Pages

Tuesday, June 25, 2013

Lesson of a Dream, a Movie Review


Pertentangan kelas, pembangkangan, dan pencerahan adalah inti dari film dengan judul bahasa Jerman Der Ganz Grosse Traum ini, yang kemudian dibingkai dengan cantik lewat tema sepak bola, dan sedikit bumbu Hollywood.

Mengapa film bertema sepak bola dapat berjalan beriringan dengan tema-tema lain yang berkisar perjuangan? Ya, karena semangat sepak bola memang mengunci banyak aspek positif dari kehidupan –meski tidak sedikit pula aspek negatifnya-.

Revolusi mungkin sebuah kata yang terlalu bombastis dalam film ini, lebih tepat dikatakan sebagai film reformasi yang menghadirkan cerita dibalik betapa sulitnya olah raga bernama sepak bola masuk ke negeri Jerman. Arogansi dan perasaan superioritas sudah terlanjur melekat pada bangsa ini, membuat mereka sulit untuk menerima permainan yang datang dari Inggris, yang notabene menjadi musuh besar mereka yang ingin mereka taklukkan. Baik lingkungan pendidikan seperti sekolah maupun lingkungan kecil bernama keluarga sudah menanamkan kebanggaan ini pada generasi setelah mereka.

Braunschweig (atau Brunswick dalam lafal Inggris) adalah sebuah kota di Jerman yang menjadi latar film ini, meski pengambilan gambar pada dasarnya hanya di 4 titik yaitu sekolah, rumah dari donatur sekolah, padang rumput untuk bermain bola, dan juga alun-alun kota pada awal film. Mengapa kota Braunschweig? Ya, memang inilah kota di Jerman pertama yang mengenal sepak bola tahun 1874. Lebih afdol lagi, Entracht Braunschweig mulai musim depan akan turut meramaikan Bundesliga 1 setelah menduduki posisi 2 klasemen akhir Bundesliga 2. Fussball akhirnya datang lagi menyemarakkan kota.

Cerita yang didasarkan pada kisah nyata ini menghadirkan Konrad Koch, sebagai tokoh utama yang juga seorang guru Bahasa Inggris berbekal pengalamannya menimba ilmu di Oxford University. Koch tidak hanya membawa ilmu linguistik, namun juga membawa visi yang ingin mengubah pandangan serta keseharian murid-muridnya.

Kekakuan dan feodalisme amat kental saat itu, dimana sulit bagi kaum proletar untuk mendapat akses pendidikan. Murid-murid Koch adalah para anak kecil yang kaku dan sudah tercekoki kebanggaan berlebihan akan superioritas bangsa mereka. Arogan, disiplin dan tidak mementingkan orang lain.

Koch, berbekal pengalamannya di Inggris, mencoba menggunakan metode berbeda dalam mengajar. Ia menekankan kata “kamerad” sebagai bentuk persaudaraan dan kesetiakawanan, sesuatu yang abai diajarkan oleh para guru-guru. Ia kemudian mengenalkan sepak bola secara perlahan kepada murid-muridnya. Koch selalu mendapat dukungan dari Gustav, kepala sekolah yang berpikiran reformis yang memang ingin mengajarkan murid-muridnya bentuk pembelajaran baru.

Tentu saja banyak rintangan yang didapat sang guru. Salah seorang orang tua murid, Richard Hartung, yang kaya raya sekaligus penyandang dana bagi sekolah memang sangat feodal. Ia menentang segala metode Koch yang dianggapnya akan merusak generasi Jerman. Richard dan anaknya, Felix yang menjadi ketua kelas, kemudian melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Koch dari sekolah.

Seiring berjalannya waktu, Koch berhasil mengatasi berbagai rintangan, bahkan membuat murid-muridnya kompak, termasuk juga Felix didalamnya. Hal itu kemudian membawa Koch pada misi lainnya yang lebih besar, yaitu menyebarkan sepak bola ke seantero negeri.

Begitulah kira-kira garis besar film ini, yang secara keseluruhan memang impresif. Kualitas film Jerman tidak kalah dengan produksi Hollywood. Plot yang rapi, penokohan yang kuat, kelucuan-kelucuan yang disampaikan juga berhasil diperankan dengan baik oleh para aktor, yang saya bahkan tidak tahu namanya.

Dari film ini, memang terlihat bahwa sebagai bangsa, Jerman memang sedari dulu menjadi bangsa yang berpikiran maju, serta memiliki etos kerja yang tinggi. Kedisiplinan luar biasa memang sudah menjadi kultur bagi bangsa ini. Masuknya sepak bola memang sedikit melonggarkan keseriusan mereka dengan unsur fun yang dibawa oleh olahraga ini. Dan terbukti, Jerman diakui sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia dengan raihan gelar Piala Dunia sebanyak 3 kali.

Kultur disiplin dan independen juga berpengaruh bagi negeri ini hingga sekarang. Disaat banyak klub sepak bola berhutang dan hidup dalam buaian modern football kapitalis, banyak klub Jerman tetap beroprasi dengan wajar mengandalkan dukungan dari pabrikan raksasa Jerman. The German ways memang luar biasa.

Ps: Thanks to Bang Ucup, Angga & Aad.

Friday, June 14, 2013

Menolak Lupakan Ambrosini


Dalam kondisi terbaiknya (minus cedera) dan juga sedikit saja konsistensi permainan, maka pemain ini akan menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Massimo Ambrosini memiliki semangat juang seperti singa yang terluka, kemampuan duel udara yang eksepsional, kemampuan membaca permainan yang prima, dan kepemimpinan yang bagus.

Mengawali karir di Cesena tahun 1994, hanya butuh setahun waktu baginya untuk menarik perhatian para scout Milan. Segera setelah mengakhiri musim sebagai finalis Liga Champions, Milan mengikat Ambrosini. Milan bukanlah seperti Cesena, tempat dimana ia akan lebih mudah mendapat kesempatan menjadi pemain inti. Di Milan saat itu bercokol para gelandang mapan seperti Demetrio Albertini dan Zvonimir Boban. Sulit bagi Ambro untuk langsung mencicipi pengalaman bermain di tim inti.

Ia lalu dikirim ke Vicenza selama semusim, namun cukup untuk membuat Milan menariknya kembali karena menilai pemain ini potensial. Benar saja, setelah mendapat kesempatan reguler tahun 1999 dibawah pelatih Alberto Zaccheroni, Ambrosini muncul sebagai gelandang bertenaga sekaligus bervisi bagus yang mampu menemani Albertini di lini tengah si merah hitam. Milan dibawanya juara liga kala itu.

Cedera, sayangnya menjadi teman akrab Ambrosini sepanjang karirnya. Setelah kesuksesan menembus tim inti, cedera lutut menghampiri. Ambrosini harus menepi menyembuhkan diri. Ia memang keras di lapangan, namun diluar lapangan ia sangatlah santun dan berkelas. Gaya rambutnya yang ia biarkan setengah gondrong dan acak-acakan juga menjadi trademarknya yang tidak pernah ia ubah. Gaya yang sangat cocok dengan kegarangannya di lapangan. Gaya semi-rockstar yang tidak menghilangkan sisi elegan si penggemar penyanyi roots rock Bruce Springsteen.


Rambut kuningnya melayang seperti Son Goku ketika ia melompat, lalu kembali lagi ke tempatnya menimbulkan ketidakteraturan yang lumrah. Makin berantakan pula ketika ia terus terjatuh, berguling, menabrak lawan atau melompat tinggi memenangi duel udara. Rasanya, jersey Ambrosini adalah yang paling kumal dan kotor seusai bertanding. Menandakan determinasi dan rasa memiliki yang tinggi pada timnya.

Ambrosini menghabiskan 18 tahun di Milan, melalui total 489 kali berseragam merah-hitam. Ia memang tidak selalu jadi pilihan utama, dan waktu bermainnya dalam semusim juga tidak sebanyak Javier Zanetti per musimnya. Jumlah partai terbanyaknya dalam semusim adalah 43 kali, terjadi pada musim 2007/2008. Jumlah laganya di Seri a tidak pula mencapai rataan 30 laga semusimnya.

Ia pernah bermain sebagai trio gelandang tengah bersama Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso ketika Milan bermain dengan formasi pohon natal ala Carlo Ancelotti, ia juga pernah bermain sebagai gelandang kiri dalam ketika Seedorf absen. Posisi bek tengah darurat juga pernah ia lakoni. Sempat mengeluhkan porsi bermain yang sedikit di musim 2005/2006 dan berpikir untuk bergabung ke Fiorentina, Ambro kemudian berubah pikiran setelah rangkaian penampilan gemilangnya di babak semifinal Liga Champions kontra Manchester United berkontribusi membawa Milan ke final.

Keputusan Ambrosini memperpanjang kontraknya tidak salah. Sejak saat itu, posisi reguler memang lebih banyak ia lakoni. 194 laga atau 40% dari total laganya bersama Milan ia ukir hanya dalam enam musim terakhir. Loyalitasnya berbuah kepercayaan Milan sebagai kapten penerus Paolo Maldini yang pensiun tahun 2009. Sebelum itu, ia mencetak total 8 gol semusim –rekor terbanyak sepanjang karir- dan sejumlah penampilan solid.

Segala kegemilangan di Milan memang sempat membawanya wara-wiri di tim nasional. Memulai debutnya tahun 1999, ia termasuk pada skuat Italia di Piala Eropa tahun 2000. Ia kemudian gagal ke Piala Dunia 2002 karena cedera, juga tidak terpilih di Piala Eropa tahun 2004. Saat Italia ditangani Roberto Donadoni, Ambrosini sempat dipanggil kembali, sebelum kemudian Marcelo Lippi melakukan comeback pasca Euro 2008. Setelah Lippi masuk, Ambrosini kembali tidak masuk tim nasional, meski penampilannya mencapai puncak di Milan pada era itu. Total, Ambrosini memperkuat Italia sebanyak 35 kali.

Penampilan solid dan kokoh bagaikan batu karang adalah ciri khas yang tidak bisa dilupakan dari Ambrosini. Anda tentu ingat bagaimana ia bermain seperti berusia 15 tahun lebih muda kala mampu meladeni kecepatan-kecepatan pemain Barcelona di leg pertama babak Knock Out Liga Champions yang dimenangi Milan 2-0 itu. Ambrosini mampu mengunci gerak Iniesta, mengisolasi Messi, dan memotong umpan-umpan Xavi untuk menjadikan Barcelona mati angin. Itulah penampilan terbaik terakhir yang pernah saya saksikan dari seorang Ambrosini.



Tidak akan ada lagi rambut emas acak-acakan, lompatan-lompatan, jegalan-jegalan yang kadang ceroboh kepada lawan, determinasi seperti anak muda khas Ambrosini. Manajemen memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya, dan nampaknya hal itu sedikit disesalinya. Ia belum akan pensiun, masih memiliki hasrat petarung yang sama untuk bermain. Dan saya harap tidak melihatnya sebagai lawan Milan.

“Ambrosini ha ancora voglia di lottare”

“Ambrosini masih ingin bertarung”


Begitu ujar Gattuso perihal mantan partnernya itu. Apapun itu, terima kasih Kapten!

Thursday, June 13, 2013

Milan Transfer Saga

Catat nama-nama ini: Stephan El Shaarawy, Mathieu Flamini, Kevin-Prince Boateng, Robinho, Bojan Krkic, Mario Yepes, Massimo Ambrosini, Antonio Nocerino, Bakeye Traore, Bartosz Salamon. Lalu amati nama-nama berikut: Carlos Tevez, Andrea Poli, Alessandro Diamanti, Simone Zaza, Riccardo Saponara, Jherson Vergara, Bryan Cristante, Angelo Ogbonna, Cyrill Thereau.

Ada lagi Alessandro Matri, Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi dan Renato Civelli.
Nama yang disebut di awal diberitakan akan pergi, nama yang disebut selanjutnya datang.
Sebelum menilai apakah ini pergerakan baik atau buruk, mari lihat satu persatu.

2 senatori dan 2 promising youngsters
Milan jelas memangkas rataan usia dengan melepas Yepes dan Ambrosini untuk mengganti mereka dengan pemain yang jauh lebih muda yaitu Vergara dan Cristante (Cristante dari akademi). Meski demikian, Vergara dan Cristante masih belum berpengalaman bermain di level tertinggi. Sulit mengharapkan mereka langsung nyetel dengan permainan Milan. Namun yang pasti, Milan mampu menghemat biaya gaji dari pergerakan ini.

Bek Tengah
Milan tidak punya dua bek tengah kokoh yang konsisten dan berkelas kontinental. Di level Seri a, duet Mexes-Zapata memang sudah cukup, tapi jika Milan ingin melaju lebih jauh di kompetisi Liga Champions, mereka jelas butuh bek yang lebih baik dari mereka berdua. Namun seperti halnya saat menemukan Thiago Silva, Milan kini berharap Vergara tampil sesuai ekspektasi untuk menjadi penerus.

Bagaimanapun, Vergara masih butuh jam terbang, dan Berlusconi nampak sudah geram melihat Milan yang tidak kunjung melaju setidaknya ke semifinal UCL. Jika serius dengan target itu, mereka perlu membidik bek yang sudah matang seperti Ogbonna dan Civelli. Banderol mahal mereka kembali menjadi kendala. Untuk mendatangkan salah satu dari mereka, dibutuhkan 10 hingga 15 juta euro.

Gelandang Tengah
Mathieu Flamini dilepas, Andrea Poli coba didatangkan. Flamini sebenarnya salah satu favorit saya di Milan. Dia tireless, badak, determined, tapi punya visi yang tidak jelek. Dalam performa terbaiknya, ia seperti Gattuso bertehnik. Flamini juga mencetak 3 gol dalam 5 laga terakhir Rossoneri. Sekarang, kontraknya belum juga diperpanjang.

Sementara itu, Poli adalah gelandang muda yang bagus. Ia bermain konsisten di Sampdoria, dan akan kian membuat Milan makin Italia lagi. Poli juga pernah disia-siakan Inter, yang sempat meminjamnya setengah musim namun tidak membelinya di akhir musim. Bergabung ke Milan dan tampil baik akan menjadi sweet revenge buatnya. Harganya sekitar 6-7 juta euro.

Permainan kurang mengesankan Nocerino, Traore dan Boateng musim 2012/2013 membuat trio gelandang ini rawan dijual. Sembuhnya Nigel De Jong akan membuat sang Londo otomatis menemani Riccardo Montolivo di jantung permainan. Komposisi Monto-De Jong-Muntari-Cristante yang sudah pasti dipertahankan belum menjamin ketahanan lini tengah. 2-3 pemain lagi dibutuhkan Milan. Mereka sebaiknya segera memastikan transfer Poli dan memperpanjang kontrak Flamini.

Trequartista
Trequartista adalah posisi primadona di Milan. Zvonimir Boban, Manuel Rui Costa dan Ricardo Kaka adalah tiga trequartisata terbaik Milan dalam 2 dasawarasa terakhir yang memberikan sentuhan kelas bagi permainan Milan. Zlatan Ibrahimovic semasa di Milan juga memerankan posisi ini meski diatas kertas posisinya adalah penyerang. Berlusconi nampaknya merindukan keberadaan pemain seperti ini.

Alessandro Diamanti menjadi target setelah Berlusconi meminta Allegri bermain dengan 4-3-1-2. Diamanti adalah trequartista Italia terbaik saat ini. Ia memiliki keunikan permainan yang membuatnya stabil di tim nasional, meski tidak selalu jadi pilihan utama Prandelli. Kemampuannya dalam bola mati juga menjadi nilai plus. Namun harga 10 juta euro yang dipatok Bologna sepertinya terlalu tinggi buat Milan, apalagi Diamanti sudah berumur 30 tahun, terlalu tua untuk sprit regenerasi Milan.

Target utama Milan sebenarnya Pastore. Ia lebih muda dan tentunya lebih menjanjikan daripada Diamanti. Namun lagi-lagi harga eks Palermo ini terlalu mahal mengingat PSG mengeluarkan 40 juta euro kala memboyongnya dari klub Maurizio Zamparini. Sejago-jagonya Galliani meminta diskon dan berbagai program cicilan, harga Pastore rasanya minimal 20 juta euro, sesuatu yang sulit diharapkan bagai mengharap seorang selebtwit membalas mention kita.

Milan sudah punya Ricky Saponara di posisi ini. Semua sudah tahu kecemerlangannya di Empoli dan juga kini di Euro U-21. Saponara jelas berbakat, namun mengharapkan dia langsung moncer sangat tidak bijak. Tidak mungkin pula Milan terus mengandalkannya sepanjang musim.

Penyerang
Di posisi ini, segala saga transfer nampaknya ditentukan. Melibatkan rencana tukar guling Stephan El Shaarawy dan Carlos Tevez, Robinho yang tinggal menunggu peminat, dan Bojan yang kembali ke Spanyol. Rencana Milan memainkan dua penyerang memang menggoda mereka untuk menghadirkan Tevez, pemain yang memang lebih ganas di posisi ini. Hal ini membuat mereka berpikir keras untuk melepas sang permata, El Shaarawy.

Jelas ini adalah ide yang buruk. El Shaarawy berusia jauh lebih muda, berasal dari Italia dan juga masih dapat berkembang ketimbang Tevez yang sudah berusia matang. Reputasi sulit diatur dari Tevez akan berbahaya jika disatukan kembali dengan eks rekan setimnya di City, Balotelli. Di City pun, keduanya tidak banyak berkolaborasi. Sulit berharap kombinasi Tevez-Balotelli mengkilap di Milan.

El Shaarawy memang hanya mencetak 1 gol sejak kedatangan Balotelli. Ia juga lebih bagus ditempatkan sebagai penyerang sayap ketimbang sebagai penyerang tengah. Mungkin disinilah kekhawatiran Milan yang tidak ingin melihat El Shaarawy macet gol setelah putaran pertama musim lalu mampu mencetak 15 gol. Jika El Sha dijual, harganya jelas mahal. Hasil penjualannya dapat dibelanjakan untuk dua pemain bagus, misalnya Pastore dan Tevez atau Lavezzi.

Milan masih punya Pazzini, yang tajam meski tidak menjadi pilihan utama. Pazzo juga mampu mengubah cara Milan bermain dengan kemampuannya menyambut umpan silang. Dengan skema 2 penyerang, Milan hanya butuh 4-5 penyerang dengan kualitas setara atau tidak berbeda jauh untuk mengarungi musim yang panjang. Dengan telah bercokolnya Balo, El Shaarawy, Pazzini dan Mbaye Niang sebenarnya Milan hanya butuh 1 penyerang lagi, dan tidak perlu jika orang itu adalah Tevez, apalagi jika harus ditukar El Shaarawy.

Nama Cyrill Thereau belakangan diapungkan oleh media. Penyerang Chievo asal Prancis ini sebenarnya cukup bagus. Ia mampu menahan bola dengan baik dan memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk berduel dengan bek lawan. Satu nama lagi adalah Alessandro Matri. Penyerang Juventus ini adalah didikan Milan, kembalinya dia ke skuat Rossoneri bukanlah hal mustahil. Kedatangan Fernando Llorente dan satu penyerang lagi di Bianconeri berpotensi menggeser penyerang-penyerang yang ada sekarang, dan Matri adalah salah satunya.

Berbagai Kemungkinan
Milan baru bisa bergerak setelah menjual pemain. Penjualan Boateng dan Robinho sejauh ini paling mereka harapkan bisa menghasilkan 20 juta euro setidaknya. Milan sebenarnya memasang price tag minimal 18 juta untuk Boateng, namun sepertinya sulit berharap ada yang memboyongnya dengan harga tersebut. Sementara itu, harga dan gaji tinggi Robinho masih menjadi kendala bagi para peminatnya di Brazil.

Milan telah mengeluarkan 6 juta untuk menebus Zapata dan 2 juta untuk Vergara. Mereka juga harus membayar cicilan Balotelli 4-5 juta per tahun. Milan sudah mengeluarkan 13 juta euro secara total sekarang, plus tambahan biaya gaji sekitar 4 juta. Ini pula yang menghambat Milan untuk mendatangkan Poli. Jika Boateng, Robinho, Nocerino, Traore berhasil dijual, maka Milan dapat meraih surplus sekitar 15 juta euro plus penghematan biaya gaji 10 juta euro setehun. Jumlah itu mungkin hanya dapat dibelanjakan untuk 1-2 pemain bagus, namun bukan pemain top.

Dengan kondisi finansial Milan yang selalu rugi dalam dua tahun kebelakang, memang sulit untuk berharap datangnya seorang marquee player tanpa menjual marquee player yang ada. Tanpa menjual El Shaarawy lebih dulu, sulit berharap Milan mendatangkan Pastore. Rasanya skenario El Shaarawy tetap tinggal plus pendapatan 15 juta euro dapat memungkinkan Milan menarik Diamanti dan Poli. Dan katakanlah Milan punya 10-15 juta euro lagi untuk mereka habiskan sebagai anggaran transfer, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membeli seorang bek dan penyerang.

Atau masih mau berharap kedatangan pemain top berharga miring lewat negosiasi ala Galliani? Kali ini sulit. Milan harus mengikuti kualifikasi UCL tanggal 21 Agustus. Idealnya, skuat sudah terkumpul awal Agustus.

Kiper: Abbiati, Amelia, Gabriel
Bek Sayap: Abate, Antonini, Constant, De Sciglio
Bek Tengah: Mexes, Zapata, VERGARA, Bonera, Zaccardo, Salamon, CIVELLI/OGBONNA
Gelandang Tengah: De Jong, Montolivo, Muntari, Cristante, Flamini, POLI
Trequartista: DIAMANTI, SAPONARA

Penyerang: Balotelli, El Shaarawy, Niang, Pazzini, ZAZA/MATRI/THEREAU

Thursday, May 30, 2013

Sepersepuluhnya Saja Untuk Pembinaan

260 juta euro. Ya, saya yakin bagi seorang Erick Thohir uang sebanyak itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan. Uang yang konon akan dipergunakan untuk membeli saham Inter Milan memang akan menjadikan pengusaha berusia 42 tahun ini orang Indonesia pertama yang mengakuisisi klub asal Italia.

Dilihat dari nama besar, jelas tidak ada yang meragukan kiprah Inter Milan. 18 gelar scudetto dan 3 gelar Liga Champions adalah gelar major yang sudah bersemayam di lemari trofi Appiano Gentile. Langkah Erick dalam akuisisi ini jelas akan membuatnya semakin dikenal.

Dulu, selain orang Rusia, tidak ada yang mengenal Roman Abramovich sebelum ia mengakuisisi Chelsea. Tidak ada pula yang banyak membicarakan nama Ekaterina Rybolovleva, yang mendapatkan hadiah ulang tahun berupa dua buah pulau di wilayah Yunani dari ayahnya sebelum sang ayah membeli AS Monaco. Sepak bola, sebagai olahraga paling populer di dunia jelas menjamin popularitas bagi para pelakunya. Dengan membeli klub sepak bola, otomatis nama dari sang pemilik juga terangkat.

Silvio Berlusconi juga mengeluarkan jargon revolusi di partainya Forza Italia pada awal pencalonannya sebagai Perdana Menteri Italia. Namun siapapun tahu bahwa keberhasilannya membawa AC Milan berprestasi adalah kendaraan yang kencang baginya untuk menduduki posisi ketua pemerintahan di negeri peninsula.

Bagi Erick Thohir, entah apapun motifnya, akuisisi Inter Milan akan membawa keuntungan meski tidak akan mudah dilakukan. Sementara bagi Massimo Moratti, melepas kepemilikan mayoritas Inter Milan akan menjadikannya anak durhaka. Ia pasti takut arwah Angelo Moratti akan bangkit mengejar-ngejarnya jika saham mayoritas Inter jadi dijual.

Bagi Moratti, Inter adalah candu. Ia seperti halnya seorang pencinta masokis pada klubnya itu. 400 juta euro dari kantong pribadi secara total telah ia keluarkan untuk mendatangkan pemain-pemain kelas dunia ke kota Milan sejak tahun 1995. Dan setelah regulasi Financial Fair Play mengudara, sang taipan minyak tak mampu lagi mengelak. Ia tidak boleh lagi mendonor Inter dari kocek pribadi.

Inter telah dibawanya menjadi klub yang seperti tidak ada kenyangnya. Suntikan dana besar terus diberikan demi kelangsungan hidup. Financial Fair Play ala UEFA kemudian menyetop keran itu, dan mewajibkan Inter mencari sumber pemasukan murni dari sepak bola, bukan dari sang pemilik. Diperparah dengan buruknya kebijakan transfer dan regenerasi yang telat, Nerazzuri dan Moratti seakan tidak bisa kemana-mana lagi. Posisi 9 di klasemen menandai era terburuk sepanjang kepemimpinannya. Sebuah perubahan dan suntikan dana jelas kata-kata yang menyegarkan bagi Interisti.

Erik Thohir, yang juga ketua Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara, pemilik Philadelphia 76ers dan Washington DC United melihat hal ini sebagai peluang. Mengetahui morat-maritnya kondisi finansial Il Biscione, Thohir datang dengan keinginan besar pada akuisisi saham mayoritas si biru hitam.

Jika Thohir berhasil membuat Moratti mengeluarkan pulpen Mont Blanc dari saku jas peraknya lalu menandatangani pelepasan saham, menarik menanti efek dominonya. Mungkin saja akan ada lagi pengusaha asal Indonesia lainnya yang kemudian berbondong-bondong menyeponsori tim ini. Logo perusahaan-perusahaan Indonesia boleh jadi akan menjadi pemandangan lazim di San Siro (Oke, Giuseppe Meazza).

Para pengusaha Indonesia akan melihat sepak bola Eropa sebagai mainan baru mereka. Portofolio mereka akan mentereng jika dalam ruang kerja mereka terpampang jersey-jersey original, maket stadion, potongan rumput stadion, hingga sepatu-sepatu match worn pemain. Ya, seorang pengusaha berjiwa muda yang senang olahraga. 

Sebagai orang yang memang suka berandai-andai, saya jadi dipaksa berandai-andai jika saja 10 persen dari uang 260 juta itu, alias 26 juta euro alias 390 miliar rupiah saja dianggarkan untuk kepentingan sepak bola nasional. 

Klub-klub di piramida atas sepak bola Indonesia katakanlah memiliki rataan anggaran 10 miliar rupiah per tahunnya, atau maksimal 15 miliar. Maka 220 miliar dari 390 miliar dapat dijadikan anggaran bagi 18 klub tanpa adanya ancaman penunggakan gaji. Sisanya sebanyak 170 miliar bisa dipakai untuk membiayai klub-klub hingga Divisi Tiga. Pendeknya, uang sebanyak itu bisa dipergunakan untuk menggerakkan kompetisi sepak bola nasional selama setahun penuh.

Bayangkan pula jika uang itu dipakai sedikitnya saja untuk mendatangkan seorang Tom Byer, lalu mendukung program-program pembinaan pemain mudanya. Bayangkan apa yang terjadi pada persepakbolaan Indonesia dalam waktu 10 tahun.

Memang, berinvestasi pada pembinaan sepak bola nasional akan kalah kece dibanding membeli saham mayoritas klub ternama Eropa.

Monday, May 27, 2013

Analisis Akhir Musim Liga Italia


Liga Italia musim kompetisi 2012/2013 telah usai dengan Juventus keluar sebagai pemenang, sekaligus mempertahankan gelar juara yang juga mereka raih musim lalu.

Best Team: Juventus
Juvetus menyelesaikan kompetisi dengan poin 87 atau 9 poin diatas pesaing terdekat, Napoli. Partai pekan ke 35 kontra Palermo menjadi pekan penahbisan La Vecchia Signora sebagai juara. Pencapaian Si Nyonya Tua musim ini mungkin masih kalah spektakuler ketimbang musim lalu, dimana mereka mengakhiri musim tanpa terkalahkan. Dan dilihat dari kualitas peserta, lawan-lawan tradisional Juve musim lalu masih jauh lebih kuat daripada kondisi mereka kini.

Juventus cukup diuntungkan dengan kondisi AC Milan dan Inter Milan yang jauh dari stabilitas finansial yang ideal. Karena masalah finansial tersebut, Milan memulai musim ini dengan penjualan besar-besaran pemain bintang mereka.

Tidak heran Milan mengukir start buruk yang kemudian mengeliminasi mereka dari perebutan gelar juara. Beruntung dengan determinasi dan keteguhanny, pelatih Max Allegri mampu menemukan formula yang tepat. Allegri mampu mengoptimalkan pemain muda seperti Stephan El Shaarawy dan Mattia De Sciglio, serta mengembalikan performa Mario Balotelli pada puncaknya. Serangkaian hasil positif kemudian mengerek posisi Milan hingga tangga ketiga.

Dilain pihak, kondisi Inter Milan lebih mengenaskan lagi. Setelah menjadi tim pertama yang menundukkan Juve musim ini bulan November tahun lalu, peruntungan Nerazzuri berubah drastis. Kombinasi antara buruknya kebijakan transfer dan cedera yang menimpa sebagian besar pemain andalan membuat tim asuhan Andrea Stramaccioni anjlok ke posisi sembilan. Performa pertahanan Inter bahkan sangat menyedihkan karena mereka kebobolan 57 kali, atau berada di urutan kedua terbawah dibawah tim juru kunci Pescara yang kebobolan sebanyak 84 kali.

Pesaing terkuat Juventus musim ini adalah Napoli. Il Partenopei memang telah memantapkan posisi sebagai tim yang stabil di papan atas Seri a dalam beberapa tahun kebelakang. Meski harus kehilangan salah satu pilar penyerangan, Ezequiel Lavezzi, namun pelatih Walter Mazzari mampu mengatasi hal tersebut. Namun konsistensi penampilan memang menjadi musuh utama Napoli, hal yang tidak bisa ditolerir dalam sebuah kompetisi yang panjang.

Meski banyak memunculkan tim-tim yang segar dan menarik seperti Fiorentina, yang dibawah asuhan Vincenzo Montella disebut memainkan sepak bola terbaik, namun Juventus tetaplah terlalu kuat bagi seluruh lawan mereka. Ditopang kekuatan finansial yang mereka dapatkan hasil kepemilikan stadion sendiri, mereka mampu mempertahankan keutuhan skuat yang sudah solid musim lalu.

Gianluigi Buffon masih disokong trio Giorgio Chiellini-Andrea Barzagli-Leonardo Bonucci yang membentuk lini pertahanan terkuat di Italia. Kontribusi mereka, yang dilapis dengan baik oleh Martin Caceres membuat gawang Buffon hanya bobol 24 kali, alias yang tersedikit di liga.

Mungkin terlalu umum jika mengatakan bahwa kekuatan utama sebuah tim ada di lini tengah. Namun bagi Juventus, lini tengah memang nyawa mereka. Setelah musim lalu memunculkan trio Andrea Pirlo-Arturo Vidal-Claudio Marchisio, pelatih Antonio Conte kemudian mendatangkan pemain muda bernama Paul Pogba yang penampilannya mengejutkan. Meski tidak selalu tampil sebagai starter, kehadiran Pogba tetap mampu menjaga stabilitas lini tengah Juventus.

Selain keberadaan Pirlo yang tetap impresif, Juventus patut berterimakasih pada seorang Arturo Vidal, yang kian bertransformasi menjadi pemain kelas dunia. Koleksi 10 golnya musim ini menjadikannya pencetak gol terbanyak Si Nyonya Tua, bahkan setara dengan torehan leading scorer dari posisi penyerang mereka, Mirko Vucinic.

Vidal adalah pemain komplit yang memiliki kombinasi kemampuan bertahan dan menyerang yang eksepsional, didukung dengan konsistensi permainan yang mengagumkan. Tugas Juve selanjutnya adalah mempertahankan pemain ini dari kejaran klub-klub top Eropa yang pasti memburunya.

Dari sisi taktik, pelatih Antonio Conte sempat terjebak dengan skema permainan yang sama. Terdapat periode sulit mereka di awal tahun saat tim ini beberapa kali meraih hasil kurang baik, diantaranya menyerah 1-2 di kandang sendiri atas Sampdoria. Cedera yang menimpa Chiellini nyatanya cukup berpengaruh karena Federico Peluso yang didatangkan di pertengahan musim dari Atalanta tidak langsung nyetel dengan skema permainan. Namun setelah pulihnya Chiellini, Juventus kembali ke jalur permainannya semula.

Best Allenatore: Max Allegri & Vincenzo Montella
Sulit memilih siapa yang terbaik diantara dua orang ini. Keduanya melatih tim dengan kesulitan masing-masing. Jika Montella melatih tim yang musim lalu terpuruk nyaris degradasi, Allegri melatih tim besar dengan ekspektasi tinggi namun dengan kondisi skuat yang dirombak total dan presiden yang tidak lagi mempercayainya.

Montella mampu memberikan pemandangan segar di Seri a dengan komposisi pemain pilihannya. Pemain belakang dan tengah mereka dianugerahi kemampuan untuk memainkan bola dengan baik. Lini tengah yang dikomando David Pizzaro dan Borja Valero mengalirkan bola dengan sangat baik, Manuel Pasqual bermain cemerlang dan Juan Cuadrado memainkan musim terbaiknya. Tidak ketinggalan, Montella mampu memaksimalkan talenta duo Balkan, Adem Ljajic dan Stevan Jovetic hingga dua pemain ini menjadi pemain instrumental bagi tim ini.

Pencapaian mereka yang hanya berselisih 1 poin dari Milan di zona Liga Champions bukanlah pencapaian sembarangan. Mereka juga meraihnya dengan permainan memikat dan gol yang banyak. Mereka hanya kalah sebiji gol dari Napoli yang muncul sebagai tim paling produktif musim ini. Il Gigliati memetik buah dari rangkaian pergerakan cerdik mereka di bursa pemain. Tercatat pemain-pemain yang baru mereka datangkan musim ini sebagian besar menjadi andalan sepanjang musim.

Sementara Allegri telah menunjukkan kinerja terbaiknya meski keadaan sama sekali tidak bersahabat dengannya. Pelepasan pemain bintang dan pemain senior jelas bukan kemauannya. Ia memang kerap keras kepala dengan berusaha menempatkan Kevin Prince Boateng di posisi trequartista, padahal sang pemain lebih cocok di posisi central midfielder.

Namun diluar itu ia tetap memiliki andil dalam dominannya lini tengah Milan di setiap laga. Milan hanya kalah dari Juventus dalam hal rataan penguasaan bola, dengan Riccardo Montolivo yang kian menanjak penampilannya. Allegri juga mampu memecahkan problem di sektor full back dengan memasang Kevin Constant bergantian dengan De Sciglio di posisi bek kiri. Ia juga terus mempercayai Abate meski sang pemain kerap bermain buruk, dan kepercayaan tersebut membuat permainan terbaik Abate berangsur kembali.

Allegri juga pada akhirnya menemukan kombinasi duo bek tengah terbaik dalam diri Philippe Mexes dan Cristian Zapata. Dua pemain ini berkualitas jauh dibawah Sandro Nesta dan Thiago Silva yang telah pergi, namun meski demikian Allegri mampu memaksimalkan mereka setelah rangkaian percobaan nyata di pertandingan demi pertandingan. Bukan analisa diatas kertas semata.

Tak ayal, pembelaan mulai berdatangan. Tidak hanya dibela Galliani, para suporter kini menyuarakan pembelaan pada eks pelatih Cagliari ini. Pembelaan juga datang dari mantan pelatih seperti Fabio Capello hingga jurnalis ternama seperti Gabriel Marcotti. Allegri mungkin (belum) menjadi pelatih juara, gelar scudetto Milan di musim perdananya dianggap andil dari pemain-pemain bagus milik Milan. Namun memecatnya jelas sebuah langkah mundur.

Dengan faktor-faktor diatas, Allegri dan Montella patut mendapat apresiasi.

Best Player: Edinson Cavani
29 gol di liga yang terkenal dengan pertahanan ketat jelas menunjukkan kualitas kelas dunia Cavani. Penyerang Uruguay ini mencetak 40% dari total gol Napoli, dan dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan kelas permainan.

Andai Stephan El Shaarawy mampu memainkan permainan terbaiknya sepanjang musim, Il Faraone dapat menjadi kandidat yang menggusur Cavani, namun kedatangan Mario Balotelli mereduksi ruang kreasinya di Milan. Ia hanya butuh waktu untuk meledakkan potensinya di masa depan.

Balotelli jelas menjadi kandidat kuat setelah mampu mencetak 12 gol dari 13 laga bersama Milan di putaran kedua. Namun kurang fair menominasikannya ke jajaran best players karena ia baru datang di pertengahan musim. Musim depan boleh jadi akan menjadi musim sempurna bagi Super Mario.

Seperti yang telah disinggung diatas, Arturo Vidal menjelma menjadi pemain kelas dunia milik Juventus. Ia terus meningkatkan kemampuannya dalam mencetak gol, tanpa melupakan tugasnya sebagai gelandang tengah. Kontribusi 10 golnya tidak diragukan lagi sangat berperan besar pada raihan gelar Juventus musim ini.

Best XI: Buffon; Barzagli, Bonucci, Chiellini; Cuadrado, Pirlo, Vidal, Montolivo, Marquinhos; Cavani, Balotelli. 

Wednesday, May 15, 2013

Laga Untuk Dikenang


Enam bulan lalu, Max Allegri menjalani pekan-pekan ultimatum. Ia dihakimi atas hasil buruk Milan yang membuat mereka terperosok hingga sempat menduduki peringkat 15. Pertandingan ultimatum itu adalah melawan Napoli, Anderlecht, dan Juventus. Sebelum ultimatum itu, Allegri dibuat malu oleh skuat Vincenzo Montella, Fiorentina. Hasil 1-3 di kandang sendiri sungguh tak termaafkan. Namun Allegri membawa Milan bangkit dengan meraih 2 kemenangan dan sebuah hasil seri dari 3 laga tersebut. 3 laga itu adalah awal dari kebangkitan Milan dalam meraih rentetan hasil positif hingga kini menduduki tangga ketiga klasemen Seri a.

Kini, Allegri masih menangani Milan dalam sebuah laga paling penting Milan musim ini, melawan Siena. Hasil laga ini menentukan akan bermain di kompetisi Eropa yang mana Milan musim depan. Tidak bosan-bosannya saya bilang, pencapaian ke zona ini adalah sebuah fairytale bagi Milan, yang sebelumnya dipersiapkan untuk mengalami musim overhaul.

Allegri berupaya menyingkirkan warisan Carlo Ancelotti. Ia ingin Milan bermain sesuai caranya. Ia mengumpulkan para petarung di lini tengah dan para penyerang modern yang mampu melakoni berbagai peran di lini depan.

Tidak perlu saya jelaskan bagaimana Riccardo Montolivo menjadi sepenting Andrea Pirlo di era Ancelotti, sudah terlalu banyak yang menjelaskannya. Namun jika saya telisik, Allegri berupaya mengikuti jejak tim yang lebih sangar dari Milan Ancelotti, yaitu timnasi Brazil di tahun 1970.

Oh tentu saya berkelakar. Mana ada tim yang bisa menyaingi hegemoni tim terbaik dunia sepanjang masa itu. Tapi yang pasti, Allegri mengambil pendekatan yang sama dengan Mario Zagallo ketika membawa Brazil merebut trofi Jules Rimet itu.

Allegri, seperti mencontoh yang Zagallo lakukan saat itu, mengumpulkan pemain-pemain berkarakteristik sama. Brazil terkenal dengan “five number 10” dengan menempatkan Pele, Tostao, Jairzinho, Rivelino dan Gerson. Sementara Allegri mengumpulkan 5 orang pekerja keras dalam timnya.

Bukan, saya bukannya membicarakan pekerja keras seperti Gennaro Gattuso. Lihatlah komposisi Balotelli, El Shaarawy, Boateng, Muntari dan Montolivo. Kesamaan dari mereka semua adalah pekerja keras, dan kecuali Montolivo dan Balotelli, mereka lebih “berteknik” daripada Gattuso. Dengan kata lain, Allegri menempatkan 5 pemain dengan kedisiplinan taktik yang bagus, sekaligus memiliki imajinasi memadai untuk mendominasi laga dan menciptakan peluang.

Seperti layaknya tim Italia, Allegri membuat Milan bertahan dengan mengandalkan sistem dan kuantitas pemain. Sadar tidak memiliki bek sekaliber Nesta dan Thiago Silva, Allegri memaksimalkan Mexes-Zapata namun dengan lapisan pelindung yang lebih baik. Bukan cuma Mexes-Zapata yang menjadi kekhawatiran Allegri, namun ia juga memiliki dua full back tidak murni (Abate-Constant), seorang full back medioker (Antonini) dan seorang full back pemula (De Sciglio).

Dengan cadangan bek tengah seperti Yepes, Zaccardo dan Bonera, Allegri jelas tidak bisa berharap mereka dapat menyamai level para legenda. Untuk itu, Allegri membuat sistem pertahanan yang dimulai dari lini depan.

Kita tidak pernah melihat Balotelli hanya menunggu di mulut gawang lawan. Selain karakter Balo yang memang sering bermain ke dalam, Allegri menginstruksikannya untuk menjadi perebut bola pertama saat lawan menguasai bola. Sebagai bukti sahih, jumlah tekel per game yang ia miliki meningkat dari 0.6 per game saat ia masih di Manchester City menjadi 1.1 tekel per game.

Sementara dua winger yang ditempati El Shaarawy dan Boateng atau Niang selalu ditugasi dobel oleh Allegri. Selain membantu penyerangan, mereka juga diwajibkan melakukan track back guna membantu dua full back. Kita sering sekali melihat El Shaarawy melakukan intersep ataupun tekel penting setelah lawan mampu mengadali De Sciglio atau Constant.

Dua gelandang dinamis, Montolivo dan Muntari atau Flamini juga memiliki defensive awareness yang baik. Selain melapis lini tengah, mereka juga tidak jarang ikut membantu full back, terlebih jika menghadapi lawan yang memiliki winger berbahaya. Dan terlebih lagi, kedua pemain ini juga dituntut mendistribusi bola baik ke sayap maupun langsung ke tengah.

Antonio Labbate, jurnalis sepak bola Italia mengatakan bahwa kehadiran Balotelli mengubah dimensi permainan Milan, meski ada pula pengaruhnya pada ketajaman El Shaarawy. Labbate mengemukakan bahwa meski El Shaarawy hanya mencetak 1 gol sejak kehadiran Balotelli, namun mereka masih berada pada tahap adaptasi. Jika proses adaptasi berjalan lancar, mereka berdua akan membentuk barisan depan yang menakutkan musim depan.

Jika lebih diamati lagi, kehadiran Balotelli bukannya mengurangi ketajaman El Shaarawy, namun memberi sumber gol alternatif  bagi Milan, yang sebelum datangnya Balo dipegang tunggal oleh Il Faraone. Dan yang spesial, kehadiran Balo juga memberi motivasi ekstra bagi Pazzini. Sang bomber secara mengejutkan mampu mencetak 15 gol sejauh ini, dimana beberapa diantaranya ia cetak melalui doppietta dan tripletta.

Pazzini memang berbeda dengan Balo. Kehadiran Pazzo membuat permainan Milan seperti tim-tim Inggris yang mengandalkan crossing. Namun energi yang Pazzini timbulkan menjadikan permainan Milan yang diperkuatnya sangat menghibur dan memikat. Bola seperti lebih sering berada di pertahanan lawan.

Laga lawan Siena nanti akan bersamaan dengan laga Fiorentina lawan Pescara. Baik Siena maupun Pescara sudah tidak mencari apapun di Seri a karena mereka sudah terdegradasi. Agak sedikit melenceng dari konteks, rivalitas Toscana antara Siena dengan Fiorentina bisa jadi mempengaruhi laga ini. Siena juga sering diasosiasikan dengan Juventus -yang notabene bitter rival dari Fiorentina-  terbukti dengan arus perpindahan pemain yang deras diantara kedua kubu.

Bagi para penggila teori konspirasi, laga ini jelas rawan match-fixing. Kompetisi Seri a memang kental reputasinya dengan permainan kotor semacam ini. Milan harus berhati-hati dan fokus. Milan harus menang dengan meyakinkan agar tudingan-tudingan yang ditakutkan akan muncul menjadi sirna. Allegri butuh lebih dari sekadar teriakan “DAI!! DAI!! DAI!!” demi meloloskan Milan ke Liga Champions, yang juga sekaligus pertaruhan bagi karirnya di Rossoneri. Sosok Mister yang memang bukan rahasia lagi tidak disukai oleh Berlusconi, yang katanya sih sudah menyiapkan nama-nama seperti Luciano Spaletti, bahkan Clarence Seedorf sebagai calon pengganti Allegri.

Pergi atau tinggal, yang penting menangkan dulu laga untuk dikenang ini, Allegri!

Monday, April 22, 2013

The Meaning of Mario

Taken from Dailymail

Dalam lima pekan kedepan, kompetisi hipster Seri a musim 2012/2013 akan berakhir. Dan kemungkinan besar dalam dua pekan kedepan, Juventus akan memastikan diri sebagai scudetto.

Sementara pencapaian Milan hingga saat ini adalah sesuatu yang sudah berkali-kali saya tegaskan, melebihi ekspektasi. Namun pernyataan ini bisa ditunda dulu hingga lima pekan krusial ini benar-benar berakhir dan melihat berada dimana posisi Milan.

3 laga terkini Milan dilalui dengan raihan 2 poin saja. Memang ketiga lawan tersebut adalah penghuni 4 besar dan dua partai diantaranya berlangsung di kandang lawan.

Namun, hal ini bukan berarti tidak ada masalah di tim ini. Dalam laga lawan dua pesaing langsung, Fiorentina dan Napoli, Milan dua kali menyia-nyiakan keunggulan mereka sehingga dua laga tersebut berakhir imbang. Sementara lawan Juve semalam, Milan sebenarnya sudah bermain maksimal namun kurangnya kemampuan mengirim key passes dan pertahanan Juve yang seketat baju senam membuat keunggulan lini tengah Milan hanya sekadar keunggulan memainkan bola, bukan mencetak gol. Banyak yang berpendapat bahwa Milan mulai kehabisan bensin setelah mereka nyaris sepanjang tahun ini memainkan laga-laga dengan intensitas tinggi.

Saat Mario Balotelli hadir di penghujung winter transfer, Milan seolah mendapat bahan bakar baru untuk terus mengejar zona Liga Champions. Terbukti, Balo mampu mencetak 7 gol dari 8 laga, posisi Milan di klasemen juga terus menanjak. Tidak hanya gol-gol yang ia sumbangkan, hadirnya Balotelli dalam skema 4-3-3 Allegri ternyata mengangkat level permainan Milan setinggi-tingginya.

Rasanya hal ini tidak berlebihan karena selain memiliki game intelligent yang tinggi, Balo juga mengimbanginya dengan kemampuannya mengeksekusi bola mati, mengirimkan umpan matang, membongkar pertahanan lawan, memenangi tendangan bebas. Ini adalah sesuatu yang sebelumnya hilang di skuat Milan yang kebanyakan dipenuhi para bullies.

Allegri gemar mengoleksi para petarung di lini tengahnya. Bahkan Montolivo, pemain paling ‘berbudaya’ di lini tengah Milan, juga diberkahi kemampuan defense yang memadai. Kedatangan Balotelli dengan tehniknya yang tinggi dan kemampuannya menjemput bola mengembalikan Milan kepada khitahnya sebagai tim yang ‘berbudaya’.

Ada tiga opini umum menyoal efek Balotelli. Pertama, kedatangan Balotelli menyingkirkan pemain yang tengah on-fire, Giampaolo Pazzini. Kedua, Balotelli membatasi ruang gerak sekaligus mengeliminasi ruang tembak El Shaarawy. Ketiga, Balodependencia tercipta buat Milan. Tiga potongan puzzle yang tricky buat Milan di 5 laga sisa ini mengingat sang pemain terkena skorsing karena menghina wasit setelah laga lawan Il Gigliati Fiorentina.

Benar saja, ketiadaan Balo terasa betul semalam. El Shaarawy yang belum menemukan kembali bentuk permainan terbaiknya tidak banyak mengancam gawang Buffon, sementara kedisiplinan trio Chiellini-Bonucci-Barzagli membatasi ruang gerak Pazzini. Jika Balo bermain, sudah dipastikan ia dapat berbuat lebih banyak untuk membongkar pertahanan rapat Bianconeri karena lini tengah Milan sendiri sudah maksimal dalam menutup ruang gerak Andrea Pirlo, meski kegagalan dalam sebuah momen membuat sang eks pemain Milan mampu mengirim umpan terobosan kepada Kwadwo Asamoah –yang kemudian terpaksa dijatuhkan Marco Amelia untuk menghasilkan penalti bagi Juve. Kelengahan Abate juga berkontribusi besar dalam situasi ini.

Pengakuan sebagai 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Times tahun 2012 memang bukan isapan jempol. Hanya Balotelli pesepakbola yang masuk daftar tersebut, sementara untuk atlet olahraga, ia satu dari empat tokoh yang masuk. Serangkaian kisah hidup pemuda berusia 22 tahun ini memang inspiratif dan penuh kontroversi. Bagaimanapun, sepak bola butuh kontroversi, bukan? Sementara bagi klubnya yang saat ini tengah mengejar posisi layak di zona Champions, pengaruh Balo terlalu besar, sehingga absensinya sangat terasa bagi Milan.

Tentu saja Balotelli masih memiliki sebuah partai lagi untuk ia habiskan di bangku penonton. Laga lawan Catania minggu depan akan sangat krusial karena selisih Milan dengan Fiorentina hanya tinggal 1 angka. Hasil seri dan kemenagnan La Viola bisa langsung menjungkalkan Rossoneri dari posisi impian.

Rasanya, Allegri perlu menemukan lagi solusi tanpa Balotelli. Catania adalah lawan yang alot, dan mereka juga masih menyimpan asa untuk menduduki zona Eropa. Bukan tugas ringan karena pemain-pemain penting terus bertumbangan. Kapten Ambrosini cedera, Flamini masih menjalani skorsing.

Bojan Krkic patut dicoba sebagai starter. Tehniknya adalah yang tertinggi setelah Balo. Kemampuan dribel jarak pendek dan pergerakan liarnya dapat menjadi solusi guna membongkar pertahanan lawan, ketimbang memasang Pazzini yang cenderung statis. Pazzini harus dipasangkan dengan para jagoan crossing. Di Milan, De Sciglio adalah yang terbaik untuk urusan itu, meski performanya belakangan cukup angin-anginan.


Thursday, April 18, 2013

Hari Ini Pasti Menang: "Memanusiakan" Seorang Superstar

Ijinkan saya memberikan review singkat terhadap film yang baru saya saksikan kemarin, yaitu Hari Ini pasti Menang (HIPM) arahan sutradara Andibachtiar Yusuf.
Ucup, panggilan dari sutradara yang memang sering mengangkat tema sepak bola dalam film-filmnya ini membuat gebrakan yang sangat berani dalam filmnya kali ini. Ia mengangkat cerita yang sangat berbeda dari film sepak bola kebanyakan. Cerita yang satir.
Di film berdurasi 2 jam ini, diceritakan bahwa sepak bola Indonesia sudah maju, bertolak belakang dari keadaan sebenarnya. Indonesia baru saja tersingkir dari babak perempat final Piala Dunia tahun 2014 di Brasil, dan bintang utama Gabriel Omar Baskoro baru saja meraih gelar topskor. Namun bukan itu yang hendak diangkat oleh film ini.
Alih-alih menampilkan fragmen-fragmen utopis atau menonjolkan heroisme yang mampu membuncahkan harapan, film ini justru menonjolkan sisi gelap dari sebuah industri sepak bola yang sudah tertata rapi dan mapan. Sisi gelap tersebut adalah judi.
Beginilah kerjanya. Judi adalah konsekuensi logis dari sebuah pertunjukan seru. Judi sepak bola menjamur dari pangkalan ojek hingga restoran mewah. Dalam hal ini, sepak bola Indonesia memang sudah sedemikian seru dan majunya sampai-sampai para bandar judi kelas kakap tertarik ambil bagian dalam permainan ini. Judi yang melibatkan perputaran uang miliaran rupiah inilah yang kemudian membuat para pelakunya melakukan apapun agar keuntungannya berlipat ganda. Dalam hal sepak bola, pengaturan skor alias match fixing adalah hal yang menjadi permainannya.
Di film itu sudah coba dijelaskan bahwa cukup hanya “memegang” pelatih, pengatur pertandingan, dan satu atau dua pemain untuk mewujudkan niat kotor mereka. Dan hal ini memang nyatanya terjadi di industri sepak bola yang sudah advanced di Eropa. Dan disampaikan pula bahwa meski judi melanda persepakbolaan, namun tidak berpengaruh pada prestasi tim nasional, merujuk pada pencapaian tim nasional Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006 meski liganya dirusak skandal calciopoli.
Saya dulu pernah menanyakan kepada Bang Ucup apakah GO8 akan dijadikan seperti Kapten Tsubasa-nya Indonesia. Ia saat itu bilang bahwa hal ini akan tergantung dari respon penonton pada film HIPM. Tapi GO8 sendiri sudah banyak dibikin dalam berbagai versi. Komik, novel, akun twitter, bahkan game interaktif Liga Utama sudah dibuat dalam upaya kian memperkuat image GO8 kepada kita semua.
Oke, dalam hal hype memang GO8 sudah dijadikan seperti Kapten Tsubasa. Tapi Bang Ucup lewat HIPM ini memberi taste yang berbeda dari bintang kebanyakan. Karakter GO8 dibuatnya lebih “manusiawi” dimana sang bintang pujaan digambarkannya terlibat dalam permainan para kartel judi itu. GO8 juga digambarkannya memiliki arogansi ala superstar, yang juga termasuk pada praktek gaya hidup hedonisme dan bermain wanita.
Hilanglah sudah image sang bintang yang sempurna tanpa cacat jago di lapangan, setia pada pasangan dan punya perilaku yang baik yang umumnya dijadikan sebagai karakter tokoh utama. Mungkin cerita ini lebih mirip cerita dari komik sepak bola jaman dulu, Roel Djiikstra, dimana praktek-praktek kotor persepakbolaan turut dipertontonkan.
Di film ini juga ditampilkan berbagai tokoh menarik yang memang bersinggungan langsung dengan sepak bola. Menteri Olahraga, pengusaha, bandar judi, eksekutor bandar, suporter, hingga jurnalis idealis. Keberadaan mereka saling berkaitan, meski bisa ditebak bahwa seorang jurnalis idealis pada karakter Andien, teman masa kecil Gabriel, tidak sanggup untuk membongkar kartel ini seorang diri.
Pada akhirnya, Gabriel berkontemplasi setelah ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Ini didapatnya setelah kekecewaannya pasca mendapati anaknya yang selalu ia banggakan ternyata tercebur dalam lingkaran setan perjudian ini. Kontemplasi GO8 berakhir pada kesadaran sang pemain bahwa ia adalah pemain sepak bola, seorang duta kejujuran dan sportivitas yang memang hanya harus memikirkan sepak bola itu sendiri, bukan pundi-pundi kekayaan yang bisa ia dapat lewat cara kotor. Berangkat pada kesadaran tersebut dan kecintaannya pada sosok ayah, yang diperankan dengan sangat apik oleh aktor Mathias Muchus, GO8 akhirnya kembali ke “jalan yang benar”.
“Football is a stage of drama” memang menjadi slogan yang dipajang film ini. Quote dari Pele tersebut memang seolah menunjukkan bahwa sepak bola lebih dari sekadar pertandingan olahraga sebelas lawan sebelas. Ada tawa, tangis, rasa frustasi, kebanggaan, kesedihan dan segala rasa dalam hidup yang bercampur menjadi satu di lapangan hijau. Dan ada kalanya dimana faktor-faktor diluar lapangan bisa berpengaruh besar pada apa yang terjadi di lapangan. Hal-hal tak kasat mata yang memang sulit dilihat oleh orang awam.
Akhir kata, film ini menyampaikan dengan lancar apa yang hendak disampaikan, terlepas dari beberapa akting kaku dan potongan-potongan cerita yang sempat membuat penonton harus berpikir lebih dulu. Gambaran rapi kartel judi, kehidupan seorang bintang, perjuangan seorang jurnalis idealis, pelatih berprestasi, ayah yang jujur, dan juga realita-realita sepak bola lainnya yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan yang, kata Bill Shankly, is a matter of life and death.

(Tulisan ini lebih dulu dimuat di blog Football Fandom)

Monday, April 15, 2013

Penulis Hipster

Ketika topik soal ke-hipsteran penggemar sepak bola menyeruak, mendadak saya dan teman-teman saling melempar opini tentang apa itu hipster, yang bagaimana sih yang hipster, dan sebagainya.

Saya ambil contoh penggemar sepak bola yang hipster.

Jika penggemar sepak bola biasa hanya mengikuti pertandingan berlabel big match atau partai final Liga Champions agar terdengar up to date dan berwawasan luas, maka penggemar sepak bola hipster ini mengikuti permainan sepak bola dari manapun. Menonton sepak bola adalah kepuasan bagi mata dan hati, untuk itu ia juga mengikuti perkembangan liga-liga dari negara antah berantah seperti klub Terek Grozny, Kaiser Chief, St. Pauli, Otelul Galati, MTK, Bursaspor, Fluminense dan sejenisnya.

Atau jika masih tetap ingin menempelkan diri secara malu-malu pada liga mainstream, mereka akan mendukung klub semenjana dari liga-liga utama seperti Stoke City, West Ham United, Torino, Werder Bremen, Sochaux, dan sejenisnya.

Ada beberapa motif para penggemar hipster ini memilih cara yang beda dalam menikmati sepak bola. Beberapa orang akan melakukan apapun demi sebutan prestisius itu. Sebutan yang terdengar keren karena kita akan terlihat pintar, memiliki selera yang lain dari yang lain, mendukung klub yang lain dari yang lain. Jauh lah dengan glory hunter.

Saya bukan hipster. Saya menyukai klub seperti AC Milan, Barcelona atau PSG. Sesekali ingin dibilang unik, tinggal bilang kalau saya juga kerap mengikuti Borussia Dortmund, Athletic Bilbao dan CSKA Moskow.

Dalam hal tulisan, saya juga tidak hipster. Saya membahas hal yang umum-umum saja yang saya kuasai, tidak pernah berusaha untuk membahas hal keren padahal saya tidak mengerti. Memang ada kalanya dalam hati saya begitu ingin terlihat keren, cerdas dan berbudaya tinggi seperti penulis-penulis ternama. Atau saya juga kadang ingin seperti Swiss Ramble yang memiliki analisa keuangan setara seorang business analyst senior yang begitu rajin mengupas kulit demi kulit finansial dari sebuah klub.

Ada kalanya saya terjebak di antara mereka, para penulis hebat. Selepas membaca tulisan dari si A, tulisan saya bisa bergaya seperti si A. Begitu pula ketika saya habis membaca tulisan si B. Kekaguman saya pada sosok B membuat saya tertarik untuk mengikuti gaya tulisannya. 

Tapi, bukan berarti saya berusaha mati-matian untuk menyamakan frekuensi pengetahuan dan cara menulis seperti mereka.

Saya tahu betul bahwa seorang imitator tidak akan pernah mendekati bagusnya sang penulis asli. Kita semua memiliki tokoh inspirasi dalam menulis, tapi sebisa mungkin saya mencoba menulis dengan gaya dan bahasa sendiri. Bagus atau jelek, saya tidak peduli kata orang. Niat saya dalam menulis adalah saya ingin membuat tulisan yang bermanfaat, bukan tulisan yang bagus banget atau tulisan bombastis sehingga menjadikan penulisnya terkenal.

Memang dari awal, tujuan saya menulis sepak bola hanya dua: mendapat teman baru dan berbagi informasi. Di luar dua hal itu, saya gak ikutan.

Lalu, seperti apa ya penulis sepak bola yang hipster itu?

Hipster-nya penulis atau penggemar sepak bola lebih kepada kemampuannya mengangkat topik yang berbobot dan inspiratif maupun fakta-fakta tertentu yang tak terpikirkan orang lain. Write not-ordinary football topics before it was cool.  

Lalu bagaimana jika topik yang tidak biasa itu sudah semakin banyak diangkat? Well, mungkin saja, para dewan founding father penulis hipster itu akan mengganti gaya penulisan karena menganggap topiknya sudah umum.

Apakah dengan menjadi penggemar hipster berarti anda lebih baik daripada yang lain? Belum tentu, dan juga tidak penting membahas hal ini.

Hipster atau bukan, penulis sepak bola memiliki taste tersendiri bagaimana gaya bahasanya. Anda pasti bisa membedakan mana tulisan yang memiliki nilai estetika dari tata kalimatnya maupun diksi yang ia ambil. Lalu seperti apa opini yang ia bangun, mana tulisan yang terlalu menggurui, mana yang pamer ilmu, mana yang mencoba mengerdilkan penulis lain, mana yang menyadur, mana sekadar menerjemahkan. 

Apapun itu, mari menulis. Mari mencintai sepak bola bersama-sama dengan khidmat. Buat apa sih saling jegal.

Sunday, April 7, 2013

Terima Kasih Atas Thriller Dari Firenze



Keep it low, capitano. Foto dari maulagi.info

Ketika wasit Paolo Tagliavento meniup peluit akhir pertandingan Fiorentina lawan Milan di Firenze yang berakhir 2-2, ia mungkin merasa puas, atau lega, atau menyeringai, atau mungkin juga berkata “What have I done?”

Ada beberapa pendapat yang familiar saya dengar, bahwa kebobrokan pertahanan bukanlah kejahatan dalam sepak bola, melainkan hal krusial demi menciptakan pertandingan yang seru. Namun jika anda mengaplikasikan hal itu di Italia, anda akan gagal.

Italia adalah surganya pemain bertahan. Posisi pemain bertahan menjadi posisi impian banyak anak muda Italia, untuk itu, mengabaikan pertahanan adalah dosa besar. Dan jika anda baru belajar menggemari sepak bola Italia, atau sudah lama menggemari calcio, izinkan saya mengingatkan sebuah fakta lagi agar anda tidak perlu terlalu mendramatisir berlebihan sebuah hasil pertandingan. Ingat juga, sepak bola Italia bukanlah referensi bijak untuk pelajaran moral. Anda tidak bisa mengharap ending yang typical saat menonton sepak bola Italia.

Ya, perilaku wasit di Italia adalah sesuatu yang menarik dibicarakan. Arbitro, sebutan mereka di Italia cukup banyak menjadi penentu hasil pertandingan lewat keputusan-keputusan kontroversial mereka. Tentu saja mereka melakukan ini bukan tanpa sebab, namun memang ada pihak-pihak yang mengendalikan dari singgasana empuk mereka di manapun berada. Dan lagi-lagi, kultur mengedepankan hasil diatas segalanya adalah alasan dibalik semua kegilaan ini.

Sebelum menghakimi lebih jauh, mungkin juga banyak yang lupa bahwa menjadi wasit sepak bola adalah salah satu pekerjaan paling sulit di dunia. Sebagai pihak yang memimpin pertandingan, kenyataannya penonton lebih sering mengingat kesalahan-kesalahan sang arbitro ketimbang fakta bahwa segala keputusan yang dibuatnya harus cepat dan tidak boleh salah. That's a hell kind of job.

Ya, kadang kita sebagai penonton mengharap wasit seperti Tuhan, yang tidak boleh salah. Saya sudah berkali-kali melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang wasit yang dipukuli, dikejar-kejar, diancam, diintimidasi padahal ia (setidaknya) telah berupaya memimpin pertandingan dengan baik.

Di Firenze beberapa saat lalu, Tagliavento lebih banyak disorot dan dibicarakan ketimbang pemain-pemain yang beraksi di lapangan, maupun kedua pelatih yang beradu taktik dengan sengit di pinggir lapangan. Tagliavento seperti tidak rela jika hanya Howard Webb dari liga “terbaik” saja yang menjadi terkenal. Sebagai putra asli dari negara yang memiliki intrik sepak bola terumit di dunia, Tagliavento tentu ingin merebut atensi lebih.

Itulah mengapa saya hanya menertawai saja apa yang dilakukannya sepanjang laga. Bagaimana ia memberi kartu merah pada Nenad Tomovic, memberi dua hukuman penalti pada Milan atas pelanggaran yang terlihat ringan (dari layar kaca), juga banjir kartu yang ia keluarkan hingga koor tifosi di Artemio Franchi seperti lebih kencang dari biasanya.

Jelang laga ini, memang publik sudah megantisipasi panasnya bentrokan kedua kubu. Fiorentina sebagai pihak yang selalu merasa “dicuri” dalam beberapa hal, selalu termotivasi jika bertemu tim-tim jawara dari sebelah barat laut kota mereka. Ketatnya persaingan di liga ditambah faktor Riccardo Montolivo sebagai eks pemain La Viola menambah panas atmosfir laga.

Montolivo, bagaimanapun semakin lama semakin membuat saya terpesona. Ia tidak pernah berusaha menjadi Andrea Pirlo, cult hero Milan di era Ancelotti yang telah hijrah ke Juventus. Ia tidak pula berupaya membuat sensasi berlebih, meski penampilannya sejauh ini sungguh spektakuler. Dalam sebuah momen di menit awal laga, ia dengan cerdik merebut bola dari David Pizarro, lalu dengan dingin menaklukkan Emiliano Viviano. Ia menolak selebrasi karena rasa respeknya pada mantan klub.

Fiorentina semakin sial dan menunjukkan tanda-tanda kekalahan saat dua pemainnya, dua Stevan dari Montenegro, Savic dan Jovetic, harus ditarik karena cedera. Petaruh ekstrim sekalipun tidak akan berani bertaruh untuk Fiorentina. Ditambah bermain dengan 10 pemain, peluang La Viola boleh dibilang sulit, jika mustahil adalah kata yang terlalu kejam.

Belum cukup derita si ungu, Mathieu Flamini mampu membelokkan umpan tarik kencang Montolivo hingga membawa Milan memimpin 2 gol. Sebuah keunggulan yang seharusnya nyaman, dan boleh jadi membuat Berlusconi dan Galliani melanjutkan kegiatannya yang lain. Namun, di sinilah sepak bola Italia menunjukkan panggung terbaiknya.

Milan mendapat dua penalti. Yang pertama, Adem Ljajic dengan luar biasa melewati sekompi pertahanan Milan, sebelum Antonio Nocerino menghentikannya. Nocerino sendiri tidak banyak komplain setelah Tagliavento memberikan hadiah penalti kepada Fiorentina. Ini pertanda apa? Anda nilai sendiri.

Penalti kedua memang sedikit debatable. Pelanggaran ringan Mattia De Sciglio atas pemain sayap licin Juan Cuadrado di area terlarang membuat Tagliavento kembali mengangkat tangan sejauh 45 derajat sekaligus membuat Diego Della Valle dan anaknya di ruang boks VVIP Artemio Franchi melonjak girang. Ya, kita bisa memaklumi kehijauan De Sciglio di sini. Ia masih muda, dan baru disorot dalam debutnya bersama timnas senior Italia.

Lalu, apakah Tagliavento balik mendukung Fiorentina di babak kedua? Ketimbang menyoroti bagaimana Tagliavento memimpin laga, termasuk ngetwit kenapa handsball Roncaglia tidak diganjar penalti di akhir laga, saya lebih memilih untuk angkat topi pada Vincenzo Montella. Il Aeroplanino terus menunjukkan kelasnya sebagai pelatih jempolan. Meski kalah jumlah pemain, timnya tidak kehilangan kendali laga.

Ia tetap mempertahankan trio passer Pizarro, Aquilani dan Borja Valero untuk menjamin bahwa mereka akan terus menciptakan peluang. Ia memasukkan Migliaccio, seorang gelandang, menggantikan Ljajic untuk terus mempertahankan momentum sekaligus membatasi ruang para gelandang Milan. Montella menunjukkan bahwa ia adalah tipe pelatih yang selalu ingin timnya menguasai laga. Dengan kemenangan ball possession atas Milan, tim terbaik kedua di liga soal ini, Montella menunjukkan kematangan yang jarang dimiliki pelatih muda seangkatannya.

Bukan soal siapa yang lebih baik daripada Montella atau Allegri yang ingin saya bicarakan di sini, namun ketidakmampuan Milan mempertahankan keunggulan ditengah berbagai keuntungan yang mereka miliki adalah sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Allegri kembali mendapat pembelajaran berharga, meski hasil imbang di Firenze ini juga bukanlah hasil buruk.

Baik Allegri maupun Montella tidak berlebihan menyalahkan Tagliavento. “Wasit memberi keputusan yang menguntungkan sekaligus merugikan kedua belah pihak.” Jelas Allegri. Sementara Montella mengaku hanya mengajak bertaruh makan malam sang wasit terkait kebenaran keputusan kartu merah Tomovic.

Allegri sendiri menambahkan poin menarik. “Paradoxally, kami bermain lebih baik menghadapi 11 ketimbang 10 orang.” Yeah mister, saatnya pendewasaan lagi dan lagi. Tim yang baik adalah yang berkembang, bukan yang cepat puas.

Lupakan Tagliavento. Move on. Ingatlah laga ini dari sudut pandang sepak bola saja. Ingatlah laga ini sebagai laga paling berani yang dilakoni Montolivo.