Pages

Monday, August 6, 2012

Poros BRIC dan Sepak bola: Brasil & Rusia


Poros BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina) adalah poros baru kekuatan ekonomi dunia. Poros yang berisi negara-negara yang memiliki kesamaan dalam hal banyaknya jumlah penduduk dan kebijakan perekonomian ini juga turut melirik sepak bola sebagai salah satu alat akselerasi pertumbuhan ekonomi mereka sekaligus semakin memperdengarkan nama mereka kepada dunia.

Brazilian Supremacy

Brasil adalah negara sepak bola yang merebut 5 gelar Piala Dunia, hanya bisa didekati Italia dengan 4 gelar. Brasil juga adalah negara penyimpan trofi Jules Rimet setelah tahun 1970 mengalahkan Italia dengan skor 4-1 di final penahbisan penguasa sepak bola era modern.

Sepak bola sudah menjadi seperti budaya di satu-satunya negara Amerika Latin berbahasa Portugis ini. Sebagian besar malah sudah menganggapnya seperti agama. Penunjukan mereka sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014 –kedua setelah terakhir mereka menyelenggarakan Piala Dunia 1950- hanyalah akan semakin mengukuhkan kepada dunia kebesaran mereka di dunia si kulit bundar.

Brasil dapat dikatakan sudah dikudeta Spanyol jika kita berbicara peta kekuatan sepakbola lima tahun ke belakang. Saat mereka menjadi tuan rumah di 2014 menjadi saat yang tepat untuk merebut kembali singgasana sepak bola yang sebelumnya mereka duduki.

Tidak usah berbicara mengenai talenta di Brasil karena di jalan-jalan, di lapangan kecil ditengah favelas, pinggir pantai dan dimanapun di negara yang dipimpin oleh presiden wanita bernama Dilma Roussef ini kita bisa akan melihat anak-anak bermain sepak bola dengan gembira. Sepak bola adalah alasan bagi jutaan anak-anak itu untuk lepas dari jeratan kemiskinan serta melarikan diri dari dunia kejahatan.

Tidak hanya sepak bola konvensional, di olahraga turunannya seperti futsal, indoor soccer, mini soccer, atau sepak bola pantai, Brasil juga merajainya. Namun kejayaan tim nasional berseragam kuning ini tidak serta merta menular pada klub-klub mereka, terutama dari aspek finansial. Klub-klub sepak bola Brasil sebenarnya memiliki basis penonton fanatik dengan jumlah yang besar. Kenyataan bahwa Brasil kini menggeliat di kancah perekonomian –baru-baru ini menggeser Inggris di posisi 6 negara dengan ukuran ekonomi terbesar di dunia- belum sepenuhnya menular ke dunia sepak bola mereka, khususnya sehubungan dengan antusiasme penonton mereka untuk berbondong-bondong hadir ke stadion.

Rataan penonton di tahun 2011 yang berjumlah hanya 14.897 saja menunjukkan hal tersebut. Jumlah itu bahkan lebih rendah daripada penonton sepak bola Amerika Serikat, Negara tempat sepak bola dianggap kurang populer. Penonton pertandingan Sao Paulo vs Flamengo maupun derby “Fla-Flu” alias Flamengo vs Fluminense sajalah yang mampu menyedot animo hingga lebih dari 50 ribu ribuan penonton.

Kurangnya pendapatan dari sektor penonton langsung di stadion ini turut memengaruhi penerimaan klub secara keseluruhan. Klub-klub Brasil sangat sedikit pendapatannya jika dibandingkan dengan klub-klub di Eropa. Klub seperti Corinthians dan Sao Paulo –keduanya terkaya di Brasil- hanya akan menempati urutan ke 50an pada Deloitte Money League.

Kurangnya minat penonton ini juga disebabkan bintang-bintang potensial Brasil kerap hijrah ke Eropa di usia matang mereka. Para klub pemilik pemain berbakat seperti Santos, Sao Paulo maupun Internacional tidak mampu menahan kibasan fulus dari para klub kaya Eropa. Si pemain seperti Neymar sendiri juga tidak kuasa menolak tawaran gaji besar yang akan semakin menambah pundi-pundi kekayaan sekaligus mencicipi kompetisi terbaik dunia.

Klub-klub Brasil bukannya berpangku tangan dalam masalah ini. Selain mencoba menahan bintang potensialnya selama mungkin hingga harganya melambung, mereka juga berusaha meningkatkan penerimaan mereka melalui pemanggilan pulang pemain-pemain eks bintang Eropa. Pemain seperti Deco, Luis Fabiano, Ronaldinho, maupun Adriano akan turut meningkatkan animo penonton dan juga meningkatkan motivasi para pemain berbakat mereka untuk belajar langsung dari sang idola.


From Russia With Love

Jauh dipisahkan Samudera Pasifik, terbentanglah negara paling luas di dunia dengan luas 17 juta kilometer persegi bernama Rusia. Semifinalis Piala Eropa 2008 ini makin menggeliat dalam persepakbolaan dunia seiring penunjukan FIFA untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018.

Penunjukan mereka yang secara mengejutkan mengalahkan Inggris itu memang banyak unsur politis dan kontroversi yang sangat melukai bangsa Inggris. Namun patut diakui bahwa kemajuan signifikan dari perekonomian dan persepakbolaan negara Rusia turut menjadi salah satu faktor penunjukan itu. Keberadaan para konglomerat yang berkecimpung di dunia sepak bola melalui injeksi uang triliunan miliknya menjadikan sepak bola negara ini tidak hanya sekadar menjadi tontonan di akhir pekan bagi kaum pekerja mereka. Dari liga mereka, muncul nama-nama Andrei Arshavin, Roman Pavlyuchenko, Igor Akinfeev hingga Alan Dzagoev dan Samuel Eto’o.

Klub-klub negara ini juga tidak hanya menjadi pemanis di kompetisi Eropa. Klub seperti Zenith St. Petersburg maupun CSKA Moskow bergantian merasakan nikmatnya menjadi juara turnamen antar klub Eropa dengan memenangi European League 2004 dan 2009, pertama kali sejak Dynamo Kyiv memenangi Piala UEFA tahun 1986 saat masih tergabung dalam Uni Soviet.

Klub-klub Rusia, seperti klub Eropa Timur lainnya masih berjuang keras untuk menyaingi pendapatan klub-klub besar yang bermain di lima liga top Eropa. Dengan pendapatan yang berada di kisaran 30 juta euro, masih jauh bagi mereka untuk menandingi hegemoni Real Madrid maupun Barcelona.

Rusia mengikuti jejak mantan saudara mereka Ukraina yang sukses menggelar Piala Eropa 2012 bersama Polandia. Penunjukan Ukraina ini turut dilatarbelakangi oleh keberhasilan klub-klub mereka di kancah Liga Champions. Sebagai bukti, Dynamo Kiev sudah tidak asing lagi kiprahnya di kompetisi terbaik antar klub benua biru ini.

Kemudian rival mereka Shakhtar Donetsk turut menggebrak dengan membangun stadion baru Donbass Arena yang berkapasitas 50 ribu penonton. Pembangunan stadion baru yang menghabiskan dana 320 juta euro ini dibiayai oleh pemilik mereka Rinat Akhmetov, yang girang dengan prestasi klub yang diperkuat oleh Willian ini wara-wiri ke Liga Champions. Pembangunan restoran-restoran dan kafe di stadion turut memaksimalkan penerimaan klub diluar tiket pertandingan. Shakhtar kini merasakan lezatnya kontinuitas keuntungan hasil dari investasi besar mereka.

Kedatangan pelatih Fabio Capello yang menangani tim nasional Rusia sangat penting bagi kampanye mereka menajadi tuan rumah sukses ajang sepak bola empat tahunan tersebut. Dengan kehadiran pelatih berprofil tinggi macam Capello, perkembangan sepakbola Rusia dipercaya akan semakin meningkat pesat. Belum lagi menyebut kehadiran bintang dunia di liga mereka seperti Samuel Eto’o, yang oleh Anzhi Makhachkala yang dibayar sangat mahal. Hal semacam ini menunjukkan komitmen mereka untuk terus mengglobalkan sepak bola mereka.

Kehadiran Anzhi Makhachkala yang mencoba menyeruak ke level elit sepak bola Rusia menjadi hal menarik lainnya di sepak bola negara ini. Anzhi adalah klub “balita” asal wilayah Dagestan yang baru berdiri tahun 1991. Setelah sepuluh tahun melewati periode stagnan dan cenderung terabaikan karena konflik yang melanda di wilayah ini, seoarang putra daerah sukses bernama Suleyman Kerimov datang membawa satu kontainer uang untuk mengakuisisi Anzhi.

Kerimov berpendapat bahwa sepakbola bisa merubah pandangan orang pada Dagestan, yang kini dianggap media barat sebagai “the most dangerous place in the world”. Dengan memiliki klub sepak bola yang mampu berbicara di level regional, bahkan global, penduduk Dagestan memiliki sesuatu untuk dibanggakan, sesuatu yang akan memotivasi dan bahkan sesuatu yang dapat menghilangkan konflik berkepanjangan.

Memang uang tidak akan menjamin klub sepakbola akan sukses, namun uang bisa membuat sesuatu yang semula tidak dikenal menjadi terkenal. Lihat saja Real Madrid yang proyek Galacticosnya membuat mereka kini dikenal sebagai salah satu brand sepakbola teratas di seluruh dunia. Kehadiran Samuel Eto’o yang disusul Yuri Zhirkov, Diego Tardelli dan kemudian Christopher Samba dipercaya akan membawa Anzhi menjadi kekuatan besar sepak bola Eropa sekaligus penyalur pemain ke tim nasional Rusia dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun kedepan.

2 comments:

  1. saya baru tahu, selain unsur budaya, orang Brasil selalu pake fantasi kalo main bola. Misal anak kecil lagi main/latihan dgn posisi striker, dia selalu berpikir di depannya ada pemain2 bertahan legendaris Brasil. Kadang dilambangkan dengan batu besar dijejer di lapangan.

    Lengkap deh, skill dapet, fantasi dapet :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak heran maestro-maestro terus lahir dari negara ini ya mas. Saya liat Neymar main itu kaya lagi liat pertunjukan musik, mungkin dia salah satu anak kecil yang latihan pakai metode itu.

      Delete