Pages

Monday, January 9, 2012

Menyikapi "sisi miring" dari sepakbola

Masih ingat rumus phytagoras? Rumus untuk menghitung sisi segitiga siku-siku yang kita pelajari waktu jaman SD ini selalu menghasilkan sisi miring segitiga yang lebih besar daripada sisi lurusnya. Rumus a kuadrat + b kuadrat = c kuadrat membuktikan bahwa c kuadrat sebagai sisi miring adalah penjumlahan dari 2 sisi lurus.

Sepakbola sebagai olahraga kadang-kadang menunjukkan hal tersebut. "Sisi miring" dari olahraga ini terkadang menunjukkan betapa permainan sepakbola bukanlah sekedar sebelas lawan sebelas belaka. Ada beberapa pertandingan dimana hasil akhirnya ditentukan oleh hal-hal non teknis.

Kesalahan Chris Foy
Pada pertandingan babak ketiga Piala FA semalam antara Manchester City melawan Manchester United, kita ditunjukkan oleh sebuah kemenangan yang kontroversial. Jika kita menganalogikan dua "sisi lurus" adalah permainan tim di lapangan dan strategi pelatih, maka "sisi miring" yang kemarin beraksi adalah kepemimpinan wasit Chris Foy.

Are you sure, ref?
The dangerous tackle
Saya mencatat 3 kesalahan fatal dibuat Foy pada pertandingan semalam. Yang pertama tentu kartu merah langsung kepada kapten City, Vincent Kompany saat menekel Nani. Tackling tersebut dipandang brutal oleh Foy karena menggunakan dua kaki mengangkat keatas dan kedua kaki bek asal Belgia tersebut mengarah ke tulang kering Nani sehingga terdapat indikasi sengaja mencederai, walaupun nyatanya tackle tersebut mengenai bola secara bersih dan tidak ada cedera sedikitpun pada Nani.

Yang kedua adalah saat skor 2-3, Aleksandar Kolarov menerobos sisi kanan pertahanan United dan melepaskan crossing mendatar yang mengenai tangan Phil Jones. Foy bisa saja bilang dia tidak melihat kejadian itu, atau dia melihatnya tapi menilai tangan Jones tidak dalam posisi aktif. Tapi dalam tayangan ulang terlihat jelas bahwa Jones mengambil posisi menjatuhkan diri seperti seorang kiper saat memblok crossing Kolarov, dan bola jelas mengenai tangannya.

Ketiga tentu insiden Patrice Evra yang "merauk" muka Sergio Kun Aguero. Saat menerima lemparan kedalam, Evra udah jelas memegang muka Kun, dan saat Kun berusaha meloloskan diri, sang kapten United malah mendorong muka si Argentino yang membuatnya terjatuh. Bola memang masih dikuasain pemain City lainnya sehingga wasit memainkan advantage ball untuk City. Tapi saat melihat Aguero terkapar, barulah dia meniup peluit pelanggaran, dimana dia tidak memberikan kartu atas pelanggaran Evra tersebut. Padahal, Evra sudah mendapat kartu kuning, yang berarti seharusnya dia diusir keluar lapangan. Kun Aguero sendiri membuktikan ketangguhan mentalnya. Dijegal dan dihajar bek-bek United, dia masih bisa membobol gawang United yang dikawal oleh Anders Lindegaard, dan konsisten membahayakan lawan sepanjang pertandingan.

Gol Wayne Rooney
The amazin volley
Sundulan pengubah keadaan
Terlepas dari insiden-insiden tersebut, termasuk saat Micah Richard dijegal oleh Rio Ferdinand saat Ferdy menjadi orang terakhir di lini pertahanan United, pertandingan semalam berlangsung sangat menarik. Gol sundulan Rooney di babak pertama adalah aksi krusial yang langsung membangunkan City, tapi penyelesaian Rooney itulah yang sejatinya mengubah peruntungan United. Ditambah sundulan lainnya menyambar bola muntah hasil tepisan penalti kiper kedua City Costil Pantilimon. Selanjutnya, tendangan voli Danny Welbeck membawa United makin diatas angin. Kombinasi-kombinasi inilah yang membuat United unggul mutlak di babak pertama, dan memaksa Roberto Mancini melakukan perubahan pendekatan permainan, dengan memasukkan Pablo Zabaleta dan Stefan Savic menggantikan otak tim, David Silva dan inverted winger, Adam Johnson.

Paul Scholes
Sang legenda
Hal menarik lain tentu saja kembalinya the legend Paul Scholes. Entah bujuk rayu macam apa yang digunakan Fergie untuk membawanya kembali, yang jelas kehadiran Scholessey menegaskan kepanikan Fergie akan kinerja lini tengah mereka, ditambah faktor cedera Tom Cleverley dan Anderson. The ginger prince memang sempat membuat blunder akibat passing lemahnya diserobot Zabaleta, yang langsung mengirimkan low cross kepada Kun Aguero dan berbuah gol kedua untuk City, tapi secara keseluruhan penampilan Scholes mampu menstabilkan lini tengah United.

Sikap suporter Indonesia
Kita sebagai suporter Indonesia tentu tidak perlu bereaksi lebay terhadap hasil pertandingan tim favorit kita di Eropa, apalagi sampe berantem segala demi ngebelain mereka yang belom tentu kenal dan peduli sama kita orang Indonesia. Mereka jauh disana udah berbenah dan bersaing menuju singgasana terbaik dunia dan menjadikan sepakbola sebagai industri dan tontonan berkualitas, sementara sepakbola kita masih berkutat dengan perebutan kekuasaan dan pembodohan dari badut-badut pemimpin sepakbola kita, serta gerakan makar yang belum tentu menyelesaikan masalah. Lihatlah orang-orang yang katanya kapitalis itu, mereka betul-betul menjaga sepakbola. 

Sisi Miring Sepakbola
Dari pertandingan semalam, kita bisa mencontoh beberapa hal. Sikap pantang menyerah Kun Aguero dan kawan kawan patut dicontoh, meskipun tertinggal 0-3 di babak pertama, mereka mampu memaksakan skor 2-3. Skenario sesuai Battle of Istanbul 2005 Milan vs Liverpool memang tidak terulang, tapi perjuangan mereka sangat membanggakan. Tidak terpengaruh provokasi lawan, dan tidak terpengaruh kepemimpinan yang buruk dari wasit. Saat mereka dirugikan wasit pun para pemain mereka hanya melakukan protes tanpa tindakan anarkis. Mereka tetap fokus ke pertandingan.

Sisi miring dari pertandingan sepakbola bagaimanapun adalah bagian dari pertandingan. Kesalahan wasit yang juga manusia adalah hal yang harus disikapi dengan bijak oleh tim yang bertanding. Wasit juga manusia, tinggal bagaimana kita sebagai pelaku dan pendukung pertandingan mau menyikapi keadaan secara manusia atau bukan.

@aditchenko



No comments:

Post a Comment