Pages

Monday, May 18, 2015

Skuat Milan Musim Ini, Keep or Dump?

Terima sajalah jika dua musim ini adalah bencana untuk Milan. Menyongsong manajemen baru, Milan perlu melakukan perombakan besar-besaran terkait skuat. Berikut uraian singkat tentang kepantasan pemain-pemain Milan musim ini, apakah mereka layak dipertahankan atau sebaiknya dilepas. Didasari besar gaji (ingat, total biaya gaji Milan musim ini mencapai 94 juta euro atau hanya kalah besar dari Juventus. Untuk memberi perspektif, biaya gaji Empoli hanya 11 juta euro). Namun tentu saja tidak melulu biaya gaji yang dipertimbangkan, tapi juga kontribusi dan potensi.

Diego Lopez
Tanpa penyelamatan-penyelamatannya yang kadang mustahil, Milan sudah berada di zona degradasi. Meski kadang melakukan blunder, namun refleks dan kemampuan teknis kiper asal Spanyol ini masih salah satu yang terbaik di dunia. Definitely keep.

Christian Abbiati
Gaji kecil, loyal, pengalaman segudang dan punya kepemimpinan cukup baik. Hanya usia saja yang menghalanginya bermain konsisten. Namun ia masih perlu dipertahankan asalkan mau dijadikan sebagai back up. Keep with conditions.

Michael Agazzi
Tidak pernah menunjukkan permainan terbaik. Dump.

Mattia De Sciglio
Mulai dipandang sebagai pemain overrated. Inkonsisten dan tidak banyak berkembang musim ini. Namun ia adalah produk asli akademi yang mewakili identitas Milan, lagipula usianya masih muda. Keep.

Ignazio Abate
Setelah menjanjikan pada awal musim, Abate kembali 'tak terlihat' pada paruh kedua, seiring dengan penurunan hasil yang dialami Milan. Namun, ia masih bisa berkontribusi lewat kecepatan dan eksplosivitasnya. Keep.

Gabriel Paletta
Sempat cedera pada awal musim ketika masih memperkuat Parma, Paletta didatangkan Milan dengan harga murah. Ketenangannya di belakang tentu saja dibutuhkan pertahanan Milan, meski puncak penampilannya sudah lewat. Keep.

Philippe Mexes
Gaji besar, sering membuat masalah di lapangan karena emosinya yang sering tak terkontrol, usia yang sudah uzur membuat Mexes layak dilepas musim depan. Bek Prancis ini memang memiliki grinta dan tentu saja skill yang bagus dan visi yang baik. Amat jarang melihat bek yang mampu mencetak gol lewat tendangan salto ataupun first time, bukan? Tapi, Milan lebih baik mencari bek baru demi regenerasi. Dump.

Luca Antonelli
Si anak hilang sudah kembali. Antonelli memberi daya dobrak di sisi kiri lapangan. Kerap mencetak gol dan memiliki tehnik yang baik. Keep.

Alex
Berpengalaman dan kokoh, namun rentan serangan balik. Sudah uzur dan bergaji 2,5 juta euro. Dump.

Adil Rami
Kemampuannya cukup komplet dan memiliki tehnik yang bagus. Sayangnya musim ini inkonsisten dan banyak mengalami cedera. Kasih kesempatan semusim lagi. Keep.

Cristian Zapata
Cemerlang di timnas Kolombia, tapi memang tidak bisa menularkannya di Milan. Inkonsisten dan sudah sulit berkembang. Dump.

Salvatore Bocchetti
Cukup kalem dan memberi rasa aman ketika memainkan pertandingan terbaiknya. Namun kerentanan akan cedera jelas memberi resiko tinggi. Dump.

Daniele Bonera
Ia hanyalah sosok loyal untuk klub. Tidak memberi masalah, tapi tidak pula impresif. Versatilitas dan senioritasnya memang kadang membantu jika Milan sedang krisis bek, namun musim ini semestinya adalah musimnya yang terakhir. Dump.

Pablo Armero
Kisahnya sama seperti Zapata. Dump.

Cristian Zaccardo
Penghangat bangku cadangan sejak awal kedatangan. Kontribusi minim namun gaji hampir sama dengan Jack Bonaventura. Dump.

Nigel De Jong
Sulit melihatnya masih berbaju Milan musim depan karena ia masih diminati tim-tim besar. Membiarkannya pergi adalah hal terbaik. Dump.

Andrea Poli
Berpotensi dan memiliki semangat tinggi, meski tidak terlalu istimewa. Masih layak dipertahankan. Keep.

Marco Van Ginkel
Muda dan berbakat. Keep.

Sulley Muntari, Michael Essien, Riccardo Montolivo
Waktu mereka sudah habis. Total gaji mereka bertiga selama setahun adalah 8,5 juta euro. Dump.

Jack Bonaventura
Salah satu penampil terbaik. Kemampuan teknis, taktis dan mencetak golnya luar biasa. Gajinya ‘hanya’ 1 juta euro per musim. Keep.

Jeremy Menez
Sering membuang peluang dan gagal memanfaatkan momentum. Ia adalah paradoks: visi, kerjasama tim dan kedisiplinan yang kurang baik meski secara teknikal adalah yang terbaik di Milan. Apapun itu, Anda tidak bisa membuang pencetak 16 gol yang menikmati musim terbaik kecuali ada tawaran yang tidak bisa ditolak. Keep, with conditions.

Mattia Destro
Tidak produktif dan sering tidak terlihat di lapangan. Namun hal ini lebih karena ketidakcocokan dengan taktik counter attack Pippo Inzaghi. Dengan penanganan tepat dan dukungan gelandang yang lebih baik, Destro jelas salah satu penyerang terbaik Italia. Keep.


Giampaolo Pazzini
Akan berguna jika banyak diberi umpan silang. Namun usianya sudah kepala tiga dan gajinya juga besar: 2,5 juta euro per musim. Dump.

Stephan El Shaarawy
Sudah dua tahun ini El Shaarawy menjadi 'anak hilang'. Cedera, inkonsistensi, tidak termotivasi lama kelamaan akan menjadikannya tak lebih dari wasted talent seperti halnya Ricardo Quaresma atau Alexandre Pato. Meminjamkannya ke klub papan tengah yang lebih rendah sorotannya akan mengembalikan performa terbaiknya. Dump, pinjamkan keluar.

Alessio Cerci
Pemain seperti dirinya lebih cocok bermakn di klub yang menjadikannya pusat permainan. Milan tidak akan memberinya keistimewaan itu. Dump.

Keisuke Honda
Selain memiliki profesionalitas yang tinggi, Honda kerap memberi assist dan menghidupkan permainan. Hanya butuh konsistensi. Keep.

Suso
Dengan bakat besar yang dimiliki, Suso sebetulnya menjanjikan. Layak diberi kesempatan semusim lagi untuk lebih membiasakan diri dengan sepak bola Italia. Keep.


Pemain-pemain yang dipinjam: Torres, Robinho, Niang, Saponara, Birsa, Gabriel.
Dump semua kecuali Niang dan Gabriel.

Friday, May 15, 2015

Upaya Mengerek Si Kuping Besar Ke Turin

Juventus adalah sebuah perdebatan. Bagi mereka yang membenci, 31 gelar Seri A yang telah didapat (apalagi 33 seperti klaim Juventus) bukanlah hasil dari sesuatu yang diperjuangkan dengan halal di lapangan. Tawa akan semakin kencang, bagaimana dari 31 gelar domestik tersebut –yang membawa mereka tampil di kejuaraan Champions Eropa – hanya dua trofi yang berhasil diboyong. Bandingkanlah dengan Milan, misalnya, yang telah meraih 7 gelar Liga Champions meski ‘baru’ mengoleksi 18 gelar scudetti.

Namun siapakah kita sehingga merasa berhak menghakimi keabsahan gelar juara, yang bagaimanapun juga diperjuangkan dengan peluh dan darah di lapangan, yang diwarnai permainan cantik dari pemain-pemain terbaik yang pernah ada. Siapa tidak kenal Gianpiero Combi, Raimundo Orsi, Luis Monti, Giovanni Ferrari, Umberto Caligaris, Virginio Rosetta, Dino Zoff, Antonio Cabrini, Gaetano Scirea, Claudio Gentile, Marco Tardelli, Paolo Rossi, Alex Del Piero, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, Mauro Camoranesi hingga Gianluigi Buffon? Nama-nama tulang punggung timnas Italia pemenang trofi Piala Dunia pada masing-masing era mereka ini tentu saja tidak bisa dipisahkan dari Il Bianconero.

Biarlah para pengkritik itu menghujat ketika palu pengadilan diketuk untuk mengirim sang tim tersukses Italia ke Seri B tahun 2006, toh Si Nyonya tua telah menjalani masa hukumannya dan telah bangkit dari masa kelam sekembalinya ke Seri A di mana mereka menduduki posisi ke-7 dalam dua musim beruntun. Biarkanlah juga para tifosi dari klub rival bernyanyi sekencang-kencangnya ketika tim semenjana Inggris seperti Fulham pun mampu menundukkan mereka dengan skor telak 4-1 dalam babak 16 besar UEFA Europa League setengah dekade lalu.

Bahkan, masih segar dalam ingatan, bagaimana dalam tiga tahun terakhir Juve selalu gagal melewati babak perempat final Liga Champions meskipun pada saat bersamaan kembali merajai kompetisi Seri A Italia. Klub jago kandang.

Kini, si jago kandang memutar balik segala hinaan. Di bawah asuhan pelatih yang juga amat sering menjadi korban bully akibat akhir cerita tidak sedapnya bersama Milan, Massimiliano Allegri, mereka kini berada di final Liga Champions. Tidak lupa, mereka telah memastikan diri sebagai juara Seri A saat kompetisi masih menyisakan empat pertandingan, dan juga telah berada di babak final Coppa Italia.

Lawan mereka di final Liga Champions, Barcelona, mungkin saja masih sulit ditandingi. Saat Juve terjerembap di Seri B dan memberi pengalaman tak terlupakan bagi klub-klub seperti Albinoleffe, Barcelona baru saja pulang setelah memenangi Liga Champions di stadion Saint Denis setelah menundukkan Arsenal. Dalam rentang waktu tersebut, El Barca telah memenangi tambahan dua trofi lagi, dengan kualitas skuat dan permainan yang tidak kunjung menurun.

Barca jelas favorit. Dengan trio MSN (Messi, Suarez, Neymar) yang telah mencetak 112 gol di seluruh kompetisi musim ini, mereka jelas bukan tandingan kesebelasan manapun jika mereka bugar. Sementara Juventus diisi mayoritas pemain senior yang sudah lama merindukan kejayaan kontinental. Terakhir kali mereka menapak babak final, itu terjadi 12 tahun lalu saat mereka menghadapi Milan di stadion Old Trafford, Manchester.

Buffon, kiper veteran berusia 37 tahun, adalah satu-satunya pemain yang tampil di final tersebut yang hingga kini masih membela Juventus. Kala itu, Buffon harus merelakan trofi Si Kuping Besar terbang ke kota Milano saat sepakan penentuan Andriy Shevchenko tak mampu dihadangnya. Sang kapten tentu penasaran bagaimana rasanya memegang, mengangkat, memeluk lalu membawa lari trofi besar ini keliling lapangan. Kesempatan langka ini, boleh jadi adalah yang terakhir dimilikinya.

Tapi lagi-lagi, mereka dihadapkan pada klub yang sulit (diharap) berbuat kesalahan. Xavi, Iniesta, Sergio Busquets, Dani Alves, Gerard Pique, Pedro dan Messi memang telah dua kali menggendong trofi Liga Champions bersama Azulgrana, tapi mereka bukanlah pesepak bola yang cepat puas. Mereka tidaklah memiliki mental seperti seorang pebalap Formula 1 bernama James Hunt, yang berhasil merebut gelar juara dunia satu kali pada tahun 1976 namun kemudian berpuas diri dan tidak pernah kembali meraih gelar. Xavi, Iniesta, Messi, Pique, Sergio Busquets, Pedro dan Dani Alves tetaplah seorang atlet yang senantiasa lapar gelar. Menularkan mentalitas ini kepada para pendatang baru seperti Luis Suarez, Ivan Rakitic atau Marc-Andre Ter Stegen pun bukan hal sulit.

Meski Juventus tetaplah berbahaya dan berpotensi membuat kejutan, menahan Barcelona jelas membutuhkan pekerjaan teknis dan taktis yang sempurna. Di samping mengeluarkan kemampuan teknis terbaik, taktik dan motivasi dari Allegri, mereka juga membutuhkan ketelatenan dalam mengeksploitasi kelemahan permainan Barca –hal yang kini amat sulit dicari.

Jika Barcelona telah berada pada level majestic, Juventus sendiri baru sebatas level pembuktian. Bukti bahwa mereka bisa bersaing di luar Italia, bukti bahwa kebangkitan sepak bola Italia bukanlah angan-angan belaka. Pertarungan antara dua tim ini mungkin saja akan didominasi Barca, namun dalam kompetisi penuh kejutan dan sulit diprediksi seperti Liga Champions, siapa tahu keuletan Si Nyonya Tua yang kerap diasosiasikan dengan kekuatan pertahanan dan kecepatan serangan balik ala timnas Italia, trofi Kuping Besar bisa diarak ke kota Turin. Sudah banyak cerita tim underdog berhasil membuat kejutan, bukan? Dan jangan lupa, motivasi merebut treble winners di antara kedua tim tentu akan membuat para penggawa Juventus bertarung dengan mentalitas layaknya gladiator yang mempertaruhkan nyawa.

Monday, May 4, 2015

Tragedi Superga, Akhir Dari Sebuah Generasi Emas

Photo: Wikipedia.it

Tulisan ini pernah dimuat di Yahoo Indonesia, 4 Mei 2013. Penulis menuliskan ulang di blog ini dengan melakukan edit seperlunya.
______________________________________________________________

Meski bukanlah kompetisi sepak bola tertua di dunia, kompetisi sepak bola Liga Italia tetap dianggap sebagai kompetisi klasik yang sudah berjalan sejak tahun 1898. Sebelum kompetisi dengan format Seri A digulirkan mulai tahun 1929, kompetisi sepak bola Italia menggunakan sistem turnamen regional.

Secara total, Juventus menjadi pengumpul gelar juara terbanyak kompetisi negeri ini. 31 atau 33 gelar, itu tergantung pada keimanan masing-masing. Di bawah Juve, muncul AC Milan dan Inter Milan yang mengikuti dengan 18 gelar.

Selanjutnya, tercipta jarak yang cukup besar soal pengumpul terbanyak gelar juara liga karena setelah trio ini baru muncul nama Genoa yang mengumpulkan sembilan gelar. Di bawah Genoa, terdapat tiga klub yang mengumpulkan tujuh gelar yaitu Torino, Bologna dan Pro Vercelli.

Baik Torino, Bologna maupun Pro Vercelli merajai Liga Italia di masa lampau. Sebelum Seri A bergulir, Genoa dan Pro Vercelli adalah tim terbaik, sementara Bologna banyak disebut sebagai tim favorit Benito Mussolini, pemimpin berhaluan fasis Italia saat itu. Namun setelah Seri A bergulir, Torino adalah tim fantastis yang mencuat dengan mengumpulkan 5 gelar pada periode 1940an. Il Toro merajai Seri A lima musim beruntun pada masa itu berkat permainan gemilang yang diperagakan oleh tim yang dikenal dengan sebutan Il Grande Torino.

Kegemilangan Il Grande Torino dimulai saat klub dibeli oleh Ferruccio Novo, industrialis lokal yang mengakuisisi tim ini tahun 1939. Di bawah kepemimpinan Novo dan manajer asal Hungaria, Erno Egri “Ernst” Ebrstein, Torino disebut-sebut sebagai klub yang pertama kali memperkenalkan sistem pencarian bakat (talent scouting). Novo juga mempekerjakan orang-orang yang memang kompeten di bidangnya agar Torino bertransformasi dari klub semenjana menjadi klub besar. Sistem ini sekarang telah digunakan oleh hampir seluruh klub sepak bola profesional di dunia.

Usaha pencarian bakat yang sistematis tersebut sukses. Hasilnya, Torino mendapatkan pemain-pemain yang kelak menjadi legenda mereka seperti Franco Ossola, Ezio Loik, dan tentu saja Valentino Mazzola.

Ebrstein disebut sebagai orang yang berperan besar dalam mencari dan memilih para pemain ini sekaligus mengembangkan mereka sebagai yang terbaik. Ebrstein memperlihatkan perannya sebagai manajer, bukan sekadar pelatih. Pendekatan personal kepada pemain demi mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.  Semasa masih bermain, pria yang sempat melarikan diri dari Italia akibat Anti-Semitic Manifesto yang diberlakukan Mussolini ini mengakhiri karir di klub Brooklyn Wanderers di Amerika Serikat sebelum terjun ke dunia kepelatihan. Ia kemudian terbang ke Italia untuk menangani Bari dan Lucchese sebelum Torino menariknya tahun 1938.

Di lapangan, Ebrstein memperagakan permainan dengan taktik revolusioner 4-2-4, dengan memodifikasi permainan umpan-umpan pendek tim Eropa daratan dengan kedisiplinan dalam taktik Sistema yang diperagakan Vittorio Pozzo, pelatih timnas Italia tahun 1930an yang hingga kini menjadi satu-satunya yang berhasil membawa timnya memenangi dua Piala Dunia. Taktik tersebut menurut para pengamat menjadi inspirasi bagi tim Brasil saat mereka menjuarai Piala Dunia 1958 dan juga tim nasional Belanda tahun 1970an.
Torino menunjuk Valentino Mazzola sebagai kapten tim. Mazzola sering dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik yang pernah dilahirkan di Italia berkat tehniknya yang tinggi, fisik yang kuat serta kharisma di ruang ganti. Penjaga gawang Valerio Bacigalupo adalah salah satu penjaga gawang yang pertama kali terlihat sering keluar gari sarang untuk menghalau serangan lawan. Mario Rigamonti dan Romeo Menti yang juga anggota tim ini bahkan diabadikan namanya menjadi stadion markas klub Brescia dan Vicenza.

Kehebatan mereka diakui secara luas di mana pada periode tersebut tim nasional Italia beranggotakan sebagian besar pemain Torino. Bahkan dalam sebuah laga uji coba melawan Hungaria tahun 1947, 10 dari 11 pemain starter tim Italia adalah pemain Torino. Sebuah pengakuan yang wajar mengingat dalam kurun waktu tahun 1943 hingga 1949, Torino selalu menjadi juara Seri A.

Takdir memang datang tanpa bisa diduga. Kedigdayaan Il Grande Torino harus berakhir selama-lamanya oleh tragedi kecelakaan pesawat pada tanggal 4 Mei 1949, tepat 66 tahun yang lalu. Sekembalinya dari kota Lisbon untuk melakoni pertandingan uji coba melawan Benfica, pesawat yang mengangkut skuat Torino beserta staf pelatih dan beberapa jurnalis menabrak bukit Superga akibat terbang terlalu rendah saat hendak mendarat.

Tragedi ini juga mengubah sejarah sepak bola Italia, terutama tim nasional. Mereka kehilangan pemain-pemain andalan yang memang selama ini berporos tim Torino. Karena trauma, tim nasional Italia berangkat ke Brasil dengan kapal laut untuk mengikuti Piala Dunia 1950, di mana mereka langsung tersingkir akibat kondisi fisik yang tidak memadai selepas perjalanan jauh.

Butuh waktu hingga 1 dekade untuk mengembalikan kebesaran sepak bola negeri ini. Tim hebat berikutnya baru muncul pada tahun 60an dari kota Milan. Milan di bawah asuhan Nereo Rocco yang memperagakan taktik catenaccio, yang kemudian disempurnakan Inter di bawah asuhan Helenio Herrera untuk kemudian menyandang julukan Il Grande Inter, seperti halnya Torino. Uniknya, Il Grande Inter menguasai Italia dan Eropa saat itu dengan mengandalkan pemain tengah mereka, Sandro Mazzola, anak dari Valentino.

Banyak pula pihak yang menganggap tragedi ini mempengaruhi peta kekuatan klub sepak bola di Eropa. European Cup –turnamen yang menjadi cikal bakal Liga Champions dihelat pertama kali tahun 1955 dimana saat itu Real Madrid berjaya dengan pemain seperti Alfredo Di Stefano.

Jika tim Il Grande Torino masih ada, banyak pihak menduga Real Madrid tidak akan mudah memenangi 5 gelar turnamen secara beruntun dalam kurun waktu tahun 1956 hingga 1960 tersebut. Pendapat yang cukup masuk akal karena saat tragedi Superga terjadi, kebanyakan pemain Torino masih berusia di bawah 30 tahun. 

Thursday, April 30, 2015

Kembali Sunyi

Dunia tulis menulis sepak bola Indonesia di media online amat bergairah dalam dua tahun terakhir. Saya ingat, ketika gelaran Piala Eropa 2012 lalu, amat banyak blogger-blogger baru yang menuliskan preview dan review pertandingan, analisa taktik, dan tidak ketinggalan sejarah serta kultur.

Geliat para blogger sepak bola ini kemudian menemui wadahnya dalam bentuk situs portal yang memang dibuat untuk mengumpulkan tulisan-tulisan itu. Proses pun dimulai, dari yang sekadar menulis setengah serius, lalu beranjak ke arah penulisan berbasis data yang komprehensif, teori dari para tokoh terkenal, analogi-analogi cerdas, statistik yang rumit, bahkan tidak sedikit yang menghubungkan dengan dunia akademis sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Tulisan-tulisan sepak bola pun kian berbobot, membuat sepak bola bukan lagi sekadar olahraga kampung sebelas lawan sebelas. Penulis-penulis ini berhasil menaikkan derajat sepak bola.

Saya, yang menggilai sepak bola sehingga gagal memiliki cita-cita luhur seperti teman-teman pada umumnya, turut menyelami arus ini. Memasuki lingkaran yang banyak disebut sebagai “penulis sepak bola” (tidak sampai sebagai pengamat atau pundit), hingga kemudian secara rutin mengisi beberapa kolom sepak bola di media online, dan puncaknya adalah menerbitkan tiga buah buku bersama teman-teman sesama penulis.

Akan tetapi, saya sebagai manusia juga tidak bisa melarikan diri dari kejenuhan. Ditandai dengan stagnansi kualitas tulisan, saya pun kemudian sadar bahwa sekarang inilah saatnya berhenti sejenak dari dunia tulis menulis ini. Rehat untuk mengisi ulang pengetahuan dengan cara membaca lebih banyak buku untuk dapat mempertajam opini, membagi lebih banyak pengetahuan, dan tentunya menceritakannya dengan menarik.

Maka dari itu saya cukup terkejut dengan berakhirnya masa operasi dua media online tempat saya menulis, yaitu Yahoo Indonesia dan Bolatotal.com. Dua website ini padahal terbilang cukup besar dan berpengaruh, namun pertimbangan lain membuat mereka harus menghentikan aktivitas.

Saya hendak berterima kasih kepada dua media ini, yang telah memberikan ruang untuk berekspresi, belajar, bercerita, sekaligus membangun pertemanan dengan orang-orang luar biasa selama dua tahun belakangan. Tentu saja saya sedih mendengar hal ini, tapi apapun itu keputusan telah diambil dan saya yakin beginilah pada akhirnya yang memang terbaik untuk semua pihak.

Memang sih saya tidak punya niat dalam waktu dekat ini untuk mempublikasikan tulisan sepak bola melalui media mainstream. Sesuai dengan keputusan vakum yang telah saya jelaskan tadi, saya memang masih menulis sepak bola, namun dalam ruang lingkup yang lebih kecil, dalam kesunyian yang saya sukai, dan pada waktu-waktu yang saya inginkan saja. Total freedom. Haha.


Ciao!

Thursday, April 16, 2015

Danny, Si Nomor 10 Klasik

Tulisan ini adalah tulisan saya di website lama Football Fandom. Diedit seperlunya untuk saya jadikan arsip.
***
Daniel Miguel Alves Gomes, atau cukup disebut Danny mungkin bukanlah seorang pesepak bola yang berada pada jajaran first string, dan mungkin ia tidak akan pernah berada di sana. Mengapa demikian? Selain tidak bermain di klub top yang juga bermain di liga top Eropa, usia gelandang serang ini juga sudah mencapai 31 tahun, yang berarti sudah tidak memungkinkan lagi untuk berkembang lebih jauh.
Namun demikian, terdapat sebuah alasan lagi mengapa Danny tidak dapat berkembang menjadi pemain berkelas dunia. Apa lagi jika bukan gayanya dalam bermain. Ya, Danny adalah satu dari sedikit gelandang nomor 10 klasik yang tersisa saat sepak bola hanya menyisakan ruang yang kecil untuk berkreasi di lapangan.
Menyaksikan Danny bermain seperti halnya menyaksikan pertandingan sepak bola 14 tahun silam. Saat itu, empat tim terbaik Eropa memiliki Zinedine Zidane, Francesco Totti, Rui Costa dan Dennis Bergkamp sebagai orang yang berdiri di belakang dua penyerang tengah dalam semifinal Piala Eropa tahun 2000.
Danny memiliki perjalanan karir yang cukup unik. Sejak usia 22 tahun, ia sudah meramaikan Liga Rusia, bahkan sebelum liga ini diramaikan oleh para miliarder. Dynamo Moskow adalah klub pertamanya di negeri Beruang Merah saat ia bergabung tahun 2005. Seiring ambisi besar Zenit, Danny kemudian diajak bergabung tahun 2008. Bersama Zenit, Danny kemudian meraih sebuah Piala Super Eropa, sebuah Piala Rusia, dua Liga Rusia dan sebuah Piala Super Rusia.
Memang Danny tidak memiliki beberapa atribut wajib ala enganche seperti la pausa atau pause –berhenti sejenak untuk berpikir sebelum mengirim umpan atau melanjutkan dribel- layaknya Juan Roman Riquelme. Namun dengan melihat banyaknya dribel yang Danny lakukan, seringnya ia melakukan umpan terobosan dan keengganannya mengambil bola yang hilang dari penguasaan membuatnya cocok disebut sebagai sang nomor 10 klasik.
Musim lalu, Danny memiliki statistik menonjol dalam hal umpan dan dribel. 12 assist diciptakannya dalam 26 laga Russian Premier League, atau yang tertinggi bersama Ivelin Popov, gelandang Kuban Krasnodar asal Bulgaria. Ia cukup banyak melepas umpan lambung (65 kali) dan umpan terobosan (14 kali). Sementara untuk dribel, Danny mencatatkan 44 kali dribel sukses. Sebuah ciri yang menunjukkan gaya main seorang playmakerklasik.
Danny juga tidak terlalu menonjol dalam hal karir internasional. Baru 26 laga ia memperkuat Lo Seleccao sejak tahun 2008. Ia tergabung dalam skuat Portugal pada Piala Dunia 2010, namun kemudian gagal tampil di Piala Eropa tahun 2012 karena cedera. Ia juga kemudian tidak terpilih memperkuat Portugal yang berlaga di Piala Dunia 2014.
Piala Dunia 2018 nanti akan berlangsung di Rusia. Akan menjadi spesial sebetulnya jika Danny terpilih sebagai anggota skuat lalu tampil di depan publik Rusia yang selama ini mendukungnya. Meski apapun bisa terjadi, namun sepertinya hal ini sulit terealisasi lantaran Danny sudah akan berusia 35 tahun pada 2018 nanti.
Ada semacam kenikmatan tersendiri menyaksikan permainan Danny saat sepak bola era sekarang amat sulit memberi ruang pada kreativitas pemain. Danny akan tetap seperti ini hingga akhir karirnya, maka nikmati saja kebebasan dalam permainannya sebelum menyaksikan kembali para pesepak bola dengan kaki cepat dan pergerakan terukur.

Sunday, March 8, 2015

Leonid Slutsky dan Kehebatannya Yang Kurang Terdengar

Leonid Slutsky, photo from Zimbio

Malam minggu kemarin sepertinya akan menyenangkan ketika siang harinya saya bertemu teman-teman lama. Dari pertemuan tidak sengaja itu, kami sempat menyepakati acara kumpul-kumpul kecil di rumah saya. Namun karena urusan domestik rumah tangga mendadak yang tidak bisa tidak didahulukan, mereka batal datang ke rumah.

Tidak masalah, pikir saya. Toh, malam minggu ini adalah jadwalnya Liga Primer Rusia. Ya, setelah istirahat selama kurang lebih dua bulan, Liga sepak bola negara tuan rumah Piala Dunia 2018 ini kembali bergulir. Dan alangkah indahnya ketika mengetahui dimulainya kembali kompetisi musim 2014-15 ini ditandai dengan siaran langsung pertandingan antara Terek Grozny melawan CSKA Moskow, dua klub yang memang tengah tampil baik dan menduduki papan atas musim ini.

Namun hidup memang penuh kejutan, dan kejutan tidak selalu menyenangkan. Fox 2 Sports yang tadinya dijadwalkan menayangkan laga ini, tanpa alasan yang saya mengerti, tidak jadi menayangkannya. Karena malas menonton dengan media streaming, saya memutuskan untuk menonton film komedi romantis, The Other Woman, lalu dilanjut dengan menonton film yang tiba-tiba membuat banyak orang ingin bermain drum dan mendengarkan musik jazz, Whiplash.

Tidak, saya tidak ingin me-review film Whiplash, apalagi mencoba membandingkan Terence Fletcher dengan pelatih CSKA, Leonid Slutsky, misalnya, mumpung saya sedang membahas Liga Rusia. Namun sulit untuk tidak berandai-andai, apakah yang sudah dilakukan oleh seorang pecinta hamburger seperti Slutsky sehingga berhasil membawa CSKA, klub yang tentunya tidak sekaya Zenit St. Petersburg, untuk terus meramaikan papan atas Liga Rusia?

Saya mengingat ucapan Fletcher tentang filosofinya dalam melatih kepada Andrew Neiman, si drummer asuhan. Intinya adalah pimpinan band konser sekolah berkepala botak ini selalu menginginkan anak asuhannya untuk mengeluarkan kemampuan yang bahkan melebihi batasnya. Sebagai pengajar yang seakan tidak pernah puas, kegalakan dan kebengisan Fletcher memang bagaikan pisau bermata dua: bisa menjadikan anak asuhnya menjadi drummer terhebat, atau sebaliknya, keluar dari tim dan kemudian lupakan drum. Because the next Charlie Parker will never get discouraged.

Slutsky, terus terang, saya tidak tahu bagaimana gayanya melatih, apakah ia seperti Fletcher atau tidak. Apakah ia seperti Jose Mourinho, atau Pep Guardiola atau Arsene Wenger pun saya tidak yakin. Memenangi dua gelar Liga Rusia dan membawa klub pada pencapaian tertinggi di Liga Champions sepanjang sejarah keikutsertaannya tidak lantas membuatnya menjadi sorotan publik, dan membuat pencapaiannya itu tidak terlalu dibesar-besarkan. Penampilan dan pembawaan yang tidak sekeren pelatih-pelati top yang disebutkan tadi, dan fakta bahwa ia tidak berkecimpung di liga utama Eropa mungkin menjadi penyebabnya.

Hanya dua cerita mengenai dirinya yang paling terkenal, yaitu insiden terjatuh dari pohon saat ia menolong seekor kucing dan tersebarnya foto-foto saat ia membeli hamburger dalam perjalanannya menonton film di bioskop. Terjatuh dari pohon tersebut nampaknya yang lebih berpengaruh. Akibat insiden tersebut, Slutsky yang kala itu masih berusia 19 tahun dan menduduki posisi sebagai penjaga gawang klub Zvezda Gorodishche, harus merelakan karir sepak bolanya. Sepuluh tahun kemudian, barulah ia memulai karir sebagai kepelatihan di klub Olimpia Volgograd.

Kepercayaan sebagai manajer baru didapatkannya di klub FC Moskow. Di klub yang telah bubar tahun 2010 lalu dan pernah dilatih oleh Miodrag Bozovic, eks bek Pelita Jaya pada Liga Indonesia musim pertama ini, Slutsky mencatatkan rekor kemenangan yang cukup mengesankan, yaitu 44%. Pencapaian ini termasuk membawa klub yang saat masih eksis bermarkas di stadion Eduard Streltsov (berbagi dengan Torpedo Moskow) ini ke Piala Intertoto.

Petualangan mengesankan ini kemudian membawanya ke Kyrlia Sovetov, klub dari kota Samara yang dibawanya menduduki posisi ke-6 Liga Rusia tahun 2008 (saat itu Liga Rusia masih berformat tahun kalender Januari-Desember). Sebelum kompetisi tahun 2009 usai inilah Slutsky ditunjuk untuk melatih CSKA Moskow menggantikan Juande Ramos hingga sekarang.

Seperti telah disinggung, CSKA bukanlah klub kaya, namun untuk ukuran klub Rusia, juga bukanlah klub miskin. Seperti halnya klub-klub Rusia lain, Slutsky telah merasakan ‘fenomena batu loncatan’ di mana para pemain-pemain andalannya hengkang untuk bermain di liga yang lebih top. Tak terhitung nama-nama seperti Milos Krasic, Vagner Love, hingga Keisuke Honda dan baru-baru ini Seydou Doumbia sudah meninggalkan skuatnya menuju klub yang lebih besar.

Namun hebatnya Slutsky adalah kemampuannya memaksimalkan skuat yang ada, sekaligus membentuk pemain-pemain yang namanya semula tidak terlalu dikenal. Selain Doumbia, Slutsky juga telah membantu Ahmed Musa, Pontus Wernbloom, Bibras Natkho atau Roman Eremenko untuk angkat nama. Tidak cukup sampai di situ, Slutsky juga berhasil membujuk para talenta lokalnya seperti Igor Akinfeev, Alan Dzagoev, hingga trio bek Alexey dan Vasilli Berezoutsky serta Sergei Ignasevich untuk loyal kepada klub yang bermarkas di Arena Khimki ini.

Sejak dilatih pria berbadan tambun ini, CSKA tidak pernah finis di luar tiga besar Liga Rusia, dan jangan lupakan musim ini CSKA mampu mengalahkan Manchester City di City of Manchester Stadium dalam babak penyisihan Liga Champions musim ini. Meski mereka pada akhirnya menduduki juru kunci dari grup yang juga dihuni Bayern Muenchen dan AS Roma tersebut, namun lima poin yang berhasil didapat dan hanya kalah selisih sebuah gol dari Roma untuk menduduki peringkat ketiga bukanlah sesuatu yang buruk.

Prestasi tinggi meskipun berada di tengah kepungan klub-klub kaya, juga kemampuan dalam memaksimalkan skuat, mengembangkan karir pemain dan mempertahankan harmoni di tim telah berbicara lebih banyak ketimbang sekadar impresi positif dan ketenaran. Sepertinya, hanya masalah waktu saja yang akan membuat namanya sejajar dengan pelatih-pelatih top Rusia lainnya, seperti Oleg Romantsev atau Valeri Gazzaev.

Friday, February 6, 2015

Menilai Pergerakan Transfer Musim Dingin Milan

Setelah memastikan kedatangan Salvatore Bocchetti dari Spartak Moscow, Milan kemudian mengumumkan keberhasilan mereka mendatangkan penyerang Roma, Mattia Destro dengan skema pinjaman. Uang senilai 16 juta euro kemudian harus dibayarkan Milan pada akhir musim untuk menebus kepemilikan Destro secara penuh. Pada penutupan bursa transfer musim dingin, Milan kemudian mengamankan pembelian murah bek oriundo Parma, Gabriel Paletta.

Kedatangan tiga pemain ini menyusul Alessio Cerci dari Atletico Madrid dan Jesus Joaquin Fernandez Saez de la Torre atau lebih dikenal dengan  Suso dari Liverpool. Masih belum cukup, Milan telah memastikan kepulangan Luca Antonelli dari Genoa. Kedatangan Antonelli menandai pembelian Milan untuk kesekian kalinya atas pemain homegrown. Milan sempat melakukan hal ini dalam pembelian Luca Antonini, Ignazio Abate dan juga Alessandro Matri. Masih patut ditunggu akankah Milan mendatangkan Matteo Darmian dan Pierre Aubameyang, dua mantan pemain didikan akademi mereka pada saat performa dan harga keduanya berangsur turun.

Sekilas jika melihat komposisi pemain-pemain yang didatangkan, Milan seperti telah melakukan pekerjaan yang cukup bagus. Bocchetti, Paletta dan Antonelli berposisi sebagai bek tengah dan bek kiri, posisi yang kerap menjadi titik lemah yang tak kunjung diperbaiki oleh Rossoneri dalam beberapa musim terakhir. Meski bukan yang terbaik di posisi mereka, namun semestinya pengalaman mereka dapat membantu klub baru mereka meraih posisi lebih baik.

Meski demikian, ada hal yang perlu diperhatikan dari pemain-pemain baru ini. Ketiga bek yang didatangkan telah melewati permainan terbaiknya. Paletta memang salah satu bek terbaik di Seri A, namun predikat tersebut didapatnya dua musim lalu. Musim ini, Paletta berjuang amat keras mengembalikan performa terbaik seiring cedera yang sempat dialaminya dan keterpurukan Parma musim ini. Dengan keadaan ini, amat sulit bagi Paletta untuk langsung menjawab kebutuhan Milan akan seorang pemimpin di lini belakang.

Terlebih untuk Bocchetti. Ketika melakukan debut timnas Italia pada usianya ke-23 tahun 2009 lalu, pemain kelahiran Naples ini digambarkan sebagai bek masa depan Italia. Ia juga terpilih memperkuat skuat Gli Azzurri di Piala Dunia 2010 arahan Marcello Lippi. Talenta Bocchetti menarik perhatian Rubin Kazan, klub Rusia yang sempat rutin tampil di kompetisi antarklub Eropa. Di bawah arahan Kurban Bardiyev, Bocchetti tampil reguler untuk Kazan, namun ternyata kepergiannya ke Rusia membuatnya kurang terpantau. Cesare Prandelli, pengganti Lippi di timnas Italia pun memalingkan pandangannya.

Tiga tahun di Kazan, pemain yang mengawali karir di klub Ascoli ini kemudian pindah ke ibukota. ‘The people’s club’ Spartak Moscow menjadi pelabuhan berikutnya, namun sayangnya rangkaian cedera lutut menyebabkan penurunan performa sang pemain. Ia gagal menembus skuat utama dan hanya bermain sebanyak 25 kali dalam dua tahun terakhir bersama Spartak.

Lalu beranjak ke lini serang, ada Cerci, Suso dan Destro. Cerci, sebagaimana diketahui hanya tampil sebanyak enam kali sebagai pemain pengganti tanpa torehan gol di kompetisi La Liga bersama Atletico Madrid. Kesulitan dalam beradaptasi dan masalah kedisiplinan karena tidak mampu menjaga berat badan membuat berang pelatih Diego Simeone sehingga tidak ada tempat bagi Cerci di skuatnya. Apakah Cerci bisa bersinar seperti musim lalu di Torino? Masih sulit untuk dijawab, namun jelas tantangan Cerci lebih besar di Milan lantaran Milan bukanlah Torino yang menjadikannya pusat permainan.

Bagaimana dengan Suso dan Destro? Dua pemain ini memiliki beberapa kesamaan, yaitu bertalenta besar namun kurang mendapat kepercayaan klub lamanya. Suso tercatat hanya 14 kali memperkuat Liverpool selama dua setengah musim. Musim lalu, pemain kelahiran Cadiz ini sebetulnya tampil cukup mengesankan kala dipinjamkan ke Almeria. Suso tampil sebanyak 33 kali dan mencetak 3 gol yang membantu klub asal Andalusia ini bertahan di kompetisi La Liga. Namun sekembalinya ke Liverpool, pelatih Brendan Rodgers tidak kunjung memberinya menit bermain yang dibutuhkan.

Talenta besar Suso bukanlah dongeng semata. Pemilik kaki kiri berbahaya ini telah memperkuat timnas yunior Spanyol dalam lima jenjang, yaitu U-17 hingga U-21. Hanya pengalaman timnas senior yang belum dicicipinya. Jika dimanfaatkan dengan benar, Milan jelas beruntung mendapatkan Suso, terlebih secara gratis. Meski demikian Milan perlu mewaspadai catatan negatif pemain-pemain asal Spanyol yang pernah memperkuat tim mereka. Jose Mari Romero, Javi Moreno dan terakhir Fernando Torres adalah penggawa tim matador yang gagal memberi impresi positif untuk Milan.

Mirip dengan Suso, Destro adalah penyerang tengah tajam yang sempat dikaitkan dengan Real Madrid dan Chelsea pada musim panas lalu. Milan juga hendak membelinya, namun gagal memenuhi permintaan harga yang diajukan Roma. Dalam kemampuan terbaik, Destro adalah penyerang komplet yang memiliki ketajaman, kecepatan dan tehnik yang istimewa. Torehan 13 golnya musim lalu meskipun tidak selalu menghuni starting eleven adalah bukti kehebatannya.

Kondisi finansial Milan memang membuat mereka tidak leluasa bergerak di bursa transfer. Dilihat dari pemain-pemain yang didapat, Milan memang mendapatkan pemain-pemain yang diinginkan, namun belum tentu dibutuhkan. Mereka yang datang bukanlah sosok pemain yang tengah berada pada kondisi puncak, melainkan mereka yang telah melewatinya hingga kemudian harga mereka berangsur affordable untuk Milan.

Pendek kata, jangan terlalu banyak berharap.

Friday, December 26, 2014

5 Pertandingan Sepak Bola Kanak-Kanak Paling Mengesankan

Waktu masih sering main bola, posisi favorit gue ada 3, yaitu penyerang kedua, trequartista dan penyerang tengah. Gue sangat suka mencetak gol, dan posisi-posisi itu memungkinkan gue mencapai tujuan itu. Pernah juga gue bermain sebagai sayap kiri, tapi penempatan itu lebih karena teman-teman satu tim melihat gue memiliki lari yang cepat dan fasih menendang dengan kaki kiri. Sesuai lah dengan taktik sepak bola masa itu.

Beberapa pesepak bola dengan kategori ‘pemikir sejati’ mungkin akan menganggap visi gue dangkal, karena hanya memikirkan gol. Tapi setidaknya berkat gol-gol yang pernah gue ciptakan, tercipta kenangan-kenangan yang begitu membekas. Jika saja dulu sudah ada ponsel kamera, mungkin gue bisa mengunggah saja videonya ketimbang bercerita seperti ini. Kenangan-kenangan indah di berbagai jenis lapangan (rumput asli, rumput sintetis, tanah merah, pasir, semen halus, semen kasar) bisa gue gambarkan dalam lima laga paling berkesan yang pernah gue jalani.

5. 2-3 vs IPS-2 (Classmeeting SMA 1 Depok)
Jaman SMA dulu, sepak bola mini adalah ajang yang paling bergengsi di ajang classmeeting sekolah. Pas duduk di kelas dua, undian mempertemukan kelas gue dengan salah satu tim kuat kelas 3, yaitu anak-anak IPS-2. Jaman gue dulu sih, anak IPS itu identik dengan anak-anak yang prestasinya kalah mentereng dibandingkan dengan anak IPA. Untuk itulah para jagoan bola yang umumnya gak memikirkan prestasi akademik duduk di kelas IPS. Dan kelas IPS-2 ini memiliki beberapa pemain yang memang skillnya bagus.

Semalam sebelum pertandingan, sayangnya gue dan teman-teman harus begadang mengerjakan tugas makalah. Jaman dulu, jarang yang punya komputer. Gue beruntung menjadi salah satu anak yang punya, dan jadilah rumah gue dijadikan base camp setiap kali ada tugas seperti ini. Ngerjain tugasnya sih sebentar, tapi main-main dan ngobrolnya yang lama. Alhasil, kami begadang sampai pagi. Ada yang main PS, main game di komputer, main gitar, main kartu, sampai ada yang curhat segala. Dalam kelompok tugas, sebagian besarnya adalah anggota tim sepak bola. Jadilah kami bertanding layaknya zombie pada keesokan harinya.

Meriahnya atmosfer pertandingan membuat mata kantuk kami terbelalak. Tidak ada rasa capai, lelah, apalagi mengantuk. Laga tensi tinggi pun kami jalani, karena senior-senior ini memang amat bernafsu mengalahkan juniornya. Gue bukanlah pemain yang percaya diri, karena itu butuh waktu buat gue agar bisa nge-grip dengan pertandingan. Sempat beberapa kali kontrol gue gak sempurna, dan umpan-umpan juga kerap salah.

Tapi sekalinya udah panas, gue menjadi sangat menyatu, dan ternyata cukup mampu menjadi katalis performa tim. Pemantik itu semua adalah tendangan keras gue yang membentur mistar gawang. Gue dan teman-teman melihat jelas bola itu udah melewati garis gawang. Tapi karena bola kembali ke luar garis dan kiper lawan menangkapnya, wasit urung mengesahkan gol itu.

Kampret.

Mereka lalu unggul lewat sebuah skema serangan balik hingga turun minum.

Gue dan teman-teman gak menyerah. Berposisi di belakang dua penyerang, gue terus berusaha menerobos kukuhnya pertahanan lawan. Beberapa peluang berhasil diciptakan, dan salah satunya berbuah gol lewat seorang teman. Pendukung pun bergemuruh, suasana makin panas layaknya pertandingan sepak bola beneran. Laga berakhir seri pada waktu normal, lalu dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Extra time ini menggunakan sistem sudden death. Sialnya, kiper tim gue emang sangat grogian. Upayanya meninju bola hasil lemparan ke dalam malah masuk ke gawang sendiri. Bitter. Pait banget. Kami semua gak percaya dengan yang baru terjadi. Lawan pun bersorak girang bercampur lega. Kiper lawan pun menghampiri lalu menyelamati gue sambil bilang “Sorry ya, tendangan lo tadi memang udah gol.”

Setelah itu, gue dibelikan minuman oleh cewek-cewek :)

4. IPA-4 vs IPS-1 (Liga Kelas 3, SMA 1 Depok)
Seperti yang gue bilang, kelas IPS memang megang banget dalam urusan persepak bolaan sekolah. Kelas IPS-1 di angkatan gue pas kelas 3 ini berisi ‘The Dream Team’ dalam skala SMA kami. Pemain-pemain handal berkumpul di situ. Mereka bahkan lebih cocok untuk menjadi pemain bola beneran.

Ini adalah sebuah laga dalam liga kelas 3 yang kami buat menjelang ujian. Hal ini sekaligus menunjukkan betapa bahagianya masa SMA kami dulu yang gak ada ujian penentuan kelulusan. Buktinya, udah mau lulus aja masih bisa bikin liga sepak bola. Kelas gue, IPA-4 bertemu dengan kelas The Dream Team itu dalam sebuah laga yang di mana kelas kami semestinya menjadi bulan-bulanan.

Bayangan akan bully dari lawan semakin jelas saat laga baru berjalan beberapa menit, penyerang andalan IPS-1 yang terkenal dengan tendangan kerasnya berhasil membobol gawang kami. “Dengarkan jeritannya!” seru salah seorang pemain IPS-1 ketika gol tersebut tercipta.

Tapi gue sedang menjalani hari yang indah saat itu. Gak sampai tiga menit, gue udah membalas gol itu. Bola berhasil gue curi dari bek tangguh lawan, lalu gue giring dengan cepat dan gue tendang sekeras-kerasnya. Gol.

Wajah mereka berubah menjadi tegang. Laga yang semula menjadi milik mereka, berubah menjadi imbang. Gue yang tadinya gak terlalu diperhatikan lawan, mendadak dijaga ketat. Gol tadi memang mengubah segalanya. Kami berhasil memaksa tim hebat bermain kagok.
Laga hampir berakhir imbang ketika kelas kami dihukum tendangan bebas. Tendangan pun diambil, dan kiper gue gagal mengantisipasi bola yang sebetulnya pelan. Lagi-lagi bitter, dan kelas gue kalah.

Tapi gue memiliki kesan tersendiri untuk laga barusan. Seusai pertandingan, sang andalan lawan menghampiri gue dengan bilang bahwa gue bermain baik dan berhasil membuat mereka kesulitan.

3. 2-4 vs 2-6 (Pertandingan Antarkelas, SMP 2 Depok)
Ini adalah pertandingan perdana gue di jenjang SMP. Waktu SMP dulu, gue cukup jadi korban bully lantaran badan gue yang pendek, kecil dan gaya gue yang cenderung culun. Bukan gaya yang dilirik cewek-cewek saat itu lah. Beda sama mereka-mereka anak basket yang gayanya (dan sepatunya) keren. Jadi, kalo ada pertandingan sepak bola, gue gak pernah diajak. Gak ada yang mengira anak seculun ini bisa main bola.

Tapi, saat pembuktian itu akhirnya tiba. Beberapa anak yang jago bola itu memilih main basket (yang banyak ditonton cewek-cewek), padahal di saat bersamaan ada jadwal tanding sepak bola antarkelas. Gue pun diajak main dengan alasan kurang orang.

“Elu main jadi bek aja ya. Kalo ada bola, elu buang aja jauh-jauh sekuat tenaga.” 

“Nanti kalo elu dapet bola, langsung aja oper ke gua daripada elu bingung.”

“Kalo gak kuat, bilang aja ya, nanti bisa digantiin yang lain.”

Tuh kan, betapa gue dianggap sebagai anak laki-laki lemah yang berkebutuhan khusus.

Pertandingan berjalan, dan tim kami terus kebobolan. Gue memang gak seneng jadi bek, jadilah gue sering kalah duel dengan penyerang-penyerang lawan. Performa gelandang dan penyerang-penyerang gue amat memprihatinkan. Gak tajam dan lesu darah. Gue gemes melihat itu semua, dan kemudian maju meninggalkan pos di belakang. Bola berhasil gue kuasai, lalu umpan gue kirim ke sisi lapangan. Dari situ, serangan diolah dan gue kemudian mendapat umpan tarik yang gue selesaikan dengan tendangan kaki kiri yang keras. Gol.

Bukan hanya lawan yang terkejut, tapi ternyata teman-teman gue ikut terperangah. Lha, mereka kan belum pernah melihat gue main bola, dan mereka udah punya mindset untuk menganggap gue sebagai ‘anak bawang’. 

Sekarang gue tunjukin kalo elu bawangnya, dan gue ulekannya. Hahaha.

Satu gol belum cukup bikin puas. Sebuah solo run gue lakukan yang gue akhiri dengan tendangan keras yang juga berbuah gol. Dan menjelang laga usai, gue memberi assist untuk seorang rekan. Pertandingan selesai dan kami memang kalah, tapi pertandingan itu mengubah masa-masa sekolah gue.

“Gak nyangka gue, ternyata elu bisa juga ya main bola!” kata seorang teman.

Berakhir sudah era dianggap enteng dan gue secara informal diterima dalam pergaulan. 

2. Deloitte vs KPMG (BIG 4 Accounting Firm friendly match)
Sewaktu masih sibuk berat di Deloitte, gue masih menyempatkan diri main bola, walaupun hanya di lapangan rumput sintetis. Ada masa di mana kami terus menantang sesama firma akunting Big Four untuk bermain bola, dan kami selalu menang dalam laga informal itu. 

Salah satu yang berkesan buat gue adalah saat menghadapi KPMG.

Pertandingan itu adalah salah satu pertandingan di mana gue berhasil mencetak gol dalam setiap percobaan tendangan yang gue lakukan. Posisi gue waktu itu adalah penyerang tengah. Classic number nine poacher.

Entah berapa gol yang gue bikin dalam pertandingan itu, gue sendiri sampai lupa. Yang jelas, waktu itu gue berhasil mencetak gol dalam berbagai posisi, berbagai cara. Sundulan, tendangan keras, tendangan bebas, bola muntah. Dengan kaki kanan dan kiri. Dalam salah satu gol yang gue bikin, temen gue sampai bilang “Gila lu ya, mau nendang dari manapun bisa gol”

1. Tim Angkatan Jurusan vs Alumni (Final Pekan Olahraga Jurusan)
Jaman kuliah dulu pernah ada slogan “Jangan sampai kuliah ngeganggu bola” seakan menunjukkan fanatisme jurusan kami akan olahraga ini. Banyak laga seru dan panas tercipta, tapi buat gue sendiri sih, gak ada yang lebih berkesan dari laga ini.

Laga final ini berlangsung saat gue ada jadwal kuliah. Karena gue menjadi kordinator kelas, gue gak bisa bolos, dan sialnya pertandingan tetap berjalan tanpa gue (ya iyalah). Gue pun ketinggalan satu babak di mana tim gue tertinggal satu gol.

Saat gue bergegas menuju lapangan, baru sadar kalau gak bawa celana pendek. Akhirnya gue tetap memakai celana jeans yang digulung. Untung aja pertandingan ini gak resmi-resmi amat, jadinya gue tetap diperbolehkan main. Skor kemudian berubah satu sama ketika seorang teman gue mencetak gol penyeimbang. Setelah itu, laga berlangsung amat seru.

Pertandingan itu seolah seperti menjadi milik gue. Langkah lebih ringan dari biasanya, dan umpan-umpan gue begitu akurat saat itu. Memang magical moment benar adanya. Saat laga sudah mau habis, gue yang berdiri agak jauh dari kotak penalti mendapatkan bola liar. Setelah gue kontrol, seorang teman meminta bola itu dioper kepadanya, tapi insting gue bilang untuk menembak langsung aja.

Kali ini, gue mengikuti insting. Begitu berada di sudut yang tepat, bola gue hajar keras dengan kaki kanan. Cukup tinggi untuk menjauhi jangkauan kiper, namun bola bergerak parabolik untuk menukik tepat ke arah pojok kiri atas gawang. Gol.

Dalam kondisi normal, mungkin akan sulit buat gue mengulangi tendangan tadi. Penyerang Italia Raimondo Orsi pun pernah mengalami momen serupa saat final Piala Dunia 1934 menghadapi Cekoslowakia. Saat itu, ia melepas tendangan voli dari angle yang sulit, namun berhasil berbuah gol penyama kedudukan. Ketika wartawan memintanya mengulangi gerakan tendangannya dalam sebuah wawancara, Orsi pun tidak mampu melakukannya. Tentu apa yang dilakukan Orsi memiliki skala yang jauh lebih besar, tapi setidaknya banyak kesamaan yang tercipta antara momen gue dan Orsi.

Ya begitulah sepak bola. Ia memiliki momen ajaib yang sulit terjadi dalam situasi normal. Dalam pertandingan, kita kadang seperti menjadi orang lain, padahal itu adalah versi terbaik dari diri kita. Sepak bola mampu mengaduk-aduk emosi dan membawa pelakunya seakan menuju dimensi yang berbeda. Padahal tidak sama sekali. Ilusi-ilusi seperti inilah yang tampaknya jarang gue alami ketika melakukan kegiatan lain.

Sepak bola buat gue udah seperti gambaran hidup. Kadang senang kadang sedih. Sepak bola juga seperti sosok kakak yang membela adiknya yang di-bully teman-temannya.
Selang beberapa waktu kemudian, sepak bola hadir dalam bentuk tulisan. Gue yang berpikir bisa sedikit menulis, kemudian memberanikan diri untuk tercebur dalam belantara dunia tulis menulis. Banyak hal menyenangkan, tapi tidak sedikit juga yang tidak menyenangkan. Sekarang gue memilih untuk vakum sejenak untuk menulis secara komersil, dan kembali ngeblog sendiri.

Anyway, itulah cerita pertandingan-pertandingan berkesan buat gue, si penggemar sepak bola yang gagal jadi pesepak bola profesional, dan masih jauh juga dari kata penulis profesional. Dan akhirnya gak jadi penulis profesional juga sih. Sekarang, sayangnya gue udah jarang bermain sepak bola. Ada rasa kehilangan yang amat sangat akan sebuah momen ajaib dan momen-momen menyenangkan yang hanya bisa terjadi di lapangan.

Saat permainan sepak bola remeh temeh sudah berubah menjadi semakin komersil, yang ditunjukkan dengan tarif mahal lapangan futsal, harga sepatu dan jersey yang juga semakin gak masuk akal, dan waktu luang yang semakin sedikit, memang tidak bisa dipungkiri lagi jika bermain sepak bola adalah hal yang kini teramat mewah.


Friday, December 5, 2014

Bibras Natkho, Gelandang Komplet Yang Underrated

Foto: Sports.ru
Selalu menarik ketika membahas pemain-pemain yang produktif mencetak gol meski tidak berposisi sebagai penyerang. Yaya Toure dan Frank Lampard adalah contoh gelandang yang mampu mencetak lebih dari 20 gol dalam semusim dan termasuk dalam kriteria tersebut. Kita juga mengenal Marco Materazzi, mantan penggawa timnas Italia yang semasa bermainnya pernah dua kali mencetak dua digit gol salam semusim. Capaian tersebut jelas menarik karena sejatinya mencetak gol bukanlah tugas utama mereka di lapangan.

Di kompetisi Liga Primer Rusia kini, terdapat pemain yang berpotensi menghadirkan cerita seperti pemain-pemain tadi. Seorang gelandang bertahan asal klub CSKA Moskow bernama Bibras Natkho adalah pemain yang dimaksud.

Natkho menjadi buah bibir kala berhasil mencetak hat-trick ke gawang FK Rostov pada sebuah laga kompetisi domestik, Agustus silam. Namun torehan ini masih belum seberapa lantaran gelandang asal Israel ini mampu mempertahankan ketajaman hingga kini berhasil mencetak delapan gol di Liga Primer Rusia. Jumlah golnya untuk sementara ini mampu melampaui rekan-rekan setimnya seperti Ahmed Musa, Seydou Doumbia maupun Zoran Tosic yang notabene berposisi sebagai penyerang atau pemain sayap. Bahkan jika berbicara level kompetisi domestik, jumlah gol Natkho sejauh ini hanya mampu disamai penyerang subur Zenit St Petersburg asal Brasil, Hulk.

Kontribusi berupa produktivitas gol Natkho tentu terbilang mengejutkan. Gelandang berusia 26 tahun ini adalah pendatang baru di skuat CSKA arahan Leonid Slutsky, di mana ia harus bersaing dengan nama-nama yang lebih tenar seperti Pontus Wernbloom, Rasmus Elm, Roman Eremenko, Giorgi Milanov, hingga sang idola publik, Alan Dzagoev.

Kemahirannya dalam bertahan memberikan keuntungan. Dalam skema 4-2-3-1 yang menjadi andalan Slutsky, keberadaan seorang gelandang dengan naluri bertahan mutlak dibutuhkan. Cederanya Elm juga turut berperan bagi pembuktian kualitas Natkho, sehingga waktu bermain didapatkannya. Kini, Slutsky dapat menempatkannya dengan siapapun, baik dengan Wernbloom, Eremenko maupun belakangan ini dengan Dzagoev. Bersama Natkho di pusat permainan, CSKA pun menjelma sebagai tim yang amat menonjol dalam penguasaan bola, akurasi umpan, hingga jumlah tembakan ke gawang lawan. Situs Whoscored menempatkannya pada urutan teratas dalam dua aspek, yaitu akurasi umpan dan tembakan ke gawang lawan, dan berada di urutan kedua dalam hal rataan penguasaan bola di Liga Primer Rusia.

Sebagai bagian dari ruang mesin CSKA, pemain yang juga seorang Muslim ini tidak hanya menonjol dalam bertahan. Natkho juga memiliki kemampuan yang cukup apik sebagai pengatur serangan dan juga sebagai pengumpan. Dengan visi yang baik, ia juga kerap mengirim umpan-umpan diagonal kepada Tosic, Musa maupun Milanov yang kerap beroperasi di sayap. Berbekal kemampuannya ini, Natkho juga telah membukukan empat assist. Jumlah ini sekaligus yang terbanyak di CSKA sejauh ini.

Dengan catatan-catatan impresif ini, maka tidaklah terlalu berlebihan jika menyebut Natkho adalah salah satu pemain paling underrated di Eropa. Kemampuannya yang lengkap adalah asetnya yang teramat besar untuk diabaikan. Ditambah lagi, fakta bahwa CSKA mendatangkannya dari PAOK Saloniki tanpa mengeluarkan uang transfer sepeserpun, membuatnya layak dikedepankan sebagai salah satu pembelian terbaik.

Fakta statistik yang tak terbantahkan ini sebetulnya juga tidak teramat mengejutkan jika melihat sepak terjang pemain bernomor punggung 66 ini. Natkho sudah terpilih memperkuat timnas Israel dalam berbagai kelompok umur -termasuk menjadi kapten tim U-19- dan hingga kini pun ia masih menjadi andalan timnas senior. Artinya, Natkho memang pemain dengan kelas internasional. Bukan karir internasional biasa pula mengingat ia menjadi minoritas Muslim dalam skuat yang didominasi pemain beragama Yahudi.

Keberhasilan Natkho menembus skuat Israel dan hingga kini menjadi andalan juga menghadirkan kisah tersendiri. Kakek buyutnya berasal dari Karachay-Cherkessia, wilayah utara pegunungan Kaukasus yang berbatasan dengan Georgia, yang juga masih menjadi bagian dari negara Rusia. Penduduk asli wilayah ini sering disebut sebagai Circassian. Sang kakek buyut bersama para Muslim lainnya melakukan emigrasi ke wilayah Turki pada pertengahan abad ke-19 sebelum kembali berpindah ke Kfar Kama, wilayah Israel utara (yang sempat menjadi wilayah Palestina).

Di kota inilah Natkho lahir, lalu kemudian tumbuh sebagai pesepak bola. Karir yuniornya dihabiskan di klub Hapoel Tel Aviv, di mana ia kemudian memulai debut tim senior musim 2006-07 bersama Ben Sahar, penyerang yang sempat bermain di Chelsea. Total, ia bermain sebanyak 147 kali untuk Hapoel, termasuk beberapa performa di kompetisi antarklub Eropa. Performa gemilang ini kemudian membawanya ke Rusia di mana Rubin Kazan menjadi destinasi selanjutnya. Di Kazan, ia menjadi pemain andalan dan bermain selama empat musim sebelum hijrah ke PAOK. Semasa bermain di klub wilayah selatan Rusia tersebut, harga pemain ini sempat menyentuh 12 juta euro menurut situs Transfermarkt, menandakan bahwa ia bukanlah pemain dengan kelas medioker.

Seperti dikutip dari situs Russianfootballnews, darah olahraga memang mengalir deras dari keluarga besarnya. Adam, salah satu kerabatnya pernah bermain untuk klub Kuban Krasnodar dan Druzhba-Maikop. Ia juga memiliki sepupu bernama Nili Natkho, seorang mantan pebasket yang tewas dalam kecelakaan mobil tahun 2004 silam.

Beberapa kalangan menjuluki Natkho dengan fantastis, yaitu Xavi dari Circassian. Bukan julukan sembarangan lantaran merujuk pada playmaker Barcelona, Xavi Hernandez. Meskipun memiliki kemiripan dalam beberapa aspek teknis, tentu saja Xavi berada beberapa level di atas Natkho jika dilihat dari pengalaman maupun pencapaian. Natkho juga belum teramat teruji lantaran belum pernah bermain di liga top Eropa. Namun dengan menjadi pemain kunci di sebuah tim papan atas Rusia, jalan menuju pengembangan karir jelas terbuka lebar untuknya.