Pages

Friday, July 26, 2013

Tidak Perlu Berpikir Positif Untuk Sesuatu yang Salah

Saya pernah sekali membahas tentang kiprah para komentator amatir, alias para komentator berita di media online. Sedihnya, menurut seorang jurnalis, komentar-komentar di media online tersebut memang adalah cerminan dari bangsa kita.

Lihat saja komentar-komentar yang tersaji di artikel rekan saya Yoga Cholandha yang di publish di sebuah media online. Dalam artikel yang hingga saat ini sudah dikomentari sebanyak lebih dari 1000 orang dan nampaknya masih berlanjut itu, teman saya sebenarnya dengan telak menelanjangi kebobrokan sepak bola kita. Bagaimana sepak bola tidak diurus dengan benar, dan kita terus dininabobokan oleh kedatangan tim-tim Eropa, yang tidak lebih hanya bermotif uang.

Memang betul tidak ada salahnya jika sesekali kita mengagendakan laga eksibisi menghadapi tim-tim yang sebelumnya hanya bisa kita saksikan dari layar datar televisi sambil berantem di twitter dengan suporter layar kaca lainnya. Namun jika keadaan ini terus kita syukuri, dan menganggap ini adalah awal kemajuan sepak bola Indonesia, maka kita akan seterusnya terjebak dalam limbo prestasi sepak bola nasional.

Lalu cobalah lihat komentar-komentar di artikel berikut, soal gagasan Indonesia pindah ke zona Oseania. Para komentator itu kemudian dengan ‘gagah’ menuliskan bahwa ‘kita harus mengalahkan lawan yang kuat jika ingin menjadi yang terkuat’ atau ‘kita tidak boleh menjadi pengecut dengan memilih lawan yang lemah’.

Apakah yang dapat disimpulkan dari situ? Ya, ketahuan deh bangsa kita memiliki beberapa karakter khas. Inferior dan delusional. Disatu sisi, bangsa kita begitu merasa inferior dengan kerelaan dibantai dengan skor telak di lapangan. Meminjam kata-kata Yoga, rela menjalani medan perang palsu demi menyenangkan meneer-meneer atau sinyo-sinyo bule yang biasa kita saksikan di televisi. Di sisi lain, bangsa kita begitu merasa hebatnya, merasa lawan-lawan di zona Oseania tidak ada apa-apanya buat kita. Kita juga begitu cepat puas karena akhirnya klub-klub besar itu mau datang. Seakan hal ini akan membuat kita 9 tahun lagi mengikuti Piala Dunia, dan pemain-pemain kita akan dilirik oleh klub Eropa berbekal pengalaman bertanding melawan para pemain kelas dunia.

Tiga tahun lalu saat Indonesia kalah dari Malaysia di final Piala AFF, saya bilang kalau Indonesia bermain jelek dan memang tidak pantas menang di laga final. Tapi salah seorang teman saya malah berkomentar. ‘Ah nggak jelek kok, mainnya sudah bagus. Hanya kalah beruntung saja.’ Ya begitulah mental kita. Masih merasa menang, merasa berbesar hati dan terus menghibur diri padahal jelas-jelas kalah. 

Sebenarnya, saya tidak mau mengurusi para komentator asbun dan minim pengetahuan itu. Tapi sedihnya, hal ini memang persoalan utama bangsa kita. Pernah pula ada artikel yang menyajikan fakta sejarah baru, tapi yang ada malah dibilang laten komunis lah, pemecah belah bangsa lah. Ketahuan sekali mereka terlalu menghayati pelajaran-pelajaran Orde Baru.

Sebegitu hauskah kita akan kejayaan? Mungkin saja. Haus kejayaan bukanlah sesuatu yang salah, namun jelas menjadi kesia-siaan belaka jika kehausan kita pada kejayaan membuat kita tidak bisa mengakui kekurangan diri. Tidak legowo mengakui bahwa kita sedang melangkah pada jalan yang salah, dan tidak terima jika kita dikritik orang lain. Sifat-sifat ini hanya membuat kejayaan yang kita nanti-nantikan terus menjadi impian dan dongeng belaka.

Tidak ada gunanya sok bersikap positif, hal itu hanya berguna jika kita kalah tapi sebenarnya sudah berada pada jalur yang benar. Namun sayangnya, kita menyikapi positif pada sesuatu yang salah. Sungguh tidak akan membawa kita kemana-mana. Kalah ya kalah, salah ya salah. Satu-satunya jalan jelas berbenah. Benahi pembinaan, benahi kompetisi, benahi wasit, benahi pengurus dan federasi, benahi manajemen dan keuangan klub, benahi suporter. Benahi stakeholder sepak bola Indonesia.

Tidak perlu memikirkan taktik mana yang cocok untuk tim, siapa yang akan dipasang sebagai playmaker dan hal-hal teknis lainnya jika menyadari kesalahanpun tidak bisa. Menyadari bahwa sepak bola kita tengah tertinggal berpuluh-puluh tahunpun tidak bisa.

Sunday, July 21, 2013

Apakah Gabriel Paletta Solusi Tepat Pertahanan Milan?

Sejak 3 dekade silam, AC Milan adalah tim yang terkenal dengan keberadaan pemain-pemain belakang tangguh berkelas dunia. Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Alessandro Nesta, Paolo Maldini, hingga Jaap Stam. Tidak heran, nama-nama ini seolah menjadi hantu bagi pemain-pemain belakang baru Milan karena permainan dan kontribusi mereka kerap dibanding-bandingkan dengan nama-nama yang melegenda itu.

Roque Junior, Martin Laursen, Roberto Ayala, Jose Chamot maupun Fabricio Coloccini sempat mengisi skuat ini berbarengan dengan para legenda itu. Mereka bukanlah pemain belakang yang buruk, namun akibat perbandingan-perbandingan dengan para legenda tersebut mereka gagal memunculkan permainan terbaik. Kesempatan bermain merekapun terbatas.

Dua musim lalu, seorang bek Brasil bernama Thiago Silva didapuk menjadi calon legenda Milan karena kemajuannya yang sangat pesat sehingga menjadikannya bek tengah berkelas dunia. Namun kondisi keuangan Milan yang buruk memaksanya hengkang ke Paris Saint Germain. Kini, sektor pertahanan Milan diperkuat oleh duet Philippe Mexes dan Cristian Zapata, dengan dilapis oleh pemain-pemain senior seperti Cristian Zaccardo dan Daniele Bonera, juga seorang bek muda bernama Jherson Vergara.

Baik Mexes, Zapata, Zaccardo maupun Bonera juga bukanlah pemain yang buruk. Hanya saja, disebut berkelas duniapun tidak. Hal ini cukup mengganggu Rossoneri karena ketiadaan bek tengah berkelas dunia dipercaya akan semakin menjauhkan mereka dari gelar. Hal ini bukannya tidak disadari oleh manajemen. Pada bursa transfer musim panas ini, mereka kemudian dikaitkan dengan beberapa nama yang dianggap akan mampu memperkuat lini belakang mereka.

Nama pertama adalah Davide Astori. Bek yang kini bermain di Cagliari ini adalah jebolan akademi Milan. Astori, yang kini berusia 26 tahun sudah wara-wiri ke tim nasional Italia. Ia juga diincar oleh Manchester United sebagai bukti kehebatannya. Milan juga sebenarnya sempat mengincar Angelo Ogbonna, bek yang juga langganan tim nasional Italia. Namun eks pemain Torino ini sudah berbaju Juventus. Banderol kedua pemain yang mencapai 15 juta euro adalah hambatan bagi Milan.

Nama kedua yang kini ramai dibicarakan adalah bek Parma asal Argentina, Gabriel Paletta. Bek jangkung berusia 27 tahun ini hangat dibicarakan media-media Italia sebagai target transfer Milan. Siapakah Paletta? Beberapa tahun lalu, publik lebih mengenalnya sebagai pemain berbakat Argentina yang gagal bersinar di kompetisi Eropa.

Paletta mengawali karirnya di klub Banfield sejak usia 16 tahun. Hanya butuh waktu tiga tahun baginya untuk menembus tim utama Banfield, hal yang kemudian membuatnya terpilih menjadi pengisi lini belakang tim nasional junior Argentina pada perhelatan Piala Dunia U-20 tahun 2005 silam.

Penampilan memikat Paletta di kejuaraan tersebut memikat klub besar Inggris, Liverpool. Sayangnya, Paletta gagal menembus posisi starter. Total, ia hanya bermain sebanyak 3 kali sepanjang musim 2006/2007 tersebut. Selanjutnya, Paletta mudik ke Argentina untuk memperkuat Boca Juniors.

Di Boca, Paletta menemukan kembali kepercayaan dirinya. Sadar bahwa ia pindah ke Eropa di usia yang terlalu muda membuatnya tampil baik bersama Boca. Bersama klub rival abadi River Plate tersebut, Paletta menyumbangkan gelar juara Torneo Apertura dan Recopa Sudamericana tahun 2008.

Panggilan kembali ke Eropa datang. Kali ini klub papan tengah Italia, Parma yang membelinya. Bermain di Parma yang relatif lebih jauh dari sorotan ketimbang di Liverpool ternyata menjadi berkah baginya. Bersama Parma inilah Paletta kemudian mulai menapaki puncak permainan sebagai seorang pemain belakang berkelas. Kompetisi Seri a telah mengangkat namanya.

Paletta bermain gemilang sepanjang musim lalu. Situs whoscored menilai rataan performanya sebesar 7,2. Hal itu menjadikannya pemain dengan nilai rating terbaik kedua Parma musim lalu dibawah Jonathan Biabiany. Musim lalu, Paletta diasuh dua pelatih yaitu Franco Colomba dan Roberto Donadoni. Ditangan Colomba, Paletta bermain dalam sistem empat bek dimana ia berduet dengan Alessandro Lucarelli. Masuknya Donadoni menggantikan Colomba di pertengahan musim mengubah sistem permainan. Paletta hingga akhir musim bermain dengan sistem tiga pemain belakang, dan tetap tampil mengesankan.

Milan tidak salah mengincar pemain ini. Secara statistik, penampilan Paletta mungkin masih berada dibawah Mexes dan Zapata, namun dalam beberapa aspek seperti tekel maupun kemampuan membaca permainan Paletta sedikit lebih unggul. Pendek kata, kehadiran Paletta akan menciptakan kompetisi yang positif di lini pertahanan Milan sehingga performa tim akan meningkat secara keseluruhan.

Namun lagi-lagi harga menjadi masalah. Setelah sempat dihargai 10 juta euro, Direktur Parma Pietro Leonardi tiba-tiba mengeluarkan pernyataan mengejutkan, yaitu siapapun yang berminat pada Paletta harus mengeluarkan uang 35 juta euro. Pernyataan Leonardi tersebut seolah menegaskan bahwa pemain ini berstatus tidak dijual.

Tidak mengherankan memang karena Parma sendiri kini sedang berusaha bangkit sebagai kekuatan baru Seri a seperti tahun 90an lalu dimana mereka adalah tim papan atas. Ambisi tersebut tertuang di bursa transfer ini. Meski harus kehilangan penyerang muda berbakat Ishak Belfodil, namun sebagai gantinya mereka mendapatkan Antonio Cassano. Dengan poros Cassano di penyerangan dan Paletta di pertahanan inilah Parma mengusung optimisme menuju musim baru.

Kini tinggal bagaimana Adriano Galliani sebagai transfer guru Milan bertindak. Galliani memang penuh teka-teki. Ia terkenal sering mewujudkan transfer-transfer mengejutkan buat Milan, dan tidak jarang transfer tersebut terjadi menjelang penutupan. Galliani tahu benar akan kebutuhan Milan pada bek tangguh, namun lebih dari itu ia berhadapan dengan kondisi finansial Milan yang terbatas.

(tulisan ini ditolak oleh salah satu fanbase, karena dianggap sebagai tulisan rumor belaka.. hihihi)

@aditchenko

Friday, July 19, 2013

The Emerging of Indonesian Football Blogger

Apa yang biasa Anda cari penggemar sepak bola dari sebuah website sepak bola? Hasil pertandingan? Siapa pencetak gol? Urutan berapa tim favorit di klasemen? Transfer pemain? Lupakan saja, karena sekarang terdapat sekumpulan orang yang tengah mencoba memberi asupan yang beda terkait tulisan sepak bola.

Dulu gue juga begitu, hanya peduli pada hal-hal remeh sepak bola seperti hasil laga dan berita-berita ringan. Baca media luar? Ah buat apa.

Tapi ada saat dimana gue merasa kurang puas dengan apa yang gue baca. Merasa media hanya menyajikan yang itu-itu saja padahal sesuatu dalam diri gue bilang kalo sepak bola lebih dari itu.

Awalnya, seorang teman ngasih tau tentang kesukaannya membaca tulisan salah seorang penulis sepak bola. Teman gue ini bahkan gak suka-suka amat sepak bola. Ini membuat gue mikir 'wah hebat amat ini orang bisa bikin tulisan bola yang bisa disukai oleh orang yang sebetulnya gak paham bola'. Dari situlah pencarian dimulai.

Gue mulai blogwalking. Pencarian berhenti pada beberapa nama. Saat itu, 2 tahun lalu, gue mulai rajin membaca tulisan-tulisan mereka. Timbul semacam keinginan untuk bisa seperti mereka, yaitu memandang sepak bola dari berbagai sisi. Sepak bola lebih dari sekadar memperhatikan situs livescore, banter dengan fans lawan, melihat-lihat kompilasi gol-gol terbaik di youtube, atau menghapal nama-nama pemain. Orang-orang ini membuka mata gue lebar-lebar.

Ada yang kuat di angle dan memiliki style yang khas, ada yang tata kalimatnya enak dibaca seperti layaknya kita membaca novel, ada yang menuangkan pengalaman perjalanannya ke berbagai belahan dunia, ada yang membahas industri dan taktik, ada yang mencampurnya dengan sejarah, ada pula yang menyambungkannya dengan filsafat. Sepak bola membawa kita kemana-mana. Ke berbagai disiplin ilmu.

Dari mereka jugalah gue mengenal penulis-penulis lain. Ternyata memang banyak penulis-penulis berbakat yang tinggal diasah sedikit dan diberikan media, maka mereka akan bersinar.

Seiring berjalan waktu, gue melihat lagi kemunculan beberapa grup baru, terdiri dari penulis-penulis yang juga baru. Mereka seakan menunggu untuk meledakkan potensi mereka, lalu membuat berbagai produk untuk menambah kekayaan khazanah penulisan sepak bola di Indonesia.

Kini, tulisan sepak bola dari penulis atau blogger Indonesia sudah menjamur baik dalam bentuk blog sederhana, website keren maupun mengisi rubrik olahraga pada media online ternama. Keadaan ini berbeda jauh dibandingkan 3-4 tahun lalu. Kemunculan para penulis maupun blogger ini tentu menyenangkan. Mereka memberi pengetahuan, sudut pandang, cerita, hingga ajakan untuk membawa kita semua belajar memaknai sepak bola lebih luas, mencoba menelisik sisi-sisi lain dan merambah sektor akademis dengan menjadikan tulisan-tulisan sepak bola sejajar dengan karya tulis ilmiah. Menaikkan level sepak bola, juga membuang jauh-jauh semangat bigotry. Blogger-blogger maupun para penulis ini menunjukkan bahwa mereka mampu membentuk pasar, bukan sekadar mengikuti pasar. Meskipun mengubah pola pikir stakeholder sepak bola secara masif juga masih terlalu jauh, meskipun kekerasan masih terjadi, meskipun kondisi sepak bola nasional masih jauh dari ideal, tapi ini sungguh permulaan yang baik.

Blogger-blogger ini memberi warna baru pada dunia penulisan sepak bola di Indonesia. Seakan menunjukkan bahwa masih banyak pihak-pihak yang memberi kritik yang konstruktif, memberi pengetahuan, menggelitik keinginan belajar dan tidak cepat puas. Mereka juga banyak meneliti langsung berbagai fakta yang banyak orang tidak tahu, bahkan mencari tahu dan membantu para legenda sepak bola Indonesia yang ironisnya dilupakan oleh anak-anak muda bangsa Indonesia sekarang karena tontonan sepak bola Eropa telah melenakan dan membuat mereka cuek terhadap sepak bola negeri sendiri dan pelaku-pelakunya.

Prestasi tim nasional Indonesia tengah terjun bebas, kompetisi yang (katanya) profesional masih carut marut, federasi yang haus kekuasaan dan mengotori sepak bola dengan berbagai kepentingan mereka, juga pembinaan usia muda tidak berjalan. Namun meski demikian, kebangkitan penulisan tema sepak bola di negeri ini adalah sesuatu yang menyegarkan, mungkin satu-satunya yang bisa dibanggakan. Bukan gerakan positivis semata, bukan sekadar menjadi macan kertas belaka, lebih dari itu tidak sedikit dari penulis dan blogger ini menggagas berbagai aksi nyata demi kemaslahatan sepak bola nasional.

Tidak peduli negara kita adalah negeri para penonton, dan bukan (atau belum jadi) negara sepak bola, setidaknya negara ini punya pejuang yang rela begadang demi riset tulisan, rela keluar uang ekstra untuk asik mengetik di kedai kopi, mengorbankan waktu untuk menggelar diskusi-diskusi yang menambah wawasan, membuat film atau lagu, menyisihkan waktu untuk menemui para legenda, turun langsung membantu perkembangan sepak bola dari level grassroots dan kemudian mengawali perubahan dengan menuliskan pengalaman ini demi memunculkan kesadaran. 

Yes, they are real.

Friday, July 12, 2013

Milan: Antara Mercato dan Taktik

Milanisti mana yang tidak gemas melihat pergerakan tanggung transfer Milan? Bukan hanya sekarang, tapi beberapa tahun kebelakang. Buku kas Milan harus seimbang, tidak boleh ada kas keluar untuk membeli pemain sebelum ada yang pergi. “Kita tidak bisa membeli sebelum menjual.” Begitu kata Adriano Galliani berkali-kali.

Kondisi finansial Milan memang mengenaskan. Dalam dua tahun terakhir selalu mengukir kerugian diatas 50 juta euro –jumlah yang melebihi ambang batas yang ditetapkan UEFA melalui Financial Fair Play (FFP)- yang pada akhirnya memaksa Milan untuk melakukan pengetatan belanja secara ekstrim. Masih untung musim panas ini tidak terjadi lagi overhaul skuat seperti tahun lalu. Biaya gaji Milan juga tidak terkontrol. Swiss Ramble sudah menuliskannya dengan komprehensif dalam tulisannya yang lebih menyerupai laporan audit bahwa biaya gaji Milan adalah salah satu yang tertinggi di Italia, mencapai 200 juta euro per tahunnya, padahal pendapatan hanya 20-30 juta lebih banyak. Dari sisi bisnis, sangat tidak sehat.

Orang bijak bilang, apa yang kita alami sekarang adalah buah dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Milan benar-benar memetik buahnya sekarang. Untungnya ada FFP yang sangat memberi efek disintensif pada kelakuan jor-joran klub sepak bola, termasuk Milan. Tidak hanya mampu menghemat anggaran belanja dan gaji pemain, Milan juga punya basis pendapatan komersial yang paling tinggi diantara klub-klub Italia lain berangkat dari kesadaran akan pentingnya mendapat lisensi dari UEFA sebagai tanda lulus tes FFP.

Tapi tetap saja toh hal ini tidak banyak berpengaruh pada kebijakan transfer Milan. Peningkatan performa dari tim marketing and communication Milan memang berangkat dari kesadaran mereka untuk makin memperkuat brand ke level global. Tahun 2012 lalu, Deloitte mengemukakan Milan memperoleh nyaris 100 juta euro dari kegiatan komersial mereka, atau yang tertinggi diantara klub Italia lainnya. Namun hal ini masih belum cukup –setidaknya saat ini- untuk mendongkrak performa tim lewat penguatan pemain di bursa transfer.

Keisuke Honda dan Adem Ljajic adalah pemain yang kini diidam-idamkan Milanisti. Apalagi seiring keinginan Milan menggunakan taktik 4-3-1-2 yang tentunya membutuhkan trequartista handal seperti mereka. Harga Honda maupun Ljajic sebenarnya tidak mahal-mahal amat. Total, mereka berdua berharga tidak lebih dari 20 juta euro. Milan akhirnya rela menunggu Honda hingga Januari, saat kontrak sang pemain CSKA Moskow tersebut habis dan Milan dapat menggaetnya dengan gratis. Kondisi finansial lah yang menyebabkan pengeluaran 10 juta euro untuk satu orang pemain menjadi barang yang terlalu mewah untuk Milan.

Penghalang terwujudnya transfer ini adalah masih bertahannya Kevin-Prince Boateng dan Robinho. Dua pemain ini menjadi pesakitan di Milan karena performa mereka yang jauh dari kata impresif musim lalu. Ditambah lagi, skema 4-3-1-2 tidaklah cocok untuk mereka, terutama Boateng. Mereka meminta gaji yang mahal dari calon pembeli masing-masing, dan Milan juga menuntut nilai transfer mahal pula. Tidak terdapat titik temu antara harga dan kualitas pemain, yang membuat mereka sulit dijual.

Efek dari kegagalan transfer ini bisa bermacam-macam. Baik Robinho atau Boateng akan menjadi kambing hitam yang tidak disukai tifosi karena dianggap menghambat kedatangan Honda dan Ljajic. Milan bisa jadi kembali menggunakan pola 4-3-3, pola yang sebetulnya cukup sukses membawa mereka ke posisi 3. Memasang Riccardo Saponara dan membebaninya untuk langsung memberi efek besar bagi Milan bukanlah tindakan bijak lantaran sang pemain masih sangat muda. Tanpa kehadiran Honda dan Ljajic, pola 4-3-3 memang patut dipertahankan karena dengan pemain yang ada, Milan lebih cocok bermain dengan pola ini, dengan Saponara diposisikan sebagai wide playmaker di sisi kanan. Tidak menempatkan Saponara di posisi terlalu sentral pada fase ini sepertinya pilihan yang bijak.

Mempertahankan pemain yang tidak cocok dengan skema dan tidak mampu bermain maksimal memang bukan pilihan bijak. Jika benar harus menunggu Honda hingga Januari, nampaknya Milan harus bersiap dengan segala kemungkinan yaitu mengubah taktik di pertengahan musim. Musim lalu, aneka taktik telah dicoba Max Allegri hingga ia ajeg dengan 4-3-3. Namun jika ternyata pola 4-3-3 masih memberi hasil positif, beranikah Milan berganti ke pola 4-3-1-2 di tengah musim?

Inisiasi pola baru idealnya sudah dilakukan sejak awal musim, bahkan sejak latihan pre-season. Pola 4-3-1-2 yang lebih narrow akan memaksa sejumlah pemain seperti Stephan El Shaarawy, yang biasa bermain sebagai wide forward untuk beradaptasi lagi. Belum lagi menyebut Mario Balotelli, yang nampak lebih nyaman bermain sebagai penyerang tengah tunggal yang dibiarkan bergerak bebas. Jika berduet dengan El Shaarawy, ada kekhawatiran bahwa ruang gerak Balo akan terlimitasi karena harus berbagi dengan Il Faraone.


Bagaimanapun implementasinya nanti di lapangan, adalah tugas Allegri untuk segera memutar otak dalam menemukan formula yang paten. Skema paten ini akan sangat menentukan akan berada dimana Milan pada akhir musim. Start buruk dan lambat memiliki konsekuensi yang sangat berat. Membicarakan scudetto memang terlalu prematur, namun buat Milan, mampu menduduki 3 besar di Seri a sekaligus melangkah sejauh mungkin di Liga Champions sudah menunjukkan bahwa tim ini berada di trek yang benar. 

Monday, July 8, 2013

Ayo Main Bola!

Rasanya masih teringat jelas di memori saat gue dicela teman-teman (bukan teman yang baik sih) yang mengatai betapa culunnya gue karena gak bisa main bola dan gak tau gimana caranya nendang bola. Sebuah celaan yang kemudian seperti membangunkan monster yang telah lama bersembunyi dalam badan.

Monster itu menstimulus gue buat belajar main bola, lalu membungkam mulut para pencela itu. Gue gak tumbuh sebagai pesepakbola profesional juga sih, tapi gue bukanlah pesepakbola buruk. Gue hanya punya dua tujuan setiap bermain bola, yaitu bermain baik dan mencetak gol. Gak pernah sedikitpun terbersit untuk mencederai lawan. Gue bermain, karena gue mencintai permainan ini, bukan karena motivasi lain seperti taruhan atau gagah-gagahan. I see football as a beautiful game.

Passion gue teramat tinggi keterlaluan pada permainan ini. Jeleknya, passion ini seperti hantu yang sempat menghambat langkah gue karena terlalu sulit move on dan sulit menerima kenyataan kenapa gue gak bisa jadi pemain bola. Banyak tahap pencarian gue lalui sebelum mencapai tahap ikhlas seperti sekarang. Mencoba berdamai dengan hidup dan berusaha terlihat seperti bapak-bapak normal yang suka upload foto anak di social media dan menjadi karyawan yang rajin kerja lembur serta berdedikasi tinggi adalah bukti bahwa gue sudah pasrah dan rela menjalani dunia paralel di mana pemikiran gue gak sejalan dengan apa yang gue lakukan.

Meski demikian, gak ada penyaluran yang lebih besar pada sepak bola selain memainkannya. Ya, bermain sepak bola di lapangan adalah hal yang lebih menyenangkan daripada liburan mahal dengan kapal pesiar romantis sekalipun, atau teriak-teriak di karena adrenalin yang dibuat-buat saat memainkan water sport di pantai eksotis. Bahkan setelah gue menemukan kesenangan alternatif berupa menjadi penulis sepak bola sekalipun, tidak bermain sepak bola secara reguler adalah sebuah kegagalan tak termaafkan.

Perubahan status dari bujangan ke pajangan, plus dari mahasiswa girang ke karyawan senang udah cukup mereduksi waktu bermain bola. Apalagi sebuah catatan statistik kampret berupa hasil medical check up resmi mengalienasi gue dari lapangan bola. Kolesterol gue tinggi, akibat terlalu larut dalam rangkaian tipuan hedonisme berupa makanan-makanan lezat.

Lebih sakit membaca ini daripada tidak menemukan nama gue di pengumuman UMPTN. Tidak bermain bola adalah situasi terburuk yang bisa gue bayangkan, daripada tidak punya payung saat hujan deras atau tidak punya pacar selama sekolah. Dan kini, udah 3 bulan lebih lamanya gue istirahat dari lapangan. 3 bulan tidak menyenangkan yang tidak ingin gue alami lagi.

Well, gue gak mau curhat sebenernya. Gue akan tambahin sedikit bobot dalam tulisan ini. David Conn, si jurnalis sport business pernah bilang dalam salah satu chapter di bukunya tentang lost generation of football yang terjadi di Inggris, yang notabene negara yang mendaulat diri sebagai penemu sepak bola.

Conn bilang bahwa ciri paling kentara dari modernisasi sepak bola adalah di dunia penyiaran. Rupert Murdoch melalui Sky Sports yang menjadikan sepak bola sebagai tontonan berbayar telah mengubah paradigma orang-orang Inggris. Paradigma itu adalah menjadi penonton yang baik karena stasiun TV menayangkan tontonan bagus, yang sayang untuk dilewatkan. Tidak hanya siaran langsung, tapi juga highlight pertandingan dan analisa canggih dari para pundit berjas dan berdasi, tidak mau kalah necis dengan pengamat pasar modal ataupun pengacara. Tayangan sepak bola sudah dikemas sedemikian ruma sehingga para pemirsa termanjakan, dan uang berlangganan yang mereka keluarkan terasa tidak percuma. Ya terang saja, kalau sudah mengeluarkan uang untuk berlangganan, masak sih kita harus beranjak dari sofa sambil makan pizza dan minum berkaleng-kaleng soda atau bir? Ngapain juga capai-capai main bola di lapangan, mendingan nonton orang main aja di TV. Kebiasaan ini juga membawa dampak obesitas, yang akhirnya makin mengurangi produksi generasi sehat yang mampu menjadi pesepakbola.

Terdengar berlebihan? Fenomena ini kemudian berkembang lebih liar. Dari revolusi penyiaran, kemajuan sektor industri pada akhirnya membutuhkan terlalu banyak ruang untuk pembangunan kantor dan gedung mereka. Ruang publik tereduksi, lapangan bola dihabisi. Semakin sulit bermain bola jika lapangan rumput plastik yang tersedia memaksa kita merogoh kocek 300 ribu rupiah perjamnya, atau kira-kira seorang anak sekolah harus patungan 30 ribu rupiah untuk bermain bersama teman-temannya. Tidak heran, lebih banyak anak muda yang lebih memilih nongkrong di minimarket dengan modal 30 ribu perak itu, karena bisa mendapatkan seporsi junk food dan segelas sirop beku, plus bisa ngegodain cewek.

Balik lagi ke absennya gue dari lapangan. Well, sudah saatnya mengakhiri penderitaan ini. Gue harus segera kembali ke lapangan dan dapetin lagi hal-hal yang bisa bikin gue seneng. Jadi seorang pria beranak satu di usia boring 30an bukan berarti menghilang dari lapangan. Bagaimanapun juga, sepak bola lebih enak dimainkan daripada sekadar dibicarakan atau ditonton saja. Ayo main bola!

Tuesday, June 25, 2013

Lesson of a Dream, a Movie Review


Pertentangan kelas, pembangkangan, dan pencerahan adalah inti dari film dengan judul bahasa Jerman Der Ganz Grosse Traum ini, yang kemudian dibingkai dengan cantik lewat tema sepak bola, dan sedikit bumbu Hollywood.

Mengapa film bertema sepak bola dapat berjalan beriringan dengan tema-tema lain yang berkisar perjuangan? Ya, karena semangat sepak bola memang mengunci banyak aspek positif dari kehidupan –meski tidak sedikit pula aspek negatifnya-.

Revolusi mungkin sebuah kata yang terlalu bombastis dalam film ini, lebih tepat dikatakan sebagai film reformasi yang menghadirkan cerita dibalik betapa sulitnya olah raga bernama sepak bola masuk ke negeri Jerman. Arogansi dan perasaan superioritas sudah terlanjur melekat pada bangsa ini, membuat mereka sulit untuk menerima permainan yang datang dari Inggris, yang notabene menjadi musuh besar mereka yang ingin mereka taklukkan. Baik lingkungan pendidikan seperti sekolah maupun lingkungan kecil bernama keluarga sudah menanamkan kebanggaan ini pada generasi setelah mereka.

Braunschweig (atau Brunswick dalam lafal Inggris) adalah sebuah kota di Jerman yang menjadi latar film ini, meski pengambilan gambar pada dasarnya hanya di 4 titik yaitu sekolah, rumah dari donatur sekolah, padang rumput untuk bermain bola, dan juga alun-alun kota pada awal film. Mengapa kota Braunschweig? Ya, memang inilah kota di Jerman pertama yang mengenal sepak bola tahun 1874. Lebih afdol lagi, Entracht Braunschweig mulai musim depan akan turut meramaikan Bundesliga 1 setelah menduduki posisi 2 klasemen akhir Bundesliga 2. Fussball akhirnya datang lagi menyemarakkan kota.

Cerita yang didasarkan pada kisah nyata ini menghadirkan Konrad Koch, sebagai tokoh utama yang juga seorang guru Bahasa Inggris berbekal pengalamannya menimba ilmu di Oxford University. Koch tidak hanya membawa ilmu linguistik, namun juga membawa visi yang ingin mengubah pandangan serta keseharian murid-muridnya.

Kekakuan dan feodalisme amat kental saat itu, dimana sulit bagi kaum proletar untuk mendapat akses pendidikan. Murid-murid Koch adalah para anak kecil yang kaku dan sudah tercekoki kebanggaan berlebihan akan superioritas bangsa mereka. Arogan, disiplin dan tidak mementingkan orang lain.

Koch, berbekal pengalamannya di Inggris, mencoba menggunakan metode berbeda dalam mengajar. Ia menekankan kata “kamerad” sebagai bentuk persaudaraan dan kesetiakawanan, sesuatu yang abai diajarkan oleh para guru-guru. Ia kemudian mengenalkan sepak bola secara perlahan kepada murid-muridnya. Koch selalu mendapat dukungan dari Gustav, kepala sekolah yang berpikiran reformis yang memang ingin mengajarkan murid-muridnya bentuk pembelajaran baru.

Tentu saja banyak rintangan yang didapat sang guru. Salah seorang orang tua murid, Richard Hartung, yang kaya raya sekaligus penyandang dana bagi sekolah memang sangat feodal. Ia menentang segala metode Koch yang dianggapnya akan merusak generasi Jerman. Richard dan anaknya, Felix yang menjadi ketua kelas, kemudian melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Koch dari sekolah.

Seiring berjalannya waktu, Koch berhasil mengatasi berbagai rintangan, bahkan membuat murid-muridnya kompak, termasuk juga Felix didalamnya. Hal itu kemudian membawa Koch pada misi lainnya yang lebih besar, yaitu menyebarkan sepak bola ke seantero negeri.

Begitulah kira-kira garis besar film ini, yang secara keseluruhan memang impresif. Kualitas film Jerman tidak kalah dengan produksi Hollywood. Plot yang rapi, penokohan yang kuat, kelucuan-kelucuan yang disampaikan juga berhasil diperankan dengan baik oleh para aktor, yang saya bahkan tidak tahu namanya.

Dari film ini, memang terlihat bahwa sebagai bangsa, Jerman memang sedari dulu menjadi bangsa yang berpikiran maju, serta memiliki etos kerja yang tinggi. Kedisiplinan luar biasa memang sudah menjadi kultur bagi bangsa ini. Masuknya sepak bola memang sedikit melonggarkan keseriusan mereka dengan unsur fun yang dibawa oleh olahraga ini. Dan terbukti, Jerman diakui sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia dengan raihan gelar Piala Dunia sebanyak 3 kali.

Kultur disiplin dan independen juga berpengaruh bagi negeri ini hingga sekarang. Disaat banyak klub sepak bola berhutang dan hidup dalam buaian modern football kapitalis, banyak klub Jerman tetap beroprasi dengan wajar mengandalkan dukungan dari pabrikan raksasa Jerman. The German ways memang luar biasa.

Ps: Thanks to Bang Ucup, Angga & Aad.

Friday, June 14, 2013

Menolak Lupakan Ambrosini


Dalam kondisi terbaiknya (minus cedera) dan juga sedikit saja konsistensi permainan, maka pemain ini akan menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Massimo Ambrosini memiliki semangat juang seperti singa yang terluka, kemampuan duel udara yang eksepsional, kemampuan membaca permainan yang prima, dan kepemimpinan yang bagus.

Mengawali karir di Cesena tahun 1994, hanya butuh setahun waktu baginya untuk menarik perhatian para scout Milan. Segera setelah mengakhiri musim sebagai finalis Liga Champions, Milan mengikat Ambrosini. Milan bukanlah seperti Cesena, tempat dimana ia akan lebih mudah mendapat kesempatan menjadi pemain inti. Di Milan saat itu bercokol para gelandang mapan seperti Demetrio Albertini dan Zvonimir Boban. Sulit bagi Ambro untuk langsung mencicipi pengalaman bermain di tim inti.

Ia lalu dikirim ke Vicenza selama semusim, namun cukup untuk membuat Milan menariknya kembali karena menilai pemain ini potensial. Benar saja, setelah mendapat kesempatan reguler tahun 1999 dibawah pelatih Alberto Zaccheroni, Ambrosini muncul sebagai gelandang bertenaga sekaligus bervisi bagus yang mampu menemani Albertini di lini tengah si merah hitam. Milan dibawanya juara liga kala itu.

Cedera, sayangnya menjadi teman akrab Ambrosini sepanjang karirnya. Setelah kesuksesan menembus tim inti, cedera lutut menghampiri. Ambrosini harus menepi menyembuhkan diri. Ia memang keras di lapangan, namun diluar lapangan ia sangatlah santun dan berkelas. Gaya rambutnya yang ia biarkan setengah gondrong dan acak-acakan juga menjadi trademarknya yang tidak pernah ia ubah. Gaya yang sangat cocok dengan kegarangannya di lapangan. Gaya semi-rockstar yang tidak menghilangkan sisi elegan si penggemar penyanyi roots rock Bruce Springsteen.


Rambut kuningnya melayang seperti Son Goku ketika ia melompat, lalu kembali lagi ke tempatnya menimbulkan ketidakteraturan yang lumrah. Makin berantakan pula ketika ia terus terjatuh, berguling, menabrak lawan atau melompat tinggi memenangi duel udara. Rasanya, jersey Ambrosini adalah yang paling kumal dan kotor seusai bertanding. Menandakan determinasi dan rasa memiliki yang tinggi pada timnya.

Ambrosini menghabiskan 18 tahun di Milan, melalui total 489 kali berseragam merah-hitam. Ia memang tidak selalu jadi pilihan utama, dan waktu bermainnya dalam semusim juga tidak sebanyak Javier Zanetti per musimnya. Jumlah partai terbanyaknya dalam semusim adalah 43 kali, terjadi pada musim 2007/2008. Jumlah laganya di Seri a tidak pula mencapai rataan 30 laga semusimnya.

Ia pernah bermain sebagai trio gelandang tengah bersama Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso ketika Milan bermain dengan formasi pohon natal ala Carlo Ancelotti, ia juga pernah bermain sebagai gelandang kiri dalam ketika Seedorf absen. Posisi bek tengah darurat juga pernah ia lakoni. Sempat mengeluhkan porsi bermain yang sedikit di musim 2005/2006 dan berpikir untuk bergabung ke Fiorentina, Ambro kemudian berubah pikiran setelah rangkaian penampilan gemilangnya di babak semifinal Liga Champions kontra Manchester United berkontribusi membawa Milan ke final.

Keputusan Ambrosini memperpanjang kontraknya tidak salah. Sejak saat itu, posisi reguler memang lebih banyak ia lakoni. 194 laga atau 40% dari total laganya bersama Milan ia ukir hanya dalam enam musim terakhir. Loyalitasnya berbuah kepercayaan Milan sebagai kapten penerus Paolo Maldini yang pensiun tahun 2009. Sebelum itu, ia mencetak total 8 gol semusim –rekor terbanyak sepanjang karir- dan sejumlah penampilan solid.

Segala kegemilangan di Milan memang sempat membawanya wara-wiri di tim nasional. Memulai debutnya tahun 1999, ia termasuk pada skuat Italia di Piala Eropa tahun 2000. Ia kemudian gagal ke Piala Dunia 2002 karena cedera, juga tidak terpilih di Piala Eropa tahun 2004. Saat Italia ditangani Roberto Donadoni, Ambrosini sempat dipanggil kembali, sebelum kemudian Marcelo Lippi melakukan comeback pasca Euro 2008. Setelah Lippi masuk, Ambrosini kembali tidak masuk tim nasional, meski penampilannya mencapai puncak di Milan pada era itu. Total, Ambrosini memperkuat Italia sebanyak 35 kali.

Penampilan solid dan kokoh bagaikan batu karang adalah ciri khas yang tidak bisa dilupakan dari Ambrosini. Anda tentu ingat bagaimana ia bermain seperti berusia 15 tahun lebih muda kala mampu meladeni kecepatan-kecepatan pemain Barcelona di leg pertama babak Knock Out Liga Champions yang dimenangi Milan 2-0 itu. Ambrosini mampu mengunci gerak Iniesta, mengisolasi Messi, dan memotong umpan-umpan Xavi untuk menjadikan Barcelona mati angin. Itulah penampilan terbaik terakhir yang pernah saya saksikan dari seorang Ambrosini.



Tidak akan ada lagi rambut emas acak-acakan, lompatan-lompatan, jegalan-jegalan yang kadang ceroboh kepada lawan, determinasi seperti anak muda khas Ambrosini. Manajemen memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya, dan nampaknya hal itu sedikit disesalinya. Ia belum akan pensiun, masih memiliki hasrat petarung yang sama untuk bermain. Dan saya harap tidak melihatnya sebagai lawan Milan.

“Ambrosini ha ancora voglia di lottare”

“Ambrosini masih ingin bertarung”


Begitu ujar Gattuso perihal mantan partnernya itu. Apapun itu, terima kasih Kapten!

Thursday, June 13, 2013

Milan Transfer Saga

Catat nama-nama ini: Stephan El Shaarawy, Mathieu Flamini, Kevin-Prince Boateng, Robinho, Bojan Krkic, Mario Yepes, Massimo Ambrosini, Antonio Nocerino, Bakeye Traore, Bartosz Salamon. Lalu amati nama-nama berikut: Carlos Tevez, Andrea Poli, Alessandro Diamanti, Simone Zaza, Riccardo Saponara, Jherson Vergara, Bryan Cristante, Angelo Ogbonna, Cyrill Thereau.

Ada lagi Alessandro Matri, Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi dan Renato Civelli.
Nama yang disebut di awal diberitakan akan pergi, nama yang disebut selanjutnya datang.
Sebelum menilai apakah ini pergerakan baik atau buruk, mari lihat satu persatu.

2 senatori dan 2 promising youngsters
Milan jelas memangkas rataan usia dengan melepas Yepes dan Ambrosini untuk mengganti mereka dengan pemain yang jauh lebih muda yaitu Vergara dan Cristante (Cristante dari akademi). Meski demikian, Vergara dan Cristante masih belum berpengalaman bermain di level tertinggi. Sulit mengharapkan mereka langsung nyetel dengan permainan Milan. Namun yang pasti, Milan mampu menghemat biaya gaji dari pergerakan ini.

Bek Tengah
Milan tidak punya dua bek tengah kokoh yang konsisten dan berkelas kontinental. Di level Seri a, duet Mexes-Zapata memang sudah cukup, tapi jika Milan ingin melaju lebih jauh di kompetisi Liga Champions, mereka jelas butuh bek yang lebih baik dari mereka berdua. Namun seperti halnya saat menemukan Thiago Silva, Milan kini berharap Vergara tampil sesuai ekspektasi untuk menjadi penerus.

Bagaimanapun, Vergara masih butuh jam terbang, dan Berlusconi nampak sudah geram melihat Milan yang tidak kunjung melaju setidaknya ke semifinal UCL. Jika serius dengan target itu, mereka perlu membidik bek yang sudah matang seperti Ogbonna dan Civelli. Banderol mahal mereka kembali menjadi kendala. Untuk mendatangkan salah satu dari mereka, dibutuhkan 10 hingga 15 juta euro.

Gelandang Tengah
Mathieu Flamini dilepas, Andrea Poli coba didatangkan. Flamini sebenarnya salah satu favorit saya di Milan. Dia tireless, badak, determined, tapi punya visi yang tidak jelek. Dalam performa terbaiknya, ia seperti Gattuso bertehnik. Flamini juga mencetak 3 gol dalam 5 laga terakhir Rossoneri. Sekarang, kontraknya belum juga diperpanjang.

Sementara itu, Poli adalah gelandang muda yang bagus. Ia bermain konsisten di Sampdoria, dan akan kian membuat Milan makin Italia lagi. Poli juga pernah disia-siakan Inter, yang sempat meminjamnya setengah musim namun tidak membelinya di akhir musim. Bergabung ke Milan dan tampil baik akan menjadi sweet revenge buatnya. Harganya sekitar 6-7 juta euro.

Permainan kurang mengesankan Nocerino, Traore dan Boateng musim 2012/2013 membuat trio gelandang ini rawan dijual. Sembuhnya Nigel De Jong akan membuat sang Londo otomatis menemani Riccardo Montolivo di jantung permainan. Komposisi Monto-De Jong-Muntari-Cristante yang sudah pasti dipertahankan belum menjamin ketahanan lini tengah. 2-3 pemain lagi dibutuhkan Milan. Mereka sebaiknya segera memastikan transfer Poli dan memperpanjang kontrak Flamini.

Trequartista
Trequartista adalah posisi primadona di Milan. Zvonimir Boban, Manuel Rui Costa dan Ricardo Kaka adalah tiga trequartisata terbaik Milan dalam 2 dasawarasa terakhir yang memberikan sentuhan kelas bagi permainan Milan. Zlatan Ibrahimovic semasa di Milan juga memerankan posisi ini meski diatas kertas posisinya adalah penyerang. Berlusconi nampaknya merindukan keberadaan pemain seperti ini.

Alessandro Diamanti menjadi target setelah Berlusconi meminta Allegri bermain dengan 4-3-1-2. Diamanti adalah trequartista Italia terbaik saat ini. Ia memiliki keunikan permainan yang membuatnya stabil di tim nasional, meski tidak selalu jadi pilihan utama Prandelli. Kemampuannya dalam bola mati juga menjadi nilai plus. Namun harga 10 juta euro yang dipatok Bologna sepertinya terlalu tinggi buat Milan, apalagi Diamanti sudah berumur 30 tahun, terlalu tua untuk sprit regenerasi Milan.

Target utama Milan sebenarnya Pastore. Ia lebih muda dan tentunya lebih menjanjikan daripada Diamanti. Namun lagi-lagi harga eks Palermo ini terlalu mahal mengingat PSG mengeluarkan 40 juta euro kala memboyongnya dari klub Maurizio Zamparini. Sejago-jagonya Galliani meminta diskon dan berbagai program cicilan, harga Pastore rasanya minimal 20 juta euro, sesuatu yang sulit diharapkan bagai mengharap seorang selebtwit membalas mention kita.

Milan sudah punya Ricky Saponara di posisi ini. Semua sudah tahu kecemerlangannya di Empoli dan juga kini di Euro U-21. Saponara jelas berbakat, namun mengharapkan dia langsung moncer sangat tidak bijak. Tidak mungkin pula Milan terus mengandalkannya sepanjang musim.

Penyerang
Di posisi ini, segala saga transfer nampaknya ditentukan. Melibatkan rencana tukar guling Stephan El Shaarawy dan Carlos Tevez, Robinho yang tinggal menunggu peminat, dan Bojan yang kembali ke Spanyol. Rencana Milan memainkan dua penyerang memang menggoda mereka untuk menghadirkan Tevez, pemain yang memang lebih ganas di posisi ini. Hal ini membuat mereka berpikir keras untuk melepas sang permata, El Shaarawy.

Jelas ini adalah ide yang buruk. El Shaarawy berusia jauh lebih muda, berasal dari Italia dan juga masih dapat berkembang ketimbang Tevez yang sudah berusia matang. Reputasi sulit diatur dari Tevez akan berbahaya jika disatukan kembali dengan eks rekan setimnya di City, Balotelli. Di City pun, keduanya tidak banyak berkolaborasi. Sulit berharap kombinasi Tevez-Balotelli mengkilap di Milan.

El Shaarawy memang hanya mencetak 1 gol sejak kedatangan Balotelli. Ia juga lebih bagus ditempatkan sebagai penyerang sayap ketimbang sebagai penyerang tengah. Mungkin disinilah kekhawatiran Milan yang tidak ingin melihat El Shaarawy macet gol setelah putaran pertama musim lalu mampu mencetak 15 gol. Jika El Sha dijual, harganya jelas mahal. Hasil penjualannya dapat dibelanjakan untuk dua pemain bagus, misalnya Pastore dan Tevez atau Lavezzi.

Milan masih punya Pazzini, yang tajam meski tidak menjadi pilihan utama. Pazzo juga mampu mengubah cara Milan bermain dengan kemampuannya menyambut umpan silang. Dengan skema 2 penyerang, Milan hanya butuh 4-5 penyerang dengan kualitas setara atau tidak berbeda jauh untuk mengarungi musim yang panjang. Dengan telah bercokolnya Balo, El Shaarawy, Pazzini dan Mbaye Niang sebenarnya Milan hanya butuh 1 penyerang lagi, dan tidak perlu jika orang itu adalah Tevez, apalagi jika harus ditukar El Shaarawy.

Nama Cyrill Thereau belakangan diapungkan oleh media. Penyerang Chievo asal Prancis ini sebenarnya cukup bagus. Ia mampu menahan bola dengan baik dan memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk berduel dengan bek lawan. Satu nama lagi adalah Alessandro Matri. Penyerang Juventus ini adalah didikan Milan, kembalinya dia ke skuat Rossoneri bukanlah hal mustahil. Kedatangan Fernando Llorente dan satu penyerang lagi di Bianconeri berpotensi menggeser penyerang-penyerang yang ada sekarang, dan Matri adalah salah satunya.

Berbagai Kemungkinan
Milan baru bisa bergerak setelah menjual pemain. Penjualan Boateng dan Robinho sejauh ini paling mereka harapkan bisa menghasilkan 20 juta euro setidaknya. Milan sebenarnya memasang price tag minimal 18 juta untuk Boateng, namun sepertinya sulit berharap ada yang memboyongnya dengan harga tersebut. Sementara itu, harga dan gaji tinggi Robinho masih menjadi kendala bagi para peminatnya di Brazil.

Milan telah mengeluarkan 6 juta untuk menebus Zapata dan 2 juta untuk Vergara. Mereka juga harus membayar cicilan Balotelli 4-5 juta per tahun. Milan sudah mengeluarkan 13 juta euro secara total sekarang, plus tambahan biaya gaji sekitar 4 juta. Ini pula yang menghambat Milan untuk mendatangkan Poli. Jika Boateng, Robinho, Nocerino, Traore berhasil dijual, maka Milan dapat meraih surplus sekitar 15 juta euro plus penghematan biaya gaji 10 juta euro setehun. Jumlah itu mungkin hanya dapat dibelanjakan untuk 1-2 pemain bagus, namun bukan pemain top.

Dengan kondisi finansial Milan yang selalu rugi dalam dua tahun kebelakang, memang sulit untuk berharap datangnya seorang marquee player tanpa menjual marquee player yang ada. Tanpa menjual El Shaarawy lebih dulu, sulit berharap Milan mendatangkan Pastore. Rasanya skenario El Shaarawy tetap tinggal plus pendapatan 15 juta euro dapat memungkinkan Milan menarik Diamanti dan Poli. Dan katakanlah Milan punya 10-15 juta euro lagi untuk mereka habiskan sebagai anggaran transfer, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membeli seorang bek dan penyerang.

Atau masih mau berharap kedatangan pemain top berharga miring lewat negosiasi ala Galliani? Kali ini sulit. Milan harus mengikuti kualifikasi UCL tanggal 21 Agustus. Idealnya, skuat sudah terkumpul awal Agustus.

Kiper: Abbiati, Amelia, Gabriel
Bek Sayap: Abate, Antonini, Constant, De Sciglio
Bek Tengah: Mexes, Zapata, VERGARA, Bonera, Zaccardo, Salamon, CIVELLI/OGBONNA
Gelandang Tengah: De Jong, Montolivo, Muntari, Cristante, Flamini, POLI
Trequartista: DIAMANTI, SAPONARA

Penyerang: Balotelli, El Shaarawy, Niang, Pazzini, ZAZA/MATRI/THEREAU

Thursday, May 30, 2013

Sepersepuluhnya Saja Untuk Pembinaan

260 juta euro. Ya, saya yakin bagi seorang Erick Thohir uang sebanyak itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan. Uang yang konon akan dipergunakan untuk membeli saham Inter Milan memang akan menjadikan pengusaha berusia 42 tahun ini orang Indonesia pertama yang mengakuisisi klub asal Italia.

Dilihat dari nama besar, jelas tidak ada yang meragukan kiprah Inter Milan. 18 gelar scudetto dan 3 gelar Liga Champions adalah gelar major yang sudah bersemayam di lemari trofi Appiano Gentile. Langkah Erick dalam akuisisi ini jelas akan membuatnya semakin dikenal.

Dulu, selain orang Rusia, tidak ada yang mengenal Roman Abramovich sebelum ia mengakuisisi Chelsea. Tidak ada pula yang banyak membicarakan nama Ekaterina Rybolovleva, yang mendapatkan hadiah ulang tahun berupa dua buah pulau di wilayah Yunani dari ayahnya sebelum sang ayah membeli AS Monaco. Sepak bola, sebagai olahraga paling populer di dunia jelas menjamin popularitas bagi para pelakunya. Dengan membeli klub sepak bola, otomatis nama dari sang pemilik juga terangkat.

Silvio Berlusconi juga mengeluarkan jargon revolusi di partainya Forza Italia pada awal pencalonannya sebagai Perdana Menteri Italia. Namun siapapun tahu bahwa keberhasilannya membawa AC Milan berprestasi adalah kendaraan yang kencang baginya untuk menduduki posisi ketua pemerintahan di negeri peninsula.

Bagi Erick Thohir, entah apapun motifnya, akuisisi Inter Milan akan membawa keuntungan meski tidak akan mudah dilakukan. Sementara bagi Massimo Moratti, melepas kepemilikan mayoritas Inter Milan akan menjadikannya anak durhaka. Ia pasti takut arwah Angelo Moratti akan bangkit mengejar-ngejarnya jika saham mayoritas Inter jadi dijual.

Bagi Moratti, Inter adalah candu. Ia seperti halnya seorang pencinta masokis pada klubnya itu. 400 juta euro dari kantong pribadi secara total telah ia keluarkan untuk mendatangkan pemain-pemain kelas dunia ke kota Milan sejak tahun 1995. Dan setelah regulasi Financial Fair Play mengudara, sang taipan minyak tak mampu lagi mengelak. Ia tidak boleh lagi mendonor Inter dari kocek pribadi.

Inter telah dibawanya menjadi klub yang seperti tidak ada kenyangnya. Suntikan dana besar terus diberikan demi kelangsungan hidup. Financial Fair Play ala UEFA kemudian menyetop keran itu, dan mewajibkan Inter mencari sumber pemasukan murni dari sepak bola, bukan dari sang pemilik. Diperparah dengan buruknya kebijakan transfer dan regenerasi yang telat, Nerazzuri dan Moratti seakan tidak bisa kemana-mana lagi. Posisi 9 di klasemen menandai era terburuk sepanjang kepemimpinannya. Sebuah perubahan dan suntikan dana jelas kata-kata yang menyegarkan bagi Interisti.

Erik Thohir, yang juga ketua Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara, pemilik Philadelphia 76ers dan Washington DC United melihat hal ini sebagai peluang. Mengetahui morat-maritnya kondisi finansial Il Biscione, Thohir datang dengan keinginan besar pada akuisisi saham mayoritas si biru hitam.

Jika Thohir berhasil membuat Moratti mengeluarkan pulpen Mont Blanc dari saku jas peraknya lalu menandatangani pelepasan saham, menarik menanti efek dominonya. Mungkin saja akan ada lagi pengusaha asal Indonesia lainnya yang kemudian berbondong-bondong menyeponsori tim ini. Logo perusahaan-perusahaan Indonesia boleh jadi akan menjadi pemandangan lazim di San Siro (Oke, Giuseppe Meazza).

Para pengusaha Indonesia akan melihat sepak bola Eropa sebagai mainan baru mereka. Portofolio mereka akan mentereng jika dalam ruang kerja mereka terpampang jersey-jersey original, maket stadion, potongan rumput stadion, hingga sepatu-sepatu match worn pemain. Ya, seorang pengusaha berjiwa muda yang senang olahraga. 

Sebagai orang yang memang suka berandai-andai, saya jadi dipaksa berandai-andai jika saja 10 persen dari uang 260 juta itu, alias 26 juta euro alias 390 miliar rupiah saja dianggarkan untuk kepentingan sepak bola nasional. 

Klub-klub di piramida atas sepak bola Indonesia katakanlah memiliki rataan anggaran 10 miliar rupiah per tahunnya, atau maksimal 15 miliar. Maka 220 miliar dari 390 miliar dapat dijadikan anggaran bagi 18 klub tanpa adanya ancaman penunggakan gaji. Sisanya sebanyak 170 miliar bisa dipakai untuk membiayai klub-klub hingga Divisi Tiga. Pendeknya, uang sebanyak itu bisa dipergunakan untuk menggerakkan kompetisi sepak bola nasional selama setahun penuh.

Bayangkan pula jika uang itu dipakai sedikitnya saja untuk mendatangkan seorang Tom Byer, lalu mendukung program-program pembinaan pemain mudanya. Bayangkan apa yang terjadi pada persepakbolaan Indonesia dalam waktu 10 tahun.

Memang, berinvestasi pada pembinaan sepak bola nasional akan kalah kece dibanding membeli saham mayoritas klub ternama Eropa.

Monday, May 27, 2013

Analisis Akhir Musim Liga Italia


Liga Italia musim kompetisi 2012/2013 telah usai dengan Juventus keluar sebagai pemenang, sekaligus mempertahankan gelar juara yang juga mereka raih musim lalu.

Best Team: Juventus
Juvetus menyelesaikan kompetisi dengan poin 87 atau 9 poin diatas pesaing terdekat, Napoli. Partai pekan ke 35 kontra Palermo menjadi pekan penahbisan La Vecchia Signora sebagai juara. Pencapaian Si Nyonya Tua musim ini mungkin masih kalah spektakuler ketimbang musim lalu, dimana mereka mengakhiri musim tanpa terkalahkan. Dan dilihat dari kualitas peserta, lawan-lawan tradisional Juve musim lalu masih jauh lebih kuat daripada kondisi mereka kini.

Juventus cukup diuntungkan dengan kondisi AC Milan dan Inter Milan yang jauh dari stabilitas finansial yang ideal. Karena masalah finansial tersebut, Milan memulai musim ini dengan penjualan besar-besaran pemain bintang mereka.

Tidak heran Milan mengukir start buruk yang kemudian mengeliminasi mereka dari perebutan gelar juara. Beruntung dengan determinasi dan keteguhanny, pelatih Max Allegri mampu menemukan formula yang tepat. Allegri mampu mengoptimalkan pemain muda seperti Stephan El Shaarawy dan Mattia De Sciglio, serta mengembalikan performa Mario Balotelli pada puncaknya. Serangkaian hasil positif kemudian mengerek posisi Milan hingga tangga ketiga.

Dilain pihak, kondisi Inter Milan lebih mengenaskan lagi. Setelah menjadi tim pertama yang menundukkan Juve musim ini bulan November tahun lalu, peruntungan Nerazzuri berubah drastis. Kombinasi antara buruknya kebijakan transfer dan cedera yang menimpa sebagian besar pemain andalan membuat tim asuhan Andrea Stramaccioni anjlok ke posisi sembilan. Performa pertahanan Inter bahkan sangat menyedihkan karena mereka kebobolan 57 kali, atau berada di urutan kedua terbawah dibawah tim juru kunci Pescara yang kebobolan sebanyak 84 kali.

Pesaing terkuat Juventus musim ini adalah Napoli. Il Partenopei memang telah memantapkan posisi sebagai tim yang stabil di papan atas Seri a dalam beberapa tahun kebelakang. Meski harus kehilangan salah satu pilar penyerangan, Ezequiel Lavezzi, namun pelatih Walter Mazzari mampu mengatasi hal tersebut. Namun konsistensi penampilan memang menjadi musuh utama Napoli, hal yang tidak bisa ditolerir dalam sebuah kompetisi yang panjang.

Meski banyak memunculkan tim-tim yang segar dan menarik seperti Fiorentina, yang dibawah asuhan Vincenzo Montella disebut memainkan sepak bola terbaik, namun Juventus tetaplah terlalu kuat bagi seluruh lawan mereka. Ditopang kekuatan finansial yang mereka dapatkan hasil kepemilikan stadion sendiri, mereka mampu mempertahankan keutuhan skuat yang sudah solid musim lalu.

Gianluigi Buffon masih disokong trio Giorgio Chiellini-Andrea Barzagli-Leonardo Bonucci yang membentuk lini pertahanan terkuat di Italia. Kontribusi mereka, yang dilapis dengan baik oleh Martin Caceres membuat gawang Buffon hanya bobol 24 kali, alias yang tersedikit di liga.

Mungkin terlalu umum jika mengatakan bahwa kekuatan utama sebuah tim ada di lini tengah. Namun bagi Juventus, lini tengah memang nyawa mereka. Setelah musim lalu memunculkan trio Andrea Pirlo-Arturo Vidal-Claudio Marchisio, pelatih Antonio Conte kemudian mendatangkan pemain muda bernama Paul Pogba yang penampilannya mengejutkan. Meski tidak selalu tampil sebagai starter, kehadiran Pogba tetap mampu menjaga stabilitas lini tengah Juventus.

Selain keberadaan Pirlo yang tetap impresif, Juventus patut berterimakasih pada seorang Arturo Vidal, yang kian bertransformasi menjadi pemain kelas dunia. Koleksi 10 golnya musim ini menjadikannya pencetak gol terbanyak Si Nyonya Tua, bahkan setara dengan torehan leading scorer dari posisi penyerang mereka, Mirko Vucinic.

Vidal adalah pemain komplit yang memiliki kombinasi kemampuan bertahan dan menyerang yang eksepsional, didukung dengan konsistensi permainan yang mengagumkan. Tugas Juve selanjutnya adalah mempertahankan pemain ini dari kejaran klub-klub top Eropa yang pasti memburunya.

Dari sisi taktik, pelatih Antonio Conte sempat terjebak dengan skema permainan yang sama. Terdapat periode sulit mereka di awal tahun saat tim ini beberapa kali meraih hasil kurang baik, diantaranya menyerah 1-2 di kandang sendiri atas Sampdoria. Cedera yang menimpa Chiellini nyatanya cukup berpengaruh karena Federico Peluso yang didatangkan di pertengahan musim dari Atalanta tidak langsung nyetel dengan skema permainan. Namun setelah pulihnya Chiellini, Juventus kembali ke jalur permainannya semula.

Best Allenatore: Max Allegri & Vincenzo Montella
Sulit memilih siapa yang terbaik diantara dua orang ini. Keduanya melatih tim dengan kesulitan masing-masing. Jika Montella melatih tim yang musim lalu terpuruk nyaris degradasi, Allegri melatih tim besar dengan ekspektasi tinggi namun dengan kondisi skuat yang dirombak total dan presiden yang tidak lagi mempercayainya.

Montella mampu memberikan pemandangan segar di Seri a dengan komposisi pemain pilihannya. Pemain belakang dan tengah mereka dianugerahi kemampuan untuk memainkan bola dengan baik. Lini tengah yang dikomando David Pizzaro dan Borja Valero mengalirkan bola dengan sangat baik, Manuel Pasqual bermain cemerlang dan Juan Cuadrado memainkan musim terbaiknya. Tidak ketinggalan, Montella mampu memaksimalkan talenta duo Balkan, Adem Ljajic dan Stevan Jovetic hingga dua pemain ini menjadi pemain instrumental bagi tim ini.

Pencapaian mereka yang hanya berselisih 1 poin dari Milan di zona Liga Champions bukanlah pencapaian sembarangan. Mereka juga meraihnya dengan permainan memikat dan gol yang banyak. Mereka hanya kalah sebiji gol dari Napoli yang muncul sebagai tim paling produktif musim ini. Il Gigliati memetik buah dari rangkaian pergerakan cerdik mereka di bursa pemain. Tercatat pemain-pemain yang baru mereka datangkan musim ini sebagian besar menjadi andalan sepanjang musim.

Sementara Allegri telah menunjukkan kinerja terbaiknya meski keadaan sama sekali tidak bersahabat dengannya. Pelepasan pemain bintang dan pemain senior jelas bukan kemauannya. Ia memang kerap keras kepala dengan berusaha menempatkan Kevin Prince Boateng di posisi trequartista, padahal sang pemain lebih cocok di posisi central midfielder.

Namun diluar itu ia tetap memiliki andil dalam dominannya lini tengah Milan di setiap laga. Milan hanya kalah dari Juventus dalam hal rataan penguasaan bola, dengan Riccardo Montolivo yang kian menanjak penampilannya. Allegri juga mampu memecahkan problem di sektor full back dengan memasang Kevin Constant bergantian dengan De Sciglio di posisi bek kiri. Ia juga terus mempercayai Abate meski sang pemain kerap bermain buruk, dan kepercayaan tersebut membuat permainan terbaik Abate berangsur kembali.

Allegri juga pada akhirnya menemukan kombinasi duo bek tengah terbaik dalam diri Philippe Mexes dan Cristian Zapata. Dua pemain ini berkualitas jauh dibawah Sandro Nesta dan Thiago Silva yang telah pergi, namun meski demikian Allegri mampu memaksimalkan mereka setelah rangkaian percobaan nyata di pertandingan demi pertandingan. Bukan analisa diatas kertas semata.

Tak ayal, pembelaan mulai berdatangan. Tidak hanya dibela Galliani, para suporter kini menyuarakan pembelaan pada eks pelatih Cagliari ini. Pembelaan juga datang dari mantan pelatih seperti Fabio Capello hingga jurnalis ternama seperti Gabriel Marcotti. Allegri mungkin (belum) menjadi pelatih juara, gelar scudetto Milan di musim perdananya dianggap andil dari pemain-pemain bagus milik Milan. Namun memecatnya jelas sebuah langkah mundur.

Dengan faktor-faktor diatas, Allegri dan Montella patut mendapat apresiasi.

Best Player: Edinson Cavani
29 gol di liga yang terkenal dengan pertahanan ketat jelas menunjukkan kualitas kelas dunia Cavani. Penyerang Uruguay ini mencetak 40% dari total gol Napoli, dan dari tahun ke tahun terus menunjukkan peningkatan kelas permainan.

Andai Stephan El Shaarawy mampu memainkan permainan terbaiknya sepanjang musim, Il Faraone dapat menjadi kandidat yang menggusur Cavani, namun kedatangan Mario Balotelli mereduksi ruang kreasinya di Milan. Ia hanya butuh waktu untuk meledakkan potensinya di masa depan.

Balotelli jelas menjadi kandidat kuat setelah mampu mencetak 12 gol dari 13 laga bersama Milan di putaran kedua. Namun kurang fair menominasikannya ke jajaran best players karena ia baru datang di pertengahan musim. Musim depan boleh jadi akan menjadi musim sempurna bagi Super Mario.

Seperti yang telah disinggung diatas, Arturo Vidal menjelma menjadi pemain kelas dunia milik Juventus. Ia terus meningkatkan kemampuannya dalam mencetak gol, tanpa melupakan tugasnya sebagai gelandang tengah. Kontribusi 10 golnya tidak diragukan lagi sangat berperan besar pada raihan gelar Juventus musim ini.

Best XI: Buffon; Barzagli, Bonucci, Chiellini; Cuadrado, Pirlo, Vidal, Montolivo, Marquinhos; Cavani, Balotelli. 

Wednesday, May 15, 2013

Laga Untuk Dikenang


Enam bulan lalu, Max Allegri menjalani pekan-pekan ultimatum. Ia dihakimi atas hasil buruk Milan yang membuat mereka terperosok hingga sempat menduduki peringkat 15. Pertandingan ultimatum itu adalah melawan Napoli, Anderlecht, dan Juventus. Sebelum ultimatum itu, Allegri dibuat malu oleh skuat Vincenzo Montella, Fiorentina. Hasil 1-3 di kandang sendiri sungguh tak termaafkan. Namun Allegri membawa Milan bangkit dengan meraih 2 kemenangan dan sebuah hasil seri dari 3 laga tersebut. 3 laga itu adalah awal dari kebangkitan Milan dalam meraih rentetan hasil positif hingga kini menduduki tangga ketiga klasemen Seri a.

Kini, Allegri masih menangani Milan dalam sebuah laga paling penting Milan musim ini, melawan Siena. Hasil laga ini menentukan akan bermain di kompetisi Eropa yang mana Milan musim depan. Tidak bosan-bosannya saya bilang, pencapaian ke zona ini adalah sebuah fairytale bagi Milan, yang sebelumnya dipersiapkan untuk mengalami musim overhaul.

Allegri berupaya menyingkirkan warisan Carlo Ancelotti. Ia ingin Milan bermain sesuai caranya. Ia mengumpulkan para petarung di lini tengah dan para penyerang modern yang mampu melakoni berbagai peran di lini depan.

Tidak perlu saya jelaskan bagaimana Riccardo Montolivo menjadi sepenting Andrea Pirlo di era Ancelotti, sudah terlalu banyak yang menjelaskannya. Namun jika saya telisik, Allegri berupaya mengikuti jejak tim yang lebih sangar dari Milan Ancelotti, yaitu timnasi Brazil di tahun 1970.

Oh tentu saya berkelakar. Mana ada tim yang bisa menyaingi hegemoni tim terbaik dunia sepanjang masa itu. Tapi yang pasti, Allegri mengambil pendekatan yang sama dengan Mario Zagallo ketika membawa Brazil merebut trofi Jules Rimet itu.

Allegri, seperti mencontoh yang Zagallo lakukan saat itu, mengumpulkan pemain-pemain berkarakteristik sama. Brazil terkenal dengan “five number 10” dengan menempatkan Pele, Tostao, Jairzinho, Rivelino dan Gerson. Sementara Allegri mengumpulkan 5 orang pekerja keras dalam timnya.

Bukan, saya bukannya membicarakan pekerja keras seperti Gennaro Gattuso. Lihatlah komposisi Balotelli, El Shaarawy, Boateng, Muntari dan Montolivo. Kesamaan dari mereka semua adalah pekerja keras, dan kecuali Montolivo dan Balotelli, mereka lebih “berteknik” daripada Gattuso. Dengan kata lain, Allegri menempatkan 5 pemain dengan kedisiplinan taktik yang bagus, sekaligus memiliki imajinasi memadai untuk mendominasi laga dan menciptakan peluang.

Seperti layaknya tim Italia, Allegri membuat Milan bertahan dengan mengandalkan sistem dan kuantitas pemain. Sadar tidak memiliki bek sekaliber Nesta dan Thiago Silva, Allegri memaksimalkan Mexes-Zapata namun dengan lapisan pelindung yang lebih baik. Bukan cuma Mexes-Zapata yang menjadi kekhawatiran Allegri, namun ia juga memiliki dua full back tidak murni (Abate-Constant), seorang full back medioker (Antonini) dan seorang full back pemula (De Sciglio).

Dengan cadangan bek tengah seperti Yepes, Zaccardo dan Bonera, Allegri jelas tidak bisa berharap mereka dapat menyamai level para legenda. Untuk itu, Allegri membuat sistem pertahanan yang dimulai dari lini depan.

Kita tidak pernah melihat Balotelli hanya menunggu di mulut gawang lawan. Selain karakter Balo yang memang sering bermain ke dalam, Allegri menginstruksikannya untuk menjadi perebut bola pertama saat lawan menguasai bola. Sebagai bukti sahih, jumlah tekel per game yang ia miliki meningkat dari 0.6 per game saat ia masih di Manchester City menjadi 1.1 tekel per game.

Sementara dua winger yang ditempati El Shaarawy dan Boateng atau Niang selalu ditugasi dobel oleh Allegri. Selain membantu penyerangan, mereka juga diwajibkan melakukan track back guna membantu dua full back. Kita sering sekali melihat El Shaarawy melakukan intersep ataupun tekel penting setelah lawan mampu mengadali De Sciglio atau Constant.

Dua gelandang dinamis, Montolivo dan Muntari atau Flamini juga memiliki defensive awareness yang baik. Selain melapis lini tengah, mereka juga tidak jarang ikut membantu full back, terlebih jika menghadapi lawan yang memiliki winger berbahaya. Dan terlebih lagi, kedua pemain ini juga dituntut mendistribusi bola baik ke sayap maupun langsung ke tengah.

Antonio Labbate, jurnalis sepak bola Italia mengatakan bahwa kehadiran Balotelli mengubah dimensi permainan Milan, meski ada pula pengaruhnya pada ketajaman El Shaarawy. Labbate mengemukakan bahwa meski El Shaarawy hanya mencetak 1 gol sejak kehadiran Balotelli, namun mereka masih berada pada tahap adaptasi. Jika proses adaptasi berjalan lancar, mereka berdua akan membentuk barisan depan yang menakutkan musim depan.

Jika lebih diamati lagi, kehadiran Balotelli bukannya mengurangi ketajaman El Shaarawy, namun memberi sumber gol alternatif  bagi Milan, yang sebelum datangnya Balo dipegang tunggal oleh Il Faraone. Dan yang spesial, kehadiran Balo juga memberi motivasi ekstra bagi Pazzini. Sang bomber secara mengejutkan mampu mencetak 15 gol sejauh ini, dimana beberapa diantaranya ia cetak melalui doppietta dan tripletta.

Pazzini memang berbeda dengan Balo. Kehadiran Pazzo membuat permainan Milan seperti tim-tim Inggris yang mengandalkan crossing. Namun energi yang Pazzini timbulkan menjadikan permainan Milan yang diperkuatnya sangat menghibur dan memikat. Bola seperti lebih sering berada di pertahanan lawan.

Laga lawan Siena nanti akan bersamaan dengan laga Fiorentina lawan Pescara. Baik Siena maupun Pescara sudah tidak mencari apapun di Seri a karena mereka sudah terdegradasi. Agak sedikit melenceng dari konteks, rivalitas Toscana antara Siena dengan Fiorentina bisa jadi mempengaruhi laga ini. Siena juga sering diasosiasikan dengan Juventus -yang notabene bitter rival dari Fiorentina-  terbukti dengan arus perpindahan pemain yang deras diantara kedua kubu.

Bagi para penggila teori konspirasi, laga ini jelas rawan match-fixing. Kompetisi Seri a memang kental reputasinya dengan permainan kotor semacam ini. Milan harus berhati-hati dan fokus. Milan harus menang dengan meyakinkan agar tudingan-tudingan yang ditakutkan akan muncul menjadi sirna. Allegri butuh lebih dari sekadar teriakan “DAI!! DAI!! DAI!!” demi meloloskan Milan ke Liga Champions, yang juga sekaligus pertaruhan bagi karirnya di Rossoneri. Sosok Mister yang memang bukan rahasia lagi tidak disukai oleh Berlusconi, yang katanya sih sudah menyiapkan nama-nama seperti Luciano Spaletti, bahkan Clarence Seedorf sebagai calon pengganti Allegri.

Pergi atau tinggal, yang penting menangkan dulu laga untuk dikenang ini, Allegri!