Pages

Monday, April 22, 2013

The Meaning of Mario

Taken from Dailymail

Dalam lima pekan kedepan, kompetisi hipster Seri a musim 2012/2013 akan berakhir. Dan kemungkinan besar dalam dua pekan kedepan, Juventus akan memastikan diri sebagai scudetto.

Sementara pencapaian Milan hingga saat ini adalah sesuatu yang sudah berkali-kali saya tegaskan, melebihi ekspektasi. Namun pernyataan ini bisa ditunda dulu hingga lima pekan krusial ini benar-benar berakhir dan melihat berada dimana posisi Milan.

3 laga terkini Milan dilalui dengan raihan 2 poin saja. Memang ketiga lawan tersebut adalah penghuni 4 besar dan dua partai diantaranya berlangsung di kandang lawan.

Namun, hal ini bukan berarti tidak ada masalah di tim ini. Dalam laga lawan dua pesaing langsung, Fiorentina dan Napoli, Milan dua kali menyia-nyiakan keunggulan mereka sehingga dua laga tersebut berakhir imbang. Sementara lawan Juve semalam, Milan sebenarnya sudah bermain maksimal namun kurangnya kemampuan mengirim key passes dan pertahanan Juve yang seketat baju senam membuat keunggulan lini tengah Milan hanya sekadar keunggulan memainkan bola, bukan mencetak gol. Banyak yang berpendapat bahwa Milan mulai kehabisan bensin setelah mereka nyaris sepanjang tahun ini memainkan laga-laga dengan intensitas tinggi.

Saat Mario Balotelli hadir di penghujung winter transfer, Milan seolah mendapat bahan bakar baru untuk terus mengejar zona Liga Champions. Terbukti, Balo mampu mencetak 7 gol dari 8 laga, posisi Milan di klasemen juga terus menanjak. Tidak hanya gol-gol yang ia sumbangkan, hadirnya Balotelli dalam skema 4-3-3 Allegri ternyata mengangkat level permainan Milan setinggi-tingginya.

Rasanya hal ini tidak berlebihan karena selain memiliki game intelligent yang tinggi, Balo juga mengimbanginya dengan kemampuannya mengeksekusi bola mati, mengirimkan umpan matang, membongkar pertahanan lawan, memenangi tendangan bebas. Ini adalah sesuatu yang sebelumnya hilang di skuat Milan yang kebanyakan dipenuhi para bullies.

Allegri gemar mengoleksi para petarung di lini tengahnya. Bahkan Montolivo, pemain paling ‘berbudaya’ di lini tengah Milan, juga diberkahi kemampuan defense yang memadai. Kedatangan Balotelli dengan tehniknya yang tinggi dan kemampuannya menjemput bola mengembalikan Milan kepada khitahnya sebagai tim yang ‘berbudaya’.

Ada tiga opini umum menyoal efek Balotelli. Pertama, kedatangan Balotelli menyingkirkan pemain yang tengah on-fire, Giampaolo Pazzini. Kedua, Balotelli membatasi ruang gerak sekaligus mengeliminasi ruang tembak El Shaarawy. Ketiga, Balodependencia tercipta buat Milan. Tiga potongan puzzle yang tricky buat Milan di 5 laga sisa ini mengingat sang pemain terkena skorsing karena menghina wasit setelah laga lawan Il Gigliati Fiorentina.

Benar saja, ketiadaan Balo terasa betul semalam. El Shaarawy yang belum menemukan kembali bentuk permainan terbaiknya tidak banyak mengancam gawang Buffon, sementara kedisiplinan trio Chiellini-Bonucci-Barzagli membatasi ruang gerak Pazzini. Jika Balo bermain, sudah dipastikan ia dapat berbuat lebih banyak untuk membongkar pertahanan rapat Bianconeri karena lini tengah Milan sendiri sudah maksimal dalam menutup ruang gerak Andrea Pirlo, meski kegagalan dalam sebuah momen membuat sang eks pemain Milan mampu mengirim umpan terobosan kepada Kwadwo Asamoah –yang kemudian terpaksa dijatuhkan Marco Amelia untuk menghasilkan penalti bagi Juve. Kelengahan Abate juga berkontribusi besar dalam situasi ini.

Pengakuan sebagai 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Times tahun 2012 memang bukan isapan jempol. Hanya Balotelli pesepakbola yang masuk daftar tersebut, sementara untuk atlet olahraga, ia satu dari empat tokoh yang masuk. Serangkaian kisah hidup pemuda berusia 22 tahun ini memang inspiratif dan penuh kontroversi. Bagaimanapun, sepak bola butuh kontroversi, bukan? Sementara bagi klubnya yang saat ini tengah mengejar posisi layak di zona Champions, pengaruh Balo terlalu besar, sehingga absensinya sangat terasa bagi Milan.

Tentu saja Balotelli masih memiliki sebuah partai lagi untuk ia habiskan di bangku penonton. Laga lawan Catania minggu depan akan sangat krusial karena selisih Milan dengan Fiorentina hanya tinggal 1 angka. Hasil seri dan kemenagnan La Viola bisa langsung menjungkalkan Rossoneri dari posisi impian.

Rasanya, Allegri perlu menemukan lagi solusi tanpa Balotelli. Catania adalah lawan yang alot, dan mereka juga masih menyimpan asa untuk menduduki zona Eropa. Bukan tugas ringan karena pemain-pemain penting terus bertumbangan. Kapten Ambrosini cedera, Flamini masih menjalani skorsing.

Bojan Krkic patut dicoba sebagai starter. Tehniknya adalah yang tertinggi setelah Balo. Kemampuan dribel jarak pendek dan pergerakan liarnya dapat menjadi solusi guna membongkar pertahanan lawan, ketimbang memasang Pazzini yang cenderung statis. Pazzini harus dipasangkan dengan para jagoan crossing. Di Milan, De Sciglio adalah yang terbaik untuk urusan itu, meski performanya belakangan cukup angin-anginan.


Thursday, April 18, 2013

Hari Ini Pasti Menang: "Memanusiakan" Seorang Superstar

Ijinkan saya memberikan review singkat terhadap film yang baru saya saksikan kemarin, yaitu Hari Ini pasti Menang (HIPM) arahan sutradara Andibachtiar Yusuf.
Ucup, panggilan dari sutradara yang memang sering mengangkat tema sepak bola dalam film-filmnya ini membuat gebrakan yang sangat berani dalam filmnya kali ini. Ia mengangkat cerita yang sangat berbeda dari film sepak bola kebanyakan. Cerita yang satir.
Di film berdurasi 2 jam ini, diceritakan bahwa sepak bola Indonesia sudah maju, bertolak belakang dari keadaan sebenarnya. Indonesia baru saja tersingkir dari babak perempat final Piala Dunia tahun 2014 di Brasil, dan bintang utama Gabriel Omar Baskoro baru saja meraih gelar topskor. Namun bukan itu yang hendak diangkat oleh film ini.
Alih-alih menampilkan fragmen-fragmen utopis atau menonjolkan heroisme yang mampu membuncahkan harapan, film ini justru menonjolkan sisi gelap dari sebuah industri sepak bola yang sudah tertata rapi dan mapan. Sisi gelap tersebut adalah judi.
Beginilah kerjanya. Judi adalah konsekuensi logis dari sebuah pertunjukan seru. Judi sepak bola menjamur dari pangkalan ojek hingga restoran mewah. Dalam hal ini, sepak bola Indonesia memang sudah sedemikian seru dan majunya sampai-sampai para bandar judi kelas kakap tertarik ambil bagian dalam permainan ini. Judi yang melibatkan perputaran uang miliaran rupiah inilah yang kemudian membuat para pelakunya melakukan apapun agar keuntungannya berlipat ganda. Dalam hal sepak bola, pengaturan skor alias match fixing adalah hal yang menjadi permainannya.
Di film itu sudah coba dijelaskan bahwa cukup hanya “memegang” pelatih, pengatur pertandingan, dan satu atau dua pemain untuk mewujudkan niat kotor mereka. Dan hal ini memang nyatanya terjadi di industri sepak bola yang sudah advanced di Eropa. Dan disampaikan pula bahwa meski judi melanda persepakbolaan, namun tidak berpengaruh pada prestasi tim nasional, merujuk pada pencapaian tim nasional Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006 meski liganya dirusak skandal calciopoli.
Saya dulu pernah menanyakan kepada Bang Ucup apakah GO8 akan dijadikan seperti Kapten Tsubasa-nya Indonesia. Ia saat itu bilang bahwa hal ini akan tergantung dari respon penonton pada film HIPM. Tapi GO8 sendiri sudah banyak dibikin dalam berbagai versi. Komik, novel, akun twitter, bahkan game interaktif Liga Utama sudah dibuat dalam upaya kian memperkuat image GO8 kepada kita semua.
Oke, dalam hal hype memang GO8 sudah dijadikan seperti Kapten Tsubasa. Tapi Bang Ucup lewat HIPM ini memberi taste yang berbeda dari bintang kebanyakan. Karakter GO8 dibuatnya lebih “manusiawi” dimana sang bintang pujaan digambarkannya terlibat dalam permainan para kartel judi itu. GO8 juga digambarkannya memiliki arogansi ala superstar, yang juga termasuk pada praktek gaya hidup hedonisme dan bermain wanita.
Hilanglah sudah image sang bintang yang sempurna tanpa cacat jago di lapangan, setia pada pasangan dan punya perilaku yang baik yang umumnya dijadikan sebagai karakter tokoh utama. Mungkin cerita ini lebih mirip cerita dari komik sepak bola jaman dulu, Roel Djiikstra, dimana praktek-praktek kotor persepakbolaan turut dipertontonkan.
Di film ini juga ditampilkan berbagai tokoh menarik yang memang bersinggungan langsung dengan sepak bola. Menteri Olahraga, pengusaha, bandar judi, eksekutor bandar, suporter, hingga jurnalis idealis. Keberadaan mereka saling berkaitan, meski bisa ditebak bahwa seorang jurnalis idealis pada karakter Andien, teman masa kecil Gabriel, tidak sanggup untuk membongkar kartel ini seorang diri.
Pada akhirnya, Gabriel berkontemplasi setelah ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Ini didapatnya setelah kekecewaannya pasca mendapati anaknya yang selalu ia banggakan ternyata tercebur dalam lingkaran setan perjudian ini. Kontemplasi GO8 berakhir pada kesadaran sang pemain bahwa ia adalah pemain sepak bola, seorang duta kejujuran dan sportivitas yang memang hanya harus memikirkan sepak bola itu sendiri, bukan pundi-pundi kekayaan yang bisa ia dapat lewat cara kotor. Berangkat pada kesadaran tersebut dan kecintaannya pada sosok ayah, yang diperankan dengan sangat apik oleh aktor Mathias Muchus, GO8 akhirnya kembali ke “jalan yang benar”.
“Football is a stage of drama” memang menjadi slogan yang dipajang film ini. Quote dari Pele tersebut memang seolah menunjukkan bahwa sepak bola lebih dari sekadar pertandingan olahraga sebelas lawan sebelas. Ada tawa, tangis, rasa frustasi, kebanggaan, kesedihan dan segala rasa dalam hidup yang bercampur menjadi satu di lapangan hijau. Dan ada kalanya dimana faktor-faktor diluar lapangan bisa berpengaruh besar pada apa yang terjadi di lapangan. Hal-hal tak kasat mata yang memang sulit dilihat oleh orang awam.
Akhir kata, film ini menyampaikan dengan lancar apa yang hendak disampaikan, terlepas dari beberapa akting kaku dan potongan-potongan cerita yang sempat membuat penonton harus berpikir lebih dulu. Gambaran rapi kartel judi, kehidupan seorang bintang, perjuangan seorang jurnalis idealis, pelatih berprestasi, ayah yang jujur, dan juga realita-realita sepak bola lainnya yang memang menjadi bagian tak terpisahkan dari permainan yang, kata Bill Shankly, is a matter of life and death.

(Tulisan ini lebih dulu dimuat di blog Football Fandom)

Monday, April 15, 2013

Penulis Hipster

Ketika topik soal ke-hipsteran penggemar sepak bola menyeruak, mendadak saya dan teman-teman saling melempar opini tentang apa itu hipster, yang bagaimana sih yang hipster, dan sebagainya.

Saya ambil contoh penggemar sepak bola yang hipster.

Jika penggemar sepak bola biasa hanya mengikuti pertandingan berlabel big match atau partai final Liga Champions agar terdengar up to date dan berwawasan luas, maka penggemar sepak bola hipster ini mengikuti permainan sepak bola dari manapun. Menonton sepak bola adalah kepuasan bagi mata dan hati, untuk itu ia juga mengikuti perkembangan liga-liga dari negara antah berantah seperti klub Terek Grozny, Kaiser Chief, St. Pauli, Otelul Galati, MTK, Bursaspor, Fluminense dan sejenisnya.

Atau jika masih tetap ingin menempelkan diri secara malu-malu pada liga mainstream, mereka akan mendukung klub semenjana dari liga-liga utama seperti Stoke City, West Ham United, Torino, Werder Bremen, Sochaux, dan sejenisnya.

Ada beberapa motif para penggemar hipster ini memilih cara yang beda dalam menikmati sepak bola. Beberapa orang akan melakukan apapun demi sebutan prestisius itu. Sebutan yang terdengar keren karena kita akan terlihat pintar, memiliki selera yang lain dari yang lain, mendukung klub yang lain dari yang lain. Jauh lah dengan glory hunter.

Saya bukan hipster. Saya menyukai klub seperti AC Milan, Barcelona atau PSG. Sesekali ingin dibilang unik, tinggal bilang kalau saya juga kerap mengikuti Borussia Dortmund, Athletic Bilbao dan CSKA Moskow.

Dalam hal tulisan, saya juga tidak hipster. Saya membahas hal yang umum-umum saja yang saya kuasai, tidak pernah berusaha untuk membahas hal keren padahal saya tidak mengerti. Memang ada kalanya dalam hati saya begitu ingin terlihat keren, cerdas dan berbudaya tinggi seperti penulis-penulis ternama. Atau saya juga kadang ingin seperti Swiss Ramble yang memiliki analisa keuangan setara seorang business analyst senior yang begitu rajin mengupas kulit demi kulit finansial dari sebuah klub.

Ada kalanya saya terjebak di antara mereka, para penulis hebat. Selepas membaca tulisan dari si A, tulisan saya bisa bergaya seperti si A. Begitu pula ketika saya habis membaca tulisan si B. Kekaguman saya pada sosok B membuat saya tertarik untuk mengikuti gaya tulisannya. 

Tapi, bukan berarti saya berusaha mati-matian untuk menyamakan frekuensi pengetahuan dan cara menulis seperti mereka.

Saya tahu betul bahwa seorang imitator tidak akan pernah mendekati bagusnya sang penulis asli. Kita semua memiliki tokoh inspirasi dalam menulis, tapi sebisa mungkin saya mencoba menulis dengan gaya dan bahasa sendiri. Bagus atau jelek, saya tidak peduli kata orang. Niat saya dalam menulis adalah saya ingin membuat tulisan yang bermanfaat, bukan tulisan yang bagus banget atau tulisan bombastis sehingga menjadikan penulisnya terkenal.

Memang dari awal, tujuan saya menulis sepak bola hanya dua: mendapat teman baru dan berbagi informasi. Di luar dua hal itu, saya gak ikutan.

Lalu, seperti apa ya penulis sepak bola yang hipster itu?

Hipster-nya penulis atau penggemar sepak bola lebih kepada kemampuannya mengangkat topik yang berbobot dan inspiratif maupun fakta-fakta tertentu yang tak terpikirkan orang lain. Write not-ordinary football topics before it was cool.  

Lalu bagaimana jika topik yang tidak biasa itu sudah semakin banyak diangkat? Well, mungkin saja, para dewan founding father penulis hipster itu akan mengganti gaya penulisan karena menganggap topiknya sudah umum.

Apakah dengan menjadi penggemar hipster berarti anda lebih baik daripada yang lain? Belum tentu, dan juga tidak penting membahas hal ini.

Hipster atau bukan, penulis sepak bola memiliki taste tersendiri bagaimana gaya bahasanya. Anda pasti bisa membedakan mana tulisan yang memiliki nilai estetika dari tata kalimatnya maupun diksi yang ia ambil. Lalu seperti apa opini yang ia bangun, mana tulisan yang terlalu menggurui, mana yang pamer ilmu, mana yang mencoba mengerdilkan penulis lain, mana yang menyadur, mana sekadar menerjemahkan. 

Apapun itu, mari menulis. Mari mencintai sepak bola bersama-sama dengan khidmat. Buat apa sih saling jegal.

Sunday, April 7, 2013

Terima Kasih Atas Thriller Dari Firenze



Keep it low, capitano. Foto dari maulagi.info

Ketika wasit Paolo Tagliavento meniup peluit akhir pertandingan Fiorentina lawan Milan di Firenze yang berakhir 2-2, ia mungkin merasa puas, atau lega, atau menyeringai, atau mungkin juga berkata “What have I done?”

Ada beberapa pendapat yang familiar saya dengar, bahwa kebobrokan pertahanan bukanlah kejahatan dalam sepak bola, melainkan hal krusial demi menciptakan pertandingan yang seru. Namun jika anda mengaplikasikan hal itu di Italia, anda akan gagal.

Italia adalah surganya pemain bertahan. Posisi pemain bertahan menjadi posisi impian banyak anak muda Italia, untuk itu, mengabaikan pertahanan adalah dosa besar. Dan jika anda baru belajar menggemari sepak bola Italia, atau sudah lama menggemari calcio, izinkan saya mengingatkan sebuah fakta lagi agar anda tidak perlu terlalu mendramatisir berlebihan sebuah hasil pertandingan. Ingat juga, sepak bola Italia bukanlah referensi bijak untuk pelajaran moral. Anda tidak bisa mengharap ending yang typical saat menonton sepak bola Italia.

Ya, perilaku wasit di Italia adalah sesuatu yang menarik dibicarakan. Arbitro, sebutan mereka di Italia cukup banyak menjadi penentu hasil pertandingan lewat keputusan-keputusan kontroversial mereka. Tentu saja mereka melakukan ini bukan tanpa sebab, namun memang ada pihak-pihak yang mengendalikan dari singgasana empuk mereka di manapun berada. Dan lagi-lagi, kultur mengedepankan hasil diatas segalanya adalah alasan dibalik semua kegilaan ini.

Sebelum menghakimi lebih jauh, mungkin juga banyak yang lupa bahwa menjadi wasit sepak bola adalah salah satu pekerjaan paling sulit di dunia. Sebagai pihak yang memimpin pertandingan, kenyataannya penonton lebih sering mengingat kesalahan-kesalahan sang arbitro ketimbang fakta bahwa segala keputusan yang dibuatnya harus cepat dan tidak boleh salah. That's a hell kind of job.

Ya, kadang kita sebagai penonton mengharap wasit seperti Tuhan, yang tidak boleh salah. Saya sudah berkali-kali melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang wasit yang dipukuli, dikejar-kejar, diancam, diintimidasi padahal ia (setidaknya) telah berupaya memimpin pertandingan dengan baik.

Di Firenze beberapa saat lalu, Tagliavento lebih banyak disorot dan dibicarakan ketimbang pemain-pemain yang beraksi di lapangan, maupun kedua pelatih yang beradu taktik dengan sengit di pinggir lapangan. Tagliavento seperti tidak rela jika hanya Howard Webb dari liga “terbaik” saja yang menjadi terkenal. Sebagai putra asli dari negara yang memiliki intrik sepak bola terumit di dunia, Tagliavento tentu ingin merebut atensi lebih.

Itulah mengapa saya hanya menertawai saja apa yang dilakukannya sepanjang laga. Bagaimana ia memberi kartu merah pada Nenad Tomovic, memberi dua hukuman penalti pada Milan atas pelanggaran yang terlihat ringan (dari layar kaca), juga banjir kartu yang ia keluarkan hingga koor tifosi di Artemio Franchi seperti lebih kencang dari biasanya.

Jelang laga ini, memang publik sudah megantisipasi panasnya bentrokan kedua kubu. Fiorentina sebagai pihak yang selalu merasa “dicuri” dalam beberapa hal, selalu termotivasi jika bertemu tim-tim jawara dari sebelah barat laut kota mereka. Ketatnya persaingan di liga ditambah faktor Riccardo Montolivo sebagai eks pemain La Viola menambah panas atmosfir laga.

Montolivo, bagaimanapun semakin lama semakin membuat saya terpesona. Ia tidak pernah berusaha menjadi Andrea Pirlo, cult hero Milan di era Ancelotti yang telah hijrah ke Juventus. Ia tidak pula berupaya membuat sensasi berlebih, meski penampilannya sejauh ini sungguh spektakuler. Dalam sebuah momen di menit awal laga, ia dengan cerdik merebut bola dari David Pizarro, lalu dengan dingin menaklukkan Emiliano Viviano. Ia menolak selebrasi karena rasa respeknya pada mantan klub.

Fiorentina semakin sial dan menunjukkan tanda-tanda kekalahan saat dua pemainnya, dua Stevan dari Montenegro, Savic dan Jovetic, harus ditarik karena cedera. Petaruh ekstrim sekalipun tidak akan berani bertaruh untuk Fiorentina. Ditambah bermain dengan 10 pemain, peluang La Viola boleh dibilang sulit, jika mustahil adalah kata yang terlalu kejam.

Belum cukup derita si ungu, Mathieu Flamini mampu membelokkan umpan tarik kencang Montolivo hingga membawa Milan memimpin 2 gol. Sebuah keunggulan yang seharusnya nyaman, dan boleh jadi membuat Berlusconi dan Galliani melanjutkan kegiatannya yang lain. Namun, di sinilah sepak bola Italia menunjukkan panggung terbaiknya.

Milan mendapat dua penalti. Yang pertama, Adem Ljajic dengan luar biasa melewati sekompi pertahanan Milan, sebelum Antonio Nocerino menghentikannya. Nocerino sendiri tidak banyak komplain setelah Tagliavento memberikan hadiah penalti kepada Fiorentina. Ini pertanda apa? Anda nilai sendiri.

Penalti kedua memang sedikit debatable. Pelanggaran ringan Mattia De Sciglio atas pemain sayap licin Juan Cuadrado di area terlarang membuat Tagliavento kembali mengangkat tangan sejauh 45 derajat sekaligus membuat Diego Della Valle dan anaknya di ruang boks VVIP Artemio Franchi melonjak girang. Ya, kita bisa memaklumi kehijauan De Sciglio di sini. Ia masih muda, dan baru disorot dalam debutnya bersama timnas senior Italia.

Lalu, apakah Tagliavento balik mendukung Fiorentina di babak kedua? Ketimbang menyoroti bagaimana Tagliavento memimpin laga, termasuk ngetwit kenapa handsball Roncaglia tidak diganjar penalti di akhir laga, saya lebih memilih untuk angkat topi pada Vincenzo Montella. Il Aeroplanino terus menunjukkan kelasnya sebagai pelatih jempolan. Meski kalah jumlah pemain, timnya tidak kehilangan kendali laga.

Ia tetap mempertahankan trio passer Pizarro, Aquilani dan Borja Valero untuk menjamin bahwa mereka akan terus menciptakan peluang. Ia memasukkan Migliaccio, seorang gelandang, menggantikan Ljajic untuk terus mempertahankan momentum sekaligus membatasi ruang para gelandang Milan. Montella menunjukkan bahwa ia adalah tipe pelatih yang selalu ingin timnya menguasai laga. Dengan kemenangan ball possession atas Milan, tim terbaik kedua di liga soal ini, Montella menunjukkan kematangan yang jarang dimiliki pelatih muda seangkatannya.

Bukan soal siapa yang lebih baik daripada Montella atau Allegri yang ingin saya bicarakan di sini, namun ketidakmampuan Milan mempertahankan keunggulan ditengah berbagai keuntungan yang mereka miliki adalah sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Allegri kembali mendapat pembelajaran berharga, meski hasil imbang di Firenze ini juga bukanlah hasil buruk.

Baik Allegri maupun Montella tidak berlebihan menyalahkan Tagliavento. “Wasit memberi keputusan yang menguntungkan sekaligus merugikan kedua belah pihak.” Jelas Allegri. Sementara Montella mengaku hanya mengajak bertaruh makan malam sang wasit terkait kebenaran keputusan kartu merah Tomovic.

Allegri sendiri menambahkan poin menarik. “Paradoxally, kami bermain lebih baik menghadapi 11 ketimbang 10 orang.” Yeah mister, saatnya pendewasaan lagi dan lagi. Tim yang baik adalah yang berkembang, bukan yang cepat puas.

Lupakan Tagliavento. Move on. Ingatlah laga ini dari sudut pandang sepak bola saja. Ingatlah laga ini sebagai laga paling berani yang dilakoni Montolivo. 

Sunday, March 31, 2013

Keributan di Pseudo-Derby, Wajah Sepak Bola Indonesia



Hal terbaik yang terjadi di akhir pekan selain berkumpul bersama keluarga adalah sepak bola. Di negeri para penonton seperti Indonesia, penggemar sepak bola baik layar kaca maupun suporter klub lokal begitu dimanjakan dengan banyaknya jadwal pertandingan. Segala pilihan seperti tersaji untuk anda di negeri penonton sepak bola, Indonesia.

Sangat menyenangkan bagi saya yang berkesempatan menyaksikan langsung pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia antara Persikad Depok melawan Persikabo Bogor sore tadi (30/3/2013). Bagi saya, menyaksikan pertandingan sepak bola secara langsung lebih menarik daripada menyaksikan tontonan apapun juga. Dan memang lebih afdol jika penggemar sepak bola nonton langsung di stadion.

Sebelumnya, partai ini termasuk derby minor di wilayah Jawa Barat. Menjadi minor karena kedua tim memang kebanyakan menghiasi kasta kedua kompetisi sepak bola Indonesia, sementara major derby di provinsi Jawa Barat lebih terasa aromanya pada laga Persib Bandung melawan Mastrans Bandung Raya kira-kira dua dekade lalu, atau Persib melawan Persikab.

Namun sejak Depok menjadi kota sendiri dan tidak lagi menjadi bagian dari Kabupaten Bogor tahun 1999 lalu, sebutan derby tentu saja menghilang. Kini pertarungan Persikad dan Persikabo menjadi pertandingan antar kota yang bertetangga. Meski demikian, aroma panas derby ini tetaplah masih ada.

Pertandingan derby menghiasi semangat lokal, di mana penentuan siapa yang terbaik di sebuah kota kadang lebih seru ketimbang siapa yang terbaik di kompetisi sebuah negara. Di manapun selalu demikian. Semangat tersebut begitu terasa di pertandingan tadi sore.

Deklarasi damai antara kedua suporter telah dilakukan guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Di jeda laga, seorang teman saya yang menjadi perwakilan suporter Depok Mania melakukan pertukaran syal secara simbolis dengan perwakilan suporter Persikabo Mania. Namun hal tersebut tetap tidak mendinginkan tensi laga.

Persikad unggul lebih dulu lewat penyelesaian apik Irfan “Boax” Safari di menit 33. Keunggulan ini sangat bernilai bagi Persikad karena mereka memang dikurung oleh tim tamu yang mengandalkan 3 pemain asing berpengalaman seperti Julio Lopez, Alejandro Tobar dan Eduard Valutsa. Ketiga pemain ini membentuk peran integral bagi Persikabo. Valutsa dengan tenang mengomando lini belakang, sementara Tobar dan Julio Lopez yang sudah malang melintang di kompetisi sepak bola Indonesia menginisiasi serangan. Kedudukan 1-0 berakhir hingga laga babak pertama usai.

Di babak kedua, Persikabo menyamakan kedudukan lewat sundulan memanfaatkan situasi set piece. Tidak jelas siapa yang mencetak gol karena kejadian begitu cepat. Saat kedudukan berubah menjadi 1-1 inilah tensi pertandingan mulai meninggi. Pertandingan sempat terhenti beberapa menit akibat terdapat penonton yang memasuki lapangan karena terlibat pertikaian dengan suporter lawan. Terlihat bahwa keributan terjadi akibat diturunkannya banner Persikabo di belakang gawang bagian selatan, entah siapa pelakunya.

Ketika pertandingan memasuki masa injury time, tim tamu mampu mencetak gol lewat tendangan jarak jauh. Ketidakpuasan nampak pada wajah para pemain Persikad karena beberapa saat setelah gol tersebut, wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Sebuah kemenangan yang pantas bagi Persikabo mengingat dominasi mereka sepanjang laga dan berbagai peluang bagus yang mereka ciptakan.

Bagi Persikad sendiri, sebenarnya tidak ada yang perlu diratapi secara berlebihan mengingat mereka memang bermain dengan sebagian besar pemain lokal tanpa pemain asing. Bermainnya tim ini di kompetisi Divisi Utama, meski terdapat dualisme dengan tim satunya yang bermain di kompetisi dibawah LPIS, telah menghangatkan gairah persepakbolaan di kota Depok.

Saat usai pertandingan inilah keributan kembali pecah. Baik penonton maupun pemain yang tidak puas pada kepemimpinan wasit langsung merangsek ke lapangan untuk mengejar sang pengadil. Pemandangan tidak menyenangkanpun tersaji seperti wasit yang dikerubuti oleh pemain maupun ofisial tim dan hakim garis yang berlari terbirit-birit dikejar oleh pemain yang tidak puas.

Sebagai penonton, tentu saya tidak senang pada kejadian tadi. Namun begitulah sepak bola. Banyak orang yang memang hadir di pertandingan bukan untuk bermain atau menonton, namun memang ingin mencari keributan. Ketimbang menyoroti mengapa mereka tidak mampu menguasai laga, mereka lebih menyalahkan wasit yang justru menyurut keributan, termasuk salah seorang suporter di sebelah saya yang tidak henti-hentinya menghujat wasit.

Di perjalanan pulang, suporter Persikabo sampai harus melakukan long march ke stasiun Depok Baru dengan kawalan polisi untuk mencegah makin meluasnya keributan. Kemacetan sempat terjadi di sepanjang jalan Arif Rahman Hakim dan jalan Nusantara Raya.

Sayang sekali bahwa laga yang sebelumnya telah didahului deklarasi perdamaian malah berakhir ricuh, meski tidak sampai menimbulkan korban maupun pengerusakan fasilitas. Sangat disayangkan juga karena laga ini sebenarnya dapat dijadikan momentum positif kebangkitan sepak bola di kota ini. Jika seperti ini yang terjadi, bagaimana nasib suporter Depok saat mereka bertandang ke Bogor? Balas dendam tak berujung yang tidak berguna.

Ayolah, kalian lebih baik daripada ini. Berbenah setelah kalah dan mengakui kehebatan lawan lebih elegan daripada menguber wasit dan tawuran dengan suporter lain.

Thursday, March 28, 2013

Haruskah Merekrut Simone Zaza, Milan?

Another mohawk. Taken from Calcioweb.


Revolusi yang dilakukan Milan ternyata tidak main-main. Sadar akan kekuatan finansialnya yang tidak dapat menyaingi para raksasa Eropa, Milan mengubah strategi transfer sekaligus kebijakan menurunkan pemain di lapangan.

Setelah orang belum habis membicarakan Mattia De Sciglio, kini Bryan Cristante cukup ramai menjadi bahan perbincangan setelah ia ditawari perpanjangan kontrak jangka panjang dan disebut-sebut akan mulai menghiasi tim utama mulai musim depan. Cristante yang berposisi gelandang dipercaya memiliki kemiripan permainan dengan Riccardo Montolivo. Seperti diketahui, Montolivo adalah pemain kunci lini tengah Milan yang karakteristiknya tidak dimiliki oleh pemain lain di Rossoneri. Jika Montolivo absen, akan ada perbedaan warna dari permainan Milan. Karena itulah Cristante dipromosikan.

Sebagai tim yang juga menggemari sepak bola menyerang, revolusi Milan memang agak berat ke lini tengah dan depan. Setelah sering memberi jam terbang kepada M’Baye Niang, Milan juga telah mengamankan tanda tangan gelandang serang berbakat, Riccardo Saponara dari Empoli. Namun pergerakan Milan tidak berhenti sampai disitu.

Lini depan yang sudah dihuni oleh para youngsters bertalenta super ternyata masih belum membuat para petinggi Rossoneri puas. Mereka kini mengincar satu nama penyerang yang tengah banyak dibicarakan di kompetisi Seri b, Simone Zaza.

Zaza, penyerang berusia 21 tahun yang kini bermain di Ascoli adalah pencetak gol terbanyak sementara kompetisi kasta kedua Italia tersebut dengan mencetak 18 gol. Zaza sebenarnya milik klub Seri a, Sampdoria, namun sejak awal musim dipinjamkan ke Ascoli. Sebelum dipinjamkan ke Bianconeri, Zaza sempat berpetualang ke Juve Stabia dan Viareggio masing-masing semusim. Di Viareggio inilah ketajaman penyerang setinggi 1,82 meter ini mulai terlihat dengan torehan 9 gol dari 16 laga.

Namun apakah Milan benar-benar membutuhkan Zaza? Tergantung. Saat ini Milan masih memiliki 6 penyerang untuk mengisi pola tridente yang dikembangkan Allegri, ini masih belum termasuk Kevin Prince Boateng yang sering ditempatkan sebagai central winger kanan. Keberadaan Zaza baru akan berguna jika Milan melepas setidaknya 2 penyerang mereka saat ini.

Robinho nampaknya sudah ngebet ingin mudik ke Brasil. Kepindahannya yang gagal terealisasi Januari lalu akibat permintaan gaji yang terlalu tinggi memang memaksanya bertahan di San Siro setidaknya hingga musim panas ini. Dengan waktu negosiasi yang lebih panjang, Binho bisa memilih destinasi yang ada, tentunya asal ia menerima pemotongan gaji mengingat kemampuannya yang terus menurun.

Bagaimana dengan Bojan? Well, pemain ini bukanlah produk gagal La Masia karena justru ia termasuk alumni yang paling cepat menembus tim inti. Ia bahkan lebih muda daripada Lionel Messi saat melakoni debut bersama Blaugrana di tim senior. Namun disitulah masalahnya. Terlalu cepatnya Bojan naik kelas ini tentu mengundang perhatian media. Akibatnya, sang pemain sendiri menjadi terbebani ekspektasi berlebih yang malah membuat kemampuan terbaiknya tak kunjung datang. Akhirnya ia dilego ke AS Roma.

Sialnya, Roma menganggapnya tidak mampu beradaptasi dengan baik. Faktanya, Bojan memang tidak impresif di Roma. Talenta besarnya tidak sebanding dengan performa di lapangan, dan kini di Milan lah ia mencoba membuktikan diri.

Bojan bukanlah pemain jelek di Milan. Tehnik tinggi dan visi permainannya cukup memberi warna bagi penyerangan Milan, dan ia sering pula tampil sebagai game changer yang menyumbang poin-poin krusial bagi Milan. Pertanyaannya, apakah kontribusinya itu sudah cukup dimata Allegri dan para petinggi? Apakah inkonsistensi permainannya hanya karena faktor adaptasi? Entahlah, dua tahun di Italia seharusnya cukup baginya untuk memahami bagaimana sepak bola dimainkan disana. Kadang dalam sepak bola tidak cukup hanya memiliki talenta besar.

Jika Robinho dan Bojan memang benar dilepas, Milan masih memiliki 4 penyerang plus Boateng. Riccardo Saponara nampaknya sudah mengisi 1 slot central winger, sehingga Milan dapat dikatakan memiliki 6 pemain untuk 3 posisi. El Shaarawy dan Boateng akan dilapis Saponara dan Niang, sementara Balotelli akan dilapis Pazzini.

Meski sejauh ini tidak terdengar friksi terkait dicadangkannya Pazzini, bukan tidak mungkin Pazzo akan menuntut waktu bermain lebih banyak. Tahun depan adalah tahun jelang Piala Dunia, dimana Pazzo pasti masih memiliki ambisi untuk menembus skuat La Nazionale, dan itu hanya bisa didapatnya dengan bermain secara reguler.

Jika benar Zaza akan direkrut, Milan sebaiknya menjadikannya sebagai investasi masa depan dengan cara meminjamkannya lagi ke klub lain. Jika memang serius menginginkannya, Milan jelas perlu bergerak cepat karena penyerang setinggi 1,82 meter ini dikabarkan sudah memiliki banyak peminat. Harganya juga telah melambung tiga kali lipat dalam setahun. Zaza memiliki kemiripan perjalanan karir dengan Pazzini, juga Pippo Inzaghi dan Christian Vieri. Ketiganya sama-sama mengawali karir mudanya di klub Atalanta, yang memang terkenal memiliki akademi yang bagus. 

Wednesday, March 27, 2013

Mencoba Belajar Tata Kelola Keuangan Klub Sepak Bola Indonesia (Bagian 1)



Setelah membaca salah satu ulasan yang ditulis oleh seorang komentator sepak bola ternama, saya cukup tergelitik untuk mencari tahu lebih banyak mengenai seluk beluk pengelolaan keuangan klub sepak bola tanah air.

Dalam ulasannya itu, sang pengamat menyoroti kisah Persija. Ya, dualisme memang melukai tim Macan Kemayoran ini dalam masalah pendanaan. Dualisme mempengaruhi kredibilitas klub, yang menyebabkan enggannya pihak sponsor untuk masuk. Akibatnya, gaji pemain banyak yang belum dilunasi sehingga seorang ikon mereka bernama Bambang Pamungkas mengambil keputusan untuk tidak bermain bagi Persija hingga manajemen melunasi tunggakan gaji pemain.

Kisah Persija ini adalah potret industri sepak bola tanah air yang memang masih dalam tahap belajar. Ketika regulasi mengharuskan klub untuk membiayai diri sendiri tanpa membebani pemerintah, klub seperti kebakaran jenggot. Tidak mudah bagi sebuah klub dengan mindset yang sudah terbiasa menikmati dana APBD untuk bisa langsung berdiri sendiri.

Manajemen yang profesional memang masih belum dijalankan oleh sebagian besar klub sepak bola kita. Studi kelayakan sebuah klub untuk mengukur apakah sebuah klub mampu mengikuti sebuah kompetisi penuh selama setahun juga belum ada. Luasnya negara plus bentuk kepulauan yang dimiliki Indonesia juga membebani banyak klub untuk melakukan laga away.

Dengan faktor-faktor tersebut, seharusnya klub sudah punya sumber dana yang mencukupi terlebih dulu baru mengikuti kompetisi, bukannya mencari sumber dana saat kompetisi sudah berjalan.

Pemasukan klub sepak bola terdiri dari tiket penonton, hak siar, dan kegiatan komersial. Di Indonesia, sebenarnya ketiga unsur itu sudah mampu dimanfaatkan, meski dengan jumlah yang belum dapat dikatakan besar.

Untuk klub dengan basis fans besar dan kapasitas stadion cukup besar seperti Persija, Persib, Persebaya atau Sriwijaya FC, mereka dapat menghimpun sekitar 30 ribu penonton setiap pertandingan kandang. Misalnya (jika tidak ada partai usiran) dengan jumlah partai kandang sebanyak 17 kali dan harga tiket rata-rata 25 ribu rupiah, mereka bisa maraup pemasukan kotor 12,75 miliar rupiah hanya dari tiket pertandingan. Jika dikurangi biaya perizinan, keamanan dan lain-lain, untung bersih sekitar 7-8 miliar harusnya masih bisa didapat.

Namun situasi disini masih terlalu besar ketidakpastiannya. Proyeksi pemasukan yang sudah dihitung bisa meleset jauh karena berbagai alasan. Jadwal yang sering berubah, banyaknya penonton gratisan maupun tingginya pungutan-pungutan liar boleh jadi memangkas untung bersih klub menjadi 4-5 miliar saja.

Bagaimana dengan pendapatan hak siar dan komersial? Untuk hak siar ISL, klub mendapatkan 25 juta rupiah untuk siaran langsung pertandingan di sore hari, dan 35 juta untuk malam hari (prime time). Itu teorinya. Prakteknya, dikabarkan pembayaran hak siar juga masih abu-abu disini karena permasalahan yang terjadi antara penyelenggara liga dengan stasiun televisi. Entah bagaimana cerita sebenarnya, saya tidak berani berkomentar karena saya tidak tahu jelas. Intinya, penyelenggara liga memang perlu diaudit. Dengan ketidakpastian ini, katakanlah sebuah klub bisa mendapat 1 miliar rupiah.

Pendapatan komersial adalah sesuatu yang mulai digali oleh klub-klub Indonesia. Persib adalah salah satu contoh klub dengan pemasukan sponsorship yang besar, dilihat dari banyaknya sponsor yang menempel logonya di jersey Persib. Menurut Farhan, Direktur PT Persib Bandung Bermartabat, nilai sponsorship Persib bisa mencapai 60% dari total pemasukan. Ditambah lagi, untuk mendatangkan Sergio Van Dijk yang kontraknya mencapai 4-5 miliar rupiah setahun plus fasilitas, Persib berhasil mendatangkan sponsor asing.

Let’s say klub bisa menghimpun dana sebesar 10 miliar rupiah dari ketiga sumber pendapatan tersebut. Biaya gaji masih menjadi komponen terbesar yang bisa menyedot 70% pendapatan. Jika klub memakai komposisi pemain 3 pemain asing dan 3 pemain lokal bereputasi nasional, berarti mereka menyedot sekitar 5 miliar. Lalu sisanya adalah pemain bereputasi lokal dan pemain dari akademi yang menerima kurang dari 300 juta rupiah setahun. Total biaya gaji bisa mencapai 9-10 miliar rupiah.

Kenyataannya, pendapatan klub hanya mampu meng-cover biaya gaji saja. Padahal, banyak biaya operasional seperti biaya perjalanan, akomodasi, perizinan dan lain-lain yang tidak bisa ditunda pembayarannya. Kondisi ini yang menyebabkan biaya gaji pemain tertunggak.

Kompetisi dengan spirit profesional tentu tidak boleh berjalan seperti ini. Klub harus mampu menjamin pembayaran biaya gaji pemainnya, karena regulasi yang berlaku di FIFPro, pemain yang tiga bulan tidak digaji otomatis bebas memutus kontrak dari klub. Sayangnya, yang terjadi disini adalah kebanyakan pemain tidak mengetahui dengan jelas hak dan kewajibannya sehingga mereka kerap menjadi korban. Pemain yang bertindak benar seperti Irfan Bachdim yang memilih hengkang ke Chonburi FC karena pembayaran gaji bermasalah justru dikabarkan malah dipermasalahkan.

Friday, March 22, 2013

Mattia De Sciglio Effect

The Debut


Siapakah bek kiri timnas Italia di Piala Dunia 2006? Fabio Grosso. Euro 2008? Fabio Grosso bergantian dengan Gianluca Zambrotta. Piala Dunia 2010? Domenico Criscito. Euro 2012? Federico Balzaretti atau Giorgio Chiellini atau Emanuele Giaccherini sekali melakoninya di partai pembuka kontra Spanyol.

Lalu bagaimana dengan Piala Dunia 2014?

Paolo Maldini mapan menghuni posisi bek kiri sejak Euro 1988. Sejak Maldini bergeser ke posisi bek tengah di Piala Dunia 2002, posisi bek kiri Italia terus berganti pada nama-nama yang telah disebutkan di atas. Di Piala Dunia 2014 nanti, Prandelli dihadapkan pada beberapa pilihan.

Giorgio Chiellini adalah bek kiri natural, sebelum potensi terbaiknya ditemukan di sentral pertahanan. Chiello bisa saja dimainkan sebagai bek kiri, dengan menempatkan Andrea Barzagli-Leonardo Bonucci di sentral pertahanan. Federico Balzaretti bermain apik di Euro 2012 lalu, namun tahun depan ia sudah berusia 33 tahun. Oke, usia 33 tidak terlalu masalah, namun melihat performa kurang konsisten Balza di AS Roma musim ini, rasanya Prandelli perlu mencari calon lain.

Domenico Criscito sebenarnya berpotensi besar. Ia mencicipi kompetisi Rusia bersama Zenit St. Petersburg, dan bersama Zenit, ia tampil reguler di Liga Champions, hal yang membuatnya matang. Namun karena tersangkut skandal, karir Criscito di level tinggi agak terancam. Prandelli semula akan menempatkannya sebagai pemain inti di Euro 2012 lalu sebelum kasus ini mencuat.

Kini Criscito dilanda cedera lutut yang mengharuskannya dioperasi. Bek berusia 26 tahun ini harus menepi beberapa bulan. Butuh waktu untuk mengembalikan performa terbaik sekaligus “memutihkan” nama di mata pelatih Cesare Prandelli.

Rangkaian cerita dekadensi bek kiri ini seperti menyeret seorang pemua asli Milan bernama Mattia De Sciglio ke tim nasional. Hidup itu seperti menyusuri jalan penuh persimpangan, kita tidak tahu ada apa di balik belokan kanan atau kiri kita. Begitu pula De Sciglio, perjalanannya begitu berwarna dalam dua tahun ke belakang.

Di Milan, De Sciglio juga mendapat kesempatan unjuk kemampuan setelah menurunnya performa Luca Antonini dan menuanya Gianluca Zambrotta. Di musim ini kala performa Ignazio Abate juga sempat menukik, De Sciglio memberi rasa aman bagi lini belakang Rossoneri, sekaligus memberi warna serangan Milan lewat kemampuan crossing apiknya.

De Sciglio kemudian mendapat berkah seiring peremajaan Milan. Ia diberi kostum bernomor punggung 2, nomor yang dipakai Cafu, bek kanan terbaik Milan dalam sepuluh tahun terakhir yang juga idola De Sciglio. De Sciglio adalah produk akademi Milan terakhir yang langsung “dijebloskan” ke tim inti, dan bermain secara reguler. Perjalanan karirnya sungguh mirip Paolo Maldini yang langsung paten di musim keduanya.

De Sciglio menjadi figur yang “dijual” Milan dalam profil akademi mereka. Milan seperti melupakan peran akademi ini sejak angkatan Maldini. Sebelumnya ada Michelangelo Albertazzi yang disebut-sebut berbakat, namun hingga kini masih belum mendapat kesempatan. Sejak De Sciglio menembus tim inti, Milan memang memebenahi betul sektor akademinya, ditambah fakta bahwa Milan bukanlah klub yang mampu membeli dan menggaji pemain mahal kini.

De Sciglio effect ini membuat publik mulai menyebut-nyebut Cristian Maldini, Hachim Mastour, Bryan Cristante, Simone Andrea Ganz dan juga Mattia Valoti. Mereka menanti kesempatan yang diberikan Max Allegri untuk mengenakan kostum merah-hitam.

Setelah hanya dipandang biasa saja, kini publik melihat De Sciglio secara utuh, meski kadang dengan kritikan. Debut De Sciglio di tim Azzuri akhirnya terjadi lawan Brazil (21/3) lalu setelah namanya hanya dimasukkan dalam skuat pada friendly game kontra Inggris, Agustus lalu. De Sciglio menjadi starter bersama Cristian Maggio, Barzagli dan Bonucci dalam empat bek sejajar Italia. Sebuah debut yang mungkin sulit ia lupakan.

Italia tertinggal 0-2 setelah Fred dan Oscar membobol gawang Gigi Buffon. Ironisnya, kedua gol berada di posisi kiri pertahanan, yang dihuni De Sciglio. Gol pertama memang kesalahan kolektif, namun gol kedua adalah kombinasi skill inidividu Neymar dan terlambatnya De Sciglio menutup ruang gerak Oscar.

De Sciglio akhirnya diganti Luca Antonelli di menit 74. Debut yang cukup mengesankan meski salah satu kekhilafannya berbuah gol bagi lawan. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari kesalahan itu, toh itu hanya pertandingan uji coba. Italia telah menemukan calon bek kiri handal dalam diri pemuda ini. Bek kiri handal yang berposisi natural bek kanan. Kehadirannya di sebuah turnamen seperti membawa dua pemain saja.

De Sciglio memiliki identitas Milan dalam permainannya. Ia banyak tersenyum, banyak belajar, banyak berguru. Ia juga memiliki sentuhan-sentuhan elegan khas defender Milan, seperti Maldini. Ia rendah hati dan terlihat hanya ingin fokus pada sepak bola. Ia berbadan kurus sehingga memudahkannya untuk bergerak menyusur lapangan. Badan kurusnya itu bahkan sempat menimbulkan cerita bahwa ia pernah ditolak masuk akademi Inter Milan. Betapa ruginya mereka.

Ah sudahlah, laga debut De Sciglio tetaplah fenomenal. Tidak mudah menghadang negara yang akan sangat berambisi memenangi Piala Dunia tahun depan, tidak mudah meladeni kecerdikan Neymar dan Oscar. Pelajaran langka didapat De Sciglio yang pastinya akan memekarkan karirnya bersama Italia ataupun Milan. Meski posisi starter belum dalam genggaman, pencapaian De Sciglio sejauh ini jelas sebuah cerita epik yang memang patut dijadikan contoh bagi siapapun.

Sekarang ini, nikmati saja De Sciglio effect!

Monday, March 18, 2013

Kekhawatiran Dibalik Kesuksesan KLB



Kongres Luar Biaasa (KLB) PSSI hari ini (17/3) akhirnya jadi juga dilangsungkan. Agenda penyatuan liga (dan timnas), revisi statuta dan pengembalian Exco yang semula dipecat berhasil dilaksanakan. Hasil keputusan penting juga hadir berupa pembubaran KPSI dan pengangkatan La Nyalla Mattalitti sebagai Wakil Ketua Umum PSSI. Anggota Exco juga ditambah dari 11 menjadi 15 orang.

Rekonsiliasi Sepak Bola Indonesia
Lalu apakah masalah benang kusut yang membuat sepak bola Indonesia mundur beberapa langkah dalam dua tahun terakhir ini lantas terurai? Belum tentu.

Publik sudah terbiasa dikibasi angin surga, mulai dari MoU di Kuala Lumpur dan lain-lainnya. Ketika headline media cetak maupun online memberitakan kabar baik, mereka lalu seperti harus merevisi berita sebelumnya karena rekonsiliasi selalu urung terjadi.

Pihak-pihak yang bertikai masih saja bermuka dua dimana mereka terlihat tidak ada masalah namun sebenarnya masih ingin saling menyingkirkan. Megalomania kekuasaan memang lebih banyak dipertontonkan ketimbang keinginan memperbaiki sepak bola. Praktis selama dua tahun di kepemimpinan Djohar Arifin ini, PSSI benar-benar jalan ditempat, atau bahkan mundur. Mereka sibuk mengurusi konflik level atas ketimbang membenahi sepak bola dengan benar.

Apa kabar program Akademi Nusantara? Apa kabar kompetisi yang baik? Apa kabar pengelolaan klub secara profesional jika keterlambatan pembayaran gaji pemain masih sering kita dengar.

Kekhawatiran kembali timbul karena yang memang kembali mengisi struktur organisasi PSSI hasil KLB hari ini adalah “orang-orang lama”. Indikasi ini makin terlihat ketika tiba-tiba terbersit kabar Jecksen F. Tiago bersama Rahmad Darmawan akan menukangi timnas, padahal selama ini timnas mengikuti training camp dibawah asuhan Luis Manuel Blanco.

Jika memang hal ini benar terjadi, sungguh situasi yang sangat runyam. Bagaimana bisa federasi sepak bola melakukan pergantian pelatih semudah kita mengganti menu pesanan makanan di restoran? Kesan politis kembali jelas tertangkap. Kursi pelatih adalah “mainan” dari para petinggi, sesuatu yang dengan gampangnya diangkat dan dilengserkan seperti layaknya yang Maurizio Zamparini lakukan kepada Palermo. Bedanya tindakan Zamparini tidak ada unsur politis.

Ini seperti dejavu ketika Alfred Riedl didepak setelah terbentuknya kepengurusan baru PSSI. Siapapun pengurus yang berkuasa seolah ingin “membersihkan” rezim sebelumnya tanpa melihat kompetensi yang dimiliki atau prestasi yang telah ditorehkan. Semangat berkelompok lebih kuat daripada semangat memperbaiki yang ada.

Politik dan sepak bola
Melihat fenomena ini, saya jadi teringat apa yang biasa terjadi mengenai cerita penggulingan sebuah tirani di benua Afrika. Mereka yang reformis dan revolusioner itu awalnya berjuang demi kepentingan rakyat, berjuang menggulingkan pemerintahan yang korup. Namun apa yang terjadi setelah mereka berhasil menggulingkan penguasa? Mereka mendirikan lagi tirani baru, dan mereka juga melakukan hal yang tidak berbeda dari penguasa lama.

Sudah bukan rahasia lagi jika sepak bola adalah kendaraan yang cepat untuk melicinkan jalan menuju kekuasaan. Okelah memang sulit menilai siapa benar dan siapa salah jika sudah berbicara politik. Tapi setidaknya pemimpin harus punya visi dalam memajukan apa yang dipimpinnya. Lihatlah Berlusconi atau keluarga Agnelli. Betapapun bejatnya kelakuan mereka, tapi mereka berhasil memajukan Milan dan Juventus, membuat kedua tim berprestasi dan terkenal hingga seluruh penjuru dunia. Mereka punya visi. Jangan lupakan pula peran junta militer Argentina terhadap kemenangan mereka di Piala Dunia 1978. Mereka memang mengambil banyak, tapi mereka juga memberi sebanyak yang mereka ambil.

Publik hanya peduli hasil di lapangan, seharusnya mereka tahu itu. Betapapun bejatnya kelakuan mereka, jika hasilnya sepak bola bisa maju, tidak ada yang peduli, mereka bahkan bisa dicap sebagai pahlawan, bukannya seorang despot rendahan yang hanya mengambil manfaat tanpa memberikan timbal balik berupa prestasi. Urusan moral, itu terlalu jauh untuk dipikirkan, yang penting adalah bagaimana mereka membuat sistem pembinaan yang baik alih-alih berebut menjadi penyelenggara kompetisi yang memang menghasilkan uang banyak.

Menilai Ketulusan Pengurus Lewat Pembinaan dan Kompetisi
Memang tidak ada istilah ketulusan dalam organisasi, atau (lagi-lagi) politik. Saya sendiri sudah bingung apa istilah yang tepat untuk ini. Namun jika ingin menilai apakah para pengurus yang sudah disahkan lewat KLB ini bekerja dengan benar untuk memajukan sepak bola, gampang saja, lihat saja bagaimana mereka melakukan pembinaan.

Penyatuan kompetisi memang menjadi agenda KLB, memperlihatkan betapa besarnya kepentingan banyak pihak akan kompetisi sepak bola yang memang semarak dan menjanjikan dari sisi bisnis ini. Mereka serius sekali merancang kompetisi karena arogansi sekaligus blunder pengurus Djohar Arifin dua tahun lalu yang membuat situasi kusut adalah penyelenggaraan kompetisi yang berantakan, juga proses penyatuan klub LPI dan LSI saat itu yang malah mengakibatkan klub ter-kloning.

Untuk kedepannya, meski format 18+4 (18 anggota ISL + 4 anggota IPL) sudah disepakati untuk kompetisi baru yang akan berlangsung tahun 2014 mendatang, namun standarisasi perlu dikedepankan. Persyaratan klub yang boleh mengikuti kompetisi yang telah ditetapkan oleh AFC mutlak diberlakukan. Jangan ada lagi klub yang berkompetisi dengan persiapan dan pendanaan seadanya, yang berujung terlambatnya pembayaran gaji pemain.

Dalam proses standarisasi ini, bisa jadi timbul polemik baru. Entah bagaimana nanti pengaturannya, namun boleh jadi nantinya komposisi 18+4 itu tidak benar-benar terpakai, sehingga timbul konflik laten yang kembali membuat benang kembali kusut. Semoga saya salah.

Seperti yang sudah banyak ditulis oleh para pemerhati sepak bola nasional, pembinaan pemain muda memang harga mati. Lihatlah bagaimana saingan terdekat seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Brunei yang meninggalkan kita dalam hal krusial ini. Perbaikan sistem pembinaan akan menjamin ketersediaan pemain yang siap pakai di kompetisi, dan tim nasional sebagai pengguna akhir pemain-pemain itu akan mendapatkan stok pemain berkualitas yang melimpah.

Semoga saja.

Sunday, March 17, 2013

Sepak bola Lebih Dari Klub!



Debat apakah yang paling tidak berujung di dunia? Jika anda menjawabnya debat dalam tayangan ILC, maka anda juga perlu melihat timeline twitter setiap akhir pekan: Debat mengenai klub favorit.

Klub favorit, percayalah, bisa membuat anda gila tanpa anda sadari. Anda rela menabung, membelanjakan uang, mengorbankan waktu, berkelahi dengan orang lain hanya untuk membela mereka. Dan debat mengenai klub siapa yang paling hebat seakan lebih seru ketimbang acara malam mingguan atau tahun baruan anda bersama teman-teman.

Seperti menjadi kepuasan tersendiri jika klub favorit anda memenangi laga. Anda secara sukarela memberikan sepersekian hati anda kepada mereka sehingga anda larut dalam kegembiraan ketika mereka menang padahal anda tidak ada di lapangan, anda merasa bagian dari klub padahal mereka berada ribuan kilometer dari tempat anda berpijak, anda merasa klub adalah bagian dari hidup padahal bagi klub anda hanyalah bagian dari data numerik yang disimpan rapi oleh bagian marketing tim itu.

Tapi anda tidak peduli, anda menikmatinya dan anda suka seperti itu. Itu keren dan asik. Begitulah anda berpendapat.

Terserah saja bagaimana anda menjalani hidup sendiri, atau bagaimana anda menyuruh otak untuk menyukai apapun, atau bahkan tidak menyukai apapun. Namun sepertinya banyak yang melupakan bahwa klub anda adalah bagian kecil dari sebuah dunia dan keluarga besar bernama sepak bola.

Dalam bukunya, Alex Bellos bilang kalau bagi orang Brazil, sepak bola adalah jalan hidup. Bagi sebagian penduduk bumi, semua orang Brazil bisa bermain sepak bola. Dan jika tim lokal anda ingin meningkatkan level permainan, maka kontraklah dua atau tiga orang pemain Brazil. Dengan kebiasaannya menari, berpesta dan bersantai di pantai, orang-orang Brazil memiliki kaki-kaki alamiah untuk bisa menggocek, menendang juga meliuk-liuk layaknya penari samba.

Bagi orang Brazil, sepak bola adalah kendaraan untuk meningkatkan taraf hidup sekaligus meraih kebahagiaan. Meski harus meninggalkan tanah air, meninggalkan Cahaya matahari sepanjang tahun, menjauhi pantai dan karnaval untuk bermain sepak bola di tim yang berada di belahan dunia lain, mereka rela melakukannya. Tercatat, Brazil adalah negara pengekspor pemain bola terbanyak dunia.

Lalu bagaimana jika anda mengartikan sepak bola adalah sebuah bendera klub? Klub favorit anda adalah segalanya, apapun yang melawan mereka adalah musuh anda, siapapun yang mendukung mereka adalah teman anda, anda boleh saja kalah dalam hidup namun klub anda tidak boleh kalah, anda boleh saja kalah berdebat dalam hal-hal remeh namun jika menyangkut debat klub favorit anda maka anda selalu benar.

Banalitas dan bigotry adalah hal yang kadang memang mengasyikkan, karena anda merasa bebas dan tidak peduli pada apapun selain yang anda bela. Kepuasan tersendiri juga timbul saat klub rival mengalami kekalahan, apalagi terjerembap dalam kesulitan. Seolah siapapun yang berafiliasi dan menempel pada klub rival anda itu adalah musuh anda juga, yang perkataannya harus anda debat, yang kemenangannya harus anda gugat.

Menjalani hidup seperti itu, bagaimanapun adalah pilihan (termasuk menjalani hidup cara apapun). Namun jauh dibalik segala glorifikasi atas kemenangan tim favorit yang posternya sudah menyesaki dinding kamar anda itu, ada hal yang lebih besar dan lebih berharga untuk diperjuangkan: yaitu perjuangan dan perdamaian.

Daripada memandang sepak bola melalui kacamata kuda dan menghasilkan satu bendera klub saja, alangkah lebih bermanfaat jika sepak bola dijadikan sebagai alat perdamaian seperti yang dilakukan Didier Drogba dan kawan-kawan untuk menghentikan perang saudara di negaranya, Pantai Gading. Akan lebih bermakna pula jika sepak bola dipandang secara luar biasa menjadi penyelamat hidup seorang Antonio Cassano, yang tumbuh di lingkungan kriminal di kota Bari. Jika tidak bermain sepak bola, mungki Cassano akan menjadi perusuh di setiap pertandingan yang ditontonnya.

Atau bagaimana jika kita menanyakan seperti apa sepak bola bagi seorang Bambang Pamungkas? Ia tidak peduli pada hal lain, namun hanya peduli pada kebenaran. Ia bermain di timnas meski klub melarangnya, ia menginisiasi perjuangan.

“In the field, what’s in here (name on back) is not important than what’s in here (crest on chest)” begitu kata pelatih fiksi Eric Dornhelm ketika menegur Santiago Munez saat sang pemain terus menerus membawa bola sendiri dan tidak pernah mengoper kepada kawannya. Dengan bahasa lain, Dornhelm mencoba mengajak Munez untuk berpikir lebih luas, tidak sesempit sebelumnya.

Jika anda bisa berbicara bahwa klub lebih besar daripada pemain, maka seharusnya tidak sulit berbicara bahwa sepak bola lebih dari klub.