Pages

Showing posts with label Player Profile. Show all posts
Showing posts with label Player Profile. Show all posts

Sunday, May 29, 2016

Juraj Kucka, Menjadi Sosok Sentral Setelah Sempat Diragukan



Juraj Kucka. Photo: Gazzettaworld


September 2015, seorang jurnalis bernama Michael Yokhin menulis tentang Juraj Kucka. Ia menuturkan bahwa Kucka yang baru didatangkan Milan dari Genoa berpotensi menjadi pemain kejutan musim 2015-16 ini, tentunya dalam artian positif. Saat itu, mungkin saja tidak banyak pihak yang menganggap serius tulisan Yokhin. Saya termasuk di dalamnya. Pasalnya, gelandang asal Slowakia ini didatangkan sebagai kompensasi kegagalan Milan mendapatkan tandatangan Geoffrey Kondogbia, gelandang potensial yang ironisnya mendarat ke FC Internazionale dengan banderol 35 juta euro. 

Di benak Milanisti, timbul tanda tanya besar mengapa manajemen tidak mengusahakan kedatangan gelandang lain yang lebih 'punya nama', nilai jual dan kapabilitas, misalnya saja Axel Witsel, Gianelli Imbula atau Joao Moutinho yang kala itu ramai dibincangkan sebagai target alternatif Kondogbia. Datangnya seorang Juraj Kucka seperti menunjukkan niat yang setengah-setengah untuk memperbaiki kualitas lini tengah. Memangnya siapa sih Juraj Kucka?

Yokhin, yang juga seorang kolomnis di ESPN FC menggarisbawahi bahwa pemain kelahiran kota Bojnice yang dibeli dengan harga hanya 3 juta euro ini memiliki karakter permainan yang dibutuhkan lini tengah Milan, yaitu kerja keras, kengototan dan determinasi yang tinggi. Penilaian senada juga pernah dikatakan jurnalis televisi olahraga Republik Ceska, Michal Petrak. Petrak pernah mengatakan bahwa Kucka adalah gelandang dinamis yang mampu mengontrol lini tengah namun memiliki tempramen tinggi hingga mengingatkannya pada sosok Roy Keane di Manchester United. Bagi Milanisti, karakter ini juga melekat pada diri Gennaro Gattuso.

Setelah melihat performa Kucka selama semusim penuh, barulah kita menyadari ketepatan analisa dari Yokhin maupun Petrak. Tidaklah berlebihan jika Kucka dipandang sebagai pembelian terbaik Milan musim ini, jika membandingkan harga yang harus dibayar dengan kontribusi sang pemain. Sementara di lain pihak, Kondogbia yang semula menjadi target utama ternyata tampil kurang impresif di musim perdananya bersama Nerazzuri. Memang tidak adil membandingkan keduanya. Kondogbia baru datang ke Italia, sementara Kucka sudah berada di negeri Peninsula sejak 2011 bersama Genoa. Selain itu, gaya bermain kedua pemain juga berbeda, pun jika membicarakan usia, Kondogbia terpaut enam tahun lebih muda ketimbang Kucka.

Sesuai dengan julukannya, yaitu The Tank, Kucka memang begitu tangguh 'menggilas' lawan-lawannya. Situs Whoscored mencatat bahwa penyuka sup jamur ini memiliki rataan jumlah tekel dan pelanggaran terbanyak di antara seluruh gelandang Milan. Sementara untuk rataan jumlah intersep, hanya Riccardo Montolivo yang mengunggulinya. Statistik ini jelas menunjukkan betapa besarnya kontribusi defensif dari sang gelandang.

Tidak hanya berperan dalam cara bertahan Milan, kontribusi penggemar serial Heroes ini juga terlihat dalam menyerang. Ia mampu membuat tiga assist, 29 kali menciptakan peluang gol dan 46 kali melepas tendangan ke gawang lawan. Hanya Giacomo Bonaventura yang lebih unggul darinya atas tiga aspek ofensif ini.

Performa paling gemilang Kucka jelas diperlihatkan ketika partai derby melawan Internazionale yang dimenangi Milan dengan skor 3-0. Kala itu Kucka tidak hanya memutus aliran bola dari Marcelo Brozovic dan menang duel melawan Gary Medel di lini tengah lawan, tetapi ia juga kerap berlari menusuk pertahanan Inter hingga terpaksa dilanggar yang menghasilkan keuntungan bagi Milan. Pada laga final Coppa Italia melawan Juventus, Kucka yang beroperasi di sebelah kanan lini tengah juga tidak gentar menghadapi nama besar Paul Pogba dan Patrice Evra di sisi sebaliknya.

Namun harus diakui, pemain bertinggi 186 cm ini memiliki kekurangan mendasar dalam hal akurasi. Dari 46 tembakan yang dilakukan, hanya 10 yang tepat sasaran, dan itu pun tidak ada yang menghasilkan gol. Satu-satunya gol yang dibuat pemain yang mengidolakan Paul Scholes ini dibuat melalui sundulan saat menghadapi AS Roma, Januari lalu. Akurasi umpannya juga kurang menonjol, yaitu hanya 76%. Akibatnya, ia kerap menggagalkan peluang timnya sendiri meski memiliki ruang untuk memberi umpan terakhir kepada penyerang.

Andai saja ia memiliki akurasi tembakan dan umpan yang lebih baik, rasanya ia akan menjadi gelandang berkelas dunia. Level permainannya akan mendekati Scholes mengingat pemain yang menggemari minuman ringan Coca Cola ini juga memiliki determinasi, kesederhanaan dan kerja keras seperti sang mantan gelandang Inggris. Ini sedikit menjelaskan mengapa Kucka hanya mencetak sebuah gol musim ini bagi Milan.  

Ya, pemain yang biasa dipanggil Kuco ini mungkin belum apa-apa dibanding Scholes, Keane, atau Gattuso, tiga gelandang legendaris Manchester United dan Milan. Namun setidaknya kini ia telah menunjukkan bahwa di "Milan yang sekarang", ia menjadi sosok kunci di lini tengah, dan telah membuktikan bahwa keraguan yang dialamatkan kepadanya tidaklah beralasan. Tanpa Kucka, lini tengah Milan akan lesu dan kurang bertenaga.

Terlepas dari performa gemilangnya, masa depan pemain yang tubuhnya dirajah penuh tato ini belum pasti di klub yang bermarksa di San Siro. Di samping pencapaian Milan yang kembali buruk musim ini, yang membuat Milan bisa saja menjual para pemain termasuk dirinya, tenaga Kucka juga diinginkan oleh Sinisa Mihajlovic, mantan pelatih Milan yang kini menukangi Torino. "Kucka bagaikan tank. Ia sulit dihentikan dan selalu melancarkan tekel," ujar Mihajlovic.

Performa Milan boleh hancur-hancuran, tapi tidak dengan Kucka. Wajar saja jika kemudian muncul berita keberminatan kesebelasan lain kepada mantan penggawa Sparta Praha ini. Ia mungkin tidak lagi diminati oleh Liverpool seperti tiga tahun lalu, terlebih oleh klub idola masa kecilnya, Manchester United. Namun setidaknya jika ia masih bertahan di “Milan yang sekarang”, masih akan ada tempat untuknya.

Thursday, November 19, 2015

Roberto Rosato, ‘Kembaran’ Tak Kalah Hebat Dari Gianni Rivera

Rivera dan Rosato. Photo from magliarossonera.it

Roberto Rosato adalah salah satu dari sekian bek legendaris yang pernah dimiliki Milan. Ia bermain di skuat Merah-Hitam tahun 60 hingga 70an dan turut menjadi bagian dari kejayaan Milan pada era tersebut. Tanggal lahirnya sama dengan legenda Milan lain yang lebih populer, Gianni Rivera. Meski Rivera lebih banyak diingat, namun kontribusi seorang Rosato tidak dapat dilupakan begitu saja.
***

Semifinal Piala Dunia 1970 mempertemukan Italia dengan Jerman Barat. Pemenang pertandingan ini akan menghadapi salah satu di antara Brasil atau Uruguay. Sudah pasti nantinya akan terjadi duel klasik antara dua kutub, yaitu Eropa dengan Amerika Selatan di final Piala Dunia 1970. Aroma rivalitas juga makin kentara karena Brasil, Uruguay dan Italia kala itu sama-sama telah merebut dua gelar juara. Artinya, siapa pun yang keluar sebagai juara, akan menyimpan trofi Jules Rimet.

Pertandingan Italia melawan Jerman memasuki babak perpanjangan waktu setelah dalam waktu 90 menit kedudukan masih 1-1. Pada saat itu, babak adu penalti belum diperkenalkan di Piala Dunia, sehingga kedua kesebelasan sama-sama mengerahkan kemampuan untuk mencetak gol pada babak perpanjangan waktu ini.

Hasilnya, lima gol tercipta di babak ini, hingga kini satu-satunya yang terjadi dalam sejarah Piala Dunia. Jerman Barat mencetak dua gol dan Italia mencetak tiga gol. Dalam laga yang kemudian dikenang sebagai Match of the Century ini, seorang gelandang serang elegan bernama Gianni Rivera menjadi bintang. Masuk sejak menit 46 menggantikan Sandro Mazzola sebagai bagian dari taktik staffetta pelatih Ferruccio Valcareggi, Rivera berperan langsung dalam terciptanya dua gol pada babak perpanjangan waktu yang membawa Italia ke babak final.

Sayangnya, Italia tampil antiklimaks di final melawan Brasil yang begitu perkasa di bawah pimpinan Pele. Rivera juga secara mengejutkan baru diturunkan pada akhir-akhir pertandingan.

Rivera memang memiliki nama harum di persepakbolaan Italia. Meski tidak menyumbang gelar Piala Dunia untuk Gli Azzurri, namun Rivera adalah pemain Italia kedua yang memenangkan gelar Ballon D’or tahun 1969 setelah Omar Sivori meraihnya tahun 1961. Ia juga membawa timnas Italia menjuarai Piala Eropa tahun 1968, gelar juara kontinental yang hingga kini menjadi satu-satunya milik Gli Azzurri.

Rivera menghabiskan sebagian besar karirnya di Milan. Dengan sumbangan tiga scudetto plus dua European Cup (sekarang Liga Champions), tidak mengherankan jika nama Rivera diabadikan dalam Hall of Fame, sebuah penghargaan bernilai abadi atas segala kontribusinya kepada MIlan. Ketika Rivera berulang tahun ke-72, 18 Agustus 2015 lalu, Milan melalui situs resmi www.acmilan.com mengucapkan selamat ulang tahun kepada legendanya itu.

Namun ternyata ucapan selamat ulang tahun pada hari itu tidak diberikan kepada Rivera seorang. Seperti diceritakan di awal, terdapat satu nama yang memiliki hari kelahiran identik dengan Rivera, yaitu Roberto Rosato. Tidak hanya tanggal lahir yang sama, kedua pemain juga lahir di tahun yang sama. Meski lahir dari orang tua yang berbeda, namun kesamaan ini menyebabkan keduanya kerap dipanggil Si Kembar.

Adalah takdir yang mempertemukan keduanya bermain di skuat Milan dan timnas Italia. Pelatih legendaris Nereo Rocco berandil besar untuk itu. Rocco, yang sempat melatih Torino pada tahun 1963 hingga 1967 melihat potensi besar pada diri Rosato, yang berposisi sebagai pemain belakang. Kepercayaan Rocco itulah yang membuat kemampuan Rosato berkembang sebagai bek andalan Il Toro hingga akhirnya terpilih memperkuat timnas Italia tahun 1965, lalu terpilih dalam skuat yang bertanding di Piala Dunia 1966.

Selepas Piala Dunia 1966 itulah Rosato hijrah ke Milan dan bersatu dengan ‘saudara kembarnya’, Rivera. Rosato lantas didapuk sebagai penerus Cesare Maldini sebagai pemimpin lini belakang Rossoneri. Uniknya, Maldini mengambil jalan sebaliknya dengan pindah ke Torino untuk bereuni dengan Rocco. Cerita unik kembali berlanjut karena setahun kemudian Maldini pensiun, dan Rocco kembali melatih Milan dan bereuni dengan Rosato.

Dalam musim debutnya, Rosato membentuk lini pertahanan tangguh bersama Karl-Heinz Schnellinger, bek asal Jerman. Musim pertamanya di San Siro diwarnai raihan gelar Coppa Italia. Namun dua tahun berturut-turut setelahnya-lah yang mengukir nama Rosato abadi dalam sejarah Rossoneri. Musim 1967-68, Rosato berperan besar membawa Milan meraih gelar scudetto dan Piala Winners Eropa, sementara semusim kemudian, Rosato ikut mengantar Milan meraih European Cup.

Penampilan fisik Roberto Rosato berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkannya di lapangan. Ia memiliki wajah tampan, namun ketika bermain, ia amat garang dan keras. Karakternya di lapangan sedikit mengingatkan pada sosok oriundo pemain bertahan timnas Italia pada periode 1930an, Luis Monti. Rosato juga dapat bermain di posisi gelandang bertahan, serupa dengan kemampuan yang dimiliki Monti. Kemampuan memerankan beberapa posisi ini juga menunjukkan Rosato memiliki visi dalam bermain.

Rosato jugalah yang menjadi tulang punggung lini belakang timnas Italia di dua Piala Dunia, 1966 dan 1970. Di lini belakang timnas, Rosato bahu membahu dengan rivalnya dari Inter, Tarcisio Burgnich. Keduanya berperan besar membawa Italia meraih gelar Piala Eropa tahun 1968 dan menjadi runner-up Piala Dunia 1970.

Duet Rosato bersama Burgnich di lini belakang, juga mengiringi dominasi Milan-Inter lainnya di skuat timnas Italia. Seperti diketahui, dua kesebelasan itu memang berjaya pada masa 60an dan 70an. Pada Piala Dunia 1970, duet Milan-Inter bahkan bisa dilihat di seluruh lini. Selain Rosato-Burgnich, ada pula Rivera-Mazzola di tengah dan Prati-Boninsegna di lini depan.

Pengakuan akan kehebatan Rosato mungkin tidak terdengar senyaring yang diterima sang kembaran, Rivera. Namun hal ini bukan berarti ia tidak termasuk dalam jajaran pemain-pemain terbaik yang pernah dilahirkan Italia. Bagi Milan sendiri, Rosato telah berhasil meneruskan kehebatan Cesare Maldini dalam memimpin lini belakang. Secara total, Rosato memperkuat Milan dalam 187 laga selama tujuh tahun.

Bukan hanya itu, Rosato juga turut dijadikan patokan dalam menilai apakah bek-bek Milan berikutnya patut disebut sebagai pemain besar, karena pada era sesudahnya, nama Fulvio Collovati didengungkan sebagai penerus dari Rosato. Seperti diketahui, Collovati adalah pemain belakang lulusan dari akademi Milan yang kemudian turut menjadi andalan Rossoneri sekaligus timnas Italia.

Bukan hanya sekali-dua kali memperkuat Gli Azzurri, namun Collovati adalah anggota inti dari tim yang memenangi Piala Dunia 1982. Hebatnya lagi, Collovati mampu meyakinkan pelatih Enzo Bearzot untuk memasangnya sebagai bek inti meski ketika itu lini belakang Gli Azzurri didominasi bek-bek tangguh Juventus seperti Claudio Gentile, Antonio Cabrini dan Gaetano Scirea.

Rosato memang telah meninggal dunia pada bulan Juni tahun 2010 lalu. Namun sosoknya tidak akan pernah hilang dari ingatan sebagai bagian dari tradisi Milan, yang menjadi tempat kelahiran sekaligus rumah bagi bek-bek berkelas dunia.

Tuesday, November 17, 2015

Perjalanan Karir dan Warisan Johan Cruyff Untuk Sepak Bola

Johan Cruyff. Photo from jotdown.es

(Entri ini menulis ulang dan mengedit seperlunya salah satu tulisan saya dari buku The Legends, Pesepak Bola Terbaik Dunia Yang Pernah Ada; Aditya Nugroho, Arsyad M. Fajri, M. Rezky Agustyananto, Mahir Pradana; Salaris Publisher, 2014)

Hendrik Johannes Cruyff lahir pada 25 April 1947, ia adalah anak dari seorang ayah bernama Hermanus dan ibu bernama Petronella. Cruyff lahir di bagian timur Amsterdam, ibukota Belanda. Seakan mengikuti jejak para seniman dan artis kelahiran kota ini, Cruyff kelak juga dikenang sebagai seniman sepak bola papan atas.

Cruyff sudah menyukai sepak bola sejak kecil. Idola masa kecilnya adalah Servas ‘Faas’ Wilkes, pemain nasional Belanda era 40 hingga 50an. Wilkes adalah seorang penyerang subur Belanda yang karirnya membentang dari klub Xerxes Rotterdam, Internazionale Milan, Torino, hingga ke Spanyol bersama Valencia. Wilkes juga merupakan pencetak gol terbanyak tim nasional Belanda saat itu dengan catatan 35 gol sebelum rekor tersebut dipecahkan oleh Patrick Kluivert dan Robin Van Persie.

Kesedihan melanda Cruyff saat sang ayah meninggal akibat serangan jantung. Saat itu usianya masih 10 tahun. Ibunya yang tak sanggup membuka toko seorang diri akhirnya mencari pekerjaan baru, dan ia mendapatkannya di Ajax sebagai petugas pembersih. Cruyff pun menjalani masa-masa remajanya tanpa didampingi sosok ayah. Namun justru dari peristiwa inilah mentalnya terasah.

Cruyff bermimpi untuk menjadi pesepakbola seperti Wilkes. Bakat besar Cruyff tercium oleh tim pemandu bakat Ajax, yang kemudian menariknya. Cruyff menjalani kehidupan yang berat sebagai anak-anak. Sekolah di pagi hari, berlatih di sore hari dan membantu ibu di sela-sela waktu. Ia juga amat belajar banyak soal kedisiplinan dari hal ini.

Ajax memang dikenal sebagai klub yang sejak lama memperhatikan betul akademi mereka. Bakat besar Cruyff tercium lantaran para pelatih Ajax yang kala itu kebanyakan berasal dari Inggris meluangkan banyak waktu untuk menyaksikan perkembangan pemain-pemain mudanya. Para staf pelatih itu menginginkan pemain muda mereka bermain layaknya tim senior yang atraktif, banyak menekan lawan dan lihai dalam menguasai bola. 

Perjalanan Karir Sebagai Pemain
Cruyff tumbuh sebagai remaja bertubuh tinggi dan berkaki panjang. Rambutnya bergaya shaggy alias dibiarkan panjang natural tanpa ditata secara berlebihan. Cruyff juga amat pintar berbicara, melambangkan kecerdasan dan wawasannya yang luas. Kala diwawancarai wartawan, tata bahasanya amat runtut, sistematis, filosofis dan elegan.

Cruyff adalah sosok yang tahu betul yang ia mau, dan tahu cara meraihnya. Filosofi sepak bola di kepalanya makin melekat kala ia ditugasi sebagai ball boy dalam pertandingan final European Cup antara Benfica melawan Real Madrid. Cruyff yang saat itu baru berusia 15 tahun berdecak kagum menyaksikan pemain-pemain seperti Eusebio dan Di Stefano. Mereka berdua adalah pemain yang amat cerdas dengan menggabungkan skill tinggi dan pergerakan yang tak terlacak bek lawan. Sebuah pemandangan yang menginspirasi Cruyff muda.

Cruyff mendapatkan kesempatan melakoni debut tim senior Ajax Amsterdam delapan tahun setelah bergabung atas rekomendasi Vic Buckingham, pelatihnya asal Inggris saat itu. Dalam debutnya menghadapi GVAV tersebut, ia langsung mencetak gol namun sayang Ajax harus menyerah 1-3. Dalam musim perdananya ini, prestasi Ajax tidaklah memuaskan dan harus menduduki posisi 13, atau salah satu peringkat terendah sepanjang sejarah. Cruyff sendiri membukukan 4 gol dalam 10 laga yang ia lakoni musim itu. Bukanlah pencapaian buruk bagi seorang pemain muda.

Namun musim berikutnya Cruyff membawa Ajax pada fase kebangkitan. Lewat sumbangan 16 golnya, Ajax berhasil merebut gelar Eredivisie pertama mereka dalam lima tahun. Semusim berselang, Cruyff memenangi gelar topskor Eredivisie dengan torehan 33 gol dari 30 laga. Total, Cruyff mencetak 41 gol dari 41 laga di semua ajang dan membawa Ajax kembali meraih titel domestik.

Kejayaan di level domestik kemudian menular ke Eropa. Yang paling dikenang tentu saja tiga gelar beruntun European Cup (sekarang Liga Champions) tahun 1970 hingga 1972 yang membuat mereka menyamai prestasi Real Madrid tahun 50an kala Di Stefano dan Puskas menjadi andalan. Pencapaian ini sekaligus menjadikan Ajax dianugerahi penghargaan abadi Badge of Honour, sebuah penghargaan bagi klub yang mampu merebut tiga gelar beruntun European Cup atau mengumpulkan minimal lima gelar secara total. Hingga kini, baru lima klub yang memperoleh kehormatan itu, yaitu Real Madrid, Bayern Muenchen, Liverpool, AC Milan dan Ajax.

Tak pelak, Ajax era 70an adalah salah satu tim yang layak disebut terbaik sepanjang masa. Menggabungkan permainan atraktif dengan dominasi absolut atas lawan dan menguncinya dengan kemenangan menandai sebuah filosofi baru dalam dunia sepak bola, yang kemudian dikenal sebagai Total Football. Ajax yang saat itu dimotori oleh Cruyff bersama Barry Hulshoff, Henk Groot, Sjaak Swart, Bennie Muller, Wim Suurbier dan Piet Keizer adalah tim impian.

Penghargaan individual pun tak lepas dari genggaman Cruyff. Ia adalah pemain Belanda pertama yang menyabet gelar Ballon d’Or saat pertama kali merengkuhnya tahun 1970. Ia kelak meraih Ballon d’Or sebanyak tiga kali, di mana sampai saat ini hanya empat pemain yang pernah mencapainya. Cruyff bersama Michel Platini dan Marco Van Basten adalah peraih tiga kali Ballon d’Or sebelum Lionel Messi memecahkan rekor mereka setelah meraih gelar keempat tahun 2012.

Gelar topskor liga Belanda juga didapat Cruyff musim 1971/1972, termasuk topskor European Cup tahun yang sama saat mereka menjuarai ajang tersebut. “Kami tidak memiliki kesempatan. Johan Cruyff sangat luar biasa.” Ujar salah seorang suporter Panathinaikos, klub yang dikalahkan Ajax pada final European Cup tahun 1971 seperti dikutip dalam buku The Brillian Orange, The Neurotic Genius of Dutch Football karya David Winner.

Winner menambahkan bahwa setahun berselang, Arsenal yang kala itu merajai sepak bola Inggris pun dibuat tak berdaya di tangan Ajax di bawah pimpinan Cruyff. Winner mengutip perkataan komentator radio BBC dalam pertandingan itu. “Arsenal bertanding melawan tim yang jauh lebih kuat dan modern, dan sebagai pemain, Cruyff telah berada di level yang jauh berbeda dengan pemain-pemain Arsenal.

Kegemilangan Cruyff juga diakui hingga seantero Eropa, dan saat itu dua klub besar Spanyol, Real Madrid dan Barcelona meminatinya. Karena ketidaksukaannya pada rezim diktator Jenderal Franco yang sering diasosiasikan dengan Madrid, tahun 1973 Cruyff memilih Barcelona meski Madrid rela membayar lebih mahal. Cruyff pun pindah dengan nilai transfer 900 ribu pound, sebuah rekor saat itu. Sebuah pilihan yang mulai memperlihatkan kepada dunia tentang sisi lain Cruyff, yang amat keras hati dan teguh memegang prinsip.

Bergabung kembali dengan pelatih favoritnya, Rinus Michels, Cruyff tidak menjalani awal harinya di Camp Nou dengan mudah. Saat Cruyff datang, kompetisi telah dimulai dan Barca tengah terpuruk. Namun kedatangannya memberi dampak luar biasa dengan membawa tim ini bangkit. Penampilan memukau Cruyff bahkan membawa kemenangan 5-0 atas Madrid di Santiago Bernabeu, sebuah kemenangan tak terlupakan. Di akhir musim, Barcelona akhirnya keluar sebagai juara.

Setelah menjalani lima musim yang berkesan di Barcelona, Cruyff hijrah ke utara Amerika untuk bermain di kompetisi NASL (North American Soccer League) bersama klub Los Angeles Aztecs. Di usianya yang sudah 32 tahun, ia masih mampu bermain baik, bahkan terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP).

Cruyff menghabiskan setahun berikutnya masih di Amerika Serikat, kali ini bersama klub Washington Diplomats. Ia sebetulnya bisa bertahan lebih lama, namun cedera yang menimpa pada awal musim kedua membuatnya memutuskan hengkang. Ia lantas kembali ke Spanyol untuk bermain di divisi dua bersama Levante.

Pilihannya bermain di Levante ternyata kurang menguntungkannya, meski Levante berada di Spanyol, tanah yang ikut membesarkan namanya. Ketidakcocokan dengan manajemen membawanya hengkang, dan akhirnya tahun 1982 pulang ke Belanda, ke klub tempatnya memulai karir, Ajax. Kali ini, Cruyff juga merangkap sebagai penasihat pelatih saat itu, Leo Beenhakker dan juga sebagai pemain.

Sihir Cruyff di lapangan masih ada. Yang paling ternama jelas tendangan passing penalty yang ia ambil saat bertanding melawan Helmond Sport. Bukannya menendang langsung, Cruyff mengoper bola dengan pelan kepada rekannya Jesper Olsen. Olsen yang bergerak cepat lantas memancing kiper Otto Versfeld untuk menghadangnya, namun sebelum itu terjadi, Olsen mengembalikan bola kepada Cruyff yang langsung menceploskan bola ke gawang kosong.

Dua dekade setelah kejadian ini, Robert Pires, pemain sayap elegan Arsenal berniat meniru apa yang Cruyff lakukan bersama Olsen. Bermaksud mengoper kepada Thierry Henry, Pires justru luput menendang bola dengan benar, sehingga ia malah dinyatakan melakukan pelanggaran. Ya, ternyata melakukan sebuah simple passing yang presisi tidak semudah itu, bukan?

Sudah sepantasnya seorang legenda menghakhiri karir bersama klub yang membawanya mengawali karir. Cruyff pun inginnya menjadikan Ajax sebagai pelabuhan terakhir karir sepak bolanya yang yang luar biasa. Namun apa mau dikata, Ajax enggan memperpanjang kontrak sang legenda hidup.

Cruyff membalasnya dengan tindakan yang amat menyakitkan pendukung Ajax sekaligus mencoreng muka direksi klub, yaitu dengan hijrah ke rival berat, Feyenoord Rotterdam. “Saat Amsterdam bermimpi, Rotterdam bekerja” sudah menjadi kalimat yang terkenal bagi warga Rotterdam kepada warga Amsterdam. Kedatangan Cruyff, dipandang mereka akan membuat Amsterdam (Ajax) hanya bisa bermimpi melihat kejayaan Rotterdam (Feyenoord) yang mulai bekerja.

Cruyff memainkan nyaris seluruh partai liga dan piala liga bersama Feyenoord yang saat itu juga diperkuat pemain berbakat, Ruud Gullit. Talenta besar Gullit berpadu dengan magis Cruyff akhirnya membawa kejayaan bagi Feyenoord. Pada akhir karirnya ini, Cruyff akhirnya membawa Feyenoord merebut gelar ganda. Gelar liga yang diraih Feyenoord ini juga menjadi yang pertama bagi mereka dalam satu dekade.

Bersama De Oranje
Meski kehebatannya sudah berkali-kali dipertontonkan di level klub, namun dunia baru benar-benar mengenal sosoknya saat ia memimpin 10 orang berseragam oranye lainnya dalam bendera negara Belanda. Wajar saja, saat itu jangkauan siaran langsung sepak bola belumlah seperti sekarang. Baru ajang antar negara macam Piala Dunia yang mendapat porsi perhatian dan peliputan yang besar.

Cruyff memulai debutnya bersama tim nasional Belanda tahun 1966. Dalam laga keduanya bersama tim nasional Belanda melawan Cekoslowakia, tempramen buruk Cruyff memberinya masalah. Cruyff dikeluarkan wasit lalu dihukum tidak boleh memperkuat tim nasional selama setahun. Ini adalah satu dari sekian kontroversi yang dilakukan sang legenda lantaran sikapnya yang blak-blakan.

Cruyff juga menunjukkan sikap pemberontaknya dalam hal kontrak profesional dengan penyedia peralatan olahraga. Tim nasional Belanda yang kala itu disponsori oleh produk Adidas tentu menggunakan seragam yang bercirikan merk raksasa tersebut. Cruyff, di lain pihak telah mengikat perjanjian eksklusif dengan rival Adidas, Puma. Dengan tegas, Cruyff menolak mengenakan jersey Belanda yang dihiasi tiga garis ciri khas Adidas. Sebagai gantinya, Cruyff ingin mengenakan jersey dengan versi hiasan dua garis.

Hal-hal tersebut tidak membuat Cruyff menyerah. Ia kemudian memimpin Belanda untuk lolos ke Piala Dunia 1974 yang berlangsung di Jerman. Di bawah kepemimpinan Cruyff sebagai kapten tim, Belanda yang saat itu tidak diperhitungkan justru tampil amat impresif. Sepanjang penyisihan grup, mereka berhasil mengukir dua kemenangan dan sekali hasil imbang untuk lolos ke babak penyisihan grup fase kedua.

Dalam grup yang berisi Jerman Timur, Argentina dan Brasil inilah Cruyff menunjukkan superioritas. Ia membawa Belanda menundukkan seluruh lawan, termasuk dua tim kuat Argentina dan Brasil. Dua jagoan Amerika Latin itu ditaklukkan Belanda dengan permainan yang amat mengagumkan, terutama dari Cruyff. Belanda kemudian melaju ke babak final menghadapi tuan rumah Jerman Barat, di mana mereka akhirnya menyerah dengan skor 1-2.

Meski gagal memberi gelar juara kepada negaranya, namun permainannya bersama tim nasional Belanda tak mungkin dilupakan begitu saja. Dengan kehebatannya itu, banyak yang lantas menyamakan kemampuannya dengan Pele, pemain terbaik yang terakhir mengikuti Piala Dunia tahun 1970.

 Selain tim nasional Hungaria tahun 1954, mungkin hanya tim nasional Belanda tahun 1974 ini yang ramai-ramai dinobatkan sebagai ‘juara tanpa mahkota’ berkat penampilan yang teramat memukau. Ini sekaligus mematahkan anggapan umum bahwa sejarah hanya mengingat tim pemenang saja.

Cruyff boleh jadi tidak pernah memberi trofi Piala Dunia kepada negaranya, namun visi dan filosofi yang dimiliki Cruyff adalah warisan yang berharga tidak hanya bagi tim yang pernah diperkuatnya, tapi untuk dunia sepak bola secara keseluruhan. Ia bermain dengan visi dan filosofi yang sudah diyakininya itu, dengan cara memainkan sepak bola yang sederhana. Sepak bola yang terlihat amat mudah dimainkan namun sebetulnya sangat sulit dimainkan.

Sistem Total Football dan Warisan Cruyff Kepada Sepak Bola
Seperti disinggung sebelumnya, Cruyff besar seiring kemunculan Total Football, dan tim nasional Belanda amat beruntung memilikinya sebagai pemain. Belanda semula bukanlah tim yang diperhitungkan pada Piala Dunia 1974 tersebut. Sebelum tahun ini, mereka tidak pernah melaju hingga babak final, apalagi juara. Kedigdayaan klub Ajax Amsterdam yang juga dipimpin Cruyff pada awal 1970 pun tidak serta merta menggiring opini publik untuk menjagokan Belanda.

Cruyff meraih berbagai prestasi di lapangan bersama pelatih yang dikenang sebagai pencetus Total Football, Rinus Michels. Di bawah asuhannya, Michels menginginkan tim dengan kemampuan teknis yang merata. Pergerakan pemain sungguh membingungkan lawan karena para pemain tidak memiliki posisi yang baku di lapangan. Mereka juga bergerak simultan dalam menyerang dan bertahan. Formasi juga kerap berubah dari W-M, 4-2-4 hingga 4-3-3 dengan transisi yang mengagumkan.

Ditambah lagi, mereka mengalirkan bola dengan sangat cepat, menerapkan perangkap offside, dan melakukan tekanan saat lawan menguasai bola. Inilah Total Football yang revolusioner yang saat itu amat sulit diantisipasi lawan. Menggabungkan permainan cantik dan dominasi total untuk merebut kemenangan, sebuah kriteria tim impian yang terpenuhi oleh tim ini, sekaligus menandai kelahiran filosofi baru dalam permainan sepak bola.

Filosofi sepak bola memang tidak melulu melahirkan hal yang benar-benar baru, begitu pun Total Football. Sebelum lahir tim Ajax asuhan Michels, Torino yang menguasai liga Italia tahun 40an juga dikenal memiliki permainan serupa. Dengan pola 4-2-4, mereka memainkan bola dengan amat cepat dan mendominasi lawan. Lalu satu dekade sebelumnya, ada The Wunderteam Austria asuhan pelatih legendaris Hugo Meisl yang mencapai babak semi final Piala Dunia 1934.

Rinus Michels amat mengandalkan Cruyff sebagai pemimpin tim meski usia Cruyff saat itu masih terbilang muda. Ia adalah pengejawantah Total Football yang sempurna, sehingga kerjasama antara mereka terjalin dengan amat baik.

Jika Total Football adalah sebuah sistem, maka Cruyff adalah inti dari sistem itu. Ia adalah sang Total Football. Ia mengatur permainan, melakukan terobosan, memberi umpan, mendistribusi bola dan tidak jarang mencetak gol. Cruyff sebetulnya bermain sebagai penyerang tengah dalam sistem ini. Namun ia kerap menjemput bola hingga jauh ke belakang dan kadang bergerak ke sayap. Saat itu, sangat jarang seorang penyerang bermain sepertinya.

Fakta yang makin menunjukkan kehebatan Cruyff dalam ajang Piala Dunia adalah bahwa ia hanya bermain dalam satu kejuaraan saja, yaitu 1974. Cruyff absen di Piala Dunia 1978 karena masalah non-teknis yang membuatnya mengambil sikap untuk tidak berangkat ke Argentina, tuan rumah saat itu.

Meski tanpa sang jenderal, Belanda kembali berhasil menembus babak final, namun lagi-lagi menyerah atas tuan rumah mengulangi cerita empat tahun sebelumnya. Banyak yang berpendapat jika Cruyff hadir maka bukan tidak mungkin Belanda yang akan merebut trofi Piala Dunia. Total, Cruyff tercatat membela Belanda sebanyak 48 laga dengan torehan 33 gol.

Selepas gantung sepatu, Cruyff pun menjadi pelatih. Karir manajerialnya sebetulnya sudah ia cicil sejak bermain di Ajax awal tahun 80an kala ia merangkap sebagai penasihat teknis pelatih Leo Beenhakker. Posisi pelatih kepala baru digenggamnya tahun 1985, juga di klub Ajax. Kelak, Cruyff meneruskan filosofinya dengan melahirkan kembali sistem Total Football.

Meski tidak serupa seperti saat ia bermain, namun sistem dasar berupa keberadaan tiga pemain belakang dinamis, seorang gelandang bertahan, dua orang gelandang tengah, dua penyerang sayap dan seorang penyerang tengah mampu menghadirkan masa kejayaan kembali bagi Ajax.

Cruyff mungkin hanya menyumbangkan dua Piala Belanda dan sebuah Piala Winners untuk Ajax, namun banyak pihak yang mengakui bahwa gelar Piala Champions yang didapatkan Ajax tahun 1995 adalah andil dari sistem yang diterapkannya.

Karir kepelatihan Cruyff merekah di Barcelona. Kembali menginjakkan kaki di Camp Nou tahun 1988, Cruyff turut mengambil manfaat dari akademi La Masia, sebuah akademi yang digagasnya kala ia masih bermain bagi El Barca tahun 1979 lalu. Pep Guardiola adalah salah seorang pemain lulusan La Masia yang kemudian menjadi bagian dari tim impian Barcelona bersama bintang-bintang seperti Jose Maria Bakero, Romario, Ronald Koeman, Michael Laudrup dan Hristo Stoitchkov.

Cruyff kemudian memenangi 11 trofi bersama Blaugrana, berupa 4 trofi La Liga, sebuah Copa Del Rey, sebuah Piala Winners, sebuah Piala Champions, tiga buah Piala Super Spanyol dan sebuah Piala Super Eropa. Torehan ini menjadikannya pelatih tersukses klub dari perspektif gelar sebelum dipecahkan Guardiola, mantan anak asuhnya dengan capaian 15 trofi. Pep sendiri mengakui bahwa kesuksesannya bersama Barca dengan permainan tiki-taka banyak diilhami oleh filosofi Total Football dan warisan akademi La Masia yang digagas Cruyff.

Berbagai aral merintangi perjalanan karir Cruyff sebagai pelatih. Kebiasaannya merokok membuatnya jantungnya harus dioperasi, meski kemudian Cruyff dapat melanjutkan karirnya. Sikap kerasnya kemudian menjadi penyebab rusaknya hubungan dengan presiden Josep Luis Nunez, yang akhirnya memecatnya tahun 1996. Sebuah akhir ironis dari dua orang yang sebelumnya berhubungan dengan amat baik.

Bagaimanapun, Cruyff dan Barcelona seperti berjodoh. Sejak pertama kali bergabung sebagai pemain, Cruyff seperti langsung terikat secara emosional tidak hanya dengan klub, namun juga wilayah Catalonia. Ia menamai anaknya Jordi, lafal Catalan dari George atau Jorge. Jordi sendiri kemudian tumbuh mengikuti jejak sang ayah dengan menjadi pesepakbola profesional. Ia sempat berkarir sebentar bersama Barcelona.

Salah satu prinsip Cruyff adalah kesederhanaan. Kesederhanaan dalam permainan bahkan mematahkan premis umum bahwa pemain sepak bola haruslah memiliki skill tinggi. Bagi Cruyff, skill tinggi yang berasal dari talenta memang perlu. “Namun talenta besar tidak akan berarti banyak jika sang pemain tidak mampu menjadi seorang pemain yang mampu bekerja dalam tim,” ujarnya.

Mereka (pesepakbola bertalenta tinggi) mampu melakukan apapun dengan bola di kaki mereka, namun semua percuma jika ia tidak piawai melepaskan sebuah umpan pendek sederhana dengan waktu dan kecepatan yang presisi dan tidak paham pergerakan kawannya. Pemain seperti ini, lanjutnya, “Hanya bermain dengan tujuan memampangkan kehebatan teknis yang mereka miliki, dengan kepentingan tim berada di bawah prioritas mereka.

Namun bukan berarti Cruyff tidak memiliki skill tinggi. Ia jelas memiliki kemampuan teknis mumpuni untuk menjadi pesepakbola hebat. Ia juga memiliki kecepatan, akselerasi dan gocekan yang sederhana namun efektif. Ingatkah pada gocekannya saat laga melawan Swedia tahun 1974 yang berakhir imbang tanpa gol itu? Gocekan yang lantas dikenal dengan nama Cruyff Turn itu dikenang sebagai salah satu pertunjukan skill terbaik sepanjang Piala Dunia berlangsung.

Warisan Kepada Dunia Sepak Bola
“Playing football is very simple, but playing simple football is the hardest thing there is.”

Sepak bola adalah olahraga yang sederhana, namun untuk memainkannya dengan sederhana adalah hal tersulit. Ungkapan di atas mungkin hanya sebaris panjangnya. Untuk diucapkan pun sangat mudah, tidak sampai harus berkali-kali mengambil nafas. Hanya ada sedikit jeda, tanpa ada rima, tanpa gaya bahasa yang berlebihan. Ya, barisan kata-kata dalam kalimat ini memang sesederhana maknanya. Namun untuk mewujudkannya adalah hal paling sulit.

Seorang pengajar yang baik adalah mereka yang mampu memilah kata-kata yang mudah dimengerti, menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana namun apa yang diajarkannya tepat sasaran, tidak lebih dan kurang. Presisi, tegas dan meluruskan. Perkataannya tidak menimbulkan multi tafsir dan misinterpretasi.

Kata-kata dalam kalimat sederhana tersebut terucap dari Cruyff, yang kelak bukan hanya dikenal sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa, namun juga salah satu pelatih terbaik sekaligus aktor di balik kemunculan tim-tim terbaik dunia pada generasi setelahnya. Dari segala hasil karyanya itu, visi, kecerdasan dan keyakinan diri yang kuat adalah kunci keberhasilan seorang Johan Cruyff.

Dengan prinsip-prinsip dan visi inilah Cruyff mengarungi karirnya di sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Kalangan luas boleh jadi menganggap level Cruyff masih di bawah Pele dan Maradona dari sisi skill individu. Kehebatan Cruyff memang lebih menonjol dari visi dan kecerdasannya di lapangan. Namun dari segi pengaruh kepada permainan secara umum, perkembangan taktik, andilnya dalam pembentukan tim-tim hebat dunia, dan inspirasi yang diberikannya kepada generasi-generasi setelahnya, rasanya belum ada satu pun pesepakbola yang mampu menandinginya.