Pages

Saturday, August 10, 2013

Dicari: Pemain Berbudaya

Ada semacam pendapat umum bahwa hasil-hasil laga pre-season tidak dapat dijadikan ukuran prestasi di ajang sesungguhnya. Dalam fase ini tim baru berkumpul setelah libur kompetisi. Otot-otot masih kaku, aura kompetitif masih samar-samar. Banyak pula pemain yang masih menjalani liburan karena tambahan turnamen yang harus mereka lakoni. Seperti halnya kita (orang biasa, non tentara) yang baru terbangun dari tidur, tentunya akan sulit jika langsung disuruh berlari.

Pre-season, bagi Milan adalah sebuah fase yang sama dengan tim lainnya. Beberapa pemain baru bergabung, beberapa masih cedera. Namun ketika saya menyaksikan tim ini bertanding tiga kali menghadapi lawan berbeda termasuk menghadapi Manchester City dan Chelsea, sepertinya saya dapat sedikit membaca bagaimana tim ini akan bermain di kompetisi sesungguhnya.

Bagi Milan, ini adalah tahun kedua setelah revolusi besar dalam skuat. Tahun kedua dari siklus pemaksaan mediokritas skuat karena alasan finansial yang tak bisa dihindari. Mereka telah menghadapi fase terburuk revolusi itu pada paruh pertama kompetisi musim lalu dimana mereka sempat menduduki posisi ke-15 sebelum mengakhiri musim dengan sensasional di posisi ketiga. Sekarang, alasan overhaul sudah tidak relevan lagi. Harus ada peningkatan kelas dan level permainan. Fans galak mulai tidak sabar.

Dengan skuat yang ada, Max Allegri mencoba menjadikan Milan sebagai tim yang solid dalam permainan. Tidak punya bek kelas dunia, ia meminta pemain-pemain tengah dan bahkan penyerang untuk aktif dalam membantu pertahanan. Tidak jarang kita melihat Stephan El Shaarawy berjibaku melapis posisi Kevin Constant, atau Mario Balotelli turun jauh menjemput bola.

Menghadapi lawan dengan skuat super seperti City maupun Chelsea, terlihat jelas bagaimana perbedaan kelas kedua tim elit sokongan oligarki itu dengan Milan, tim milik presiden yang gemar mendatangi Milanello dengan helikopter dan gemar bolak-balik pengadilan.

Pada laga lawan City, kecepatan umpan dan ketajaman mengerikan skuat Manuel Pellegrini sungguh membuat pemain-pemain Milan seperti mendapatkan coaching clinic berharga. Gol-gol tercipta dengan mudah seakan pemain-pemain bertahan Milan tidak ada. Ketiadaan bek yang mampu membaca permainan memang menjadi masalah Milan sejak musim lalu.
Jika anda khawatir akan hal ini, tidak usah banyak berharap karena petinggi Rossoneri sepertiya tidak menjadikan penguatan posisi bek sebagai prioritas. Matias Silvestre didatangkan bukan untuk menambah kekuatan, melainkan menambal cedera Daniele Bonera. Meski Silvestre bukanlah pemain yang buruk, tapi saya tidak akan berusaha terlihat menyebarkan positivisme dengan mengatakan bahwa kedatangannya adalah jawaban yang dibutuhkan Milan akan bek berkualitas.

Sesuatu yang lebih penting dan menjadi prioritas bagi para petinggi adalah keberadaan pemain kreatif, atau pemain bernaluri serang. Romansa sebagai klub yang pernah diperkuat pemain-pemain berbudaya seperti Manuel Rui Costa, Zvonimir Boban, Dejan Savicevic maupun Ricardo Kaka memang membuat Milan terus menempel Keisuke Honda. Sedihnya, meski kualitas Honda tetaplah masih dibawah nama-nama barusan, Milan tetap saja terkesan tidak serius mengejarnya.

Saya setuju jika problem Milan adalah kreativitas. Setuju sekali. Kita bisa melihat bagaimana Boateng berlari tanpa arah, jarang mendapat bola dan tidak memiliki imajinasi memadai untuk membongkar barikade pertahanan lawan. Boateng memang pernah menjadi kejutan kala melakoni musim pertama. Ia juga tidak asing bermain sebagai gelandang serang ketika masih membela Hertha Berlin. Tapi bagaimanapun, Boateng tetaplah bukan si nomor 10 kreatif yang mampu memecah kebuntuan.

Boateng bukanlah Rui Costa, Boban, Savicevic atau Clarence Seedorf, pengguna nomor 10 sebelumnya. Ia adalah seorang gelandang tengah alias mezz’alla yang bagus, tapi ia adalah seorang trequartista yang buruk. Saat ini di skuat Milan tidak ada satupun pemain dengan kualifikasi memadai sebagai trequartista untuk memimpin tim sepanjang tahun. Saponara belum tentu siap. Penolakan Berlusconi akan skema 4-3-3 memang menunjukkan keinginan sang presiden untuk melihat Milan bermain dengan kelas yang lebih tinggi. Bukannya 4-3-3 jelek, tapi kebesaran Milan yang selama ini terlihat dengan topangan pemain nomor 10 handal dirasa perlu dikembalikan, meski keinginan itu hanya terlihat konyol tanpa keberadaan si nomor 10 sungguhan.

Kemungkinan besar, kita tidak akan melihat Milan mengangkat trofi musim depan, kecuali terjadi sesuatu yang menurunkan kekuatan rival secara drastis, atau terjadi pembelian hebat dari Milan. Stabilitas (terutama stabilitas finansial) adalah yang diutamakan, dan itu hanya bisa dilakukan dengan bertahap sembari tim marketing dan tim stratejik bekerja mencari sumber-sumber pendapatan baru.


Jalan menapaki kesuksesan memang tidak ada yang instan. Butuh proses yang sangat panjang. Dan di era industri dan komersialisasi sepak bola sekarang ini, tidak ada klub sukses tanpa ketahanan finansial memadai. Melihat apa yang beberapa tahun kebelakang dilakukan oleh para petinggi, Milan sebenarnya telah berada di jalur financial sustainability yang tepat. Ketimbang mendebatkan siapa pelatih yang pantas, siapa pemain yang seharusnya dibeli, saya lebih memilih berharap pada keberhasilan Galliani mendatangkan pemain bagus tapi murah, dan determinasi dan muka tembok Allegri dalam meracik tim. Sampai stabilitas finansial itu benar-benar terjadi, ikutilah mentalitas seperti suporter … (isi sendiri).

Wednesday, July 31, 2013

Milan want Honda to drive their midfield


Let us anticipate a more competitive and more entertaining Serie A this season, as big name players have arrived. Last year, stars like Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva and Ezequiel Lavezzi  joined the nouveau riche PSG. The financial difficulties of their clubs forced them to sell their best players and, consequently, the departures reduced the competition’s prestige and teams’ competitiveness in European competition.
The situation in this summer transfer market has changed. The Serie A clubs now get results for the tight-money policies they have employed in recent years. To this point, Italian clubs have dominated the big name signings, while Premier League and La Liga clubs are still negotiating with their targets.
After Carlos Tevez and Fernando Llorente arrived at Juventus, the highly-rated Dutch midfielder Kevin Strootman penned a five-year contract with AS Roma. He refused other big clubs’ offers, such as Manchester United and Tottenham Hotspur, to join the capital city side. Internazionale, Fiorentina and especially Napoli have also been doing a great job in reinforcing their squads. With the arrival of three Spanish players, Gonzalo Higuain and Dries Mertens under coach Rafael Benitez, Il Partenopei are more than ready to compete in the scudetto race and Champions League.
However, the arrival of those big names could only be completed after the clubs sold other players. Both Roma and Napoli sold Marquinhos and Edinson Cavani for huge prices respectively, while Juventus sold Emanuele Giaccherini before they sealed transfer of Angelo Ogbonna. Financial Fair Play rules have changed the way the clubs behave in spending their money, as they now often need to sell a player before they buy.
While the other teams are busy, AC Milan have remained calm. Their movements in this summer’s market are very slow; only Andrea Poli and Jherson Vergara have arrived, as Riccardo Saponara’s transfer had been finalised in last winter’s break. Milan failed to reach an agreement with Santos about Robinho, and thus couldn’t negotiate with Fiorentina regarding Adem Ljajic. Currently, they are also in talks with CSKA Moscow in order to reduce Keisuke Honda’s price. Both Ljajic and Honda are not actually too expensive, but the financial condition of the Rossoneri makes them both very tight targets.
The recent injuries to Daniele Bonera – out for at least three months – and Robinho – whose recovery period is yet to be determined – may change everything. Although both players were not first choice in the regular starting XI last season, it forces Milan to take further action in the transfer market, and soon. The club now are linked with Argentinian defender Mathias Silvestre, who plays for city rivals Internazionale, to replace Bonera, while Robinho’s issue may expedite the discussions over Honda.
Milan are known for their last minute movement, as they usually wait until the last day of transfer window to acquire their targets. That may result costing them a minimal price, a loan-to-buy option, or other favourable scheme, but now, as they have an important Champions League play-off match in mid-August, they have to buy at least two players to replace Bonera and Robinho beforehand. Failure to qualify for the group stages would cost them a great amount of money from TV revenues, prize money and gate receipts.
During their pre-season matches against Juventus, Sassuolo and Valencia, Milan seem to have found their balance. They performed well in those three matches with solid midfield displays, and Nigel De Jong’s return from injury further boosts their options in the centre; he stabilises the engine room and makes Andrea Poli comfortable alongside him in the mezz’ala role. When Riccardo Montolivo returns, they will form a formidable trio that will ensure high ball retention.
If Kevin-Prince Boateng remains at Milan, it would be fantastic if Max Allegri plays him as mezz’alla. He’s got enough strength and a work-rate that makes him an excellent player, as we saw in his brilliant performance during the second leg of the Coppa Italia tie against Juventus last season. Silvio Berlusconi has stated his wish to see Milan play with a 4-3-1-2 formation, and his wishes are commands to everyone at the club.
To play 4-3-1-2, Milan need an excellent trequartista. They already have Saponara for that position, but handing the youngster such a big responsibility may not be wise, meaning that Honda’s quick arrival is a must; and they cannot wait until January. Allegri needs to learn from his experience last season when he played Boateng in such a role. The lack of creativity shown by the Ghanaian caused Milan trouble in the final third, and therefore costs them in slow starts, an issue that will not be tolerated this season.
(Tulisan ini dimuan di Serie A World, website sepak bola Italia)

Monday, July 29, 2013

Permasalahan Mendasar

"Bagi kebanyakan pemain disini, pemain yang bisa menggiring bola melewati lawan adalah yang paling hebat. Semakin banyak lawan yang bisa ia lewati, semakin hebatlah dia." Begitulah petikan kata-kata pelatih timnas Indonesia Jacksen F. Tiago pada acara Mata Najwa bertajuk Gila Bola beberapa waktu lalu.

Jika anda berpikir coach Jacksen lebay ketika mengatakan hal itu, berarti anda belum menyadari salah satu permasalahan paling mendasar yang menjangkiti sepak bola Indonesia.

Faktanya, pemandangan pemain yang jarang mengoper bola adalah sesuatu yang jamak terjadi di Indonesia. Pemain turun ke lapangan tidak memiliki kesadaran taktik yang memadai dan cenderung hanya bermain untuk diri mereka sendiri. Cobalah anda berbincang dengan pemain sayap kita, tanyakan apakah yang pelatih instruksikan pada mereka, tanyakan juga apakah ia memperhatikan posisi pemain di sisi sayap berlawanan, juga pemain tengah lainnya. Anda tidak perlu heran jika jawaban mereka adalah 'Saya hanya diinstuksikan untuk berlari dengan bola lalu memberikan umpan silang'.

Anda dapat tanyakan pertanyaan teknis serupa pada bek tengah, gelandang bertahan, gelandang serang atau penyerang tengah. Dan jangan kaget juga jika jawabannya lebih simpel daripada musik Green Day.

Sekarang adalah era dimana seorang pemain bola tidak melakukan sentuhan lebih dari tiga kali, positioning pemain sangat rapi dijalankan, jarak antar pemain sangat diperhatikan, pergerakan tanpa bola lebih penting daripada pergerakan dengan bola, dan seorang penyerang tengah kapabel ditugasi menjaga deep-lying playmaker lawan. Ketika pemain-pemain dunia mampu dengan fasih menjalankan peran itu, bagaimana dengan pemain-pemain Indonesia? Pemain kita masih saja mengirim umpan lambung dari belakang yang sudah pasti dimentahkan bek lawan dengan mudah. Pemain kita juga sering mengirim umpan terobosan untuk dikejar pemain sayap, lalu mengumpan ke penyerang yang diharapkan mampu menggocek 2-3 pemain lawan. Begitu saja permainan timnas kita sepanjang 10 tahun belakangan. Tidak bisa bermain rapi dan terorganisir.

Apakah hal ini salah pemain? Tentu saja bukan. Pemain hanyalah mengikuti instruksi pelatih, mengikuti kompetisi dan bergabung dengan klub bagaimanapun mereka diperlakukan, bahkan pemain yang tidak digaji berbulan-bulanpun akan dikenai sanksi jika mogok bermain. Hal ini semata menunjukkan bahwa pemain tidak punya power untuk merubah sistem. Meminjam kata-kata Hedi Novianto, permainan long pass dan tidak terorganisir ini memang masih bisa berjalan di liga domestik, mengingat mereka menghadapi lawan yang memiliki cara identik dan kekuatan lawan yang setara, namun beda ceritanya ketika menjalani laga internasional.

Taktik yang ketinggalan jaman, cara bermain yang serba sporadis dan individualis adalah produk akhir dari kompetisi lokal yang tidak dikelola dengan benar. Zen RS pernah menuliskan bahwa tidak adanya program pendidikan pelatih ke negara sepak bola maju adalah salah satu persoalan. Taktik kita ketinggalan jauh, seolah seperti murid sekolah yang terus tinggal kelas.

Saya jadi teringat teriakan Nil Maizar kepada anak-anak asuhannya dalam sebuah laga kala ia masih melatih timnas. ‘Main yang sabar! One touch!’ Bermain sabar, mengatur tempo dan melakukan sedikit sentuhan terdengar gampang, tapi nyatanya sangat sulit dilakukan. Johan Cruyff sendiri yang bilang kalau memainkan sepak bola yang simple adalah hal tersulit dari menjadi pesepakbola. 

“Dit, gue dipanggil seleksi salah satu tim kasta tertinggi. Doain supaya gue bisa diterima ya.” Sebagai teman, seharusnya saya turut senang dengan peristiwa itu. Tapi kemudian saya malah bingung karena teman saya itu sudah berusia 25 tahun dan ia sama sekali tidak pernah menjadi pemain profesional melainkan hanya berstatus sebagai pesepakbola tarkaman yang menjadikan sepak bola sebagai sampingan.

Bagaimana bisa sebuah tim yang (katanya) profesional mengundang seorang pemain semi-profesional berusia 25 tahun tanpa dasar pendidikan sepak bola yang kuat untuk mengikuti seleksi? Kabar berikutnya yang saya dengar memang teman saya itu tidak lolos, namun mendengar bahwa ia bisa sampai ke tahap seleksi sebuah tim profesional sungguh mengherankan. Jelas sekali menunjukkan bahwa sistem pembinaan pemain kita belum cukup untuk memasok pemain ke klub.

Memang tidak semua klub seperti itu, banyak juga klub yang sudah memiliki akademi dan tim muda. Kompetisi internal maupun kompetisi antar tim muda juga dijalankan, namun kebanyakan digagas oleh pihak swasta, bukan oleh federasi. Lagi-lagi, ini adalah permasalahan yang mendasar.

Friday, July 26, 2013

Tidak Perlu Berpikir Positif Untuk Sesuatu yang Salah

Saya pernah sekali membahas tentang kiprah para komentator amatir, alias para komentator berita di media online. Sedihnya, menurut seorang jurnalis, komentar-komentar di media online tersebut memang adalah cerminan dari bangsa kita.

Lihat saja komentar-komentar yang tersaji di artikel rekan saya Yoga Cholandha yang di publish di sebuah media online. Dalam artikel yang hingga saat ini sudah dikomentari sebanyak lebih dari 1000 orang dan nampaknya masih berlanjut itu, teman saya sebenarnya dengan telak menelanjangi kebobrokan sepak bola kita. Bagaimana sepak bola tidak diurus dengan benar, dan kita terus dininabobokan oleh kedatangan tim-tim Eropa, yang tidak lebih hanya bermotif uang.

Memang betul tidak ada salahnya jika sesekali kita mengagendakan laga eksibisi menghadapi tim-tim yang sebelumnya hanya bisa kita saksikan dari layar datar televisi sambil berantem di twitter dengan suporter layar kaca lainnya. Namun jika keadaan ini terus kita syukuri, dan menganggap ini adalah awal kemajuan sepak bola Indonesia, maka kita akan seterusnya terjebak dalam limbo prestasi sepak bola nasional.

Lalu cobalah lihat komentar-komentar di artikel berikut, soal gagasan Indonesia pindah ke zona Oseania. Para komentator itu kemudian dengan ‘gagah’ menuliskan bahwa ‘kita harus mengalahkan lawan yang kuat jika ingin menjadi yang terkuat’ atau ‘kita tidak boleh menjadi pengecut dengan memilih lawan yang lemah’.

Apakah yang dapat disimpulkan dari situ? Ya, ketahuan deh bangsa kita memiliki beberapa karakter khas. Inferior dan delusional. Disatu sisi, bangsa kita begitu merasa inferior dengan kerelaan dibantai dengan skor telak di lapangan. Meminjam kata-kata Yoga, rela menjalani medan perang palsu demi menyenangkan meneer-meneer atau sinyo-sinyo bule yang biasa kita saksikan di televisi. Di sisi lain, bangsa kita begitu merasa hebatnya, merasa lawan-lawan di zona Oseania tidak ada apa-apanya buat kita. Kita juga begitu cepat puas karena akhirnya klub-klub besar itu mau datang. Seakan hal ini akan membuat kita 9 tahun lagi mengikuti Piala Dunia, dan pemain-pemain kita akan dilirik oleh klub Eropa berbekal pengalaman bertanding melawan para pemain kelas dunia.

Tiga tahun lalu saat Indonesia kalah dari Malaysia di final Piala AFF, saya bilang kalau Indonesia bermain jelek dan memang tidak pantas menang di laga final. Tapi salah seorang teman saya malah berkomentar. ‘Ah nggak jelek kok, mainnya sudah bagus. Hanya kalah beruntung saja.’ Ya begitulah mental kita. Masih merasa menang, merasa berbesar hati dan terus menghibur diri padahal jelas-jelas kalah. 

Sebenarnya, saya tidak mau mengurusi para komentator asbun dan minim pengetahuan itu. Tapi sedihnya, hal ini memang persoalan utama bangsa kita. Pernah pula ada artikel yang menyajikan fakta sejarah baru, tapi yang ada malah dibilang laten komunis lah, pemecah belah bangsa lah. Ketahuan sekali mereka terlalu menghayati pelajaran-pelajaran Orde Baru.

Sebegitu hauskah kita akan kejayaan? Mungkin saja. Haus kejayaan bukanlah sesuatu yang salah, namun jelas menjadi kesia-siaan belaka jika kehausan kita pada kejayaan membuat kita tidak bisa mengakui kekurangan diri. Tidak legowo mengakui bahwa kita sedang melangkah pada jalan yang salah, dan tidak terima jika kita dikritik orang lain. Sifat-sifat ini hanya membuat kejayaan yang kita nanti-nantikan terus menjadi impian dan dongeng belaka.

Tidak ada gunanya sok bersikap positif, hal itu hanya berguna jika kita kalah tapi sebenarnya sudah berada pada jalur yang benar. Namun sayangnya, kita menyikapi positif pada sesuatu yang salah. Sungguh tidak akan membawa kita kemana-mana. Kalah ya kalah, salah ya salah. Satu-satunya jalan jelas berbenah. Benahi pembinaan, benahi kompetisi, benahi wasit, benahi pengurus dan federasi, benahi manajemen dan keuangan klub, benahi suporter. Benahi stakeholder sepak bola Indonesia.

Tidak perlu memikirkan taktik mana yang cocok untuk tim, siapa yang akan dipasang sebagai playmaker dan hal-hal teknis lainnya jika menyadari kesalahanpun tidak bisa. Menyadari bahwa sepak bola kita tengah tertinggal berpuluh-puluh tahunpun tidak bisa.

Sunday, July 21, 2013

Apakah Gabriel Paletta Solusi Tepat Pertahanan Milan?

Sejak 3 dekade silam, AC Milan adalah tim yang terkenal dengan keberadaan pemain-pemain belakang tangguh berkelas dunia. Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Alessandro Nesta, Paolo Maldini, hingga Jaap Stam. Tidak heran, nama-nama ini seolah menjadi hantu bagi pemain-pemain belakang baru Milan karena permainan dan kontribusi mereka kerap dibanding-bandingkan dengan nama-nama yang melegenda itu.

Roque Junior, Martin Laursen, Roberto Ayala, Jose Chamot maupun Fabricio Coloccini sempat mengisi skuat ini berbarengan dengan para legenda itu. Mereka bukanlah pemain belakang yang buruk, namun akibat perbandingan-perbandingan dengan para legenda tersebut mereka gagal memunculkan permainan terbaik. Kesempatan bermain merekapun terbatas.

Dua musim lalu, seorang bek Brasil bernama Thiago Silva didapuk menjadi calon legenda Milan karena kemajuannya yang sangat pesat sehingga menjadikannya bek tengah berkelas dunia. Namun kondisi keuangan Milan yang buruk memaksanya hengkang ke Paris Saint Germain. Kini, sektor pertahanan Milan diperkuat oleh duet Philippe Mexes dan Cristian Zapata, dengan dilapis oleh pemain-pemain senior seperti Cristian Zaccardo dan Daniele Bonera, juga seorang bek muda bernama Jherson Vergara.

Baik Mexes, Zapata, Zaccardo maupun Bonera juga bukanlah pemain yang buruk. Hanya saja, disebut berkelas duniapun tidak. Hal ini cukup mengganggu Rossoneri karena ketiadaan bek tengah berkelas dunia dipercaya akan semakin menjauhkan mereka dari gelar. Hal ini bukannya tidak disadari oleh manajemen. Pada bursa transfer musim panas ini, mereka kemudian dikaitkan dengan beberapa nama yang dianggap akan mampu memperkuat lini belakang mereka.

Nama pertama adalah Davide Astori. Bek yang kini bermain di Cagliari ini adalah jebolan akademi Milan. Astori, yang kini berusia 26 tahun sudah wara-wiri ke tim nasional Italia. Ia juga diincar oleh Manchester United sebagai bukti kehebatannya. Milan juga sebenarnya sempat mengincar Angelo Ogbonna, bek yang juga langganan tim nasional Italia. Namun eks pemain Torino ini sudah berbaju Juventus. Banderol kedua pemain yang mencapai 15 juta euro adalah hambatan bagi Milan.

Nama kedua yang kini ramai dibicarakan adalah bek Parma asal Argentina, Gabriel Paletta. Bek jangkung berusia 27 tahun ini hangat dibicarakan media-media Italia sebagai target transfer Milan. Siapakah Paletta? Beberapa tahun lalu, publik lebih mengenalnya sebagai pemain berbakat Argentina yang gagal bersinar di kompetisi Eropa.

Paletta mengawali karirnya di klub Banfield sejak usia 16 tahun. Hanya butuh waktu tiga tahun baginya untuk menembus tim utama Banfield, hal yang kemudian membuatnya terpilih menjadi pengisi lini belakang tim nasional junior Argentina pada perhelatan Piala Dunia U-20 tahun 2005 silam.

Penampilan memikat Paletta di kejuaraan tersebut memikat klub besar Inggris, Liverpool. Sayangnya, Paletta gagal menembus posisi starter. Total, ia hanya bermain sebanyak 3 kali sepanjang musim 2006/2007 tersebut. Selanjutnya, Paletta mudik ke Argentina untuk memperkuat Boca Juniors.

Di Boca, Paletta menemukan kembali kepercayaan dirinya. Sadar bahwa ia pindah ke Eropa di usia yang terlalu muda membuatnya tampil baik bersama Boca. Bersama klub rival abadi River Plate tersebut, Paletta menyumbangkan gelar juara Torneo Apertura dan Recopa Sudamericana tahun 2008.

Panggilan kembali ke Eropa datang. Kali ini klub papan tengah Italia, Parma yang membelinya. Bermain di Parma yang relatif lebih jauh dari sorotan ketimbang di Liverpool ternyata menjadi berkah baginya. Bersama Parma inilah Paletta kemudian mulai menapaki puncak permainan sebagai seorang pemain belakang berkelas. Kompetisi Seri a telah mengangkat namanya.

Paletta bermain gemilang sepanjang musim lalu. Situs whoscored menilai rataan performanya sebesar 7,2. Hal itu menjadikannya pemain dengan nilai rating terbaik kedua Parma musim lalu dibawah Jonathan Biabiany. Musim lalu, Paletta diasuh dua pelatih yaitu Franco Colomba dan Roberto Donadoni. Ditangan Colomba, Paletta bermain dalam sistem empat bek dimana ia berduet dengan Alessandro Lucarelli. Masuknya Donadoni menggantikan Colomba di pertengahan musim mengubah sistem permainan. Paletta hingga akhir musim bermain dengan sistem tiga pemain belakang, dan tetap tampil mengesankan.

Milan tidak salah mengincar pemain ini. Secara statistik, penampilan Paletta mungkin masih berada dibawah Mexes dan Zapata, namun dalam beberapa aspek seperti tekel maupun kemampuan membaca permainan Paletta sedikit lebih unggul. Pendek kata, kehadiran Paletta akan menciptakan kompetisi yang positif di lini pertahanan Milan sehingga performa tim akan meningkat secara keseluruhan.

Namun lagi-lagi harga menjadi masalah. Setelah sempat dihargai 10 juta euro, Direktur Parma Pietro Leonardi tiba-tiba mengeluarkan pernyataan mengejutkan, yaitu siapapun yang berminat pada Paletta harus mengeluarkan uang 35 juta euro. Pernyataan Leonardi tersebut seolah menegaskan bahwa pemain ini berstatus tidak dijual.

Tidak mengherankan memang karena Parma sendiri kini sedang berusaha bangkit sebagai kekuatan baru Seri a seperti tahun 90an lalu dimana mereka adalah tim papan atas. Ambisi tersebut tertuang di bursa transfer ini. Meski harus kehilangan penyerang muda berbakat Ishak Belfodil, namun sebagai gantinya mereka mendapatkan Antonio Cassano. Dengan poros Cassano di penyerangan dan Paletta di pertahanan inilah Parma mengusung optimisme menuju musim baru.

Kini tinggal bagaimana Adriano Galliani sebagai transfer guru Milan bertindak. Galliani memang penuh teka-teki. Ia terkenal sering mewujudkan transfer-transfer mengejutkan buat Milan, dan tidak jarang transfer tersebut terjadi menjelang penutupan. Galliani tahu benar akan kebutuhan Milan pada bek tangguh, namun lebih dari itu ia berhadapan dengan kondisi finansial Milan yang terbatas.

(tulisan ini ditolak oleh salah satu fanbase, karena dianggap sebagai tulisan rumor belaka.. hihihi)

@aditchenko

Friday, July 19, 2013

The Emerging of Indonesian Football Blogger

Apa yang biasa Anda cari penggemar sepak bola dari sebuah website sepak bola? Hasil pertandingan? Siapa pencetak gol? Urutan berapa tim favorit di klasemen? Transfer pemain? Lupakan saja, karena sekarang terdapat sekumpulan orang yang tengah mencoba memberi asupan yang beda terkait tulisan sepak bola.

Dulu gue juga begitu, hanya peduli pada hal-hal remeh sepak bola seperti hasil laga dan berita-berita ringan. Baca media luar? Ah buat apa.

Tapi ada saat dimana gue merasa kurang puas dengan apa yang gue baca. Merasa media hanya menyajikan yang itu-itu saja padahal sesuatu dalam diri gue bilang kalo sepak bola lebih dari itu.

Awalnya, seorang teman ngasih tau tentang kesukaannya membaca tulisan salah seorang penulis sepak bola. Teman gue ini bahkan gak suka-suka amat sepak bola. Ini membuat gue mikir 'wah hebat amat ini orang bisa bikin tulisan bola yang bisa disukai oleh orang yang sebetulnya gak paham bola'. Dari situlah pencarian dimulai.

Gue mulai blogwalking. Pencarian berhenti pada beberapa nama. Saat itu, 2 tahun lalu, gue mulai rajin membaca tulisan-tulisan mereka. Timbul semacam keinginan untuk bisa seperti mereka, yaitu memandang sepak bola dari berbagai sisi. Sepak bola lebih dari sekadar memperhatikan situs livescore, banter dengan fans lawan, melihat-lihat kompilasi gol-gol terbaik di youtube, atau menghapal nama-nama pemain. Orang-orang ini membuka mata gue lebar-lebar.

Ada yang kuat di angle dan memiliki style yang khas, ada yang tata kalimatnya enak dibaca seperti layaknya kita membaca novel, ada yang menuangkan pengalaman perjalanannya ke berbagai belahan dunia, ada yang membahas industri dan taktik, ada yang mencampurnya dengan sejarah, ada pula yang menyambungkannya dengan filsafat. Sepak bola membawa kita kemana-mana. Ke berbagai disiplin ilmu.

Dari mereka jugalah gue mengenal penulis-penulis lain. Ternyata memang banyak penulis-penulis berbakat yang tinggal diasah sedikit dan diberikan media, maka mereka akan bersinar.

Seiring berjalan waktu, gue melihat lagi kemunculan beberapa grup baru, terdiri dari penulis-penulis yang juga baru. Mereka seakan menunggu untuk meledakkan potensi mereka, lalu membuat berbagai produk untuk menambah kekayaan khazanah penulisan sepak bola di Indonesia.

Kini, tulisan sepak bola dari penulis atau blogger Indonesia sudah menjamur baik dalam bentuk blog sederhana, website keren maupun mengisi rubrik olahraga pada media online ternama. Keadaan ini berbeda jauh dibandingkan 3-4 tahun lalu. Kemunculan para penulis maupun blogger ini tentu menyenangkan. Mereka memberi pengetahuan, sudut pandang, cerita, hingga ajakan untuk membawa kita semua belajar memaknai sepak bola lebih luas, mencoba menelisik sisi-sisi lain dan merambah sektor akademis dengan menjadikan tulisan-tulisan sepak bola sejajar dengan karya tulis ilmiah. Menaikkan level sepak bola, juga membuang jauh-jauh semangat bigotry. Blogger-blogger maupun para penulis ini menunjukkan bahwa mereka mampu membentuk pasar, bukan sekadar mengikuti pasar. Meskipun mengubah pola pikir stakeholder sepak bola secara masif juga masih terlalu jauh, meskipun kekerasan masih terjadi, meskipun kondisi sepak bola nasional masih jauh dari ideal, tapi ini sungguh permulaan yang baik.

Blogger-blogger ini memberi warna baru pada dunia penulisan sepak bola di Indonesia. Seakan menunjukkan bahwa masih banyak pihak-pihak yang memberi kritik yang konstruktif, memberi pengetahuan, menggelitik keinginan belajar dan tidak cepat puas. Mereka juga banyak meneliti langsung berbagai fakta yang banyak orang tidak tahu, bahkan mencari tahu dan membantu para legenda sepak bola Indonesia yang ironisnya dilupakan oleh anak-anak muda bangsa Indonesia sekarang karena tontonan sepak bola Eropa telah melenakan dan membuat mereka cuek terhadap sepak bola negeri sendiri dan pelaku-pelakunya.

Prestasi tim nasional Indonesia tengah terjun bebas, kompetisi yang (katanya) profesional masih carut marut, federasi yang haus kekuasaan dan mengotori sepak bola dengan berbagai kepentingan mereka, juga pembinaan usia muda tidak berjalan. Namun meski demikian, kebangkitan penulisan tema sepak bola di negeri ini adalah sesuatu yang menyegarkan, mungkin satu-satunya yang bisa dibanggakan. Bukan gerakan positivis semata, bukan sekadar menjadi macan kertas belaka, lebih dari itu tidak sedikit dari penulis dan blogger ini menggagas berbagai aksi nyata demi kemaslahatan sepak bola nasional.

Tidak peduli negara kita adalah negeri para penonton, dan bukan (atau belum jadi) negara sepak bola, setidaknya negara ini punya pejuang yang rela begadang demi riset tulisan, rela keluar uang ekstra untuk asik mengetik di kedai kopi, mengorbankan waktu untuk menggelar diskusi-diskusi yang menambah wawasan, membuat film atau lagu, menyisihkan waktu untuk menemui para legenda, turun langsung membantu perkembangan sepak bola dari level grassroots dan kemudian mengawali perubahan dengan menuliskan pengalaman ini demi memunculkan kesadaran. 

Yes, they are real.

Friday, July 12, 2013

Milan: Antara Mercato dan Taktik

Milanisti mana yang tidak gemas melihat pergerakan tanggung transfer Milan? Bukan hanya sekarang, tapi beberapa tahun kebelakang. Buku kas Milan harus seimbang, tidak boleh ada kas keluar untuk membeli pemain sebelum ada yang pergi. “Kita tidak bisa membeli sebelum menjual.” Begitu kata Adriano Galliani berkali-kali.

Kondisi finansial Milan memang mengenaskan. Dalam dua tahun terakhir selalu mengukir kerugian diatas 50 juta euro –jumlah yang melebihi ambang batas yang ditetapkan UEFA melalui Financial Fair Play (FFP)- yang pada akhirnya memaksa Milan untuk melakukan pengetatan belanja secara ekstrim. Masih untung musim panas ini tidak terjadi lagi overhaul skuat seperti tahun lalu. Biaya gaji Milan juga tidak terkontrol. Swiss Ramble sudah menuliskannya dengan komprehensif dalam tulisannya yang lebih menyerupai laporan audit bahwa biaya gaji Milan adalah salah satu yang tertinggi di Italia, mencapai 200 juta euro per tahunnya, padahal pendapatan hanya 20-30 juta lebih banyak. Dari sisi bisnis, sangat tidak sehat.

Orang bijak bilang, apa yang kita alami sekarang adalah buah dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Milan benar-benar memetik buahnya sekarang. Untungnya ada FFP yang sangat memberi efek disintensif pada kelakuan jor-joran klub sepak bola, termasuk Milan. Tidak hanya mampu menghemat anggaran belanja dan gaji pemain, Milan juga punya basis pendapatan komersial yang paling tinggi diantara klub-klub Italia lain berangkat dari kesadaran akan pentingnya mendapat lisensi dari UEFA sebagai tanda lulus tes FFP.

Tapi tetap saja toh hal ini tidak banyak berpengaruh pada kebijakan transfer Milan. Peningkatan performa dari tim marketing and communication Milan memang berangkat dari kesadaran mereka untuk makin memperkuat brand ke level global. Tahun 2012 lalu, Deloitte mengemukakan Milan memperoleh nyaris 100 juta euro dari kegiatan komersial mereka, atau yang tertinggi diantara klub Italia lainnya. Namun hal ini masih belum cukup –setidaknya saat ini- untuk mendongkrak performa tim lewat penguatan pemain di bursa transfer.

Keisuke Honda dan Adem Ljajic adalah pemain yang kini diidam-idamkan Milanisti. Apalagi seiring keinginan Milan menggunakan taktik 4-3-1-2 yang tentunya membutuhkan trequartista handal seperti mereka. Harga Honda maupun Ljajic sebenarnya tidak mahal-mahal amat. Total, mereka berdua berharga tidak lebih dari 20 juta euro. Milan akhirnya rela menunggu Honda hingga Januari, saat kontrak sang pemain CSKA Moskow tersebut habis dan Milan dapat menggaetnya dengan gratis. Kondisi finansial lah yang menyebabkan pengeluaran 10 juta euro untuk satu orang pemain menjadi barang yang terlalu mewah untuk Milan.

Penghalang terwujudnya transfer ini adalah masih bertahannya Kevin-Prince Boateng dan Robinho. Dua pemain ini menjadi pesakitan di Milan karena performa mereka yang jauh dari kata impresif musim lalu. Ditambah lagi, skema 4-3-1-2 tidaklah cocok untuk mereka, terutama Boateng. Mereka meminta gaji yang mahal dari calon pembeli masing-masing, dan Milan juga menuntut nilai transfer mahal pula. Tidak terdapat titik temu antara harga dan kualitas pemain, yang membuat mereka sulit dijual.

Efek dari kegagalan transfer ini bisa bermacam-macam. Baik Robinho atau Boateng akan menjadi kambing hitam yang tidak disukai tifosi karena dianggap menghambat kedatangan Honda dan Ljajic. Milan bisa jadi kembali menggunakan pola 4-3-3, pola yang sebetulnya cukup sukses membawa mereka ke posisi 3. Memasang Riccardo Saponara dan membebaninya untuk langsung memberi efek besar bagi Milan bukanlah tindakan bijak lantaran sang pemain masih sangat muda. Tanpa kehadiran Honda dan Ljajic, pola 4-3-3 memang patut dipertahankan karena dengan pemain yang ada, Milan lebih cocok bermain dengan pola ini, dengan Saponara diposisikan sebagai wide playmaker di sisi kanan. Tidak menempatkan Saponara di posisi terlalu sentral pada fase ini sepertinya pilihan yang bijak.

Mempertahankan pemain yang tidak cocok dengan skema dan tidak mampu bermain maksimal memang bukan pilihan bijak. Jika benar harus menunggu Honda hingga Januari, nampaknya Milan harus bersiap dengan segala kemungkinan yaitu mengubah taktik di pertengahan musim. Musim lalu, aneka taktik telah dicoba Max Allegri hingga ia ajeg dengan 4-3-3. Namun jika ternyata pola 4-3-3 masih memberi hasil positif, beranikah Milan berganti ke pola 4-3-1-2 di tengah musim?

Inisiasi pola baru idealnya sudah dilakukan sejak awal musim, bahkan sejak latihan pre-season. Pola 4-3-1-2 yang lebih narrow akan memaksa sejumlah pemain seperti Stephan El Shaarawy, yang biasa bermain sebagai wide forward untuk beradaptasi lagi. Belum lagi menyebut Mario Balotelli, yang nampak lebih nyaman bermain sebagai penyerang tengah tunggal yang dibiarkan bergerak bebas. Jika berduet dengan El Shaarawy, ada kekhawatiran bahwa ruang gerak Balo akan terlimitasi karena harus berbagi dengan Il Faraone.


Bagaimanapun implementasinya nanti di lapangan, adalah tugas Allegri untuk segera memutar otak dalam menemukan formula yang paten. Skema paten ini akan sangat menentukan akan berada dimana Milan pada akhir musim. Start buruk dan lambat memiliki konsekuensi yang sangat berat. Membicarakan scudetto memang terlalu prematur, namun buat Milan, mampu menduduki 3 besar di Seri a sekaligus melangkah sejauh mungkin di Liga Champions sudah menunjukkan bahwa tim ini berada di trek yang benar. 

Monday, July 8, 2013

Ayo Main Bola!

Rasanya masih teringat jelas di memori saat gue dicela teman-teman (bukan teman yang baik sih) yang mengatai betapa culunnya gue karena gak bisa main bola dan gak tau gimana caranya nendang bola. Sebuah celaan yang kemudian seperti membangunkan monster yang telah lama bersembunyi dalam badan.

Monster itu menstimulus gue buat belajar main bola, lalu membungkam mulut para pencela itu. Gue gak tumbuh sebagai pesepakbola profesional juga sih, tapi gue bukanlah pesepakbola buruk. Gue hanya punya dua tujuan setiap bermain bola, yaitu bermain baik dan mencetak gol. Gak pernah sedikitpun terbersit untuk mencederai lawan. Gue bermain, karena gue mencintai permainan ini, bukan karena motivasi lain seperti taruhan atau gagah-gagahan. I see football as a beautiful game.

Passion gue teramat tinggi keterlaluan pada permainan ini. Jeleknya, passion ini seperti hantu yang sempat menghambat langkah gue karena terlalu sulit move on dan sulit menerima kenyataan kenapa gue gak bisa jadi pemain bola. Banyak tahap pencarian gue lalui sebelum mencapai tahap ikhlas seperti sekarang. Mencoba berdamai dengan hidup dan berusaha terlihat seperti bapak-bapak normal yang suka upload foto anak di social media dan menjadi karyawan yang rajin kerja lembur serta berdedikasi tinggi adalah bukti bahwa gue sudah pasrah dan rela menjalani dunia paralel di mana pemikiran gue gak sejalan dengan apa yang gue lakukan.

Meski demikian, gak ada penyaluran yang lebih besar pada sepak bola selain memainkannya. Ya, bermain sepak bola di lapangan adalah hal yang lebih menyenangkan daripada liburan mahal dengan kapal pesiar romantis sekalipun, atau teriak-teriak di karena adrenalin yang dibuat-buat saat memainkan water sport di pantai eksotis. Bahkan setelah gue menemukan kesenangan alternatif berupa menjadi penulis sepak bola sekalipun, tidak bermain sepak bola secara reguler adalah sebuah kegagalan tak termaafkan.

Perubahan status dari bujangan ke pajangan, plus dari mahasiswa girang ke karyawan senang udah cukup mereduksi waktu bermain bola. Apalagi sebuah catatan statistik kampret berupa hasil medical check up resmi mengalienasi gue dari lapangan bola. Kolesterol gue tinggi, akibat terlalu larut dalam rangkaian tipuan hedonisme berupa makanan-makanan lezat.

Lebih sakit membaca ini daripada tidak menemukan nama gue di pengumuman UMPTN. Tidak bermain bola adalah situasi terburuk yang bisa gue bayangkan, daripada tidak punya payung saat hujan deras atau tidak punya pacar selama sekolah. Dan kini, udah 3 bulan lebih lamanya gue istirahat dari lapangan. 3 bulan tidak menyenangkan yang tidak ingin gue alami lagi.

Well, gue gak mau curhat sebenernya. Gue akan tambahin sedikit bobot dalam tulisan ini. David Conn, si jurnalis sport business pernah bilang dalam salah satu chapter di bukunya tentang lost generation of football yang terjadi di Inggris, yang notabene negara yang mendaulat diri sebagai penemu sepak bola.

Conn bilang bahwa ciri paling kentara dari modernisasi sepak bola adalah di dunia penyiaran. Rupert Murdoch melalui Sky Sports yang menjadikan sepak bola sebagai tontonan berbayar telah mengubah paradigma orang-orang Inggris. Paradigma itu adalah menjadi penonton yang baik karena stasiun TV menayangkan tontonan bagus, yang sayang untuk dilewatkan. Tidak hanya siaran langsung, tapi juga highlight pertandingan dan analisa canggih dari para pundit berjas dan berdasi, tidak mau kalah necis dengan pengamat pasar modal ataupun pengacara. Tayangan sepak bola sudah dikemas sedemikian ruma sehingga para pemirsa termanjakan, dan uang berlangganan yang mereka keluarkan terasa tidak percuma. Ya terang saja, kalau sudah mengeluarkan uang untuk berlangganan, masak sih kita harus beranjak dari sofa sambil makan pizza dan minum berkaleng-kaleng soda atau bir? Ngapain juga capai-capai main bola di lapangan, mendingan nonton orang main aja di TV. Kebiasaan ini juga membawa dampak obesitas, yang akhirnya makin mengurangi produksi generasi sehat yang mampu menjadi pesepakbola.

Terdengar berlebihan? Fenomena ini kemudian berkembang lebih liar. Dari revolusi penyiaran, kemajuan sektor industri pada akhirnya membutuhkan terlalu banyak ruang untuk pembangunan kantor dan gedung mereka. Ruang publik tereduksi, lapangan bola dihabisi. Semakin sulit bermain bola jika lapangan rumput plastik yang tersedia memaksa kita merogoh kocek 300 ribu rupiah perjamnya, atau kira-kira seorang anak sekolah harus patungan 30 ribu rupiah untuk bermain bersama teman-temannya. Tidak heran, lebih banyak anak muda yang lebih memilih nongkrong di minimarket dengan modal 30 ribu perak itu, karena bisa mendapatkan seporsi junk food dan segelas sirop beku, plus bisa ngegodain cewek.

Balik lagi ke absennya gue dari lapangan. Well, sudah saatnya mengakhiri penderitaan ini. Gue harus segera kembali ke lapangan dan dapetin lagi hal-hal yang bisa bikin gue seneng. Jadi seorang pria beranak satu di usia boring 30an bukan berarti menghilang dari lapangan. Bagaimanapun juga, sepak bola lebih enak dimainkan daripada sekadar dibicarakan atau ditonton saja. Ayo main bola!

Tuesday, June 25, 2013

Lesson of a Dream, a Movie Review


Pertentangan kelas, pembangkangan, dan pencerahan adalah inti dari film dengan judul bahasa Jerman Der Ganz Grosse Traum ini, yang kemudian dibingkai dengan cantik lewat tema sepak bola, dan sedikit bumbu Hollywood.

Mengapa film bertema sepak bola dapat berjalan beriringan dengan tema-tema lain yang berkisar perjuangan? Ya, karena semangat sepak bola memang mengunci banyak aspek positif dari kehidupan –meski tidak sedikit pula aspek negatifnya-.

Revolusi mungkin sebuah kata yang terlalu bombastis dalam film ini, lebih tepat dikatakan sebagai film reformasi yang menghadirkan cerita dibalik betapa sulitnya olah raga bernama sepak bola masuk ke negeri Jerman. Arogansi dan perasaan superioritas sudah terlanjur melekat pada bangsa ini, membuat mereka sulit untuk menerima permainan yang datang dari Inggris, yang notabene menjadi musuh besar mereka yang ingin mereka taklukkan. Baik lingkungan pendidikan seperti sekolah maupun lingkungan kecil bernama keluarga sudah menanamkan kebanggaan ini pada generasi setelah mereka.

Braunschweig (atau Brunswick dalam lafal Inggris) adalah sebuah kota di Jerman yang menjadi latar film ini, meski pengambilan gambar pada dasarnya hanya di 4 titik yaitu sekolah, rumah dari donatur sekolah, padang rumput untuk bermain bola, dan juga alun-alun kota pada awal film. Mengapa kota Braunschweig? Ya, memang inilah kota di Jerman pertama yang mengenal sepak bola tahun 1874. Lebih afdol lagi, Entracht Braunschweig mulai musim depan akan turut meramaikan Bundesliga 1 setelah menduduki posisi 2 klasemen akhir Bundesliga 2. Fussball akhirnya datang lagi menyemarakkan kota.

Cerita yang didasarkan pada kisah nyata ini menghadirkan Konrad Koch, sebagai tokoh utama yang juga seorang guru Bahasa Inggris berbekal pengalamannya menimba ilmu di Oxford University. Koch tidak hanya membawa ilmu linguistik, namun juga membawa visi yang ingin mengubah pandangan serta keseharian murid-muridnya.

Kekakuan dan feodalisme amat kental saat itu, dimana sulit bagi kaum proletar untuk mendapat akses pendidikan. Murid-murid Koch adalah para anak kecil yang kaku dan sudah tercekoki kebanggaan berlebihan akan superioritas bangsa mereka. Arogan, disiplin dan tidak mementingkan orang lain.

Koch, berbekal pengalamannya di Inggris, mencoba menggunakan metode berbeda dalam mengajar. Ia menekankan kata “kamerad” sebagai bentuk persaudaraan dan kesetiakawanan, sesuatu yang abai diajarkan oleh para guru-guru. Ia kemudian mengenalkan sepak bola secara perlahan kepada murid-muridnya. Koch selalu mendapat dukungan dari Gustav, kepala sekolah yang berpikiran reformis yang memang ingin mengajarkan murid-muridnya bentuk pembelajaran baru.

Tentu saja banyak rintangan yang didapat sang guru. Salah seorang orang tua murid, Richard Hartung, yang kaya raya sekaligus penyandang dana bagi sekolah memang sangat feodal. Ia menentang segala metode Koch yang dianggapnya akan merusak generasi Jerman. Richard dan anaknya, Felix yang menjadi ketua kelas, kemudian melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Koch dari sekolah.

Seiring berjalannya waktu, Koch berhasil mengatasi berbagai rintangan, bahkan membuat murid-muridnya kompak, termasuk juga Felix didalamnya. Hal itu kemudian membawa Koch pada misi lainnya yang lebih besar, yaitu menyebarkan sepak bola ke seantero negeri.

Begitulah kira-kira garis besar film ini, yang secara keseluruhan memang impresif. Kualitas film Jerman tidak kalah dengan produksi Hollywood. Plot yang rapi, penokohan yang kuat, kelucuan-kelucuan yang disampaikan juga berhasil diperankan dengan baik oleh para aktor, yang saya bahkan tidak tahu namanya.

Dari film ini, memang terlihat bahwa sebagai bangsa, Jerman memang sedari dulu menjadi bangsa yang berpikiran maju, serta memiliki etos kerja yang tinggi. Kedisiplinan luar biasa memang sudah menjadi kultur bagi bangsa ini. Masuknya sepak bola memang sedikit melonggarkan keseriusan mereka dengan unsur fun yang dibawa oleh olahraga ini. Dan terbukti, Jerman diakui sebagai salah satu raksasa sepak bola dunia dengan raihan gelar Piala Dunia sebanyak 3 kali.

Kultur disiplin dan independen juga berpengaruh bagi negeri ini hingga sekarang. Disaat banyak klub sepak bola berhutang dan hidup dalam buaian modern football kapitalis, banyak klub Jerman tetap beroprasi dengan wajar mengandalkan dukungan dari pabrikan raksasa Jerman. The German ways memang luar biasa.

Ps: Thanks to Bang Ucup, Angga & Aad.

Friday, June 14, 2013

Menolak Lupakan Ambrosini


Dalam kondisi terbaiknya (minus cedera) dan juga sedikit saja konsistensi permainan, maka pemain ini akan menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia. Massimo Ambrosini memiliki semangat juang seperti singa yang terluka, kemampuan duel udara yang eksepsional, kemampuan membaca permainan yang prima, dan kepemimpinan yang bagus.

Mengawali karir di Cesena tahun 1994, hanya butuh setahun waktu baginya untuk menarik perhatian para scout Milan. Segera setelah mengakhiri musim sebagai finalis Liga Champions, Milan mengikat Ambrosini. Milan bukanlah seperti Cesena, tempat dimana ia akan lebih mudah mendapat kesempatan menjadi pemain inti. Di Milan saat itu bercokol para gelandang mapan seperti Demetrio Albertini dan Zvonimir Boban. Sulit bagi Ambro untuk langsung mencicipi pengalaman bermain di tim inti.

Ia lalu dikirim ke Vicenza selama semusim, namun cukup untuk membuat Milan menariknya kembali karena menilai pemain ini potensial. Benar saja, setelah mendapat kesempatan reguler tahun 1999 dibawah pelatih Alberto Zaccheroni, Ambrosini muncul sebagai gelandang bertenaga sekaligus bervisi bagus yang mampu menemani Albertini di lini tengah si merah hitam. Milan dibawanya juara liga kala itu.

Cedera, sayangnya menjadi teman akrab Ambrosini sepanjang karirnya. Setelah kesuksesan menembus tim inti, cedera lutut menghampiri. Ambrosini harus menepi menyembuhkan diri. Ia memang keras di lapangan, namun diluar lapangan ia sangatlah santun dan berkelas. Gaya rambutnya yang ia biarkan setengah gondrong dan acak-acakan juga menjadi trademarknya yang tidak pernah ia ubah. Gaya yang sangat cocok dengan kegarangannya di lapangan. Gaya semi-rockstar yang tidak menghilangkan sisi elegan si penggemar penyanyi roots rock Bruce Springsteen.


Rambut kuningnya melayang seperti Son Goku ketika ia melompat, lalu kembali lagi ke tempatnya menimbulkan ketidakteraturan yang lumrah. Makin berantakan pula ketika ia terus terjatuh, berguling, menabrak lawan atau melompat tinggi memenangi duel udara. Rasanya, jersey Ambrosini adalah yang paling kumal dan kotor seusai bertanding. Menandakan determinasi dan rasa memiliki yang tinggi pada timnya.

Ambrosini menghabiskan 18 tahun di Milan, melalui total 489 kali berseragam merah-hitam. Ia memang tidak selalu jadi pilihan utama, dan waktu bermainnya dalam semusim juga tidak sebanyak Javier Zanetti per musimnya. Jumlah partai terbanyaknya dalam semusim adalah 43 kali, terjadi pada musim 2007/2008. Jumlah laganya di Seri a tidak pula mencapai rataan 30 laga semusimnya.

Ia pernah bermain sebagai trio gelandang tengah bersama Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso ketika Milan bermain dengan formasi pohon natal ala Carlo Ancelotti, ia juga pernah bermain sebagai gelandang kiri dalam ketika Seedorf absen. Posisi bek tengah darurat juga pernah ia lakoni. Sempat mengeluhkan porsi bermain yang sedikit di musim 2005/2006 dan berpikir untuk bergabung ke Fiorentina, Ambro kemudian berubah pikiran setelah rangkaian penampilan gemilangnya di babak semifinal Liga Champions kontra Manchester United berkontribusi membawa Milan ke final.

Keputusan Ambrosini memperpanjang kontraknya tidak salah. Sejak saat itu, posisi reguler memang lebih banyak ia lakoni. 194 laga atau 40% dari total laganya bersama Milan ia ukir hanya dalam enam musim terakhir. Loyalitasnya berbuah kepercayaan Milan sebagai kapten penerus Paolo Maldini yang pensiun tahun 2009. Sebelum itu, ia mencetak total 8 gol semusim –rekor terbanyak sepanjang karir- dan sejumlah penampilan solid.

Segala kegemilangan di Milan memang sempat membawanya wara-wiri di tim nasional. Memulai debutnya tahun 1999, ia termasuk pada skuat Italia di Piala Eropa tahun 2000. Ia kemudian gagal ke Piala Dunia 2002 karena cedera, juga tidak terpilih di Piala Eropa tahun 2004. Saat Italia ditangani Roberto Donadoni, Ambrosini sempat dipanggil kembali, sebelum kemudian Marcelo Lippi melakukan comeback pasca Euro 2008. Setelah Lippi masuk, Ambrosini kembali tidak masuk tim nasional, meski penampilannya mencapai puncak di Milan pada era itu. Total, Ambrosini memperkuat Italia sebanyak 35 kali.

Penampilan solid dan kokoh bagaikan batu karang adalah ciri khas yang tidak bisa dilupakan dari Ambrosini. Anda tentu ingat bagaimana ia bermain seperti berusia 15 tahun lebih muda kala mampu meladeni kecepatan-kecepatan pemain Barcelona di leg pertama babak Knock Out Liga Champions yang dimenangi Milan 2-0 itu. Ambrosini mampu mengunci gerak Iniesta, mengisolasi Messi, dan memotong umpan-umpan Xavi untuk menjadikan Barcelona mati angin. Itulah penampilan terbaik terakhir yang pernah saya saksikan dari seorang Ambrosini.



Tidak akan ada lagi rambut emas acak-acakan, lompatan-lompatan, jegalan-jegalan yang kadang ceroboh kepada lawan, determinasi seperti anak muda khas Ambrosini. Manajemen memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya, dan nampaknya hal itu sedikit disesalinya. Ia belum akan pensiun, masih memiliki hasrat petarung yang sama untuk bermain. Dan saya harap tidak melihatnya sebagai lawan Milan.

“Ambrosini ha ancora voglia di lottare”

“Ambrosini masih ingin bertarung”


Begitu ujar Gattuso perihal mantan partnernya itu. Apapun itu, terima kasih Kapten!

Thursday, June 13, 2013

Milan Transfer Saga

Catat nama-nama ini: Stephan El Shaarawy, Mathieu Flamini, Kevin-Prince Boateng, Robinho, Bojan Krkic, Mario Yepes, Massimo Ambrosini, Antonio Nocerino, Bakeye Traore, Bartosz Salamon. Lalu amati nama-nama berikut: Carlos Tevez, Andrea Poli, Alessandro Diamanti, Simone Zaza, Riccardo Saponara, Jherson Vergara, Bryan Cristante, Angelo Ogbonna, Cyrill Thereau.

Ada lagi Alessandro Matri, Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi dan Renato Civelli.
Nama yang disebut di awal diberitakan akan pergi, nama yang disebut selanjutnya datang.
Sebelum menilai apakah ini pergerakan baik atau buruk, mari lihat satu persatu.

2 senatori dan 2 promising youngsters
Milan jelas memangkas rataan usia dengan melepas Yepes dan Ambrosini untuk mengganti mereka dengan pemain yang jauh lebih muda yaitu Vergara dan Cristante (Cristante dari akademi). Meski demikian, Vergara dan Cristante masih belum berpengalaman bermain di level tertinggi. Sulit mengharapkan mereka langsung nyetel dengan permainan Milan. Namun yang pasti, Milan mampu menghemat biaya gaji dari pergerakan ini.

Bek Tengah
Milan tidak punya dua bek tengah kokoh yang konsisten dan berkelas kontinental. Di level Seri a, duet Mexes-Zapata memang sudah cukup, tapi jika Milan ingin melaju lebih jauh di kompetisi Liga Champions, mereka jelas butuh bek yang lebih baik dari mereka berdua. Namun seperti halnya saat menemukan Thiago Silva, Milan kini berharap Vergara tampil sesuai ekspektasi untuk menjadi penerus.

Bagaimanapun, Vergara masih butuh jam terbang, dan Berlusconi nampak sudah geram melihat Milan yang tidak kunjung melaju setidaknya ke semifinal UCL. Jika serius dengan target itu, mereka perlu membidik bek yang sudah matang seperti Ogbonna dan Civelli. Banderol mahal mereka kembali menjadi kendala. Untuk mendatangkan salah satu dari mereka, dibutuhkan 10 hingga 15 juta euro.

Gelandang Tengah
Mathieu Flamini dilepas, Andrea Poli coba didatangkan. Flamini sebenarnya salah satu favorit saya di Milan. Dia tireless, badak, determined, tapi punya visi yang tidak jelek. Dalam performa terbaiknya, ia seperti Gattuso bertehnik. Flamini juga mencetak 3 gol dalam 5 laga terakhir Rossoneri. Sekarang, kontraknya belum juga diperpanjang.

Sementara itu, Poli adalah gelandang muda yang bagus. Ia bermain konsisten di Sampdoria, dan akan kian membuat Milan makin Italia lagi. Poli juga pernah disia-siakan Inter, yang sempat meminjamnya setengah musim namun tidak membelinya di akhir musim. Bergabung ke Milan dan tampil baik akan menjadi sweet revenge buatnya. Harganya sekitar 6-7 juta euro.

Permainan kurang mengesankan Nocerino, Traore dan Boateng musim 2012/2013 membuat trio gelandang ini rawan dijual. Sembuhnya Nigel De Jong akan membuat sang Londo otomatis menemani Riccardo Montolivo di jantung permainan. Komposisi Monto-De Jong-Muntari-Cristante yang sudah pasti dipertahankan belum menjamin ketahanan lini tengah. 2-3 pemain lagi dibutuhkan Milan. Mereka sebaiknya segera memastikan transfer Poli dan memperpanjang kontrak Flamini.

Trequartista
Trequartista adalah posisi primadona di Milan. Zvonimir Boban, Manuel Rui Costa dan Ricardo Kaka adalah tiga trequartisata terbaik Milan dalam 2 dasawarasa terakhir yang memberikan sentuhan kelas bagi permainan Milan. Zlatan Ibrahimovic semasa di Milan juga memerankan posisi ini meski diatas kertas posisinya adalah penyerang. Berlusconi nampaknya merindukan keberadaan pemain seperti ini.

Alessandro Diamanti menjadi target setelah Berlusconi meminta Allegri bermain dengan 4-3-1-2. Diamanti adalah trequartista Italia terbaik saat ini. Ia memiliki keunikan permainan yang membuatnya stabil di tim nasional, meski tidak selalu jadi pilihan utama Prandelli. Kemampuannya dalam bola mati juga menjadi nilai plus. Namun harga 10 juta euro yang dipatok Bologna sepertinya terlalu tinggi buat Milan, apalagi Diamanti sudah berumur 30 tahun, terlalu tua untuk sprit regenerasi Milan.

Target utama Milan sebenarnya Pastore. Ia lebih muda dan tentunya lebih menjanjikan daripada Diamanti. Namun lagi-lagi harga eks Palermo ini terlalu mahal mengingat PSG mengeluarkan 40 juta euro kala memboyongnya dari klub Maurizio Zamparini. Sejago-jagonya Galliani meminta diskon dan berbagai program cicilan, harga Pastore rasanya minimal 20 juta euro, sesuatu yang sulit diharapkan bagai mengharap seorang selebtwit membalas mention kita.

Milan sudah punya Ricky Saponara di posisi ini. Semua sudah tahu kecemerlangannya di Empoli dan juga kini di Euro U-21. Saponara jelas berbakat, namun mengharapkan dia langsung moncer sangat tidak bijak. Tidak mungkin pula Milan terus mengandalkannya sepanjang musim.

Penyerang
Di posisi ini, segala saga transfer nampaknya ditentukan. Melibatkan rencana tukar guling Stephan El Shaarawy dan Carlos Tevez, Robinho yang tinggal menunggu peminat, dan Bojan yang kembali ke Spanyol. Rencana Milan memainkan dua penyerang memang menggoda mereka untuk menghadirkan Tevez, pemain yang memang lebih ganas di posisi ini. Hal ini membuat mereka berpikir keras untuk melepas sang permata, El Shaarawy.

Jelas ini adalah ide yang buruk. El Shaarawy berusia jauh lebih muda, berasal dari Italia dan juga masih dapat berkembang ketimbang Tevez yang sudah berusia matang. Reputasi sulit diatur dari Tevez akan berbahaya jika disatukan kembali dengan eks rekan setimnya di City, Balotelli. Di City pun, keduanya tidak banyak berkolaborasi. Sulit berharap kombinasi Tevez-Balotelli mengkilap di Milan.

El Shaarawy memang hanya mencetak 1 gol sejak kedatangan Balotelli. Ia juga lebih bagus ditempatkan sebagai penyerang sayap ketimbang sebagai penyerang tengah. Mungkin disinilah kekhawatiran Milan yang tidak ingin melihat El Shaarawy macet gol setelah putaran pertama musim lalu mampu mencetak 15 gol. Jika El Sha dijual, harganya jelas mahal. Hasil penjualannya dapat dibelanjakan untuk dua pemain bagus, misalnya Pastore dan Tevez atau Lavezzi.

Milan masih punya Pazzini, yang tajam meski tidak menjadi pilihan utama. Pazzo juga mampu mengubah cara Milan bermain dengan kemampuannya menyambut umpan silang. Dengan skema 2 penyerang, Milan hanya butuh 4-5 penyerang dengan kualitas setara atau tidak berbeda jauh untuk mengarungi musim yang panjang. Dengan telah bercokolnya Balo, El Shaarawy, Pazzini dan Mbaye Niang sebenarnya Milan hanya butuh 1 penyerang lagi, dan tidak perlu jika orang itu adalah Tevez, apalagi jika harus ditukar El Shaarawy.

Nama Cyrill Thereau belakangan diapungkan oleh media. Penyerang Chievo asal Prancis ini sebenarnya cukup bagus. Ia mampu menahan bola dengan baik dan memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk berduel dengan bek lawan. Satu nama lagi adalah Alessandro Matri. Penyerang Juventus ini adalah didikan Milan, kembalinya dia ke skuat Rossoneri bukanlah hal mustahil. Kedatangan Fernando Llorente dan satu penyerang lagi di Bianconeri berpotensi menggeser penyerang-penyerang yang ada sekarang, dan Matri adalah salah satunya.

Berbagai Kemungkinan
Milan baru bisa bergerak setelah menjual pemain. Penjualan Boateng dan Robinho sejauh ini paling mereka harapkan bisa menghasilkan 20 juta euro setidaknya. Milan sebenarnya memasang price tag minimal 18 juta untuk Boateng, namun sepertinya sulit berharap ada yang memboyongnya dengan harga tersebut. Sementara itu, harga dan gaji tinggi Robinho masih menjadi kendala bagi para peminatnya di Brazil.

Milan telah mengeluarkan 6 juta untuk menebus Zapata dan 2 juta untuk Vergara. Mereka juga harus membayar cicilan Balotelli 4-5 juta per tahun. Milan sudah mengeluarkan 13 juta euro secara total sekarang, plus tambahan biaya gaji sekitar 4 juta. Ini pula yang menghambat Milan untuk mendatangkan Poli. Jika Boateng, Robinho, Nocerino, Traore berhasil dijual, maka Milan dapat meraih surplus sekitar 15 juta euro plus penghematan biaya gaji 10 juta euro setehun. Jumlah itu mungkin hanya dapat dibelanjakan untuk 1-2 pemain bagus, namun bukan pemain top.

Dengan kondisi finansial Milan yang selalu rugi dalam dua tahun kebelakang, memang sulit untuk berharap datangnya seorang marquee player tanpa menjual marquee player yang ada. Tanpa menjual El Shaarawy lebih dulu, sulit berharap Milan mendatangkan Pastore. Rasanya skenario El Shaarawy tetap tinggal plus pendapatan 15 juta euro dapat memungkinkan Milan menarik Diamanti dan Poli. Dan katakanlah Milan punya 10-15 juta euro lagi untuk mereka habiskan sebagai anggaran transfer, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membeli seorang bek dan penyerang.

Atau masih mau berharap kedatangan pemain top berharga miring lewat negosiasi ala Galliani? Kali ini sulit. Milan harus mengikuti kualifikasi UCL tanggal 21 Agustus. Idealnya, skuat sudah terkumpul awal Agustus.

Kiper: Abbiati, Amelia, Gabriel
Bek Sayap: Abate, Antonini, Constant, De Sciglio
Bek Tengah: Mexes, Zapata, VERGARA, Bonera, Zaccardo, Salamon, CIVELLI/OGBONNA
Gelandang Tengah: De Jong, Montolivo, Muntari, Cristante, Flamini, POLI
Trequartista: DIAMANTI, SAPONARA

Penyerang: Balotelli, El Shaarawy, Niang, Pazzini, ZAZA/MATRI/THEREAU

Thursday, May 30, 2013

Sepersepuluhnya Saja Untuk Pembinaan

260 juta euro. Ya, saya yakin bagi seorang Erick Thohir uang sebanyak itu hanyalah sebagian kecil dari kekayaan. Uang yang konon akan dipergunakan untuk membeli saham Inter Milan memang akan menjadikan pengusaha berusia 42 tahun ini orang Indonesia pertama yang mengakuisisi klub asal Italia.

Dilihat dari nama besar, jelas tidak ada yang meragukan kiprah Inter Milan. 18 gelar scudetto dan 3 gelar Liga Champions adalah gelar major yang sudah bersemayam di lemari trofi Appiano Gentile. Langkah Erick dalam akuisisi ini jelas akan membuatnya semakin dikenal.

Dulu, selain orang Rusia, tidak ada yang mengenal Roman Abramovich sebelum ia mengakuisisi Chelsea. Tidak ada pula yang banyak membicarakan nama Ekaterina Rybolovleva, yang mendapatkan hadiah ulang tahun berupa dua buah pulau di wilayah Yunani dari ayahnya sebelum sang ayah membeli AS Monaco. Sepak bola, sebagai olahraga paling populer di dunia jelas menjamin popularitas bagi para pelakunya. Dengan membeli klub sepak bola, otomatis nama dari sang pemilik juga terangkat.

Silvio Berlusconi juga mengeluarkan jargon revolusi di partainya Forza Italia pada awal pencalonannya sebagai Perdana Menteri Italia. Namun siapapun tahu bahwa keberhasilannya membawa AC Milan berprestasi adalah kendaraan yang kencang baginya untuk menduduki posisi ketua pemerintahan di negeri peninsula.

Bagi Erick Thohir, entah apapun motifnya, akuisisi Inter Milan akan membawa keuntungan meski tidak akan mudah dilakukan. Sementara bagi Massimo Moratti, melepas kepemilikan mayoritas Inter Milan akan menjadikannya anak durhaka. Ia pasti takut arwah Angelo Moratti akan bangkit mengejar-ngejarnya jika saham mayoritas Inter jadi dijual.

Bagi Moratti, Inter adalah candu. Ia seperti halnya seorang pencinta masokis pada klubnya itu. 400 juta euro dari kantong pribadi secara total telah ia keluarkan untuk mendatangkan pemain-pemain kelas dunia ke kota Milan sejak tahun 1995. Dan setelah regulasi Financial Fair Play mengudara, sang taipan minyak tak mampu lagi mengelak. Ia tidak boleh lagi mendonor Inter dari kocek pribadi.

Inter telah dibawanya menjadi klub yang seperti tidak ada kenyangnya. Suntikan dana besar terus diberikan demi kelangsungan hidup. Financial Fair Play ala UEFA kemudian menyetop keran itu, dan mewajibkan Inter mencari sumber pemasukan murni dari sepak bola, bukan dari sang pemilik. Diperparah dengan buruknya kebijakan transfer dan regenerasi yang telat, Nerazzuri dan Moratti seakan tidak bisa kemana-mana lagi. Posisi 9 di klasemen menandai era terburuk sepanjang kepemimpinannya. Sebuah perubahan dan suntikan dana jelas kata-kata yang menyegarkan bagi Interisti.

Erik Thohir, yang juga ketua Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara, pemilik Philadelphia 76ers dan Washington DC United melihat hal ini sebagai peluang. Mengetahui morat-maritnya kondisi finansial Il Biscione, Thohir datang dengan keinginan besar pada akuisisi saham mayoritas si biru hitam.

Jika Thohir berhasil membuat Moratti mengeluarkan pulpen Mont Blanc dari saku jas peraknya lalu menandatangani pelepasan saham, menarik menanti efek dominonya. Mungkin saja akan ada lagi pengusaha asal Indonesia lainnya yang kemudian berbondong-bondong menyeponsori tim ini. Logo perusahaan-perusahaan Indonesia boleh jadi akan menjadi pemandangan lazim di San Siro (Oke, Giuseppe Meazza).

Para pengusaha Indonesia akan melihat sepak bola Eropa sebagai mainan baru mereka. Portofolio mereka akan mentereng jika dalam ruang kerja mereka terpampang jersey-jersey original, maket stadion, potongan rumput stadion, hingga sepatu-sepatu match worn pemain. Ya, seorang pengusaha berjiwa muda yang senang olahraga. 

Sebagai orang yang memang suka berandai-andai, saya jadi dipaksa berandai-andai jika saja 10 persen dari uang 260 juta itu, alias 26 juta euro alias 390 miliar rupiah saja dianggarkan untuk kepentingan sepak bola nasional. 

Klub-klub di piramida atas sepak bola Indonesia katakanlah memiliki rataan anggaran 10 miliar rupiah per tahunnya, atau maksimal 15 miliar. Maka 220 miliar dari 390 miliar dapat dijadikan anggaran bagi 18 klub tanpa adanya ancaman penunggakan gaji. Sisanya sebanyak 170 miliar bisa dipakai untuk membiayai klub-klub hingga Divisi Tiga. Pendeknya, uang sebanyak itu bisa dipergunakan untuk menggerakkan kompetisi sepak bola nasional selama setahun penuh.

Bayangkan pula jika uang itu dipakai sedikitnya saja untuk mendatangkan seorang Tom Byer, lalu mendukung program-program pembinaan pemain mudanya. Bayangkan apa yang terjadi pada persepakbolaan Indonesia dalam waktu 10 tahun.

Memang, berinvestasi pada pembinaan sepak bola nasional akan kalah kece dibanding membeli saham mayoritas klub ternama Eropa.