Pages

Tuesday, December 31, 2019

Dekade Anak Bola Twitter

Di penghujung tahun yang kata orang-orang merupakan penghujung dekade 2010an ini, gue ingin merangkum sedikit saja perjalanan dalam kegiatan penulisan sepak bola. Dari kegiatan sederhana ini, sudah lumayan banyak yang bisa diceritakan. Gue sengaja menuliskannya di blog ini, karena memang segalanya berawal di sini. Kemudian belajar, berproses, berlari, mengerem, berhenti, menemui jalan buntu, memutar balik, mencari jalan lain, belok lagi, hingga akhirnya gue memiliki sedikit waktu untuk sekadar memarkir. Tidak boleh terlalu lama, seperti halnya ketika kita memarkir kendaraan di wilayah rest area.

Gue bukan penulis yang "penulis banget". Maksudnya, gue baru suka menulis itu setelah gue dewasa. Udah jadi pegawai kantoran. Bukan seperti penulis yang seperti sudah "dilahirkan untuk menulis", yang sudah sedari kecil suka menulis, mencorat-coret tembok, hingga memenangkan berbagai lomba cerita pendek atau karya tulis. 

Gue juga bukan pembaca buku yang lahap. Waktu masih sekolah, yang kebanyakan gue baca adalah tabloid Bola dan komik Doraemon. Kalau sedang tidak membaca keduanya, kadang gue suka sok-sokan membaca novel, tapi ya terbatas. Paling-paling, gue hanya menamatkan beberapa novel Dan Brown atau novel Lupus. Jadinya, gue gak pernah merasa punya kapasitas untuk menjadi penulis, karena perjalanan seorang penulis umumnya berangkat dari kebiasaan membaca yang begitu eksesif.

Tapi memang jalan hidup serba tidak terduga. Berawal dari keisengan belaka dalam menulis di buku harian digital yang dikenal dengan blog, gue mulai rajin menuangkan pikiran-pikiran sederhana ke dalam laman Blogpost ataupun Wordpress. Multiply dan fitur notes dalam Facebook juga sempat gue coba. 

Dan ketika gue tengok lagi tulisan-tulisan lama yang masih tersisa satu-dua itu, gue pun dibuat geli. Bahkan ketika diri gue yang sekarang membaca tulisan yang gue tulis tiga tahun silam, gue pun merasa geli sendiri. Mungkin ini pertanda makin berkurangnya keinginan untuk mengekspresikan diri, alias udah merasa tua.

Ini sebetulnya sudah pernah gue ceritakan. Awalnya, gue hanya menulis untuk diri sendiri. Tulisan asal yang sama sekali tidak memerhatikan ejaan yang benar, pengaturan kalimat-kalimat yang enak dibaca, ataupun data-data yang dipakai untuk mendukung argumen. 

Namun seorang kawan yang ternyata suka membaca tulisan gue, menyarankan untuk menyebarkan naskah-naskah yang udah gue bikin ini ke media yang lebih luas. Lalu gue juga disarankannya untuk mengikuti akun-akun dari para penulis yang sudah lebih dahulu mengangkasa. Mulailah dari situlah gue belajar menulis dengan benar, yang tidak lupa pula diikuti dengan melahap bacaan yang mereka baca.

Singkat cerita, gue pun berkesempatan untuk berinteraksi, berkomunikasi, bahkan berkolaborasi dengan orang-orang yang tadinya hanya bisa gue kagumi dari linimasa media sosial itu. Semuanya berawal dari blog ini, ketika gue dengan penuh harapnya membagikan tautan tulisan-tulisan yang sekarang gue sendiri geli membacanya. Bayangkan, tulisan-tulisan itu pernah juga dibaca oleh para idola. Jadi malu sendiri.

Namun demikian, pada dasarnya memang gue orangnya yang gampangan dan mau-an. Ketika ditawari menulis dan menerbitkan buku hasil tulisan sendiri, gue pun mau aja. Sampai dua kali pula. Saat itu sih gue merasa bangga, tapi kalau sekarang ini gue baca kembali buku-buku yang gue tulis itu, gue pun merasa geli sendiri. Ngapain sih nulis-nulis seperti ini, dijadikan buku pula.

Dari nulis buku, gue pun beralih. Baca tulisan sendiri ini aja udah geli, eh gue malah merambah ke medium podcast.

Percayalah, pada awalnya, mendengar suara sendiri lebih terasa menggelikan ketimbang membaca tulisan sendiri.

Dan semuanya berlalu dengan cepat. Dari semula diajak untuk mengisi channel podcast seorang teman, gue pun memberanikan diri untuk membuat channel sendiri. Siapa juga sih yang mau dengerin? Gue juga awalnya berpikir begitu.

Tapi lama kelamaan, seluruh medium yang pernah gue jajaki untuk menampung ekspresi ini telah berubah menjadi semacam kotak memori. Memang, setiap kotak-kotak itu gue buka, akan timbul segala macam perasaan jijik atau geli, khas perasaan mengonsumsi karya sendiri. Walaupun kemudian, dapat gue maknai bahwa segala coretan, karya, portofolio yang diiringi masukan-masukan berharga, kritikan, cacian, atau pujian inilah yang ternyata membentuk diri hingga seperti sekarang. Ada fisik dan jejak yang gue tinggalkan, dan segala jejak dan langkah itu berisi pelajaran-pelajaran berharga, yang kadang bikin senyum-senyum sendiri ketika ada yang memberitahu bahwa karya-karya yang gue sendiri geli menengoknya ternyata sempat memberikan kesan yang baik untuk mereka.

Dan tidak lupa, bahwa orang-orang yang sudah dikenal dari hasil pencarian dan pergumulan gue di dunia penulisan sepak bola ini akan selalu gue kenang dengan baik sebagai orang-orang yang berada di satu frekuensi yang sama dalam menikmati sepak bola, walau kadang ekspresi atau pendapatnya berbeda. Walau mungkin saja mereka tidak balik mengenang gue dengan baik. Sudah biasa. Kan kita memang bisa aja jadi orang gak baik di episode hidup orang lain.

Akhir kata, terima kasih kepada kawan-kawan anak bola Twitter yang telah mengisi penuh dekade menikmati sepak bola ini!