Pages

Thursday, November 19, 2015

Roberto Rosato, ‘Kembaran’ Tak Kalah Hebat Dari Gianni Rivera

Rivera dan Rosato. Photo from magliarossonera.it

Roberto Rosato adalah salah satu dari sekian bek legendaris yang pernah dimiliki Milan. Ia bermain di skuat Merah-Hitam tahun 60 hingga 70an dan turut menjadi bagian dari kejayaan Milan pada era tersebut. Tanggal lahirnya sama dengan legenda Milan lain yang lebih populer, Gianni Rivera. Meski Rivera lebih banyak diingat, namun kontribusi seorang Rosato tidak dapat dilupakan begitu saja.
***

Semifinal Piala Dunia 1970 mempertemukan Italia dengan Jerman Barat. Pemenang pertandingan ini akan menghadapi salah satu di antara Brasil atau Uruguay. Sudah pasti nantinya akan terjadi duel klasik antara dua kutub, yaitu Eropa dengan Amerika Selatan di final Piala Dunia 1970. Aroma rivalitas juga makin kentara karena Brasil, Uruguay dan Italia kala itu sama-sama telah merebut dua gelar juara. Artinya, siapa pun yang keluar sebagai juara, akan menyimpan trofi Jules Rimet.

Pertandingan Italia melawan Jerman memasuki babak perpanjangan waktu setelah dalam waktu 90 menit kedudukan masih 1-1. Pada saat itu, babak adu penalti belum diperkenalkan di Piala Dunia, sehingga kedua kesebelasan sama-sama mengerahkan kemampuan untuk mencetak gol pada babak perpanjangan waktu ini.

Hasilnya, lima gol tercipta di babak ini, hingga kini satu-satunya yang terjadi dalam sejarah Piala Dunia. Jerman Barat mencetak dua gol dan Italia mencetak tiga gol. Dalam laga yang kemudian dikenang sebagai Match of the Century ini, seorang gelandang serang elegan bernama Gianni Rivera menjadi bintang. Masuk sejak menit 46 menggantikan Sandro Mazzola sebagai bagian dari taktik staffetta pelatih Ferruccio Valcareggi, Rivera berperan langsung dalam terciptanya dua gol pada babak perpanjangan waktu yang membawa Italia ke babak final.

Sayangnya, Italia tampil antiklimaks di final melawan Brasil yang begitu perkasa di bawah pimpinan Pele. Rivera juga secara mengejutkan baru diturunkan pada akhir-akhir pertandingan.

Rivera memang memiliki nama harum di persepakbolaan Italia. Meski tidak menyumbang gelar Piala Dunia untuk Gli Azzurri, namun Rivera adalah pemain Italia kedua yang memenangkan gelar Ballon D’or tahun 1969 setelah Omar Sivori meraihnya tahun 1961. Ia juga membawa timnas Italia menjuarai Piala Eropa tahun 1968, gelar juara kontinental yang hingga kini menjadi satu-satunya milik Gli Azzurri.

Rivera menghabiskan sebagian besar karirnya di Milan. Dengan sumbangan tiga scudetto plus dua European Cup (sekarang Liga Champions), tidak mengherankan jika nama Rivera diabadikan dalam Hall of Fame, sebuah penghargaan bernilai abadi atas segala kontribusinya kepada MIlan. Ketika Rivera berulang tahun ke-72, 18 Agustus 2015 lalu, Milan melalui situs resmi www.acmilan.com mengucapkan selamat ulang tahun kepada legendanya itu.

Namun ternyata ucapan selamat ulang tahun pada hari itu tidak diberikan kepada Rivera seorang. Seperti diceritakan di awal, terdapat satu nama yang memiliki hari kelahiran identik dengan Rivera, yaitu Roberto Rosato. Tidak hanya tanggal lahir yang sama, kedua pemain juga lahir di tahun yang sama. Meski lahir dari orang tua yang berbeda, namun kesamaan ini menyebabkan keduanya kerap dipanggil Si Kembar.

Adalah takdir yang mempertemukan keduanya bermain di skuat Milan dan timnas Italia. Pelatih legendaris Nereo Rocco berandil besar untuk itu. Rocco, yang sempat melatih Torino pada tahun 1963 hingga 1967 melihat potensi besar pada diri Rosato, yang berposisi sebagai pemain belakang. Kepercayaan Rocco itulah yang membuat kemampuan Rosato berkembang sebagai bek andalan Il Toro hingga akhirnya terpilih memperkuat timnas Italia tahun 1965, lalu terpilih dalam skuat yang bertanding di Piala Dunia 1966.

Selepas Piala Dunia 1966 itulah Rosato hijrah ke Milan dan bersatu dengan ‘saudara kembarnya’, Rivera. Rosato lantas didapuk sebagai penerus Cesare Maldini sebagai pemimpin lini belakang Rossoneri. Uniknya, Maldini mengambil jalan sebaliknya dengan pindah ke Torino untuk bereuni dengan Rocco. Cerita unik kembali berlanjut karena setahun kemudian Maldini pensiun, dan Rocco kembali melatih Milan dan bereuni dengan Rosato.

Dalam musim debutnya, Rosato membentuk lini pertahanan tangguh bersama Karl-Heinz Schnellinger, bek asal Jerman. Musim pertamanya di San Siro diwarnai raihan gelar Coppa Italia. Namun dua tahun berturut-turut setelahnya-lah yang mengukir nama Rosato abadi dalam sejarah Rossoneri. Musim 1967-68, Rosato berperan besar membawa Milan meraih gelar scudetto dan Piala Winners Eropa, sementara semusim kemudian, Rosato ikut mengantar Milan meraih European Cup.

Penampilan fisik Roberto Rosato berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkannya di lapangan. Ia memiliki wajah tampan, namun ketika bermain, ia amat garang dan keras. Karakternya di lapangan sedikit mengingatkan pada sosok oriundo pemain bertahan timnas Italia pada periode 1930an, Luis Monti. Rosato juga dapat bermain di posisi gelandang bertahan, serupa dengan kemampuan yang dimiliki Monti. Kemampuan memerankan beberapa posisi ini juga menunjukkan Rosato memiliki visi dalam bermain.

Rosato jugalah yang menjadi tulang punggung lini belakang timnas Italia di dua Piala Dunia, 1966 dan 1970. Di lini belakang timnas, Rosato bahu membahu dengan rivalnya dari Inter, Tarcisio Burgnich. Keduanya berperan besar membawa Italia meraih gelar Piala Eropa tahun 1968 dan menjadi runner-up Piala Dunia 1970.

Duet Rosato bersama Burgnich di lini belakang, juga mengiringi dominasi Milan-Inter lainnya di skuat timnas Italia. Seperti diketahui, dua kesebelasan itu memang berjaya pada masa 60an dan 70an. Pada Piala Dunia 1970, duet Milan-Inter bahkan bisa dilihat di seluruh lini. Selain Rosato-Burgnich, ada pula Rivera-Mazzola di tengah dan Prati-Boninsegna di lini depan.

Pengakuan akan kehebatan Rosato mungkin tidak terdengar senyaring yang diterima sang kembaran, Rivera. Namun hal ini bukan berarti ia tidak termasuk dalam jajaran pemain-pemain terbaik yang pernah dilahirkan Italia. Bagi Milan sendiri, Rosato telah berhasil meneruskan kehebatan Cesare Maldini dalam memimpin lini belakang. Secara total, Rosato memperkuat Milan dalam 187 laga selama tujuh tahun.

Bukan hanya itu, Rosato juga turut dijadikan patokan dalam menilai apakah bek-bek Milan berikutnya patut disebut sebagai pemain besar, karena pada era sesudahnya, nama Fulvio Collovati didengungkan sebagai penerus dari Rosato. Seperti diketahui, Collovati adalah pemain belakang lulusan dari akademi Milan yang kemudian turut menjadi andalan Rossoneri sekaligus timnas Italia.

Bukan hanya sekali-dua kali memperkuat Gli Azzurri, namun Collovati adalah anggota inti dari tim yang memenangi Piala Dunia 1982. Hebatnya lagi, Collovati mampu meyakinkan pelatih Enzo Bearzot untuk memasangnya sebagai bek inti meski ketika itu lini belakang Gli Azzurri didominasi bek-bek tangguh Juventus seperti Claudio Gentile, Antonio Cabrini dan Gaetano Scirea.

Rosato memang telah meninggal dunia pada bulan Juni tahun 2010 lalu. Namun sosoknya tidak akan pernah hilang dari ingatan sebagai bagian dari tradisi Milan, yang menjadi tempat kelahiran sekaligus rumah bagi bek-bek berkelas dunia.

No comments:

Post a Comment