Pages

Thursday, June 15, 2017

Too Good To Be True

Bursa transfer musim panas 2017-18 belum dibuka, namun Milan sudah mencuri start. Hingga saat ini, I Rossoneri sudah berhasil mengamankan tanda tangan empat pemain, dengan nama Andre Silva yang terakhir didatangkan. Namun Milan masih akan meramaikan lantai mercato ini. Hingga kini, duo Fassone-Mirabelli sedang mengupayakan dua nama yang proses negosiasinya sudah berada di tahap akhir, yaitu fullback kanan Atalanta, Andrea Conti dan gelandang bertahan Lazio, Lucas Biglia. Andai Biglia gagal didatangkan, manajemen sudah bersiap mengetuk pintu Paris Saint-Germain untuk meminjam gelandang mereka asal Polandia, Grzegorz Krychowiak.

Tidak cukup sampai di situ, Rossoneri masih berhasrat memperkuat lini tengah dan depan mereka. Untuk posisi gelandang tengah (mezz’ala), memang belum ada nama baru setelah Corentin Tolisso, gelandang Prancis yang sebelumnya menjadi incaran malah merapat ke Bayern Muenchen. Namun untuk posisi penyerang tengah, Milan memulai kembali negosiasi dengan Torino untuk Andrea Belotti. Nikola Kalinic, bomber Fiorentina asal Kroasia dijadikan sebagai alternatif. Belum lagi pos penyerang sayap. Setelah gagal memboyong Keita Balde yang lebih memilih Juventus, Milan kembali mengejar penggawa Atalanta Alejandro ‘Papu’ Gomez, selain itu ada nama-nama seperti Emil Forsberg (RB Leipzig) dan bahkan Lucas Moura (PSG) disebut-sebut turut dijadikan target.

Dengan begini, setidaknya kita akan melihat Milan yang diperkuat delapan pemain baru. Jumlah ini masih dapat bertambah jika mereka berhasil menjual penggawa-penggawa yang kini masuk daftar jual seperti Riccardo Montolivo, Andrea Bertolacci, Carlos Bacca, Andrea Poli, Cristian Zapata, Jose Sosa, M’baye Niang, Mattia De Sciglio, atau yang dapat dipertimbangkan untuk dijual seperti Gabriel Paletta, Gustavo Gomez, Jose Mauri, Gabriel, Luca Antonelli, Juraj Kucka atau Leonel Vangioni. Fassone dan Mirabelli tentu akan mencari tambahan pemain untuk menggantikan para fringe players itu. Pada musim 2017-18 nanti, hampir dipastikan bahwa kita akan melihat komposisi skuat Milan yang akan dihuni setidaknya 75% pemain-pemain baru.

Hal ini tentu saja terlihat menjanjikan. Pembenahan skuat memang menjadi agenda mendesak yang harus dilakukan mengingat kualitas yang kurang mumpuni. Bagi Milanisti, tentu mercato kali ini terlihat lebih menyenangkan untuk dilalui. Apa yang tidak lebih menyenangkan daripada mendapatkan berita hadirnya seorang pemain baru untuk melakukan tes medis di La Madonnina Clinica dan menandatangani kontrak di Casa Milan?

Situasi ini tentu terlihat too good to be true. Dan sebagai manusia yang selalu mengedepankan sikap waspada, mawas diri dan tidak ingin terlalu berharap banyak agar tidak kecewa, Anda tentu paham bahwa di balik segala sesuatu yang sifatnya too good to be true tadi, ada potensi kejutan-kejutan tidak menyenangkan yang harus siap Anda terima.

Saya pun dengan melakukan riset seadanya berusaha mencari tahu, kira-kira apakah potensi distopia yang bisa terjadi di balik situasi ini. Salah satu kawan yang saya kenal di dunia maya menuliskan ada hal yang ia sebut sebagai bom waktu yang diendap Milan di balik segala keriaan yang terjadi. Yang namanya bom waktu, sudah pasti terpasang secara tersembunyi dan tidak diketahui oleh si sasaran. Dan menurutnya, bom waktu itu adalah saga perpanjangan kontrak Gianluigi Donnarumma.

Betul, saga Donnarumma ini memang sensasional. Pasalnya, Donnarumma yang masih berusia 18 tahun inilah yang berkali-kali menyelamatkan gawang Milan dari kebobolan. Tepisan, tangkapan, sergapan dan terjangan berbuah penyelamatan dengan jumlah total 135 kali menurut situs Squawka telah mengamankan poin demi poin yang diraih Milan hingga akhirnya berhasil memenuhi target minimal yaitu lolos ke babak kualifikasi Liga Europa. Berkat peran krusial, pengharapan yang besar dan beban berat yang disandangnya ini, nama Donnarumma pun diangkat tinggi-tinggi oleh Mino Raiola, sang agen yang “sangat baik dalam melakukan pekerjaannya”, meminjam kalimat sinis yang dilontarkan Fassone.

Hingga detik ini, pukul 14.44 tanggal 15 Juni 2017 saat tulisan ini dalam proses pembuatan, Donnarumma memang sudah menunjukkan sinyal positif untuk bertahan. Namun tentu saja Raiola akan meminta bermacam klausul, yang salah satu yang terdengar wartawan adalah minimum release yang berada ‘hanya’ di angka 50 juta euro andai Milan gagal lolos ke Liga Champions. Masih belum jelas, Liga Champions musim kapan yang dimaksud, tetapi ada sumber yang mengatakan hanya Liga Champions musim 2018-19, ada pula yang mengatakan setiap musim. Ya, kita mengambil yang kedua, berarti Milan harus lolos ke Liga Champions setiap musimnya jika tidak ingin kehilangan Donnarumma. Uang senilai 50 juta euro memang cukup mahal, dan Donnarumma akan menjadi kiper termahal dunia menggeser Gianluigi Buffon karena itu. Namun uang sebanyak itu bukanlah masalah besar bagi klub seperti Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Chelsea, Manchester City, PSG atau Juventus. Karena itulah andai Milan harus menuruti klausul pelepasan, maka jumlah itu adalah 100 juta euro.

Namun menurut saya ada satu lagi potensi berbahaya yang dapat menghadang Milan di masa depan, tidak lain adalah faktor finansial. Baru-baru ini, Football Italia melaporkan bahwa proposal Milan terhadap rencana Financial Fair Play ditolak oleh UEFA. Hal ini terkait dengan bukti-bukti dokumentasi kepemilikan baru yang dirasa belum cukup, dan proyeksi perhitungan rencana ekspansi komersial yang belum dapat dijustifikasi.

Sementara itu, Calcio Finanza melaporkan bahwa manajemen baru amat percaya diri bahwa pendapatan Milan akan mengalami kenaikan secara gradual, hingga pada tahun 2022 nanti, angkanya akan menyentuh 500 juta euro, atau lebih dari dua kali lipat dari yang diperoleh sekarang. Kenaikan pendapatan itu juga diikuti kenaikan biaya gaji yang besarnya juga mencapai dua kali lipat, yang berarti mengindikasikan akan lebih banyak lagi pemain-pemain bintang yang datang. Namun sekali lagi, angka-angka tersebut belum dapat divalidasi, karena (mudah-mudahan saya salah) baru sebatas proyeksi di atas kertas.

Artinya, walaupun manajemen baru mengklaim bahwa mereka akan memperoleh kenaikan pendapatan secara signifikan pada pos komersial berupa sponsorship dan penjualan merchandising, namun hingga kini masih belum ada tanda-tanda proyeksi ini akan diwujudkan, minimal dalam bentuk kontrak kerjasama dengan pihak sponsor potensial atau apa pun yang dapat meyakinkan UEFA. Dari informasi yang saya ingat pada saat proses pengambilalihan, manajemen baru ini baru mengisyaratkan rencana mereka untuk mendirikan perusahaan di negeri Tiongkok yang bertujuan memperluas pasar di wilayah Asia, khususnya negara Tiongkok. Karena alasan inilah manajemen baru meminta waktu kepada UEFA untuk melakukan presentasi kembali pada bulan Oktober mendatang.

Kembali ke fenomena shopping spree yang kini melanda Milan, rasanya inilah hal yang perlu diwaspadai. Di balik kedatangan pemain bintang yang datang pada mercato kali ini, ada obligasi dari manajemen untuk menghimpun pendapatan yang amat besar nilainya. Lalu dari sisi teknis, ada beban yang teramat besar untuk memberikan prestasi instan, dalam hal ini setidaknya lolos ke ajang Liga Champions setiap musimnya. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa kehadiran pemain-pemain berkualitas tidaklah menjamin prestasi, apalagi yang sifatnya instan. Adakah jaminan bahwa pemain-pemain baru ini langsung nyetel dengan klub baru, pelatih baru, taktik baru, suasana baru Milan?

Shopping spree ini telah menceburkan Milan pada keharusan-keharusan ini, dan memang inilah pilihan (populer) yang diambil. Positifnya, aura kompetitif akan terasa di skuat Milan, tidak lagi ada cerita pemain yang bertarung setengah-setengah seperti sebelumnya. Target yang dicanangkan tinggi oleh pucuk pimpinan jelas akan menularkan mentalitas pemenang kepada para pemain. Mentalitas pemenang Inilah yang diharapkan menjadi penggerak dari pencapaian target ambisius ini.


No comments:

Post a Comment