Pages

Monday, April 15, 2013

Penulis Hipster

Ketika topik soal ke-hipsteran penggemar sepak bola menyeruak, mendadak saya dan teman-teman saling melempar opini tentang apa itu hipster, yang bagaimana sih yang hipster, dan sebagainya.

Saya ambil contoh penggemar sepak bola yang hipster.

Jika penggemar sepak bola biasa hanya mengikuti pertandingan berlabel big match atau partai final Liga Champions agar terdengar up to date dan berwawasan luas, maka penggemar sepak bola hipster ini mengikuti permainan sepak bola dari manapun. Menonton sepak bola adalah kepuasan bagi mata dan hati, untuk itu ia juga mengikuti perkembangan liga-liga dari negara antah berantah seperti klub Terek Grozny, Kaiser Chief, St. Pauli, Otelul Galati, MTK, Bursaspor, Fluminense dan sejenisnya.

Atau jika masih tetap ingin menempelkan diri secara malu-malu pada liga mainstream, mereka akan mendukung klub semenjana dari liga-liga utama seperti Stoke City, West Ham United, Torino, Werder Bremen, Sochaux, dan sejenisnya.

Ada beberapa motif para penggemar hipster ini memilih cara yang beda dalam menikmati sepak bola. Beberapa orang akan melakukan apapun demi sebutan prestisius itu. Sebutan yang terdengar keren karena kita akan terlihat pintar, memiliki selera yang lain dari yang lain, mendukung klub yang lain dari yang lain. Jauh lah dengan glory hunter.

Saya bukan hipster. Saya menyukai klub seperti AC Milan, Barcelona atau PSG. Sesekali ingin dibilang unik, tinggal bilang kalau saya juga kerap mengikuti Borussia Dortmund, Athletic Bilbao dan CSKA Moskow.

Dalam hal tulisan, saya juga tidak hipster. Saya membahas hal yang umum-umum saja yang saya kuasai, tidak pernah berusaha untuk membahas hal keren padahal saya tidak mengerti. Memang ada kalanya dalam hati saya begitu ingin terlihat keren, cerdas dan berbudaya tinggi seperti penulis-penulis ternama. Atau saya juga kadang ingin seperti Swiss Ramble yang memiliki analisa keuangan setara seorang business analyst senior yang begitu rajin mengupas kulit demi kulit finansial dari sebuah klub.

Ada kalanya saya terjebak di antara mereka, para penulis hebat. Selepas membaca tulisan dari si A, tulisan saya bisa bergaya seperti si A. Begitu pula ketika saya habis membaca tulisan si B. Kekaguman saya pada sosok B membuat saya tertarik untuk mengikuti gaya tulisannya. 

Tapi, bukan berarti saya berusaha mati-matian untuk menyamakan frekuensi pengetahuan dan cara menulis seperti mereka.

Saya tahu betul bahwa seorang imitator tidak akan pernah mendekati bagusnya sang penulis asli. Kita semua memiliki tokoh inspirasi dalam menulis, tapi sebisa mungkin saya mencoba menulis dengan gaya dan bahasa sendiri. Bagus atau jelek, saya tidak peduli kata orang. Niat saya dalam menulis adalah saya ingin membuat tulisan yang bermanfaat, bukan tulisan yang bagus banget atau tulisan bombastis sehingga menjadikan penulisnya terkenal.

Memang dari awal, tujuan saya menulis sepak bola hanya dua: mendapat teman baru dan berbagi informasi. Di luar dua hal itu, saya gak ikutan.

Lalu, seperti apa ya penulis sepak bola yang hipster itu?

Hipster-nya penulis atau penggemar sepak bola lebih kepada kemampuannya mengangkat topik yang berbobot dan inspiratif maupun fakta-fakta tertentu yang tak terpikirkan orang lain. Write not-ordinary football topics before it was cool.  

Lalu bagaimana jika topik yang tidak biasa itu sudah semakin banyak diangkat? Well, mungkin saja, para dewan founding father penulis hipster itu akan mengganti gaya penulisan karena menganggap topiknya sudah umum.

Apakah dengan menjadi penggemar hipster berarti anda lebih baik daripada yang lain? Belum tentu, dan juga tidak penting membahas hal ini.

Hipster atau bukan, penulis sepak bola memiliki taste tersendiri bagaimana gaya bahasanya. Anda pasti bisa membedakan mana tulisan yang memiliki nilai estetika dari tata kalimatnya maupun diksi yang ia ambil. Lalu seperti apa opini yang ia bangun, mana tulisan yang terlalu menggurui, mana yang pamer ilmu, mana yang mencoba mengerdilkan penulis lain, mana yang menyadur, mana sekadar menerjemahkan. 

Apapun itu, mari menulis. Mari mencintai sepak bola bersama-sama dengan khidmat. Buat apa sih saling jegal.

No comments:

Post a Comment