Pages

Monday, November 21, 2011

Stop benci Malaysia!

Lagi, lagi dan lagi.
Kenapa bangsa kita ga pernah diperdengarkan lagi kabar baik? Selalu kabar buruk. Kalah lagi dari lawan yg sama dikandang sendiri bukanlah suatu kebetulan. Bukan kalah beruntung lagi kalo kejadiannya sampe berkali2.

Padahal secara kualitas, pemain2 Indonesia gak kalah sama pemain Malaysia. Hanya Malaysia unggul di lini tengah, yg katanya sih lini paling vital di permainan sepakbola. Kehadiran Baddrol Bakhtiar benar2 terasa bedanya. Dialah kepingan puzzle terakhir yg sayangnya tidak dimiliki Indonesia. Playmaker yg bermain di Keddah FA ini pernah mengikuti trial 2 minggu bersama Chelsea dan sempat pula diajak trial oleh Wigan Athletic. Tapi dia hanya bisa sebatas mengikuti trial, karena terganjal masaiah work permit Inggris dimana salah satu persyaratannya adalah negara si pemain harus berada di kisaran peringkat FIFA 1-70. Tanpa mengecilkan gelandang2 Indonesia, kualitas gelandang2 Malaysia memang lebih baik. Cuma kapten Egi Melgiansyah yg paling menonjol. Akibatnya, solusi direct pass lagi2 diandalkan, padahal selalu menemui jalan buntu.

Baddrol, tidak salah lagi adalah pemain terbaik turnamen. Dia adalah sosok team player yg gak egois, mendistribusikan bola dari tengah ke sayap atau langsung ke depan, belom lagi ancaman yg datang dari tendangan2 jarak jauh dan eksekusi bola matinya. Dialah sosok nomor 10 masa depan Malaysia, dan calon playmaker terbaik Asia Tenggara. Walaupun terlalu naif membandingkan gaya mainnya dengan Paul Scholes atau Frank Lampard, tapi pemain ini benar2 punya potensi besar.

Tentu bukan hanya karena Baddrol seorang yg membuat Malaysia bisa menang. Malaysia jelas lebih siap menghadapi adu penalti. Perencanaan mereka lebih matang. Pemain nomor 17 mereka, yaitu Fandi dimasukkan di menit perpanjangan waktu karena memang dipersiapkan sebagai salah satu algojo. Bandingkan dengan Ramdani Lestaluhu yg juga dimainkan di babak tersebut tapi ternyata tidak dijadikan sebagai eksekutor.

Permainan yg lebih terkoordinir, lini pertahanan yg disiplin dan rapi adalah juga kunci kemenangan Malaysia. Mereka sangat tenang dan tanpa kompromi, juga biasa tampil dibawah tekanan penonton. Gw ga bisa ngebayangin gimana Indonesia kalo sea games ini terjadi di kandang lawan, bisa gak kita sampai ke final kaya gini? Kelemahan Malaysia mungkin hanya lini depan, dimana mereka gak punya striker2 haus gol layaknya duet Patrich Wanggai-Titus Bonai di tim Indonesia, atau duet Safee Sali-Noorsahrul Idlan di timnas seniornya.

Kita kembali kalah oleh lawan yg sama 2 kali di sea games ini. Jika diliat kebelakang, timnas senior kita juga rontok ditangan Malaysia di Piala AFF 2010. Kita terlalu membenci dan menghujat mereka, sepakbola yg sebenarnya hanya permainan ini berubah jadi pertaruhan gengsi bangsa serumpun dan penyaluran kebencian serta amarah yg gak ada ujungnya. Kalo seandainya kita menang kemarin, kita pasti tambah jumawa dan menghina mereka. Ingat bung, sebuah bangsa yg besar bukan hanya dilihat dari cara mereka menyikapi kekalahan, tapi juga bagaimana menyikapi kemenangan. Kalau kalah jangan terlalu terpuruk tapi kalau menang jangan mabuk kemenangan dan menjelek2an lawan. Mungkin Tuhan juga belum mau memberi kemenangan kepada bangsa yg memang belum siap menang.

Bandingkan dengan sikap Malaysia menghadapi kebencian rakyat Indonesia. Mereka tetap tenang dan fokus pada diri sendiri. Gw gak asal ngomong. Gw punya sodara jauh dari bokap yg warga negara Malaysia. Dia dan keluarganya bermigrasi kesana pada jaman penjajahan Belanda. Melihat fenomena kebencian Indonesia terhadap Malaysia ke segala lininya, dia justru heran. Ini hanya masalah politik yg sebenernya bisa diselesaikan tanpa berlarut2 jika pemerintah Indonesia bertindak tegas mengenai masalah perbatasan, TKI, kebudayaan, maupun masalah2 lainnya. Yah kalo bicara gimana menyelenggarakan negara, kita gausah malu deh klo mereka memang lebih unggul. Pergi aja ke KL sekali2, liat bedanya.

Sampai kapanpun, dengan sikap seperti ini, susah untuk menandingi mereka. Kita maju satu langkah, mereka mungkin sepuluh. Tiap taun, klub2 besar pasti dateng ke negara mereka. Gak heran pemain seperti Baddrol jadi mudah masuk radar klub sebesar Chelsea. Disini? MU mau dateng aja disambut bom Ritz Carlton sama teroris norak yg ga ngerti bola dan phobia sama orang bule! Kompetisi dan pembinaan pemain mereka gausah ditanya.

Yah bukannya gw ngejelek2in bangsa sendiri, tapi karena itulah faktanya. Gw ga percaya kita kemaren kalah beruntung. Ga ada tuh istilah keberuntungan, yg ada adalah persiapan. Mereka menang karena menang lebih siap. Siap ngadepin tekanan penonton, siap adu penalti. "Luck is when preparation meets opportunity"

Udah gausah ngebahas 2 gol kita dianulir, karena memang jelas offside kok, gausah pula nyari kambing hitam lainnya dalam bentuk wasit. Itu juga bagian dari sepakbola. Kita bagaimanapun tetap kalah terhormat. Kalo kita memang baru bisa jadi runner up, just live with it! Piala AFF runner-up 4 kali tanpa gelar. Sea Games juara terakhir 20 taun lalu, ya terima aja.

Harapan? Tentu selalu ada. Dari solusi instan seperti naturalisasi pemain sampai pembinaan berjenjang tersedia, tinggal kita pilih yg mana. Bikin kompetisi teratur tanpa kontroversi dan dualisme dulu aja deh, bisa gak?

Jayalah sepakbola Indonesia!

Friday, November 18, 2011

Belajar dari kekalahan!

Euforia. Mental. Lagi2 itulah penyakit sepakbola Indonesia. Dengan penduduk berperingkat 4 terbanyak di dunia setelah Cina, India dan AS, serta tingkat fanatisme dahsyat berisi gabungan antara suporter sejati, suporter dadakan, dan suporter labil melebur jadi satu kalau bicara timnas sepakbola Indonesia. Tapi itu setelah dikurangi suporter yg ngambek ya.

Personel timnas seolah jadi milik bersama rakyat Indonesia. Diundang sana sini, diekspos sana sini, mereka mendadak tenar melebihi artis sinetron dan band alay, serta diperlakukan lebay kaya presenter Dahsyat memperlakukan bintang tamunya.

Euforia berlebih ini memiliki 2 sisi. Bisa mendongkrak semangat juang tim, bisa juga membebani pemain. Sayangnya untuk kasus timnas kita, hal yg disebut belakangan itulah yg kerap terjadi. Udah banyak contoh, tapi paling gampang ya Piala AFF 2010 lalu. Saat 2nd leg di GBK, Indonesia mungkin bisa berpeluang lebih besar andai Firman Utina mampu mengeksekusi penalti, tapi sayangnya tekanan dan harapan terlalu tinggi membuat sang kapten gugup dan tidak mampu mengeluarkan power pada eksekusinya.

Di Sea Games 2011 dengan tim U-23 yg menjanjikan, timnas memang benar2 tampil bagus di 3 partai pertama. Kamboja dibantai setengah lusin gol tanpa balas, Singapura dan Thailand yg diatas kertas bakal menyulitkan ternyata mampu diatasi. Tiket semifinal pun diraih sebelum matchday terakhir penyisihan grup menghadapi musuh bebuyutan, Malaysia.

Ternyata Malaysia memang mimpi buruk, baik di percaturan politik, dunia ketenaga kerjaan, sampai ke sepakbola. Di Piala AFF lalu memang Indonesia tampil beringas dari penyisihan hingga semifinal dengan menyapu bersih seluruh kemenangan termasuk diantaranya membantai Malaysia 5-1, tapi di partai final pertama di Kuala Lumpur, penampilan anak2 asuhan Alfred Riedl kala itu sangat anti-klimaks. Timnas dihajar bertubi2 bukan hanya oleh laser ijo, tapi juga oleh kegesitan Safee Sali, kecepatan Noorsahrul Idlan, dan visi apik Safiq serta ketangguhan yg membuat benteng2 Indonesia runtuh dan striker2 kita jadi macan ompong.

Sebelum berangkat ke KL, timnas memang didaulat bagai juara dunia, diangkat dan diagungkan layaknya tim tak terkalahkan, padahal juara aja belom. Akibatnya memang fatal, timnas garuda bermain dengan beban 1 ton di sayapnya, sehingga mudah dimangsa harimau malaya yg menang tampil tanpa beban. Irfan Bachdim, Cristian Gonzalez, Okto Maniani dkk gagal meneruskan penampilan cemerlangnya.

Kejadian serupa terulang lagi di event yg berbeda. Ditengah euforia penampilan cemerlang Titus Bonai, Patrich Wanggai, Andik Vermansyah, Egi Melgiansyah dkk, timnas kembali takluk 0-1 ditangan Malaysia, sang juara bertahan sepakbola Sea Games 2009. Biar diteriakin seisi stadion, lagu kebangsaannya dicela, pemain2 diintimidasi, terbukti Malaysia adalah lawan tangguh bermental baja. Mereka lebih terbiasa menghadapi tekanan ketimbang pujian. Itulah yg membuat mereka superior.

Kekalahan tetap saja kekalahan, tapi kekalahan kali ini adalah hal yg pantas disyukuri. Kekalahan ini diyakini akan membuat pemain2 timnas lebih terpacu untuk menebusnya. Pemain pelapis yg diturunkan kemarin akan lebih siap karena sudah teruji menghadapi lawan tangguh. Kekalahan ini juga diharapkan menjauhkan timnas dari euforia berlebihan, sehingga fokus pemain tetap terjaga untuk memenuhi target medali emas. Coach Rahmad Darmawan adalah seorang yg tenang dan disiplin. Dia juga terkenal mampu memotivasi pemain. Jangan lupa, pengalamannya membawa Persipura juara Liga Indonesia beberapa tahun lalu akan sangat berharga mengingat timnas U-23 diisi oleh pilar2 asal Papua.

Evolusi taktik timnas dari kebiasaan formasi 3 bek menjadi 4 bek sudah berjalan mulus, walaupun berakibat lini pertahanan lebih rentan karena pemain2 sayap masih jarang membantu pertahanan yg membuat lawan mudah menembus sektor sayap. Dari sektor serangan, kecepatan Okto, Andik, Ferdinand, Tibo dan insting gol tinggi Wanggai masih menjadi andalan, cuma sayangnya permainan eksplosif ini hanya berumur 1 babak karena masalah stamina. Coach RD menekankan pentingnya transisi saat bertahan dan menyerang. Pemain dimintanya tidak buru2 melepas bola kedepan.

Semoga kali ini kita gak lagi disuguhi kata2 "kekalahan adalah kemenangan yg tertunda" atau kata2 penghibur semu lainnya. Kita butuh kemenangan. Bangsa ini butuh gelar, karena satu gelar mungkin akan menjadi gerbang bagi gelar2 berikutnya serta pembuka masa depan cerah persepakbolaan Indonesia!

Friday, November 4, 2011

Cepat sembuh Cassano!


Pendukung AC Milan mendapat berita baik sekaligus berita buruk. Kalau sebagian besar orang lebih memilih berita buruk duluan yg mau didengar, itu adalah collapse-nya Antonio Cassano di bandara Malpensa, dimana saat collapse, Cassano gak mampu bicara dan bergerak. Berita baik? Milan baru aja menang di kandang AS Roma, yg merupakan kemenangan pertama dalam 6 tahun terakhir disana!

Kemenangan yg patut disyukuri Milanisti, karena selain kemenangan langka, juga kemenangan yg penting. Dengan kemenangan ini Milan makin mendekati perolehan poin Juventus, yg sedang dalam performa menanjak ditangan Antonio Conte. Milan sekarang menduduki posisi keempat dengan hanya berselisih 2 poin dengan il Bianconeri. Tapi dengan sakitnya Cassano, kemenangan tersebut sama sekali gak bisa dirayakan, karena Fantanito ternyata mengalami sakit yg cukup serius.

Situs resmi AC Milan telah merilis informasi bahwa Cassano terkena serangan ischemic yang dipicu oleh terganggunya pasokan darah ke otak. Gangguan ini membuat penyerang 29 tahun ini harus menjalani operasi kecil di jantungnya. Kehilangan Cassano ternyata bukan hanya dirasakan Milan, tapi juga seantero Italia. Gianpaolo Pazzini dan Marco Materazzi adalah dua pemain dari klub rival Inter Milan yg menengok langsung sang Peter Pan. Disinilah sepakbola menunjukkan bahwa kepedulian sesama mengalahkan sengitnya rivalitas.

Belum lagi dukungan datang dari suporter yg menginginkan Fantanito kembali, yg paling heboh adalah dari ketua federasi sepakbola Italia, Giancarlo Abete. Gak heran, karena Italia akan menngikuti turnamen besar Euro 2012 di akhir musim kompetisi serie a, dimana Cassano sudah didaulat sebagai pemain nomor 10 kunci serangan lini depan skuad Cesare Prandelli. Walaupun begitu, Abete mengungkapkan bahwa kesembuhannya adalah yg utama, dan jangan pikirkan Euro 2012.

Adriano Galliani sebagai wakil presiden Milan sangat khawatir dengan kondisi Cassano, dan dalam wawancaranya dia mengatakan "Cassano still throw jokes like he always do, he already misses football, but unfortunately he will be out of pitch for a few month, maybe four - five - or six. We expect the best for him, this thing won't stop him and won't risk his career" Pelatih Max Allegri pun begitu terpukul dengan kejadian mendadak ini, dan mengatakan bahwa pertandingan selanjutnya di Liga Champions lawan Bate Borisov akan didedikasikan untuk pemain kelahiran Bari tersebut, sayangnya Milan gagal memenangi pertandingan, tapi di pertandingan itu dapat terlihat solidaritas terpampang saat Kevin-Prince Boateng membuka kaos berpesan cepat sembuh untuk Cassano saat Zlatan Ibrahimovic mencetak gol.

Cassano adalah pemain kunci Milan belakangan ini. Dengan cederanya Robinho dan Pato di awal musim, fantanito adalah penyerang fit bersama Ibra yg tersisa dimiliki Milan. Tapi terbukti, Fantanito mampu menjawab ekspektasi fans dengan mencetak 2 gol dan 5 assist di 9 partai awal serie a. Pun di timnas Italia, Cassano adalah starter lini depan yg mencetak 4 gol dalam 3 pertandingan terakhir Gli Azzuri lawan Slovenia, Kep. Faroe dan Irlandia Utara sekaligus memastikan langkah juara dunia 4 kali tersebut ke Euro 2012. Mengingat kurangnya pemain bertehnik tinggi sekarang di lini depan Italia, Prandelli jelas pusing mengingat Giuseppe Rossi juga harus menepi selama 6 bulan. Harapan tinggi kini disematkan kepada si bengal Mario Balotelli dan striker Juventus ex akademi Milan yg kini tengah naik daun, Alessandro Matri. Tapi tetep aja kehilangan Cassano mengurangi kans Italia.

Bagaimana dengan Milan? Galliani adalah seorang visioner yg pantang menyerah. The show must go on. Galliani walaupun menyebut Milan masih bisa mengandalkan Ibra, Robinho, El Shaarawy sekaligus menunggu kesembuhan Pato, tapi banyak media meyakini Milan akan mencari penyerang baru di transfer musim dingin. Duo striker Juve, Amauri dan Fabio Quagliarella disebut bakal dipinjam Milan hingga akhir musim. Ditambah ketertarikan Galliani kepada Del Piero untuk menampungnya diakhir musim karena kontraknya gak diperpanjang Juve, il Pinturchio bisa saja didatangkan lebih cepat. Ada juga Paulo Ganso, yg diawal musim gencar diberitakan akan bergabung, bisa jadi saat ini adalah saat yg tepat baginya untuk memulai petualangan baru di Eropa.

Kita tunggu sepak terjang Milan dan timnas Italia. Tapi bagaimanapun, kesembuhan Cassano adalah yg utama saat ini!

Saturday, October 29, 2011

Kesaktian Sir Alex Ferguson

Apa yg membuat Manchester United begitu digdaya dan disegani? Plus dikabarkan punya market terluas di dunia, punya jumlah suporter terbanyak di dunia? Gampang. Paling enak kalo liat lemari gelar mereka dalam 20 tahun terakhir, tepatnya 5 tahun setelah Sir Alex Ferguson mulai melatih disana.

Semua kesuksesan ini adalah bisa dibilang mahakarya dari seorang Sir Alex Ferguson. Gelar demi gelar udah berhasil diraih opa karismatik ini bersama skuadnya. Kalo saya perhatiin, Sir Alex gak sekedar punya ilmu kepelatihan yg bagus, tapi lebih dari itu adalah kemampuan manajerialnya yg mencakup kemampuan memotivasi pemain mengeluarkan kemampuan terbaiknya, melindungi pemain dari sorotan berlebihan media, menemukan bakat2 istimewa dan merangkulnya masuk tim, dan tidak lupa memanfaatkan pemain binaan akademi lalu kemudian menjadikan mereka pemain bintang.

Fergie juga adalah seorang bos tangan besi. Dia paling anti sama pemain tengil dan gak bisa fokus sama sepakbola. Gak pernah segan2 juga dia ngusir pemain keluar dari klub, walaupun si pemain berstatus bintang. Contohnya insiden sambit sepatu ke David Beckham dan perseteruannya dengan Jaap Stam yg berimbas sang raksasa hengkang ke Lazio. Tapi biarpun begitu, Fergie terhitung jarang menjelek2an pemainnya di media. Cuma sekali gw denger dia ngomelin Rio Ferdinand dan Patrice Evra saat dibantai Manchester City 6-1 dalam kekalahan terburuk sepanjang karir kepelatihan Fergie.

Fergie gak segan pula memaki dan protes kepada wasit saat keputusan korps baju hitam itu dia nilai merugikan timnya, juga bersitegang dengan manajer klub lain seperti Arsene Wenger dan Jose Mourinho. Mourinho boleh mengklaim dirinya sendiri sebagai pelatih terbaik, tapi Fergie sampai saat ini masih yg tersukses. Ukurannya adalah Fergie mampu menjaga konsistensi dan prestasi klub walaupun pemain datang dan pergi.

Menelaah kelebihan Fergie soal strategi bermain, The Scotsman ini bisa memainkan pola apa aja dengan syarat formasi pertahanan diisi 4 orang. 2 center back tangguh dan 2 full back disiplin adalah harga mati taktik Sir Alex. Dari jaman Paul Parker-Steve Bruce-Garry Pallister-Dennis Irwin, lalu Garry Neville-Jaap Stam-Ronny Johnsen-Mikael Silvestre, sampai Phil Jones-Rio Ferdinand-Nemanja Vidic-Patrice Evra semua adalah jagal2 tangguh yg setia menjaga benteng United. Lalu ditengah dan depan bisa diisi siapa aja karena Fergie gak pernah terpaku sama pola tertentu, misalnya kaya Zdenek Zeman yg maniak 4-3-3 atau Alberto Zaccheroni yg doyan 3-4-3

Faktor yg membantu versatilitas Fergie adalah tentu kedalaman skuad. Dia gak pernah bingung kalo 3 bahkan 4 pemainnya terkapar di ruang medis tim, karena selalu punya pengganti sepadan yg gak akan mengurangi kekuatan skuadnya. Fergie juga ogah mengandalkan seorang atau dua orang bintang. Kolektivitas adalah segalanya, tidak ada pemain yg tidak tergantikan. Ditangan Fergie pula pemain2 MU jadi pemain yg punya kemampuan multiposisi. Kecuali Phil Jones yg memang fleksibel dari sononya, Fergie menuntut pemain2 lain MU bisa menjalankan berbagai peran. Pemain2 versatile inilah yg memudahkan kerja sang bos. Wayne Rooney pernah dicobanya jadi sayap kiri dan gelandang tengah, padahal semua tau kalo posisi naturalnya adalah striker. Begitu pula Antonio Valencia yg disulap jadi bek kanan.

Dengan pengalamannya lebih dari 25 tahun menangani MU, Fergie tau benar dapur dari klub berjuluk setan merah ini, termasuk pengetahuan mengenai sepakbola Inggris dimana gak heran dia adalah pelatih terlama sepanjang sejarah MU, dan termasuk salah satu di dunia yg terlama menukangi sebuah klub. Tapi Fergie gak bisa berbohong sama usianya yg makin uzur. 2-3 tahun lalu sempat menyatakan minat untuk pensiun, tapi manajemen, pemain dan fans selalu membujuknya buat bertahan. Jika tiba waktunya Fergie benar2 gak beredar lagi di Carrington, PR besar menanti manajemen MU. So, be prepare to hijack Pep or Mou!

Monday, October 24, 2011

Kiper-kiper Spanyol

Tim nasional mana yg terbaik di dunia saat ini? Jika ukurannya gelar dalam 3 tahun kebelakang tentu Spanyol. Ditambah fakta salah satu klubnya yaitu Barcelona menjadi klub tersukses dan tak terkalahkan dengan materi mayoritas pemain2 asli Spanyol. Belum lagi Real Madrid, klub yg selalu dihuni bintang sepakbola papan atas. Liga Spanyol kini adalah salah satu destinasi pemain-pemain terbaik dunia.

Salah satu sektor posisi pemain yg layak disorot sebagai kunci keberhasilan tim matador adalah pos penjaga gawang. Walaupun Spanyol adalah tim yg seimbang penyerangan dan pertahanannya, peran portero gak kalah penting. Sebuah pertandingan yg ketat dan seru, biasanya memiliki hasil akhir yg ditentukan oleh detail2 kecil di lapangan, salah satunya adalah penyelamatan2 yg dilakukan oleh seorang penjaga gawang. Pasti masih inget dong penyelamatan super signifikan Iker Casillas saat menggagalkan peluang emas Arjen Robben di final Piala Dunia 2010. Bukan maksud mengecilkan arti gol Andres Iniesta, dan ramalan dari si Paul Gurita, tapi tanpa penyelamatan legendaris tadi, piala dunia tadi udah terpajang rapi di lemari KNVB (PSSI-nya Belanda).

Negara di semenanjung Iberia yg memiliki provinsi seperti Castila (Madrid), Catalan, Andalusia, Basque, Galicia, Valencia dan Aragon ini termasuk negara yg mengapresiasi peran kiper. Terbukti dengan pemberian gelar el zamora untuk penjaga gawang yg jumlah kebobolannya paling sedikit di liga. Selama ini, pos kiper Spanyol mutlak digenggam Iker Casillas. Masih 30 tahun tapi sudah matang sejak 5 tahun lalu, sehingga posnya memang sulit digeser, bahkan oleh Victor Valdes, kiper Barcelona yg notabene peraih titel el zamora dalam beberapa musim terakhir La Liga.

Selain Casillas dan Valdes, ada Pepe Reina yg juga menjadi andalan. Pengalamannya bermain di liga Inggris yg keras bersama Liverpool diharapkan mampu menjadikannya pelapis sepadan bagi San Iker. Kiper yg punya refleks cepat serta lemparan dan tendangan super akurat ini juga sudah dikenal luas di publik Spanyol maupun penikmat sepakbola eropa. Tapi apakah hanya mereka bertiga?

Sekarang Spanyol gak perlu khawatir kalau Iker Casillas pensiun atau absen. Kiper2 hebat lainnya sudah siap menjadi suksesor. Dijamin deretan nama ini bisa bikin tim nasional sekelas Inggris iri. Atau mungkin pemerintah Indonesia bisa narik mereka aja kali ya buat dinaturalisasi... Berikut profil singkat mereka:

1. David De Gea
De Gea baru musim ini ditransfer klub raksasa Inggris, Manchester United. Walaupun performanya diawal musim masih dianggap belum maksimal dan terkesan belum memenuhi ekspektasi Sir Alex Ferguson, tapi kiper ini sangat berbakat dan masih muda. Ditangan Sir Alex yg memang pintar mengeluarkan kemampuan terbaik dari anak buahnya, De Gea adalah calon kiper hebat.

2. Diego Lopez
Penggemar La Liga mungkin sudah akrab dengan nama ini. Pernah menjadi cadangan Casillas di Madrid, kiper ini menjelma menjadi tembok kokoh Villareal. Permainannya yg konsisten sempat membuat kiper bertinggi nyaris 2 meter ini beberapa kali dipanggil ke tim nasional.

3. Sergio Asenjo
Dua musim lalu, pemain ini dianggap sebagai salah satu kiper paling berbakat di eropa. Di usianya yg masih 18 tahun saat itu, dia sangat tangguh di Real Valladolid. Musim selanjutnya, dia digaet Atletico Madrid. Sayangnya, permainannya dianggap menurun dan cedera mulai akrab dengannya, yg membuatnya digusur De Gea. Sekarang sepeninggal De Gea ke MU, Asenjo siap membuktikan kapasitasnya.

4. Javi Varas
Ini adalah sosok yg baru naik daun di kancah La Liga. Kiper 29 tahun ini naik pangkat jadi kiper utama Sevilla setelah Andres Palop menurun permainannya karena faktor usia. Sejauh ini performanya mengundang pujian dari klub, dan imbasnya dia langusng diganjar perpanjangan kontrak hingga 2016 plus kenaikan gaji. Paling aktual adalah menahan gempuran para pemain Barcelona termasuk menahan tendangan penalti Lionel Messi.

Saturday, October 22, 2011

Wajah baru Tim Nasional Inggris


Bicara sepakbola dunia gak afdol kalo gak ngebahas tim nasional Inggris. Timnas ini walaupun prestasinya biasa2 aja dalam 1 dekade terakhir, tetap mengundang atensi khalayak ramai untuk disimak. Gimana nggak, disanalah pemain2 bertalenta dan terkenal berkumpul. Klub-klub mereka berprestasi di kejuaraan regiional dan punya reputasi mendunia. Tapi, kenapa timnas negara yg mengklaim sebagai penemu sepakbola hanya sekali ngerasain jadi juara dunia, itupun udah hampir setengah abad yg lalu.

Inggris adalah negara industri sepakbola, itu udah gak bisa disangkal lagi. Seperti halnya negara2 Eropa lainnya, disana pesepakbola adalah raja. Mereka lebih ngetop dibanding artis atau politisi. Untuk kalangan cewek2, memacari pesepakbola adalah impian. Dan kalo bicara kompetisinya, liga Inggris saat ini adalah liga yg paling banyak ditonton di dunia. Gak heran, apresiasi orang sana terhadap sepakbola memang tinggi, dilihat dari penggarapan olahraga 11 lawan 11 itu dengan serius, melibatkan orang-orang kompeten dan profesional, sehingga industri sepakbola disana begitu maju, bahkan tim-tim divisi dua mereka juga mampu menggerakkan ekonomi secara gradual. Disini? Lapangan bola lebih sering dirusak oleh acara-acara non olahraga.

Kembali ke timnas Inggris, di awal tahun 2000an, mereka mengandalkan amunisi dari Manchester United sebagai tulang punggung tim. David Beckham dan Paul Scholes gak pernah tergeser dari starting eleven. Garry Nevile adalah penghuni tetap sisi kanan pertahanan. Lalu muncul 2 gelandang superstar yaitu Frank Lampard dan Steven Gerrard, yang sayangnya kedua pemain ini kaya cowo sama cewe gak “klik” walaupun sama hebatnya. Mereka gak pernah bisa main bareng. Disamping masalah Lamps-Stevie G tadi, ada juga problem di posisi penjaga gawang. Sepeninggal David Seaman, Inggris seolah coba2 kiper. Dari David James, Paul Robinson, Scott Carson sampai Robert Green gak pernah bener2 memuaskan publik dan pers Inggris yg terkenal nyinyir. Begitu pula sektor depan dimana Michael Owen dan Robbie Fowler gak bisa bermain sebagus di klub mereka, dan belum bisa menyamai reputasi SAS (Shearer and Sheringham) di timnas.

Tapi itu dulu. Sekarang? Timnas Inggris bener2 berubah wajah. Mereka gak lagi bermain spartan dengan full power. Kick and rush is so 80’s. Revolusi itu dimulai saat Sven Goran Eriksson menggantikan Glenn Hoddle. Eriksson mulai memainkan sepakbola ala Eropa daratan dengan penguasaan bola serta penerapan taktik yg tepat untuk menang. Sayangnya di era Eriksson pula timnas ini lebih mirip kumpulan artis hollywood daripada pemain bola. Puncaknya di Piala Dunia 2006 dimana The Ice Man membolehkan para pemain membawa serta WAG’s (Wife and Girlfriends) yg langsung mengundang sirkus media, membuat para pemain lupa pada tugas negara yang diembankan di pundak mereka.

Selanjutnya, Inggris mengalihkan nahkoda ke Steve McLaren, pelatih yg sebenarnya bereputasi medium. Ditangannya, sepakbola Inggris mencapai titik nadir yaitu tidak lolos ke Piala Eropa 2008, karena di pertandingan terakhir kualifikasi grup dikandaskan Kroasia. Lalu muncullah Fabio Capello. Kemunculan pelatih yg akrab dengan gelar semasa melatih di level klub ini mencerahkan asa publik. Capello dengan mudah membawa Inggris lolos ke Piala Dunia 2010. Sayang di Piala Dunia edisi terakhir ini memunculkan cerita mirip jelang Piala Dunia 2002, dimana Wayne Rooney sebagai pemain kunci mengalami patah tulang metatarsal menjelang turnamen, sehingga si shrek gagal tampil maksimal. Cerita yg mirip David Beckham di 2002 yg juga patah tulang metatarsal setelah ditekel brutal oleh Aldo Duscher saat membela MU di Liga Champions melawan Deportivo La Coruna. Dan sama seperti 2002, Inggris gagal di perempat final. Kalau di 2002 mereka dikalahkan Brazil lewat gol tendangan bebas Ronaldinho yang salah diantisipasi David Seaman, di 2010 mereka dibantai anak-anak muda Jerman pimpinan Mesut Ozil dan Thomas Mueller lewat pertandingan yg dikenal luas dengan insiden bola lewat garis Frank Lampard.

Kegagalan tim untuk kesekian kalinya bisa jadi erat kaitannya dengan kompetisi EPL yang terlalu kosmopolitan, sehingga pemain-pemain asli Inggris terpinggirkan. Well, walaupun debatable tapi hal ini memang dikeluhkan oleh Don Fabio. Walaupun demikian, tugas Capello hanyalah melatih timnas Inggris, tanpa punya wewenang lebih jauh untuk menyelami kompetisi sepakbolanya. Capello hanya bisa mengambil pemain yang ada yang telah dihasilkan oleh kompetisi. Dari sisi teknis Capello nampaknya belajar bahwa tim ini tidak boleh tergantung pada sosok bintang. Tim dirombak, cara bermain dan pendekatan dirubah. Kemunculan pemain seperti Scott Parker, Jack Wilshere dan Phil Jones maupun Jack Rodwell akan total merubah cara bermain si tiga singa. Inggris baru ini adalah tim dengan taktik yg matang dan sangat kolektif. Capello memperlihatkan wajah aslinya. Seperti kebanyakan pelatih Italia, Capello menyukai 2 gelandang tengah yang menopang 4 pemain berkarakter menyerang dalam tim. 2 gelandang itu diisi oleh Parker dan Wilshere, atau Gareth Barry, Frank Lampard maupun Rodwell. Dia meninggalkan Gerrard. Sementara Ashley Young, Stewart Downing James Milner, dan Adam Johnson menyisir sektor sayap. Di depan, Capello bakal pusing karena membludaknya talenta. Wayne Rooney ditemani secara bergantian oleh Darren Bent, Theo Walcott, Jermain Defoe, Andy Carroll, dan Daniel Sturridge. Belum lagi Bobby Zamora dan Danny Welbeck siap memberi bukti. Hanya, absennya Rooney di dua pertandingan awal Euro 2012 bisa mempengaruhi sektor serangan tim tiga singa ini.

Yang menarik adalah kehadiran Wilshere dan Parker sanggup melengserkan Lampard dan Gerrard. Wilshere adalah pemain langka di lini tengah Inggris. Visi dan kemampuannya mengkreasi permainan berbeda dengan gelandang Ingrris pada umumnya yg memiliki DNA permainan keras dan efisien. Sayangnya dia sedang mengalami cedera panjang, yang mungkin bisa menjegalnya tampil di Euro 2012. Begitu pula Parker yang meskipun berkarakter garang dengan tackling2nya, tapi dia punya visi dan seorang pengumpan yg baik. Lini tengah kini adalah senjata andalan Inggris. Bahkan Capello sering mencoba skema 1 striker dengan menempatkan Rooney didepan Ashley Young, Adam Johnson dan James Milner.

Ada satu nama lagi yg siap jadi andalan baru Inggris yaitu Phil Jones. Jones, yg baru musim ini bermain untuk MU juga adalah pemain langka. Berbadan kokoh tapi penguasaan bolanya eksepsional. Dengan kecepatannya dia sanggup mengobrak abrik pertahanan lawan, lalu membuahkan gol buat timnya. Dia bisa dipasang sebagai bek kanan dan gelandang bertahan, walaupun posisi naturalnya adalah bek tengah. Di usianya yg masih 19 tahun, dia sangat mungkin melebihi pencapaian senior2nya seperti John Terry atau Rio Ferdinand.

Inggris semakin siap dengan makin matangnya Joe Hart di pos penjaga gawang. Hart mulai terbiasa bermain di kompetisi level atas seiring naik daunnya prestasi Manchester City.Hart, yg mengaku sering dibombardir ratusan tembakan oleh striker2 world class City macam Balotelli, Aguero, Dzeko dan Tevez selama latihan, mengakui saat ini dia telah berada pada jalur yg benar untuk menjadi penjaga gawang Inggris dalam waktu yg lama.

Marilah kita tunggu sepak terjang tim 3 singa ini di Polandia-Ukraina tahun depan.

Monday, October 17, 2011

Cristiano Ronaldo sudah dewasa


Semua orang kenal sosok ini. Si pengklaim jago, ganteng, muda dan kaya. Cewek yg dipacarin pun gonta ganti, yah jangan heran sih. Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro, atau dikenal luas Cristiano Ronaldo, atau CR7. Secara teknis, pemain kelahiran Funchal ini permainannya yg atraktif didukung fisik yg kuat dan kokoh, lari cepat dan tendangan parabol ajaib sanggup bikin bek dan kiper manapun ngeri. Footworknya yg eksepsional banyak menginspirasi pemain lain dan terutama anak2 kecil untuk meniru gayanya, baik dribel yg khas maupun freekick parabol. Sendirian dia bisa mengubah jalannya pertandingan. Layaknya legenda macam Johan Cruyff, CR7 adalah strategi dari tim. Pelatih tau persis dengan membentuk armada kokoh yg menopang seorang CR7 sebagai poros tim, timnya dapat mengalahkan tim manapun.

Statistik ga bisa bohong. 40 gol di La Liga musim lalu adalah rekor. Jarang pemain bs nyetak 40 gol dalam semusim liga di era sepakbola modern yg kental kolektivitas dan kekuatan pertahanannya. Tapi sayang timnya, Real Madrid, hanya meraih Copa Del Rey, sementara di La Liga dan Liga Champions masih rontok ditangan seteru abadi Barcelona, tim terbaik dunia saat ini yg dimotori saingan beratnya, Lionel Messi.

CR7 sekarang udah puas mengguncang dunia statistik sepakbola. Rekor2 udah dipecahkan, tapi nyatanya timnya kalah. Tim kalah, gelar pemain terbaikpun lepas ke tangan Messi. Nampaknya Jose Mourinho udah berhasil ngedidik CR7. Dia ngajarin melalui fakta. Messi yg menang karena dia ngebawa Barca menang. Klub adalah segalanya, klub diatas pemain.

Dari filosofi demikianlah CR7 nampaknya belajar. Kemenangan tim adalah yg utama siapapun pencetak golnya. CR7 sadar gelar pribadi adalah semata hasil dari pencapaian tim, dan bukan lagi tujuan utama. Bukti teraktualnya adalah sampai saat ini dia udah menyumbang 4 assist di la liga, sementara golnya masih 6.

CR7 memberi assist mudah untuk Gonzalo Higuain, striker dengan finishing berkelas di masa kini. Walaupun posisi udah wide open untuk shoot, sekarang dia akan melihat dulu posisi kawannya, dia akan mengoper, dia akan mengumpan dan membuka ruang bagi kawannya. CR7 sudah dewasa sekarang, dan kita akan nantikan persaingan yang makin ketat dengan Messi, dan tentunya antara Real Madrid dan Barcelona.

Wednesday, October 12, 2011

Sebatang coklat pahit dan sepotong waffle hambar

Siapa gak doyan eskrim Magnum? Rasa mewah dan elegannya adalah andil dari coklat Belgia disana. Siapa juga yg bisa nolak Waffle yg disajikan bareng eskrim, coklat meleleh atau selai stroberi?

Sirkuit Spa-Francorchamps di Belgia adalah sirkuit langganan penyelenggaraan F-1. Sirkuit ini banyak disebut pembalap sebagai salah satu sirkuit paling menantang dari semua sirkuit balap F1 yang pernah ada. Bagi para fans, sirkuit ini juga menjadi sirkuit paling populer karena lokasinya yang berada di tengah hutan pedalaman. Negara tetangga Belanda ini identik dengan kebangsawanan, sesuatu yg elegan, cita rasa tinggi, klasik. Masih kurang? Negara ibukota Uni Eropa dan NATO berpenduduk 10,5 juta jiwa ini adalah salah satu negara terkenal penjual berlian. Kalo pernah nonton film Blood Diamond (satu2nya film bagus Leo Di Caprio in my opinion) seakan membuktikan eksistensi negara beribukota Brussel itu di kancah internasional.

Tapi, ada yg gak bisa lepas dari Belgia, yaitu sepakbola. Olahraga terpopuler dunia ini adalah juga olahraga terpopuler negeri kecil ini. Pemain2 bertalenta selalu hadir, walau prestasi timnasnya jauh dibawah bayang2 Belanda sang tetangga, yang notabene tim papan atas dunia.

Bagi Indonesia, Belgia sangat bersahabat karena negara ini adalah batu loncatan bagi pemain2 sepakbola Indonesia yg ingin bermain di eropa. Salah satu klubnya yaitu CS Vise baru2 ini dibeli oleh Nirwan Bakrie, dimana tujuannya adalah memberikan kesempatan bagi para talenta2 sepakbola Indonesia untuk membela klub itu. Terbukti sekarang 3 pemain Indonesia yg merupakan alumni tim SAD (Sociedad Anonima Deportivo) baru dikontrak CS Vise. Ketiga pemain tersebut adalah, bek kiri Yericho Christiantoko, bek kanan Alfin Ismail Tuasalamony dan striker Yandi Sofyan Munawar.

Kalo bicara timnas Belgia, tim ini bisa dibilang medioker. Prestasi tertinggi sepakbola Belgia hanyalah peringkat ketiga Piala Dunia 1986, dimana saat itu Diego Maradona sendirian membawa Argentina juara dunia. Selain itu, Belgia juga menempati runner up Euro 1980.

Tapi cuma sebatas itu kiprah timnas Belgia dalam pentas sepakbola dunia. Di tahun 90an prestasinya mulai menurun dan hanya numpang lewat di Piala Dunia maupun Piala Eropa. Walaupun ada pemain2 hebat macam kiper terbaik Piala Dunia 1994 Michel Preudhomme atau sang playmaker jempolan Enzo Scifo, serta kakak beradik Emile & Mbo Mpenza. Begitu pula diawal 2000an, reputasi mereka sebagai partisipan numpang lewat masih gak berubah.

Hingga sekarang di 2011, prestasi tim ini nampaknya berada di titik nadir. Mereka absen di Piala Dunia 2006 dan 2010, dan terakhir ikut Piala Eropa 11 tahun lalu saat menjadi tuan rumah bersama Belanda, itupun langsung tersingkir di penyisihan grup.

Tim setah merah atau dikenal Rode Duivels ini teraktual gagal lolos ke Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina karena kalah bersaing dengan Jerman dan Turki. Padahal kalo rajin main game Football Manager, siapa yg gak ngeri liat barisan skuadnya. Pemain2 Belgia adalah andalan di klubnya masing2, dan bukan klub sembarangan tapi klub2 liga utama eropa.

Simon Mignolet (Sunderland) sebagai kiper, lalu 4 bek diisi Anthony Van Den Borre (Racing Genk), Vincent Kompany (Manchester City), Daniel Van Buyten (Bayern Muenchen) & Thomas Vermaelen (Arsenal). Gelandang bertahan diisi sang kapten Timmy Simmons (PSV) dan si kribo Marouane Fellaini (Everton), sementara Radja Nainggolan (Cagliari) dan Marten Marteens (AZ Alkmaar) sebagai pelapis. Di posisi playmaker ada Stefan Defour (Standard Liege), di teritorial sayap ada Axel Witsel (Benfica) dan Mousa Dembele (Fulham), belum lagi Si Fenomenal Eden Hazard (Lille) dan The New Didier Drogba, Romelu Lukaku (Chelsea) serta Dries Mertens (PSV) yg menjanjikan di barisan penggedor.

Tapi anehnya tim yg diisi gabungan pemain2 bertalenta ini masih saja gagal tampil sebagai tim, meskipun di klubnya masing2 mereka adalah andalan. Apa yg salah di timnas mereka? Sangat disayangkan talenta2 cemerlang ini gagal mencicipi turnamen akbar dunia. Bagaikan sebatang coklat pahit dan sepotong waffle hambar!

Sunday, October 9, 2011

Si kulit bundar kebanggaan bangsa

Kongres Luar Biasa PSSI beberapa waktu lalu membuat banyak pihak berharap2 cemas. Tentunya harapan jangka pendek saat itu adalah Indonesia terbebas dari sanksi FIFA karena sebelumnya kongres di Palembang gagal gara2 ulah sekelompok b*ngsat bertopeng anak bangsa reformis.

Di kongres Solo ini kondisi memang lancar jaya, selancar tol JORR disiang hari. Sekelompok orang yg disebut kelompok 79 atau 69 apalah tau2 satu suara gak lagi mengacau kongres yg turut dihadiri salah satu pejabat FIFA, Jeremy Valcke itu. Tapi disitulah penyusupan2 politik kotor dimulai.

Sang ketua dan wakil terpilih, Djohar Arifin dan Farid Rahman sekarang semua orang taulah mereka bekerja atas nama siapa. Siapa yg bayarin pesawat pribadi timnas yg harganya miliaran demi aklimatisasi lebih awal timnas ke kota Asgabat, Turkmenistan. Yah untuk langkah itu, memang ada hasil kongkretnya karena akhirnya timnas bisa menahan tuan rumah 1-1 lalu menang 4-3 saat bertanding di GBK.

Tapi di mata gue sebagai awam penggemar sepakbola, hanya itulah "prestasi" rezim baru PSSI. Apa selanjutnya? Timnas rontok ditangan Iran dan Bahrain, dan paling aktual adalah Qatar dengan alasan kalah posturlah, apalah dan lalu kita disuguhi cerita sang pelatih Wim Risjbergen mencak2 nyalahin pemainnya saat konfrensi pers sesaat setelah takluk 0-2 ditangan Bahrain di GBK. Lalu timbul kubu pemain yg menolak dilatih Wim, pemain ngambek, pemain indisipliner. Ini sepakbola apa sinetron?

Kebelakang sebelum penunjukan Wim, atau beberapa hari setelah rezim baru berkuasa, PSSI membuat keputusan kontroversial dengan mendepak Alfred Riedl, pelatih cool yg berhasil membangkitkan euforia sepakbola tanah air berkat polesannya di Piala AFF yg berbuah runner-up (walaupun ini keempat kalinya kita jd runner-up tanpa juara).

Perlu diingat, Riedl-lah yg bertanggung jawab atas mencuatnya Ahmad Bustomi sebagai gelandang berkelas Asia, serta Nasuha dan Zulkifli duet fullback yg disiplin dan tak ketinggalan si artis Irfan Bachdim, yg dengan keartisannya sebenarnya punya basic sepakbola yg mumpuni, dan tentunya sebelum dia memutuskan main di Liga Indonesia. Selain itu, Riedl juga tampak memberi pemain kita semangat, nyali, keberanian, dan sikap pantang menyerah yg sebenernya udah lama gak kita lihat di wajah2 pemain timnas.

Tapi setelah naiknya rezim baru, pelatih karismatik itu udah didepak dengan alasan super konyol, karena surat kontraknya gak ketemu, dan karena Riedl dikontrak oleh Nirwan Bakrie, bukan PSSI. Blah! Omong2 soal keluarga Bakrie, sebenernya mungkin keluarga inilah yg kontribusinya nyata. Lihat siapa yg punya proyek SAD di Uruguay, amati pula manuvernya membeli klub Belgia CS Vise dan baru2 ini klub Liga Australia. Semua itu supaya pemain2 asal Indonesia bisa menimba ilmu sekaligus merasakan keras dan profesionalnya kompetisi sepakbola luar negeri, yg ujung2nya adalah menghasilkan pemain2 bagus untuk timnas merah putih.

Lalu apa yg dilakukan rezim sekarang? Setelah sebelum terpilih mereka dengan heroik menggulirkan 'break-away league' yg bermaterikan bintang uzur macam Lee Hendrie tapi itupun gak sampai semusim, kini PSSI akan menggulirkan Liga Profesional Indonesia, yang mengakomodir klub2 LPI dengan ISL, ada pula yg di merger, ada juga klub promosi divisi utama, dan paling lucu adalah 6 tim yg dianggap punya sejarah dan basis pendukung kuat serta diinginkan oleh sponsor. Belum cukup? Liga ini dibuat dalam format 1 wilayah, dan berdurasi 13 bulan! Wow, sebuah liga terpanjang di dunia siap hadir dihadapan kita.

Liga yg panjang, apalagi melebihi 12 bulan tentu akan kacau. Kompetisi tahun2 selanjutnya bakal gak jelas kapan dimulainya, dan tiap tahun liga jadi beda2 bulan mulai dan selesainya. Cuma di Indonesia. Apakah orang2 pinter itu gak sadar bahwa segala jadwal harus mengikuti agenda FIFA? Agenda2 uji coba internasional, kualifikasi dan turnamen internasional, liga champion asia dan piala AFC, apakah pengurus udah berpikir soal itu? Jago kalo udah.

Beginilah kalo organisasi ditunggangi oleh kepentingan2, serta ditempati oleh orang2 yg gak ngerti bola. Klub, pemain, dan komponen sepakbola-lah yg jadi korban. Klub disuruh mandiri, tapi kompetisi malah dibuat nyusahin dan nyekek keuangan. Siapa sanggup biayai biaya operasional kompetisi yg berjalan lebih dari setahun? Apalagi gak ada pemisahan wilayah padahal Indonesia negara kepulauan yg luas. Gimana kalo PSMS mau bertanding lawan Persipura, abis itu menjamu Persib, setelah itu bertandang ke PSM? Apa biaya mereka gak membengkak? Atau kalo mereka mensiasati dengan membuat jadwal tur berdekatan untuk setiap tim, apakah PSMS akan berturut2 melakukan laga tandang sampai 5 kali baru berlanjut ke laga kandang beruntun? Saya rasa kompetisi semacam itu sangat tidak sehat dan sangat tidak seru sodara2.

Belum lagi sekarang PSSI melakukan langkah2 buruk kepada klub2nya. Penyelesaian pertikaian pengurus sangat lamban. Persija misalnya, mereka mengakui pengurus yg lebih punya kedekatan dengan 'break-away league' daripada yg bercokol sekarang, akibatnya mereka jadi gak bisa mempersiapkan diri untuk kompetisi karena dualisme pengurus. Jangan heran belakangan muncul hashtag #savepersija, #savearema, #savepersebaya dll sebagai buntut kekecewaan suporter akan keberpihakan tidak sehat PSSI.

Kalo gini, pemain jugalah yg jd korban. Kompetisi molor gak jelas sampe kapan, membuat pemain kehilangan nafkah. Main di klub mana juga belum jelas, karena khawatir tidak diakui PSSI. Kompetisi gak berjalan juga membuat kaki2 pemain bakal kaku, dan aroma persaingan hilang, akibatnya berimbas pula ke timnas. Padahal timnas sedang menghadapi 2 hajatan besar yaitu SEA Games dan Pra Piala Dunia. Belum lagi nasib komponen sepakbola lain seperti pelatih, ofisial, suporter, wasit, dan semua pihak yg menggantungkan hidupnya pada dunia kulit bundar Indonesia.

Jadi, apa bedanya rezim sekarang sama rezim lalu? Nurdin Halid pasti lagi ketawa2 liat badut2 gak ngerti bola sekarang lagi joget2 menggerakkan organisasi harapan bangsa ini. Selama rezim PSSI masih disusupi kepentingan pihak2 tertentu, jangan harap perbaikan prestasi terwujud. Piala dunia? Mungkin tahun 2200 baru kita bisa ikutan.

Tapi apapun itu, kita sebagai supporter tolong jangan kaya banci mellow kecewa sampe gak mau dukung timnas di GBK. Timnas adalah timnas. Merekalah pahlawan sejati kita, dibalik tikus2 berdasi PSSI itu. Biarlah apa tingkah PSSI, tetaplah dukung timnas. Mereka butuh gemuruh kita di GBK, mereka butuh kecintaan kita lewat dukungan tanpa henti, bukan kekecewaan, boikot dan ngambek ala ABG!

Wednesday, September 14, 2011

Barbara di Camp Nou


Melihat sosok Barbara Berlusconi di Camp Nou bikin saya pribadi sebagai Milanista cukup kaget. Barbara biasa muncul di pertandingan kandang, dan itu jamak terjadi. Tapi kemunculannya di Camp Nou adalah indikasi bahwa cewek ini bukan sekedar anak bos, tapi juga punya kepedulian tinggi kepada awak Milanello.

Apakah ada faktor Alexandre Pato disana, yang memang pacarnya sebagai pemicu kedatangannya? Tidak. Bahkan dalam hubungannya dengan mercato pemain, dia pernah berkata bahwa semua pemain Milan bisa dijual, termasuk Pato. "Pato tidak bisa dijual? Semua pemain berpotensi untuk dijual. Tak terkecuali Pato." Begitu jelasnya suatu kali.


Terlepas dari berbagai teori, kehadirannya menonton di Camp Nou memberi semangat untuk menghadapi tim terbaik dunia adalah spirit yang patut dipuji dari seorang calon pimpinan Milan di masa depan. Barbara knows Pato, Barbara knows calcio, and now Barbara knows european football.

“Mimpi kami adalah melihat Milan meraih sukses sepanjang 25 tahun berikutnya. Apalagi, ini adalah klub dengan koleksi trofi yang paling banyak dibanding klub-klub lain di dunia dan kami tak ingin kehilangan rekor itu.”

Itulah visi tajam dari seorang Barbara.

Menyangkut pertandingan yang akhirnya berakhir imbang 2-2 itu, Barbara berkomentar singkat. "Ini adalah malam yang emosional dan banyak penderitaan, tapi inilah sepakbola. Malam ini tak akan terlupakan"

"Kami melawan tim terbaik di dunia. Kami sukses meraih hasil imbang di Camp Nou, sebuah hal yang tak mudah. Kami mampu menjaga kepala tetap tinggi. Milan terbukti tampil solid, kompak, dan mencetak dua gol bagus. Apalagi Pato juga mencetak gol"

"Kami menghadapi tim terbaik dunia dan mampu menjaga kepala tetap tinggi. Milan terbukti tampil solid, kompak, dan mencetak dua gol bagus."

Forza Barbara! Forza Milan!!

Sunday, August 7, 2011

Mr. X Cepatlah datang!

Menyaksikan pertandingan yang dilakoni Milan selama pramusim ini, termasuk gelaran Supercoppa Italiana di Birds Nest Stadium Beijing kemarin menyisakan sedikit kekhawatiran dari tifosi, termasuk saya.

Milan memang gak pernah kalah di pre-season ini. Di Audi Cup mereka imbang 1-1 dengan Bayern Muenchen, dan 2-2 lawan Internacional, kemudian kalah adu penalti. Tapi yang lebih patut dicermati adalah permainannya. Lawan Bayern, kelihatan bek sayap Milan Abate dan Taiwo belum siap menghadapi winger kelas dunia macam Arjen Robben dan Thomas Mueller. Memang Milan gak kebobolan banyak, tapi serangan sayap Die Rotten juga membuat para gelandang Milan kehilangan konsentrasi dan membuat mereka lupa pada tugasnya menata permainan karena harus membantu pertahanan.

Lawan Internacional lebih baik. Milan mampu mengkreasi banyak peluang yang sayangnya hanya 2 gol yang tercipta, dan sayangnya pula harus kebobolan 2 'cheap goal'. Dan dari duel ini terlihat kepantasan Cassano sebagai pemain Milan. Sentuhan magisnya sangat kita butuhkan disaat kritis.

Semalam lawan Inter, saya memang gak nonton, tapi dari yang saya baca dan dengar dari yg menonton, permainan Milan di babak pertama kurang memuaskan. Milan banyak ditekan Inter dan para gelandang tidak menemukan permainan terbaiknya. Banyak yg mengkritik permainan Gattuso & Seedorf di babak pertama. Tapi di babak kedua untungnya tangan dingin Max Allegri berhasil mengubah jalannya pertandingan. Permainan Seedorf dan Boateng jauh membaik yg ujung2nya 2 gol tercipta dan memutarbalikkan keadaan.

Tapi diatas itu semua, Milan sebagai tim yg mengincar semua gelar di 2011/2012 butuh lini tengah yg lebih siap dan mampu menentukan jalannya pertandingan sejak awal. Seedorf memang bisa diandalkan dalam beberapa situasi, tapi kecepatannya sudah gak bisa lagi diandalkan. Gattuso juga sama. Sementara Boateng lebih bertipe box to box midfielder yg sangat powerful tapi bukanlah seorang penentu atau playmaker.

Untuk itu, kehadiran 1 orang gelandang kiri yang dicari2 selama ini memang sangat dibutuhkan. Dia akan mampu mengubah pola kerja lini tengah Milan secara keseluruhan, dan menginisiasi serangan dengan warna baru yg belum terbaca oleh rival2 Milan. Siapa orangnya? Montolivo dan Aquilani sekarang paling sering disebut2, sementara Cesc Fabregas relatif hanya impian seperti layaknya Marek Hamsik yang malah gak pernah disebut2 lagi.

Montolivo bukan seorang gelandang kiri, dia lebih ditengah atau kanan. Karakter playmaker ada padanya, serta punya tendangan jarak jauh bagus. Montolivo adalah pemimpin lini tengah Gli Azzuri yang tengah membangun kekuatan pasca kehancuran masif di Piala Dunia lalu. Menyenangkan punya pemain seperti ini di sebuah tim. Monty mungkin bisa mengisi pos Gattuso atau bahkan Van Bommel, sementara Seedorf dan Urby tetap bergantian di pos kiri.

Aquilani dilain pihak berkarakter playmaker dan berteknik tinggi, bisa bermain di kiri, dan disia-siakan Liverpool yang lebih memilih Charlie Adam. King Kenny Dalglish mungkin belum pernah menonton video Aquilani pernah lihat videonya melakukan umpan rabona pada saat Roma menghadapi Milan, yang berujung gol Totti ke gawang Nelson Dida.

Kalau boleh pilih, saya pilih keduanya berbaju Milan. Keduanya adalah aset besar dalam persepakbolaan Italia. Kesimpulannya, Aquilani atau Montolivo bisa jadi solusi. Dari ranah Bavaria, ada nama Bastian Schweinsteiger. Schweini sangat menonjol permainannya saat menjadi playmaker di Piala Dunia 2010, dan dia jelas bisa ditempatkan sebagai gelandang kiri. Tapi, keengganan Bayern melepasnya adalah sebuah kesulitan buat Milan, yang budgetnya terbatas.

Ada pula opsi mendatangkan ex-golden boy Ricardo Kaka. Tapi Milan akan berjudi jika mendatangkannya. Injury prone dan inkonsistensi permainannya sejak meninggalkan Milanello adalah sebuah nilai minus, belum lagi fakta bahwa ex bintang kebanyakan gagal jika melakukan come back ke san siro. Tapi bisa ditebak, Berlusconi dan Galliani paling menyukai Kaka dibanding kesemua kandidat Mr. X, ditambah rumor yang mengatakan harga Kaka bisa didiskon hingga 'hanya' 11 juta euro saja.

Sementara di lini penggedor, para petinggi kelihatan gak ada puasnya. Sudah punya Ibra, Pato, Robinho, Pippo, Cassano dan Paloschi tapi masih aja mengharapkan Balotelli. Ada keyakinan bahwa Milan adalah tempat pemulihan pemain bandel dengan sikap kekeluargaan yg ditawarkan. Fakta bahwa Balotelli seorang Milanista juga diyakini akan meredam super-ego sang wonderkid jika jadi bergabung. Tapi saya sendiri gak rela jika harus mengorbankan 1 dari 6 striker kita bahkan untuk seorang Balotelli. 2-3 tahun lagi mungkin Balotelli baru bisa berguna untuk Milan. Selama ini, Super-Mario lebih banyak membuat sensasi daripada prestasi. Mendatangkannya lebih baik dengan status pinjaman, itupun kalau ada salah satu attacante Milan ada yg hengkang.

Segeralah datang, Mr. X!!

Forza Milan!!

Saturday, August 6, 2011

Sensasi Paris Saint Germain



Paris Saint Germain. Biasa disebut Paris SG, atau PSG. Klub di ibukota Perancis ini sebenarnya bisa dibilang pemain baru dalam dunia sepakbola. Klub ini baru berdiri di tahun 1970 hasil merger dari Paris FC dan Stade Saint Germain. Paris FC sendiri masih ada, tapi sayangnya mereka masih berkutat di kompetisi amatir. Padahal Mamadou Sakho, pemain paling berbakat PSG berasal dari Paris FC, begitu pula Pelatih Prancis di Euro 2000, Roger Lemerre yang mengawali karir manajerialnya disini.

Kembali ke PSG, layaknya darah muda, usia tidak menghalangi mereka untuk membuat sensasi, dan tentu saja prestasi. Sensasi mereka tentu saja rivalitas besar dengan Olympique Marseille. Rivalitas ini adalah yang terbesar di Prancis, salah satu yang klasik di sepakbola eropa. Setiap mereka bertanding, pengamanan ditingkatkan sampai 10 kali lipat.

PSG adalah klub besar, yang memiliki pemain-pemain besar di setiap musimnya. Tercatat salah satu duet terbaik eropa 90an, David Ginola dan George Weah pernah bermain disana. Weah adalah pemain terbaik dunia tahun 1995, sementara Ginola adalah pria tertampan di Paris menurut wanita-wanita disana. Mereka juga pernah diperkuat oleh Leonardo, paul Le Guen, Bernard Lama, Vincent Guerin, Patrice Loko, Marco Simone, Youri Djorkaeff, sampai Ronaldinho.

Musim lalu dengan pelatih Antoine Komboure, PSG mencicipi papan atas Ligue 1 dengan mengandalkan pemain-pemain veteran seperti Claude Makelele, Ludovic Giuly, dan Gregory Coupet dengan pemain-pemain muda seperti Nene, Mamadou Sakho, Clement Chantome dan Guilaume Hoarau.

Tanggal 31 Mei 2011 ini mungkin tanggal paling bersejarah bagi klub kebanggaan kota mode dunia ini. PSG dibeli oleh Qatar Investment Authority. Mereka membeli 70% saham mayoritas, menjadikan pemilik sebelumbya, Colony Capital menjadi hanya memiliki 29% saja. Seperti halnya para sheik dari timur tengah, PSG kini merasakan nasib yang sama seperti Manchester City dan Malaga, jadi orang kaya baru!

Benar saja, PSG langsung mengumumkan penunjukan Leonardo sebagai Direktur Teknik. Gebrakan langsung terasa di bursa transfer. Dalam waktu 2 bulan, mereka mendatangkan Blaise Matuidi dan Milan Bisevac dari Valenciennes, Kevin Gameiro dari Lorient, Jeremy Menez dari AS Roma, Salvatore Sirigu dari Palermo, dan yang paling fenomenal yaitu Javier Pastore, rekan Sirigu dari Palermo. Pengejaran mereka belum berhenti sampai disitu, dikabarkan mereka mengincar Dimitar Berbatov (Manchester United) dan Joe Cole, yang disia-siakan Liverpool.


Iming-iming gaji besar dan pesona kota Paris adalah pemikat utama para pemain itu untuk bergabung. PSG adalah calon penguasa tunggal liga Prancis, yang beberapa waktu lalu dikuasai oleh Olympique Lyon dengan gelar liga 7 musim beruntun.

Saya adalah pendukung PSG sejak 90an, selain AC Milan dan Barcelona tentunya. Musim depan, klub-klub yang saya dukung ini akan berprestasi maksimal! Mudah-mudahan.

Monday, August 1, 2011

Playmaker Indonesia?

Playmaker. Trequartista. Fantasista. Atau apapun sebutannya dalam sepakbola adalah seorang pemain yang memiliki karakteristik spesial. Spesial karena lewat pemain di posisi inilah sering kali permainan sebuah tim bergantung. Pemain ini menghubungkan lini depan dan belakang, biasanya bernomor punggung 10, memiliki visi yang jelas dalam permainan dan utamanya adalah mempraktekkan strategi pelatih kedalam lapangan. Pemain seperti Johan Cruyff, Zinedine Zidane maupun Maradona seringkali sendirian menentukan hasil pertandingan timnya. Pemain ini adalah roh dari tim, pemain ini adalah strategi dari tim itu sendiri. Itulah playmaker pada tingkat tertingginya.

Ada juga pemain yang menentukan alur permainan tim. Bermain cepat, lambat, direct maupun dari kaki ke kaki layaknya seorang dirigen dalam simfoni musik. Andrea Pirlo, Xavi Hernandez, Xabi Alonso adalah contoh dari sedikit pemain tersebut. Bahkan ada sebutan lazy wizard, sebutan untuk seorang pengatur serangan yang malas berlari tapi punya skill luar biasa seperti Juan Roman Riquelme ataupun almarhum Socrates.

Di Indonesia, pemain dengan posisi dan peran seperti maestro diatas sebenarnya cukup banyak dihasilkan pada tahun 80-90an, hanya dengan tingkatan prestasi dan kebintangan yang berbeda dari playmaker-playmaker dunia tersebut. Terhitung Yoesoef Bachtiar, Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Francis Wewengkang hingga Eduard Ivakdalam. Mereka adalah pengatur permainan papan atas Indonesia pada masa jayanya.

Tetapi dalam 10 tahun terakhir ini, pemain Indonesia berkarakter demikian sangat langka. Tercatat hanya Firman Utina, Ahmad Bustomi dan kini Egi Melgiansyah saja yang memiliki kemampuan mengatur permainan. Mantan pelatih Alfred Riedl bukannya tidak menyadari permasalahan ini. Dia mengeluhkan terbatasnya pemain lokal berposisi playmaker di kompetisi Liga Indonesia.

Anehnya, ini adalah fenomena yang mulai terjadi sejak kepemimpinan rezim sebelum sekarang. Posisi pemain-pemain ini di klub Liga Indonesia sudah nyaman diduduki pemain-pemain asing. Zah Rahan, Danilo Fernando, Ronald Fagundez, Milijan Radovic sampai Robertino Pugliara semuanya bukan pemain lokal. Gelandang-gelandang lokal kebanyakan berposisi sebagai gelandang bertahan yang berkarakter keras, bukan karakter flamboyan, karena memang posisi pengatur permainan seolah sudah dipatenkan untuk pemain asing. Ada juga pendapat kerasnya permainan di Indonesia juga menjadi faktor terkikisnya peran seorang fantasista. Keras karena karakter atau keras karena wasit sering membiarkan pelanggaran berbahaya terjadi tanpa dihukum? Tanya kenapa.

Seperti apapun strategi tim, dan se-rigid apapun formasi sebuah tim, peranan playmaker tetaplah penting. Manchester United walaupun terkenal memberikan nomor 10nya kepada striker utama, tetap merindukan Paul Scholes yang memiliki kemampuan memegang kendali permainan. Seperti halnya Jerman yang mampu memaksimalkan Bastian Schweinsteiger dan Mesut Ozil di akhir era Michael Ballack.

Untuk itu semoga klub-klub Indonesia, khususnya ISL berani memberikan kepercayaan posisi strategis ini kepada pemain lokal. Hanya Firman, Bustomi dan Egi sebagai output dari kompetisi dalam bentuk playmaker bukanlah hal baik bagi persepakbolaan Indonesia, khususnya tim nasional. Kita butuh playmaker lokal berkualitas internasional. Malaysia sekarang punya Baddrol dan Safiq. Indonesia tentu butuh sesosok playmaker yang bisa bermain di wilayah setengah lapangan lawan, sehingga serangan tidak melulu melalui long-pass dari full-back ataupun gelandang bertahan, serta tidak sporadis mengandalkan kecepatan lari striker. Permainan seperti itu jelas sudah usang, dan pastinya tidak menarik dan terbaca lawan.

Pemain tidak bisa disalahkan, karena timnas yang kita saksikan adalah produk dari kompetisi. Apa yang kita saksikan bersama adalah cerminan kompetisi kita. Permainan keras, tekel berbahaya, umpan lambung, serangan sporadis, mental labil adalah pemandangan yang akan kita tetap saksikan, dan kekalahan akan tetap kita akrabi. Kata-kata pelipur lara akan terus jadi sahabat kita, dan adik-adik kita penggemar sepakbola dan calon penerus penghuni timnas hanya akan bisa mendengar cerita pedih kekalahan senior-seniornya. Jika ingin melihat pemain dengan visi sebaik Paul Scholes, umpan seakurat Andrea Pirlo dan daya jelajah sejauh Ramires dan punya prestasi secemerlang mereka, atau perkembangan sepesat timnas Jepang, kita harus merubah semuanya. Merubah sikap dan pendekatan, dimulai dari merubah kompetisi.

Selamatkan sepakbola Indonesia!

Monday, July 18, 2011

Milan Legend 4 September 2011

Milan Squad 2011 (sampai 18 Juli 2011)

Skuad Milan sampai hari ini (18 Juli 2011):

Portierri:
Christian Abbiati
Marco Amelia
Flavio Roma

Diffensori:
Ignazio Abate
Alessandro Nesta
Thiago Silva
TAYE TAIWO
Massimo Oddo
PHILLIPE MEXES
Mario Yepes
Gianluca Zambrotta
Danielle Bonera
Luca Antonini

Centrocampisti:
Mark Van Bommel
Gennaro Gattuso
Claerence Seedorf
Kevin Prince Boateng
Massimo Ambrosini
Mathieu Flamini
Urby Emmanuelson
STEPHAN EL-SHAARAWY
Rodney Strasser

Attacanti:
Alexandre Pato
Zlatan Ibrahimovic
Robinho
Antonio Cassano
Filippo Inzaghi
ALBERTO PALOSCHI