Pages

Sunday, November 15, 2015

Kenangan Scudetto 1998-99 Milan

Andres Guglielminpietro, 1999. Photo from Gazzettaworld,it

Seberapa sering Milan menjuarai Liga Italia Seri A? Lumayan banyak, 18 kali. Tapi sejauh saya mulai suka sepak bola, tepatnya tahun 1994, baru tiga kali saya menyaksikan Milan merengkuh scudetto, yaitu tahun 1999, 2004 dan 2011. 

Gelar juara kompetisi lokal sepertinya memang bukan hal yang diwajibkan di rezim Silvio Berlusconi, jika ingin berbicara sarkastis. Tapi fakta memang tidak bisa berkata lain. Sejak sang patron berkuasa tahun 1986 silam, koleksi scudetto Milan memang 'hanya' delapan buah. Bukan berarti tidak menganggap penting kompetisi ini, namun Milanisti rasanya sudah bisa menerima torehan lima trofi Liga Champions, tiga piala Super Eropa dan tiga Piala Interkontinental sebagai pembanding kesuksesan dengan tim-tim lain.

Karena itulah saya ingat beberapa momen scudetto ini dengan agak mendetil. Contohnya adalah momen ketika Milan merebut scudetto musim 1998-99.

Musim tersebut, Alberto Zaccheroni dipercaya Berlusconi sebagai pelatih. Ia menggantikan Fabio Capello yang gagal pada comeback-nya ke Rossoneri. Zaccheroni yang musim sebelumnya sukses membawa klub semenjana Udinese ke peringkat tiga, datang membawa beberapa pemain andalannya seperti penyerang Oliver Bierhoff dan bek kanan Thomas Helveg.

Zac, panggilannya, juga mengubah sistem dan pola bermain Milan dari menggunakan empat bek menjadi tiga bek. Imbasnya, Paolo Maldini mulai bergeser ke sentral pertahanan untuk berpartner dengan Billy Costacurta, Jose Chamot atau Luigi Sala. Khusus bagi Sala, musim ini adalah musim terbaik sepanjang karirnya, mengingat sisanya ia lebih banyak bermain di klub papan tengah.

Zac, pelatih kelahiran 1953, membutuhkan dua wingback yang aktif membantu serangan, untuk itu ia mempercayai Helveg di sisi kanan, karena pemain ini memang telah mahfum dengan pola tiga bek. Sementara di sisi kiri, Zac menemukan Andres Guglielminpietro, atau dikenal sebagai Guly.

Di lini tengah, Zac menginginkan dua gelandang bertipe defensif. Di samping menjadi tembok di depan trio bek sentral, dua gelandang ini kerap mengisi posisi di wilayah yang ditinggalkan wingback saat mereka naik ke pertahanan lawan. Demetrio Albertini menjadi pilihan otomatis, dan ia kerap ditemani bergantian oleh Zvonimir Boban, Federico Giunti atau pemain muda, Massimo Ambrosini. Sementara lini depan dihuni Bierhoff bersama George Weah dan Leonardo yang bermain melebar. Maurizio Ganz kerap tampil sebagai pengganti.

Awal musim dijalani Milan dengan kurang memuaskan. Setelah mengalahkan Bologna dan Salernitana, Milan takluk 1-3 dari Fiorentina di San Siro, dilanjutkan dengan kekalahan dari Cagliari. Dalam 10 laga awal, mereka juga ditahan imbang oleh Bari dan Inter.

November hingga Februari menjadi periode yang tidak menguntungkan bagi Rossoneri. Kekalahan 0-4 didapat dari Parma di Ennio Tardini, disusul hasil imbang dari Juventus. Zac kemudian mulai rutin memainkan Ambrosini, dan menggeser Boban ke posisi trequartista mendukung duet Weah-Bierhoff, alih-alih bermain sebagai poros ganda di tengah bersama Albertini. 

Milan masih menduduki posisi ke-4 hingga awal Maret 1999, sementara Lazio yang kala itu begitu bertabur bintang masih kokoh di puncak klasemen. Namun kemenangan 2-1 atas Parma di San Siro menjadi titik balik.

Laga sulit ini diawali ketertinggalan Milan lewat gol Abel Balbo, namun Rossoneri bangkit di babak kedua. Sepakan keras kapten Paolo Maldini dari luar kotak penalti mampu membobol jala Gigi Buffon, dan ini mengawali kebangkitan Milan.

Selanjutnya, Zac memasukkan Ganz. Laga yang sepertinya imbang ini diubah plotnya oleh Boban dan Ganz. Umpan cantik Boban mampu melewati Fabio Cannavaro dan menjangkau jalur lari Ganz. Kontrol bola Ganz tidak sempurna, namun berhasil mengecoh Buffon yang coba menyergap. Bagai dikejar hantu, Ganz melakukan sprint sekuat tenaga meninggalkan Cannavaro, lalu menjatuhkan diri untuk mendorong bola ke gawang kosong. San Siro pun seperti meledak.

Kemenangan ini benar-benar mengubah jalan cerita, karena hingga dalam sisa delapan laga terakhir, Milan selalu meraih tiga poin, termasuk mengalahkan Udinese 1-5 di Friuli dan Juventus 0-2 di Delle Alpi. Ketika kompetisi menyisakan dua pekan, bencana akhirnya datang bagi Lazio saat mereka ditahan imbang Fiorentina di Artemio Franchi, yang membuat posisi puncak dikudeta Milan karena mereka berhasil mengalahkan Empoli.

Laga pamungkas di Renato Curi melawan Perugia wajib dimenangi untuk mengunci gelar. Milan unggul dua gol di babak pertama lewat Guly dan Bierhoff, sementara Perugia mulai mengancam. Hidetoshi Nakata berhasil memperkecil ketertinggalan lewat eksekusi penalti, yang membuat Milan ketar-ketir. Sepuluh menit jelang laga usai, penyerang tuan rumah Christian Bucchi nyaris menggagalkan impian Milan.

Di posisi menyamping dari gawang Milan, ia menerima umpan matang dari Milan Rapajc. Bola lalu dihajarnya dengan keras ke pojok gawang, bagaikan mereplikasi tendangan Marco Van Basten ke gawang Rinat Dasayev pada final Piala Eropa 1988 antara Belanda melawan Uni Soviet. Namun Christian Abbiati menolak untuk membiarkan Bucchi mengkopi momen Van Basten itu. Dengan merentangkan penuh badannya, ia menepis tendangan keras itu keluar lapangan. Penyelamatan yang hingga kini masih sering dikenang oleh Adriano Galliani. "Penyelamatan itu menentukan gelar," ujarnya. Dan akhirnya, gelar juara Italia ke-16 resmi didapatkan Milan, dengan hanya unggul satu poin atas Lazio.

Guly dan Ganz, Pahlawan Yang Tak Banyak Dibicarakan
Publik akan lebih mengingat kontribusi Bierhoff, Weah, Leonardo atau Boban. Mungkin juga Bruno N’gotty yang mencetak gol penentu lewat tendangan bebasnya ke gawang Bologna pada bulan Januari, atau Abbiati dengan penyelamatannya. Namun sesungguhnya, Guly dan Ganz juga pantas mendapat apresiasi.

Dua pemain ini sama sekali tidak diperhitungkan. Guly, yang saat itu berusia 24 tahun didatangkan sebagai alternatif penyerang sayap Milan. Namun tentu saja ia sulit menggeser Weah dan Leonardo yang saat itu berada di puncak karir. Zac melihat kecepatan dan permainan ngotot Guly sebagai aset untuk bermain sebagai gelandang sayap kiri.

Meski berposisi di sisi kiri lapangan, Guly bukan tipe pemain sayap klasik yang kerap mengirim umpan silang dengan kaki kirinya. Secara alamiah, Guly kerap memindahkan bola ke sisi kaki kanan untuk digiringnya ke tengah. Inilah yang dilakukannya ke gawang Perugia pada laga terakhir itu.

Zac baru sering memainkannya pada paruh kedua kompetisi. Perugia seperti menjadi lawan favoritnya karena gol pertamanya di Seri A Italia juga dicetak ke gawang tim ini. Namun pada musim-musim berikutnya karir Guly tidak berlangsung awet di level top karena cedera yang kerap dialami. Guly sempat hijrah ke Inter lalu mengelilingi separuh bumi sebelum mudik ke Argentina pada akhir karirnya.

Lain lagi dengan Ganz. Ia memang sejak awal diplot sebagai penyerang pengganti, dan ia tidak memiliki kebisaan bermain di posisi selain penyerang seperti halnya Guly. Berusia 31 tahun saat pindah ke Milan dari rival sekota, Inter, Ganz hanya mencetak lima gol pada musim 1998-99 ini, namun kesemuanya adalah gol penting.

Ganz mencetak gol pertamanya musim itu pada paruh kedua kompetisi. Ia melakukannya ke gawang Piacenza pada menit ke-92 untuk menyelamatkan Milan dari kekalahan di stadion Leonardo Garilli. Kedua, Ganz mencetak gol nomor dua Milan yang menamatkan perlawanan alot Venezia di San Siro. Selanjutnya, Ganz kembali memberi Milan satu poin lewat gol penaltinya pada menit ke-93 untuk menyelamatkan Milan dari kegemilangan Yksel Osmanovski, penyerang andalan Bari yang mencetak dua gol di San Siro.

Gol ke gawang Parma seperti yang diceritakan di atas menandai torehan keempatnya musim ini. Dan terakhir, tendangan guntingnya pada menit 95 ke gawang Sampdoria memang dicatat sebagai gol bunuh diri bek Marcelo Castellini, namun memberi Milan kemenangan vital yang membawa mereka terus menekan Lazio. 

Scudetto musim 1998-99 memang didapat Milan dengan cara yang dramatis, paling dramatis bagi Milan sepanjang ingatan saya. Namun di satu sisi, hal ini menunjukkan tim yang kurang matang secara taktik dan permainan. Kemenangan banyak didapat berkat semangat tinggi, dan –tanpa bermaksud mengecilkan- keberuntungan. Zac kemudian tidak dapat menghindari sindrom musim kedua yang memang seperti ditujukan untuk menguji kemampuan sesungguhnya.

Posisi Zac juga semakin tidak nyaman karena Berlusconi memang tidak suka jika timnya bermain dengan tiga bek. Berlusconi memang kurang sreg dengan cara Zac menangani timnya. Ia pernah menyebut Zac bagaikan tukang jahit yang tidak cocok untuk menjahit 'bahan tertentu'. Jika Anda berbeda cara kerja dengan atasan, atasan Anda memang hanya tinggal menunggu Anda berbuat kesalahan untuk menyalahkan Anda. Dan akhirnya, itulah yang terjadi pada musim 1999-00. Hasil-hasil buruk kemudian membawa Zac pada pintu keluarnya dari Milanello.

1 comment:

  1. baru tiga kali saya menyaksikan Milan merengkuh scudetto, agen judi bolavita terpercaya indonesia mari bergabung sekarang juga

    ReplyDelete