Pages

Thursday, March 22, 2012

Menang tetap membumi, kalah tidak mencaci

Kebanyakan penggila sepakbola memiliki klub favorit, tentunya klub favorit yang ada di benua Eropa nun jauh disana. Klub-klub itu sayangnya hanya bisa sebatas membuat kita berangan-angan. Dari angan-angan bermain disana, lalu setelah tidak tercapai menjadi hanya menonton langsung di stadion mereka, dan dalam tingkatan paling realistis yaitu memiliki jersey original sampai action figure pemain-pemain yang harganya mahal itu.


Kita menyukai mereka sejak kecil, sejak mengenal sepakbola, dan kita tidak pernah berganti klub yang kita dukung. Menemukan orang berpindah-pindah klub dukungan sangat sulit dan sangat jarang terjadi, mungkin lebih jarang kasusnya daripada menemukan orang yang pindah agama atau berganti-ganti pasangan. Tentunya hal ini tidak berlaku pada orang yang memang netral alias tidak memihak klub manapun, hanya penikmat permainan sepakbola. Tidak berlaku pula pada si casual fans, alias fans musiman alias fans berpindah-pindah klub dukungan tergantung pada prestasi klub saat itu.


Kalau ditanya alasan kenapa suka sama klub itu, jawabannya beragam. "Gue suka Del Piero, makanya gue suka Juventus sampai sekarang." Ada juga yang bilang suka dengan Eric Cantona, makanya suka Manchester United. Dengan pola alasan yang sama, yaitu karena terdapat pemain favoritnya, bisa ditebak kalau anak-anak muda yang baru kenal sepakbola sekarang kebanyakan menggemari Barcelona ataupun Real Madrid, dimana dua ikon sepakbola bernama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo merumput.


Ada pula teman saya yang baru menyukai sepakbola saat sudah kuliah, dan memilih Arsenal sebagai pilihannya dengan alasan permainan sepakbola Arsenal enak dilihat. Alasan yang lebih logis, sesuai dengan umurnya. Logika sederhana seorang anak kecil tentu berbeda dengan logika seorang mahasiswa dalam menentukan pilihan. Tapi sekali menjatuhkan pilihan, nampaknya itu adalah pilihan sekali seumur hidupnya.


Saya kebetulan tipe orang penyuka sesuatu yang berhubungan dengan perlawanan dan anti kemapanan. Klub-klub seperti Athletic Bilbao, Napoli, atau Stoke City adalah klub-klub berkarakter kuat yang cocok menjadi representasi simbol dari pemberontakan, perlawanan dan penjaga kemurnian tradisi itu.


Dari ketiganya. Bilbao adalah klub yang berhasil mengambil simpati saya, dan saya yakin banyak orang yang berpikiran sama seperti saya melihat permainan mereka musim ini, terutama setelah mereka mampu menundukkan Manchester United di perempat final Europa League tahun ini.


Semua mata terperanjat kala anak-anak pegunungan di timur laut Spanyol yang hanya berpopulasi 3 juta penduduk berhasil mempecundangi klub super-besar dari kota Manchester. Bilbao adalah klub "kolot" yang memegang prinsip saklek dan mengusung semangat primordial yang kental dengan hanya memakai pemain keturunan asli Basque.


Sebelumnya, Bilbao seperti Stoke City. Satu-satunya klub Spanyol yang bermain ala Inggris. Namun, sosok Marcelo Bielsa mampu mengubah sekelompok pejuang Sparta itu menjadi sekelompok filsuf pemikir bijak Athena. Dengan fisik yang sudah lebih dari terlatih, Bielsa membumbui para awak San Mames dengan permainan umpan-umpan pendek menawan. Dengan kemurnian yang senantiasa terpelihara dan prestasi yang mulai mencuat berkat cantera berkualitas yang muncul ke permukaan saat ini, Bilbao akan mudah menjaring fans-fans baru, baik casual maupun die-hard fans.


Tapi, semua itu kembali kepada sisi unik dari sepakbola, yaitu sisi unconditional devotion. Betapapun kagumnya saya pada Bilbao, tidak cukup untuk menggeser AC Milan sebagai klub favorit saya nomor satu yang saya sukai sejak mengenal sepakbola. Bilbao mungkin jadi klub favorit saya nomor 3-4.


Namun, geli rasanya melihat tingkah sebagian saudara kita sebangsa Indonesia yang sangat agresif membela klub Eropa kesayangannya itu. Bahasa mereka sungguh indah dan puitis kala mendukung klub favoritnya, namun berubah menjadi cacian bermuatan 1 megaton bom atom saat menghina KLUB EROPA lain yang menjadi rival klub Eropa favorit mereka. Sangat sering terlihat di artikel berita terjadi perang kata-kata antar fans yang ngakunya sejati itu. Aura negatif selalu terpancar setiap membaca komentar-komentar miring itu.


Entah apa yang ada di pikiran mereka, mungkin di dunia nyata mereka tidak mampu memaki atau melabrak orang lain dan bertindak seperti jagoan, maka di dunia maya dengan nama anonim pula-lah mereka melampiaskan kekesalannya itu.


Belum puas, ada juga yang dengan niat sepenuh hati untuk membuat status berisi kebencian terhadap klub rival di facebook atau di blackberry messenger. Padahal, klub Eropa yang jauh disana itu sama sekali tidak memberi mereka apa-apa selain rasa iri kita akan hebatnya mereka. Mereka jauh disana, dan tidak ada hubungannya dengan kita di Indonesia. Tidak jarang pula kita mendengar kabar miris soal keributan yang terjadi setelah acara nonton bareng klub Eropa itu, bahkan cerita itu juga terjadi saat perhelatan Piala Dunia 2010 lalu saat orang Indonesia yang menjadi supporter negara lain terlibat perkelahian. Ayolah, Anda semua orang Indonesia, bukan orang Inggris atau orang Jerman. Get a life.


Pemandangan yang tidak asik di twitter hampir di setiap berakhirnya sebuah big match adalah saling mengejek. Saya juga melakukannya just for fun. Saya enjoy sekali meledek Juventus, Inter Milan atau Real Madrid. Tapi ya hanya sebatas itu, tidak membenci mereka dan tidak juga mencaci pendukung mereka. Jika mereka meledek bahkan mencaci AC Milan-pun bukan urusan saya. Tidak ada keinginan untuk berkelahi dengan fans klub rival jika bertemu dijalan, tidak terbersit juga untuk mengotori timeline orang lain dengan sumpah serapah yang tidak mendidik.


Mungkin sudah banyak yang menulis tema seperti ini. Saya hanya menambahkan dan mendukung kampanye positif itu, demi pendidikan yang baik bagi para suporter. Jadilah suporter bijak yang jika menang tetap membumi dan jika kalah tidak mencaci. Karena pertengkaran besar banyak yang berawal dari cacian-cacian kecil. Semoga para akun kelompok supporter sering juga mengkampanyekan jargon positif ini. Come on guys, you can do better than that!

No comments:

Post a Comment