Pages

Saturday, March 1, 2014

Kelemahan Timnas U-19

Seperti yang sering saya tulis, tim nasional U-19 memang satu dari sedikit tim Indonesia yang unik dalam artian positif. Mereka bermain dengan mengandalkan possession football dan zone press, sebuah taktik yang sejalan dengan perkembangan belakangan ini. Sepanjang saya menonton liga Indonesia tingkat apapun, saya baru melihat permainan seperti ini ditunjukkan oleh klub Persiba Balikpapan beberapa tahun silam kala diasuh Peter Butler.

Pelatih Indra Sjafri sudah menggunakan pola 4-3-3 dan permainan possession football pada timnas U-19 sejak tahun lalu. Kecocokan Indonesia dengan pola 4-3-3 memang sudah terjadi sejak dulu. Antun “Toni” Pogacnik, pelatih tim nasional Indonesia era 50an pernah mengungkapkan bahwa secara tradisi, Indonesia memiliki banyak pemain sayap yang cepat. Untuk mengejawantah kecepatan tersebut di lapangan, memang tidak ada pola yang lebih tepat selain 4-3-3.

Namun, pemain-pemain Indonesia secara umum memang berbakat, namun mereka bukanlah pengejawantah taktik yang handal. Inilah sedikit banyak alasan mengapa kehebatan tim nasional kita yang sempat ditakuti pada era 50an lambat laun terkikis di saat bangsa lain berinovasi. Ya, kita terlalu banyak berdiam diri dan berjalan di tempat.

Inilah yang coba didobrak oleh sekelompok orang yang menjadi satu kesatuan dalam awak tim nasional U-19.

Pelatih Indra Sjafri amat menekankan penguasaan bola yang sudah dimulai dari lini belakang. Saat salah satu bek menguasai bola, salah satu dari trio gelandang Hargianto, Zulfiandi ataupun Evan Dimas akan mencari posisi kosong agar bola dapat dioper dengan mudah oleh bek. Dari sinilah permainan diolah.

Hargianto adalah gelandang bertahan dengan kemampuan yang amat langka di Indonesia. Bukan sekadar memiliki kemampuan bertahan, ia juga memiliki umpan-umpan akurat serta mahir dalam bola mati. Hargianto yang lebih defensif ini ditemani dua gelandang yang lebih bernaluri menyerang, Zulfiandi dan Evan Dimas. Zulfiandi memiliki dribel jarak pendek yang mengagumkan dan kemampuan komplet sebgagai gelandang box to box.

Sementara Evan Dimas adalah yang teristimewa. Selain skill yang tinggi dan visi yang berkelas, ia juga amat paham posisi. Saat Zulfiandi atau Hargianto dijaga ketat lawan, ia tidak jarang untuk turun jauh ke belakang. Ia juga kerap muncul dari lini kedua dan siap menyambut umpan silang yang datang dari pemain sayap. Tiga golnya ke gawang Korea Selatan U-19 beberapa waktu lalu lahir dari skema ini.

Gol-gol Evan Dimas tersebut seakan menunjukkan bahwa permainan Indonesia U-19 amat mengandalkan serangan dari sektor sayap, sebagaimana pengaplikasian pola 4-3-3. Game plan tim ini sebetulnya sederhana. Mereka meracik bola dahulu di tengah, memberi terobosan kepada sayap, lalu sayap tersebut melepas umpan silang yang kemudian dikonversi menjadi gol oleh pemain yang posisinya paling menguntungkan.

Game plan ini terus dipakai dalam rangkaian uji coba yang mereka lakoni dalam sebulan terakhir. Kebanyakan gol tercipta lewat skema seperti ini. Kebetulan, kualitas lawan yang dihadapi juga tidak istimewa. Di samping kalah kualitas, lawan-lawan tim nasional U-19 ini juga kalah dari sisi ketahanan fisik. Tidak heran jika timnas Garuda Jaya terus menang meskipun mereka tidak berada pada performa terbaik.

Rekor impresif 8 kemenangan dari 9 laga sejauh ini jelas mengagumkan, apalagi yang dihadapi timnas U-19 adalah tim-tim dengan pemain yang berusia lebih tua, umumnya di atas mereka dua tahun. Meskipun masih lebih muda, namun kematangan yang ditunjukkan melebihi lawan yang lebih tua. Fenomena ini juga sedikit banyak menjelaskan tidak dibinanya dengan baik sepak bola kita, dan betapa klub-klub Indonesia pada umumnya seperti tidak pernah menonton pertandingan sepak bola Eropa kekinian, mereka tidak mampu mengikuti dinamika sepak bola modern.

Namun di balik segala keriaan, terdapat sedikit kekhawatiran. Timnas U-19 ini sudah terlalu kuat bagi lawan-lawan mereka di pulau Jawa. Beberapa hari mendatang, lawan-lawan dari pulau Kalimantan sudah menunggu, menarik mengamati seperti apa kualitas mereka. Dengan semakin seringnya siaran langsung TV yang mendampingi perjalanan timnas U-19, harusnya sudah semakin banyak lawan yang paham bagaimana cara menangkal permainan ball possession mereka.

Seperti sudah menjadi premis yang berlaku umum bahwa permaianan ball possession dapat diredam dengan zonal marking yang disiplin. Tim lawan tidak perlu berlari-larian menerjang pemain timnas U-19 yang menguasai bola, melainkan dapat menunggu dan menjaga setiap jengkal daerah untuk memutus aliran bola. Dalam sebuah pertandingan mereka menghadapi PSIS U-21, terlihat jelas betapa sulitnya timnas U-19 menghadapi lawan yang bermain seperti ini. Inilah kelemahan yang nyata: mereka hanya memiliki satu cara untuk bermain.

PSIS kala itu memainkan pola bertahan dengan memperkuat sektor sayap. Di sini, terdapat dua pemain yang secara bergantian menempel ketat pemain-pemain sayap, yaitu para full back dan defensive wingers. Ditambah lagi, mereka menempatkan dua gelandang bertahan yang bermain amat defensif untuk meredam Evan Dimas dkk. Alhasil, timnas kesulitan menembus pertahanan kokoh yang terstruktur ala PSIS.

Untungnya, PSIS tidak memiliki counter attack berbahaya layaknya tim-tim yang jago memainkan pola bertahan. Gawang timnas pun relatif aman karenanya. Namun berbeda jika lawan yang dihadapi adalah tim nasional negara lain yang lebih kuat dan mapan.

Dari sini, sudah saatnya timnas U-19 mengagendakan uji coba menghadapi lawan yang lebih tangguh. Mereka sudah terbiasa bermain nyaman, bermain di depan publik yang mendukung mereka, dan bermain menghadapi ancaman steril. Dua pencapaian baik tahun lalu juga mereka dapatkan ketika bermain di depan publik sendiri.

Untungnya kali ini federasi lebih sehat. Setelah puas dengan uji coba di negeri sendiri, tim nasional akhirnya diagendakan untuk mengikuti L’Alcudia International Under-20 Football Tournamen yang akan digelar di L’Acudia, Valencia, Spanyol. Turnamen yang akan diselenggarakan bulan Agustus tahun ini tersebut bukanlah turnamen ecek-ecek.

8 negara dan dua klub dipastikan menjadi peserta. Seperti dikutip dari Kompas, peserta yang sudah dipastikan keikutsertaannya adalah timnas China dan Jepang U-20 bersama Indonesia U-19 sebagai wakil Asia. Sementara Chile dan AS U-20 hadir dari benua Amerika, dan wakil dari klub seperti Barcelona dan Valencia U-20.

Melihat lawan-lawan yang akan dihadapi, kualitas timnas U-19 mungkin yang paling lemah. Namun justru hal inilah yang diperlukan. Tim ini perlu kalah, sehingga mereka akan lebih banyak belajar untuk mengikuti turnamen sesungguhnya, yaitu Piala Asia U-19 di Myanmar, Oktober mendatang.

Jika harus menghadapi Barcelona U-20 atau Jepang U-20 yang memiliki ilmu ball possession lebih maju, timnas tentu akan dipaksa untuk memainkan gaya lain, cara lain dan taktik lain. Ini amat positif bagi perkembangan taktik dan penguatan mental bertanding, apalagi di Myanmar nanti mereka juga akan jauh dari pendukung fanatik.


Semoga saja turnamen uji coba ini benar-benar diikuti timnas U-19, tidak ada pembatalan mendadak seperti yang biasa terdengar selama ini.

Wednesday, February 12, 2014

Tim Nasional U-19 Menapaki Jalan Menuju Tim Nasional Terbaik

Menyaksikan laga tim nasional U-19 tidaklah seperti menyaksikan tim nasional Indonesia, begitulah ungkapan banyak orang. Tidak sekadar memberikan gelar Piala AFF U-19 dan melaju ke putaran final Piala Asia termasuk di dalamnya mengalahkan Korea Selatan, namun juga penyajian permainan cantik.

Permainan cantik, jika ingin dijabarkan secara spesifik, berarti memainkan sepak bola dengan benar dan mampu mengikuti perkembangan (taktik) zaman. Jika pada era 90an pola playmaker nomor 10 dan striker nomor 9 begitu meraja, kini perkembangan taktik membuat permainan sepak bola terlihat lebih kolektif, meski tidak sedikit yang menilainya lebih rumit.

Sepak bola sejatinya sejak dulu amat memperhatikan ruang dan jarak. “Sepak bola adalah seni memanfaatkan ruang.” Tegas penulis buku Inverting The Pyramids: The History of Football Tactics, Jonathan Wilson. Menurut sejarahnya pula, perumus ahli taktik pada awal peraturan sepak bola dirumuskan juga berasal dari Inggris. Ada yang mengatakan bahwa ahli taktik sepak bola juga menguasai ilmu pengetahuan lainnya seperti matematika dan arsitektur. Arsitektur? Iya benar. Memang masuk akal karena ilmu arsitektur juga mempelajari tentang ruang.

Jimmy Hogan adalah seorang pelatih kelahiran Inggris yang banyak menghabiskan hidupnya di Eropa Tengah. Ia tidak asing dengan budaya perbincangan sepak bola kafe ala Austria, dan ia juga berteman akrab dengan Hugo Meisl, pelatih legendaris yang menyutradarai kelahiran The Wunderteam Austria. Kombinasi Meisl bersama Hogan melahirkan tim yang amat cepat dalam memainkan bola, tidak banyak melakukan dribble percuma, juga tidak banyak melepas umpan panjang.

Hasil kerja dua orang inilah yang kemudian banyak menginspirasi pelatih-pelatih besar lainnya untuk melahirkan tim-tim terbaik. Il Grande Torino tahun 1940an, Hungaria tahun 1954, Brasil tahun 1962, Belanda tahun 1974, Ajax Amsterdam tahun 1970an, AC Milan tahun 80an, hingga Barcelona era kekinian adalah tim-tim yang dipandang terbaik dunia baik dari sisi permainan maupun pencapaian.

Kembali ke konteks tim nasional Indonesia U-19, memang terlalu naif jika hendak membandingkan tim ini dengan para tim terbaik. Namun setidaknya –dalam level yang berbeda- tim ini telah melakukan pendekatan permainan yang tepat untuk menjadi tim hebat –setidaknya tim nasional yang hebat untuk ukuran Indonesia- dan syukur-syukur menapak naik level Asia.

Salah satu panutan saya menulis sepak bola, Hedi Novianto telah dengan bernas mengupas ciri permainan tim nasional U-19 dalam esainya di situs Goal Indonesia. Ia menggambarkan pendekatan permainan anak asuh Indra Sjafri yang amat memperhatikan jarak antar pemain baik ketika menguasai bola maupun ketika bola dikuasai lawan.

Trio gelandang Hargianto-Zulfiandi-Evan Dimas disebutnya spesial karena kerap membentuk segitiga untuk menjaga jarak agar saat salah satu dari mereka menguasai bola, posisi tidak merenggang sehingga terhindar dari situasi harus mengumpan panjang.
Pemahaman taktik dan posisi sebetulnya hal lumrah ketika kita bermain bola. Seringkali pelatih kita berteriak “Deketin temennya! Jangan nunggu!” dengan maksud menginstruksikan pemainnya untuk menjaga zona permainan, mempertahankan bentuk formasi dan intensitas umpan pendek agar bola tidak mudah direbut lawan.

Serangan juga dibangun dari belakang. Ketika penjaga gawang menguasai bola, ia tidak langsung melepas tendangan gawang ke tengah, melainkan mengoper kepada bek terdekat. Di sinilah peran bek sebagai ball player mutlak diperlukan. Seorang bek handal memang tidak hanya dituntut untuk asal main gaprak, tapi juga harus bisa menjadi pengumpan yang baik dan tenang dalam menguasai bola. Apalagi dengan sistem zonal, garis pertahanan memang tinggi, tidak heran jika atribut pemahaman posisi mutlak diperlukan bagi tim U-19.

Tim  U-19 bagaimanapun belum teruji hingga level kontinental. Piala Asia Junior yang akan berlangsung akhir tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagaimana tim ini menghadapi lawan yang level permainannya setara, bahkan lebih baik. Tim nasional Korea Selatan U-19 yang dikalahkan tempo hari memang sedang mengalami penurunan kualitas, sehingga mengalahkan mereka bukanlah ukuran kekuatan yang pas.

Satu hal lagi, tim ini masih belum teruji pemain pelapisnya. Jika salah satu trio lini tengah absen (apalagi Evan Dimas), maka kualitas permainan tim nasional sudah pasti menurun drastis. Tim ini masih harus mencari plan b atau alternatif lain jika para pemain utamanya absen.


Selain itu, kompetisi junior yang belum memadai turut menjadi penghalang, meskipun pelatnas jangka panjang telah digelar. Menghadapi negara lain dengan kompetisi yang lebih rapi dan terstruktur, bukan tidak mungkin euforia yang telah terbentuk dan asa yang telah terlanjur tertanam akan hilang tanpa bekas di tanah Burma, dan lagu-lagu sumbang siap berkumandang. 

Monday, January 13, 2014

Pukulan Telak dari Emilia-Romagna

Domenico Berardi, 19 tahun dan berbakat. Foto: footballmanagerstory.com

Entah mengapa saya agak malas menulis soal AC Milan belakangan ini. Seolah seluruh artikel dan tulisan yang ada telah mewakili. Sudah terlalu obvious untuk dilakukan analisa, terlalu basi untuk didebatkan, dan terlalu satir untuk dibela.

Kedatangan Keisuke Honda dan Adil Rami –Rami telah berlatih bersama selama berbulan-bulan- seakan memberi harapan baru yang akan memperbaiki performa Rossoneri pada paruh kedua Seri A 2013/2014. Honda diharap memberi kualitas yang mereduksi mediokritas penciptaan peluang, sementara Rami diharap mampu menambal kebocoran lini belakang. Pada kenyataannya, Cristian Zapata yang terus dipasang meski pemain ini kerap salah posisi dan gegabah. Tolong dipahami bahwa performa Zapata di Milan berbeda dengan Zapata yang berbaju Udinese tiga-empat musim silam.

Debut Honda telah berlangsung kurang lebih setengah jam kala bersua Sassuolo. Ya, Sassuolo klub promosi yang performanya juga sama tidak konsistennya dengan Milan. Namun siapa sangka juara Seri B yang presidennya terang-terangan mengaku sebagai Milanista ini ini membuat debut Honda di Italia terasa hambar.

Honda masuk menggantikan Robinho, yang satu golnya di babak pertama menjadi pledoi bagi Allegri untuk mempertahankannya meski dalam 20 menit babak kedua ia sudah terlihat clueless. Saat akhirnya Honda masuk, permainan Milan berubah cukup drastis dengan tambahan kelas yang dibawa oleh sang playmaker Jepang.

Berbagai kans bagus tercipta, lebih-lebih setelah ditarik keluarnya pencetak poker, Domenico Berardi. Jangan sampai ketinggalan informasi, Berardi yang dimiliki setengah-setengah oleh Sassuolo dan Juventus ini baru berusia 19 tahun dan telah mencetak 11 gol di Seri A musim ini, termasuk sebuah hattrick kala jumpa Sampdoria pada giornata 12 dan sebuah gol yang menahan imbang AS Roma di Olimpico sepekan berselang.

Ditarik keluarnya prontagonis lawan setelah mereka unggul ini mengingatkan saya pada cerita laga lawan Torino dan Livorno beberapa bulan silam. Kala itu, Alessio Cerci dan Luca Siligardi ditarik keluar setelah tim mereka unggul. Akibatnya, Milan berhasil mengunci laga dan gol tercipta tinggal menunggu waktu. Khas Allegri.

Laga yang berlangsung di region Emilio-Romagna ini akhirnya berakhir dengan kemenangan 4-3 untuk tuan rumah. Tiang gawang juga turut memusuhi Milan, termasuk Honda dan Pazzini. Upaya yang dilancarkan baik terencana maupun sporadis hanya mampu menambah sebuah gol di babak kedua. Mereka tidak mampu mengejar gol demi gol yang dicetak Berardi, pemain kidal yang entah kebetulan atau tidak memiliki karakteristik spesial untuk meluluhlantakkan pertahanan Milan seperti yang dilakukan oleh Cerci, Siligardi, dan juga Leo Messi di kancah UCL.

Setidaknya saya memperhatikan satu hal bahwa pertahanan Milan memang sangat lemah menghadapi pemain menyerang kidal yang kerap bermain melebar, baik sebagai inverted winger maupun secunda punta (second striker). Urby Emanuelson yang kerap dipasang sebagai bek kiri memang tidak memiliki kapasitas mumpuni untuk bertahan dengan kuat. Dan pelatih Eusebio Di Francesco tahu betul bahwa kualitas finishing yang dimiliki Berardi lebih dari cukup untuk memanfaatkan celah di antara Emanuelson dan bek tengah kiri, yang saat itu diisi Daniele Bonera.

Sekadar saran, mungkin Allegri dapat mencoba menempatkan pemain berkaki natural kanan jika menghadapi lawan yang memiliki pemain bertipe ini. Sebagaimana diketahui, menempatkan seorang bek kiri yang tidak kidal cukup efektif untuk meredam seorang inverted winger.

Sudah bukan hal aneh, bukan jika dalam laga-laga memimpin Milan, Allegri selalu berhasil menampilkan drama hingga laga usai. Dan skenario roller-coaster sebagai kompensasi buruknya pertahanan memang terjadi. Menunjukkan sebuah tim yang immature. Serangkaian peluang tercipta, bahkan banyak di antaranya berkategori peluang emas. Namun publik Alberto Braglia -yang merupakan kandang asli Modena, digunakan Sassuolo karena stadion Enzo Ricci tidak memenuhi syarat- urung melihat comeback  dramatis Milan dalam laga terakhir putaran pertama Seri A ini.

Sepertinya memang harus berkata arrivederci kepada kompetisi UCL musim depan, dan harapkan partisipasi Eropa lewat jalur Coppa Italia, kejuaraan yang ironisnya sudah 11 tahun tidak dimenangi Rossoneri.

Wednesday, January 8, 2014

Cerita Diskon Jersey

Photo: Personal

Dalam mendukung klub favorit, saya bukanlah orang yang militan. Saya memilih untuk membela tim dalam diam. Saya juga memilih untuk tidak bergabung dengan perkumpulan fans club karena alasan yang tidak akan saya share di tulisan ini.

Ada hal baru yang terjadi tahun lalu, yaitu mulainya saya ikut-ikutan mengoleksi jersey. Tidak perlu saya sebutkan apakah jersey original atau jersey KW, karena memang tulisan ini tidak bertujuan mendebatkan soal itu. Kegiatan mengoleksi jersey tentu saja semakin mengikat diri kita kepada 'perusahaan' bernama klub sepak bola. Klub-klub sepak bola memang dengan cerdik memanfaatkan fanatisme pendukung untuk terus menjual merchandising, yang tentunya akan dibeli oleh para fans tersebut berapapun harganya. Alasan kecintaan buta pada klub telah benar-benar membutakan.

Sikap tidak militan pada klub favorit itu ternyata terbawa dalam cara mengoleksi jersey. Dalam mengoleksi 'kain laknat', saya tidak terfokus mengoleksi jersey klub favorit, melainkan lebih tertarik mengoleksi jersey yang relatif jarang dikoleksi orang.

Tanpa bermaksud menjadi hipster atau eksklusif, entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat memiliki jersey klub seperti St. Pauli atau Spartak Moscow. Seperti ada kemenangan kecil saat berpapasan dengan seseorang yang memakai jersey klub mainstream, dan orang itu seperti mengernyitkan dahi menerka-nerka jersey apa yang saya sedang pakai.

Maka perasaan saya bercampur aduk antara senang dan sebal ketika terjadi diskon besar-besaran akhir tahun lalu terhadap jersey buatan sebuah brand besar. Jersey yang agak langka di Indonesia seperti Wolfsburg, Benfica, Bayer Leverkusen, Olympique Marseille, hingga tim-tim nasional seperti Ukraina, Rusia, Denmark dan Yunani pun didiskon dengan harga yang sangat gila, meskipun mereka yang berkecimpung di industri perlengkapan olahraga sudah pasti tahu bahwa menjual dengan harga tersebut pun perusahaan masih meraup untung. Momen ini tentu saja turut memukul pedagang jersey KW.

Saya memang ikut arus pemborongan, meskipun tidak terlalu membabi buta. Jersey Ukraina dan Rusia baik home maupun away tentu menjadi sasaran utama mengingat cinta buta saya pada dua negara itu.

Untuk saat ini, entah sampai kapan, saya tidak akan sering mengenakan hasil buruan tersebut. Dengan adanya diskon besar-besaran, sudah pasti akan banyak orang yang tiba-tiba memakai jersey Rusia atau Ukraina di mall atau tempat umum lain. Perasaan saya jika bertemu orang yang mengenakan jersey unik identik akan sama seperti seorang perempuan yang gaun andalannya disamai perempuan lain saat berada di sebuah acara. Untuk itu, saat ini saya masih akan jarang mengenakan jersey hasil buruan tadi.

Sunday, December 8, 2013

Calon Jagoan Rusia Baru Bernama Arsenal Tula

Sepak bola Rusia dalam beberapa tahun terus berkembang pesat. Keterlibatan para oligarki lokal yang banyak membiayai klub-klub sepak bola menjadi salah satu alasan untuk setidaknya memperkenalkan daerah mereka kepada kalangan luas melalui sepak bola, di luar dampak-dampak negatif yang mereka tinggalkan.

Penyelenggaraan Piala Dunia yang akan berlangsung tahun 2018 di negeri ini juga memberi angin segar dalam hal peningkatan kualitas infrastruktur. Belum lagi melihat kiprah pengelola liga mereka yang terus memperjuangkan penyatuan liga Rusia dengan Ukraina demi meningkatkan popularitas.

Semua hal di atas mencerminkan sepak bola yang tengah berkembang. Momentum positif ini juga ditandai dengan kemunculan berbagai klub antah berantah yang tiba-tiba mencuat ke permukaan, sebut saja Zenit St. Petersburg, Anzhi Makhachkala dan Terek Grozny yang kini mapan di Russian Premier League, liga sepak bola tertinggi Rusia.

Baik Zenit, Anzhi maupun Terek didanai oleh para miliuner yang juga pengusaha lokal. Dengan modal pendanaan tersebut, pemain-pemain hebat bereputasi internasional mampu mereka datangkan. Maka tidak heran jika prestasi cepat diraih dan mereka dengan cepat menyejajarkan diri dengan klub-klub Moskow yang memiliki tradisi lebih kuat.

Namun dalam waktu yang dirasa tidak akan terlalu lama lagi, kita dapat melihat sebuah klub yang akan turut meramaikan sepak bola level tertinggi Rusia, yaitu FC Arsenal Tula.

Arsenal Tula tidak ada hubungannya dengan The Gunners Arsenal FC yang bermarkas di London, Inggris ataupun Arsenal de Sarandi yang berbasis di Buenos Aires, Argentina. Arsenal Tula berasal dari Tula, kota kecil berpenduduk 500 ribu jiwa yang berjarak 193 kilometer di sebelah selatan Moskow. Sepanjang sejarahnya, klub yang telah berdiri sejak tahun 1946 dengan nama FC Zenit Tula ini telah sering berganti nama, yaitu sebanyak 8 kali. Mereka juga belum pernah mengecap pengalaman berkompetisi liga teratas Rusia hingga kini.

Tahun 2011 lalu, mereka masih bermain di kompetisi Liga Amatir, atau terendah dalam piramida kompetisi sepak bola Rusia. Prestasi klub ini mulai mencuat sejak ditangani oleh pelatih yang juga mantan pemain top Rusia, Dmitri Alenichev pada tahun yang sama.

Reputasi karir bermain Alenichev tidaklah main-main. Hingga kini, ia masih menjadi satu-satunya pemain Rusia yang pernah mengangkat trofi Liga Champions. Saat itu, ia menjadi bagian dari tim FC Porto yang memenangi Liga Champions tahun 2004 di bawah asuhan Jose Mourinho. Alenichev juga menjadi satu dari tiga pemain selain Ronald Koeman dan Ronaldo Luiz Nazario yang mencetak gol dalam dua laga final antar klub Eropa secara beruntun. Sebelum mencetak gol pada final Liga Champions tahun 2004 ke gawang AS Monaco tersebut, ia juga membobol gawang Glasgow Celtic dalam final Piala UEFA tahun 2003. Dua gol tersebut berkontribusi pada kejayaan Porto di Eropa.

Karir Alenichev sebagai pelatih ia mulai tahun 2010 saat menangani tim nasional Rusia U18. Selepas pensiun sebagai pemain tahun 2006, Alenichev memang tidak langsung menjadi pelatih, melainkan terlebih dahulu menjadi politisi. Namun ia tidak mampu menampik romansa ketegangan di lapangan hijau setelah tim nasional U18 mengontaknya.

Arsenal Tula beruntung dilatih oleh seorang mantan pemain yang pernah mengecap ilmu dari pelatih-pelatih hebat macam Oleg Romantsev, Fabio Capello dan Jose Mourinho. Dengan pengalamannya tersebut, Alenichev membuat klub semenjana dari kota kecil bertransformasi menjadi klub dengan mental juara dan permainan atraktif. Alenichev menyukai permainan menyerang dari naluri yang didapatnya semasa bermain, juga ditularkan oleh Oleg Romantsev yang menjadi pelatihnya di Spartak Moskow.

Alenichev hanya butuh setahun untuk mengangkat prestasi Arsenal Tula dari Liga Amatir ke Professional Football League (setara Divisi Dua). Dan hebatnya lagi, Arsenal Tula kemudian dibawanya promosi ke Rusian Football National League, atau satu divisi saja di bawah kasta sepak bola tertinggi, Russian Premier League. Ia selalu membawa klubnya promosi setiap tahun.

Yang cukup menarik, pada awal petualangannya di Arsenal Tula, Alenichev sempat menggunakan pengaruhnya sebagai mantan pesepakbola top untuk menarik beberapa rekannya semasa bermain. Pesepakbola seperti Yegor Titov, Vladimir Beschasthnykh, Yuri Kovtun, Dmytro Parfenov dan Dmitri Khlestov adalah mantan pemain nasional Rusia maupun Ukraina era 90an akhir hingga 2000an awal yang diajak Alenichev untuk bermain di Arsenal Tula selama semusim, padahal pemain-pemain ini sebelumnya sudah menyatakan pensiun dari sepak bola. Keberadaan para veteran ini ternyata mampu meningkatkan motivasi dari skuat secara keseluruhan, meski hanya setahun berselang mereka kembali pensiun.

Hingga pekan ke 24 Rusian National League, Arsenal Tula menduduki posisi ke-4 yang berarti zona play-off promosi ke Russian Premier League. Mereka hanya berselisih 6 angka dari Alaniya Vladikavkaz yang berada di posisi kedua, tempat idaman yang akan membawa mereka promosi secara otomatis. Penyerang mereka Aleksandr Kutyn juga menduduki posisi teratas sebagai pencetak gol terbanyak.

Transformasi kilat dalam waktu 3 tahun dari klub amatir menjadi klub yang bertarung memperebutkan tiket promosi ke kasta tertinggi bukanlah prestasi sembarangan. Alenichev jelas menjadi sosok yang paling menentukan di balik semua ini. Berbekal filosofi melatih dan pengalamannya sebagai pemain, ia sukses membawa tim tanpa anggaran belanja besar ini ke level yang jauh dari perkiraan mereka sebelumnya.

Tuesday, November 19, 2013

Steaua Bucuresti, Juara Eropa Pertama Dari Blok Timur

Steaua Bucuresti, atau dikenal dengan nama Steaua Bucharest dalam lafal Inggris adalah klub yang mencuri perhatian dunia pada dekade 1980an. Mereka adalah klub blok timur pertama yang memenangi European Cup (kini Liga Champions) sekaligus mengukir rekor tak terkalahkan dalam 104 pertandingan. Segala prestasi itu bagaimanapun tidak lepas dari kontroversi demi kontroversi.

Valentin Ceaucescu, Anak Penguasa Yang Gemar Sepak Bola
Perawakan tinggi besar dan kepala plontos. Pelatih ini mungkin membuat anak asuhannya takut. Catatan bermainnya juga tidak sembarangan. Gavrilia Balint semasa bermain adalah penyerang dari klub yang lekat dengan militer Rumania, Steaua Bucuresti di era 1980an. Karir Balint mungkin tidak seimpresif kompatriotnya Florin Raducoiu apalagi Gheorghe Hagi.

Namun ada dua hal luar biasa yang ia pernah lakukan dalam karirnya. Pertama adalah tendangan penalti yang menentukan ke gawang Barcelona. Kedua adalah sebuah sundulan yang dilepaskannya ke gawang rival, Dinamo Bucuresti dalam sebuah partai final Piala Rumania tahun 1988 yang menjadi puncak dari gunung es penyakit persepak bolaan negeri ini.

Derby Steaua melawan Dinamo juga dikenal dengan The Eternal Derby. Segera setelah gol tersebut, hakim garis mengangkat bendera tanda Balint berada pada posisi offside. Jika gol di menit-menit akhir tersebut bersih, maka Steaua akan dengan bangga menggenggam gelar juara, namun pesta tersebut harus ditunda.

Pemandangan ini tidak mengesankan sekelompok orang yang duduk di boks VVIP. Anda tidak akan terkejut membaca nama keluarga orang ini: Ceaucescu.

Seorang pria bernama Valentin Ceaucescu, tanpa basa-basi memberi isyarat kepada para pemainnya untuk meninggalkan lapangan. Sebagai manager klub sekaligus anak dari Nicolae Ceaucescu, sang penguasa Rumania, Valentin tentu ingin melihat klubnya juara. Terlebih, pertandingan disaksikan sang ayah, yang jelas-jelas kurang memberikan support kepadanya untuk menjadi seorang manajer klub.

Kontan seluruh anggota tim Steaua meninggalkan lapangan. Mircea Lucescu, pelatih Dinamo saat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil mencoba mempengaruhi pemain-pemain Steaua. “Ayolah, kalian ‘kan profesional,” ujarnya. Namun hal itu tidak digubris para pemain klub berjuluk Militarii, klub yang menjadi perpanjangan tangan militer Rumania ini.

Tiga puluh menit telah berlalu, pemain Steaua masih tidak mau melanjutkan pertandingan. Wasit akhirnya memutuskan untuk menghentikan pertandingan lalu menobatkan Dinamo Bucuresti sebagai pemenang. Namun beredar cerita bahwa beberapa hari kemudian, piala diberikan kepada Steaua atas titah pemerintah.

Dinamo, yang sebenarnya juga didukung oleh satuan polisi rahasia di bawah Departemen Dalam Negeri, telah menguasai liga Rumania di era 1970an. Dari perspektif raihan gelar juara, dua klub ibukota ini adalah yang tersukses di Rumania. Dinamo meraih 18 gelar, sementara Steaua 23. Kedua klub juga sama-sama tidak pernah terdegradasi dari kompetisi tertinggi negeri ini.

Valentin, sebagai penggemar sepak bola tulen, merasa bahwa ia menyelamatkan sepak bola Rumania dari permainan kotor para elit yang berada dibalik Dinamo. Sebelum Valentin terjun langsung memanajeri Steaua, Dinamo mengukir kesuksesan meski apa yang mereka gapai juga tidak lepas dari kontroversi.

Mereka memang menjadi klub Rumania pertama yang melaju hingga babak semifinal European Cup tahun 1984, namun kesuksesan mereka kala itu juga tidak lepas dari bantuan polisi rahasia. Sebelum pertandingan The Eternal Derby berlangsung, para polisi rahasia sering meneror pemain-pemain Steaua. Kapten Tudor Stoica misalnya, diteror keluarganya yang berada di Craiova. Geram melihat situasi demikian pada klub favoritnya, Valentin datang untuk menyeimbangkan kekuatan.

Bagaimanapun, Jonathan Wilson dalam bukunya yang berjudul “Behind The Curtain” menceritakan versi lain dari skandal tahun 1988 ini. Dikisahkan bahwa Valentin tidak menyuruh pemain-pemainnya untuk melakukan aksi walk out, namun hal itu adalah instruksi sang pelatih. Dan ketika Valentin hendak menyelamati tim Dinamo di ruang ganti mereka, ofisial tim Dinamo lah yang memberikan piala tersebut kepadanya.

Entah mana yang benar, dalam pemerintahan seperti itu, segala cerita memang simpang siur.

Valentin adalah seorang penggemar sepak bola, berbeda dengan saudara mudanya, Nicu. Valentin tidak mau mengikuti langkah ayahnya di bidang politik. Minatnya pada sepak bola dan ilmu pengetahuan fisika nuklir membuatnya menolak dijadikan sebagai “putra mahkota”. Akhirnya sang ayah menyiapkan Nicu sebagai penerusnya kelak, bukan Valentin.

Ditangan Valentin, Steaua mampu mendatangkan pemain manapun dari seluruh penjuru negeri untuk bermain di klubnya. Jika ia melihat potensi pada salah seorang pemain lawan, maka hampir bisa dipastikan bahwa sang pemain tidak lama kemudian akan berganti kostum ke merah-biru.

Paling terkenal adalah Georghe Hagi. Pemain terbaik sepanjang sejarah Rumania ini sempat “dipinjam” Steaua dari klub Sportul Studentesc hanya untuk satu partai saja pada tajuk Piala Super Eropa tahun 1987 melawan Dynamo Kiev. Maradona dari Carpathian kemudian mencetak gol tunggal kemenangan Steaua. Setelah pertandingan itu, Steaua menolak mengembalikan Hagi kepada Sportul. Hagi kemudian menjadi salah satu legenda klub dengan mencetak 76 gol dari 97 pertandingan.

Hasil fantastis kemudian diraih setelah kedatangan Valentin. Dengan perannya sebagai mastermind, Steaua mengukir rekor tak terkalahkan dalam 104 pertandingan selama kurun waktu Juni 1986 hingga September 1989. Sebuah rekor dunia saat itu, dan hingga kini masih bertahan sebagai rekor Eropa. Rumor berkembang dengan kencang bahwa selain kehebatan materi pemain, adanya permainan dengan ofisial pertandingan juga berperan penting dalam rekor yang membawa kejayaan ini.

Sosok Valentin sendiri sangat dekat dengan pemain Steaua. Marius Lacatus, striker Steaua pernah mengajak Valentin menginap di apartemennya ketika revolusi yang menewaskan kedua orang tua Valentin pecah tahun 1989. “Bagi kami (pemain Steaua), Valentin adalah teman yang baik, ia bukanlah bos,” papar Lacatus soal kedekatan Valentin dengan pemain-pemain Steaua.

Meski kehebatan Steaua tidak lepas dari politik, tidak bisa dipungkiri bahwa pada era tersebut Steaua mencetak tim terbaik sepanjang sejarah mereka. Steaua mampu menjadi tim blok timur pertama yang memenangi Piala Champions tahun 1986. Ya, mereka menjawab prestasi semifinal Dinamo tiga tahun sebelumnya dengan gelar juara. Hasil ini mereka dapatkan dengan mengalahkan Barcelona dalam sebuah partai final tak terlupakan di Stadion Ramos Sanchez Pizjuan, Sevilla, lewat drama adu penalti.

Hilangnya Sang Raja Penalti Secara Misterius
Dalam drama tersebut, kiper Helmut Duckadam mampu menyelamatkan 4 penalti secara beruntun, sebuah rekor yang bertahan hingga 2 dekade lebih. Sebelum akhirnya penjaga gawang Sligo Rovers, Ciaran Kelly mengikuti prestasinya tersebut dalam final Ford FAI Cup melawan Shamrock Rovers tahun 2010 lalu.

Adu penalti Steaua melawan Barca tersebut dapat disebut adu penalti paling unik. Mihai Majearu, penendang utama Steaua maju sebagai algojo pertama hanya untuk melihat kiper Javier Urruti memblok tendangannya. Duckadam kemudian membalas dengan penyelamatannya atas tendangan Jose Alexanco. Penalti kedua oleh Boloni kembali diblok Urruti, meninggalkan tekanan pada Duckadam. “Setelah tendangan Boloni, pertarungan psikologis datang. Saya harus menahan tendangan Angel Pedraza.” Ujar Duckadam. “Saya yakin Pedraza akan menendang ke sisi yang sama dengan Alexanco, dan ternyata saya menebak dengan benar.” Empat penalti pertama digagalkan kiper.

Tendangan ketiga diambil oleh penyerang andalan, Marius Lacatus. Dengan tenaga yang cukup, ia menendang hingga membentur mistar gawang sebelum masuk. Duckadam melanjutkan perannya. Ia kembali bergerak kearah yang sama, yaitu sisi kanannya saat Pichi Alonso mengambil tendangan ketiga. Gavrilia Balint kemudian menjadikan skor 2-0 untuk Steaua, membalikkan tekanan pada kubu Barcelona, karena Marcos harus mencetak gol. Duckadam kemudian bergerak kearah sebaliknya, yaitu arah kirinya. Ia menebak dengan benar dan Steaua juara.

Setelah laga ini, kontroversi kembali terjadi. Duckadam yang kemudian didaulat sebagai pahlawan dan reputasinya saat itu menyamai atlet senam Nadia Comenadici tiba-tiba menghilang setelah partai final. Penguasa mengatakan bahwa ia ditembak oleh anak buah Ceaucescu, sebagian mengatakan bahwa tangannya dipotong. Kubu militer cemburu pada kesuksesan yang ia dapat, melebihi ketenaran dari penguasa.

Duckadam kemudian “muncul” kembali lima tahun berselang (setelah revolusi saat Ceaucescu sudah dieksekusi) dengan tangan yang sudah sehat. Meski tidak pernah ingin membahas kejadian buruk ini, namun diyakini bahwa Duckadam memang dilukai tangannya oleh anak buah Ceaucescu, sehingga penyembuhannya memakan waktu selama itu.

Pemain-pemain Steaua memiliki televisi, video dan kehidupan mewah dalam bayaran mahal yang mereka terima. Sebuah hal ironis karena selama pemerintahan Ceaucescu tersebut rakyat Rumania hidup dalam garis kemiskinan. Ceaucescu terjebak pada utang negara yang besar. Demi membayar utang, Ceaucescu membatasi jumlah dan kualitas makanan, listrik dan air. Ia juga hanya menyiarkan televisi 2 jam sehari, itupun dari satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah yang ada. Tipikal kekuasaan totaliter.

Kemunduran
Seperti sempat disinggung, meski tim ini lekat dengan kontroversi, tidak diragukan lagi, Steaua  era ini adalah tim terbaik sepanjang sejarah mereka. Mereka dihuni oleh pemain-pemain bagus. Miodrag Belodedici adalah libero elegan yang juga pemain pertama yang merebut Piala Champions di lebih dari satu klub. Selain di Steaua, Belodedici juga meraih gelar ini di klub negara nenek moyangnya, Red Star Belgrade tahun 1991. Laszlo Boloni adalah pengatur permainan handal dari Hongaria, sementara lini depan diisi duet maut Marius Lacatus dan Victor Piturca.

Kesuksesan Steaua tidak hanya setahun, menunjukkan mereka bukanlah tim “one hit wonder”. Mereka kemudian melaju hingga semifinal European Cup tahun 1988, dan final tahun 1989 menghadapi the dream team AC Milan. Di final tersebut, mereka secara tragis menyerah 0-4 dari tim yang dihuni duet Ruud Gullit dan Marco Van Basten. Dua pemain Belanda itu mencetak masing-masing dua gol untuk Rossoneri.

Kekalahan atas Milan tersebut sekaligus mengakhiri kejayaan Steaua hingga kini. Di tahun yang sama dengan laga itu, revolusi kemudian pecah pada bulan Desember. Revolusi menggiring Nicolae Ceaucescu dan istrinya, Elena ke tiang eksekusi. Ketiga anak mereka, Valentin, Zoia dan Nicu tidak ikut dieksekusi. Hukuman mati ini sekaligus mengakhiri tirani mereka selama 22 tahun sekaligus memasuki era baru yang menandai masuknya kapitalisme.

Seperti yang sudah-sudah, kapitalisme kemudian melucuti kekuatan tim ini. Meski sempat merebut 3 gelar liga domestik, mereka tidak dapat mengelak dari gravitasi baru berbentuk uang. Ya, uang juga yang akhirnya membawa Georghe Hagi dan kawan-kawan meninggalkan negeri untuk kemudian terbang ke arah barat untuk bermain di kompetisi kapitalis yang lebih menjanjikan (saat itu).

Wednesday, October 30, 2013

Selamat Ulang Tahun, Anak Emas

Diego Armando Maradona. Sebagian kecil penduduk bumi menyebutnya “Tuhan”. Memang bukan sembarang sebutan, karena Gereja Maradona memang benar-benar ada di Argentina, dikenal dengan nama Iglesia Maradona. Kitab sucinya adalah buku Biografi Maradona, dan hari natal mereka peringati setiap tanggal 30 Oktober (tepatnya hari ini) yang merupakan hari lahir Maradona. Belum lagi menyebut berapa ratus (mungkin ribu) penduduk Naples yang menamai anaknya dengan nama depan Diego. Namun saya tidak ingin membuat polemik dengan ikut-ikutan menyebutnya Tuhan. Cukup anak emas saja.

Tidak perlu menjadi seorang penggemar sepak bola sungguhan untuk mengakui bahwa Maradona adalah seniman sejati sepak bola. Siapapun yang pernah menyaksikan golnya ke gawang Inggris pada babak perempat final Piala Dunia 1986, baik langsung maupun lewat youtube tentu akan mengakui bahwa pemain yang mampu melewati  7 orang pemain dari jarak 55 meter dalam waktu 12 detik saja bukanlah seorang pemain sembarangan.

Bakat tersebut memang sepertinya hanya diberikan Tuhan kepada sejumlah kecil manusia. Bagaimana seorang pemain mampu mengontrol bola dengan lengketnya, dengan gerakan yang lincah seperti penari, namun juga sangat cepat. Okelah gol-gol tersebut pernah ada yang menirunya, contohnya Saed Al-Owairan di Piala Dunia 1994, George Weah tahun 1996, juga penerusnya bernama Lionel Messi tahun 2008. Namun tetaplah gol Maradona lebih tinggi nilainya karena terjadi di sebuah babak menentukan Piala Dunia.

Maradona merayakan gol tersebut bersama jutaan rakyat Argentina, yang memang pada tahun yang sama harus merelakan Kepulauan Malvinas kepada pihak Inggris (kemudian berganti nama menjadi Kepulauan Falkland). “Mereka memang bangsa yang suka berperang, sementara bangsa kami biasa berdansa, makan dan minum-minum.” Begitulah ungkapan hati rakyat Argentina mengenai kekalahan perang mereka dari Inggris, seraya menyebut bangsa itu sebagai pencuri.

Aksi Maradona di lapangan tersebut seolah menjadi obat pelipur lara bagi rakyat Argentina. Bukan hanya karena Argentina akhirnya memenangi laga (dan akhirnya memenangi Piala Dunia), namun beberapa menit sebelumnya Maradona juga mencetak gol yang tidak kalah “sakral”nya dalam dunia sepak bola, apa lagi jika bukan gol “tangan Tuhan” itu.

Nyatanya, kisah Maradona memang jauh dari kesempurnaan milik Tuhan. Selain aksi mendorong bola dengan tangan tadi, puluhan tingkah kontroversial Maradona di luar lapangan makin menggambarkan betapa sosok Maradona jauh dari ketuhanan. Ingat saat ia turut mendukung komersialisasi sepak bola dengan hendak datang ke Indonesia untuk memberikan seminar dan coaching clinic dengan tiket jutaan rupiah? Itu adalah tindakan yang bertolak belakang dari seseorang yang memiliki tato bergambar Che Guevara dan Fidel Castro di tubuhnya.

Namun memang sulit untuk tidak menyebut Maradona jika ditanya siapakah 3 pemain sepak bola terbaik sepanjang masa. Saya punya versi sendiri soal ini selain Maradona, yaitu Pele, dan Johan Cruyff. Kesamaan dari ketiganya adalah vitalnya peran mereka di lapangan. “Mereka adalah strategi dari tim masing-masing” begitulah ucapan dari seorang pengamat sepak bola yang saya kenal. Dengan kata lain, Maradona, sama seperti Pele dan Cruyff adalah roh permainan.

Pele dan Cruyff memimpin tim yang dianggap terbaik sepanjang masa, yaitu tim nasional Brasil 1970 dan Belanda 1974. Namun meski tim nasional Argentina 1986 bukan termasuk jajaran tim terbaik, keberadaan Maradona seorang adalah pembedanya. Maradona mengangkat tinggi-tinggi level permainan Argentina tahun 1986.

Jalan hidup Maradona mungkin tidak “selurus” Pele dan Cruyff. Namun Maradona memperlihatkan sisi manusiawi sebagai makhluk lemah dan kerap berbuat salah. Pengakuannya ketika ditanya gol “tangan Tuhan” pun tidak kalah nyelenehnya. “We've robbed them. But whoever robs a thief gets a 100-year pardon.”

Apapun itu, selamat ulang tahun ke-53, Diego!

Sunday, October 27, 2013

So You Think You Know Neymar

Internazionale Milan boleh meraih gelar treble winners tahun 2010 lalu, namun yang mereka hadapi setelah itu adalah kepergian Jose Mourinho, yang kemudian menjadi awal kemunduran mereka hingga kini. Barcelona juga meraih treble winners setahun sebelum Inter, namun hingga kini prestasi Barcelona masih stabil (jika ukurannya adalah gelar-gelar La Liga yang masih mereka dapatkan dan pencapaian minimal semifinal Liga Champions sejak 2009 tersebut).

Barcelona yang kini kita saksikan bukanlah tim asal jadi. Adalah Johan Cruyff, mantan pemain dan pelatih mereka yang mengusulkan pembangunan akademi La Masia tahun 1976 kepada Josep Luis Nunez, presiden Barca saat itu. Ia belajar dari keberhasilan Ajax Amsterdam yang mampu meraih tiga gelar beruntun Piala Eropa (sekarang Liga Champions) tahun 1971 hingga 1973 lewat penampilan memukau talenta-talenda dari akademi sendiri. Seperti kita tahu, talenta-talenta tersebut juga menghasilkan salah satu tim terbaik dunia sepanjang masa yang tanpa mahkota, yaitu tim nasional Belanda tahun 1974.

Cruyff mendapatkan keinginannya dari Nunez tahun 1979, dimana ia kelak menuai hasil yang ia tanam lewat pemain-pemain macam Pep Guardiola dan Guilermo Amor yang ia tangani awal tahun 90an. Selanjutnya, La Masia menelurkan generasi Xavi Hernandez, Carles Puyol, Victor Valdes, Andres Iniesta hingga Lionel Messi dan kawan-kawan yang biasa kita saksikan kini.

Maka tidaklah mengherankan saat semalam Barcelona mampu mengalahkan Real Madrid yang dihuni pemain berharga ratusan juta euro. Terlepas dari kontroversi yang memang suka atau tidak menjadi bagian dari permainan sepak bola, Barca memang lebih superior. Pelatih Tata Martino mengusung pola 4-3-3 seperti biasa, juga pemain yang biasa ia turunkan, dengan preferensi menaruh Cesc Fabregas sebagai false nine dan menempatkan Leo Messi di sayap kanan. Taktik yang biasa digunakan Barca kala menghadapi lawan kuat yang pertahanannya rapat.

Tata Martino belajar banyak dari keberhasilan tim nasional Brasil pada Piala Konfederasi beberapa bulan lalu. Alih-alih menjadikan Messi sebagai sentral permainan, ia justru lebih mengandalkan Neymar. Hal ini terlihat dari banyaknya aliran bola mereka di daerah final third yang ditujukan kepada pemuda yang oleh pengamat dinilai overrated itu. Situs Whoscored memperlihatkan bahwa 36% dari serangan Blaugrana berada pada sisi kiri dimana Neymar bermain.

Nyatanya, Neymar sudah berkali-kali membuktikan bahwa ia bukanlah pesepakbola yang hanya hebat di Youtube dan memiliki yacht seharga 30 juta dollar serta mansion senilai 15 juta dollar. Lebih dari itu, Neymar adalah seorang pesepakbola cerdas dengan pemahaman taktik yang tinggi.

Keputusannya pindah ke Barca awal musim sempat mengundang keraguan karena Neymar lebih menonjol sebagai pemain yang sering “bermain sendiri” sementara Barcelona adalah tim yang dapat menghasilkan ratusan passing per laga. Pindahnya Neymar ke Eropa juga dinilai terlalu cepat, apalagi Piala Dunia di rumah sendiri sudah di depan mata.

Namun dari sepertiga musim yang telah dilalui, Neymar telah menunjukkan bahwa ia adalah seorang team player, menyamai reputasinya sebagai pesepakbola Youtube yang sering dinilai dangkal oleh para penggemar awam. Gol pertama yang ia ciptakan tepat saat bendera Catalonia berkibar dan teriakan “Independence” bergemuruh di tribun ultras adalah buah dari pergerakan yang cerdik dan eksekusi dengan presisi tinggi.

Carlo Ancelotti bukannya tinggal diam. Sebagai pelatih yang telah memenangi dua gelar Liga Champions dan memenangi gelar juara liga di tiga kompetisi berbeda (Italia, Inggris dan Prancis), Carletto jelas lebih dari berpengalaman, ia adalah Guru. Ancelotti menurunkan Dani Carvajal alih-alih Alvaro Arbeloa yang tampangnya mirip bintang film porno itu. Ancelotti belajar dari final Piala Konfederasi saat Arbeloa berkali-kali dikadali oleh Neymar.

Kedatangan Neymar juga dapat dilihat sebagai bukti tajamnya visi petinggi Blaugrana. Meski memiliki akademi terbaik dunia, mereka masih membutuhkan pemain dengan kemampuan seperti Neymar agar permainan mereka tidak terlalu text-book. Namun Barca juga tidak pernah sembarangan mengambil talenta. Jika mereka mengincar seorang pemain dari luar klub, pastilah pemain tersebut memang benar-benar memenuhi standar tinggi yang mereka miliki. Neymar, setidaknya telah mampu membuktikan diri bahwa ia memiliki standar tersebut.

Keberadaan Neymar nyatanya memberi alternatif dan kesegaran pada permainan Barca yang terlalu Messi-sentris. 6 assist dan rataan 2 key-passes per laga yang telah ia sumbangkan dan rambut ayam yang telah ia cukur juga membuktikan bahwa Barcelona telah menjadi rumah yang baik untuknya, bukan hanya makin mengembangkannya secara taktikal, namun juga membuatnya lebih rendah hati. Hal yang tidak mudah mengingat saat bermain di Santos, ia telah mencetak lebih dari 200 gol. Puja-puji juga ia dapatkan, dan ia tidak pernah salah. Neymar disebut nekat dengan pindah ke Barcelona untuk berbagi tempat dengan Messi, bintang yang telah menjadi ikon kota.


Kompetisi memang masih berada pada fase awal. Madrid juga masih memiliki banyak amunisi untuk terus membuat hidup Barca susah hingga akhir kompetisi nanti, belum lagi ancaman yang datang dari The Wonder Team Atletico. Tapi dalam kasus Neymar, setidaknya ia telah membuktikan bahwa ia bukanlah pemain yang overrated, melainkan wrongly-rated.

Sunday, October 20, 2013

Saat Gol Hantu Memanusiakan Sepak Bola

Anda yang memiliki rejeki bagus dan juga kesempatan yang memadai tentu akan senang mengunjungi benua Eropa, benua berupa daratan luas dengan batas-batas negara yang tegas. Benua asal para penakluk yang jika digabungkan luasnya, akan berukuran tidak jauh berbeda dengan luas wilayah Indonesia.

Berbicara Eropa, tentu sangat disayangkan jika Anda tidak mengagendakan sedikit saja waktu untuk melihat sepak bola, meskipun Anda tidak menggemari olahraga ini. Di benua tempat pertama kali sepak bola diklaim dimainkan dan dirumuskan aturannya inilah sepak bola seperti agama. Manusia boleh lahir dan mati, bangunan boleh berdiri kokoh lalu berjamur dan runtuh, namun sepak bola bukannya memudar malah terus berpendar.

Perkembangan sepak bola memang tidak secepat perkembangan teknologi komputer atau telepon genggam. Dengan kesederhanaannya, sepak bola pada dasarnya adalah permainan yang mempertandingkan 11 orang dari sebuah komunitas atau kampung. Kesederhanaan itulah yang membuat perkembangan sepak bola tidak secepat perkembangan teknologi.

Namun saat komersialisasi digaungkan, mulailah sepak bola tersaji seperti yang setiap pekannya Anda saksikan. Sebuah klub sepak bola kini telah banyak memiliki manajemen sekuat perusahaan besar, meskipun omzet mereka masih jauh. Perusahaan apparel yang dulunya dibayar oleh klub sepak bola untuk menyediakan perlengkapan bermain, kini berbalik menjadi pihak yang membayar. Kontrak televisi lantas menggila, dunia bisnis lantas melirik sepak bola sebagai lahan promosi yang sangat potensial, penggemar sepak bola terutama di benua Asia lantas dijejali berbagai gimmick dan tontonan sepak bola tengah malam yang tidak jarang mengaduk-aduk emosi mereka sendiri, memenuhi pikiran mereka dengan ilusi berbalut fanatisme. Sebelum era semacam ini timbul, pemanfaatan tertinggi pada sepak bola baru dilakukan oleh para politisi untuk menyebarkan propaganda.

Kembali ke stadion-stadion di Eropa, jika Anda pernah berkunjung ke salah satu stadion ternama, Anda akan menyaksikan fasilitas anjangsana yang sekilas lebih cocok untuk kaum borjuis, namun ternyata cocok untuk seluruh kelas dalam masyarakat. Di stadion sepak bola, mungkin saja tidak berlaku prinsip sama rata sama rasa. Anda duduk sesuai dengan harga karcis yang Anda bayar. Namun Anda akan menyaksikan pertunjukan yang sama, pertunjukan adu tehnik dua puluh dua orang pesepak bola dan adu strategi dua orang pelatih. Ditambah lagi, Anda akan menyaksikan protokoler dan prosedural kelas elit, bahkan sebagian ada yang sudah menerapkan teknologi garis gawang agar hasil pertandingan benar-benar valid dan human error diperkecil kemungkinannya. Pertandingan sepak bola adalah sebuah event penting yang hasilnya memang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan. Football is a serious business.

Maka agak lucu jika dengan perangkat pertandingan yang sudah berada pada tingkat kecanggihan pesawat Air Force One, kontroversi masih saja muncul. Stefan Kiessling, penyerang berambut kuning keemasan bertubuh tinggi dan agak kurus adalah salah satu pesepakbola handal saat ini yang diabaikan oleh tim nasionalnya. Meski ia terus menjawab segala keraguan lewat rekor golnya yang mengagumkan dan statistik-statistik yang mencengangkan, namun Jogi Loew tidak kunjung meliriknya untuk menjadi salah satu penggawa Die Nationalmannschaft.

Kiessling akhirnya memilih cerita lain, meskipun ia tidak bermaksud melakukannya. Ia mencetak gol yang kemudian banyak disebut sebagai gol hantu, karena bola sebenarnya memang tidak masuk ke gawang melainkan hanya menyentuh samping gawang. Ekspresi Kiessling sungguh datar hingga semuanya berubah saat wasit mengesahkan momen tersebut menjadi sebuah gol. Bukan sembarang gol, namun gol yang memenangkan klubnya, Bayer Leverkusen. Publik geram, pengelola liga kebakaran jenggot, perangkat pertandingan merasa kecolongan, namun tidak sedikit pula yang menertawakan sekaligus menganggap momen tersebut sebagai hal unik dalam sepak bola. Ya, hal-hal yang membuat permainan ini tidak kehilangan sisi manusia. Manusia yang tidak lepas dari kesalahan.

***

(Sementara itu di belahan bumi lainnya, 13 tahun silam)
“Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo
Sociaaaale.. Sociaaaale.. Ooooooo”

Begitulah teriakan yang terdengar nyaris di seantero sekolah kala laga classmeeting digelar. Parodi chantCampione.. Campione..” yang biasa didengar dari layar kaca kemudian mereka ubah menjadi “Sociale.. Sociale..” melambangkan kelas 3 IPS atau Sosial, seakan menunjukkan superioritas skill sepak bola sekaligus rasa kebersamaan yang lebih cair antar sesama dibandingkan anak-anak IPA. Ya, anak-anak yang terkesan lebih serius, ilmiah, individualis, tidak banyak bicara, sinis, terpelajar namun selalu kalah dalam bermain sepak bola di sekolah.

Pada hari itu, semua berubah di lapangan. Laga semifinal classmeeting antara kelas IPA saya dengan kelas IPS berlangsung sengit karena ternyata kami mampu memberi perlawanan. Skor masih imbang 1-1 hingga penghujung pertandingan. Kami semua nampak siap melanjutkan laga dengan perpanjangan waktu, namun sebuah momen mengubah segalanya.

Rekan saya, sebut saja Mr. K, melepas tendangan langsung ke gawang IPS. Merasa bola tidak akan masuk, kiper IPS hanya mendiamkannya. Bola memang tidak masuk, dan Mr. K juga menunjukkan gestur kekecewaan. Namun apa daya, hakim garis dan wasit serentak mengangkat bendera dan tangan ke arah tengah lapangan pertanda tendangan tersebut gol. Sempat terjadi moment of silence beberapa saat untuk mencerna apa yang baru saja terjadi, namun kencangnya bunyi peluit dari wasit mengonfirmasi bahwa gol hantu telah terjadi. Teriakan “Sociale” lalu berubah menjadi koor masal bernada kekecewaan pada kepemimpinan wasit. Ya, laga saat itu memang tidak dapat dibandingkan dengan laga Bundesliga yang dilakoni Stefan Kiessling. Gawang yang terbuat dari bambu dan tidak terpasangnya jaring memang menyulitkan pengambilan keputusan.

IPS meradang, menggugat, marah dan kecewa. Sementara kami hanya diam tanpa merayakan gol seperti biasa, meskipun tersenyum simpul dalam hati. Laga usai, kami menang. Wasit dicerca, emosi melanda, namun beruntung keributan tidak meledak. Gestur sportivitas juga kami berikan pada lawan, hasil akhir sudah ditentukan. Sepak bola memang kadang seperti ini. Aneh, unik, kejam, tidak terduga seperti gambaran umum kehidupan.

Pada hari itu, meskipun bukan dengan cara yang kami inginkan dan bukan dengan cara yang ilmiah serta terukur, kami berhasil mengubah stigma di sekolah dimana anak IPA tidak bisa mengalahkan anak IPS dalam bermain sepak bola.

Sunday, October 13, 2013

Haruskah Sebatas Mengulangi Euforia?

Belum sampai 3 x 24 jam kita menyaksikan timnas sepak bola U-19 Indonesia melaju ke putaran Piala Asia U-19 dengan rekor kemenangan sempurna. Euforia sepak bola kembali membuncah layaknya gempita publik bola Indonesia pada momen Piala Asia 2007, Piala AFF 2010 dan SEA Games 2011.

Mari sejenak kita melihat ke belakang. Pada Piala Asia 2007, timnas yang kala itu diasuh Ivan Venkov Kolev dengan formasi andalan 3-4-3 memang membuka turnamen dengan mengalahkan Bahrain lewat gol Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas. “Gue pelukan sama penonton di sebelah gue pas golnya Bepe kemaren, padahal kami gak saling kenal!” ujar salah satu teman saya, sebut saja namanya Revi yang memang rajin menonton langsung pertandingan timnas di Gelora Bung Karno. Sayangnya setelah itu Indonesia menyerah dari kaki Arab Saudi dan Korea Selatan, sehingga gagal lolos ke babak berikutnya pada turnamen yang akhirnya dimenangi oleh Irak itu.

Meski kalah, determinasi timnas merah putih patut diacungi jempol mengingat lawan yang dihadapi kualitasnya satu-dua tingkat di atas. Sepak bola Indonesia bergairah lagi. Sejak saat itu, jersey home merah-putih dan jersey away putih-hijau laris bagaikan kacang goreng, tanpa harus menunggu midnite sale. Para penggemar kasual maupun musiman juga otomatis merasa memiliki tim ini.

Selanjutnya, datanglah Piala AFF. Indonesia yang saat itu dilatih Alfred Riedl memukau publik lewat penampilan spektakuler di babak penyisihan. Malaysia diganyang 5-1, Thailand digasak 2-1, dua momen yang jarang terjadi pada timnas Indonesia. Stadion GBK penuh sesak, gemuruh lagu kebangsaan berkumandang tanpa dikomando, nasionalisme publik seakan berada pada puncaknya. Sepak bola (atau timnas) dianggap sebagai pemersatu bangsa meski akhirnya penampilan timnas di final antiklimaks dan harus menyerah di tangan Malaysia.

Pada SEA Games 2011, tim asuhan Rahmad Darmawan nyaris menggondol medali emas andai tidak kalah adu penalti dari “hantu” yang sama bernama Malaysia. Publik pun dengan masygul menyebut sepak bola Indonesia sebagai “sepak bola nyaris”. Nyaris menang, nyaris juara, nyaris berprestasi. Nyaris yang tidak memberi kita apapun.

Euforia yang padam dan suporter yang patah arang kemudian mengawali salah satu periode terburuk sepak bola Indonesia, yaitu munculnya dualisme pada federasi. Perpecahan di kalangan elite menular hingga ke lapisan bawah, kondisi yang berlangsung hingga dua tahun. Prestasi timnas di lapangan hijau mengenaskan dan terus mengukir sejarah kelam. Sepak bola Indonesia seperti di-restart, euforia tahun 2007 dan 2010 seakan tak berbekas.

Setelah fase kegelapan itu, muncul sekelompok pemuda yang kembali “menyalakan tombol euforia”. Kali ini gelar benar-benar mereka genggam dan permainan cantik betul-betul diperagakan, bukan lagi sekadar nyaris. Pemain-pemain U-19 ini bermain dengan cara yang tidak seperti pemain Indonesia pada umumnya: bermain long pass, goreng menggoreng lalu stamina kendor setelah memasuki menit ke-65.

“Anda semua ingin membanggakan orang tua? Keluarkan kemampuan terbaik kalian sekarang!!” Begitulah talk team pelatih Indra Sjafri kala jeda pertandingan lawan Korea Selatan. Hasilnya dapat terlihat di babak kedua dimana pemain-pemain timnas bermain dengan penuh determinasi sekaligus menunjukkan kematangan luar biasa hingga akhir laga. Jagoan-jagoan dari negara penyebar virus K-Pop itu bahkan dipaksa memainkan umpan lambung karena tekanan pemain-pemain Indonesia yang tak kenal lelah.

Seperti bangsa yang tidak pernah mau belajar, muncullah ide-ide absurd soal timnas ini, dari ide yang menyangkut pada komersialisasi hingga politisasi. Tanpa bermaksud menggurui, seharusnya mereka belajar dari pengalaman yang sudah lewat dimana pembebanan yang berlebihan dan penanganan yang keliru (apalagi kepada sekelompok pemuda yang usianya masih belasan tahun) hanya akan merusak masa depan mereka. Mengapa tidak dibiarkan saja mereka fokus pada sepak bola dan menapaki jenjang timnas dengan proses panjang, karena memang tidak ada jalan pintas untuk menggapai kesuksesan. Semua prestasi besar memerlukan waktu.

Biarkan saja timnas U-19 ini melanjutkan perjuangan ke level yang lebih tinggi lagi, yaitu Piala Asia. Jangan pula dihujat jika tahun depan mereka kalah. Disamping bermain di kandang lawan, mereka juga akan menghadapi lawan-lawan tangguh dengan level permainan jauh di atas. Calon lawan nanti juga pasti sudah mengantisipasi kekuatan kita. Perjuangan mereka masih harus ditunggu lagi hingga ke level senior, dimana disitulah segalanya dipertaruhkan.

Tidak ada cara yang lebih baik selain mempersiapkan lagi pasukan timnas selanjutnya. Kemenangan yang sudah diraih timnas U-19 harus dilanjutkan dengan pembinaan yang serius. Untuk membentuk tim jurara ini, Indra Sjafri sampai harus blusukan ke daerah-daerah pelosok karena pemain yang diwariskan dari tim U-16 tidak ada yang layak, dan juga PSSI tidak memiliki sistem pembinaan memadai yang mampu menyaring talent pool pemain di seluruh penjuru negeri dengan 17 ribu pulau ini.

“Tonight is proof that Indonesian Youth Football can compete with the best in Asia. Focus on kids, they are the future. Great game!” Demikian isi kicauan Tom Byer, seorang ahli pengembangan bakat pemain muda yang telah sukses membantu Jepang dan kini sedang menjajaki kerjasama dengan Indonesia.

Sejalan dengan pencetakan pemain, pencetakan pelatih berkualitas juga harus dilakukan. Tidak mungkin PSSI berharap ada 1000 orang seperti Indra Sjafri yang rela blusukan sekaligus mampu memoles bakat mentah macam Evan Dimas, Ilham Udin, Maldini Pali dkk. Saatnya cara-cara kuno dan mindset “Indonesia gudangnya bakat alam” ditinggalkan. Tanpa dilatih dan dibina dengan benar, bakat-bakat alam itu hanya akan tersia-siakan.

Jika kita tidak belajar dari pengalaman, euforia ini juga hanya akan sekadar singgah layaknya euforia 2007, 2010 dan 2011, lalu restart lagi dan terus memulai dari awal. 

Saturday, October 12, 2013

Timnas Tanpa Kepentingan

“It’s not like watching Indonesia.” Begitulah judul artikel full English salah seorang penulis kenalan saya di sebuah media, menggambarkan betapa atraktifnya penampilan tim nasional Under 19 sehari setelah mengalahkan Filipina. Ia mungkin sengaja menggunakan bahasa Inggris untuk mempromosikan tim ini lebih luas lagi ke skala global. 

Filipina memang memainkan sepak bola negatif. Mereka menumpuk seluruh pemainnya di daerah sendiri, termasuk 8 pemain di kotak penalti. Strategi ini lazim dipakai tim yang menghadapi Barcelona ataupun Bayern Muenchen, tim dengan kemampuan luar biasa dalam mengendalikan permainan dan mengolah bola. Indonesia, dengan level yang berbeda dengan Barca dan Bayern tentunya, mampu memaksa Filipina (yang juga dibawah level lawan-lawan Barca dan Bayern) melakukan itu.

Okelah kualitas Filipina memang masih di bawah Indonesia. Tapi yang patut menjadi perhatian adalah bagaimana tim Indonesia U-19 menjaga konsistensi dan tetap membumi meskipun mereka baru mengakhiri dahaga 22 tahun gelar internasional Indonesia. “Kalo elo baru juara kelas, selain ada kebanggaan, pasti juga ada beban untuk mempertahankan prestasi. Belum lagi pujian-pujian dari sekeliling yang malah melenakan.” Begitulah ujar salah seorang mentor saya mengomentari kondisi timnas U-19. “Tapi sepertinya euforia berlebihan ini tidak terjadi di tim U-19.”

Ya, tim U-19 ini memang beda. Maksudnya, beda dari tim Indonesia pada umumnya. Dari segi permainan, level tim ini memang masih di bawah Vietnam, yang mereka kalahkan di final Piala AFF U-19 bulan lalu. Namun tim ini memiliki modal luar biasa yang bahkan menurut saya tidak dimiliki oleh tim-tim olahraga di Indonesia.

Tim ini terus diajarkan untuk rendah hati. Pelatih Indra Sjafri juga menanamkan disiplin tinggi kepada anak asuhannya. Tidak ada pemain yang merasa seperti pemain bintang, yang lalu merasa layak untuk tampil di acara infotainment menggandeng selebritis yang turut memanfaatkan momentum ini untuk menjadi social climber.

Krioterapi dan 4-3-3
Saya menulis ini sesaat setelah pertandingan penentuan lawan “tim drama dengan pemain berbedak tebal” Korea Selatan berakhir. Indonesia berhasil mengalahkan Taeguk Warriors 3-2 yang otomatis membawa tim ini ke putaran final Piala Asia di Myanmar tahun depan, sesuatu yang bahkan sudah tiga periode tidak mampu dicapai timnas senior. Lagipula, melihat permainan timnas yang begitu menyulitkan sebuah tim juara bertahan Piala Asia (dan juara 12 kali Piala Asia junior), hal ini sudah membanggakan. Sudah lama kita tidak memiliki timnas seperti ini.

Apapun hasilnya nanti di Piala Asia, tim U-19 ini dapat saya anggap sebagai timnas terbaik yang dipunyai Indonesia sejak pertama kali saya menyaksikan pertandingan timnas. Mereka mungkin bukan yang terbaik secara teknis, namun dilihat dari mentalitas dan sikap, mereka jelas patut dicontoh. Permainan mereka juga sangat tenang, tidak asal membuang bola ke depan dan juga tidak banyak menggocek bola. Jarak antar pemain begitu rapat dan transisi bertahan-menyerang  juga mulus, apalagi kombinasi umpan satu sentuhan yang mereka peragakan di daerah final third. Mereka membalikkan mindset orang Indonesia pada umumnya yang menganggap pemain paling jago adalah yang paling hebat menggoreng bola.

Timnas U-19 adalah contoh nyata betapa proses yang tidak instan tanpa jalan pintas dan sikap yang benar adalah jalan menuju kesuksesan. Proses pelatnas jangka panjang, penempatan psikolog dalam tim, juga penggunaan metode krioterapi menunjukkan tim ini tidak menutup mata pada perkembangan zaman.

Krioterapi adalah metode yang banyak dipakai tim-tim Eropa, termasuk pemain macam Phillip Neville, Javier Zanetti maupun Raul Gonzalez yang karirnya awet di level tertinggi meski sudah berusia senja. Krioterapi menggunakan media es batu, dimana pemain berendam di kolam yang dipenuhi es batu tersebut (tentu suhu kolam telah diatur) dalam beberapa menit. Metode ini disamping meningkatkan ketahanan, juga efektif untuk mempercepat pemulihan cedera. Sayangnya meski lazim digunakan di Eropa, krioterapi ini masih jarang digunakan di Indonesia.

Berbicara sedikit pola permainan, pola 4-3-3 yang digunakan memang cocok dengan karakter sepak bola Indonesia. Timnas senior juga menggunakan pola ini, meski pengaplikasiannya di lapangan jauh berbeda. Tentang penggunaan pola 4-3-3 ini, pelatih Indonesia di masa lalu seperti Toni Pogacnik dan Anatoly Polosin memang telah lama mengamati kelebihan Indonesia dalam permainan sayap. Kini, tidak ada salahnya pola 4-3-3 yang cocok dengan kultur kita ini diimplementasi seluruh jenjang tim nasional, bahkan jika perlu hingga ke klub-klub.

Seorang teman malah mengingat trio gelandang Muhammad Hargianto, Zulfiandi dan Evan Dimas sehebat Andres Iturraspe, Javi Martinez dan Ander Herrera (tentunya dalam level berbeda) yang membawa Athletic Bilbao meluluhlantakkan Manchester United di Old Trafford. Ya, baik Hargianto maupun Zulfiandi dan kapten Evan Dimas memang seperti sudah menyatu benar permainannya, dengan chemistry tingkat tinggi yang terjalin. Khusus Evan Dimas, first touch, positioning dan visi permainannya bahkan sudah berada di level Asia. Mengingat usianya yang masih 18, bukan tidak mungkin ia akan menggapai prestasi lebih tinggi lagi (semoga ada klub Jepang atau bahkan Eropa yang segera mengontraknya, jangan main disini).

Catatan positif lainnya adalah stamina pemain. Hal ini sudah ditunjukkan lewat penampilan mereka kala menjuarai Piala AFF U-19 di Sidoarjo lalu ketika mereka mampu mempertahankan ritme permainan meski harus melakoni babak perpanjangan waktu dan bermain setiap dua hari sekali. Pola latihan dan metode krioterapi yang dijalankan berkontribusi pada rataan VO2 Max pemain-pemain timnas U-19 yang diatas 60 ml/(kg.min), padahal kadar VO2 Max ideal berada pada angka 57-58. Memadainya VO2 Max pemain ini amat mendukung taktik zone press yang diterapkan, bahkan sejak pemain lawan menguasai bola di daerahnya sendiri.

Bagaimanapun dibalik segala kehebatan dan kebanggaan, juga euforia dan harapan tidak usahlah menanamkan optimisme berlebihan. Tim ini masih muda, masih akan menapaki jalan panjang untuk terus membela bangsa bersebelas di lapangan hijau. Jangan lupakan pula bahwa tim ini masih relatif bebas kepentingan, juga semua kemenangan ini didapat kala bermain di kandang sendiri. Kini setelah mampu memukul Korea Selatan dengan permainan impresif, jangan heran jika terjadi perebutan panggung antar para pahlawan kesiangan yang mengaku ikut-ikutan membentuk tim ini. Semoga saya salah.