Pages

Monday, December 19, 2011

Semangat lain di Sepakbola



Kali ini saya mau ngebahas sesuatu yg mungkin kurang seru dan kurang familiar. Athletic Bilbao. Apa istimewanya klub papan tengah dari provinsi Basque ini? Kalo bicara statistik, sejarah dan fakta, Bilbao adalah 3 serangkai klub La Liga yang belum pernah terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi Spanyol bersama Real Madrid dan Barcelona. Bilbao sudah 8 kali menjuarai La Liga, cukup lumayan. Klub ini juga tercatat sebagai klub sepakbola tertua di Spanyol.

Yang menarik bagi Los Leones adalah komposisi skuadnya. Mereka hanya mengembangkan pemain muda asli Basque, serta hanya mau membeli pemain kelahiran Basque. Basque, yang wilayahnya berada di utara Spanyol, memang menyimpan potensi separatisme. Semangat primordial yang boleh jadi tercetus karena kekecewaan yang dialami akibat pemerintahan diktatorial Jenderal Francisco Franco. Di provinsi ini, hanya Athletic Bilbao yang memegang kebijakan ini. Sementara klub dari Basque lainnya seperti Real Sociedad dan Osasuna membolehkan pemain dari luar Basque untuk bermain di skuadnya. Basque memang tidak sendirian karena dari sebelah timur, provinsi Catalonia juga memiliki spirit serupa. Tapi klub-klub bola mereka tidak ada yg menerapkan policy itu.

Di era modern, pemikiran dan rasa proud semacam itu boleh jadi usang. Sekarang era-nya globalisasi, semangat ketertutupan semacam itu boleh jadi sebuah pemeliharaan akan stagnansi. Sebuah state of mind atas tangis dan kekalahan serta inabilitas mengikuti zaman. Bicara prestasi, Bilbao tidak pernah bisa menggusur dominasi duopoli Madrid dan Barcelona dalam 2 dekade belakang. Terakhir Bilbao menjuarai La Liga adalah saat saya baru umur setahun yaitu tahun 1984. Di tahun ini pula mereka merebut Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Selanjutnya, paling keren mereka hanya menjadi runner up La Liga 1998 dan terakhir runner up Copa del Rey dan Piala Super Spanyol 2009.

Bilbao bukannya tidak pernah menghasilkan pemain bagus. Justru beberapa pemain mereka adalah langganan timnas Spanyol. Kiper tangguh Andoni Zubizareta, The Hardman Andoni Goekotxea, si pembelot Sociedad Joseba Etxeberria, Bek kiri Asier Del Horno, Gelandang tengah jempolan Javi Martinez, Duo striker jangkung beda generasi Ismael Urzaiz dan Fernando Llorente adalah representasi faktual Euskadi Selekkao dalam tubuh La Furia Roja Spanyol dari jaman 80an hingga sekarang.

Sepakbola, bagaimanapun adalah olahraga yang unik. Sepakbola bisa mewakili perasaan tertekan atau terhimpit dari suatu kaum akan kesewenang-wenangan penguasa. Bagi Athletic, melalui olahraga sebelas lawan sebelas inilah mereka bisa sepenuh hati melawan sebelas pasukan penguasa dalam bentuk Real Madrid. Jika di dunia nyata mereka tidak mampu melawan, di lapangan hijaulah mereka punya kesempatan langka itu. Ditambah fakta bahwa sebelas wakil mereka di lapangan adalah orang Basque asli, patriotisme primordial semakin terpercik, yang bagi kalangan lain adalah patriotisme yang buta, tapi bagi Bilbao sebelas petarung itu adalah simbolisme patriotisme buta yang menyenangkan.

Bagi sebagian kalangan, sepakbola bukanlah sekedar olahraga. Sepakbola adalah simbol perlawanan.

Saturday, December 17, 2011

Politik sepakbola Arifin dan Bakrie.(taken from http://www.facebook.com/persebaya/posts/10150416955876666)

Kalau Anda mencintai sepakbola Indonesia, mestinya Anda tidak mendukung Liga Primer Indonesia dan Liga Super Indonesia.

Siapa yang tak cinta Timnas Sepakbola Indonesia? Anda, saya dan kita semua, saya kira mencintai Timnas. Antusiasme sebagian besar orang Indonesia dan luapan penonton di Senayan saat Timnas berlaga di final Piala AFF Suzuki 2010 adalah salah satu bukti, bahwa sebagian besar dari kita mencintai Timnas. Sebagian di antara kita, mungkin malah bermimpi, Timnas bisa berlaga di Piala Dunia.

Tapi menyertai semua semangat dan mimpi itu, ada isu yang tertendang ke gawang publik: gonjang-ganjing pelaksanaan Liga Primer Indonesia. PSSI menganggap pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak direstui FIFA, AFC dan tentu saja oleh PSSI. Tendangan selanjutnya adalah teriakan-teriakan, agar Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya, dan kabar tentang Irfan Bachdim pemain Persema Malang yang konon akan berlaga di Liga Primer.

Lalu benarkah semua tendangan “bola” itu hanya akan berhenti pada persoalan Liga Primer, Liga Super, Nurdin dan PSSI, atau itukah arena lain dendam kesumat dari Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie?

Faktor Sudharmono dan Ginanjar
Arifin Panigoro dan Aburizal Bakrie alias Ical adalah dua pengusaha yang tumbuh besar sejak Soeharto membentuk Tim Keppres 10, 23 Januari 1980. Tim itu diketuai oleh mendiang Sudharmono dan Ginanjar Kartasasmita duduk sebagai salah satu anggota tim. Oleh Soeharto pembentukan tim itu dimaksudkan untuk menumbuhkan pengusaha pribumi dengan antara lain mengalokasikan sejumlah proyek nondepartemen bernilai di atas Rp 500 juta. Sekretariat Negara di bawah Sudharmono lantas ditunjuk sebagai penanggungjawab keberhasilan program tersebut.

Lewat tim itulah sejumlah pengusaha muda pribumi kemudian banyak mendapat prioritas. Ical, Arifin Jusuf Kalla, Iman Taufik, Fadel Muhammad, dan Agus Kartasasmita adalah beberapa pengusaha yang banyak “berhubungan” dengan Tim Keppres 10.

Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi seperti hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai pengusaha-pengusaha pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu menganggap Sudharmono sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada Soeharto dan berada di lingkaran kekuasaan. Kini, dua dari pengusaha yang disusui oleh Orde Baru itu yakni Ical dan Arifin terlibat perseteruan panjang.

Arifin adalah salah satu raja minyak yang cukup terkenal terutama sejak reformasi dan Ical adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Arifin pemilik kerajaan bisnis Grup Medco dan Ical pemilik kerajaan bisnis Grup Bakrie. November tahun lalu, Arifin gagal menjual salah satu anak bisnisnya ke Pertamina karena [terutama] Golkar yang dikendalikan Ical menjegal rencana penjualan itu melalui orang-orangnya di Senayan. Tapi itu hanya titik kecil dari perseteruan keduanya.

Sebagian orang tahu, Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling meradang sejak kedua keluarga itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. PT Medco E&P Brantas anak perusahaan dari PT MedcoEnergi, dulu memang pernah menjadi peserta [participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo.

Perusahaan itu mengantongi 32 persen saham di PT Energi Mega Persada Tbk. Nama yang disebut terakhir adalah salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan pemilik Lapindo Brantas Inc. perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang ditunjuk BP Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai Brantas. Tapi entah kenapa, Medco kemudian menarik diri setelah bencana lumpur itu menyebur di Sidoarjo, 29 Mei 2006.

Akibat sikap Medco [Arifin] itu, Nirwan Bakrie [adik Ical] CEO Lapindo Brantas Inc. konon berang. Nirwan bahkan disebut-sebut sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh kepada Hilmi Panigoro, adik Arifin. Sejak itu hubungan dua keluarga pengusaha itu, dikabarkan terus memburuk. Apalagi hingga sekarang, Grup Bakrie yang harus menanggung sendiri semua risiko akibat luapan lumpur Lapindo itu.

Arifin yang sudah “keluar” dari dunia politik [baca dari PDIP] kemudian seperti menyepi. Nyaris tidak ada suaranya, meski dia tentu saja masih ikut mengendalikan dari balik layar sejumlah manuver politik. Adapun Ical, terus moncer dan sebagian orang, kini menyebutnya sebagai “the real president.”

Liga Primer dan Liga Super
Hubungan dua keluarga pengusaha itu semakin renggang, ketika Sri Mulyani Indrawati sering bertabrakan dengan Ical ketika keduanya masih menjadi menteri di kabinet pemerintahan SBY-JK. Sri Mulyani, sejauh ini memang dikenal “lebih dekat” ke Arifin ketimbang misalnya ke Ical. Beberapa keputusan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, antara lain untuk kasus saham PT Bumi Resources Tbk. awal November 2008, lalu dituding oleh kelompok Ical, sebagai bagian dari manuver Arifin. Sebuah tudingan yang niscaya dianggap lelucon oleh Arifin dan juga Sri Mulyani.

Kini, hubungan dua keluarga pengusaha superkaya itu tampak seperti tak bisa direkatkan, setelah Arifin dkk. membiayai penyelenggaraan Liga Primer. Hak siar kompetisi ini, dikabarkan dikantongi oleh stasiun televisi Indosiar [Grup Salim], sementara hak siar Liga Super [tentu saja] dipegang stasiun ANTV [Grup Bakrie].

Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang dimasudkan untuk “menantang” Liga Super yang digelar oleh PSSI. Tak pula ditujukan untuk misalnya, memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola memilih arena bertanding yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas memilih induk organisasi profesi.

Liga Primer seharusnya juga dibaca sebagai mesiu politik yang lain dari Arifin yang diarahkan kepada Ical. Tidakkah Nirwan Bakrie adalah Wakil Ketua Umum PSSI?

Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis, dan Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila olahraga paling popular di dunia itu. Keluarga Bakrie [tentu saja melalui kelompok bisnisnya] bahkan dilaporkan telah mengakuisisi 20 persen saham klub sepakbola Leicester Inggris. Keluarga itu, disebut-sebut telah memberikan hadiah Rp 3 miliar kepada pemain Timnas. Konon pula, sejumlah pemain sepakbola PSSI telah disekolahkan ke Uruguay dengan dukungan dana sepenunya dari Keluarga Bakrie.

Bagaimana dengan Nurdin? Ketua Umum PSSI itu suatu hari pernah berkata: "Keberhasilan Timnas [di ajang AFF] adalah berkat pengorbanan besar keluarga Bakrie, terutama Nirwan."

Benar, Nurdin memang orang dekat Keluarga Bakrie. Selain sebagai Ketua Umum PSSI, dia dikenal pula sebagai politisi Partai Golkar dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia alias Dekopin. Tahun 2009, dia terpilih sebagai ketua Dekopin menyusul rekonsiliasi faksi-faksi di organisasi koperasi itu yang difasilitasi oleh Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan [Partai Demokrat].

Dia pula pernah menjadi narapidana dalam kasus korupsi. Nama Nurdin juga disebut-sebut oleh Hamka Yamdu [salah satu terpidana dalam kasus suap pemilihan Miranda Goeltom sebagai deputi gubernur senior BI] ikut menerima cek perjalanan sebanyak 10 lembar dengan nilai total Rp 500 juta. Hamka mengungkapkan keterlibatan Nurdin, ketika dia memberikan keterangan dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 27 April lalu.

Tiga serangkai orang Bakrie
Nurdin, Nirwan dan Andi Darussalam Tabusalla adalah Tiga Serangkai yang tidak terpisahkan di PSSI: Nurdin ketua, Nirwan wakil, dan Andi Direktur Badan Liga Indonesia. Orang penting lainnya di PSSI adalah Berhard Limbong [Ketua Induk Koperasi Angkatan Darat atau Inkopad] dan Ibnu Munzir [Wakil Ketua Fraksi Golkar di DPR].

September tahun lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi, kalau Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18 klub peserta Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. “Tolong sampaikan kepada Pak Arifin, silakan kucurkan uang itu ke Escrow Account masing-masing klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak perlu repot-repot membuat kompetisi tandingan,” begitulah kata Andi.

Sekarang, marilah tengok Liga Primer yang akan dimulai 8 Januari mendatang. Penyelanggara liga ini dikabarkan juga telah mendekati PT Djarum, produsen rokok yang dikendalikan oleh Keluarga Hartono [pemilik BCA]. Djarum sejauh ini dikenal sebagai penyokong utama Liga Super [PSSI] dan disebut-sebut telah menghabiskan sekitar US $ 5 juta per tahun untuk kompetesi Liga Super.

Sudah ada 19 klub yang akan berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United, Bali De Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United, Medan Chiefs, Medan Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves.

Pemilik klub [politik] sepakbola
Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT Bentoel Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini dikendalikan oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P].

Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga ketua Partai Amanat Nasional Jawa Timur. Semarang United dikendalikan oleh Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara Merdeka, kelompok media terbesar di Jawa Tengah. Lalu PSM Makassar dikuasai oleh Ilham Arief Sirajuddin, Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan.

Adapun Arifin, tahun lalu telah mengakuisisi PT Pengelola Persebaya Indonesia, pemilik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Jawa Timur tahun lalu. Konon, PT Pengelola Persebaya berniat menyediakan Rp75 miliar untuk Persebaya.

Jadi ke mana sebetulnya olahraga sepakbola Indonesia akan dibawa oleh [untuk sementara] Keluarga Bakrie dan Keluarga Arifin? Mengapa misalnya, mereka tidak memilih arena lain untuk saling menembakkan senjata kepentingan politik mereka ketimbang merusak semangat dan antusiasme sebagian besar dari orang Indonesia yang mencintai dan mendukung Timnas?

Benar, olahraga sepakbola di dunia adakalanya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik. Tapi yang dipertontonkan oleh Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie dalam olahraga sepakbola Indonesia belakangan ini, sungguh sudah tidak menarik karena yang terbaca kemudian adalah mereka hanya meneruskan perseteruan pribadi menjadi perseteruan publik.

Nafsu dan kepentingan politik mereka, apa boleh harus disebut menjijikkan. Padahal kalau mereka mau, mereka bisa membesarkan olahraga sepakbola bersama-sama. Tanpa kepentingan apapun hingga mimpi sebagian besar dari kita untuk menempatkan Timnas di Piala Dunia menjadi kenyataan.

Thursday, December 15, 2011

Anti Madrid yang kini Anti Barca

Melihat sepak terjang FC Barcelona saat ini, semua orang sependapat bahwa mereka adalah tim yang memainkan sepakbola terbaik. Permainan cantik, kerjasama tim, dan kolektivitas tinggi dipadukan dengan gelimang gelar bagi klub, pemain dan pelatihnya. Dan dominasi Los Cules ini sudah berlangsung sejak Pep Guardiola menukangi The Catalan sejak tahun 2008. Berbagai pujian sebagai tim terbaik, tim impian dan tim dari planet lain sudah banyak digenggam tim rival abadi Real Madrid ini. Pelatih legendaris Cesar Luiz Menotti bahkan merasa beruntung dia masih hidup saat menyaksikan permainan FC Barcelona.

Tapi mungkin gak banyak yg sadar kalo sepakbola tiki-taka yang dikembangkan Barca adalah manifesto dari gerakan anti-Madrid mereka. Sadar tidak memiliki kemampuan finansial sebaik sang rival, Petinggi Barca sepakat untuk mengembangkan akademi sendiri dengan pembentukan sistem sedemikian rupa sehingga membentuk pola permainan tim, formasi dasar 4-3-3, gaya bermain tiki-taka dan juga mencakup mentalitas. Semua itu terdapat dalam satu paket bernama La Masia de Can Planes, atau lebih dikenal dengan La Masia. Berlokasi di sebuah residen yang berdiri sejak 1702 -sekarang sudah diperbaharui- siapa yang menyangka dari akademi ini terbentuk seorang Lionel Messi, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, Andres Iniesta sampai Pedro Rodriguez, Thiago Alcantara dan Isaac Cuenca. Mereka terbentuk tidaklah asal jadi, melainkan melalui program coaching dan tempaan yang sistematis.

La Masia awalnya adalah proyek yang diusulkan oleh legenda mereka yang juga legenda sepakbola Belanda, Johan Cruyff pada tahun 1979. Cruyff saat itu ingin membuat akademi "Ajax model" dengan mengacu pada sisem pembinaan pemain muda Ajax yang memang terkenal itu. Proposal Cruyff di-approve oleh Presiden klub saat itu, Josep Luis Nunez. Akademi La Masia mengadopsi permainan Total Voetball Belanda. Kolektivitas yang dipadu tehnik tinggi menjadi tiki-taka ini sudah didoktrin staf pelatih Barca di La Masia sejak pemain berusia 7 tahun. La Masia memiliki program pembinaan yang mungkin sudah lazim dijalankan klub-klub Eropa, yaitu dimulai dari usia 7 tahun. Kelas Prebenjami usia 7-8 tahun, lalu naik ke 11 kelas lagi menjadi Barcelona B yang berkompetisi di Segunda Division sampai ke Barcelona senior. Tidak heran kalau filosofi tiki-taka sudah mendarah daging dalam permainan Barcelona. Bahkan tiki-taka Barca mampu diadopsi timnas Spanyol. La Furia Roja dengan 7 personel inti Barca di Starting eleven-nya mampu merebut gelar Piala Dunia 2010 setelah sebelumnya merebut Piala Eropa 2008.

La Masia bukan melulu soal sepakbola. Para calon penghuni skuad Blaugrana itu setiap pagi diharuskan bersekolah di pendidikan formal layaknya anak-anak pada umumnya, lalu selepas sekolah mereka diharuskan mengerjakan pekerjaan rumah, barulah latihan. "Disini tidak hanya soal sepakbola. Kecuali saat ada turnamen, mereka hanya berlatih 1,5 jam setiap harinya. Kami sangat concern dengan pendidikan, karena bisa membentuk intelegensia dan kepribadian pemain. Dengan cara itu pula, mereka yang gagal masuk ke dunia sepak bola profesional bisa memilih masuk universitas atau mencari pekerjaan lain” jelas Albert Capellas, salah satu staf pelatih La Masia.

Sudah kita sama-sama saksikan bagaimana Barcelona membentuk sebuah model yang awalnya bisa jadi adalah project anti-Madrid. Rival abadi mereka itu adalah tim raksasa dunia dengan kekayaan seolah tidak ada batas. "Madrid adalah rumah bagi pesepakbola-pesepakbola terbaik dunia" begitulah ungkapan Presiden Florentino Perez yang terkenal itu. La Masia adalah sebuah ide untuk menandingi kekayaan Real Madrid sekaligus menyingkirkan El Real dari singgasana La Liga. Disaat Madrid menjual kompleks latihannya senilai 250 juta euro demi mendatangkan Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo dan David Beckham dalam Project Los Galacticos, Barca tetap konsisten dengan La Masia.

La Masia sudah menghasilkan 3 nominator Ballon D'or dalam diri Lionel Messi, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez. Serta sextuple winner pada tahun 2009 yang belum mampu disamai klub manapun di dunia. Sementara Madrid kini seolah kehilangan seluruh slogannya karena dirampas dengan kuat oleh tentara-tentara dari Catalonia. Kini Madrid yang mengalami situasi sebaliknya. Mereka terang-terangan mengusung strategi anti-Barca. Strategi transfer pemain yang masih sama, mendatangkan pelatih bereputasi super dalam diri Jose Mourinho, memainkan permainan keras dan pressing ketat sudah dijalankan, tapi Los Merengues masih belum berhasil hingga saat ini. Madrid memang masih memimpin klasemen La Liga, tapi dengan keunggulan hanya 3 angka yang bisa digeser El Barca. Mou juga kembali dibuat gigit jari di El Classico edisi terakhir di Santiago Bernabeu yang berkesudahan 3-1 untuk skuad Pep Guardiola. Kesimpulan yang terlalu prematur jika menganggap Madrid sudah gagal musim ini, tapi kekalahan itu jelas menggambarkan peta kekuatan diantara mereka. Konstelasi klasemen La Liga yang semula memisahkan Madrid dan Barca dengan 6 poin, kini hanya berjumlah 3 saja.

Madrid membutuhkan lebih dari sekedar uang untuk menghentikan Barca. The table has turned. Keadaan dimana semula Barca yang memainkan strategi anti-Madrid kini berubah menjadi Madrid yang kini mencoba cara dan formula paten anti-Barca. Jika dulu Jose bersama Inter tanpa malu hati memainkan pola "memarkir Airbus" didepan gawang, kini di Madrid situasinya berbeda. Madrid terlalu gengsi memainkan strategi demikian. Hal ini akan dimurkai Presiden Perez dan suporter Madrid, yang juga menginginkan kemenangan dengan permainan memikat. Sangat disayangkan juga talenta seperti Cristiano Ronaldo, Mesut Ozil, Ricardo Kaka dan Gonzalo Higuain dipaksakan menu bertahan. Mou masih punya banyak PR.

Tuesday, December 13, 2011

Sponsorship terselubung The Eastlands?

Bahwa sepakbola eropa sudah menjadi industri bukanlah barang baru. Segala yang berurusan dengan sepakbola disana bisa kecipratan untung. Dan tentunya disana sepakbola mampu menggerakkan perekonomian secara masif. Dari pemain, pelatih, dokter tim, fisioterapis, pemelihara lapangan, penjual merchandise, televisi, produk-produk olahraga, dan lain-lain semua merasakan berkah dari perputaran super cepat dunia kulit bundar ini.



Saya mau bicara soal Manchester City alias The Eastlands sebagai contoh. Klub sekota Manchester United ini sudah mulai menggeliat untuk menerobos kemapanan big four English Premier League (EPL) yang selama ini diisi Manchester United, Chelsea, Arsenal dan Liverpool sejak diambil alih oleh Thaksin Shinawatra, eks perdana menteri Thailand. Saat itu Thaksin mulai menginjeksi puluhan juta euro untuk memperbaiki kinerja City, terutama di bursa transfer termasuk mendatangkan pelatih eksentrik Sven Goran Eriksson sebagai bukti konkrit. Sayang, kiprah Thaksin hanya sebentar karena dia tersandung kasus korupsi di negaranya, yang membuatnya harus angkat kaki dari City of Manchester Stadium.



Namun pada tahun 2008 lalu, angin segar kembali melanda si biru langit dari kota Manchester setelah proses akuisisi oleh Abu Dhabi United Group. Dengan deal yang dilaporkan mencapai 200 juta pound, City menjadi "orang kaya baru" di ranah sepakbola eropa. Bisa ditebak, City langsung menggebrak di bursa transfer dengan mendatangkan bintang Brasil, Robinho dari Real Madrid sebesar 32,5 juta pound, yang saat itu memecahkan rekor transfer termahal di Inggris. Pada musim tersebut, City menduduki peringkat 10 dan mencapai babak perempat final Europa League.

Selanjutnya, City makin menggila dan seolah menguasai bursa transfer. Total senilai kira-kira lebih dari 100 juta pound dikuras dari kas klub dalam waktu 2 tahun untuk mendatangkan pelatih Roberto Mancini dan pemain-pemain mahal semisal Gareth Barry, James Milner, Wayne Bridge, Aleksandr Kolarov, Joleon Lescott, Nigel De Jong, Jeremaine Boateng, Patrick Vieira, David Silva, Emmanuel Adebayor, Carlos Tevez, kakak beradik Kolo dan Yaya Toure, sampai si bengal Mario Balotelli dan jagoan Bosnia, Edin Dzeko. Hasilnya, pemain-pemain ini mampu membawa City lolos ke Liga Champions dengan menduduki peringkat 4 EPL dan juara piala FA musim 2010/2011 yang baru berakhir. Roberto Mancini berkomentar bahwa gelar piala FA ini hanyalah awal dari kejayaan dinasti City.



Sensasi City tidak berhenti sampai disitu. Dengan proyek super-ambisius pimpinan Sheikh Mansour, City masih mengincar banyak pemain bertalenta yang tentunya berharga mahal dan bergaji tinggi setiap tahunnya. Target mereka menguasai EPL pun diramal hanya tinggal menunggu waktu saja. Tapi masih ada lagi sensasi yang dibuat City diluar dunia transfer pemain, yaitu masalah sponsorship.



City dimiliki oleh konsorsium Abu Dhabi United Group, dimana salah satu perusahaannya adalah Etihad Airways, yang namanya terpampang di seragam City. Baru-baru ini Etihad selaku sponsor mengucurkan dana super fantastis sebesar 400 juta pound untuk durasi kontrak 10 tahun. Jumlah inilah yang dipermasalahkan banyak pihak seiring dengan kebijakan UEFA selaku otoritas sepakbola tertinggi eropa untuk menggulirkan Financial Fair Play mulai tahun 2013.



Presiden UEFA, Michel Platini mulai gerah dengan perkembangan sepakbola terkini, dimana klub-klub sepakbola dinilainya sudah kehilangan akalnya. Klub-klub kaya lebih mementingkan prestasi instan dengan cara mendatangkan pemain asing berharga mahal daripada mempercayakan pembinaan jangka panjang dari akademi klub sendiri. Hal ini akan menghambat pembinaan sepakbola usia muda, dan tidak sejalan dengan spirit keprihatinan global pasca krisis ekonomi, juga terjadinya persaingan yang tidak sehat dalam kompetisi sepakbola, dan klub akan kehilangan jati dirinya karena makin minimnya jumlah pemain lokal dalam klub.

Selain mengkampanyekan pembatasan jumlah pemain asing dan pengaturan home grown player, Platini juga mencanangkan Financial Fair Play yang mengharuskan posisi keuangan klub dalam kondisi sehat, yang artinya tidak merugi. Pengeluaran klub tidak boleh lebih besar daripada pendapatan asli klub. Pendapatan asli klub ini terdiri dari hak siar televisi, penjualan tiket stadion, penjualan merchandise, dan kegiatan sponsorship. Dengan adanya Financial Fair Play, posisi keuangan fiskal klub diharapkan berada dalam posisi laba, yang tentunya akan menjadi potensi penerimaan pajak yang besar bagi negara. Dalam tahap monitoring 2011/2012 dan 2012/2013, UEFA memberi syarat kerugian maksimum adalah sebesar 45 juta euro. Konsekuensinya, klub yang melebihi angka kerugian tersebut akan terkena sanksi larangan mengikuti kompetisi dibawah payung UEFA, termasuk larangan aktif di bursa transfer pemain.



Namun dengan nilai sponsor yang mencapai 40 juta pound per tahun tadi, City praktis dapat bernapas lega karena suntikan tersebut diyakini meloloskan mereka dari sanksi UEFA tersebut. Posisi keuangan City akan senantiasa berada pada titik aman, karena tiap tahunnya disokong dana besar, dan dengan asumsi pendapatan klub juga akan makin meningkat seiring keikutsertaan mereka di Liga Champions dan penetrasi pasar yang semakin . Artinya, City tetap akan leluasa membelanjakan puluhan juta uangnya di pasar pemain setiap tahun seperti yang mereka lakukan selama ini.



Banyak pihak yang tidak tinggal diam menyangkut hal ini. Manajer Arsenal, Arsene Wenger berkomentar bahwa City telah melakukan transaksi sponsorship yang jauh dari kewajaran, dan menuntut Platini bersama UEFA melakukan investigasi mengenai tingkat kewajaran transaksi ini. Dia mencontohkan Arsenal yang "cuma" mendapatkan kontrak sebesar 100 juta pound dari Emirates Airways dengan durasi kontrak 15 tahun, yang berarti hanya sekitar 1/7 saja dari yang diterima City dari Etihad. Kredibilitas Financial Fair Play dipertanyakan. Hal senada dikeluhkan oleh Ian Ayre, managing direktur Liverpool. Ayre juga terheran dengan digantinya nama stadion City of Manchester Stadium dengan Etihad Stadium sebagai konsekuensi kontrak. Hal ini dikatakannya merupakan pertama kali terjadi di dunia sepakbola.



Permasalahannya adalah, apakah ada harga pasar wajar untuk transaksi sponsorship klub? Apakah pencanangan Financial Fair Play adalah solusi terbaik guna mengembalikan sepakbola pada hakikatnya sebagai permainan yang fair, baik didalam maupun luar lapangan? Pekerjaan rumah yang besar telah menanti Platini, karena klub-klub semacam ini bukan hanya City, tapi sebelumnya telah muncul Chelsea. Dan kini di ranah Iberia muncul Malaga, klub dari wilayah Andalusia, Spanyol, yang baru-baru ini dibeli oleh konsorsium dari Qatar dan siap menggoyang duopoli La Liga dari tangan Barcelona dan Real Madrid dengan kekayaan barunya. Belum lagi Paris Saint Germain yang juga baru diakuisisi konsorsium Qatar.


Sepakbola sekarang memang bukan sekedar permainan, tapi bisnis. Bisnis yang menguntungkan banyak pihak. Tapi apakah sepakbola harus menutup mata pada permasalahan lain di dunia yang lebih mendesak, seperti masalah kelaparan, keterbatasan pangan, kesehatan dan lainnya? Perputaran uang yang terlalu kencang di dunia sepakbola dan terkonsentrasinya kekayaan hanya pada golongan tertentu tentunya sangat menyakiti kaum-kaum marjinal, yang tidak tau hari esok mereka akan seperti apa.

Neverending Clash of Titans

Bicara PSSI memang gak ada habisnya. Sebagai induk organisasi dari olahraga yang paling digemari di tanah air yaitu sepakbola, PSSI sebenarnya dibebani peran integral untuk memperbaiki prestasi sepakbola kita.

Salah satu sarana, dan boleh jadi mutlak adalah penyelenggaraan kompetisi. Kompetisi ibarat pabrik besar pesepakbola, dimana timnas sebagai pemakainya. Analogi ini ibarat perkebunan dan toko buah. Sebagus apapun toko, percuma kalo buah yang dijualnya berkualitas jelek. Kompetisi yang baik akan memudahkan timnas. Timnas tinggal memilih 20-23 pemain-pemain terbaik hasil kompetisi, yang nantinya dikerucutkan ke 11 terbaik sebagai starting eleven.

Kompetisi sepakbola yang ideal sebenernya punya kriteria simple. Yaitu diakui secara internasional dalam bentuk FIFA dan badan-badan yang bernaung dibawahnya, dan tentunya dalam hal ini diakui PSSI sebagai anggota FIFA. Tapi permasalahannya, apa kompetisi legal udah pasti sehat? Nanti dulu.

Kompetisi yang sehat, selain legal juga mengutamakan kepentingan yang lebih besar, dalam hal ini klub dan pemain didalamnya. Karena pemain adalah pelaku langsung dari permainan sepakbola, dan klub adalah penghasil sekaligus penyambung hidup pemain-pemain itu.

Kalo boleh gue ceritain, mungkin bisa panjang lebar dan ngebosenin jadinya. Tapi secara garis besar kronologisnya berawal dari pengurus lama. Sekelompok orang yang saat itu gerah dengan buruknya kualitas kompetisi ISL (Indonesia Super League) berinisiatif membuat sebuah kompetisi tandingan bernama LPI (Liga Primer Indonesia). Dengan jargon heroik berupa pengelolaan profesional, peningkatan standar mutu dan pembiayaan mandiri tentu aja sangat gampang menarik simpati berbagai kalangan.

Rezim lama lengser, datanglah rezim baru. Rezim baru yang diawal kepengurusannya aja udah kontroversial dengan meminggirkan Alfred Riedl ini lalu membuat kebijakan lain yang bahkan lebih kontroversial. Ide mereka memang baik, yaitu melebur kompetisi ISL dan LPI kedalam satu wadah yaitu Liga Prima Indonesia (juga LPI), termasuk melebur klub-klub didalamnya. Yang namanya peleburan atau penggabungan di perspektif bisnispun berarti harus ada kepengurusan baru, dan cuma satu pengurus yang bertahan, karena gak mungkin dalam satu kapal ada 2 nahkoda.

Tapi sebagaimana kita semua tau, itulah yang terjadi sekarang. PSSI gagal menjadi mediator netral dalam penyelesaian masalah kepemilikan klub-klub tadi, karena sebagai penetral, mereka justru sama sekali gak netral. Secara sepihak, mereka memutuskan siapa pemilik klub, dan mengacak-acak kepengurusan yang sudah ada.

Gak heran kalo klub-klub yang merasa dirugikan jadi mundur dari kompetisi LPI. Langkah ini diikuti banyak klub yang akhirnya menjadikan embrio yang menghidupkan kembali nadi ISL. ISL pun menjalankan kompetisinya. Ironisnya bagi ISL, the table has turned. Mereka kini menjadi kompetisi breakaway, sementara LPI menjadi kompetisi legal. Banyak mudaratnya dari keadaan ini, bahkan lebih besar pengaruhnya ke timnas daripada pada saat LPI menjadi breakaway league.

Pemain-pemain yang selama ini menjadi punggawa timnas, kebanyakan memperkuat tim ISL. Sementara PSSI tidak mengakui eksistensi klub ISL dari sisi legalitas. Habislah klub ISL tersebut tidak bisa mengikuti kompetisi yang berada dibawah PSSI, berimbas pula kepada didiskualifikasinya Persipura dari Liga Champion Asia, yang notabene berada dibawah naungan AFC, Federesi Sepakbola Asia.

Soal Persipura yang menjadi korban itu adalah konsekuensi dari tidak terselesaikannya dualisme kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia. Persipura bahkan mempertimbangkan untuk mengikuti Liga Australia saja karena keputusan PSSI untuk tidak mendaftarkan mereka di Liga Champions Asia telah melukai perjuangan mereka yang merebut gelar juara ISL musim lalu.

Gak berhenti di pemain dan Persipura aja korban situasi ini. Coach RD akhirnya mundur dari timnas U-23. Komentarnya sesaat setelah pertemuannya dengan pengurus PSSI sangatlah bijak dan ksatria "Saya meresa gagal tidak memenuhi target emas" begitulah katanya kepada wartawan. Tapi kita semua taulah apa alasan sebenarnya dari pengunduran diri Coach RD. Dia merasa tidak akan maksimal melakukan pekerjaannya jika tidak bisa memilih pemain terbaik untuk timnas. RD berharap masalah dualisme kompetisi ini bisa diselesaikan bagaimanapun caranya.

Kesalahan yang sama kembali diulang. Setelah sebelumnya melengserkan Alfred Riedl, kini RD dibiarkan pergi. Orang-orang kompeten dan eksepsional itu tidak ubahnya korban dari pertikaian yang terjadi diantara kalangan elit PSSI. Ditambah lagi, kini PSSI tidak mengakui program SAD (Sociedad Anonima Deportivo) yang berkompetisi di Quarta Division Uruguay karena SAD adalah programnya Nirwan Bakrie, yang bukan lagi bagian dari elit PSSI sekarang.

Kita bisa lihat bahwa kisruh ini terjadi karena pertikaian antar elit. Clash of Titans. Balas dendam rezim baru setelah mereka kini punya kuasa. Keliatan kalo disini sepakbola identik dengan politik, dan tentunya siapa yang berpihak pada penguasa dialah yang berjaya. Penguasa tidak melihat lagi MANFAAT dari suatu program, tapi melihat SIAPA yang memiliki program itu. Kalo bener ungkapan "Sepakbola adalah identitas suatu bangsa" maka bener keliatan karakter bangsa kita ini seperti apa.

Semoga Neverending Clash of Titans ini segera berakhir! Solusi apapun yang terbaik sangat dinantikan bangsa ini.

Monday, December 12, 2011

Brasil dan Julukan Pemain Bola (taken and personally edited from liputan6.com - artikel 14 Nov 2010)

Entah itu di pantai, di sekolah, di jalanan ataupun di dalam stadion, olahraga sepakbola di Brasil tidak akan lengkap tanpa adanya nama julukan. Para pemain berlomba mengganti nama formal mereka menjadi nama julukan.

Nama julukan seperti Formica (si Semut), o Carioca (asal Rio) atau o Mexerica (si Jeruk) adalah nama yang umum beredar di kalangan pemain. Bagi pemain bertubuh kecil, ”inho” wajib ditambahkan di belakang nama julukan mereka seperti misalnya Robinho (si Robson kecil) atau Ronaldinho, meskipun tubuhnya kini tak sekecil saat karir profesionalnya mulai merekah.

Secara kontras, para pemain yang lebih besar mendapatkan tambahan “ao” di belakang nama julukan mereka. Contohnya, mantan pelatih Brasil Felipao (Big Phil) Scolari, yang notabene merupakan bek kokoh bertubuh besar saat ia masih merumput.

Mungkin nama-nama julukan semacam ini hanya sebuah cara sederhana membedakan para pemain di negara gila sepakbola seperti Brasil. Atau mungkin ini merupakan obsesi rakyat Brasil untuk menambahkan “aksesoris” pada permainan sepakbola indah Samba. Yang pasti tidak ada satu negara pun di dunia ini yang menjadikan nama julukan sebagai bagian integral kebudayaan sepakbolanya.

Di negara pengoleksi 5 gelar juara Piala Dunia ini, para fans kemungkinan besar bahkan tidak mengetahui nama-nama asli idola mereka. Dan meski legenda-legenda sepakbola seperti Franz Beckenbauer (Der Kaiser/Jerman) dan Diego Maradona (El Pibe de Oro/Argentina) kadang-kadang dipuja dengan nama julukannya, namun tidak seperti di Brasil, nama-nama tersebut tidak akan menggantikan nama asli mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Dan sesungguhnya, sebagian besar pemain tersohor di Brasil hanya dikenal dengan nama kecil mereka. Valdir Pereira yang membawa Brasil dua kali juara PD dan Edvaldo Izidio Neto, top skorer PD Swedia 1958, misalnya. Seumur hidupnya fans mengenal Pereira dengan nama kecilnya Didi dan Neto dengan nama Vava. Contoh terbaru adalah Ricardo Izecson dos Santos Leite yang kita kenal dengan sebutan Kaka.

Berbeda dengan mereka, beberapa legenda Brasil lainnya memperoleh nama julukan melalui berbagai cara unik. Termasuk di antaranya dua pemain terhebat sepanjang sejarah, Pele dan Garrincha. Pele kecil dikenal dengan nama Edson Arantes do Nascimento. Saat masih bocah Edson bercita-cita untuk menjadi seorang kiper seperti idolanya Bile, penjaga gawang di klub Vasco de Sao Lourenco di utara Minas Gerais.

Ketika sedang berlatih bersama sobat-sobatnya, Edson kecil seringkali bermain sebagai kiper. Setiap kali berhasil mengamankan gawangnya dari serbuan musuh, Edson akan berteriak “Bile” seolah-olah ia sedang beraksi layaknya sang idola. “Hore, Pele,” teriak rekan-rekannya yang salah mendengar nama yang diteriakan oleh Edson kecil. Anehnya bukan sebagai kiper Pele dikenal, namun sebagai penyerang tersubur sepanjang sejarah.

Sementara itu, Garrincha yang memiliki nama asli Manoel dos Santos memiliki sejarah nama julukan berbeda. Julukannya datang dari seekor burung coklat yang umum ditemui di kota kelahirannya Pau Grande. Nama Garrincha merupakan ejekan yang datang dari sang kakak saat melihat kedua kaki adiknya yang kecil, kurus dan membungkuk seperti burung Garrincha. Pada saatnya nanti, nama Garincha merupakan sinonim dari pemain dengan permainan sayap menggemparkan dan salah satu penyerang kanan terpopuler sepanjang masa.

Sejumlah julukan pemain lainnya juga memiliki sejarah yang unik. Kapten Brasil pada PD 1994 Carlos Caetano Bledorn Verri dikenal dengan nama Dunga (Dopey) merujuk kepada karakter kurcaci dari film Disney, ‘Snow White and the Seven Dwarfs’.

Lain halnya dengan Marcos Andre Batista Santos yang membawa Brasil juara PD 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Ia dikenal dengan nama Vampeta. Nama ini merupakan ejekan yang datang dari teman-teman sekolahnya. Pada awalnya ia dijuluki o Capeta (sang Iblis) merujuk pada roman mukanya saat masih bocah. Namun saat ia kedua gigi susunya di bagian tengah patah, sontak teman-temanya menjulukinya o Vampiro (Drakula). Nama Vampeta merupakan kombinasi keduanya.

Selain karakteristik fisik, nama julukan pemain Brasil juga berasal dari kota kelahiran. Junior Baiano (kota Bahia) or Marcelinho Carioca (dari Rio, dimana penduduknya dikenal dengan sebutan Cariocas). Nama-nama binatang juga populer dijadikan sindiran atau julukan bagi pemain, seperti Pavao yang berarti merak, Edson Cegonha (bangau), Claudio Pitbull (jenis anjing), Ratinho (tikus kecil), dan Aranha (laba-laba).

Begitu juga nama makanan atau benda-benda seperti Cocada (permen kelapa), Eduardo Arroz (beras), Ademir Sopa (sup), Triguinho (gandum), Viola (biola), Balao (balon), Tesourinha (harta kecil), Alfinete (pin) dan Valdir Papel (kertas). Rakyat Brasil nampaknya tidak pernah kehabisan ide untuk menjuluki idola-idola mereka.

Friday, December 9, 2011

Football is life: Lose


In this posting, I would like to draw attention on one of life aspect in football. Lose. Yeah lose. If you reflect for a while and remember, how many games we defeated and how many games we won, I can say that we lose more than win. Maybe you don't? Well at least that's based on my experience.

How many "serious" games I have played, maybe above 25 games, and maybe I only won 10 and played well only 7 of them. The rest, sometimes I play in a successful way, sometimes sucks. But, the difference between "success" and "sucks" is sometimes very slight. A second ago we won, this time we lose. The world turns so fast just in a matter of second. And you must be agree that in every competition, there's only 1 champion. The rest are loser. Runner up? No. People only remember the number one.

So, if we used to become a loser, should we stop fighting? Should we cry and mock? No. Lose is just a result. And between the beginning and ending, there are always process. A process of growing up, a process of being a better player. We can always get back at anytime. We can fight until we get bleed, until we get sweat and no matter the result, we should get on our feet! If we don't fight, if we stop playing maybe we won't get hurted or wounded. But we will be a wuss. We will never experience a rush blood to our head!

How many missed shot Lionel Messi tried until he got succeed? it was uncountable. How many shot attempted by Cristiano Ronaldo if compared by the goals? it sometimes 10:2. How many failure has Zlatan Ibrahimovic felt when he trained his tricks? Maybe too many to be mentioned. But are they quitter? No, they are winners. And one of important thing to bear with lose is patience. Be cool and keep trying. Life is not always how to win the battle, but how we get up from falling. Because a champion is someone who is always standing, even if standing is not easy.

Monday, December 5, 2011

Euro 2012: Let's Create History Together!


Beberapa hari lalu ditengah sarapan menjelang berangkat jadi corporate slave, gw duduk rapi didepan tv. Di layar tv ada berita politik tentang Nazarudin, tp bukan si tertuduh koruptor yg ngabisin 4 miliar rupiah hanya demi jemput ke Kolombia yg bikin gw tertarik, melainkan running text dibawahnya. Apa isinya? Hasil drawing Euro 2012.

I couldn't finish my coffee as soon as I saw the drawing result. When I saw "Group A: Poland, Czech Republic, Russia, Greece" I lost my appetite. I could imagine that the next 3 group will be group of death! Bukannya saya mengecilkan keempat kontestan grup A ini. Tapi nyatanya saya sulit percaya bahwa Polandia bakal melaju. Walaupun mereka tuan rumah, Robert Lewandowski dkk tidak bisa dibilang teruji menahan kebangkitan Rusia. Negara Poros BRICS ini sedang menikmati kebangkitan sepakbolanya. Banyak orang kaya mereka menjadi pemilik klub bola, baik dalam maupun luar Rusia. Kebangkitan awal mereka sudah menuai hasil dalam bentuk Andrei Arshavin, Igor Akinfeev, Roman Pavlyuchenko, Igor Semshov, sampai sekarang Alan Dzagoev mereka gadang2 menjadi bintang turnamen. Ingat juga, mereka adalah semifinalis Euro 2008 saat pertama kali Andrei Arshavin dan Pavel Pogbernyak membuka mata dunia, khususnya jaringan talent scout klub2 kaya. Bagaimana dengan Yunani dan Ceko? Well, harus diakui bahwa keberhasilan menjuarai Euro 2004 membuat Hellas kini menjadi langganan kontestan turnamen sepakbola kelas dunia. Meskipun susah mengulangi sensasi Theodore Zagorakis cs di 2004, mereka punya modal seperti biasa: pertahanan tangguh dan serangan balik dahsyat. Ceko? Well, sepeninggal Pavel Nedved, Karel Poborsky, Patrik Berger dan Petr Kouba, sekarang Tomas Rosicky masih belum mampu secara masif menggandeng Martin Fenin, Jaroslav Plasil atau Tomas Necid menapaktilasi permainan senior-seniornya itu.

And the group of super-death was also announced. "Group B: Germany, Netherland, Portugal, Denmark" I said "Come on! We will probably see Cristiano come home soon!" Also I thought we won't see best of Cristian Erikssen in dynamite force. Disini kita bakal lihat tim2 juara beradu. Jerman & Belanda mungkin unggulan terdepan, tp mereka gak bisa menyampingkan Portugal dan Denmark. Dengan Erikssen sebagai motor serangan, Denmark bisa berharap mampu meledak lagi seperti tahun 1992. Mereka mampu memaksa Portugal menjalani Play-off sebelum lolos ke Euro 2012. Portugal sendiri bisa dibilang tim layak menjuarai turnamen besar, karena punya sekumpulan pemain2 juara disana. Ronaldo, Nani, Raul Meireles, Bruno Alves, Pepe, Fabio Coentrao dan Joao Moutinho adalah nama2 jaminan mutu di game Football Manager. Sayangnya ego besar pelatih Paulo Bento bisa menjadi bumerang dengan diparkirnya pemain2 senior macam Ricardo Carvalho dan Jose Bosingwa. Jerman dan Belanda jangan ditanya. Mereka adalah tim spesialis turnamen yg akan memberikan segalanya untuk menang. Eskalasi performa Mesut Ozil, Mario Goetze, Mats Hummels dan Mario Gomez di kubu Panser maupun Robin Van Persie di kubu Oranje diharapkan berada pada klimaks yg sanggup mengantarkan prestasi terbaik di perhelatan 4 tahunan ini.

Well selanjutnya gw penasaran dimana Italia berada. Ternyata ada di Grup C. Spanyol, Italia, Irlandia dan Kroasia. Another tough group as well, I guess. Saya capek membayangkan jagoan saya Italia bakal tersingkir dini nanti di Euro 2012. Kesedihan saya belum juga hilang mengingat nasib mereka di South Africa 2010. Dan sekarang, mereka harus satu grup dengan sang juara bertahan Spanyol. Dan satu grup pula dengan Irlandia yg dilatih salah satu putra terbaik mereka, Giovanni Trappatoni. Italia dibawah Prandelli yg menyukai striker-striker pendek mengandalkan Antonio Cassano dan Giuseppe Rossi sebagai kartu jokernya. Sayang keduanya mengalami cedera yg gawat sehingga kemungkinan tampilnya di Ukraina-Polandia relatif tipis. Mengandalkan si bengal "Why Always Me" Mario Balotelli adalah perjudian, tapi memang saat ini Italia butuh pemain nakal seperti dirinya, maupun Cassano dan Rossi untuk menemani striker2 "lurus" macam Gianpaolo Pazzini, Alberti Gilardino maupun striker2 hijau macam Alessandro Matri dan Pablo Osvaldo. Vicente Del Bosque sebagai entrenador Spanyol juga gak bisa dibilang udah ongkang-ongkang kaki. Rentannya kondisi Carles Puyol memaksanya memasang Sergio Ramos mendampingi Gerard Pique. Lini pertahanan yg kurang seimbang ini berkontribusi memberikan hasil2 buruk tim matador selama uji coba belakangan ini. Belum lagi persoalan mandulnya Fernando Torres. Ide untuk tidak menyertakannya dan menggantinya dengan striker2 yg lagi on fire macam Fernando Llorente, Roberto Soldado atau memberikesempatan untuk Imanol Agiretxze dan Iker Muniain bukanlah perkara mudah. Diluar macetnya argo gol el nino, dia tetaplah striker terbaik yg dimiliki La Furia Roja. Dialah pencetak gol tunggal kemenangan Spanyol atas Jerman di final 2008 yg mentas di Stadion Ernst Happel itu. Pers boleh menempatkan Spanyol sebagai unggulan pertama, tapi jangan anggap enteng Irlandia dan Kroasia. Semangat tempur Britania Raya yg mengandalkan aspek fisik mampu menyulitkan tim manapun. Dengan Kevin Doyle dan Robbie Keane sebagai ujung tombak didukung Damien Duff dan Aiden McGeady dari kedua sisi lapangan, dan Shay Given yg kokoh dibawah mistar gawang, Irish bisa banyak berharap. Kroasia sekarang mungkin tidak setangguh pendahulunya. Prestasi generasi emas Zvonimir Boban, Davor Suker, Alen Boksic dan Igor Tudor cs mungkin sulit diulangi Luka Modric cs, walaupun ditukangi pelatih dari generasi emas tersebut, Slaven Bilic. Bilic, yg juga seorang gitaris band metal di negaranya, nyatanya gak mampu meloloskan Vetreni ke South Africa 2010. Bisa jadi di turnamen inilah karirnya sebagai pelatih Kroasia dipertaruhkan.

Satu grup lagi sudah jelas dong milik Ukraina, Inggris, Prancis dan Swedia. Wow, lagi2 tough group. Kita bakal lihat adu tajam striker2 kelas dunia di grup ini. Zlatan Ibrahimovic, Darren Bent dan Karim Benzema. Belum lagi ambisi Andriy Shevchenko untuk mempersembahkan yg terbaik bagi negaranya sebelum dia pensiun. Khusus Inggris, sebagai salah satu tim yg menjadi incaran favorit pers, ini bisa dibilang batas akhir generasi kebangkitan mereka yg dimulai akhir 90an. Frank Lampard, John Terry dan Ashley Cole mungkin akan habis setelah turnamen ini selesai. Usia memang hanya angka, tapi tidak bisa menipu performa. Absennya Wayne Rooney di 3 partai awal membuat grup ini terbuka persaingannya. Tapi tidak seperti turnamen sebelumnya yg selalu krisis kiper tangguh, kali ini St. George Cross bisa berharap banyak pada sosok Joe Hart. Sementara itu Zlatan Ibrahimovic akan mendapat suplai maksimal dari Seb Larsson dan Ola Toivonen, dan bisa jadi 1 atau 2 gol Ibra akan membantu mereka lolos dari grup ini. Prancis dilain sisi juga favorit. Pemain2 bagus dan pelatih kharismatik mereka miliki. Laurent Blanc diyakini mampu menularkan pengalaman dan mental juaranya sebagai pemain waktu menjuarai Euro di Belanda-Belgia 11 tahun lalu. Dengan skuad fresh yg dikomando Yohan Cabaye ditengah, Adil Rami dibelakang dan Karim Benzema, Kevin Gameiro dan Olivier Giroud di barisan artileri, ayam jantan diharapkan mampu berkokok nyaring di kota Kiev dan Warsawa.

Apapun itu, mari kita doakan supaya Euro 2012 menjadi salah satu turnamen terseru yg pernah ada! Seperti tag line turmanen ini: Creating History Together. Ok, mari kita ciptakan sejarah bersama2!

Thursday, December 1, 2011

Sepotong pizza dan sepiring pasta dari kota mode

Sebentar lagi, 16 Desember adalah ultah ke 112 klub favorit gw sejak lama, AC Milan. Klub sarat prestasi dan identik dengan permainan campuran skill samba Brazil dan defense catenaccio Italia ini sudah lama melakukan ekspansi ke seluruh dunia dengan program2 mereka. Divisi marketing mereka bekerja dengan baik nampaknya.

Indonesia adalah negara yg beruntung menjadi perhatian klub elit kota mode ini. Udah 2 taun ini Milan menyambangi Indonesia dalam rangka program mereka, Milan Junior Camp. Disini, mereka menyeleksi ratusan pemain usia 6-17 tahun untuk diajak mengisi liburan sekolah mereka untuk berlatih di Milanello dan mengikuti kompetisi internal junior Milan. Walaupun internal, tentu gak bisa dipandang sebelah mata karena peserta datang dari berbagai belahan dunia.

Milan yg banyak mengorbitkan pemain dari akademi sendiri, tentu sangat perhatian dengan pembinaan pemain mudanya. Paolo Maldini, Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti yang menjadi legenda Milan, hingga pemain seperti Alessandro Matri yg sekarang jadi andalan Juventus adalah alumni sekolah sepakbola Milan. Melanjutkan pencapaian tersebut, Milan memperluas jaringannya ke seluruh dunia. Melalui Danielle Massaro, Indonesia direkomendasikan menjadi salah satu negara tujuan pencarian bakat2 muda.

Dan hasilnya tentu kita sama2 tau kalo tim Indonesia mampu juara dalam 2 edisi terakhir. Mereka mengalahkan tim2 dari negara elit sepakbola dunia seperti Brazil dan Italia. Masihkah PSSI menutup mata atas talenta2 super ini? Intinya adalah saat usia remaja, anak2 Indonesia mampu diadu dengan anak2 Brazil dan Italia, tapi coba adu lagi mereka 5 tahun kemudian. Jelas ada gap antara usia 12-17 tahun anak2 Indonesia. Mereka gak dinaungi kompetisi untuk mengimplementasi bakatnya, akhirnya waktu berlalu tanpa terasa di masa remaja mereka, dan kita kembali menjadi pecundang.

Tom Byer, orang yg bertanggung jawab atas melejitnya prestasi Jepang belakangan ini, dengan mengorbitkan pemain2 muda dalam output Shinji Kagawa dan Keisuke Honda, menegaskan bahwa usia 12 adalah usia krusial seorang pemain bola. Jika seorang anak ingin serius main bola sebagai mata pencahariannya, di usia inilah saatnya. Disinilah Byer membenahi struktur di Jepang. Dia mengubah kebiasaan bahwa pelatih dibayar makin mahal jika menukangi tim yg makin senior. Jadi, kisah Kapten Tsubasa bisa jadi bukanlah khayalan belaka bagi negeri sakura.

Di Indonesia, pemahaman sepakbola anak usia 12 tahun setara dengan anak umur 8 tahun di Eropa. Disinilah Paul Barrett mencoba menjembatani gap tersebut. Melalui akademi Liverpool di Indonesia, dia akan memberikan program beasiswa kepada 20 siswa terbaik untuk berlatih di Liverpool dalam program unggulan "golden scholarship"

Kembali ke Milan, setelah 2 tahun berturut2 Indonesia menjuarai Milan Junior Camp, para petinggi Milan akhirnya membuka mata buat Indonesia. Wacana untuk membuka akademi di Indonesia sudah digaungkan, dan mudah2an terimplementasi segera.

Mari berharap di masa mendatang kita gak hanya menikmati pizza dan pasta dari kota mode ini, tapi juga berharap suatu saat anak2 kita ikut jadi bagian dari sejarah klub kota mode Italia bagian utara ini. Forza Milan! Forza Indonesia!

Rome wasn't built in a day - Analogi Pembinaan Sepakbola Indonesia

Beberapa hari lalu gw mendapat kesenangan dalam bentuk tontonan di Kompas TV tentang Talkshow sepakbola Indonesia. Disitu ada Budiarto Shambazy sebagai host, dan 3 orang bintang tamu yaitu Bob Hippy sebagai anggota Exco PSSI, wartawan senior Yesayas Oktavianus, dan coach Rahmad Darmawan. Nonton acara itu jujur ngasih kesegaran maksimum gw yg padahal baru aja pulang kantor setelah seharian jadi corporate slave. Passion luar biasa pada sepakbola memang selalu membawa gw pada ide2 menulis tentangnya, walaupun yah baru bisa sebatas menulis. Saya cinta sepakbola. Sepakbola adalah jiwa dan raga saya!

Anyway, gw seneng karena om2 tadi di talkshow adalah orang2 yg melek dan ngerti bola. Mereka sadar betul kalau kekalahan lawan Malaysia kemaren bukanlah karena faktor luck. Mereka bukanlah orang2 yg dilanda delusi bahwa timnas kita sebenernya udah bagus. Garang di penyisihan tapi kalah di final, apa itu tolak ukur prestasi bagus? Terus katanya lebih bagus dari timas senior. Lebih bagus dari sisi mana? Panggung Sea Games 2011 ini untuk Timnas U-23 bahkan adalah panggung tertinggi mereka. Mereka belum pernah menghadapi Edinson Cavani dan Luis Suarez, belum pernah menghadapi Javad Nekounam di kualifikasi Piala Dunia seperti senior2 mereka, bahkan belum pernah menghadapi Safee Sali. Dari sisi timnas Malaysia, kasian bgt klo pembinaan bagus dari sang tetangga cuma dibilang keberuntungan. Kasian bgt klo permainan ciamik Baddrol Bakhtiar dan Khairul Fahmi sepanjang turnamen juga cuma dianggap keberuntungan. Yg benar adalah kita kalah persiapan.

Dalam disiplin ilmu manapun, ga ada yg bilang klo kesuksesan bakal datang semalam. Rome wasn't built in a day. Baca juga the art of war Sun Tzu, yg intinya segala kemenangan dan kejayaan berawal dari persiapan. Luck is when preparation meets opportunity, if you fail to prepare then you prepare to fail!

Keliatan di lapangan klo pemain timnas hanya sekedar berbekal insting, bakat alam, dan semangat bertanding. Strategi pelatih mungkin hanya setengahnya terimplementasi. Waktu unggul 1-0 lawan Malaysia di babak pertama final Sea Games 2011, coach RD sebenernya gak nyuruh anak asuhannya mengendurkan tekanan. Tapi yg terjadi di lapangan, pemain malah sering melepas passing terburu2 dan akhirnya berujung banyak membuat kesalahan sendiri. Hal ini nunjukin bahwa para pemain belum matang bermain sebagai sebuah tim dan belum punya mental juara.

Main bola gak sekedar lari, nendang, sundul, tackle. Ada posisi, ada strategi, ada organisasi. Seringkali pemain terjebak dalam khayalan bahwa skill mereka sehebat Ronaldo atau Messi sehingga berpikir bahwa mereka mampu memenangkan tim sendirian, yah ini memang bukan penyakit timnas Indonesia aja tentunya, pemain kelas dunia seperti Carlos Tevez, Zlatan Ibrahimovic atau Wayne Rooney aja masih suka "maksa". Dan yg namanya organisasi permainan inilah yg gw maksud gak bisa selesai dalam waktu semalam layaknya Candi Roro Jonggrang dan Tangkuban Perahu.

Organisasi, pola permainan, filosofi sepakbola adalah sesuatu yg seharusnya sudah ditanamkan di awal karir seorang pemain, dimana hal itu lebih mudah untuk diterima pemain daripada kalau dia baru mempelajarinya saat umurnya udah 20 tahun. Bagaimana cara tim bermain as a team, not only as a player. Setelah paham organisasi dan kuat secara fisik, baru beralih ke faktor tehnik, skill dan lain-lainnya. Di eropa, klub telah punya tim junior dari U-12, sementara mereka mulai belajar nendang bola dari umur 5 tahun! Kalo disini, anak sekolah main bola hanya di kejuaraan yg sifatnya insidentil, gak berlanjut dan gak jelas juntrungannya abis ini mereka mau kemana. Klub2 jarang yg punya akademi berjenjang dan setelah itu membesarkan pemain junior menjadi andalan di tim senior.

Disini, dari yg saya dengar dari om-om tadi, hal itu baru dilakukan pas pemain umur 20 tahun, saat kaki mereka udah lagi gak lentur, saat otak mereka mungkin udah terlalu jenuh untuk disusupi doktrin filosofi sepakbola yg benar. Gak ada yg bisa diharapkan dari sesuatu yg sporadis dan serba mendadak. Belum cukup, bahkan di klub seniorpun mereka bakal kesulitan menembus tim utama seiring membanjirnya pemain asing. Pemain2 asing inipun gak sekedar numpang lewat, tapi mereka menjadi roh tim, menduduki posisi2 sentral di permainan seperti striker, defensive leader, dan playmaker. Sementara pemain2 Indonesia kebanyakan cuma "kebagian" jadi bek sayap atau gelandang "angkut air". Ini fakta peninggalan rezim Nurdin, dimana semasa kepemimpinannya, Indonesia terbukti GAK PUNYA PLAYMAKER.

Gw ngerti klo klub bola disini gak se-bonafide klub2 eropa, yg diinjeksi dana melimpah dari pemiliknya yg notabene orang2 kaya yg rela merogoh dalam2 koceknya demi klub sepakbolanya. Balik lg ke pembinaan klub, didalam membina pemain sejak usia kanak2 tentu butuh dana yg besar, infrastruktur yg mendukung serta kurikulum yang sedemikian rupa sehingga kita bisa menghasilkan pemain2 yg tangguh. Disini gimana mau bikin tim junior klo ngurus tim seniornya aja udah empot2an. Akhirnya apa yg dilakukan klub? Mereka cuma bisa ngambil solusi instan dengan beli pemain asing, dan kalo mau ngedidik pemain, itupun dari usia 20 taun seperti yg gw sebutin diatas!

Gw punya temen yg umurnya 25 tahun. Dia emang lumayan tehnik main bolanya, tapi dia gak pernah gabung di klub profesional hanya sebatas main tarkam. Tiba2 dia ngabarin gw akan diseleksi masuk sebuah klub LPI. Tanpa mengecilkan kemampuan temen gw tadi, bagaimana bisa sebuah klub profesional yg berada di liga utama suatu negara menyeleksi pemain usianya udah 25 tahun yg bahkan gak ada pengalaman main sepakbola profesional? Apa dia bakal curi umur? Wallahualam! Pemain2 dadakan ini mungkin aja jago secara individu, tp apa mereka bisa bermain sebagai tim? Apa mental mereka udah cukup ditempa sejak kecil di kompetisi yg sehat? Coba aja liat klub2 lokal kita bermain. Mereka mainin bola direct yg cuma ngandelin fisik, boleh jadi karena mereka gak pede dan gak mampu mengorganisir sebuah skema permainan, itu karena gak dibiasain bermain sebagai tim sejak kecil!

Klo klub emang gak mampu, disinilah PSSI berperan. Tolong dong PSSI, cariin solusi untuk mengeksekusi sebuah pola pembinaan pemain yg kontinyu dan jelas, bukan insidentil dan sporadis. Juga kompetisi yg sehat tanpa dualisme dan carut marut kepentingan golongan, perbaiki kinerja wasit, perbaiki infrastruktur, batasi pemain asing. Klo PSSI jg kurang duit, tolonglah pemerintah cariin dana untuk pembinaan klub. Panggil pemain keturunan Indonesia, toh mereka juga ada darah Indonesianya. Bukan pemain naturalisasi, kecuali kalo pemain2 itu memang terbukti kemampuannya.

Mari bangkit dan tinggalkan budaya instan! Bangkitlah sepakbola Indonesia!!

Monday, November 21, 2011

Stop benci Malaysia!

Lagi, lagi dan lagi.
Kenapa bangsa kita ga pernah diperdengarkan lagi kabar baik? Selalu kabar buruk. Kalah lagi dari lawan yg sama dikandang sendiri bukanlah suatu kebetulan. Bukan kalah beruntung lagi kalo kejadiannya sampe berkali2.

Padahal secara kualitas, pemain2 Indonesia gak kalah sama pemain Malaysia. Hanya Malaysia unggul di lini tengah, yg katanya sih lini paling vital di permainan sepakbola. Kehadiran Baddrol Bakhtiar benar2 terasa bedanya. Dialah kepingan puzzle terakhir yg sayangnya tidak dimiliki Indonesia. Playmaker yg bermain di Keddah FA ini pernah mengikuti trial 2 minggu bersama Chelsea dan sempat pula diajak trial oleh Wigan Athletic. Tapi dia hanya bisa sebatas mengikuti trial, karena terganjal masaiah work permit Inggris dimana salah satu persyaratannya adalah negara si pemain harus berada di kisaran peringkat FIFA 1-70. Tanpa mengecilkan gelandang2 Indonesia, kualitas gelandang2 Malaysia memang lebih baik. Cuma kapten Egi Melgiansyah yg paling menonjol. Akibatnya, solusi direct pass lagi2 diandalkan, padahal selalu menemui jalan buntu.

Baddrol, tidak salah lagi adalah pemain terbaik turnamen. Dia adalah sosok team player yg gak egois, mendistribusikan bola dari tengah ke sayap atau langsung ke depan, belom lagi ancaman yg datang dari tendangan2 jarak jauh dan eksekusi bola matinya. Dialah sosok nomor 10 masa depan Malaysia, dan calon playmaker terbaik Asia Tenggara. Walaupun terlalu naif membandingkan gaya mainnya dengan Paul Scholes atau Frank Lampard, tapi pemain ini benar2 punya potensi besar.

Tentu bukan hanya karena Baddrol seorang yg membuat Malaysia bisa menang. Malaysia jelas lebih siap menghadapi adu penalti. Perencanaan mereka lebih matang. Pemain nomor 17 mereka, yaitu Fandi dimasukkan di menit perpanjangan waktu karena memang dipersiapkan sebagai salah satu algojo. Bandingkan dengan Ramdani Lestaluhu yg juga dimainkan di babak tersebut tapi ternyata tidak dijadikan sebagai eksekutor.

Permainan yg lebih terkoordinir, lini pertahanan yg disiplin dan rapi adalah juga kunci kemenangan Malaysia. Mereka sangat tenang dan tanpa kompromi, juga biasa tampil dibawah tekanan penonton. Gw ga bisa ngebayangin gimana Indonesia kalo sea games ini terjadi di kandang lawan, bisa gak kita sampai ke final kaya gini? Kelemahan Malaysia mungkin hanya lini depan, dimana mereka gak punya striker2 haus gol layaknya duet Patrich Wanggai-Titus Bonai di tim Indonesia, atau duet Safee Sali-Noorsahrul Idlan di timnas seniornya.

Kita kembali kalah oleh lawan yg sama 2 kali di sea games ini. Jika diliat kebelakang, timnas senior kita juga rontok ditangan Malaysia di Piala AFF 2010. Kita terlalu membenci dan menghujat mereka, sepakbola yg sebenarnya hanya permainan ini berubah jadi pertaruhan gengsi bangsa serumpun dan penyaluran kebencian serta amarah yg gak ada ujungnya. Kalo seandainya kita menang kemarin, kita pasti tambah jumawa dan menghina mereka. Ingat bung, sebuah bangsa yg besar bukan hanya dilihat dari cara mereka menyikapi kekalahan, tapi juga bagaimana menyikapi kemenangan. Kalau kalah jangan terlalu terpuruk tapi kalau menang jangan mabuk kemenangan dan menjelek2an lawan. Mungkin Tuhan juga belum mau memberi kemenangan kepada bangsa yg memang belum siap menang.

Bandingkan dengan sikap Malaysia menghadapi kebencian rakyat Indonesia. Mereka tetap tenang dan fokus pada diri sendiri. Gw gak asal ngomong. Gw punya sodara jauh dari bokap yg warga negara Malaysia. Dia dan keluarganya bermigrasi kesana pada jaman penjajahan Belanda. Melihat fenomena kebencian Indonesia terhadap Malaysia ke segala lininya, dia justru heran. Ini hanya masalah politik yg sebenernya bisa diselesaikan tanpa berlarut2 jika pemerintah Indonesia bertindak tegas mengenai masalah perbatasan, TKI, kebudayaan, maupun masalah2 lainnya. Yah kalo bicara gimana menyelenggarakan negara, kita gausah malu deh klo mereka memang lebih unggul. Pergi aja ke KL sekali2, liat bedanya.

Sampai kapanpun, dengan sikap seperti ini, susah untuk menandingi mereka. Kita maju satu langkah, mereka mungkin sepuluh. Tiap taun, klub2 besar pasti dateng ke negara mereka. Gak heran pemain seperti Baddrol jadi mudah masuk radar klub sebesar Chelsea. Disini? MU mau dateng aja disambut bom Ritz Carlton sama teroris norak yg ga ngerti bola dan phobia sama orang bule! Kompetisi dan pembinaan pemain mereka gausah ditanya.

Yah bukannya gw ngejelek2in bangsa sendiri, tapi karena itulah faktanya. Gw ga percaya kita kemaren kalah beruntung. Ga ada tuh istilah keberuntungan, yg ada adalah persiapan. Mereka menang karena menang lebih siap. Siap ngadepin tekanan penonton, siap adu penalti. "Luck is when preparation meets opportunity"

Udah gausah ngebahas 2 gol kita dianulir, karena memang jelas offside kok, gausah pula nyari kambing hitam lainnya dalam bentuk wasit. Itu juga bagian dari sepakbola. Kita bagaimanapun tetap kalah terhormat. Kalo kita memang baru bisa jadi runner up, just live with it! Piala AFF runner-up 4 kali tanpa gelar. Sea Games juara terakhir 20 taun lalu, ya terima aja.

Harapan? Tentu selalu ada. Dari solusi instan seperti naturalisasi pemain sampai pembinaan berjenjang tersedia, tinggal kita pilih yg mana. Bikin kompetisi teratur tanpa kontroversi dan dualisme dulu aja deh, bisa gak?

Jayalah sepakbola Indonesia!

Friday, November 18, 2011

Belajar dari kekalahan!

Euforia. Mental. Lagi2 itulah penyakit sepakbola Indonesia. Dengan penduduk berperingkat 4 terbanyak di dunia setelah Cina, India dan AS, serta tingkat fanatisme dahsyat berisi gabungan antara suporter sejati, suporter dadakan, dan suporter labil melebur jadi satu kalau bicara timnas sepakbola Indonesia. Tapi itu setelah dikurangi suporter yg ngambek ya.

Personel timnas seolah jadi milik bersama rakyat Indonesia. Diundang sana sini, diekspos sana sini, mereka mendadak tenar melebihi artis sinetron dan band alay, serta diperlakukan lebay kaya presenter Dahsyat memperlakukan bintang tamunya.

Euforia berlebih ini memiliki 2 sisi. Bisa mendongkrak semangat juang tim, bisa juga membebani pemain. Sayangnya untuk kasus timnas kita, hal yg disebut belakangan itulah yg kerap terjadi. Udah banyak contoh, tapi paling gampang ya Piala AFF 2010 lalu. Saat 2nd leg di GBK, Indonesia mungkin bisa berpeluang lebih besar andai Firman Utina mampu mengeksekusi penalti, tapi sayangnya tekanan dan harapan terlalu tinggi membuat sang kapten gugup dan tidak mampu mengeluarkan power pada eksekusinya.

Di Sea Games 2011 dengan tim U-23 yg menjanjikan, timnas memang benar2 tampil bagus di 3 partai pertama. Kamboja dibantai setengah lusin gol tanpa balas, Singapura dan Thailand yg diatas kertas bakal menyulitkan ternyata mampu diatasi. Tiket semifinal pun diraih sebelum matchday terakhir penyisihan grup menghadapi musuh bebuyutan, Malaysia.

Ternyata Malaysia memang mimpi buruk, baik di percaturan politik, dunia ketenaga kerjaan, sampai ke sepakbola. Di Piala AFF lalu memang Indonesia tampil beringas dari penyisihan hingga semifinal dengan menyapu bersih seluruh kemenangan termasuk diantaranya membantai Malaysia 5-1, tapi di partai final pertama di Kuala Lumpur, penampilan anak2 asuhan Alfred Riedl kala itu sangat anti-klimaks. Timnas dihajar bertubi2 bukan hanya oleh laser ijo, tapi juga oleh kegesitan Safee Sali, kecepatan Noorsahrul Idlan, dan visi apik Safiq serta ketangguhan yg membuat benteng2 Indonesia runtuh dan striker2 kita jadi macan ompong.

Sebelum berangkat ke KL, timnas memang didaulat bagai juara dunia, diangkat dan diagungkan layaknya tim tak terkalahkan, padahal juara aja belom. Akibatnya memang fatal, timnas garuda bermain dengan beban 1 ton di sayapnya, sehingga mudah dimangsa harimau malaya yg menang tampil tanpa beban. Irfan Bachdim, Cristian Gonzalez, Okto Maniani dkk gagal meneruskan penampilan cemerlangnya.

Kejadian serupa terulang lagi di event yg berbeda. Ditengah euforia penampilan cemerlang Titus Bonai, Patrich Wanggai, Andik Vermansyah, Egi Melgiansyah dkk, timnas kembali takluk 0-1 ditangan Malaysia, sang juara bertahan sepakbola Sea Games 2009. Biar diteriakin seisi stadion, lagu kebangsaannya dicela, pemain2 diintimidasi, terbukti Malaysia adalah lawan tangguh bermental baja. Mereka lebih terbiasa menghadapi tekanan ketimbang pujian. Itulah yg membuat mereka superior.

Kekalahan tetap saja kekalahan, tapi kekalahan kali ini adalah hal yg pantas disyukuri. Kekalahan ini diyakini akan membuat pemain2 timnas lebih terpacu untuk menebusnya. Pemain pelapis yg diturunkan kemarin akan lebih siap karena sudah teruji menghadapi lawan tangguh. Kekalahan ini juga diharapkan menjauhkan timnas dari euforia berlebihan, sehingga fokus pemain tetap terjaga untuk memenuhi target medali emas. Coach Rahmad Darmawan adalah seorang yg tenang dan disiplin. Dia juga terkenal mampu memotivasi pemain. Jangan lupa, pengalamannya membawa Persipura juara Liga Indonesia beberapa tahun lalu akan sangat berharga mengingat timnas U-23 diisi oleh pilar2 asal Papua.

Evolusi taktik timnas dari kebiasaan formasi 3 bek menjadi 4 bek sudah berjalan mulus, walaupun berakibat lini pertahanan lebih rentan karena pemain2 sayap masih jarang membantu pertahanan yg membuat lawan mudah menembus sektor sayap. Dari sektor serangan, kecepatan Okto, Andik, Ferdinand, Tibo dan insting gol tinggi Wanggai masih menjadi andalan, cuma sayangnya permainan eksplosif ini hanya berumur 1 babak karena masalah stamina. Coach RD menekankan pentingnya transisi saat bertahan dan menyerang. Pemain dimintanya tidak buru2 melepas bola kedepan.

Semoga kali ini kita gak lagi disuguhi kata2 "kekalahan adalah kemenangan yg tertunda" atau kata2 penghibur semu lainnya. Kita butuh kemenangan. Bangsa ini butuh gelar, karena satu gelar mungkin akan menjadi gerbang bagi gelar2 berikutnya serta pembuka masa depan cerah persepakbolaan Indonesia!

Friday, November 4, 2011

Cepat sembuh Cassano!


Pendukung AC Milan mendapat berita baik sekaligus berita buruk. Kalau sebagian besar orang lebih memilih berita buruk duluan yg mau didengar, itu adalah collapse-nya Antonio Cassano di bandara Malpensa, dimana saat collapse, Cassano gak mampu bicara dan bergerak. Berita baik? Milan baru aja menang di kandang AS Roma, yg merupakan kemenangan pertama dalam 6 tahun terakhir disana!

Kemenangan yg patut disyukuri Milanisti, karena selain kemenangan langka, juga kemenangan yg penting. Dengan kemenangan ini Milan makin mendekati perolehan poin Juventus, yg sedang dalam performa menanjak ditangan Antonio Conte. Milan sekarang menduduki posisi keempat dengan hanya berselisih 2 poin dengan il Bianconeri. Tapi dengan sakitnya Cassano, kemenangan tersebut sama sekali gak bisa dirayakan, karena Fantanito ternyata mengalami sakit yg cukup serius.

Situs resmi AC Milan telah merilis informasi bahwa Cassano terkena serangan ischemic yang dipicu oleh terganggunya pasokan darah ke otak. Gangguan ini membuat penyerang 29 tahun ini harus menjalani operasi kecil di jantungnya. Kehilangan Cassano ternyata bukan hanya dirasakan Milan, tapi juga seantero Italia. Gianpaolo Pazzini dan Marco Materazzi adalah dua pemain dari klub rival Inter Milan yg menengok langsung sang Peter Pan. Disinilah sepakbola menunjukkan bahwa kepedulian sesama mengalahkan sengitnya rivalitas.

Belum lagi dukungan datang dari suporter yg menginginkan Fantanito kembali, yg paling heboh adalah dari ketua federasi sepakbola Italia, Giancarlo Abete. Gak heran, karena Italia akan menngikuti turnamen besar Euro 2012 di akhir musim kompetisi serie a, dimana Cassano sudah didaulat sebagai pemain nomor 10 kunci serangan lini depan skuad Cesare Prandelli. Walaupun begitu, Abete mengungkapkan bahwa kesembuhannya adalah yg utama, dan jangan pikirkan Euro 2012.

Adriano Galliani sebagai wakil presiden Milan sangat khawatir dengan kondisi Cassano, dan dalam wawancaranya dia mengatakan "Cassano still throw jokes like he always do, he already misses football, but unfortunately he will be out of pitch for a few month, maybe four - five - or six. We expect the best for him, this thing won't stop him and won't risk his career" Pelatih Max Allegri pun begitu terpukul dengan kejadian mendadak ini, dan mengatakan bahwa pertandingan selanjutnya di Liga Champions lawan Bate Borisov akan didedikasikan untuk pemain kelahiran Bari tersebut, sayangnya Milan gagal memenangi pertandingan, tapi di pertandingan itu dapat terlihat solidaritas terpampang saat Kevin-Prince Boateng membuka kaos berpesan cepat sembuh untuk Cassano saat Zlatan Ibrahimovic mencetak gol.

Cassano adalah pemain kunci Milan belakangan ini. Dengan cederanya Robinho dan Pato di awal musim, fantanito adalah penyerang fit bersama Ibra yg tersisa dimiliki Milan. Tapi terbukti, Fantanito mampu menjawab ekspektasi fans dengan mencetak 2 gol dan 5 assist di 9 partai awal serie a. Pun di timnas Italia, Cassano adalah starter lini depan yg mencetak 4 gol dalam 3 pertandingan terakhir Gli Azzuri lawan Slovenia, Kep. Faroe dan Irlandia Utara sekaligus memastikan langkah juara dunia 4 kali tersebut ke Euro 2012. Mengingat kurangnya pemain bertehnik tinggi sekarang di lini depan Italia, Prandelli jelas pusing mengingat Giuseppe Rossi juga harus menepi selama 6 bulan. Harapan tinggi kini disematkan kepada si bengal Mario Balotelli dan striker Juventus ex akademi Milan yg kini tengah naik daun, Alessandro Matri. Tapi tetep aja kehilangan Cassano mengurangi kans Italia.

Bagaimana dengan Milan? Galliani adalah seorang visioner yg pantang menyerah. The show must go on. Galliani walaupun menyebut Milan masih bisa mengandalkan Ibra, Robinho, El Shaarawy sekaligus menunggu kesembuhan Pato, tapi banyak media meyakini Milan akan mencari penyerang baru di transfer musim dingin. Duo striker Juve, Amauri dan Fabio Quagliarella disebut bakal dipinjam Milan hingga akhir musim. Ditambah ketertarikan Galliani kepada Del Piero untuk menampungnya diakhir musim karena kontraknya gak diperpanjang Juve, il Pinturchio bisa saja didatangkan lebih cepat. Ada juga Paulo Ganso, yg diawal musim gencar diberitakan akan bergabung, bisa jadi saat ini adalah saat yg tepat baginya untuk memulai petualangan baru di Eropa.

Kita tunggu sepak terjang Milan dan timnas Italia. Tapi bagaimanapun, kesembuhan Cassano adalah yg utama saat ini!