Pages

Tuesday, January 31, 2012

Karena Kita Bangsa Indonesia

Saat itu adalah 7 Oktober 2007. Saya ingat betul tanggal itu. Saya dan teman-teman sedang beristirahat sehabis bermain futsal di lapangan dekat rumah. Pertandingan main-main yang melelahkan tapi menyenangkan. Datanglah teman saya yang lain. "Eh malam ini timnas futsal Indonesia uji coba lawan Malaysia di Senayan. Nonton yuk."


Saya bersama lima orang teman saya kemudian meluncur ke hall basket senayan. Tiketnya ternyata gratis. Hall basket ini terisi cukup penuh untuk ukuran pertandingan uji coba.


Kami beruntung tiba tepat waktu. Pertandingan baru akan dimulai. Saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, saya merasakan getaran luar biasa pada hati kecil saya. Kumandang Indonesia Raya yang sangat indah, karena serentak seluruh penonton berdiri, menyanyi bersama tanpa dikomando layaknya saat kita menyanyikan lagu ini dengan malas-malasan di upacara bendera sekolah.


Saat itu, sungguh tidak ada yang malas bernyanyi. Semuanya spontan dan lantang. Bukti bahwa Indonesia masih sangat dicintai rakyatnya. Saya berandai-andai jika saya yang berada di lapangan, pasti saya akan melakukan apa saja untuk memenangkan Indonesia, membela bendera merah putih, dan membahagiakan penonton yang sudah berkumpul dan lantang bernyanyi.


Malaysia, yang memang tim bagus, berusaha memainkan strategi bertahan. Mirip tim sepak bolanya, tim futsal mereka memainkan strategi menunggu lawan dan melakukan serangan balik.


Sementara Indonesia memainkan olah bola dan kombinasi passing atraktif dengan permutasi posisi yang cepat, Malaysia statis menjaga daerahnya. Mereka terkesan kalah teknik dan kalah skill. Padahal sama sekali tidak. Ini adalah bagian dari strategi mereka.


Mereka menunggu dan menunggu. Sabar sekali. Menunggu pemain Indonesia melakukan kesalahan. Kekhawatiran saya terbukti, di pengujung babak pertama, serangan balik mereka memberikan keunggulan dua gol cepat. Indonesia tertinggal dua gol. Indonesia tertunduk, tetapi penonton tetap bertepuk tangan dan mendukung tanpa lelah.


Barangkali inilah kekuatan bangsa kita, dan mungkin juga pelatih Justin Lhaksana saat itu mengatakan hal-hal yang luar biasa di ruang ganti. Di babak kedua, permainan tim membaik dan dalam beberapa menit mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2.


Saya ingat, waktu itu Deni Handoyo dan Sayan Karmadi pencetak golnya. Hall basket senayan bergemuruh. Malaysia tersentak lalu bangkit. Mereka bermain terbuka, menjadikan pertandingan lebih seru. Sangat seru. Tapi Indonesia memang lebih baik malam itu.

Lebih lengkap bisa dibaca di:

Monday, January 30, 2012

The Pleasure of watching the grassroots level of Indonesian football

Saat banyak orang menantikan Indonesian El Classico Persib vs Persija, Minggu 29 Januari 2012, saya menyempatkan diri untuk hadir di pertandingan di kota saya sendiri yang boleh dikatakan sebagai 'grassroots' level di persepakbolaan Indonesia, yaitu kompetisi Divisi Satu Liga Indonesia antara Persikad Kota Depok melawan Perserang Kabupaten Serang di Stadion Merpati, Depok.

Awalnya saya ragu buat nonton, karena sejak pagi hari cuaca didominasi hujan dan mendung, tapi saya tekadkan untuk berangkat demi menuntaskan rasa penasaran. Pertandingan berlangsung di Stadion Merpati Depok, yang terletak diantara pemukiman ramai dengan jalan yang cukup sempit. Seorang wartawan pernah bilang kalo lokasi Stadion ini mirip-mirip dengan Stamford Bridge milik Chelsea di London.

Saya memutuskan untuk menggunakan angkot (angkot disini aman) daripada mobil pribadi atau motor, karena this is my first time watching them, saya gak tahu situasi dan kondisi tempat parkir di stadion, serta antisipasi aja jika ada kejadian yang gak diinginkan.

Setengah jam sebelum kick-off yang rencananya dilakukan pukul 15.00, saya berangkat. Perjalanan hanya 15 menit dari Stasiun Depok Baru ke venue menunjukkan aktivitas yang normal, yang berarti stadion tidak ramai. Benar saja, stadion yang berkapasitas kurang lebih hanya 1000 penonton itu tampak lengang dan sepi. Padahal, harga tiket hanya 15 ribu rupiah untuk kelas satu (seated) dan 10 ribu rupiah untuk kelas dua (non-seated).

Saya lalu memutuskan untuk membeli selembar tiket kelas satu, setelah sebelumnya sempat melihat-lihat kelas dua yang sudut pandangnya terbatas karena ada spanduk besar di pagar tribun. Di kelas dua ini nampak hadir sekelompok suporter loyal Persikad yaitu Depok Mania (Dema), itupun jumlahnya kira-kira hanya 100an orang.

Animo sepakbola di kota ini seakan lesu darah, namun saya percaya bahwa saat ini adalah saat restorasi bagi klub berjuluk "Pendekar Ciliwung". Sekitar 5-6 tahun lalu, denyut nadi sepakbola kota ini sangat kencang dengan berkompetisi di Divisi Satu, yang saat itu setingkat dibawah kompetisi tertinggi sepakbola Indonesia, Divisi Utama. Beberapa pemain asing seperti J.P. Boumsong (sekarang Persiram), Yusuke Sasa (sekarang Persikabo), dan juga Nana Onana (sempat di Persija) dan beberapa pemain lokal bereputasi lumayan seperti Nana Priatna serta Nehemia Solossa saat itu membawa Persikad menduduki posisi 4 (kalau tidak salah) di Divisi Satu. Posisi itu memang tidak cukup membawa tim ini lolos ke babak play-off kompetisi, tapi sempat menghangatkan olahraga terpopuler sejagat ini di kota Depok.

Setelah itu, tim ini mengalami titik terendahnya berupa kesulitan finansial. Para pemain tidak digaji selama beberapa bulan. Cerita miris ini juga berakibat tim tidak bisa menggelar pertandingan, yang berbuntut dihukumnya tim dalam bentuk degradasi. Tim inipun dijual, sepakbola Depok mati suri. Dan kini, here they are.

Saya duduk nyaman di tribun kelas satu lapangan yang terletak di Jalan Merpati, Depok Jaya ini, memandangi lapangan yang diisi kedua tim yang sedang melakukan pemanasan yang diiringi musik dangdut dan announcer kocak. A simple happiness. Dulu saya ingat pernah mencetak gol tendangan "paloneto" disini di pertandingan antar antar kelas saat SMP. Unforgettable childhood memory.

Saya tidak mengenal satupun pemain Persikad sekarang. Klub ini bagaimanapun pernah menghasilkan pemain kelas nasional seperti Muhammad Roby. Kabarnya, Syamsir Alam juga pernah sempat berlatih disini. Sekarang, pemain-pemain Persikad diisi wajah-wajah baru yang kelihatan masih muda, berusia 18-25 tahun. Di kubu Perserang juga demikian. Merekalah sebenarnya bagian dari embrio sepakbola nasional, dari 'the grassroots' level.

Pertandingan dimulai tepat waktu pukul 15.00. Kedua tim nampak menggunakan formasi identik 4-3-1-2. 10 menit pertama nampak Perserang menekan tuan rumah dan sempat memiliki peluang bagus melalui tendangan bebas. Namun dari sebuah skema serangan balik, sang trequartista bernomor 7 Persikad membawa Persikad unggul setelah menyelesaikan crossing mendatar dari pemain jangkung bernomor punggung dua. Hanya beberapa saat, gol itu kemudian dibalas oleh trequartista Perserang, juga bernomor punggung 7. Lalu hujan cukup deras mengguyur kota ini yang menyebabkan lapangan menjadi licin dan aliran bola menjadi mandek, dalam arti sebenarnya. Umpan-umpan pendekpun menjadi tidak berguna. Setelah silih berganti menyerang dengan masing-masing tim membuahkan 3 tembakan ke gawang, kedudukan 1-1 bertahan hingga babak pertama usai.

Suara khas Mick Jagger dalam lagu Honky-Tonk Woman membahana di jeda pertandingan. Klasik banget. Saat jeda ini pula penonton mulai berdatangan karena hujan juga mulai reda. Tribun kelas satu ini diisi oleh berbagai kalangan, dari anak kecil sampai orang tua, menjadikan pertandingan ini seperti rekreasi keluarga. Bapak Wakil Walikota Depok, KH Idris Abdul Shomad juga baru hadir di jeda babak pertama, sebagaimana diumumkan oleh announcer kocak berlogat Depok yang kental.

Pertandingan berlangsung dibawah gerimis di babak kedua. Lapangan yang sudah tergenang air dan berlumpur di beberapa tempat membuat kedua tim sulit mengembangkan permainan. Striker pengganti bernomor 77 sempat membawa Persikad unggul setelah membelokkan flick header dari si jangkung nomor 2 dari sebuah sepak pojok. Sayangnya, si nomor 7 yang menurut saya bermain baik sebagai trequartista ditarik keluar karena cedera. Hilangnya tusukan dari pemain yang berani mendribel bola ini membuat tim tamu ganti mengendalikan permainan hingga akhirnya menyamakan kedudukan melalui sundulan pemain bernomor 7 mereka. Sudah 2 gol dia ciptakan di pertandingan ini. Si jangkung nomor 2 yang kuat di duel udara sempat membuat asa para pendukung menjadi bergelora, tapi sayangnya sundulannya hanya membentur mistar gawang. Pertandinganpun berakhir dengan skor imbang 2-2.

Penonton nampak kecewa, namun bisa menerima. Posisi kedua grup IV Divisi Satu memang masih digenggam, namun inilah partai kandang terakhir di putaran 1 tim ini dengan rekor dua kali menang dan dua kali imbang. Di putaran kedua, Persikad hanya memiliki satu partai kandang melawan Persikasi Kabupaten Bekasi, yang berlangsung pada 11 Februari 2012. Situasi yang disebut berat oleh sebagian penonton yang bercakap-cakap dibelakang saya, karena hanya dua tim teratas yang lolos ke babak berikutnya.

Sebuah kepuasan besar menyaksikan langsung pertandingan tim dari kota sendiri. Walaupun hanya pertandingan kasta ketiga dari kompetisi sepakbola Indonesia, pertandingan berlangsung seru dan menarik. Beberapa pemain potensial juga berkompetisi disini. Trequartista bernomor 7, gelandang sayap jangkung bernomor 2, dan gelandang jangkar bernomor 14 yang juga kapten kesebelasan, serta penjaga gawang Persikad yang sempat memblok sebuah tendangan penalti dibabak pertama adalah pemain-pemain potensial yang akan menjadi masa depan dari tim Pendekar Ciliwung.

Semoga sepakbola kota Depok segera bangkit!


Aditya Nugroho
@aditchenko

Sunday, January 29, 2012

Kisah Pemain Pinjaman

Seorang teman saya terdiam lemas sehabis pertandingan antar perkumpulan memperingati hari kemerdekaan yang berlangsung seru. Bukan karena dia lelah setelah menjalani pertandingan, tapi justru karena sama sekali tidak dipasang. Dia pulang dengan perasaan kesal. Dendam. Merasa tidak dihargai. “Gak ada yang enak dari situasi dicadangkan,” sungutnya. Hadiah turnamen ini pun hanya seekor kambing.

Setelah saya amati, perkumpulan sepak bola teman saya itu memang mengusung semangat "kekeluargaan" yang tinggi. Pemilihan susunan pemain berdasarkan "like and dislike" dan sejenisnya. Pemain lain yang di luar "geng" mereka umumnya dicadangkan, dan hanya sebatas didaftarkan untuk memenuhi kuota.

Dengan skala lebih global, mungkin masih ada yang ingat terhadap Fernando Morientes. Striker asal Spanyol yang biasa dipanggil Moro itu berhasil tampil impresif di Liga Champion 2003/2004 saat membawa klub yang meminjamnya, AS Monaco ke final sebelum dihentikan tim kejutan lainnya, FC Porto yang saat itu diperkuat Deco dan dilatih Jose Mourinho.

Namun saat itu tidak ada yang menyangkal kehebatan Moro walaupun Monaco gagal menjadi kampiun. Klub pemilik aslinya, Real Madrid, malah menjadi korban akibat dua golnya ketika mereka bertemu di babak perempat final. Moro akhirnya mampu menjadi top skorer Liga Champions dengan 9 gol dan mencetak 10 gol di Ligue 1.

Moro membuktikan diri mampu mengalahkan kontribusi Raul Gonzalez dan Ronaldo, duet maut lini depan Madrid yang saat itu tidak tersentuh dan memaksanya untuk menjalani peminjaman dengan Monaco. Sama dengan teman saya tadi, keengganan untuk menjadi penghangat bangku cadanganlah yang memotivasi Moro untuk berpetualang bersama Monaco.

Banyak pihak mengkambinghitamkan kekeliruan Madrid terhadap klausul perjanjian kontrak peminjaman Moro. Madrid bisa membuat Moro tidak bermain di pertandingan itu jika mereka mengaktifkan "own-club tied." Kisah Morientes ini tampaknya menjadi pelajaran berharga umumnya bagi klub-klub Eropa. Akhirnya, kini hampir semua klub yang meminjamkan pemainnya ke klub lain mengaktifkan klausul "cannot play against his own team" dalam kontrak peminjaman si pemain.

Peminjaman pemain sudah sangat biasa terjadi antar klub-klub sepak bola. Klub besar seperti Manchester United bahkan memiliki Royal Antwerp sebagai feeder mereka. Mereka memanfaatkan Antwerp untuk “menyekolahkan” pemain baru mereka, yang umumnya masih muda untuk mendapatkan pengalaman bermain. Klub Belgia ini pun mendapatkan manfaat dari transaksi ini karena mereka bisa menggunakan tenaga pemain United yang mereka pinjam tersebut.

Klub asli si pemain meminjamkan pemainnya karena berbagai pertimbangan. Untuk pemain muda yang dianggap potensial tetapi belum layak menghuni tim utama, klub-klub sering meminjamkan pemainnya. Contohnya adalah Dany Welbeck (Manchester United) yang musim lalu dipinjamkan ke Sunderland, dan Daniel Sturridge (Chelsea) yang dipinjamkan ke Bolton. Kini, mereka berdua mapan di tim utama setelah kembali dari masa pinjaman.

Faktor lainnya adalah si pemain memang tersingkir dari tim karena kalah bersaing, ataupun melimpahnya stok pemain yang ada pada sebuah klub. Morientes pada waktu itu masuk dalam kategori ini. Atau ada pula alasan lain, seperti mengisi libur kompetisi. Hal ini dilakukan oleh Thierry Henry dan Landon Donovan, serta David Beckham dua musim lalu.

Mari kita ke pertandingan Liga Inggris 22 Januari 2012 Minggu malam jam 8 WIB antara Manchester City melawan Tottenham Hotspurs. Di musim ini, Emmanuel Adebayor tampil gemilang bersama Tottenham Hotspurs. Penyerang asal Togo ini seolah menemukan kembali sentuhannya seperti saat bermain di Arsenal. Namun segala talenta dan kehebatannya disia-siakan City, dan menjadi sia-sia pula bagi Tottenham Hotspurs ketika terhalang oleh klausul kontrak peminjaman "cannot play against his own club."

Ketiadaan Adebayor mengubah dimensi permainan Spurs saat menghadapi City. Adebayor bukan sekadar penyerang yang cepat dan tangguh di udara, tapi juga memiliki kontrol bola yang baik sehingga mampu menahan bola lebih lama dan hal ini membuka ruang bagi lini pertahanan lawannya.

Jermain Defoe memang gak bisa dibilang tampil jelek dalam mengisi peran Adebayor semalam, terbukti dia mampu mencetak satu gol, dan kecepatannya cukup merepotkan Joleon Lescott dan membuat Stefan Savic membuat blunder. Namun, kehadiran Adebayor diyakini akan mampu membuat pertahanan City lebih menderita, dan hasilnya bisa saja berbeda.

Lebih lengkap di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1343-kisah-pemain-pinjaman.html

Wednesday, January 25, 2012

Review Novel: Menerjang Batas

Saya girang begitu kiriman dari Bogalakon Pic akhirnya sampai di rumah saya. Penantian atas pre order novel Menerjang Batas yang sudah saya lakukan kira-kira sebulan lalu akhirnya terjawab sudah. Antusiasme seperti bocah yang mendapat mainan baru membuat saya melahap lembar demi lembar nonstop buku hasil buah pemikiran, penelitian, impian dan harapan Mas Estu Ernesto, yang juga berkolaborasi dengan Bang Andibachtiar Yusuf.

Seperti terhipnotis di dalamnya, saya susah terlepas dari buku itu. Sebagai pecandu sepakbola sejak 20 tahun lalu dan tentunya sebagai orang Indonesia, saya merasakan betul setiap kata demi kata yang ditulis di novel ini menggambarkan harapan tinggi rakyat Indonesia pada umumnya, baik yang suka sepakbola ataupun tidak, akan hadirnya prestasi sepakbola Indonesia.

Cerita di novel ini mungkin terlihat utopis, mungkin juga untuk saat ini jauh dari kenyataan dan bertolak belakang dari fakta yang terjadi. Tapi secara tersirat, inilah harapan dan solusi yang ditawarkan oleh penulis menyangkut persepak bolaan Indonesia. Tidak ada dualisme kompetisi, tidak ada kisruh pemilihan pengurus PSSI, tidak ada kecurangan, kerennya infrastruktur, dan berjalannya pembinaan.

Bab demi bab yang saya lalui di novel ini menunjukkan luasnya pengetahuan penulis akan sepakbola, khususnya sepakbola Indonesia. Detil pertandingan, proses seleksi pemain, sekolah sepakbola, formasi 4-3-1-2 atau 4-3-3, suasana ruang ganti sampai proses transfer pemain digambarkan dengan jelas sehingga orang yang membacanya akan banyak mengangguk-angguk dan bergumam "ooo begitu.." tanda dia mendapatkan pengetahuan baru.

Saya menggarisbawahi pembinaan sepakbola yang sepertinya menjadi hal yang diperhatikan betul oleh penulis di novelnya ini. Saya belum tahu banyak sepakbola Indonesia dari level grassroot (kelak akan saya cari tahu) dan tidak tahu persis apakah pembinaan seperti yang ada di buku ini memang benar dijalankan oleh klub-klub sepakbola kita, atau ini memang harapan dari penulis. Yang jelas, dari pembinaan dan kompetisi berjenjang yang diceritakan ini, muncul pemain-pemain bagus yang kelak menjadi muara bagi terciptanya tim nasional Indonesia yang mampu berbicara di pentas dunia, serta pemain-pemain yang kualitasnya diakui klub-klub Eropa.

Pemain yang ditonjolkan penulis adalah Gabriel Omar Baskoro, sang prontagonis. Striker yang juga mampu bermain sebagai second striker ini namanya terinspirasi kekaguman ayahnya, Edi Baskoro terhadap tim nasional Argentina dan salah satu striker terbaiknya, Gabriel Omar Batistuta. Sebenarnya Edi Baskoro lebih mengagumi Diego Maradona, tapi karena suatu alasan dia tidak menamai anak laki-lakinya dengan nama si anak emas (baca novel untuk detailnya).

Di novel setebal 245 halaman ini, diceritakan bagaimana perjalanan panjang dan berliku Gabriel Omar Baskoro dari menimba ilmu di sekolah sepakbola Ungaran, bermain di klub Jakarta hingga menjadi pemain tim nasional.

Di awal bab yang banyak menceritakan kehidupan Edi Baskoro, ayah Gabriel, kita disuguhi fakta sejarah sepak terjang timnas Indonesia, tentunya dengan sedikit sentuhan dan modifikasi sehingga ada korelasi dengan keadaan sepak bola pada era Gabriel Omar.

Kepiawaian Estu Ernesto bercerita juga ditunjukkan dengan bahasa yang lugas, penambahan konflik, drama dan sedikit bumbu percintaan di dalamnya seperti layaknya sebuah novel, sehingga novel ini tidak melulu berbicara soal sepak bola, tapi juga kehidupan sehari-hari pada umumnya. Tidak lupa juga tambahan sisi filosofis dan kata-kata bijak yang menjadikan novel ini berisi tapi tetap mudah dimengerti.

Bertolak belakang dengan latar kehidupan sederhana yang diperlihatkan tokoh-tokoh fiktif di novel ini, terdapat pula nama-nama "real" pemain maupun pelaku sepak bola Indonesia dan juga sedikit pelaku sepak bola dunia yang membuat novel ini semarak sekaligus penuh kejutan.

Di cover novel yang menggambarkan Edi Baskoro berbaju timnas Indonesia nomor 13 yang sedang menggendong Gabriel Omar, juga dengan baju timnas Indonesia nomor 8, sambil menonton langsung dari stadion, ada tulisan menarik: segera difilmkan. Saya sudah lihat teaser film ini, dan menemukan beberapa perbedaan dari beberapa nama tokoh di teaser dengan yang ada di buku. Tapi mungkin aja itu memang bagian dari kejutan yang sedang dipersiapkan Bogalakonpic. Jadi, mari kita sama-sama membaca buku ini sambil menunggu filmnya, yang saya yakin sih bakal keren.

Semoga makin banyak lagi karya seperti ini, yang melambangkan harapan dan optimisme Indonesia, khususnya karya bertema sepak bola Indonesia. Semoga banyak pihak yang mampu mengambil manfaat dari cerita ini sehingga membuang jauh-jauh permusuhan sesama bangsa, menghilangkan ego pribadi dan golongan demi dua kata: merah dan putih. Sudah sepantasnya pihak-pihak yang bertikai untuk berjalan bersama demi terciptanya harapan kita akan tim nasional sepakbola yang mampu berbicara di level dunia. Terdengar klise, tapi memang inilah harapan kita semua, bukan?

Saya belajar banyak dari novel ini, karena minat dan visi yang juga sama: sepak bola dan menulis, serta menulis tentang sepak bola. Mudah-mudahan saya juga berkesempatan membuat karya untuk sepak bola Indonesia seperti beliau-beliau ini. Akhir kata, buku ini layak dibaca dan dikoleksi.

Friday, January 20, 2012

Perjuangan Klub Sepak Bola dari Selatan Italia

“Beberapa hari setelah mencetak gol ke gawang Milan, ada seorang fans yang menghampiri saya, lalu memberikan saya seekor kuda balap miliknya.” Demikianlah pengakuan penyerang Napoli, Ezequiel Lavezzi kepada wartawan. Lavezzi, yang oleh para Neapolitan sudah dianggap nyaris setara dengan Diego Maradona memang sangat terkesan dengan fanatisme warga Naples terhadap tim sepak bola mereka, Societa Sportiva Calcio Napoli.

Seperti halnya di wilayah Basque dan Catalonia di Spanyol, wilayah selatan Italia memang mewakili sikap inferior terhadap wilayah tertentu lainnya. Perasaan inferior yang secara naluriah bisa berubah menjadi kebencian yang ditumpahkan ke lapangan hijau lewat penampilan terbaik adalah sebuah kepuasan tersendiri yang merupakan sisi lain yang menarik dari sepak bola.

Wilayah selatan Italia sering diperlakukan seolah warga negara kelas dua oleh mereka yang berada di utara. Pasalnya, Italia bagian utara adalah wilayah industri maju yang diisi oleh kota segitiga emas, yaitu Milan, Turin, dan Genova. Karakter disiplin, well-manneredwell-organized tapi dingin dan kaku itu berbanding terbalik dengan karakter keras, lugas, kurang disiplin, tapi hangat dan ramah dari wilayah selatan.

Semua orang pasti pernah mendengar cerita tentang mafia, sindikat kejahatan terorganisir yang berbasis di selatan Italia. Baru-baru ini diberitakan bahwa sindikat kejahatan Camorra, yang notabene salah satu yang tertua di Italia mengincar pemain-pemain Napoli dan kerabatnya.

Pesepakbola, terutama yang bergaji besar adalah target mereka. Edinson Cavani dan Marek Hamsik baru-baru ini menjadi korban perampokan dan perampasan mereka. Betapa sepak bola adalah bagian tidak terpisahkan dari sebuah masyarakat, dan perlindungan terhadap pesepakbola adalah pekerjaan rumah yang menanti Italia selatan, jika ingin para pesepakbola jago itu bertahan.

Italia selatan secara geografis dan klimatologi memang tidak seberuntung utara. Curah hujan tinggi di musim hujan dan panas yang menyengat di musim panas, kontur tanah yang tidak rata, menjadikan Italia selatan miskin hasil bumi karena sulit penggarapannya. Kontribusi selatan terhadap perekonomian Italia dinilai masih rendah.

Hal ini berpengaruh ke sektor sepak bola. Prestasi klub sepak bola mereka seperti Napoli, Palermo, Cagliari apalagi Reggina, Messina  dan Livorno jauh di bawah bayang-bayang klub utara seperti Milan, Juventus, ataupun Inter. “Kami adalah kaki, kalian bola.” Mungkin itulah yang ada di benak orang-orang Italia utara merujuk pada peta negara mereka yang berbentuk seperti sebuah kaki wanita yang menendang bola.

Keajaiban sesaat sepak bola Italia selatan yang paling terkenal tentu kisah Diego Maradona, yang sempat membawa kejayaan bagi Napoli di tahun 80-an. Maradona menjadi simbol budaya dan seolah menjadi dewa di Napoli setelah memberi dua gelar seri A dan satu gelar Piala UEFA, prestasi yang masih belum bisa diulangi hingga saat ini.

Nomor 10 Napoli dipensiunkan untuk menghormati jasa-jasanya. Jauh sebelum kebintangannya di kota Napoli, kedatangan Diego dari Barcelona dengan transfer tujuh juta pound yang merupakan nilai fantastis saat itu adalah prakarsa para petinggi Napoli yang bersikeras mendatangkan sang bintang demi memperbaiki keadaan mereka.  

"It is time that this city stops suffering, at least in the stadium." Demikian pernyataan Napoli saat kedatangan si anak emas. Penyambutan lebih dari 90 ribu orang di stadion San Paolo saat kedatangan perdananya adalah hal yang pertama kali terjadi di dunia olahraga. Pengkultusan tidak masuk akal yang mendekati ketuhanan, demikianlah sihir Maradona saat itu.


lebih lengkap lagi di http://www.beritasatu.com/blog/olahraga/1323-perjuangan-klub-sepak-bola-dari-selatan-italia.html

Thursday, January 12, 2012

Mau olahraga kok susah?!

"Di Jakarta, mau kencing aja bayar" Begitulah kata orang-orang yang menggambarkan betapa mahalnya hidup di Jakarta, dan di Jakarta ini mau ngapain aja harus bayar. Menjamurnya lapangan futsal di Jakarta tentu bukan barang baru di 2012, malah sekarang bisa dibilang gaung futsal gak semeriah dua-tiga tahun lalu. Gak usahlah kita bahas kenapa bisa begitu, karena saya gak kompeten untuk menjelaskan masalah perfutsalan Indonesia, yang katanya sih selalu dianaktirikan sama PSSI.

Sebagai kaum pekerja, saya ngerasa butuh pelarian. Pelarian dari kepenatan kerjaan dikantor membuat saya selalu mencari-cari kegiatan lain supaya gak jadi stress dan ujung-ujungnya jadi gila. Futsal, buat saya adalah jawabannya. Saya menikmati setiap detik berada dilapangan. Adrenalinnya adalah a simple happiness.

"Footballer is the best job in the world. Menyenangkan bisa melakukan apa yang kita suka, dan kita dibayar untuk itu." Demikian kata-kata dari Robert Pires, ex-winger stylish Arsenal dan Villareal. Dengan skala yang jauh lebih kecil, buat saya bermain futsal adalah saat menjadi orang lain, tepatnya menjadi seorang superstar sepakbola. Di lapangan, saya seolah menjadi bukan diri yang biasanya.

Salah seorang atasan saya bilang "Elo orang pada maen futsal aja kadang-kadang bela-belain balik lagi ke kantor abis maen. Kalo jadi pemain bola, lo malah dipaksa maen bola. Quite a dream job kan?" Yah memang begitulah kenyataannya. Tapi sebagai kaum pekerja yang memiliki ketergantungan mutlak sama pemilik modal, bisa futsalan dua minggu sekali aja udah surga, ibarat keberadaan Gugun Blues Shelter ditengah boyband.

Dan setiap dua minggu sekali yang ditunggu-tunggu itu, saya dan semua teman-teman saya yang gila futsal jadi mendadak rajin. Kerjaan buru-buru diselesaikan, kalo perlu sehari sebelumnya lembur dulu supaya di hari latihan bisa pergi ke lapangan dengan tenang tanpa diuber-uber kerjaan. Ya, itulah kami. Butuh perjuangan ekstra untuk menuju ke lapangan futsal yang tempat parkirnya sempit dan rumput sintetisnya udah mulai botak itu. Jarak yang gak terlalu jauh dari kantor ke lapangan sekarang jadi seolah jarak Depok ke Bogor yang memakan waktu satu jam. Kami sering telat gara-gara macet kampret buntut dari pembangunan fly over yang gak kelar-kelar.

Sebagai penghuni Jakarta di siang hari, tentu saya berharap banyak lapangan sepakbola atau futsal di Jakarta, minimal dari 10 gedung, 1 gedung itu ada lapangan futsal buat umum deh, jadi gak cuma mengandalkan lapangan futsal yang berlokasi di daerah macet yang bikin masalah terus buat kami yang pengen olahraga. Tapi harapan itu kian utopis seiring pembangunan membabibuta dari perumahan dan perkantoran yang menggusur sarana olahraga. Lahan bermain futsal, sepakbola ataupun olahraga lainnya makin langka, makanya sekalipun ada, bayar sewanya super mahal. Saya gak tau juga sih mahalan mana futsal sejam atau main golf, tapi yang jelas bisnis lapangan futsal udah bisa bikin orang hidup. Dan ini cukup luar biasa bahwa bisnis olahraga mampu mendapat tempat, yang walaupun kecil di masyarakat Jakarta.

Mungkin ada juga hubungan fenomena ini dengan keringnya prestasi olahraga Indonesia di event internasional, karena masalah olahraga kurang diperhatikan yang ditunjukkan dengan minimnya sarana dan pembinaan olahraga. Mungkin aja lho, saya juga gak tau pasti. Jika dibandingkan sama bangsa Cina, pas nonton film Karate Kid yang settingnya di Beijing, Drew Parker si tokoh utama terlihat kalah main tenis meja lawan seorang bapak-bapak paruh baya. Di lokasi itu pula, pas sore hari orang-orang Cina ramai-ramai berolahraga di lapangan, dari anak kecil sampai orang tua. Gak heran kalo Cina merajai Olimpiade. Keseharian mereka udah terbiasa dengan olahraga, beda dengan disini. Yah kalo ngebahas bagaimana Cina sekarang yang superior gak cuma di dunia olahraga sih gak ada habisnya ya.

Mau olahraga aja kok susah!

Tuesday, January 10, 2012

Racun ambisi

cold expression

Ada yang bilang bahwa keinginan adalah racun, dan penawarnya tentu aja jika keinginan itu tercapai. Makin banyak keinginan, makin banyak pula racun yang ada di hati. Jika keinginan itu terlalu banyak, pikiranpun menjadi penuh ambisi dan kelicikan, pembenaran dan penghalalan segala cara bisa dilakukan oleh seseorang demi memuaskan ambisi pribadinya itu. Di kantor tempat saya bekerja, isinya adalah kumpulan pribadi ambisius, yang walaupun mereka berkata sebaliknya, tapi nyatanya jika mereka mendapat rating lebih rendah daripada sesama peer-nya, mereka akan merasa down, keinginan untuk cabut dari perusahaanpun tidak terhindarkan. Itulah contoh sederhana dari ambisi.

Akan tetapi, keinginan dan ambisi itulah yang membuat manusia hidup. Jika tidak menginginkan apa-apa, peradaban manusia akan berhenti di zaman batu, kita masih akan hidup layaknya binatang dan tidak ada kemajuan. Ambisi, bagaimanapun adalah anugrah Tuhan. Permasalahannya, bagaimana kita mengelola ambisi itu. Bagaimana sikap kita jika ambisi terpenuhi, apakah kita akan menjadi pribadi sombong, arogan, congkak dan suka merendahkan orang lain? Lalu bagaimana sikap kita jika ambisi gagal terpenuhi? Apakah kita akan terpuruk, sedih, frustasi dan menyerah begitu saja? Itu adalah pilihan masing-masing orang.

Cristiano Ronaldo adalah sosok pemain bola yang sangat ambisius. Seorang profesional dan atlet sejati yang selalu menomorsatukan sepakbola dalam hidupnya. Wanita boleh datang dan pergi, tapi tidak dengan sepakbolanya. Dia selalu datang lebih awal dan pulang lebih akhir saat berlatih. Skill olah bola dan kekuatan fisiknya adalah hal yang diinginkan semua pesepakbola.

Pindah dari Manchester United ke Real Madrid dengan predikat pemain termahal dunia, Ronaldo langsung membuktikan kepantasan harganya dengan berbagai gol yang dia ciptakan. Rekor 40 gol La Liga musim lalu dia catatkan sebagai rekor abadi el pichichi La Liga. Tapi dalam 2 tahun terakhir ini, CR7 galau. Layaknya ABG jaman sekarang yang dengan gampangnya curhat di social media, CR7 merasa keinginannya belum tercapai. Permainannya di setiap laga terbesar el classico melawan Barcelona dan rivalnya, Lionel Messi dianggap beberapa pihak masih jauh dari memuaskan.

Entah kutukan apa yang dialami Ronaldo tiap menghadapi salah satu laga tersengit di dunia itu. Di final Copa Del Rey tahun lalu, CR 7 memang mencetak gol kemenangan atas Los Cules, tapi hanya itulah satu-satunya penampilan bagus CR7 pada laga clash of titans ini. CR7 bereaksi negatif saat merayakan gol pertamanya sekaligus gol kelima Real Madrid dalam pertandingan terakhirnya melawan Granada di La Liga, yang membawa Los Blancos menjauh 5 poin dari Los Blaugranas. Dia kesal kepada fans Madrid karena berbagai celaan dan boo yang ditujukan kepadanya pada laga el classico, Desember lalu.

Kepemimpinan La Liga atas Barca mungkin kurang afdol bagi CR7 tanpa penampilan memukau di el classico, yang membuatnya pula terlihat inferior dibandingkan Messi. Inilah racun dari Ronaldo. Racun ambisi dan keinginan yang justru bisa jadi bumerang buatnya. Cristiano mungkin lupa kalau pencapaian tim lebih penting daripada individu. Bukan menonjolnya individu yang mengantar tim juara, tapi tim juaralah yang mengangkat setiap individu yang ada didalamnya. Semua orang tau kalau Ronaldo adalah pemain hebat, tapi tanpa gelar yang bisa dia persembahkan untuk timnya, predikat terbaik tidak akan bisa dia ambil dari Messi.

Yang terpenting sekarang bagi Ronaldo adalah membawa Madrid meraih berbagai gelar musim ini, tidak usah pusingkan el classico dan Messi. Buanglah racun itu dan fokuslah kepada pencapaian tim, bukan ambisi pribadi belaka. Dengan merelakannya, kita bisa membuang racun ambisi dari dalam badan, dan itu bisa membawa kita ketempat yang lebih tinggi dari yang kita duga, melalui jalan yang tidak terpikirkan sebelumnya. Sepakbola tanpa embel-embel ambisi dan persaingan udah cukup menyenangkan, Ron!

@aditchenko

Monday, January 9, 2012

Passion

"It is better to fail with your own vision than to fail with another man's vision." Itu adalah kata-kata dari Johan Cruyff, seorang legenda sepakbola dunia. Sang juara tanpa mahkota yang telah menciptakan sebuah evolusi dari sebuah permainan sepakbola. Saya disini bukannya mau membicarakan Johan Cruyff, banyak media lain yang sudah panjang lebar membahasnya.

Sepenggal kata-kata dari sang pelaku Totaal Voetbaal itu benar-benar menampar saya telak. Saya adalah seorang yang gagal. Kegagalan saya mewujudkan cita-cita menjadi seorang pesepakbola profesional sudah cukup melukai, dan buat saya itu adalah kekalahan terbesar dalam hidup saya. Awalnya saya berpikir kalau mau menggeluti sepakbola, satu-satunya jalan ya hanya dengan menjadi seorang pesepakbola. Ternyata saya salah, dan saya baru menyadari kesalahan saya belakangan ini.

Mencintai sepakbola bukan berarti harus jadi pesepakbola, walaupun menjadi pesepakbola adalah sebuah titik kulminasi dari pengaplikasian kecintaan terhadap si kulit bundar. Di Indonesia, walaupun keberadaan sepakbola berada ditengah carut marut perebutan kekuasaan, stagnansi pembinaan dan kering prestasi, nyatanya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepakbola tidaklah pernah luntur.

Coba liat saat timnas Indonesia bertanding. Hampir seluruh lapisan masyarakat kita mengikuti sepak terjang timnas. Menonton langsung di stadion, menggelar nonton bareng sekampung, menonton dirumah bersama keluarga, atau pergi ke coffee shop sepulang kerja bersama kolega bisa dilakukan. Semua orangpun jadi mendadak dilanda "soccer fever" kalau bicara timnas. Nasionalisme yang biasanya adalah hal yang normatif dibicarakan dan diterapkan, mendadak membara dan semua menjadi satu dibelakang sebelas patriot kita, yang berjibaku di lapangan hijau, berkeringat, berdarah dan berseragam merah putih. Disitulah bangsa kita bersatu. 90 menit yang ajaib dan mampu melebur segala perbedaan.

Saya, walaupun bukan pemain bola dan bahkan gagal menembus tim sepakbola kampus, berani bilang kalo saya cinta setengah mati sama olahraga ini. Dari kecil sejak jaman Italia masih mengandalkan Roberto Baggio seorang diri menuju final Piala Dunia 1994 hingga kini ada bocah ajaib bernama Neymar saya terus mengikuti sepakbola, bukannya meluntur justru malah menguat. Tidak peduli saya sibuk, saya selalu menyempatkan diri menonton sepakbola, menulis blog sepakbola, dan kadang-kadang sekedar bermain futsal demi memuaskan jiwa saya, dan melupakan penat sehari-hari. Tidak peduli orang bilang saya lebay dan rata-rata menganggap sikap saya sebagai sikap dan perbuatan dan tidak berguna.

Impian saya yang sudah lewat sudah saya relakan dan saya kubur dalam-dalam, seraya berharap anak saya kelak meneruskan cita-cita saya. Walaupun begitu, saya kini menemukan gairah baru di sepakbola, yaitu menulis. Saya bukanlah seorang pencerita dan pembicara yang handal, tapi kalau bicara sepakbola, saya selalu antusias. Mencari tau sepakbola dari sisi lain, sejarah, kisah sukses dan apapun sangat menyenangkan buat saya.

Membaca blog sepakbola orang lain juga membuat saya happy. Menyenangkan bertemu orang yang memiliki kesamaan ketertarikan dan visi. Apalagi jika orang-orang itu membahas sepakbola bukan sekedar olahraga sebelas lawan sebelas, tapi membahas olahraga ini dari sisi terdalam dan tidak terpikirkan sebelumnya. Saya mengambil contoh 2 orang yang menjadi inspirasi saya dalam menulis, yaitu Bang Andi Bachtiar Yusuf dan Pangeran Siahaan. Tanpa mengecilkan penulis lain, tulisan-tulisan mereka telah banyak membuka wawasan saya, dan makin membuat saya makin dalam tenggelam dalam surga dunia bernama sepakbola.

Yah walaupun jam terbang mereka jauh diatas saya, dan pengalaman mereka bersinggungan dengan sepakbola tanah air sudah banyak, dan mereka juga belum tentu mau berurusan dengan "pemain baru" seperti saya, tapi buat saya itu sama sekali gak masalah. Saya yakin when there is a will, there is a way. Tidak ada istilah kompetitor buat saya bagi sesama penggemar bola. Semua yang menyukai sepakbola secara utuh dan tidak mengotori nilai-nilai kemurnian sepakbola sebagai olahraga, saya anggap sebagai teman.

Orang-orang seperti mereka membuka mata saya bahwa tidak harus menjadi pesepakbola jika ingin terus berkecimpung didalam sepakbola. Tidak juga harus menjadi pelatih, pengurus klub atau bekerja di PSSI untuk berkontribusi di sepakbola. Menjadi film maker, jurnalis, penulis, bahkan blogger sepakbola sekalipun bisa dijadikan pengepul dapur dirumah. Mereka, saya sebut adalah orang-orang yang berani memperjuangkan impian mereka, dan tidak menyerah saat impian tersebut menabrak realita.

Agak terlambat mungkin buat saya menyadari hal ini. Simple aja, kalau saya gak punya uang, ya gimana mau makan? Tapi setidaknya sekarang saya mulai mantap menyadari satu hal, bahwa jika kita bekerja sesuai dengan passion, pasti ada jalan. Setidaknya, kita tidak akan penasaran dan kalaupun gagal, kita gagal terhormat karena perjuangan atas apa yang kita cintai dan yakini. Ini sesuai dengan quotes dari Johan Cruyff diawal tulisan ini, dimana kita lebih baik gagal karena memperjuangkan visi sendiri, daripada gagal karena memperjuangkan visi orang lain. 

Saya sudah salah langkah karena mengambil jurusan yang jauh dari sepakbola. Untuk menjadi penulispun, saya tidak ada latar belakang jurnalistik ataupun ilmu komunikasi. Untuk itu, saya tidak akan dengan gegabah secara drastis meninggalkan dunia yang selama ini memberikan penopang berupa materi, tapi saya akan pelan-pelan menggeluti dunia sepakbola secara utuh, dan jika saatnya tiba, saya akan total banting setir. Enough of being a corporate slave.

Lalu apa yang saya akan lakukan? Saya akan tetap menulis. Hanya itulah yang saya mampu dan bisa saat ini. Walaupun kualitas tulisan saya bukanlah yang terbaik, setidaknya inilah yang membuat saya bahagia. Saya akan menulis, tidak perlu orang mencibir atau meng-ignore. Saya menulis bukanlah untuk dipuji orang atau ingin menjadi orang terkenal, saya menulis untuk kesenangan dan kepuasan jiwa. Tidak ada lagi tortured and tired soul. Saya ingin membuktikan kepada para pencibir dan peragu, bahwa visi sepakbola saya bisa menghasilkan sesuatu. Yang jelas sesuatu itu adalah karya. Karya apa dan bagaimana, entahlah. Yang jelas: sepakbola.

@aditchenko



Menyikapi "sisi miring" dari sepakbola

Masih ingat rumus phytagoras? Rumus untuk menghitung sisi segitiga siku-siku yang kita pelajari waktu jaman SD ini selalu menghasilkan sisi miring segitiga yang lebih besar daripada sisi lurusnya. Rumus a kuadrat + b kuadrat = c kuadrat membuktikan bahwa c kuadrat sebagai sisi miring adalah penjumlahan dari 2 sisi lurus.

Sepakbola sebagai olahraga kadang-kadang menunjukkan hal tersebut. "Sisi miring" dari olahraga ini terkadang menunjukkan betapa permainan sepakbola bukanlah sekedar sebelas lawan sebelas belaka. Ada beberapa pertandingan dimana hasil akhirnya ditentukan oleh hal-hal non teknis.

Kesalahan Chris Foy
Pada pertandingan babak ketiga Piala FA semalam antara Manchester City melawan Manchester United, kita ditunjukkan oleh sebuah kemenangan yang kontroversial. Jika kita menganalogikan dua "sisi lurus" adalah permainan tim di lapangan dan strategi pelatih, maka "sisi miring" yang kemarin beraksi adalah kepemimpinan wasit Chris Foy.

Are you sure, ref?
The dangerous tackle
Saya mencatat 3 kesalahan fatal dibuat Foy pada pertandingan semalam. Yang pertama tentu kartu merah langsung kepada kapten City, Vincent Kompany saat menekel Nani. Tackling tersebut dipandang brutal oleh Foy karena menggunakan dua kaki mengangkat keatas dan kedua kaki bek asal Belgia tersebut mengarah ke tulang kering Nani sehingga terdapat indikasi sengaja mencederai, walaupun nyatanya tackle tersebut mengenai bola secara bersih dan tidak ada cedera sedikitpun pada Nani.

Yang kedua adalah saat skor 2-3, Aleksandar Kolarov menerobos sisi kanan pertahanan United dan melepaskan crossing mendatar yang mengenai tangan Phil Jones. Foy bisa saja bilang dia tidak melihat kejadian itu, atau dia melihatnya tapi menilai tangan Jones tidak dalam posisi aktif. Tapi dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa Jones mengambil posisi menjatuhkan diri seperti seorang kiper saat memblok crossing Kolarov, dan bola jelas mengenai tangannya.

Ketiga tentu insiden Patrice Evra yang "merauk" muka Sergio Kun Aguero. Saat menerima lemparan kedalam, Evra udah jelas memegang muka Kun, dan saat Kun berusaha meloloskan diri, sang kapten United malah mendorong muka si Argentino yang membuatnya terjatuh. Bola memang masih dikuasain pemain City lainnya sehingga wasit memainkan advantage ball untuk City. Tapi saat melihat Aguero terkapar, barulah dia meniup peluit pelanggaran, dimana dia tidak memberikan kartu atas pelanggaran Evra tersebut. Padahal, Evra sudah mendapat kartu kuning, yang berarti seharusnya dia diusir keluar lapangan. Kun Aguero sendiri membuktikan ketangguhan mentalnya. Dijegal dan dihajar bek-bek United, dia masih bisa membobol gawang United yang dikawal oleh Anders Lindegaard, dan konsisten membahayakan lawan sepanjang pertandingan.

Gol Wayne Rooney
The amazin volley
Sundulan pengubah keadaan
Terlepas dari insiden-insiden tersebut, termasuk saat Micah Richard dijegal oleh Rio Ferdinand saat Ferdy menjadi orang terakhir di lini pertahanan United, pertandingan semalam berlangsung sangat menarik. Gol sundulan Rooney di babak pertama adalah aksi krusial yang langsung membangunkan City, tapi penyelesaian Rooney itulah yang sejatinya mengubah peruntungan United. Ditambah sundulan lainnya menyambar bola muntah hasil tepisan penalti kiper kedua City Costil Pantilimon. Selanjutnya, tendangan voli Danny Welbeck membawa United makin diatas angin. Kombinasi-kombinasi inilah yang membuat United unggul mutlak di babak pertama, dan memaksa Roberto Mancini melakukan perubahan pendekatan permainan, dengan memasukkan Pablo Zabaleta dan Stefan Savic menggantikan otak tim, David Silva dan inverted winger, Adam Johnson.

Paul Scholes
Sang legenda
Hal menarik lain tentu saja kembalinya the legend Paul Scholes. Entah bujuk rayu macam apa yang digunakan Fergie untuk membawanya kembali, yang jelas kehadiran Scholessey menegaskan kepanikan Fergie akan kinerja lini tengah mereka, ditambah faktor cedera Tom Cleverley dan Anderson. The ginger prince memang sempat membuat blunder akibat passing lemahnya diserobot Zabaleta, yang langsung mengirimkan low cross kepada Kun Aguero dan berbuah gol kedua untuk City, tapi secara keseluruhan penampilan Scholes mampu menstabilkan lini tengah United.

Sikap suporter Indonesia
Kita sebagai suporter Indonesia tentu tidak perlu bereaksi lebay terhadap hasil pertandingan tim favorit kita di Eropa, apalagi sampe berantem segala demi ngebelain mereka yang belom tentu kenal dan peduli sama kita orang Indonesia. Mereka jauh disana udah berbenah dan bersaing menuju singgasana terbaik dunia dan menjadikan sepakbola sebagai industri dan tontonan berkualitas, sementara sepakbola kita masih berkutat dengan perebutan kekuasaan dan pembodohan dari badut-badut pemimpin sepakbola kita, serta gerakan makar yang belum tentu menyelesaikan masalah. Lihatlah orang-orang yang katanya kapitalis itu, mereka betul-betul menjaga sepakbola. 

Sisi Miring Sepakbola
Dari pertandingan semalam, kita bisa mencontoh beberapa hal. Sikap pantang menyerah Kun Aguero dan kawan kawan patut dicontoh, meskipun tertinggal 0-3 di babak pertama, mereka mampu memaksakan skor 2-3. Skenario sesuai Battle of Istanbul 2005 Milan vs Liverpool memang tidak terulang, tapi perjuangan mereka sangat membanggakan. Tidak terpengaruh provokasi lawan, dan tidak terpengaruh kepemimpinan yang buruk dari wasit. Saat mereka dirugikan wasit pun para pemain mereka hanya melakukan protes tanpa tindakan anarkis. Mereka tetap fokus ke pertandingan.

Sisi miring dari pertandingan sepakbola bagaimanapun adalah bagian dari pertandingan. Kesalahan wasit yang juga manusia adalah hal yang harus disikapi dengan bijak oleh tim yang bertanding. Wasit juga manusia, tinggal bagaimana kita sebagai pelaku dan pendukung pertandingan mau menyikapi keadaan secara manusia atau bukan.

@aditchenko



Friday, January 6, 2012

Milanovella


Berbagai media belakangan ini ramai memberitakan saga transfer Carlos Tevez ke Milan. Milan mencoba memanfaatkan buruknya hubungan Carlitos dengan pelatih Roberto Mancini dan petinggi klub Manchester City akibat menolak untuk dimainkan saat laga penyisihan grup Liga Champions 2011/2012 melawan Bayern Muenchen. Dan hari ini, Tevez makan siang dengan Galliani.

Berawal dari Fantanito
Cerita serupa tapi tak sama terjadi di kubu klub kota mode Milan. Cassano yang baru menempuh perjalanan pesawat terbang seusai pertandingan Liga Italia melawan AS Roma dikabarkan jatuh pingsan dan mengalami kesulitan bergerak dan berbicara. Cassano kemudian dikabarkan mengalami stroke ringan dan harus dioperasi jantungnya. Kehilangan Cassano merupakan kehilangan besar buat Milan. Penampilannya yang impresif dan kian menyatu dengan pilar-pilar lama Milan membuatnya menjadi pemain tak tergantikan di lini depan Rossoneri.

Hilangnya Fantanito dari lapangan selama 6 bulan memang belum membuat Milan mengalami krisis hasil, namun jadwal padat awal tahun adalah waktu yang krusial dalam penentuan nasib sebuah tim diakhir musim. Rossoneri menyadari penuh hal itu ketika musim lalu mereka mendatangkan Cassano, Mark Van Bommel, dan Urby Emanuelson. Mendatangkan pemain yang sudah jadi di bursa transfer musim dingin terbukti merupakan cara ampuh untuk mengisi bensin dari tim guna mempertahankan momentum bagus yang telah tercipta.

Eskalasi tingkat permainan Milan
Atas dasar keberhasilan itulah Milan kini ngotot mendatangkan Tevez. Tevez dinilai memiliki kualitas setara untuk menggantikan Cassano, dan memiliki kemampuan untuk menentukan hasil pertandingan. Tevez adalah tipe petarung berskill tinggi yang akan membuat lini depan Milan makin menakutkan. Disandingkan dengan Ibra, Robinho dan Pato, Tevez akan menjadikan seri a makin gemerlap.

Kedatangan Ibra dan Robinho satu setengah tahun lalu menjadikan Milan naik satu-dua level. Penyerang-penyerang bagus macam Marco Borriello dan Klaas Jan Huntelaar bahkan harus rela angkat koper dari Milanello. Milan mampu meraih scudetto dengan permainan menyerang yang mengerikan plus pertahanan yang sangat kokoh yang dikomando Thiago Silva.

Kedatangan Tevez dinilai lebih positif untuk target jangka pendek Milan selama 2-3 tahun kedepan. Dengan usia 27 tahun, permainan Tevez dinilai masih berada di puncaknya dalam kurun waktu itu. Kombinasi usia para attacante Milan dengan Ibra (30), Cassano (29), Robinho (28) dan Tevez (27) adalah kombinasi ideal yang masih akan bertahan 2-3 tahun lagi plus menjadi mentor pas buat Pato (22) dan El Sharaawy (19), meskipun akan membuat Pippo Inzaghi (38) makin gerah.

Finansial
Percayalah kalo aspek bisnis udah sangat diperhitungkan Milan. Transfer peminjaman setahun dan pembelian 24 juta euro untuk Ibra setelah sebelumnya ditransfer Barca dari Inter sebesar 70 juta adalah prestasi besar, begitu pula 18 juta untuk Robinho setelah harga belinya 32 juta. Dan kabar terakhir untuk Tevez, Milan menawarkan loan dengan opsi pembelian setelah 10-15 laga atau pencapaian gol tertentu.

Kehadiran Tevez memang beresiko membebani keuangan Milan, yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk mempermanenkan Ibra dan Kevin-Prince Boateng. Belum lagi gajinya yang besar akan semakin menggelembungkan biaya operasional Milan. Financial Fair Play yang dicanangkan UEFA menyaratkan kerugian maksimal adalah 38 juta euro

Posisi Tevez di Milan
Jika jadi, dimana Tevez akan bermain? Tevez, seperti halnya dengan Messi dan Cristiano Ronaldo, adalah seorang penyerang komplet yang mampu bermain di lini serang manapun. Striker, second striker, false nine, winger, inverted winger bisa dijalaninya dengan baik. Walaupun kadang-kadang bisa jadi nemesis bagi timnya sendiri karena egoistisnya. Di dressing room dan latihan, lingkungan kekeluargaan Milan yang menawarkan comfort zone terbukti mampu menjinakkan para beasts. Ibra, Cassano, Robinho, Van Bommel adalah pesepakbola bertalenta yang terkenal bad boy dan trouble maker tapi mampu dijinakkan oleh aroma kebersamaan Milanello.

Altrenatif
Bagaimana dengan opsi lain jika Operation Tevez ini gagal? Maxi Lopez sudah pasti dilewatkan karena tenggat dari Catania sudah lewat. Ada wacana penggaetan pemuda potensial asal Brazil, Leandro Damiao yang kini berusia 22 tahun dan bermain untuk Internacional. Damiao kabarnya juga dilirik Arsenal, Inter dan Juventus.

Will keep you posted. Milanovella.
@aditchenko

Tuesday, January 3, 2012

Winter transfer market

Winter market atau bursa transfer musim dingin telah dibuka. Memang tidak seramai musim panas, tapi transfer musim dingin cukup menentukan keberhasilan klub di akhir musim. Lihat AC Milan musim lalu, keberhasilan mereka mendatangkan Antonio Cassano dan Mark Van Bommel membuat mereka meraih scudetto ke 18 mereka.

Belanja musim dingin ini memerlukan perhitungan yang lebih matang dibanding dengan saat belanja musim panas. Budget yang ada pada umumnya dipakai saat summer transfer, dan klub juga sudah memperhitungkan posisi keuangan mereka diawal tahun untuk itu, yang umumnya tidak mengagendakan transfer musim dingin. Keengganan pemain untuk pindah di pertengahan musim juga jadi kendala transfer musim dingin ini. Pemain akan lebih sulit untuk beradaptasi dengan tim yang sudah berjalan setengah musim.

Transfer musim dingin bisa jadi diprioritaskan apabila pada pertengahan musim klub berada pada keadaan yang mendesak, misalnya karena ada pemain andalan cedera atau performa yang tidak memuaskan sehingga butuh tambahan pemain baru. Milan adalah contoh nyata dalam hal ini setelah tumbangnya Cassano. Mereka ngotot ingin mendatangkan Carlos Tevez.

Jika saya simpulkan dari berita-berita yang berseliweran, rasanya ada beberapa klub besar yang berpotensi menjadikan winter transfer kali ini menjadi ramai. Berikut klub-klub ini:
1. AC Milan
Milan benar-benar kepincut dengan kemampuan Tevez yang setara dengan Cassano. Sebenarnya Milan telah menyiapkan Maxi Lopez (Catania) sebagai alternatif, namun sampai dengan deadline yang diberikan oleh Catania (31 Desember 2011) mengenai transfer ini, belum ada pergerakan apapun dari Lopez. Ini berarti Milan yakin bahwa mereka akan mendapatkan Tevez.
Rumor lain Milan bersiap mendatangkan Riccardo Montolivo (Fiorentina), Cesare Natali dan Samir Hadanovic (keduanya Udinese), entah di bursa transfer ini atau di musim panas. Yang sudah hampir pasti datang di musim panas mendatang adalah Seydou Keita (Barcelona).

2. Paris Saint Germain
Setelah mendaratkan pelatih andal Carlo Ancelotti, PSG semakin dikaitkan dengan beberapa big name. Kehadiran pelatih sekelas Carletto diyakini akan membuat banyak bintang mau merapat ke kota Paris. Alexandre Pato (Milan), Ricardo Kaka (Madrid) dan David Beckham (LA Galaxy) sudah beberapa hari terakhir muncul, tapi muncul lagi nama Salomon Kalou (Chelsea) dan Mauricio Isla (Udinese) sebagai target tambahan.

3. Arsenal
The gunners benar-benar butuh tambahan kualitas jika mereka ingin bersaing memperebutkan gelar EPL. Untuk itulah legenda mereka Thierry Henry didatangkan, walaupun hanya 2 bulan. Wenger berharap king Henry mampu menularkan mental juara kepada para college boys Arsenal. Namun kedatangan Titi bisa membuat Marouane Chamakh hengkang ke klub lamanya, Bordeaux. Arsenal, yang juga memiliki urgensi transfer yang sama di lini belakang. Wenger telah mengincar bek tangguh Blackburn Rovers, Christopher Samba, yang seharga 8 juta pound, tapi persoalan klasik berupa dana segar masih menghinggapi awak Ashburton Grove. Menyikapi perkembangan ini, Tottenham Hotspurs kabarnya siap menikung.

4. Inter Milan
Massimo Moratti mungkin lagi sakit. Banyak sumber bilang kalo dia siap jual satu-satunya playmaker mereka, Wesley Sneijder. Manchester United sudah siap menampung, mengingat mereka masih belum bisa menemukan pengganti Paul Scholes. Jika gagal mendapatkan Sneijder, mereka bersiap mengincar wonderkid Ajax Amsterdam, Cristian Erikssen. Inter juga dikabarkan sedang mencarikan klub untuk Mauro Zarate. Tapi perkembangan terkini malah bilang kalo Barcelona mengincar Diego Forlan untuk menggantikan David Villa yang cedera. Tidak hanya mercato-out, Inter juga bersiap membenahi lini tengah mereka yang amburadul ditinggal cedera Sneijder. Freddy Guarin (Porto) dan Casemiro (Sao Paolo) diincar jika Sneijder jadi hengkang.

5. Lainnya
Juventus mengikat Marco Borriello dari AS Roma, hal ini memicu hengkangnya Amauri, yang dikabarkan diincar Fiorentina untuk menggantikan Alberto Gilardino yang hengkang ke Genoa. Juve juga berniat kembali mendatangkan Martin Caceres (Sevilla). Dari ibukota Roma, dua klub sedang berupaya berbenah. Roma berusaha mempertahankan Daniele De Rossi dari tangkapan Manchester City. City membutuhkan tenaga De Rossi saat Yaya Toure memperkuat Pantai Gading di Piala Afrika. Sementara Lazio mengincar Rasmus Elm dari AZ Aalkmar dan menjajaki kemungkinan pertukaran dengan klub Jerman, Hoffenheim, Zdravko Kuzmanovic dengan Djibril Cisse.

Dari Spanyol, walaupun membantah, Barcelona diberitakan terus membujuk Neymar (Santos) untuk hengkang. Bujukan pribadi dari Dani Alves dan Lionel Messi boleh jadi membawa hasil.


Mari kita tunggu kelanjutan telenovela Winter Market ini.

The end of Roberto Carlos era

Di era 90an hingga 2000an awal, seorang bek kiri adalah pemain penting dalam tim. Banyak bek kiri muncul yang memiliki reputasi mendunia, sinarnya mengalahkan bek sayap kanan. Tapi belakangan ini, kehebatan dan peran seorang bek kiri seolah hanya menjadi pelengkap tim.

The 90's left back
Roberto Carlos menjadi nominee pemain terbaik dunia beberapa tahun lalu, tendangan geledek dan kecepatannya membuatnya menjadi pemain sarat gelar. Begitu juga Paolo Maldini, kharisma dan konsistensi permainannya membuatnya mampu bertahan di sepakbola level tinggi hingga akhir karirnya di usia 38 tahun. Dari britania raya, Inggris tercengang dengan kemunculan Ashley Cole di akhir 90an, semebtara di sisi kiri pertahanan Jerman, regenerasi mulus dari Andreas Brehme ke Guido Buchwald lalu ke Christian Ziege.
Itu adalah sebaris fenomena keperkasaan bek kiri di 90an dan 2000an awal.

Brazil menjuarai Piala Dunia 1994 salah satunya melalui penampilan impresif Branco, yang menempati posisi bek kiri, dan bersinergi dengan Jorginho di sisi kanan menopang serangan sayap tim samba. Dalam sepakbola belakangan ini, saya mengamati peran bek kiri tidak melulu lagi diisi oleh pemain kidal murni seperti disebutkan diatas, dan peran bek kiri sekarang seperti kalah pamor dengan bek kanan.

Era bek kanan
Belakangan ini, posisi bek kanan jauh lebih dominan. Maicon, Dani Alves, Phil Jones, Sergio Ramos, Ignazio Abate, dan Micah Richards adalah para bek kanan yang sedang menanjak permainannya. Phillip Lahm diawal karirnya adalah seorang bek kiri, tapi kini dia digeser menjadi bek kanan. Peran si kidal di sisi pertahanan menjadi kurang diperhatikan, dan kemunculan bek kiri muda potensial sangat jarang belakangan ini, berbeda dengan kemunculan bek kanan, baik murni seperti Maicon maupun bentukan seperti Abate.

Si kidal dalam tim kini dialihkan ke peran yang lebih ofensif, mungkin terinspirasi oleh Lionel Messi. Permainan yang sulit dibaca dari si kidal dianggap lebih berguna untuk tim jika ditempatkan pada peran yang lebih menyerang ketimbang bertahan. Selain Messi, fenomena yang ditunjukkan oleh para pemain kidal seperti Mesut Ozil, Arjen Robben, David Silva, Juan Mata ataupun Fabio Coentrao membuat mereka didorong lebih kedepan untuk menginisiasi serangan tim.

Fakta memang berbicara bahwa pemain kidal adalah pemain minoritas dalam tim, mungkin hanya 20-30 persen dari sebuah tim berisi pemain kidal. Tuntutan akan versatilitas terhadap pemain, yang membuatnya harus bisa bermain di lebih dari satu posisi membuat urgensi keberadaan seorang bek kiri kidal menjadi kurang signifikan. Walaupun begitu, menurut saya penempatan pemain berkaki kidal di posisi kiri pertahanan tetaplah penting, yang sayangnya mulai diabaikan.

Marcelo
Coba lihat, di pasar pemain sekarang, bek kiri gak sebanyak bek kanan. Sulit menemukan tim yang mengandalkan tusukan dari bek sayap yang seimbang, sebaik pasangan Cafu-Roberto Carlos atau Garry Neville-Ashley Cole. Saat ini, bek kiri terbaik adalah Marcelo, yang sebenarnya bisa dibilang hanya bek kiri biasa jika dia bermain di era Roberto Carlos. Marcelo kini permainannya membaik berkat polesan Jose Mourinho. Marcelo kini menjadi seorang bek kiri komplet berkat peningkatan kemampuannya dalam bertahan, yang imbang dalam eksplosivitasnya dalam menyerang.

Tim nasional dan akhir era bek kiri
Para pelatih tim nasional sejumlah negara tangguh bukannya tidak menyadari kekurangan stok bek kiri ini. Vicente Del Bosque masih kesulitan mencari penerus Joan Capdevilla di kiri, dan sementara ini dia masih memaksakan Alvaro Arbeloa bermain di posisi itu. Begitu pula pelatih Italia Cesare Prandelli, yang belakangan malah menggeser Giorgio Chiellini ke pos bek kiri karena Italia memang masih belum menemukan penerus Paolo Maldini. Sementara Inggris masih beruntung karena mereka punya stok cukup melimpah. Ashley Cole dan Leighton Baines berkualitas setara, sementara Stephen Warnock dan si telenovela Wayne Bridge mengantri di belakang mereka. Last but not least, lihat juga timnas Indonesia, bek kiri terdepan justru bukan pemain kidal, M. Nasuha, Supardi dan Diego Michels di timnas U-23. Sementara bek kiri kidal muda potensial Yericho Christiantoko belum mendapak banyak kesempatan.

Evolusi taktik yang menempatkan si kidal di pos yang lebih ofensif telah membatasi pertumbuhan para bek kiri, termasuk membatasi kemunculan Roberto Carlos baru. Mungkin ini adalah akhir dari eranya.