Pages

Thursday, August 23, 2012

Bundesliga team focus: Borussia Monchengladbach

Borussia Monchengladbach 2012/2013

 
From nothing to something, from something to big thing. Begitulah frase yang pantas untuk perjalanan sebuah klub Borussia Monchengladbach dalam 15 bulan terakhir. Klub asal North-Rhine Westphalia yang bermarkas di Stadion Borussia Park ini musim 2010/2011 adalah klub bukan siapa-siapa alias “zero” yang harus mengikuti babak play-off degradasi. Mereka lantas menjadi “something” setelah di partai pembuka Bundesliga musim 2011/2012 mengalahkan “FC Hollywood” Bayern Muenchen lewat gol tunggal striker asal Belgia, Igor De Camargo.

Mereka kemudian menjadi “big thing” melalui permainan impresif sepanjang musim 2011/2012 yang akhirnya membawa mereka menduduki posisi keempat dibawah Borussia Dortmund, Bayern Muenchen dan Schalke 04. Ganjaran kualifikasi Liga Champions menjadi hadiah manis untuk mereka.

Musim lalu, pemain-pemain muda mereka orbitkan. Marc-Andre ter Steigen mengejutkan semua orang dengan penampilan hebatnya di usianya yang baru akan menginjak 20 tahun. Marco Reus adalah salah satu pemain terbaik Bundesliga musim lalu. Patrick Herman bermain brilian menyisir sayap.

Tidak hanya para youngster, Monchengladbach juga mengembalikan permainan terbaik para pemain yang sudah dicap habis. Striker yang dicap medioker, Mike Hanke dan gelandang senior asal Venezuela, Juan Arango terbukti menemukan kembali kehebatannya. Dibawah kejeniusan Lucien Favre yang menekankan filosofi possession football, penonton Bundesliga tersihir seperti seolah sedang menyaksikan Barcelona bermain. Keempat pemain ofensif tersebut dianggap membuat serangan Gladbach sukar ditangkal lawan-lawannya.

Tidak hanya bagus dalam menyerang, Lucien Favre juga memoles pertahanan timnya. Di awal kedatangannya di pertengahan musim 2010/2011, pertahanan yang sudah terbobol 55 kali menjadi agenda pertama perbaikannya. Ditekankannya disiplin permainan pada back-four yang dimiliki, dan puncaknya adalah keberaniannya mengorbitkan kiper Marc-Andre ter Steigen di musim 2011/2012. Ter Steigen bersinar dengan cepat, terbukti dari jumlah kebobolan paling sedikit yang dideritanya di seantero Bundesliga.

Memasuki musim yang baru, Gladbach mengalami cobaan berat layaknya yang dialami wunderteam pada musim yang lama. Pemain-pemain mereka diangkut oleh klub-klub besar. Total 25 juta euro mereka dapatkan dari penjualan dua bintang, Marco Reus ke Borussia Dortmund dan bek tengah Dante ke Bayern Muenchen. Gelandang tengah Roman Neudstadter juga hengkang ke Schalke 04 dengan free transfer. Absennya mereka dari skuat tentu akan terasa.

Gladbach tidak tinggal diam. Mereka memanfaatkan penjualan dua bintang mereka dengan mendatangakan banyak pemain bagus. Luuk De Jong, Granit Xhaka, Alvaro Dominguez, Peniel Mlapa dan Branimir Hrgota didatangkan. De Jong adalah pemain yang mencetak 39 gol dari 75 pertandingannya bersama FC Twente. Dia diplot untuk menggantikan peran Reus. Granit Xhaka adalah keajaiban dari sepak bola negeri Swiss. Dia memiliki dribbling dan visi yang eksepsional di usianya yang baru 19 tahun. Kehadirannya di pos deep-lying playmaker akan mengalirkan permainan Gladbach. Alvaro Dominguez adalah pemain berbakat yang terpaksa dijual Atletico Madrid karena masalah finansial. Gladbach dapat berharap pemain yang juga mampu berposisi di kiri pertahanan ini mampu menggantikan peran Dante musim lalu. Jangan abaikan pula Branimir Hrgota. Penyerang berbakat asal Swedia berusia 19 tahun ini memiliki rekor gol fantastis di klub sebelumnya, Joenkoping Soedra dengan 28 gol dari 44 pertandingan.
Formasi Gladbach musim 2012/2013. Source: www.bundesligafanatic.com


Singkatnya, Monchengladbach telah melakukan pekerjaan cukup bagus di bursa transfer. Namun kekhawatiran tetap tercium. Gladbach telah doing the Leeds fase awal. Keberanian mereka membeli banyak pemain baru berharga mahal telah membuat kas mereka defisit 7,5 juta euro. Walaupun masih dalam angka yang relatif wajar, pengeluaran sebesar itu tetaplah luar biasa untuk Gladbach. Mereka juga dikritik banyak pihak terkait akomodasi bintang lima yang mereka gunakan selama menggelar latihan pre-season. Tingkah hedonis-narsistis mulai menjangkiti mereka. Euforia nampaknya masih belum mau pergi.

Sekarang tinggal bagaimana mereka menyikapi situasi ini. Tanpa Marco Reus, skuat mereka tetaplah dianggap mampu meneruskan performa gemilang musim lalu, bahkan mungkin melebihinya. Jika Lucien Favre mampu memberikan dampak instan kepada tim saat kedatangannya, tentu bukanlah pekerjaan sulit baginya untuk cepat menyatukan para pemain barunya dalam sepak bola kohesif dan fluid yang mengalir dalam tim asuhannya.

No comments:

Post a Comment