan catatan antiklimaks mereka pada Piala Dunia 2002, 2006 dan 2010 serta Piala Eropa 2008. Di kejuaraan itu, Jerman selalu tampil impresif di babak penyisihan namun kalah di babak semifinal atau final.

Prediksi saya bahwa Italia akan berbicara jauh hingga ke final dan mungkin menjadi juara akhirnya menjadi kenyataan. Juga prediksi saya di babak penyisihan dalam post match review Italia melawan Spanyol dalam salah satu pertandingan paling seru yang pernah saya saksikan. Prestasi final Italia ini seolah menyempurnakan siklus enam tahunan mereka mampu melaju ke final turnamen besar sejak tahun 1994. Jika di 1994 dan 2000 mereka takluk di partai puncak, tahun 2006 mereka mampu menjadi juara. Lalu apakah tahun 2012 ini saatnya Italia kembali juara? Well, who knows.

Apapun hasil di final nanti, pencapaian Prandelli adalah sesuatu yang brilian. Prandelli mampu membawa Italia ke final setelah dua tahun lalu Italia hancur-hancuran di Piala Dunia. Prandelli juga tidak lagi memiliki pemain-pemain bermental juara dan berkharisma macam Francesco Totti, Alex Del Piero, Fabio Cannavaro atau Paolo Maldini dalam timnya. Sosok itu kini hanya dimiliki dalam diri Gianluigi Buffon, Daniele De Rossi dan Andrea Pirlo.

Sementara jauh disana, dua orang lelaki paruh baya turut berbahagia dengan kemenangan Italia, namun air muka mereka selalu berubah setiap menyaksikan seorang pemain bernama Andrea Pirlo. Di sebuah kedai kopi, dua orang bernama Max Allegri dan Adriano Galliani makin terdiam ketika Andrea Pirlo diumumkan sebagai man of the match. Espresso mereka yang memang pahit akan terasa semakin pahit saja.

Allegri dengan aksen selatannya kemudian berseloroh, yang jika di twitter cocok dengan tagar #AwalnyaSederhana. "Kita sudah punya Cassano dan Montolivo. Mengapa tidak sekalian beli Balotelli?" Galliani menjawab "Tapi bagaimana dengan Ibra? Kamu kan 100 persen mengandalkannya dalam setiap serangan. Lagipula, Silvio tidak akan membiarkannya pergi." #kemudianhening

Wednesday, June 27, 2012

Preview Jerman vs Italia – Melawan Anomali.

Mesut Ozil dan Mario Gomez, melawan tim anomali

Anomali. Belakangan ini kita sering mendengar nama itu sebagai nama kedai kopi yang banyak dikunjungi orang. Saat saya sedang menikmati kopi lokal mereka di malam hari, sekelompok anak muda tanggung yang pastinya punya uang jajan berlebih bertanya kepada barista. “Mas, Anomali itu apa sih artinya? Kenapa dinamakan Anomali?” Dengan lancar, barista menjawab “Anomali itu maksudnya beda, gak lazim, tapi dengan cara itu kita mencoba masuk pasar, sekaligus memasarkan kopi-kopi asli Indonesia.” Anak-anak tanggung itu hanya mengangguk-angguk, entah informasi tersebut benar-benar masuk kedalam kepala mereka atau hanya sekedar lewat, berbarengan dengan informasi pelajaran sekolah yang mereka dapat siang tadi.

Berbicara mengenai anomali, kadang fenomena ini memberi ruang bagi sesuatu yang tidak biasa untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia, anomali memberi pilihan baru bagi banyak orang yang bosan dengan cara-cara yang lama. Anomali membuat dunia makin berwarna. Garrincha adalah sebuah contoh anomali dalam dunia sepakbola. Bagaimana bisa pemain yang ukuran kakinya tidak simetris menjelma menjadi salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa.

Sebagian orang bahkan berpendapat penyerang sayap kanan ini lebih baik daripada Pele. Bisa diperdebatkan, namun tanpa kemampuan dribbling dan akurasi tendangan kedua kakinya yang membuat bek lawan bingung, Brasil akan sulit menjadi juara dunia di tahun 1958 dan 1962. Khusus di 1962, Pemain underrated ini seolah sendirian memberi gelar juara kepada Brasil karena cederanya Pele setelah pertandingan pertama.

Satu anomali lagi yang ingin saya bahas lagi adalah anomali tim nasional Italia, yang akan menghadapi tim nasional Jerman pada semifinal Euro 2012. Tidak perlu saya ceritakan lagi mengenai kondisi anomali yang melanda tim ini, Anda pasti sudah familiar dengan gelar-gelar juara turnamen besar yang pernah diraih Italia, dan banyak diantaranya didapatkan dengan kondisi mereka yang berantakan dan penuh skandal, yang jika dipikir dengan logis, agak mustahil tim yang kondisinya terpuruk mampu memenangi sebuah turnamen besar. Kali ini kekuatan anomali tersebut terancam kembali menjadi kenyataan manis bagi tim azzuri.

Tepat sebelum Euro dimulai, skandal scomessepoli mencuat dan melibatkan sejumlah nama terkenal termasuk Domenico Criscito, yang sebelumnya diproyeksikan menghuni posisi bek kiri utama La Nazionale. Italia juga tidak memiliki pemain sehebat Francesco Totti atau Alessandro Del Piero, bek sehebat Paolo Maldini dan Fabio Cannavaro serta seorang prima punta setajam Christian Vieri yang mampu membuat perbedaan dalam pertandingan.

Dalam kurun waktu kritis menjelang keberangkatan mereka ke Euro 2012, Italia bagian utara mengalami musibah gempa bumi, yang selain menewaskan beberapa warganya juga membatalkan uji coba “main-main” mereka melawan Luksemburg. Italia kemudian takluk 0-3 dari Rusia dalam partai uji coba terakhir yang sebenarnya dimaksudkan untuk pemantapan skema permainan. Celakanya, cedera menimpa bek andalan Andrea Barzagli dalam pertandingan itu.

Publik menyikapi situasi La Nazionale dengan skeptis, namun apa yang terjadi sungguh menunjukkan sebaliknya. Tidak ada yang menyangka Italia mampu memberi perlawanan hebat bagi Spanyol, dan hingga babak perempat final, Antonio Di Natale adalah satu-satunya pemain yang mampu menjebol gawan Iker Casillas di turnamen ini. Selanjutnya setelah ditahan imbang Kroasia, Italia mampu mengatasi duo british, Irlandia dan Inggris dengan permainan yang mengesankan.

Italia tidak lagi bermain bertahan dan menunggu untuk diserang lawan seperti yang biasa kita kenal. Italia juga tidak lagi menjadi papan dart bagi para penyerang-penyerang lawan. Italia era Prandelli adalah tim yang berusaha menguasai permainan dan mengambil inisiatif serangan. Italia tetap bertahan dengan baik, namun tidak bermain bertahan. Fakta bahwa sepanjang 120 menit mereka mampu 30 kali membombardir gawang Inggris dan dengan keunggulan ball possession mutlak menunjukkan kemampuan yang eksepsional. Andai Mario Balotelli mampu bermain lebih serius lagi, Italia seharusnya bisa lebih awal mengatasi perlawanan Inggris.

Dilain pihak, Jerman telah terlebih dahulu menjadi tim super. Reformasi yang mereka lakukan, terutama investasi besar mereka terhadap pembinaan usia muda pasca kegagalan mereka di Euro 2004 sudah menunjukkan hasil di Piala Dunia 2006. Reformasi dalam permainan yang dilakukan oleh Juergen Klinsmann di Piala Dunia yang diselenggarakan di negeri sendiri menghasilkan tim nasional dengan wajah baru yang sangat impresif dalam menyerang. Di tangan Klinsi, Jerman berubah menjadi tim yang bermain agresif dan mampu bermain cantik. Ditangannya pula, seorang Lukas Podolski menjadi pemain muda terbaik turnamen dan menjadi andalan nationalmannschaft hingga kini.

Joachim Loew meneruskan kerja Klinsi dengan baik. Di dua turnamen selanjutnya, Jogi memaksimalkan lebih banyak lagi talenta muda, yang mencuat di Piala Dunia 2010. Mesut Ozil, Sami Khedira dan Thomas Mueller menemukan pentasnya di gelaran South Africa 2010 dengan penampilan yang atraktif. Dan di  Euro 2012 ini saat potensi mereka bahkan belum sepenuhnya maksimal, sudah muncul lagi nama-nama Andre Schurlle, Mats Hummles, Marco Reus, Toni Kroos, Mario Goetze  dan Lars Bender yang siap menjadi bagian dari tim.

Banyak yang mengatakan di Euro 2012 inilah saatnya Jerman mulai mengambil alih dominasi sepakbola dunia dari tangan Spanyol, penguasa saat ini. Segala syarat nampaknya sudah dipenuhi oleh der panzer. Mereka melalui babak penyisihan grup neraka dengan poin sempurna, mereka juga menjungkalkan kuda hitam Yunani di babak perempat final tanpa kesulitan berarti walaupun tampil dengan skuad pelapis. Variasi permainan, konsistensi hasil, kekayaan taktik dan kedalaman skuad membuat tim mereka seperti tim yang too good to be true. Dan seperti ditulis Kompas, Jogi Loew juga sudah berupaya meningkatkan pragmatismenya, mengenyampingkan paham fundamentalisnya demi sebuah gelar yang dicita-citakan oleh publik mereka.

Namun untuk menjadi the next ruler, mereka harus menghentikan Italia terlebih dahulu. Italia kebetulan adalah batu loncatan bagi Spanyol sebelum mereka meraih tahun-tahun penuh kejayaan. Xavi Hernandez berkomentar bahwa setelah mereka mengalahkan Italia lewat drama adu penalti di perempat final Euro 2008, mentalitas juara mereka menjadi kian nyata, dan terbukti mereka setelah itu melenggang tanpa cela untuk menjadi juara.

Jerman memiliki tantangan serupa dengan Spanyol empat tahun lalu. Italia adalah tim yang mampu membalikkan prediksi banyak orang, termasuk pertandingan lawan Inggris kemarin dimana mereka juga tampil sebagai tim underdog. Pertandingan mereka melawan Spanyol dan Inggris dipandang sebagai pertandingan paling seru sepanjang gelaran Euro 2012 ini. Jerman akan menghadapi tim yang sangat termotivasi. Italia sadar, setelah turnamen ini mereka mungkin saja tidak mampu mengulangi lagi hasil-hasil impresif ini karena dua pemain kunci, Andrea Pirlo dan Gianluigi Buffon sudah memasuki usia senja. Inilah boleh jadi saat terakhir mereka memberikan gelar bagi La Nazionale.

Formasi 4-3-1-2 Italia akan coba mereka redam dengan formasi andalan 4-2-3-1 fluid yang sudah digunakan sejak era Klinsmann. Kondisi Bastian Schweinsteiger yang masih meragukan akan coba diakali Jogi dengan memasukkan Toni Kroos. Sementara Sami Khedira bisa saja diinstruksikan untuk mematikan Andrea Pirlo. Jika Thiago Motta bermain, kerjasamanya dengan Pirlo akan menjadi ktusial karena Motta mampu membagi bola lebih baik ketimbang Riccardo Montolivo. Pertarungan lini tengah kedua tim akan banyak mempengaruhi hasil pertandingan. Dinamisnya permainan Mesut Ozil akan coba dibendung dua gelandang pekerja Italia, Claudio Marchisio dan Daniele De Rossi.

Barisan pertahanan Jerman harus berkonsentrasi penuh terhadap passing Andrea Pirlo. Pirlo memiliki rataan jumlah passing terbanyak (62) di area final third dalam turnamen ini menurut Opta. Pemain kalem yang baru mengejutkan dunia lewat tendangan penalti cucchachio ala Antonin Panenka ini juga punya kemampuan eksepsional bola-bola mati, mengalirkan bola kepada kedua sayap ataupun langsung memberikan killer ball kepada Mario Balotelli. Jika menemukan harinya, Balotelli bisa menjadikan Holger Badstuber dan Mats Hummels menderita. Namun demikian karena kurangnya masalah ketajaman, jumlah passing yang melimpah di final third ini tidak menjadikan Italia tim yang prodiktif mencetak gol. Mereka baru mencetak 4 gol sepanjang turnamen dimana 3 diantaranya tercipta melalui situasi set-piece.

Sementara serangan Jerman lebih kolektif di final third. Kombinasi permainan Schweinsteiger-Khedira-Ozil dapat secara tiba-tiba membebaskan Mario Gomez, Podolski, Mueller, bahkan Philip Lahm dari kawalan dan memberi mereka ruang tembak terbuka. Pola 4-2-3-1 fluid mereka juga menjanjikan pertunjukan menarik dari kedua sisi lapangan dan kreativitas Mesut Ozil dalam membongkar pertahanan lawan dari segala arah. Distribusi dari sektor sayap melalui crossing terukur Lahm dan Jerome Boateng kepada Gomez juga bisa menjadi andalan jika mereka tidak mampu menembus lini tengah.

Cederanya Giorgio Chiellini memang cukup mengganggu persiapan tim azzuri, namun duet Bonucci-Barzagli terbukti cukup dapat diandalkan menjaga pertahanan mengingat mereka berdua tampil cukup baik pada laga melawan Inggris. Jika Chiellini kembali, jaminan akan pertahanan kokoh akan memperbesar peluang Italia untuk melukai tim panser. Italia bisa juga mempertimbangkan pemakaian formasi 3-5-2 seperti saat mereka tampil baik melawan Spanyol dan Kroasia. Dengan menguatkan sektor sayap, pola yang menyediakan spare-man ini dapat meminimalisir ancaman sayap dari tim panser.

Kabar terakhir menyebutkan potensi pemain-pemain yang akan absen di partai ini. Kubu Italia lebih terpukul dengan kondisi ini ditambah fakta bahwa Italia memiliki waktu istirahat lebih sedikit dua hari daripada Jerman. Italia berpotensi kehilangan Motta, De Rossi dan Ignazio Abate yang fisiknya menurun saat menghadapi Inggris. Antonio Nocerino bisa masuk menggantikan De Rossi. Pergerakan dan naluri ofensif pemain ini memang lebih baik daripada De Rossi namun DDR unggul dalam bertahan. Sementara lubang di sisi kanan pertahanan lebih menganga karena jika Abate absen, Italia praktis tidak memiliki stok bek kanan murni karena Cristian Maggio terhukum akumulasi kartu kuning. Emmanuele Giaccherini bisa jadi akan dijadikan bek kanan darurat. Hal ini mendasari pemikiran untuk kembali dipakainya pola 3-5-2 untuk melindungi sisi kanan pertahanan dengan menempatkan Bonucci untuk melindungi Giaccherini.

Di pihak Jerman, hanya Ilkay Gundogan yang diberitakan mengalami cedera ringan saat latihan. Memasang pemain cepat seperti Schurlle dan Reus perlu dipertimbangkan Loew untuk mencecar sisi rapuh sebelah kanan pertahanan Italia. Sementara di posisi striker, ambisi Mario Gomez untuk menggondol predikat top skor akan menjadikannya termotivasi dan insting tajamnya akan menjadi ancaman nyata bagi pertahanan Italia.

Mampukah Jerman memutus anomali?