Pages

Friday, March 15, 2013

Bukan Kelas Kontinental

Kembalinya si nomor 9 terbaik


Beberapa jam sebelum kick-off Barcelona-Milan di leg kedua Liga Champions di Camp Nou, saya ngetwit yang isinya kurang lebih tentang kebanggaan saya pada Milan terkait hasil musim ini apapun hasil melawan Barcelona.

Seseorang boleh-boleh saja menilai sebuah penampilan tim dalam satu pertandingan saja, boleh juga menilai si A lebih hebat daripada si B, atau pelatih C lebih hebat dari pelatih D hanya dalam satu pertandingan saja. Tapi lihatlah kompetisi sepak bola. Kompetisi berlangsung selama setahun, dan melibatkan banyak pertandingan. Tentu menilai kehebatan maupun siapa yang lebih baik satu sama lain memerlukan berbagai indikator.

Namun seperti saya ungkapkan, saya sudah bangga dengan pencapaian Milan. Dengan tidak bosan-bosannya saya berkata bahwa Milan baru ini adalah tim muda yang mencoba membangun kekuatan dari sekarang. Dan dalam proses membangun, ada yang dinamakan proses penguatan fondasi. Tidak mungkin atap rumah mampu berdiri tanpa ditopang tembok dan fondasi yang kokoh. Pencapaian Milan yang kini menduduki peringkat ketiga Seri a dan mengalahkan Barcelona pada leg pertama adalah sebuah kesuksesan, jika terlalu dangkal dikatakan sebagai fenomena.

Tidak usahlah menyalahkan siapapun. Menghadapi tim terbaik dunia di lapangan lebar Camp Nou yang memungkinkan falsafah tiki-taka termanifesto sempurna memang tidak bakal mudah. Di hari buruknya saja, Barcelona tetap bisa memberi pelajaran sepak bola kepada lawan-lawannya, apalagi di hari baiknya. Di lain pihak, Milan menghadapi hari yang buruk karena memang kehijauan performa mereka sendiri.

Kelas kontinental tentu adalah kelas yang harus ditapaki satu persatu, tidak bisa dipanjat sekaligus. Allegri masih perlu pembuktian bahwa ia tidak kagok bermain di kompetisi Eropa. Tawaran Shakhtar untuk menggantikan Mircea Lucescu harus dipikirkannya masak-masak mengingat Shakhtar rajin wara-wiri di babak knock out Liga Champions belakangan ini.

Milan boleh jemawa bahwa mereka menyimpan badge of honour bersama Ajax, Real Madrid, Bayern Muenchen dan Liverpool sebagai tanda klub telah menjuarai Liga Champions paling sedikti lima kali, atau menjuarai turnamen ini tiga kali beruntun. Namun dengan pemain-pemain yang tampil semalam, jelas kualitas mereka belumlah mencapai kualitas kontinental.

Milan mencoba bermain seperti pada leg pertama, yaitu dengan menjauhkan Lionel Messi dari kotak penalti. Namun Jordi Roura sudah belajar dari 3 kekalahan di bulan Februari dengan memodifikasi lini depan sekaligus memperbaiki sistem pertahanan. Asisten Tito Vilanova ini juga tidak lupa memberikan kata-kata motivasi ampuh yang membuat wajah-wajah pemain Barcelona terlihat seperti petarung Mortal Kombat ketimbang seperti pemain bola.

Sementara Milan kewalahan karena tidak memberi proteksi cukup pada Constant yang dikeroyok Messi dan Dani Alves, meski dua gol La Pulga semalam memang gol-gol cantik yang memang sulit diantisipasi oleh pertahanan manapun.

Allegri sepertinya bingung apakah menempatkan Sulley Muntari atau Mathieu Flamini. Kehadiran Flamini akan membatasi serangan sayap kiri Barca yang dihuni Jordi Alba dan Pedro, namun sebagai gantinya Jordi Roura menempatkan Messi di sisi kanan untuk berkolaborasi dengan Dani Alves. Celakanya, Constant tidak diproteksi dengan baik karena Montolivo dan Ambrosini lebih berkonsentrasi di tengah menghadapi ancaman si penyihir brilian Iniesta.

Apapun itu, permainan segitiga Barca yang tersohor dan terhormat itu dikembalikan oleh Jordi Roura. Jordi Alba juga bermain secerdik Eric Abidal dengan tahu persis kapan harus bertahan dan menyerang plus siap sedia membentuk trio bek dadakan bersama Mascherano dan Pique. Intinya, Barca semalam memiliki menu lengkap bagaikan empat sehat lima sempurna untuk membombardir gawang Abbiati.

Mascherano sendiri meski sempat membuat blunder (satu-satunya blunder) namun tampil baik karena ia memang seorang ball player. Kemampuannya mengontrol bola di lini pertahanan bersama Pique memungkinkan aliran bola Barca lancar seperti jalan tol Jakarta di tengah malam.

Lalu apakah saya punya saran untuk setidaknya mencegah Barca mencetak 4 gol? Tentu saja mengubah pola permainan. Pola 4 gelandang sejajar sejatinya akan membatasi Jordi Alba dan Dani Alves untuk menyerang. Milan dapat menurunkan Muntari di sisi kiri dan Boateng di sisi kanan. Sementara dua gelandang ditempati Montolivo dan Ambrosini. Untuk lini depan, saya bisa usulkan El Shaarawy dan Niang karena dengan pergerakan mereka ke sayap, bek-bek tengah Barca dapat terpancing. Itu kalau saya jadi Allegri.

Tapi lagi-lagi, apologia, pembenaran ataupun retorika apapun tidak berlaku bagi tim yang kalah empat gol tanpa balas. Milan yang ini memang tidak bisa dikatakan telah kompetitif untuk bertarung hingga babak-babak akhir Liga Champions. Mengingat beberapa bulan lalu sempat menghuni peringkat 15, melihat posisi klasemen kini dan fakta bahwa Barca pernah dikalahkan adalah cermin dari hari esok yang lebih baik.

Untuk saat ini, marilah angkat topi saja untuk David Villa, yang kembali dipasang di posisi sejatinya, si nomor 9. Ia benar-benar si nomor 9 sejati yang menghilang di sebagian besar laga, namun dengan liar seperti abang ojeg membelah kemacetan, ia mencetak gol ketika mendapat peluang.

No comments:

Post a Comment