Pages

Thursday, March 22, 2012

Menang tetap membumi, kalah tidak mencaci

Kebanyakan penggila sepakbola memiliki klub favorit, tentunya klub favorit yang ada di benua Eropa nun jauh disana. Klub-klub itu sayangnya hanya bisa sebatas membuat kita berangan-angan. Dari angan-angan bermain disana, lalu setelah tidak tercapai menjadi hanya menonton langsung di stadion mereka, dan dalam tingkatan paling realistis yaitu memiliki jersey original sampai action figure pemain-pemain yang harganya mahal itu.


Kita menyukai mereka sejak kecil, sejak mengenal sepakbola, dan kita tidak pernah berganti klub yang kita dukung. Menemukan orang berpindah-pindah klub dukungan sangat sulit dan sangat jarang terjadi, mungkin lebih jarang kasusnya daripada menemukan orang yang pindah agama atau berganti-ganti pasangan. Tentunya hal ini tidak berlaku pada orang yang memang netral alias tidak memihak klub manapun, hanya penikmat permainan sepakbola. Tidak berlaku pula pada si casual fans, alias fans musiman alias fans berpindah-pindah klub dukungan tergantung pada prestasi klub saat itu.


Kalau ditanya alasan kenapa suka sama klub itu, jawabannya beragam. "Gue suka Del Piero, makanya gue suka Juventus sampai sekarang." Ada juga yang bilang suka dengan Eric Cantona, makanya suka Manchester United. Dengan pola alasan yang sama, yaitu karena terdapat pemain favoritnya, bisa ditebak kalau anak-anak muda yang baru kenal sepakbola sekarang kebanyakan menggemari Barcelona ataupun Real Madrid, dimana dua ikon sepakbola bernama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo merumput.


Ada pula teman saya yang baru menyukai sepakbola saat sudah kuliah, dan memilih Arsenal sebagai pilihannya dengan alasan permainan sepakbola Arsenal enak dilihat. Alasan yang lebih logis, sesuai dengan umurnya. Logika sederhana seorang anak kecil tentu berbeda dengan logika seorang mahasiswa dalam menentukan pilihan. Tapi sekali menjatuhkan pilihan, nampaknya itu adalah pilihan sekali seumur hidupnya.


Saya kebetulan tipe orang penyuka sesuatu yang berhubungan dengan perlawanan dan anti kemapanan. Klub-klub seperti Athletic Bilbao, Napoli, atau Stoke City adalah klub-klub berkarakter kuat yang cocok menjadi representasi simbol dari pemberontakan, perlawanan dan penjaga kemurnian tradisi itu.


Dari ketiganya. Bilbao adalah klub yang berhasil mengambil simpati saya, dan saya yakin banyak orang yang berpikiran sama seperti saya melihat permainan mereka musim ini, terutama setelah mereka mampu menundukkan Manchester United di perempat final Europa League tahun ini.


Semua mata terperanjat kala anak-anak pegunungan di timur laut Spanyol yang hanya berpopulasi 3 juta penduduk berhasil mempecundangi klub super-besar dari kota Manchester. Bilbao adalah klub "kolot" yang memegang prinsip saklek dan mengusung semangat primordial yang kental dengan hanya memakai pemain keturunan asli Basque.


Sebelumnya, Bilbao seperti Stoke City. Satu-satunya klub Spanyol yang bermain ala Inggris. Namun, sosok Marcelo Bielsa mampu mengubah sekelompok pejuang Sparta itu menjadi sekelompok filsuf pemikir bijak Athena. Dengan fisik yang sudah lebih dari terlatih, Bielsa membumbui para awak San Mames dengan permainan umpan-umpan pendek menawan. Dengan kemurnian yang senantiasa terpelihara dan prestasi yang mulai mencuat berkat cantera berkualitas yang muncul ke permukaan saat ini, Bilbao akan mudah menjaring fans-fans baru, baik casual maupun die-hard fans.


Tapi, semua itu kembali kepada sisi unik dari sepakbola, yaitu sisi unconditional devotion. Betapapun kagumnya saya pada Bilbao, tidak cukup untuk menggeser AC Milan sebagai klub favorit saya nomor satu yang saya sukai sejak mengenal sepakbola. Bilbao mungkin jadi klub favorit saya nomor 3-4.


Namun, geli rasanya melihat tingkah sebagian saudara kita sebangsa Indonesia yang sangat agresif membela klub Eropa kesayangannya itu. Bahasa mereka sungguh indah dan puitis kala mendukung klub favoritnya, namun berubah menjadi cacian bermuatan 1 megaton bom atom saat menghina KLUB EROPA lain yang menjadi rival klub Eropa favorit mereka. Sangat sering terlihat di artikel berita terjadi perang kata-kata antar fans yang ngakunya sejati itu. Aura negatif selalu terpancar setiap membaca komentar-komentar miring itu.


Entah apa yang ada di pikiran mereka, mungkin di dunia nyata mereka tidak mampu memaki atau melabrak orang lain dan bertindak seperti jagoan, maka di dunia maya dengan nama anonim pula-lah mereka melampiaskan kekesalannya itu.


Belum puas, ada juga yang dengan niat sepenuh hati untuk membuat status berisi kebencian terhadap klub rival di facebook atau di blackberry messenger. Padahal, klub Eropa yang jauh disana itu sama sekali tidak memberi mereka apa-apa selain rasa iri kita akan hebatnya mereka. Mereka jauh disana, dan tidak ada hubungannya dengan kita di Indonesia. Tidak jarang pula kita mendengar kabar miris soal keributan yang terjadi setelah acara nonton bareng klub Eropa itu, bahkan cerita itu juga terjadi saat perhelatan Piala Dunia 2010 lalu saat orang Indonesia yang menjadi supporter negara lain terlibat perkelahian. Ayolah, Anda semua orang Indonesia, bukan orang Inggris atau orang Jerman. Get a life.


Pemandangan yang tidak asik di twitter hampir di setiap berakhirnya sebuah big match adalah saling mengejek. Saya juga melakukannya just for fun. Saya enjoy sekali meledek Juventus, Inter Milan atau Real Madrid. Tapi ya hanya sebatas itu, tidak membenci mereka dan tidak juga mencaci pendukung mereka. Jika mereka meledek bahkan mencaci AC Milan-pun bukan urusan saya. Tidak ada keinginan untuk berkelahi dengan fans klub rival jika bertemu dijalan, tidak terbersit juga untuk mengotori timeline orang lain dengan sumpah serapah yang tidak mendidik.


Mungkin sudah banyak yang menulis tema seperti ini. Saya hanya menambahkan dan mendukung kampanye positif itu, demi pendidikan yang baik bagi para suporter. Jadilah suporter bijak yang jika menang tetap membumi dan jika kalah tidak mencaci. Karena pertengkaran besar banyak yang berawal dari cacian-cacian kecil. Semoga para akun kelompok supporter sering juga mengkampanyekan jargon positif ini. Come on guys, you can do better than that!

Tuesday, March 20, 2012

Harusnya Sepak Bola Tidak Membunuh Pemainnya

Dari tujuh miliar populasi dunia saat ini, situs sportbusiness.com mengungkapkan bahwa final Piala Dunia 2010 antara Spanyol melawan Belanda disaksikan oleh lebih dari 700 juta orang dari layar kaca. Dapat dikatakan bahwa 1 dari 10 penduduk dunia ini menyaksikan final kejuaraan sepak bola terakbar dunia tersebut.

Dua negara kontestan yaitu Spanyol dan Belanda masing-masing memiliki 15,6 juta dan 12,2 juta penonton, yang berarti sepertiga dan setengah dari warga kedua negara tersebut menyaksikan partai yang dimenangi Spanyol ini melalui layar kaca.

Fakta tersebut hanya sedikit dari fakta bahwa sepak bola adalah olahraga paling digemari di dunia. Apapun yang terjadi di dunia si kulit bundar tidak akan luput dari perhatian warga bumi.

Sepak bola kini bukan menjadi olahraga semata. Kecintaan publik terhadap olahraga ini menjadikannya bisnis yang sangat menguntungkan. Lihat saja penerimaan klub terkaya dunia Real Madrid yang menurut Deloitte mencapai 436.8 juta euro pada musim 2009/2010 lalu.

Perputaran masif uang di dunia sepak bola tidak juga dipandang sebelah mata oleh kalangan politisi Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia mana pun sepak bola juga menarik para elite politik. Dari zaman diktator fasis Benito Mussolini yang mengancam akan melemparkan pemain Italia ke Colloseum untuk bertarung sebagai gladiator jika mereka kalah di final Piala Dunia 1934, hingga seorang raja media bernama Silvio Berlusconi yang melapangkan jalannya menjadi Perdana Menteri Italia setelah berjaya di klub AC Milan menunjukkan bahwa sepak bola telah menjadi bagian besar dari sejarah dunia.

Industrialisasi sepak bola yang sangat kental di Eropa dimulai saat digelarnya Liga Champions untuk menggantikan Piala Champions. Lennart Johansson, Presiden UEFA kala itu di tahun 1992 membuat terobosan untuk merubah format kejuaraan antar klub terbesar Eropa tersebut.

Jika semula Piala Champions hanya diikuti oleh juara liga domestik saja dan berformat sistem gugur, kali ini UEFA mengizinkan negara-negara berperingkat koefisien tinggi untuk mengirimkan lebih banyak wakilnya. Imbasnya, pertandingan yang digelar menjadi semakin banyak, yang tentu saja membuat perputaran uang menjadi semakin menggila.

Kalender pemain makin padat jika menghitung tambahan uji coba internasional, kejuaraan antar negara, Piala Konfederasi, dan Piala Dunia antar klub yang diperbaharui formatnya. Pemain menjadi tak ubahnya sapi perah.

Meningkatnya frekuensi pertandingan membuat klub bermain lebih banyak, otomatis para pemain yang terkena imbas langsung, karena merekalah pelaku sepak bola sebenarnya di lapangan. Gaji mereka memang besar, namun fisik mereka terkuras luar biasa.

Contohnya, pemain seperti Wesley Sneijder di tahun 2010 memainkan lebih dari 60 pertandingan semusim, karena selain bermain di kompetisi domestik, klubnya yaitu Inter Milan juga melaju hingga partai puncak Liga Champions, plus keikutsertaannya hingga final Piala Dunia 2010 bersama Belanda.

Sejak saat itu, performa Sneijder menurun karena faktor kelelahan dan cedera. Banyak pula Sneijder-Sneijder lain yang menurun performanya karena terlalu dieksploitasi tenaganya. Pemain muda Arsenal Jack Wilshere juga hingga kini mengalami cedera panjang akibat terlalu dipaksakan bermain musim lalu.

Namun, satu hal yang lebih mengkhawatirkan daripada sekadar penurunan performa dan cedera adalah nyawa pemain itu sendiri. Saya sedih mendengar kabar Fabrice Muamba terkena serangan jantung pada partai Piala FA akhir pekan lalu, yang masih membuatnya kritis.

Mari kita tengok berapa pemain yang kehilangan nyawanya di lapangan hijau. Sejak awal tahun 1900, 79 pemain kehilangan nyawanya di lapangan, baik di pertandingan resmi maupun pada waktu latihan, baik terkena serangan jantung maupun menjadi korban insiden tersambar petir atau akibat benturan keras dengan pemain lain.

Dari 79 tragedi pejuang yang tercatat meninggal di lapangan tersebut, 50 tragedi di antaranya terjadi di atas tahun 1990 hingga sekarang. Angka ini berarti setengah dari korban jiwa jatuh dalam dua dasawarsa terakhir, yang menunjukkan bahwa jumlah pemain yang meninggal di lapangan semakin meningkat.

Saya tidak tahu pasti mengenai validitas data, bisa saja total 79 pemain itu hanyalah yang tercatat resmi , sementara masih banyak yang mungkin tidak tercatat.

Belum lagi kejadian yang terjadi di pertandingan tidak resmi, seperti yang menimpa beberapa selebriti tanah air yaitu almarhum Benyamin S. dan almarhum Adjie Massaid yang meninggal dunia setelah bermain sepak bola.

Belum cukup, saya juga beberapa kali mendengar kisah memilukan dari lapangan hijau dari kenalan-kenalan saya. Anda juga mungkin pernah mendengarnya dari kenalan-kenalan Anda.

Saya bukan seorang yang ahli di bidang kesehatan, namun dari data di atas dapat kita lihat bahwa sepak bola adalah olahraga yang berisiko tinggi dan berkategori olahraga berat. Sepak bola hanya layak dimainkan oleh orang yang sehat.

Dampak kematian akibat memainkan olahraga ini menunjukkan bahwa olahraga ini berisiko menyerang organ vital tubuh dan berakibat kematian. Padahal, pemain sepak bola profesional terbiasa hidup sehat, banyak berlatih dan asupan gizinya cukup. Jika kontrol klub akan kesehatan pemainnya sudah relatif baik, mungkin di sistem sepak bola itu sendirilah ada yang salah.

Frekuensi pertandingan yang tinggi, tekanan dari pihak klub tempat bermain, maupun tekanan dari supporter membuat pemain menjadi tertekan. Di era yang mengutamakan hasil akhir ini, para pemain seolah diwajibkan untuk berusaha lebih keras di lapangan, bahkan hingga mati di lapangan.

Padahal, hidup sang pemain sendiri bukanlah melulu tentang sepak bola. Pemain juga punya keluarga yang bergantung pada mereka. Kita harus melihat lebih dalam bahwa nyawa manusia lebih berharga dibandingkan dengan sepak bola itu sendiri.

Haruskah industri sepak bola terus menutup mata terhadap keselamatan para pelakunya? Haruskah FIFA dan badan-badan yang bernaung di bawahnya terus mengeksploitasi tenaga pemain tanpa batas?

Cepat sembuh, Fabrice Muamba. #prayformuamba

Wednesday, March 14, 2012

Pavel Pogrebnyak, kembalinya si anak hilang

“Seorang striker, bagaimanapun akan dinilai dari berapa gol yang dia cetak, untuk itulah dia bermain.” Demikian ungkapan yang saya curi dengar dari seorang pelatih sebuah tim amatir di dekat tempat tinggal saya, saat dia sedang menasihati strikernya, yang sering sekali membuang-buang peluang.
Entah apa yang dikatakan seorang pelatih terhadap dua striker mahal Liga Primer Inggris, Fernando Torres dan Andy Carroll mengenai seretnya gol mereka sejak didatangkan dengan harga fantastis pada bursa transfer musim dingin tahun lalu. Torres dan Carroll bukanlah striker jelek, mereka adalah mesin gol di klub terdahulu mereka, namun melempem di klub barunya.

Tidak terpikir sedikitpun oleh petinggi Chelsea dan Liverpool saat itu untuk mengontrak seorang striker asal Rusia bernama lengkap Pavel Viktorovich Pogrebnyak. Pogrebnyak memang nama yang masih asing bagi penggemar sepakbola, ditambah lagi dengan sulitnya melafalkan namanya yang sangat Rusia sekali. Padahal, pemain inilah yang semula akan menjadi ujung tombak utama tim nasional Rusia saat akan menghadapi kompetisi Euro 2008. Sayangnya, Pogrebnyak mengalami cedera saat latihan, yang kemudian mengubur impiannya bermain di kejuaraan antar negara terakbar di benua biru itu.

Penampilan Rusia tanpa Pogrebnyak di kejuaraan yang berlangsung di Austria dan Swiss tersebut ternyata tetap memikat. Mereka mampu melaju hingga babak semifinal, tempat dimana pemain asal klub Zenit St. Petersburg bernama Andrei Arshavin mencuri perhatian dunia pertama kali. Penggantinya, yaitu Roman Pavlyuchenko juga tampil baik di kejuaraan tersebut. Setelah kejuaraan itu, Arshavin dan Pogrebnyak kemudian diboyong oleh dua klub kota London yang berseberangan. Arshavin ke Arsenal, Pavlyuchenko ke Tottenham Hotspurs. Sejak saat itu,Pavel Pogrebnyak dilupakan.

Setelah sembuh. kepindahannya ke Bundesliga bersama Vfb Stuttgart ternyata malah menurunkan level permainannya. Selama dua setengah tahun, Pogrebnyak hanya mampu mencetak 15 gol dari 68 pertandingannya bersama klub di kota produk mobil Mercedez-Benz diproduksi yang pernah diperkuat oleh the 90’s magic triangle Krassimir Balakov, Giovane Elber, dan Fredi Bobic tersebut.

Penciuman tajam Martin Jol yang akhirnya membawa Pogrebnyak ke Craven Cottage. Fulham yang tengah dililit masalah ketajaman memang membutuhkan seorang striker yang memiliki kemampuan finishing touch yang baik. Tidak puas dengan performa Bobby Zamora, Jol yang pernah mengenal Pogrebnyak karena sempat melatih Hamburger SV itu kemudian meminjam Pogrebnyak dari Stuttgart hingga akhir musim. Hal ini membuatnya melepas Zamora ke Queens Park Rangers.

Tidak disangka, striker berusia 28 tahun ini justru menemukan sinarnya di kompetisi Premier League. Dia mampu mencetak 5 gol dari 3 pertandingan awalnya, termasuk sebuah hattrick ke gawang Wolverhampton Wanderers dua pecan lalu. Ajaibnya, 5 gol tadi tercipta hanya dari 7 percobaan tembakan ke gawang lawan. Dari statistik tersebut terbukti bahwa Pogrebnyak adalah striker yang sangat efisien dalam memanfaatkan peluang. Dia mungkin tidak banyak mengancam gawang lawan dan bukanlah pemain yang bisa sendirian memenangkan pertandingan, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ketajamannyalah yang akhirnya menolong timnya meraih poin demi poin. Dia telah memenuhi tugas utamanya sebagai seorang striker, yaitu mencetak gol.

Rezeki memang rahasia Tuhan, memang terlalu dini menyebut Pogerbnyak sudah sukses di Liga Inggris hanya dari beberapa pertandingan saja. Belum terbacanya permainan striker besar ini memang menjadi berkah baginya, namun jika lawan-lawan Fulham mampu menganalisa lebih dalam permainan sekaligus menemukan kelemahan Pogrebnyak, masa sulit siap menanti. Pogrebnyak bukanlah tipe striker yang mampu menciptakan peluang mencetak golnya sendiri lewat aksi-aksi magis macam Zlatan Ibrahimovic, dia butuh dukungan penuh dari rekan-rekannya. Jumlah tembakannya yang hanya tujuh kali dalam tiga laga menunjukkan bahwa Pogrebnyak bukanlah pemain yang kerap mengancam lini pertahanan lawan. Efisiensinya dalam memanfaatkan peluanglah yang perlu diwaspadai.

Bagaimanapun juga, Pogrebnyak memiliki modal untuk menjadi striker yang sukses di Inggris. Postur yang tinggi kekar membuatnya memiliki kekuatan untuk beradu fisik dengan para defender besar yang menghadang. Keatletisannya jika dikombinasikan dengan kecepatan lari, kekuatan tendangan kaki kiri dan efektifitas pemanfaatan peluang akan membuatnya menjadi seorang striker komplit.

Pogrebnyak memang masih perlu banyak hal untuk membuktikan diri. Level permainannya memang belum pantas disamakan dengan Robin Van Persie yang berpredikat sebagai striker terbaik saat ini di level top flight, namun dengan lima golnya dari tiga pertandingan, sudah lebih dari cukup untuk membuat publik Inggris meng-googling namanya dan tabloid olahraga Inggris mulai memasangnya sebagai pusat pemberitaan. Jangan kaget pula jika para penggemar permainan fantasy premier league akan mulai memasang dirinya sebagai salah satu striker di tim khayalan mereka.

Setelah Kamerad Arshavin sudah mulai lelah karena hanya menghangatkan bangku cadangan dan Kamerad Pavlyuchenko sudah mudik ke Lokomotiv Moscow, kini nantikan aksi kompatriot mereka. Si anak hilang telah kembali, Kamerad Pogrebnyak.

Friday, March 9, 2012

Maaf, tidak ada tragedi Emirates

Kemenangan dengan skor besar sudah sewajarnya dirasakan dengan suka cita. Apalagi jika kemenangan terjadi didepan publik sendiri. Merayakan kemenangan bersama fans yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan adalah perasaan ekstasi bagi semua pemain.

San Siro adalah rumah besar sepakbola Italia. Stadion terbesar di Italia yang menjadi kandang AC Milan dan Internazionale Milan ini menjadi saksi bisu kejayaan kedua klub besar di kota mode tersebut. Pada pertandingan 1st leg Liga Champion, publik San Siro disuguhi permainan memikat dari Milan. Tanpa ampun, I rossoneri menghajar Arsenal empat gol tanpa balas.

Kekalahan di partai terakhir Thierry Henry sebelum kepulangannya ke New York Red Bulls tersebut sangat memukul Arsenal, dan menipiskan harapan satu-satunya wakil Inggris yang tersisa di kompetisi terbaik benua biru ini. Bagaimanapun, sulit untuk membalikkan ketertinggalan empat gol.

Namun Arsenal juga menyadari sepenuhnya bahwa Milan adalah klub limbung yang mudah menderita banyak gol justru saat mereka tengah diatas angin. Jika dalam ajang Liga Champions banyak menyajikan kisah come-back paling menabjubkan, nama Milan selalu disebut banyak orang. Sayangnya, Milan selalu menjadi korban dari semangat come-back dramatis tersebut. Tragedi Riazor 8 April 2004 dan tragedi Istanbul 25 Mei 2005 tak pelak adalah dua tragedi terbesar yang menodai kesuksesan Milan di ajang Liga Champions. Fans Milan juga sudah mengantisipasi hal ini dengan tidak terlalu banyak berpesta setelah kemenangan 4-0 di San Siro.

Seolah menyadari bahwa lawannya adalah tim yang mudah menderita banyak gol setelah unggul jauh, Arsenal langsung memasang jurus serangan frontal sejak pertandingan dimulai. Apalagi, pelatih Max Allegri justru sangat berani menurunkan tiga orang penyerangnya sekaligus di pertandingan yang rentan ini. Bak petinju yang sedang lengah, Milan menerima pukulan telak bertubi-tubi dari petinju yang tengah bersemangat bernama Arsenal. Pertandingan baru memasuki menit ke tujuh, bek Laurent Koscielny menanduk sepak pojok untuk membuka skor menjadi 1-0 untuk tim London utara tersebut.

Dejacu akan terulangnya tragedi Riazor seolah terbayang di kepala fans Milan. Saat itu, Walter Pandiani berhasil mencetak gol cepat di menit ke enam untuk membawa Super Depor unggul, dan menutup babak bertama dengan keunggulan 3-0 untuk klub yang saat itu diasuh oleh Javier Irureta. Persis terulang di Emirates Stadium, sepakan mendatar Tomas Rosicky dan penalti Robin Van Persie membawa Arsenal unggul 3-0 di babak pertama, sangat persis dengan tragedi Riazor. Fans Milan di seluruh dunia pasti terdiam saat itu, dan banyak pula yang tidak menonton lanjutan babak kedua karena tidak sanggup lagi menghadapi tragedi berikutnya.

Entah apa yang diucapkan Allegri saat team-talk di ruang ganti. Di babak kedua, Milan bermain sangat berbeda, mereka lebih tenang dan perlahan mampu mengambil alih kendali permainan. Beberapa peluang mereka ciptakan melalui Zlatan Ibrahimovic maupun Antonio Nocerino. Lini pertahanan yang bermain sangat buruk di babak pertama kini menjadi stabil seperti layaknya yang mereka biasa pertontonkan sebagai layaknya pimpinan klasemen Seri a. Penyelamatan super Christian Abbiati terhadap peluang yang dimiliki Robin Van Persie, striker yang dianggap terbaik dunia saat ini, kemudian menutup kisah perlawanan heroik The Gunners, yang urung menjadi sebuah another epic come-back story. Max Allegri berkomentar bahwa kekalahan ini memang memalukan namun melegakan.

Tragedi Riazor dan tragedi Istanbul tidak jadi terulang bagi awak Milanello. Mereka memang kembali tampil bagaikan petinju limbung yang menganggap enteng lawannya, namun mentalitas mereka berbicara bahwa tragedi tidak boleh terulang untuk ketiga kali. Tidak ada tragedi Emirates, dan keadaan menjadi baik-baik saja bagi klub milik Silvio Berlusconi itu. Badai telah berlalu dan kapal mereka yang semula oleng kini telah back on track.

Milan kini telah mengatasi trauma tragedi come-back sekaligus tradisi selalu kalah dari tim asal Inggris dalam dua tahun terakhir. Namun keberhasilan ini sekaligus tamparan bagi Milan karena bukan seperti inilah permainan tim yang mengincar gelar juara Liga Champions. Kekalahan di Istanbul dari Liverpool terjadi setelah di partai semifinal mereka hanya unggul gol agregat di kandang PSV Eindhoven akibat kekalahan 1-3 di Phillips Stadium setelah sebelumnya unggul 2-0 di San Siro atas tim yang saat itu masih diperkuat Park Ji Sung tersebut.  

Hasil di San Siro terbukti sangat membantu mereka. Walaupun mereka ke Emirates dengan bermodal kemenangan 4-0, namun Arsenal bukanlah tim sama seperti yang mereka pukul di San Siro. Arsenal bermain dengan modal kemenangan sensasional 5-2 atas Tottenham Hotspurs dan 2-1 atas Liverpool. Kemenangan yang membuat The Gunners kian mantap untuk kembali ke empat besar liga Inggris, walaupun mereka kini terancam untuk kembali tidak mengangkat trofi di akhir musim.

Milan menunjukkan bahwa sikap menganggap enteng lawan bukanlah sikap yang tepat, sementara Arsenal member pelajaran bahwa sikap pantang menyerah membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Selamat untuk Milan, salut untuk Arsenal.

Tuesday, March 6, 2012

Rumah Sepakbola

Masih segar dalam ingatan kita saat seorang pemain yang saat itu kurang terkenal bernama Fabio Grosso melangkah maju menghadapi seorang kiper berpengalaman bernama Fabien Barthez dalam sebuah tendangan penalti. Grosso melangkah mantap lalu menendang dengan keras kearah kiri Barthez tanpa mampu dihalaunya. Selebrasi lalu menggema dan mencapai puncaknya saat kapten Fabio Cannavaro mengangkat trofi Piala Dunia. Cuplikan tersebut adalah saat-saat tim nasional Italia menjuarai Piala Dunia tahun 2006 setelah mengalahkan Perancis dalam drama adu penalti.

Banyak pula yang tahu bahwa pada tahun yang sama, kompetisi seri a Italia diguncang skandal pengaturan skor yang masif, terkenal dengan sebutan calciopoli. Saat itu, gelar juara yang disandang Juventus selama dua musim beruntun dicabut. Para pelaku kejahatan tersebut dihukum berat. Banyak yang beranggapan sepakbola Italia saat itu mencapai titik nadir, dan kesebelasan mereka mengikuti Piala Dunia 2006 tepat setelah "musim beracun" itu berakhir.

Tidak ada yang menyangka Italia mampu berbicara banyak di Piala Dunia setelah kondisi mengenaskan menimpa kompetisi tertinggi mereka. Tapi apa yang terjadi? Cobaan yang mereka terima justru membuat timnas Azzuri tampil bak singa terluka. Mereka bertarung dengan cerdas dan berani sehingga mampu meraih gelar Piala Dunia keempat mereka. Perolehan tertinggi kedua setelah Brasil yang sudah lima kali merebut supremasi tertinggi sepakbola dunia tersebut.

"What doesn't kill you makes you stronger." Kita sering mendengar ungkapan tersebut. Kesebelasan Italia di Piala Dunia 2006 menggambarkan situasi tersebut. Sepakbola Italia dihajar dan degerogoti oleh anak bangsanya sendiri, namun hal itu nyatanya tidak membunuh mereka. Mereka menjawab segala tudingan dengan cara paling elegan yaitu dengan menjuarai Piala Dunia. Hal ini juga mengulangi cerita Piala Dunia 1982 dimana Italia menjuarai turnamen yang diselenggarakan di Spanyol tersebut setelah pemain-pemain mereka diguncang skandal suap.

Rangkaian kejadian ini mengingatkan saya pada sepakbola Indonesia. Bedanya, segala kisruh sepakbola kita justru bukannya membuat tim nasional kita berjaya, tapi justru luluh lantak di kualifikasi Piala Dunia, dan mencapai titik terendahnya dengan kekalahan sepuluh gol tanpa balas dari Bahrain. Kekalahan terburuk sepanjang sejarah timnas.

Kita memang tidak bisa menyamakan diri dengan bangsa Italia. Bangsa mereka memang sudah maju sejak dulu zaman kekaisaran romawi. Mereka bisa langsung mengambil sikap yang tepat untuk segera bangkit dari keterpurukan. Konflik yang dihadapi merekapun berbeda dengan yang tengah kita hadapi sekarang.

"Indonesian Football is a sleeping Giant, I hope someday will awaken. It's a shame, all the money goes to the top, little at the bottom." Begitulah kata seorang Tom Byer dalam twitnya tentang sepakbola Indonesia dan pengurus-pengurusnya. Banyak pihak yang memang terus menidurkan sepakbola Indonesia demi terpenuhinya kepentingan-kepentingan mereka. "They don't want to invest on youth, they only want to own ISL and IPL." Lanjutnya.

Ternyata banyak pihak disini yang memang hanya mencari keuntungan semata tanpa berdedikasi untuk membangun sepakbola Indonesia. Pembinaan pemain muda memang gak memberi mereka keuntungan besar layaknya mengurusi kompetisi tertinggi, tapi ini adalah embrio kesuksesan di masa depan. Tom Byer menciptakan terobosan-terobosan yang mengesankan di dunia pengembangan pemain muda, yang terbukti hasilnya di Jepang. Sekarang dunia mengakui kualitas pemain-pemain seperti Shinji Kagawa, Keisuke Honda atau Ryo Miyaichi. Mereka adalah hasil dari program Tom Byer, yang tentunya juga berhasil membawa Jepang tampil reguler di Piala Dunia.

Namun segala pembinaan tersebut tentu saja butuh investasi yang mahal. Lalu dengan CV-nya yang mentereng itu, Tom Byer datang mengetuk para calon investor Indonesia. Apa yang dikatakan oleh para calon investor itu? "Tom, kami ingin sukses yang instan, dan program pembinaan Anda tidak profitable buat kami. Lebih baik kami invest ke kompetisi ISL atau IPL saja."

Kita semua tahu kalau sepakbola ibarat sebuah rumah. Jika tim nasional adalah atap, kompetisi adalah bangunan, dan pembinaan pemain muda adalah fondasi, serta PSSI adalah arsitek bangunannya sudah jelas kita keropos di fondasi dan bangunannya. Tidak ada rumah yang mampu berdiri tanpa fondasi yang kokoh, bangunan yang sesuai dan arsitek yang handal. Jadi, untuk saat ini beginilah "rumah sepakbola" kita. Silahkan menilai sendiri bagaimana kedepannya.

Bangkitlah sepakbola Indonesia!
@aditchenko

Monday, February 27, 2012

Mengamati Polesan Marcelo Bielsa di Athletic Bilbao

Si Gila dan Fanatik Sepakbola
Saya pernah membahas mengenai semangat primordial di klub asal provinsi Basque, Athletic Bilbao, tempat semangat seperti ini adalah satu-satunya hal menarik yang bisa dibahas jika membicarakan mereka. Tapi tidak di musim ini.

Musim ini bisa dibilang adalah musim yang hebat bagi Bilbao, karena hingga saat ini mereka menduduki peringkat keempat yang berarti mereka menduduki zona kualifikasi Liga Champions. Bicara statistik sejarah, Bilbao adalah tiga serangkai klub La Liga yang belum pernah terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi Spanyol bersama Real Madrid dan Barcelona. Bilbao sudah delapan kali menjuarai La Liga.

Kebijakan terkenal dari klub ini adalah penggunaan pemain muda dari akademi sendiri, dan tentunya hanya mereka yang berasal dari Basque. Transfer pemain pun hanya melibatkan pemain kelahiran Basque, yamg artinya mereka hanya bisa bertransaksi dengan Osasuna dan Real Sociedad di kasta tertinggi liga Spanyol. Tidak memberikan banyak pilihan, bukan?

Basque, yang wilayahnya berada di utara Spanyol, memang menyimpan potensi separatisme. Semangat primordial yang boleh jadi tercetus karena kekecewaan yang dialami akibat pemerintahan diktatorial Jenderal Francisco Franco. Di provinsi ini, hanya Athletic Bilbao yang memegang kebijakan ini. Sementara klub dari Basque lainnya seperti Real Sociedad dan Osasuna membolehkan pemain dari luar Basque untuk bermain di skuadnya.

Bicara prestasi, Bilbao tidak pernah bisa menggusur dominasi duopoli Madrid dan Barcelona dalam dua dekade belakang. Terakhir Bilbao menjuarai La Liga adalah saat saya baru umur setahun yaitu tahun 1984. Di tahun ini pula mereka merebut Copa del Rey dan Piala Super Spanyol.

Selanjutnya, paling keren mereka hanya menjadi runner up La Liga 1998 dan terakhir runner up Copa del Rey dan Piala Super Spanyol 2009.

Semua berubah seiring kedatangan pria asal Argentina bernama Marcelo Bielsa. Bielsa, yang dijuluki El Loco adalah pelatih detail dengan kemampuan taktik luar biasa, serta fanatik dengan sepak bola menyerang. “Sepak bola menyerang adalah cara paling sederhana untuk memenangkan pertandingan dan meraih sukses.” Demikian pernyataan Bielsa mengenai filosofinya dalam melatih.

Simak komentar Iker Muniain, bintang muda Bilbao soal Bielsa ketika wartawan menanyai dia mengenai "kegilaan" Bielsa. "Menurut Anda, Bielsa gila? Tidak.. Tidak benar. Dia lebih gila lagi!" Bagaimana tidak gila, Bielsa sudah menonton ratusan mungkin ribuan video pertandingan sepakbola. Bielsa kabarnya pernah menyuruh pihak klub untuk mengguyur lapangan hingga basah karena mendengar kabar cuaca dia pertandingan Bilbao berikutnya akan berada dalam kondisi hujan!

Sewaktu menangani tim nasional Argentina dan Chili, dia menggunakan formasi 3-3-1-3. Ada alasan di balik pemakaian formasi itu. Biela selalu ingin ada seorang spare-man dalam timnya. Tiga bek versus dua striker lawan, lima gelandang versus empat gelandang lawan, tempat formasi 4-4-2 lazim digunakan di Amerika Latin.

Chili terbukti mampu lolos ke Piala Dunia 2010 setelah delapan tahun absen dari kejuaraan sepak bola terakbar di dunia itu. Tapi di Spanyol, Bielsa bukanlah menghadapi tim dengan mayoritas formasi 4-4-2, melainkan 4-2-3-1. Situasi yang lebih kompleks.

Itulah sebabnya Bilbao mengalami start yang lambat. Dua poin dari lima pertandingan awal adalah hasil dari polesan Bielsa. Metode yang sulit dipahami, mutasi posisi dan proses adaptasi membuat Bilbao mengalami start buruk.

Namun lihatlah di mana mereka sekarang. Bielsa kini mendapat buah dari metode uniknya. Javi Martinez bermain baik di sentral pertahanan walaupun posisi naturalnya adalah seorang holding midfielder.

Bielsa beralasan bahwa menempatkan pemain dengan kemampuan olah bola prima macam Martinez akan memudahkan timnya untuk membangun serangan. Bielsa menuntut beknya untuk tidak sekadar menjadi seorang ball-winner, tapi juga seorang ball-player.

Martinez adalah seorang pemain tengah komplet dan mulai diandalkan di tim nasional Spanyol, namun potensinya untuk menjadi center back coba dimaksimalkan oleh Bielsa. Tingginya yang nyaris dua meter membuatnya mudah untuk memenangi bola atas. 

Berpasangan dengan Fernando Amorebieta dan Mikel San Jose di lini pertahanan membuat pertahanan Bilbao menjadi kokoh.

Bielsa juga mengubah total pendekaan permainan Bilbao. Tim yang semula lebih mirip Stoke City diubahnya menjadi mirip Barcelona. Penguasaan bola dan umpan-umpan pendek cepat menjadi hal mutlak yang diinginkan Bielsa dari anak asuhannya di setiap pertandingan.

Kini Fernando Llorente adalah alternatif yang bisa dicoba oleh Vicente Del Bosque untuk mengatasi problem lini depan Spanyol yang absen ditinggal David Villa, serta absen ditinggal ketajaman Fernando Torres.

Llorente kini telah menjadi penerus Ismael Urzaiz, bomber Bilbao tahun 90-an. Jika dulu Urzaiz selalu ditopang oleh Julen Guerrero sebagai playmaker dan dua sayap Joseba Etxeberria dan Francisco Javier Yeste, kini Llorente didukung oleh Ander Herrera, Iker Muniain dan juga Oscar De Marcos.

Kini, Bilbao menjadi tim paling produktif di liga Spanyol, tanpa menghitung Real Madrid dan Barcelona. Regenerasi Bilbao yang seolah tidak pernah kehabisan bakat alam inilah yang membuat Bielsa menerima tawaran melatih tim ini ketimbang melatih Inter Milan di awal musim 2011/2012.

Permainan pendek dan cepat, pemakaian pemain muda, serta semangat Basque akan menghasilkan sesuatu bagi Bilbao musim ini dan di masa depan. Bakat istimewa, kultur yang kuat dan pelatih hebat akan menjadikan Bilbao sesuatu di musim ini, sesuatu yang mungkin saja bisa diambil dari mereka jika Bielsa pergi musim depan. Ya, musim depan Bilbao bukan tidak mungkin mengganggu Madrid dan Barcelona, jika mereka membenahi lini pertahanannya.

Hasil kerja Bielsa di Bilbao memang menarik banyak pihak, bahkan pihak sebesar Barcelona dan Real Madrid. Jika ingin kompetisi La Liga lebih berwarna dan lebih sulit ditebak, Bilbao harus melakukan segala cara untuk mempertahankan Bielsa. Hal ini juga demi menyelamatkan kompetisi La Liga dari duopoli Barca-Madrid.

Friday, February 24, 2012

Milan (tidak) Tergantung Ibrahimovic

Semasa kecil di lapangan sepak bola, sudah tercipta image bahwa yang paling jago di lapangan adalah seorang striker. Striker dalam sebuah tim sepak bola anak-anak biasanya adalah sosok yang memiliki keunggulan fisik dibanding teman-temannya. Lari cepat, tendangan keras, gocekan mantap adalah skill wajib yang dimiliki striker cilik demi mendapatkan respek dari kawan dan lawan. Ditambah ego besar, karena dirinya selalu ingin menjadi yang terbaik, ingin dipandang dan menjadi pemimpin tidak resmi dimata kawan-kawannya.

Tapi, orang macam ini biasanya punya kelemahan yang nyata yaitu sifat pemarah. Kekuatannya tidak akan ada artinya jika emosinya terpancing. Provokasi lawan atau kegagalan mencetak gol sering kali membuat pemain hebat ini justru merugikan tim sendiri.

Saya punya teman masa kecil yang memiliki sifat persis seperti itu. Memiliki sepasang kaki yang kokoh dan sifat yang selalu ingin dipuji, teman saya itu sering membuat lawan gentar dengan kekuatan tendangan dan determinasinya.

Namun di banyak kesempatan, terutama dalam pertandingan besar, teman saya ini tidak mampu mengontrol emosinya. Berkelahi di lapangan tidak jarang dilakukannya, walaupun setelah itu dia menyesal.

Siapa yang tidak kenal Zlatan Ibrahimovic. Milan sungguh beruntung memiliki striker jangkung yang punya skill olah bola ajaib ini yang membuatnya dijuluki Ibrakadabra. Ibra diakui dunia sebagai striker dengan skill terbaik, walaupun sering terkesan malas mengejar bola.

Meski peran utamanya adalah sebagai finisher, justru dia sering memberi assist yang berkelas. Di Milan versi Max Allegri, Ibra memiliki tuntutan permainan yang berbeda.

Allegri memang mengakui bahwa dia menjadikan Ibra sebagai pusat permainan timnya. Memberikan bola kepadanya lalu menjadikannya pencetak gol utama. Di banyak kesempatan, muncullah Ibradependencia atau ketergantungan pada Ibra.

Namun di Milan, Ibra tidak melulu diberi peran mencetak gol. Jika sedang diserang, Ibra sering terllihat membantu pertahanan, kadang pula dia menjadi seorang false-nine, bahkan false-ten yang membuat lawan sulit menjaganya. Milan-nya Allegri adalah Milan yang dinamis.

Allegri menyukai pemain-pemain yang banyak berlari dan aktif melakukan pressing. Karena itulah pemain-pemain seperti Mark Van Bommel, Kevin Prince Boateng, dan Antonio Nocerino menemukan mojo-nya di Milan, sementara pemain stylish macam Andrea Pirlo dibuang.

Memiliki Ibra adalah jaminan memenangkan gelar liga, dan itu sudah terbukti di sepanjang kariernya. Kini manajemen membidik target lebih tinggi lagi yaitu gelar Scudetto dan juga Liga Champions, ketika Ibra belum pernah meraihnya.

Pada pertandingan first knock-out minggu lalu, Milan berhasil memenangi leg pertama secara meyakinkan 4-0 atas Arsenal. Walaupun segalanya bisa terjadi di Emirates Stadium, Allegri telah mematahkan trauma Milan atas klub-klub Inggris. Dan lebih menggembirakan lagi, Ibra mencetak gol di laga itu.

Di liga Italia sendiri, Ibra kembali menjadi pesakitan setelah diskors tiga pertandingan akibat tindakan emosionalnya menampar Salvatore Aronica saat melawan Napoli. Kejadian ini mengulangi catatannya musim lalu ketika dia diusir dua kali di putaran kedua seri A, yang membuatnya absen dalam beberapa pertandingan.

Dan sama seperti musim lalu, Milan berhasil melalui pertandingan tanpa Ibra dengan kemenangan. Allegri mampu menjawab tudingan Ibradependencia dengan mengandalkan kolektivitas dan kemampuan banyak pemainnya dalam mencetak gol. 17 pemain Milan sudah muncul di score-sheet, yang merupakan tertinggi di seri A.

Allegri sudah memiliki plan b, yang memungkinkan Milan tetap tampil baik meski tanpa Ibra. Allegri lebih memercayai pemain muda. Ketimbang memainkan Pippo Inzaghi, Allegri lebih memilih Stephan El-Shaarawy sekarang yang permainannya makin menanjak.

Tanpa Ibra yang mengandalkan skill ajaib dan kekuatan fisiknya saat menyerang, Allegri mengubah pendekatan ke arah kecepatan dan kolektivitas. Pemain seperti Kevin-Prince Boateng, Robinho, dan Urby Emanuelson kini menjadi pilar-pilar penting dalam skema tanpa Ibra milik Allegri.

Dukungan manajemen yang brilian di bursa transfer juga amat membantu kerja Allegri, dengan memberikannya banyak pemain-pemain berguna untuk tim. Allegri mampu membuat Maxi Lopez, Djamel Mesbah dan Sulley Muntari langsung tampil bagus dan cepat menyatu dengan skema permainan.

Muntari datang di saat yang tepat. Milan memang memiliki 12 gelandang musim ini, tapi pemain seperti Van Bommel, Claerance Seedorf, Gennaro Gattuso dan Massimo Ambrosini memiliki kondisi fisik yang rentan karena usia dan sebagian lagi seperti Alex Merkel, Alberto Aquilani, Rodney Strasser dan Mathieu Flamini masih berada di ruang perawatan.

Mengandalkan Emanuelson dan Nocerino terus menerus tentu bukan langkah bijak, karena jika mereka cedera maka praktis tidak ada pelapis. Kehadiran Muntari memang penting, walaupun dalam beberapa waktu terakhir permainannya menurun. Ingat, Milan adalah tim yang memiliki reputasi bagus dalam mengembalikan performa pemain yang anjlok.

Dengan mulai kembalinya pemain-pemain cedera dari ruang perawatan, Milan bisa berharap untuk meraih kejayaan musim ini, dengan atau tanpa Ibra di lapangan.

(Tulisan ini juga dimuat di Berita Satu http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1416-milan-tidak-tergantung-ibrahimovic.html)

Monday, February 13, 2012

Denyut sepakbola kota Depok


Pendekar Ciliwung
Sabtu (11/2/2012) lalu adalah partai kandang terakhir Persikad Depok di kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia. Persikad memiliki 4 partai sisa yang kesemuanya tandang. Partai kemarin mempertemukan mereka dengan Persikasi Bekasi, dimana pada pertemuan pertama di kandang lawan, Persikad menyerah 1-2.

Hanya 5 menit menggunakan sepeda motor waktu yang diperlukan untuk perjalanan dari rumah ke Stadion Merpati, stadion yang buat saya juga menyimpan kenangan sebagai tempat bermain di pertandingan antar kelas pada waktu SMP, 15 tahun lalu. Stadion ini sangat sederhana fasilitasnya. Ruang parkir sempit, tribun yang hanya berkapasitas kurang lebih 1000 orang, dan kondisi rumput lapangan yang tidak rata.

Saya menyaksikan pertandingan di Tribun kelas satu, yang hanya seharga 15 ribu saja. Lagu dangdut dan Ebiet G. Ade membahana menjelang pertandingan, lagu Honky Tonk Woman-nya Rolling Stones mengalun di jeda pertandingan dan panduan dari announcer kocak berlogat Betawi-Depok yang kental adalah a simple happiness. Kalau untuk jalan-jalan ke mal-mal besar di Jakarta, mungkin uang segitu gak ada artinya. Tapi, membelanjakan 15 ribu rupiah untuk menyaksikan sebuah pertandingan grass roots level sepakbola Indonesia ternyata memiliki cerita tersendiri yang cukup menginspirasi dan menyentuh.

Pertandingan sendiri berlangsung menarik. Persikad yang ingin menang mengusung formasi ofensif 4-3-3. Dipimpin kapten Ahmad Sobari yang berpartner dengan Razi dan Imran di lini tengah, Persikad tampil mendominasi permainan. Sementara tim tamu bermain defensif dengan memasang hingga 5 pemain belakang dan 2 gelandang bertahan dalam skema 5-4-1. Persikad akhirnya menang tipis 1-0 melalui strikernya yang bernama Aidil setelah sundulannya hasil umpan lambung Sobari tidak mampu dibendung kiper lawan. Aidil adalah salah satu peserta seleksi Timnas U-21.

Dua minggu lalu saat melawan Perserang Kab. Serang, saya sama sekali tidak mengenal pemain-pemain Persikad. Tapi kini dengan modal sebuah koran lokal dan mem-follow akun twitter @superdepokcyber yang dibuat oleh salah seorang suporter loyalnya, saya mulai akrab dengan klub berjuluk Pendekar Ciliwung ini.

Pengetahuan saya makin bertambah setelah secara kebetulan saya duduk menonton disebelah seorang Ibu yang ternyata adalah istri dari seorang staf pelatih dari Persikad. Dari beliau, saya mendapat cukup banyak cerita mengenai pasang surut klub ini.

Saya tahu kalau tim ini benar-benar dalam kondisi yang memprihatinkan. 2008 adalah tahun awal kehancuran tim saat Pemerintah setempat memutuskan untuk menyetop anggaran dana untuk operasional klub. Imbasnya, gaji pemain tidak dibayar hingga 10 bulan. Seperti posting di blog saya http://footballerwannabe.blogspot.com/2012/01/pleasure-of-watching-grassroots-level.html beberapa waktu lalu, saat itu padahal Persikad sedang meniti jalan menuju Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (kala itu belum ada ISL, jadi Divisi Utama adalah kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia).

Persikad sempat diperkuat pemain-pemain asing yang cukup bagus seperti J.P. Boumsong (sekarang Persiram), Yusuke Sasa (sekarang Persikabo) dan Nana Onana (sempat di Persija) dan beberapa pemain Indonesia berkelas menengah seperti Nana Priatna, Guntur Gunawan, Syahroni, Irfan Sapari dan Nehemia Solossa. Di klub Persikad juga Muhammad Roby mengawali karir sepakbolanya, bahkan Syamsir Alam dan Irfan Bachdim juga dikabarkan pernah berlatih disini.

Krisis keuangan yang parah membuat tim tidak mampu menggelar dua pertandingan kandang, yang berakibat hukuman degradasi dari Divisi Utama ke Divisi Satu serta larangan berkompetisi di Divisi Satu selama setahun. Sepakbola kota Depok lalu mati suri. Seorang pemain yang mengalami cedera patah tangan bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk biaya operasi.

Dari Ibu tadi saya mendapat informasi terkini tim ini. Kini dengan bantuan dari seorang tokoh lokal perorangan yang tidak dia ungkapkan identitasnya, Persikad mencoba bangkit. Dengan regulasi yang membatasi usia pemain hingga 23 tahun saja, Persikad diperkuat pemain-pemain muda. Pemain seperti Razi, Ahmad Sobari, Syukron, Tri Sumantri, Agung dan Aidil kini menjadi tulang punggung tim guna perjuangan mereka meloloskan diri ke Kompetisi Divisi Utama. Jika lolos ke Divisi Utama, Persikad diperbolehkan kembali untuk diperkuat pemain-pemain senior.

Persikad sekarang berbeda dengan Persikad yang kala itu diperkuat beberapa pemain asing dan bersaing di papan atas Divisi Utama. Sekarang, tim Persikad tidak memiliki Training Camp, mess atau sejenisnya. Tidak adanya fasilitas standar klub sepakbola tersebut membuat para pemain harus berada dalam kondisi prihatin. Mereka bahkan harus pergi ke stadion secara sendiri-sendiri tanpa menggunakan bus tim saat pertandingan. Begitu pula persoalan gizi pemain yang biasanya diatur oleh seorang ahli nutrisi, kini hanya diserahkan kepada masing-masing pemain, yang tentu berakibat buruk bagi pemain. "Banyak yang sakit mas, ada beberapa yang kena thypus segala, gara-gara pola makan gak diatur akibat ketiadaan mess." Kata Ibu tadi.

Ya begitulah Persikad sekarang. Jauh dari kemewahan yang umumnya didapat oleh tim sepakbola. Jersey original pun belum diproduksi, jadi gak ada tuh kita melihat seragam biru khas tim ini dipakai oleh penonton yang hadir di Stadion Merpati.

Sisa 4 pertandingan tandang akan menentukan nasib tim ini. Jika setidaknya mampu menduduki posisi runner-up, mereka akan lolos ke babak selanjutnya yang akan dibagi kembali menjadi grup baru. Mirip model kualifikasi Piala Dunia zona Asia-Oseania.

Walaupun bukan asli Depok, saya tetap memiliki ikatan emosional dengan kota ini. Saya sudah tinggal 20 tahun disini dan tentu saja berharap olahraga sepakbola menjadi bagian dari kota ini, menjadi khas kota ini. Denyut sepakbola kota ini masih ada, semoga ada pihak-pihak yang peduli untuk memberikan bantuan bagi klub ini. Menyalurkan talenta-talenta emas sepakbola Indonesia dari kota ini.

Sunday, February 12, 2012

SSB asing, Akademi Nusantara dan Pengiriman Timnas Junior ke Luar Negeri

Kids, our future


Saya terkagum-kagum membaca sebuah headline berita mengenai FC Barcelona yang akan membuka akademi sepakbolanya di Indonesia, September tahun ini. Indonesia patut berbangga bahwa klub sebesar Los Cules mau membuka akademinya. Visi dan misi sekolah yang dinamakan FCB Escola ini sangat mulia dan mantap: menciptakan generasi pemain yang mampu membawa Indonesia ke empat besar Asia dalam waktu 10 tahun dan membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026!

Barcelona menambah daftar klub asing yang membuka akademinya di Indonesia. Sebelumnya sudah ada akademi sepakbola Arsenal, Liverpool, Real Madrid. AC Milan, yang dua tahun terakhir ini menggelar Milan Junior Camp -dimana Indonesia dua tahun berturut-turut menjuarai turnamen pengisi liburan sekolah tersebut- juga dikabarkan tengah serius membidik Indonesia sebagai sasaran investasi pemain mudanya.

Barcelona juga diberitakan akan mengirim jajaran staf pelatih langsung dari Spanyol untuk menangani FCB Escola. La Masia-nya Indonesia ini dibentuk dengan visi jangka panjang, yang dipercaya akan menggunakan kurikulum pendidikan sepakbola yang sama dengan apa yang didapat oleh Lionel Messi, Xavi Hernandez dkk. Melihat konsep La Masia yang berupa boarding house, kita mungkin akan melihat FCB Escola dilengkapi asrama, dan mungkin juga mereka akan menggandeng lembaga pendidikan formal di Indonesia untuk dilebur bersama FCB Escola, sehingga siswa mereka mendapatkan pendidikan yang komplit: sekolah formal dan sekolah sepakbola.

Kita juga tahu kalau pendidikan sepakbola di eropa pada umumnya tidaklah semata memperhatikan perkembangan bermain bola. Mereka percaya bahwa sekolah formal akan membentuk hal yang lebih penting dari sekedar tehnik sepakbola, yaitu mentalitas dan intelektualitas pemain. Pendidikan formal juga bentuk antisipasi agar siswa mereka tetap bisa melanjutkan sekolah mereka ke jenjang perguruan tinggi, jika impian untuk menjadi pesepakbola kandas.

FCB Escola yang memiliki program usia 5-11 tahun dan 12-18 tahun serta menargetkan 250 siswa setiap tahunnya ini pastinya memiliki afiliasi langsung dengan tim sepakbola Barcelona. Jadi di masa depan, kita bukan hanya bisa melihat lulusan akademi ini membela tim nasional Indonesia, tetapi juga mengenakan seragam Los Azulgranas.

Saya bukanlah pihak yang skeptis terhadap pendirian akademi sepakbola klub-klub eropa tersebut di Indonesia, hanya mempertanyakan bagaimana muara dari akademi ini serta biaya pendafaran serta biaya bulanan yang akan dibebankan oleh mereka terhadap siswa-siswanya.

Walaupun belum valid, dari informasi yang saya dengar, biaya perbulan untuk FCB Escola adalah 10 juta rupiah per bulan. Coba Anda bayangkan, berapa orang sih potensi siswa yang bisa mereka jaring dengan iuran perbulan yang fantastis itu? Apakah sekolah sepakbola dengan kurikulum Barcelona ini bisa dinikmati oleh banyak lapisan masyarakat kita? Apakah dengan hanya menjaring anak-anak dengan kemampuan ekonomi tertentu saja bisa mewakili seluruh potensi pesepakbola Indonesia, yang justru kebanyakan berasal dari masyarakat kalangan bawah? Apakah mereka akan menutup mata terhadap anak-anak seperti Eriyanto, yang secara ekonomi kurang beruntung tetapi memiliki bakat sepakbola yang luar biasa?

Saya mengkhawatirkan proyek fantastis ini akan sia-sia jika ada hambatan ekonomis disana. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa anak-anak yang orang tuanya mampu membayar 10 juta per bulan untuk bersekolah disini akan lebih baik dari anak-anak seperti Eriyanto. Tuhan maha adil, bakat alam sepakbopla tidak mengenal status ekonomi atau apapun juga. Jadi, proyek besar ini boleh jadi memang hanya sebatas sarana promosi yang dilakukan klub-klub asing itu agar semakin dikenal di dunia.

PSSI yang sekarang katanya berorientasi pada pembinaan, akan membuat akademi sepakbola untuk pemain muda dengan nama Akademi Nusantara, yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Kita masih menunggu seperti apa program mereka. Semoga eksekusi program ini sebaik perencanaannya. Mereka berpendapat bahwa program pengiriman anak-anak muda berbakat keluar negeri adalah pemborosan jika hanya menghasilkan sedikit pemain yang dikontrak klub-klub eropa dan amerika latin. Pengiriman timnas junior ke luar negeri ini memang sudah kesekian kalinya, dan hasilnya pun sudah kita sama-sama lihat. Tapi sekali lagi, pengiriman anak-anak berbakat ini keluar negeri bukanlah sepenuhnya kesia-siaan. Pengalaman mereka berada diluar negeri akan membentuk mental yang lebih tangguh dan mudah beradaptasi, serta tidak kalah penting adalah peningkatan kemampuan bahasa asing, yang pastinya berguna bagi mereka dimasa depan.

Bagaimanapun, perjuangan untuk membuat sepakbola Indonesia menjadi lebih baik bisa melalui banyak cara. Keberadaan Sekolah Sepakbola dari klub-klub asing itu harus diambil sisi baiknya bahwa anak-anak Indonesia berkesempatan menimba ilmu sepakbola sesuai standar eropa yang memang terbukti menjadikan sepakbola mereka terdepan. Begitu pula program pembentukan tim nasional untuk berlatih diluar negeri, yang tujuannya tidak lain adalah untuk mencontoh sistem pembinaan dan kompetisi antar kelompok umur yang memang terbukti lebih baik.

Alangkah baiknya jika niat baik dari pihak-pihak ini juga difasilitasi dengan baik oleh PSSI. SSM asing dan pengiriman tim keluar negeri adalah program sekunder, dimana Akademi Nusantara harus menjadi embrio pembinaan pemain muda Indonesia. Dibentuknya Akademi Nusantara tentu akan semakin baik dampaknya jika diadakan kompetisi berjenjang antar sekolah sepakbola itu. Dari kompetisi itulah klub-klub professional kita bisa mengambil pemain-pemain yang memang sudah berbekal ilmu sepakbola yang memadai dan sudah tertempa di kompetisi yang bermutu. Tidak ada lagi pemain karbitan. Hal ini pasti juga berdampak baik bagi tim nasional.

We may not the best, but we are well trained. Semoga slogan inilah yang kelak akrab dengan pemain-pemain Indonesia.

Tuesday, January 31, 2012

Karena Kita Bangsa Indonesia

Saat itu adalah 7 Oktober 2007. Saya ingat betul tanggal itu. Saya dan teman-teman sedang beristirahat sehabis bermain futsal di lapangan dekat rumah. Pertandingan main-main yang melelahkan tapi menyenangkan. Datanglah teman saya yang lain. "Eh malam ini timnas futsal Indonesia uji coba lawan Malaysia di Senayan. Nonton yuk."


Saya bersama lima orang teman saya kemudian meluncur ke hall basket senayan. Tiketnya ternyata gratis. Hall basket ini terisi cukup penuh untuk ukuran pertandingan uji coba.


Kami beruntung tiba tepat waktu. Pertandingan baru akan dimulai. Saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, saya merasakan getaran luar biasa pada hati kecil saya. Kumandang Indonesia Raya yang sangat indah, karena serentak seluruh penonton berdiri, menyanyi bersama tanpa dikomando layaknya saat kita menyanyikan lagu ini dengan malas-malasan di upacara bendera sekolah.


Saat itu, sungguh tidak ada yang malas bernyanyi. Semuanya spontan dan lantang. Bukti bahwa Indonesia masih sangat dicintai rakyatnya. Saya berandai-andai jika saya yang berada di lapangan, pasti saya akan melakukan apa saja untuk memenangkan Indonesia, membela bendera merah putih, dan membahagiakan penonton yang sudah berkumpul dan lantang bernyanyi.


Malaysia, yang memang tim bagus, berusaha memainkan strategi bertahan. Mirip tim sepak bolanya, tim futsal mereka memainkan strategi menunggu lawan dan melakukan serangan balik.


Sementara Indonesia memainkan olah bola dan kombinasi passing atraktif dengan permutasi posisi yang cepat, Malaysia statis menjaga daerahnya. Mereka terkesan kalah teknik dan kalah skill. Padahal sama sekali tidak. Ini adalah bagian dari strategi mereka.


Mereka menunggu dan menunggu. Sabar sekali. Menunggu pemain Indonesia melakukan kesalahan. Kekhawatiran saya terbukti, di pengujung babak pertama, serangan balik mereka memberikan keunggulan dua gol cepat. Indonesia tertinggal dua gol. Indonesia tertunduk, tetapi penonton tetap bertepuk tangan dan mendukung tanpa lelah.


Barangkali inilah kekuatan bangsa kita, dan mungkin juga pelatih Justin Lhaksana saat itu mengatakan hal-hal yang luar biasa di ruang ganti. Di babak kedua, permainan tim membaik dan dalam beberapa menit mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.


Saya ingat, waktu itu Deni Handoyo dan Sayan Karmadi pencetak golnya. Hall basket senayan bergemuruh. Malaysia tersentak lalu bangkit. Mereka bermain terbuka, menjadikan pertandingan lebih seru. Sangat seru. Tapi Indonesia memang lebih baik malam itu.

Lebih lengkap bisa dibaca di:

Monday, January 30, 2012

The Pleasure of watching the grassroots level of Indonesian football

Saat banyak orang menantikan Indonesian El Classico Persib vs Persija, Minggu 29 Januari 2012, saya menyempatkan diri untuk hadir di pertandingan di kota saya sendiri yang boleh dikatakan sebagai 'grassroots' level di persepakbolaan Indonesia, yaitu kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia antara Persikad Kota Depok melawan Perserang Kabupaten Serang di Stadion Merpati, Depok.

Awalnya saya ragu buat nonton, karena sejak pagi hari cuaca didominasi hujan dan mendung, tapi saya tekadkan untuk berangkat demi menuntaskan rasa penasaran. Pertandingan berlangsung di Stadion Merpati Depok, yang terletak diantara pemukiman ramai dengan jalan yang cukup sempit. Seorang wartawan pernah bilang kalo lokasi Stadion ini mirip-mirip dengan Stamford Bridge milik Chelsea di London.

Saya memutuskan untuk menggunakan angkot (angkot disini aman) daripada mobil pribadi atau motor, karena this is my first time watching them, saya gak tahu situasi dan kondisi tempat parkir di stadion, serta antisipasi aja jika ada kejadian yang gak diinginkan.

Setengah jam sebelum kick-off yang rencananya dilakukan pukul 15.00, saya berangkat. Perjalanan hanya 15 menit dari Stasiun Depok Baru ke venue menunjukkan aktivitas yang normal, yang berarti stadion tidak ramai. Benar saja, stadion yang berkapasitas kurang lebih hanya 1000 penonton itu tampak lengang dan sepi. Padahal, harga tiket hanya 15 ribu rupiah untuk kelas satu (seated) dan 10 ribu rupiah untuk kelas dua (non-seated).

Saya lalu memutuskan untuk membeli selembar tiket kelas satu, setelah sebelumnya sempat melihat-lihat kelas dua yang sudut pandangnya terbatas karena ada spanduk besar di pagar tribun. Di kelas dua ini nampak hadir sekelompok suporter loyal Persikad yaitu Depok Mania (Dema), itupun jumlahnya kira-kira hanya 100an orang.

Animo sepakbola di kota ini seakan lesu darah, namun saya percaya bahwa saat ini adalah saat restorasi bagi klub berjuluk "Pendekar Ciliwung". Sekitar 5-6 tahun lalu, denyut nadi sepakbola kota ini sangat kencang dengan berkompetisi di Divisi Satu, yang saat itu setingkat dibawah kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia, Divisi Utama. Beberapa pemain asing seperti J.P. Boumsong (sekarang Persiram), Yusuke Sasa (sekarang Persikabo), dan juga Nana Onana (sempat di Persija) dan beberapa pemain lokal bereputasi lumayan seperti Nana Priatna serta Nehemia Solossa saat itu membawa Persikad menduduki posisi 4 (kalau tidak salah) di Divisi Satu. Posisi itu memang tidak cukup membawa tim ini lolos ke babak play-off kompetisi, tapi sempat menghangatkan olahraga terpopuler sejagat ini di kota Depok.

Setelah itu, tim ini mengalami titik terendahnya berupa kesulitan finansial. Para pemain tidak digaji selama beberapa bulan. Cerita miris ini juga berakibat tim tidak bisa menggelar pertandingan, yang berbuntut dihukumnya tim dalam bentuk degradasi. Tim inipun dijual, sepakbola Depok mati suri. Dan kini, here they are.

Saya duduk nyaman di tribun kelas satu lapangan yang terletak di Jalan Merpati, Depok Jaya ini, memandangi lapangan yang diisi kedua tim yang sedang melakukan pemanasan yang diiringi musik dangdut dan announcer kocak. A simple happiness. Dulu saya ingat pernah mencetak gol tendangan "paloneto" disini di pertandingan antar antar kelas saat SMP. Unforgettable childhood memory.

Saya tidak mengenal satupun pemain Persikad sekarang. Klub ini bagaimanapun pernah menghasilkan pemain kelas nasional seperti Muhammad Roby. Kabarnya, Syamsir Alam juga pernah sempat berlatih disini. Sekarang, pemain-pemain Persikad diisi wajah-wajah baru yang kelihatan masih muda, berusia 18-25 tahun. Di kubu Perserang juga demikian. Merekalah sebenarnya bagian dari embrio sepakbola nasional, dari 'the grassroots' level.

Pertandingan dimulai tepat waktu pukul 15.00. Kedua tim nampak menggunakan formasi identik 4-3-1-2. 10 menit pertama nampak Perserang menekan tuan rumah dan sempat memiliki peluang bagus melalui tendangan bebas. Namun dari sebuah skema serangan balik, sang trequartista bernomor 7 Persikad membawa Persikad unggul setelah menyelesaikan crossing mendatar dari pemain jangkung bernomor punggung dua. Hanya beberapa saat, gol itu kemudian dibalas oleh trequartista Perserang, juga bernomor punggung 7. Lalu hujan cukup deras mengguyur kota ini yang menyebabkan lapangan menjadi licin dan aliran bola menjadi mandek, dalam arti sebenarnya. Umpan-umpan pendekpun menjadi tidak berguna. Setelah silih berganti menyerang dengan masing-masing tim membuahkan 3 tembakan ke gawang, kedudukan 1-1 bertahan hingga babak pertama usai.

Suara khas Mick Jagger dalam lagu Honky-Tonk Woman membahana di jeda pertandingan. Klasik banget. Saat jeda ini pula penonton mulai berdatangan karena hujan juga mulai reda. Tribun kelas satu ini diisi oleh berbagai kalangan, dari anak kecil sampai orang tua, menjadikan pertandingan ini seperti rekreasi keluarga. Bapak Wakil Walikota Depok, KH Idris Abdul Shomad juga baru hadir di jeda babak pertama, sebagaimana diumumkan oleh announcer kocak berlogat Depok yang kental.

Pertandingan berlangsung dibawah gerimis di babak kedua. Lapangan yang sudah tergenang air dan berlumpur di beberapa tempat membuat kedua tim sulit mengembangkan permainan. Striker pengganti bernomor 77 sempat membawa Persikad unggul setelah membelokkan flick header dari si jangkung nomor 2 dari sebuah sepak pojok. Sayangnya, si nomor 7 yang menurut saya bermain baik sebagai trequartista ditarik keluar karena cedera. Hilangnya tusukan dari pemain yang berani mendribel bola ini membuat tim tamu ganti mengendalikan permainan hingga akhirnya menyamakan kedudukan melalui sundulan pemain bernomor 7 mereka. Sudah 2 gol dia ciptakan di pertandingan ini. Si jangkung nomor 2 yang kuat di duel udara sempat membuat asa para pendukung menjadi bergelora, tapi sayangnya sundulannya hanya membentur mistar gawang. Pertandinganpun berakhir dengan skor imbang 2-2.

Penonton nampak kecewa, namun bisa menerima. Posisi kedua grup IV Divisi Satu memang masih digenggam, namun inilah partai kandang terakhir di putaran 1 tim ini dengan rekor dua kali menang dan dua kali imbang. Di putaran kedua, Persikad hanya memiliki satu partai kandang melawan Persikasi Kabupaten Bekasi, yang berlangsung pada 11 Februari 2012. Situasi yang disebut berat oleh sebagian penonton yang bercakap-cakap dibelakang saya, karena hanya dua tim teratas yang lolos ke babak berikutnya.

Sebuah kepuasan besar menyaksikan langsung pertandingan tim dari kota sendiri. Walaupun hanya pertandingan kasta ketiga dari kompetisi sepakbola Indonesia, pertandingan berlangsung seru dan menarik. Beberapa pemain potensial juga berkompetisi disini. Trequartista bernomor 7, gelandang sayap jangkung bernomor 2, dan gelandang jangkar bernomor 14 yang juga kapten kesebelasan, serta penjaga gawang Persikad yang sempat memblok sebuah tendangan penalti dibabak pertama adalah pemain-pemain potensial yang akan menjadi masa depan dari tim Pendekar Ciliwung.

Semoga sepakbola kota Depok segera bangkit!


Aditya Nugroho
@aditchenko

Sunday, January 29, 2012

Kisah Pemain Pinjaman

Seorang teman saya terdiam lemas sehabis pertandingan antar perkumpulan memperingati hari kemerdekaan yang berlangsung seru. Bukan karena dia lelah setelah menjalani pertandingan, tapi justru karena sama sekali tidak dipasang. Dia pulang dengan perasaan kesal. Dendam. Merasa tidak dihargai. “Gak ada yang enak dari situasi dicadangkan,” sungutnya. Hadiah turnamen ini pun hanya seekor kambing.

Setelah saya amati, perkumpulan sepak bola teman saya itu memang mengusung semangat "kekeluargaan" yang tinggi. Pemilihan susunan pemain berdasarkan "like and dislike" dan sejenisnya. Pemain lain yang di luar "geng" mereka umumnya dicadangkan, dan hanya sebatas didaftarkan untuk memenuhi kuota.

Dengan skala lebih global, mungkin masih ada yang ingat terhadap Fernando Morientes. Striker asal Spanyol yang biasa dipanggil Moro itu berhasil tampil impresif di Liga Champion 2003/2004 saat membawa klub yang meminjamnya, AS Monaco ke final sebelum dihentikan tim kejutan lainnya, FC Porto yang saat itu diperkuat Deco dan dilatih Jose Mourinho.

Namun saat itu tidak ada yang menyangkal kehebatan Moro walaupun Monaco gagal menjadi kampiun. Klub pemilik aslinya, Real Madrid, malah menjadi korban akibat dua golnya ketika mereka bertemu di babak perempat final. Moro akhirnya mampu menjadi top skorer Liga Champions dengan 9 gol dan mencetak 10 gol di Ligue 1.

Moro membuktikan diri mampu mengalahkan kontribusi Raul Gonzalez dan Ronaldo, duet maut lini depan Madrid yang saat itu tidak tersentuh dan memaksanya untuk menjalani peminjaman dengan Monaco. Sama dengan teman saya tadi, keengganan untuk menjadi penghangat bangku cadanganlah yang memotivasi Moro untuk berpetualang bersama Monaco.

Banyak pihak mengkambinghitamkan kekeliruan Madrid terhadap klausul perjanjian kontrak peminjaman Moro. Madrid bisa membuat Moro tidak bermain di pertandingan itu jika mereka mengaktifkan "own-club tied." Kisah Morientes ini tampaknya menjadi pelajaran berharga umumnya bagi klub-klub Eropa. Akhirnya, kini hampir semua klub yang meminjamkan pemainnya ke klub lain mengaktifkan klausul "cannot play against his own team" dalam kontrak peminjaman si pemain.

Peminjaman pemain sudah sangat biasa terjadi antar klub-klub sepak bola. Klub besar seperti Manchester United bahkan memiliki Royal Antwerp sebagai feeder mereka. Mereka memanfaatkan Antwerp untuk “menyekolahkan” pemain baru mereka, yang umumnya masih muda untuk mendapatkan pengalaman bermain. Klub Belgia ini pun mendapatkan manfaat dari transaksi ini karena mereka bisa menggunakan tenaga pemain United yang mereka pinjam tersebut.

Klub asli si pemain meminjamkan pemainnya karena berbagai pertimbangan. Untuk pemain muda yang dianggap potensial tetapi belum layak menghuni tim utama, klub-klub sering meminjamkan pemainnya. Contohnya adalah Dany Welbeck (Manchester United) yang musim lalu dipinjamkan ke Sunderland, dan Daniel Sturridge (Chelsea) yang dipinjamkan ke Bolton. Kini, mereka berdua mapan di tim utama setelah kembali dari masa pinjaman.

Faktor lainnya adalah si pemain memang tersingkir dari tim karena kalah bersaing, ataupun melimpahnya stok pemain yang ada pada sebuah klub. Morientes pada waktu itu masuk dalam kategori ini. Atau ada pula alasan lain, seperti mengisi libur kompetisi. Hal ini dilakukan oleh Thierry Henry dan Landon Donovan, serta David Beckham dua musim lalu.

Mari kita ke pertandingan Liga Inggris 22 Januari 2012 Minggu malam jam 8 WIB antara Manchester City melawan Tottenham Hotspurs. Di musim ini, Emmanuel Adebayor tampil gemilang bersama Tottenham Hotspurs. Penyerang asal Togo ini seolah menemukan kembali sentuhannya seperti saat bermain di Arsenal. Namun segala talenta dan kehebatannya disia-siakan City, dan menjadi sia-sia pula bagi Tottenham Hotspurs ketika terhalang oleh klausul kontrak peminjaman "cannot play against his own club."

Ketiadaan Adebayor mengubah dimensi permainan Spurs saat menghadapi City. Adebayor bukan sekadar penyerang yang cepat dan tangguh di udara, tapi juga memiliki kontrol bola yang baik sehingga mampu menahan bola lebih lama dan hal ini membuka ruang bagi lini pertahanan lawannya.

Jermain Defoe memang gak bisa dibilang tampil jelek dalam mengisi peran Adebayor semalam, terbukti dia mampu mencetak satu gol, dan kecepatannya cukup merepotkan Joleon Lescott dan membuat Stefan Savic membuat blunder. Namun, kehadiran Adebayor diyakini akan mampu membuat pertahanan City lebih menderita, dan hasilnya bisa saja berbeda.

Lebih lengkap di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1343-kisah-pemain-pinjaman.html