Pages

Thursday, May 3, 2012

Persib Go Public, gerbang menuju industrialisasi sepakbola Indonesia


Dalam permainan sepakbola, ide-ide kreatif banyak digunakan dalam upaya memenangkan pertandingan. Terutama jika menghadapi lawan yang super defensif, perlu dilakukan upaya yang diluar kebiasaan, karena upaya-upaya serangan yang sudah menjadi ciri khas tim akan mudah terbaca dan sudah pasti mudah diantisipasi. Dan upaya tersebut harus dicoba tanpa kenal lelah hingga pertandingan benar-benar berakhir.

Adanya pertaruhan menang dan kalah akan membuat sebuah pertandingan menjadi seru, ketimbang tidak ada pertaruhan sama sekali, yang justru akan membuat kita berpuas diri dan menanggalkan tanggung jawab.

Sebuah terobosan dilakukan oleh salah satu klub besar sepakbola Indonesia, Persib Bandung. Persib melangkah maju dibanding klub lainnya dengan rencana Go Public mereka. Dengan demikian, Persib menjadi klub pertama yang memperdagangkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di Indonesia, dunia olahraga secara umum dan bisnis selama ini belumlah menjadi sahabat karib. Olahraga hanyalah dipandang sebagai kegiatan pengisi waktu luang. Begitupun pelaku olahraga, mereka belum mendapatkan pengakuan yang sepantasnya mereka dapatkan. Prestasi? Anda semua lebih tahu tentang hal ini. Tidak salah jika dunia bisnis memandang penuh keraguan saat Persib mengumumkan rencana besar ini.

Entah bagaimana mekanisme Initial Public Offering (IPO) yang akan terjadi jika rencana ini menjadi kenyataan. Siapa yang berminat membeli saham sebuah klub sepakbola? Para loyalis Persib yang memiliki kekayaan sekaligus kecintaan terhadap klub berjulukan Maung Bandung ini pasti tidaklah keberatan untuk membeli sahamnya. Namun bagaimana pelaku pasar modal akan memandang fenomena ini?

Saya bukanlah orang yang ahli di bidang pasar modal. Namun para pelaku perdagangan surat berharga ini memiliki banyak pertimbangan dalam menginvestasikan uang mereka. Mereka tidak akan sembarangan membeli saham. Apakah parameter kesuksesan sebuh klub sepakbola dari kacamata bisnis? Apakah posisi laba/rugi dalam laporan keuangan? Apakah cash-flow? Belum jelas. Para pelaku pasar modal umumnya tertarik dengan dinamika tinggi (volatility) yang terjadi di perdagangan saham. Analisa pasar modal yang kompleks menemukan median penyalurnya dalam bentuk volatilitas sebuah harga saham.

Bagaimana dengan sepakbola? Sepakbola bukanlah komoditi yang nilainya fluktuatif layaknya barang tambang. Tidak ada tolok ukur yang jelas dalam mengukur profitabilitas sebuah klub sepakbola, terutama jika berbicara tentang sepakbola Indonesia.

Kondisi sepakbola Indonesia yang masih carut marut, tentunya akan menambah keraguan para pelaku bisnis untuk melirik dunia mereka. Lain halnya dengan klub-klub sepakbola eropa yang memiliki penghasilan sangat tinggi dan reputasi yang mendunia, serta ditopang sistem persepakbolaan yang sudah rapi dan sehat.

Namun apresiasi tinggi patut kita tujukan kepada Persib. Jika mereka memang lolos verifikasi dan akhirnya mampu menjadi klub sepakbola Indonesia pertama yang listed di BEI, mereka telah lulus tes sebagai klub yang pengelolaannya profesional.

Persyaratan yang tidak mudah seperti penggunaan sistem akuntansi yang sesuai dengan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) plus audit dari kantor akuntan publik, pemenuhan kewajiban perpajakan yang sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan, proses audit dari Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga keuangan (BAPEPAM-LK) dan lain-lain akan menguji kepantasan mereka untuk memperdagangkan sahamnya di BEI.

Langkah maju ini tentu harus didukung oleh semua kalangan. Dapat dikatakan bahwa inilah salah satu cara terbaik untuk memasukkan sepakbola ke koridor profesionalisme. Langkah Persib jika sukses akan diikuti klub lainnya, sehingga sepakbola dan bisnis dapat bersinergi untuk membentuk industrialisasi sepakbola yang akan menguntungkan sepakbola itu sendiri.

Dengan menjadi perusahaan terbuka, tentunya ada tanggung jawab besar bagi stakeholder klub, bukan hanya pengurus atau pelatih dan pemain, tapi juga suporter. Pengurus tentu akan makin cermat dalam pengambilan keputusan menyangkut klub, karena ada unsur kepemilikan publik yang harus mereka jaga disana.

Penggemar juga akan ikut memiliki klub kesayangan mereka. Dengan demikian, mereka juga akan bertindak secara positif agar harga saham tidak jatuh. Ada pertaruhan yang akan memaksa mereka untuk taat pada aturan main. Bisa menjadi solusi yang produktif dalam rangka pengembangan peran dari suporter.

Semoga hal ini bisa menjadi gerbang bagi peletakan sepakbola Indonesia di koridor profesionalisme yang tidak hanya sekedar menjadi slogan. Suporter, kini Anda bisa menjadi bagian langsung dari klub favorit Anda.

2 comments:

  1. bagus mas tulisannya. orang depok juga ya? gw juga pengen banget nonton persikad maen di merpati cuma belom kesampean. kalo ada tanding lagi kabar2in ya. salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mas, iya nih udah 20 taun di depok tapi baru sekarang2 ini aja merhatiin Persikad. Oke sampe ketemu di Merpati.

      Delete