Pages

Monday, September 24, 2012

Alibi Allegri

Allegri, si kambing hitam



Hingga bulan lalu, saya menganggap Allegri adalah pelatih Milan yang biasa saja, yang hanya mengandalkan Zlatan Ibrahimovic sebagai kunci serangan dan Thiago Silva sebagai kunci pertahanan. Dalam dua musimnya, Allegri membawa Milan dan sekali menjuarai liga, sekali menjadi runner-up musim lalu. Di kancah Eropa, pencapaian Allegri hanya sebatas perempat final musim lalu setelah dikalahkan Barcelona.

Di mata saya beberapa waktu lalu, Allegri tidak mampu berbuat banyak setelah Ibra dan Thiago Silva dijual ke Paris Saint Germain. Allegri seperti pelatih kaku yang tidak punya banyak pilihan taktik dan formasi. Pola 4-3-1-2 seperti satu-satunya pola yang bisa dimainkan Allegri.
Banyak yang menghujatnya, terutama setelah tiga hasil buruk di awal musim. Kalah 0-1 di San Siro melawan Sampdoria dan Atalanta serta seri 0-0 lawan Anderlecht di pembukaan Liga Champions. Dalam pertandingan-pertandingan itu, terutama saat takluk dari Atalanta, Allegri terlihat kaku dengan tetap memaksakan pola 4-3-1-2 terlebih setelah tertinggal, alih-alih mencoba strategi lainnya yang bisa memberi kemungkinan lebih banyak terhadap perubahan hasil pertandingan.

Allegri juga disorot atas hubungan kurang baiknya dengan para senior, yang seolah terjustifikasi dengan sempurna lewat kabar pertengkarannya dengan Filippo Inzaghi, yang sebenarnya bisa saja dibesar-besarkan oleh media, atau dengan Gennaro Gattuso yang terus mengkritiknya. Kedua pemain ini memang barisan sakit hati Allegri karena kurang mendapat peran di musim terakhir mereka. Soal itu, Allegri tentu punya pertimbangan mengingat menurunnya performa Gattuso pasca cedera mata yang memaksanya absen lama, atau kurang klopnya Inzaghi dengan Ibra. Dengan kata lain, Allegri juga dianggap tidak menguasai ruang ganti.

Well, segala hal tersebut memang yang dihembuskan media, dan pertengkarannya dengan Pippo memang boleh jadi benar-benar terjadi, tapi pantaskah kita semata-mata hanya menyalahkannya atas buruknya start Milan di musim ini?

Fakta terbaru, Milan menyerah 1-2 lawan Udinese di Friuli. Skor memang tidak memihak Rossoneri, tapi jika kita menonton pertandingan semalam, terlihat Allegri telah melakukan segalanya untuk membawa skuadnya mengalahkan Udinese. Allegri menjawab segala permintaan publik dengan memakai formasi 4-3-3. Ia menempatkan Riccardo Montolivo dan Antonio Nocerino, dua gelandang langganan timnas dengan kapten Massimo Ambrosini. Dia juga memasang tridente Urby Emanuelson, Stephan El Shaarawy dan Giampaolo Pazzini di depan. Di belakang, Cristian Zapata dan Philippe Mexes diduetkan di sentral, diapit Ignazio Abate dan Djamel Mesbah.

Milan bermain bagus hingga 10 menit awal pertandingan. Kombinasi tridente di depan dan permainan rapi Montolivo di tengah setidaknya menghasilkan 4 peluang di menit-menit awal itu, yang kebanyakan mampu digagalkan kiper Udinese yang bermain gemilang. Allegri juga memainkan Kevin-Prince Boateng setelah Milan tertinggal, yang melalui upayanya membuat Milan menyamakan kedudukan lewat El Shaarawy.

Keadaan berubah memburuk ketika Cristian Zapata diusir keluar dan Milan mendapat hukuman penalti. Tapi perlu diingat bahwa setelah tertinggal, Allegri tidak memarkir bus untuk menghindari kekalahan lebih telak, dia justru memasukkan Bojan Krkic. Allegri jelas menginginkan kemenangan, dia tidak menyerah. Sayangnya, Boateng berbuat bodoh dengan dua pelanggarannya yang tidak perlu. Well, pemain dengan nomor 10 memang ada saatnya bertindak bodoh alih-alih membantu tim memenangi laga, dan Boateng nampak masih berusaha memenuhi ekspektasi tifosi terkait nomor punggungnya itu.

Semua pasti juga ingat, pelatih sesukses Carlo Ancelotti juga tidak selamanya mengalami hari yang menyenangkan di Milanello. Tidak jarang Berlusconi mengintervensi taktik Carletto. Bukan rahasia lagi bahwa Berlusconi menginginkan ada dua orang penyerang dalam sebelas pemain, sementara Carletto menyukai taktik satu orang penyerang saja. Bagaimana dengan Leonardo? Milanisti sudah mengecapnya sebagai penghianat karena menyebrang ke Inter Milan. Jika kita melihat pada sisi Leo, lihatlah pencapaiannya membawa Milan menduduki posisi ketiga malah tidak dihargai Berlusconi, yang lagi-lagi mencecar taktik 4-2-fantasia Leo, yang lewat sepak bola full attack-nya itu malah membuatnya sempat digosipkan akan menangani tim nasional Brasil. Keputusan Leo memilih Inter ketimbang tim lain yang menawarinya tentu atas dasar balas dendam yang manis kepada Berlusconi, yang tentunya mengambil konsekuensi dimusuhi Milanisti.

Apa yang berusaha saya katakan? Tidak lain, ini semua politik. Balik lagi ke situasi sekarang, Allegri bisa jadi adalah korban. Allegri bukanlah orang yang memutuskan penjualan pemain, karena itu keputusan manajemen. Manajemen memutuskan untuk melakukan overhaul tanpa mengganti pemain kunci dengan pengganti sepadan, yang memang bijak dari kacamata finansial maupun regenerasi masa depan tapi tidak bagus dari sisi prestasi masa kini.

Bukannya saya membela Allegri, hanya mengatakan bahwa ini tidak semata kesalahan Allegri. Lalu apakah saya juga menyalahkan manajemen? Hahaha sangat bodoh jika menyalahkan manajemen yang telah memberi lebih dari 20 gelar juara bagi klub.

Milan memang mengalami hasil buruk menghadapi lawan-lawan yang memiliki kualitas pemain yang berada dibawah mereka. Memang benar. Tapi masalah Milan tidaklah sesederhana itu, lagi-lagi saya harus tegaskan bahwa Milan kehilangan pemain-pemain yang memang menjadi roh permainan , baik di lapangan, di tempat latihan maupun di ruang ganti. Milan hanya butuh waktu, dan waktu itu menjadi barang mahal bagi Allegri atau siapapun pelatih yang timnya mengalami krisis hasil.

Nikmati sajalah keadaan ini, dan nikmati saja Plastic Fans lain mencela-cela tanpa arah. Ini hanya sepak bola, ada saatnya tim yang kita dukung berada diatas dan ada saatnya berada dibawah. 

4 comments: