Pages

Showing posts with label Russian Football. Show all posts
Showing posts with label Russian Football. Show all posts

Monday, July 18, 2016

Wawancara Dengan Akun Penggemar CSKA Moskow di Indonesia

Ada rubrik baru yang ingin saya isi di blog ini agar lebih terasa personal dan bersahabat, yaitu wawancara dengan mereka yang juga menyukai sepak bola. Tidak harus dengan mereka yang bersinggungan (atau pernah bersinggungan) langsung dengan dunia sepak bola, tetapi bisa juga dengan mereka yang menikmati sepak bola dengan caranya masing-masing. Juga tidak ada kriteria khusus siapakah yang saya wawancarai, yang penting orangnya asik dan gak ribet :)

Dalam edisi perdana ini (sedaap), saya mewawancarai seorang pengelola akun twitter basis penggemar sebuah klub sepak bola. Bukan kesebelasan yang sering didengar, bukan pula dari liga sepak bola yang ditonton banyak orang di Indonesia. Yang saya maksud ini adalah kesebelasan yang merupakan juara Liga Primer Rusia musim 2015-16, CSKA Moskow.

Begitu cepatnya respon dari admin yang memiliki akun twitter @CSKAMoskwaIDN, sehingga pertanyaan demi pertanyaan yang semula mengusik benak, dijawab tuntas oleh si empunya akun. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kesediaan pemuda yang juga kerap menulis di situs berita dan opini sepak bola Rusia, Russian Football News ini dalam meluangkan waktunya. Berikut kutipan wawancara yang saya lakukan, plus jawaban dari sang admin, tentunya setelah saya edit seperlunya.

Pertanyaan (Q) 1:
Sejak kapan menggemari CSKA Moskow, sekaligus mengikuti sepak bola Rusia? Apa yang menjadi latar belakangnya?

Jawaban (A) 1:
Pertama kali kenal dengan CSKA Moskow ketika CSKA secara mengejutkan mengalahkan Sporting CP 3-1 di final Piala UEFA 2005. Tapi saat itu masih belum mengikuti betul karena internet yang masih lambat, walaupun sudah lama terpasang. Saat itu masih dalam taraf membaca situs Wikipedia aja.

Dibilang sudah mulai serius mengikuti CSKA sejak musim 2009. Kagum dengan pencapaian di Euro 2008 (timnas Rusia berhasil melaju hingga babak semifinal - red). Seneng banget liat pertahanan Rusia yang kuat; Igor Akinfeev, Berezutskiy Bros (Vassili dan Alexei - red), plus Sergei Ignasevitch. Juga munculnya Alan Dzagoev yang dulu disebut-sebut sebagai wonderkid Rusia.

Alasan lain yang ikut mendorong suka dengan Liga Rusia adalah sekolah. Selepas SMA, saya mengincar masuk jurusan radiofisika di Lomonosov (Lomonosov Moscow State University - red). Saat itu berpikir dengan terbiasa sesekali mendengar komentator atau iklan dalam Bahasa Rusia bisa membantu memahami –walaupun lama banget efeknya hehe.

Mulai full nonton RFPL ketika format liga ngikuti kalender UEFA (2011/12) karena saat itu internet yang dipasang kampus kenceng banget.


Q 2:
Apakah memiliki afiliasi dengan akun fanbase CSKA Moskow dari kota Moskow? Jika belum, apakah ke depannya punya rencana membuat afiliasi?

A 2:
Sejauh yang saya tahu, akun fanbase CSKA dari Moskwa itu @wearecska11; keterkaitan kami sebatas saling follow dan berinteraksi di dunia maya, sama seperti interaksi dengan akun fanbase CSKA yang berasal dari Inggris.

Terpikir untuk membuat afiliasi, bahkan akun yang terverifikasi oleh Leningrad Prospekt (sebuah nama jalan protokol di kota Moskow - red), hehe. Tapi itu masih lama, mungkin akan direalisasikan kalo memang fans CSKA sudah cukup besar atau Liga Rusia cukup populer di Indonesia. setidaknya, ketika orang yang kita ajak ngobrol nggak mengeluh “Ya elah, Liga gak jelas”


Q 3:
Di Indonesia sendiri, ‘kan jarang sekali penggemar Liga Rusia, apakah memiliki komunitas, misalnya dengan kelompok suporter klub Rusia lain. Atau dalam keseharian, adakah interaksi dengan fanbase klub negara lain?

A 3:
Dulu, tahun 2013 atau 2014 sempat muncul akun fanbase Zenit SPb Indonesia di twitter. Saling follow dan berinteraksi; sayangnya akun tersebut kemudian hilang. Sempat jug aada akun Fanbase Liga Rusia, tapi bernasib sama. Selebihnya belum lagi menemukan akun fanbase, termasuk Fratriya (sebutan bagi penggemar klub Spartak Moskow).

IndoTorino (@indoTorino) adalah fanbase klub pertama di Indonesia yang berinteraksi dengan akun CSKA ini. Mungkin karena sesama tim minor Eropa di mata orang Indonesia, kami berhubungan baik. Selain itu, semenjak saga transfer Ahmed Musa ke Leicester City mencuat, kami menjalin hubungan juga dengan akun fanbase Leicester City (@LCFC_Indonesia) di Indonesia.


Q 4:
Sejauh ini, selain menggunakan akun twitter, apakah ada usaha untuk lebih memperkenalkan CSKA (dan Liga Rusia umumnya) kepada penggemar sepak bola di Indonesia? Misalnya dengan membuat blog dan sejenisnya.

A 4:
Sejauh ini, selain melalui twitter, usaha memperkenalkan CSKA, Liga Rusia, dan timnasnya hanya sebatas numpang menulis di Russian Football News kemudian menyebarkan ke peer group. Ke depan, sih, berharap juga bisa numpang di Futbolgrad atau webblog sejenis. Sekarang sedang merampungkan 2 calon tulisan hehe.

Untuk blog ‘official’ belum terpikirkan karena masalah waktu dan repotnya mengurus (desain yang ciamik, sih, lebih tepatnya)


Q 5:
Untuk penggemar yang belum banyak tahu tentang CSKA Moskwa dan sepak bola Rusia, adakah bacaan-bacaan berupa buku atau situs yang dapat direkomendasikan?

A 5:
Salah satu kelemahan fans CSKA dibanding Spartak atau Dinamo adalah pencatatan sejarah. Web web yang dikelola baik oleh Spartak maupun Fratriya cukup lengkap mengenai sejarah, legenda, dan profil pemain.

Sebenarnya, kalo memang mau tahu sejarah CSKA dari zaman OLLS (nama pertama klub saat pembentukan tahun 1911-red) sampe ganti ke CSKA, situs resmi klub sudah mencakup itu dengan cukup, kok. Kalo memang mau lebih lanjut, bisa ubek-ubek hasil pertandingan CSKA permusim di cska-games.ru. Sayangnya, bahasa yang dipakai Bahasa Rusia dengan huruf Cyrillic. Statistik permusim sejak Soviet Group A juga disajikan di footballfacts.ru yang sayangnya lagi-lagi dalam Bahasa Rusia. Namun karena disajikan round-per-round, dengan sedikit imajinasi kita bisa membayangkan jalannya liga. 


Q 6
Dari sepak bola Rusia, belakangan ini begitu banyak berita mengenai hal-hal negatif seperti kekerasan suporter, perilaku rasis, xenofobia, hingga kesulitan finansial klub dan kesalahan tata kelola. Bagaimana Anda memandang hal ini? Apakah ada hal positif yang bisa diangkat, yang tidak banyak orang tahu tentang sepak bola Rusia?

A 6:
Tidak ada tempat bagi tindakan diskriminasi atas suku, ras, agama, kewarganegaraan, gender, dan orientasi seksual; termasuk di dunia sepak bola. Kekerasan suporter –bukan hanya yang terjadi di Euro kemarin– dan tindakan rasis yang diberikan kepada pemain berkulit gelap sudah menjadi kebiasaan orang Eropa Timur yang cenderung chauvinis akan identitas Slav.

Walaupun saya tidak memegang data resmi, kasus rasisme terus terjadi di Liga Rusia; suporter bola seolah olah tidak kapok meskipun klubnya dihukum bermain dengan pintu tertutup dan dikenai denda yang cukup besar. Saya rasa klub memiliki kewajiban membina suporter, ke depan pihak CSKA harus berunding dengan dua kelompok ultras yang mereka miliki (salah satunya Red-Blue Warrior – red). Fanatisme buta akan apapun tentu tidak baik.

Dan selaiknya sepak bola Indonesia, kondisi sepakbola di Rusia juga tidak berbeda jauh. Korupsi, pembinaan usia dini yang sporadis, ketimpangan pembangunan barat-timur, dan masalah finansial. Transformasi kepemilikan klub dari serikat dan milik negara menjadi milik swasta juga tidak begitu baik di Rusia, ditambah dengan kondisi asosisasi pemain, pelatih, dan wasit yang terpecah dan cenderung korup menambah runyam.

Sejujurnya, belum ada hal membanggakan yang bisa diangkat pasca 2008 selain tetap munculnya talenta muda di tengah situasi yang tidak baik; Alexandr Golovin, Ramil Sheydayev, Rifat Zhemaletdinov, dan Anton Mitryushkin jadi juara di Euro U17 tahun 2013 lalu. Boleh jadi, jika Rusia dapat menampilkan kejutan di 2017 dan 2018 akan menjadi catatan manis di tengah keterpurukan mereka selaiknya Irak yang di Piala Asia 2007 (Irak menjadi juara Piala Asia tahun 2007 di tengah situasi sulit yang melanda negara mereka – red).


Q 7:
Bagaimana Anda melihat peta persaingan Liga Primer Rusia musim 2016-17? Akankah ada tim kejutan seperti FC Rostov yang musim lalu menempati peringkat kedua?

A 7:
Hingga hari ini, bisa dibilang sangat susah memetakan kekuatan musim depan. Tim tradisional semacam Spartak Moskow melakukan cuci gudang dan menjalani pertandingan pramusim yang cukup baik. Rubin Kazan yang mendatangkan Gracia (Javi Gracia, pelatih asal Spanyol – red) sedang kebanjiran pemain baru berdarah Latin, plus mereka punya Maxime Lestienne (gelandang asal Belgia – red) yang musim lalu membobol gawang Akinfeev di UCL; ya, meskipun mereka sedang berusaha ‘membuang’ stok lama. Stanislav Kritsyuk musim depan akan sepenuhnya berada di bawah mistar FC Krasnodar; Lalu ada Anzhi Makhachkala yang memperkuat skuad dengan pemain eks-Kuban Krasnodar dan pinjaman lain.

Sementara FC Rostov baru mendapat tambahan Azmoun –yang juga sedang bermasalah (Sardar Azmoun, penyerang muda berbakat berusia 21 tahun asal Iran – red). Zenit sedang cuci gudang, dan belum menunjukkan intensi mendatangkan pemain. Sementara CSKA? Baru dua pemain pinjaman dan sedang krisis penyerang.

Kalau siapa yang akan menjadi tim kuda hitam, boleh jadi Rubin Kazan akan kembali masuk ke zona UCL, atau mungkin FC Krasnodar? Selain Krasnodar, sulit rasanya berharap tim asal Selatan dan Kaukasia Utara tampil mengejutkan seperti Rostov musim lalu mengingat sejarah kesulitan finansial di tengah musim yang kerap terulang.


Q 8:
Untuk CSKA sendiri, bagaimana peluangnya di Liga Champions musim 2016-17? Apakah setidaknya akan berhasil lolos dari penyisihan grup, terlepas dari belum dibaginya grup. Lalu sebagai fans, apakah puas dengan hanya berprestasi di liga lokal?

A 8:
Jawaban realistis? Tidak akan banyak berbicara (lagi). Paling hebat lolos ke UEFA Europa League.

Tapi tentu berharap lebih; CSKA akan langsung tampil di babak grup serta masuk pot 1 meskipun rangking UEFA-nya buruk. Sangat berharap bertemu dengan lawan yang lebih sepadan, jangan lagi ada Manchester City dan Bayern Munich di grup (dalam dua tahun terakhir secara beruntun, CSKA berada satu grup dengan Man. City dan Bayern – red). Hahaha. Dan memang tidak akan bertemu Bayern.
.
Sebagai fans yang terhitung baru, tentu tidak puas melihat Santo Igor (Akinfeev) dkk jadi ‘bancakan’ tim Eropa Barat seperti selama ini. selalu berharap CSKA bisa mengulangi kesuksesan saat memenangi Piala UEFA tahun 2005, atau setidaknya ketika lolos ke babak 16 besar dan bertemu Real Madrid di musim 2011/2012.

Kalo mau jujur, penampilan Rusia di Euro kemarin sangat mirip dengan tipikal CSKA selama bermain di UCL. Bermain defensif dan memanfaatkan serangan balik lewat sayap. Entah mengapa Leonid Slutsky (pelatih CSKA – red) selalu memilih memainkan taktik ini di kancah Eropa. Berbeda jauh dengan apa yang ia tampilkan di kompetisi lokal. Menarik dilihat, apakah Slutsky masih akan bermain ultra defensif saat kontra Zenit yang kehilangan cukup banyak pilarnya di Russian Super Cup esok. Jika iya, kemungkinan besar CSKA akan tampil defensif lagi di UCL dan lagi lagi berada di dasar klasemen grup.


Q 9:
Untuk pemain, siapa kira-kira yang bisa menjadi pemain kejutan musim depan bagi CSKA?

A 9:
Alexandr Golovin. Pemain yang seumuran adek saya (20 tahun – red), yang memiliki kecepatan tinggi serta permainan taktis. Pemain yang bisa ditempatkan sebagai sayap kanan, kiri, maupun ditempatkan di belakang striker utama.

Boleh jadi Golovin akan menempati pos Dzagoev yang sedang dalam masa pemulihan hingga pekan ketiga Russian Football Premier League (RFPL). Mengingat kembalinya Georgi Milanov dan dipinjamnya Alexei Ionov dari Dinamo Moskow, sepertinya Golovin tidak akan menjadi pilihan utama di sisi kiri; tidak menutup kemungkinan ia akan menjadi pelapis Zoran Tosic di kanan yang memang berniat hengkang musim depan.

Meskipun memiliki kecepatan dan naluri menerang yang baik, dalam beberapa pertandingan kematangan emosi Golovin justru masih buruk. Ia masih belum begitu paham kapan harus mengumpan, terus membawa bola, maupun melepaskan tendangan langsung.

Sangat berharap Golovin bisa bermain seperti Dzagoev di dua musim perdananya.


Q 10:
Terakhir, boleh dong dibagi sedikit biodatanya :)

A 10:
Nama saya Ruli Endepe AF, terlahir sebagai seorang Aremania namun sudah menjauh sejak adanya skisme dan kemunculan Cronus :)

Anak pertama dari pasangan pendidik yang sekarang juga menjadi pengajar dan peneliti. Sehari-hari memberikan tutorial mata kuliah di Departemen Ilmu Ekonomi FEUI, selain bekerja sebagai analis energi di sebuah konsultan migas di Jakarta.

***
Demikian wawancara singkat yang saya lakukan dengan pemilik akun @CSKAMoskwaIDN ini. Dari penuturan yang dilakukan, terlihat bahwa pemilik akun ini memiliki wawasan yang luas tentang kesebelasan yang didukungnya, dan yang pasti orisinil dan tidak sekadar ikut-ikutan :)


Nantikan wawancara-wawancara berikutnya, tentunya dengan pembahasan berbeda.

Sunday, March 20, 2016

Ahmed Musa Yang Akan Naik Kelas

Ada yang unik dari menggemari liga sepak bola Rusia. Ketika kita membicarakan topik ini, nyaris tidak pernah terdengar nada antusias dari lawan bicara. Seperti seorang cucu yang sudah bosan mendengar cerita yang itu-itu saja dari pengalaman hidup sang kakek. Mimik lawan bicara barulah berubah menjadi antusias ketika pembicaraan beralih ke liga-liga yang lebih mainstream.
 
Liga sepak bola Rusia baru mencuri perhatian dengan malu-malu kucing ketika berita keberminatan klub-klub besar Eropa lain muncul terhadap pemain-pemain mereka. Misalnya ketika penyerang Aleksandr Kokorin yang diisukan diminati oleh Arsenal, atau ketika Seydou Doumbia bergabung dengan Newcastle United dari CSKA Moskow. Atau yang lebih bombastis adalah ketika CSKA menolak tawaran 22 juta euro dari Leicester City untuk seorang Ahmed Musa.

Siapa yang bisa-bisanya menolak uang sebanyak itu untuk penyerang yang belum terbukti di liga top Eropa seperti Ahmed Musa? Presiden CSKA, Yevgeny Giner memiliki jawaban yang sangat logis dan matematis. “Tawaran Leicester memang besar. Namun saya telah berbicara dengan Musa, dan ia setuju untuk setidaknya bertahan sampai akhir musim. Dengannya, kami memiliki peluang besar untuk menjadi juara.”

“Jika menjadi juara dan lolos ke Liga Champions, kami sudah pasti mendapatkan 15 juta euro. Jadi, apakah pantas jika Musa dihargai hanya selisih dari 22 juta dengan 15 juta? Saya rasa tidak. Membiarkannya pergi akan menjadi keputusan yang salah. Lagipula, Musa adalah penyerang bagus yang bisa bermain di tiga posisi. Saya yakin pada musim panas nanti akan ada lebih banyak klub besar yang menawarnya.”

Perkataan Giner memang ada benarnya. Secara ekonomis, presiden yang juga pernah diasosiasikan dengan mafia ini melihat harga Musa bisa lebih dari itu, terlebih jika sang penyerang berusia 23 tahun terus tampil cemerlang. Atau bisa jadi, Musa memang ngeri melihat sejarah mafia dari Giner. Bayangkan saja jika Anda diajak bertemu sosok Giner yang dikelilingi para pengawal sedang merokok cerutu Kuba di sebuah restoran bercahaya temaram.

Keputusan CSKA untuk menahan Musa toh bukan hanya didasari pertimbangan finansial. Bagi pelatih Leonid Slutsky, Musa memang satu-satunya orang yang tepat untuk mengisi pos penyerang tengah, terlepas dari catatan Whoscored yang menyebut bahwa kapten timnas Nigeria ini gagal memanfaatkan sembilan peluang bersih yang didapatnya di Liga Primer Rusia, atau terbanyak di liga. Hengkangnya Doumbia memang otomatis menjadikan Musa pilihan utama mengingat nama-nama tersisa dari barisan penyerang CSKA hanyalah Kiril Panchenko serta dua penyerang muda Carlos Strandberg dan Aaron Olanare. Jika Musa dijual pada bursa transfer musim dingin, CSKA akan sulit mencari penggantinya.

Kemarin (19/3), Musa mencetak dua gol yang membawa CSKA menang 2-0 atas Kuban Krasnodar dan kembali memuncaki klasemen Liga Primer Rusia. Dengan demikian, penyerang yang pernah bermain di kesebelasan asal Belanda, VVV Venlo ini telah mencetak sembilan gol hingga saat ini, semakin mendekati torehan terbanyaknya dalam semusim, yaitu 11 gol pada musim 2012-13

Namun ketajaman Musa memang tidak menghilangkan persoalan di barisan penyerang CSKA. Musa tidak memiliki karakter sebagai penyerang murni. Aset utamanya adalah kecepatan dan skill olah bola, namun Musa bukanlah pembuka ruang. Dengan atribut ini, pencetak dua gol ke gawang Argentina pada perhelatan Piala Dunia 2014 ini lebih cocok bermain sebagai penyerang sayap.

Ketiadaan sosok penyerang tengah murni ternyata menimbulkan persoalan lain. Para gelandang menjadi sulit untuk merangsek ke posisi menguntungkan dan mencetak gol. Musim lalu, gelandang-gelandang CSKA seperti Roman Eremenko dan Bibras Natkho amat terbantu dengan keberadaan sosok Doumbia yang mampu membuka ruang, menahan dan memantulkan bola. Dari Eremenko dan Natkho saja, 25 gol berhasil didapat CSKA. Tanpa kehadiran sosok penyerang tengah murni, baik Eremenko maupun Natkho baru mencetak dua gol di Liga Primer Rusia.

Beban berat jelas berada di pundak seorang Ahmed Musa. Dialah tumpuan serangan sekaligus mesin gol CSKA, hal yang tentu saja akan memudahkan lawan untuk membaca permainannya. Jika tidak mampu menyelesaikan musim dengan performa memuaskan dan bergelar juara, harganya mungkin tidak akan lebih dari 22 juta euro sesuai dengan tawaran Leicester. Tentunya kalkulasi finansial Giner terancam meleset. Namun jika rutin mencetak gol dan memberi gelar bagi CSKA, maka torehan ini akan menjadi tiket bagi Musa untuk 'naik kelas' bermain di liga top Eropa. Bagi CSKA, uang minimal 25 juta euro juga dapat dikantongi sebagai modal untuk mendatangkan penyerang berkualitas yang baru.

Saturday, March 12, 2016

FK Rostov, Dari Rusia Mengikuti Cerita Leicester City


Seperti seekor beruang yang baru terbangun dari tidur panjang musim dingin, Liga Primer Rusia putaran kedua telah bergulir kembali pada pekan lalu. CSKA Moskow yang memimpin klasemen langsung dihadapkan pada partai derby Moskow yang epik menghadapi The Peoples Club, Spartak Moskow. Kemenangan berhasil diraih lewat gol tunggal penyerang yang ‘dipaksakan’, Ahmed Musa.
 
Namun CSKA tidak dapat bersantai di puncak klasemen. Tepat di belakang mereka, ada sebuah kesebelasan yang begitu konsisten membuntuti dengan selisih hanya tiga poin. Kesebelasan ini bukanlah Zenit St. Petersburg, Spartak Moskow, FC Krasnodar atau Lokomotiv Moskow yang menjadi langganan papan atas Liga Primer Rusia, melainkan FK Rostov, kesebelasan yang lebih banyak berkutat di papan bawah dan divisi terbawah, plus masalah finansial.

Rostov telah mengumpulkan 37 poin, dan mereka juga berjarak lima poin dengan peringkat ketiga, Lokomotiv Moskow, dan enam poin dengan peringkat keempat hingga enam yang dihuni FC Krasnodar, Zenit dan Terek Grozny. Prestasi ini jelas jauh melampaui pencapaian musim lalu di mana mereka hanya mengumpulkan 29 poin dalam satu musim kompetisi penuh. Karena alasan-alasan tadi, jadilah pertandingan Rostov melawan CSKA akhir pekan ini sebuah laga big match yang sebelumnya tak pernah diperhitungkan.

Apa yang menjadi kunci kehebatan Rostov sejauh ini?

Jurnalis yang sering mengupas persepak bolaan Rusia, Manuel Veth menggarisbawahi peran pelatih Kurban Berdyev. Pelatih religius yang terbiasa membawa tasbih dalam pertandingan ini adalah sosok sarat pengalaman yang sukses membawa klub Rubin Kazan ke papan atas Liga Primer Rusia dalam dua belas tahun kiprahnya menangani kesebelasan berciri khas warna merah marun. Di kancah antarklub Eropa, pria 63 tahun kelahiran Asgabat, Turkmenistan ini juga pernah membawa Kazan secara mengejutkan mengalahkan Barcelona di Camp Nou, seakan mengulangi kiprah Valeriy Lobanovskiy kala menghancurkan Barca di Camp Nou bersama Dynamo Kiev tahun 1997 silam.

Kemampuan Berdyev dalam menangani kesebelasan non unggulan membuktikan kecakapan taktik dan kemampuan memotivasi yang dimiliki. Tidak mengherankan jika namanya sempat dinominasikan untuk menjadi pelatih timnas Rusia menggantikan Fabio Capello setahun lalu, meski kemudian jabatan tersebut kini diduduki Leonid Slutsky, pelatih CSKA Moskow, klub yang akan dihadapinya hari ini (12/3).

Cerita yang dialami Rostov ini mengingatkan pada kiprah Leicester City musim ini di Liga Primer Inggris, yang tentu saja lebih mewah. Kebetulan, dua kesebelasan ini memiliki kesamaan dalam hal kepelatihan, yaitu sama-sama diasuh sosok berpengalaman. Baik Berdyev di Rostov maupun Claudio Ranieri di Leicester sama-sama telah memakan asam garam dunia kepelatihan. Jika Leicester City kini menjadi populer dan bahkan sudah ada akun twitter fans-nya, hal yang sama rasanya tidak akan terjadi pada Rostov karena mereka tidaklah bermain di liga Inggris.

Kejutan Rostov pun kini menjadi cerita menarik dalam Liga Primer Rusia musim ini, di tengah kemunduran yang dialami kesebelasan-kesebelasan kuat. Zenit, yang selalu menjadi langganan papan atas, musim ini memiliki persoalan karena pelatihnya, Andre Villas-Boas sempat dibuat demotivasi akibat aturan 6+5 terkait komposisi pemain asing dan lokal yang diperbolehkan merumput. Posisi Villas-Boas kini kian terancam setelah Zenit tersingkir di kompetisi Liga Champions di tangan Benfica.

Harapan masih dapat digantungkan pada duo Moskow, Lokomotiv dan Spartak, juga Krasnodar dan Terek untuk menyemarakkan kompetisi hingga akhir musim. Lokomotiv sempat menjadi tim kejutan dengan menempati posisi ketiga musim 2013-14, namun musim lalu anjlok ke posisi tujuh. Kini, mereka kembali bangkit dan terus mengejar posisi tiga besar yang berarti tiket ke kompetisi antarklub Eropa. Di lain sisi, Spartak Moskow sebetulnya begitu menjanjikan pada awal musim. Dengan skuat yang berkualitas dan di bawah asuhan pelatih berbakat, Dmitri Alenichev, Spartak sempat meraih hasil-hasil memuaskan pada awal musim, namun mereka mengalami periode negatif pada pertengahan putaran pertama.

Dengan performa angin-anginan dari para Rival, Rostov sebetulnya memiliki peluang untuk setidaknya menduduki posisi tiga besar, apalagi kompetisi hanya menyisakan 10 pertandingan. Bahkan jika mampu mengalahkan CSKA akhir pekan ini, poin mereka akan sama, dan bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi momentum positif untuk mendongkel CSKA dari puncak klasemen. Siapa tahu? 

Performa Rostov sepanjang putaran pertama sebetulnya tidak dapat dikatakan spektakuler. Mereka jarang menang saat menghadapi kesebelasan-kesebelasan kuat seperti CSKA, Zenit, Krasnodar maupun Spartak. Rostov mendulang banyak poin ketika menghadapi kesebelasan-kesebelasan yang selevel, itu pun kebanyakan diraih dengan skor tipis. Efektivitas permainan memang betul-betul diandalkan oleh Berdyev mengingat kesebelasan dengan warna khas kuning ini tidaklah kaya talenta.

Kekuatan pertahanan dan rekor kandang yang baik menjadi andalan lain dari skuat Berdyev. Jumlah kebobolan mereka sebanyak 16 kali adalah yang paling sedikit di kompetisi domestik, unggul atas CSKA dan Terek yang kebobolan 18 kali. Sementara dilihat dari rekor pertandingan kandang, mereka menang sebanyak enam kali, seri lima kali dan belum terkalahkan. Kondisi permukaan rumput lapangan kandang stadion Olimp 2 yang licin dianggap sebagai keuntungan tersendiri bagi mereka, dan dipercaya akan menyulitkan kesebelasan semacam CSKA yang mengandalkan umpan-umpan pendek cepat.

Serupa dengan cerita Leicester City, FK Rostov pun sepertinya hanya memiliki kesempatan pada musim ini untuk memberikan prestasi yang tak terlupakan bagi para pendukungnya. Dan bagi kesebelasan yang berada di situasi ini, bermain tanpa beban dan terus menjaga kebersamaan adalah kuncinya. Apalagi, masa depan Rostov masih tidak jelas akibat kesulitan finansial.