Pages

Sunday, November 23, 2014

Ingatlah Kontribusi Paolo Rossi Pada Satu Hal

Paolo Rossi, taken from Old School Panini

Perjalanan karir sepak bola seorang Paolo Rossi memang amat berwarna. Mengawali karirnya di Juventus, Rossi sempat cedera lutut parah yang membuatnya harus dioperasi. Bianconeri kemudian meminjamkannya ke Como dan Vicenza sambil menjalani penyembuhan. Di Como, ia hanya bermain sebanyak enam kali dengan nihil gol.

Rossi yang mengawali karir bermain sebagai pemain sayap, patut berterima kasih pada sosok Edmondo Fabbri, pelatihnhya kala memperkuat Vicenza. Fabbri melihat naluri gol yang tinggi sebagai aset utama Rossi, sehingga pelatih yang pernah menukangi timnas Italia tahun 60an ini tidak ragu menempatkan pemain kidal ini sebagai penyerang tengah.

Rossi, penyerang kelahiran Prato tahun 1956 ini seperti diketahui kemudian muncul sebagai salah satu penyerang tertajam sepanjang sejarah klub yang bermarkas di stadion Romeo Menti dengan torehan 60 gol dalam 94 pertandingan, termasuk menjadi topskor kompetisi Seri B saat usianya masih 20 tahun. Karirnya di Vicenza inilah yang kemudian menjadi titik balik dari pemain yang semula terancam mengakhiri karir di usia muda menjadi penyerang legendaris Italia.

Cerita kemudian berlanjut. Rossi menjadi tumpuan serangan Italia dalam Piala Dunia 1978. Bersama Franco Causio dan Roberto Bettega, mereka membentuk tridente menakutkan meski kemudian harus puas menduduki posisi ke-4 turnamen yang dimenangi tuan rumah Argentina itu. Rossi sendiri membukukan tiga gol pada turnamen yang melesatkan nama Mario Kempes tersebut.

Pahitnya karir mewarnai perjalanan selanjutnya. Tahun 1980, Rossi terjerat skandal judi Totonero yang membuatnya dihukum tiga tahun tidak boleh bermain. Ia kembali ke Juve saat menjalani hukuman, yang kemudian berkurang setahun setelah menjalani sidang banding. Pengurangan hukuman tersebut berandil membawa Rossi ke status legenda. Hukumannya usai hanya beberapa bulan sebelum Piala Dunia 1982 berlangsung, dan pelatih timnas Italia Enzo Bearzot melakukan perjudian besar dengan memanggilnya.

Sisanya adalah sejarah. Rossi berandil besar membawa Italia juara, salah satunya dengan torehan hat-trick ke gawang tim super Brasil yang beranggotakan Socrates, Zico dan Paulo Roberto Falcao. Rossi, pada usianya yang ke-26 saat itu, telah melalui hal-hal yang amat berwarna sebagai pesepak bola. Cedera parah, pergeseran posisi, terjerat skandal, lalu memenangi Piala Dunia sekaligus merebut gelar pemain terbaik. Rossi sendiri tercatat sebagai pemain ketiga setelah Garrincha dan Kempes yang mendapatkan tiga gelar sekaligus dalam satu Piala Dunia, yaitu juara, pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Nama Rossi kemudian identik dengan Juventus setelah ia menjadi andalan Bianconeri pasca Piala Dunia 1982. Ia berandil besar membawa Juve berjaya di Eropa dengan merebut gelar European Cup (sekarang Liga Champions) tahun 1985 untuk kali pertama dengan torehan lima gol dan kolaborasi apik dengan Michel Platini. Gelar ini melengkapi kemenangan mereka pada Cup Winners Cup dan Piala Super Eropa setahun sebelumnya. Kini ia pun bekerja sebagai pengamat di stasiun Juventus Channel, yang menegaskan keterikatannya yang erat dengan Si Nyonya Tua. Ketika membicarakan namanya, publik pun lebih mengingat kiprahnya di Juve, di samping kiprahnya bersama tim Azzurri.

Tidak banyak yang mengangkat cerita singkatnya kala memperkuat Milan. Ya, Rossi sempat bersama Milan pada musim 1985-86. Sayangnya, karir pria bertinggi 178 cm ini tidaklah cemerlang di Rossoneri. Selain fakta bahwa Milan tengah berada dalam titik nadir sebelum kedatangan Silvio Berlusconi, permainan Rossi juga tengah menurun akibat rangkaian cedera yang diderita meskipun baru menyumbangkan gelar Eropa untuk Juventus. Selama 20 kali memperkuat klub merah-hitam, Rossi hanya mencetak dua gol.

Namun siapa sangka jika dua gol tersebut sebetulnya terjadi pada momen yang amat megah: Derby Della Madonnina. Laga yang berlangsung pada 1 Desember 1985, atau 29 tahun silam ini kemudian berakhir imbang 2-2.

Dua gol itulah yang menjadi torehan paling sensasional Rossi untuk Milan, dan sayangnya menjadi satu-satunya karena tidak ada lagi gol dari pemain ini untuk Rossoneri. Torehan ini kemudian sempat diikuti oleh seorang penyerang yang juga mantan penggedor Vicenza seperti Rossi, Gianni Comandini pada tahun 2001. Seperti halnya Rossi, dua gol ke gawang Inter juga menjadi sumbangan tunggal Comandini untuk Milan karena ia memang tidak mampu mencetak gol ke gawang tim lain selain Nerazzuri selama berbaju Milan.

Baik Rossi, maupun Comandini tetaplah berada di hati Milanisti meskipun mereka tidak termasuk jajaran legenda terkait minimnya kontribusi secara keseluruhan. Namun ketika membicarakan Derby Della Madonnina, sulit untuk tidak membicarakan jasa dua pemain ini.

Dalam derby yang akan berlangsung dini hari (24/11) nanti, adakah penyerang Milan yang mengikuti jejak Rossi dan Comandini dengan sumbangan dua gol? Tentu saja dengan harapan sumbangan golnya tidak mandek setelahnya. Jawablah pertanyaan ini, Torres, Menez, El Shaarawy dan Pazzini!

Saturday, November 8, 2014

Tentang Kemenangan Persib

Tidak ada buku manual bagaimana cara menjadi penggila sepak bola, namun seperti yang selalu saya bilang, mendukung tim lokal adalah cara yang paling menggugah.

Sepak bola Indonesia memang terus mengalami degradasi, bukan lagi stagnansi. Apapun yang kita lihat, baca maupun dengar adalah hal-hal mengecewakan, kekalahan demi kekalahan, dan juga baru-baru ini sepak bola gajah. Bagi suporter lokal, hal itu nyatanya tidak menyurutkan minat mereka untuk menonton bola. Sebagaimanapun bobroknya sepak bola, passion dari suporter akan selalu ada. Dan tidak akan mati.

Saya sendiri belum merasa mantap ketika seseorang bertanya “klub Indonesia favorit lo apa?” beberapa waktu lalu di sebuah acara nonton bareng Liga Inggris. Maklum, saya tidak dilahirkan dari keluarga dengan minat sepak bola yang tinggi, sehingga meskipun ayah saya berasal dari Surabaya dan ibu saya dari Bandung, tidak pernah sedikitpun saya pernah mendengar cerita-cerita yang memercikkan kebanggaan atas klub Persebaya maupun Persib.

Masuknya sepak bola ke dalam hidup saya sepertinya kebetulan kosmik. Setelah diolok-olok dalam permainan sepak bola masa kanak-kanak, saya merasa amat sebal kepada para pencela itu, lalu dengan amarah yang mendidih di kepala, saya belajar bermain sepak bola, bukannya berusaha menonjok mereka (gak berani juga sih, mereka berjumlah banyak dan berusia lebih tua daripada saya saat itu). Cerita layaknya kapten Tsubasa tidak menghinggapi kehidupan saya, karena saya toh gagal menjadi pesepakbola profesional sesuai keinginan saya, dan berakhir sebagai ‘tukang insinyur’ bidang pajak. Tapi setidaknya saya bukanlah penendang, pengumpan dan penggocek bola yang buruk. Dan yang terpenting, berkat celaan masa kanak-kanak itu, sepak bola datang memberi warna hidup dalam bentuk tontonan, dunia tulis menulis, dan teman-teman baru.

Ketiadaan pengaruh keluarga, plus fakta bahwa saya besar di pinggiran kota Jakarta membuat saya sempat berpaling kepada tim ibukota, Persija Jakarta. Saya sempat mendukung tim tersebut, namun rasanya aneh ketika mendukung Persija namun masih menyimpan simpati promordial atas Persib, klub yang menjadi rival dalam satu dekade terakhir ini. Dukungan inipun agak terasa hambar.

Lalu ketika denyut sepak bola kota Depok mengalir, klub Persikad Depok tampil mengarungi belantara sepak bola Indonesia divisi bawah. Saya pun sempat menceburkan diri dengan menonton langsung beberapa laga kandang mereka di Stadion Merpati, tempat saya biasa bermain semasa SMP. Menyaksikan Persikad adalah bentuk romantisme sepak bola sesungguhnya, karena dari segi apapun, Persikad sulit mengambil hati penonton netral seperti saya. Namun jika menyaksikan sendiri betapa sulitnya keadaan mereka, cerita miris dari para pemain, stadion yang ala kadarnya, juga investor yang datang dan pergi dengan begitu mudahnya, orang tidak berperasaan pun akan tersentuh mendukung klub ini.

Saya sudah cukup lama tidak menyaksikan Persikad di stadion Merpati karena sekarang sedang libur kompetisi. Gairah sepak bola lokal saya pun sempat terhenti. Namun hal ini sesaat berubah semalam. Momen tersebut adalah saat Persib bertanding di final kompetisi ISL melawan Persipura, klub yang dalam lima tahun terakhir begitu superior dan baru-baru ini mencapai babak semifinal AFC Cup. Ketika menyaksikan tim ini di layar kaca, saya masih merasakan sedikit unsur Persib dalam diri karena keterkaitan asal usul, dan saya pun turut gembira ketika sepakan penalti Ahmad Jufriyanto berhasil memastikan gelar juara. Namun rasanya, kegembiraan ini lebih pantas dimiliki oleh para Bobotoh beneran.

Kemenangan Persib lantas membawa lamunan saya kepada Persikad. Menantikan Persikad menjuarai liga Indonesia mungkin sama saja berharap Indonesia menjadi peserta Piala Dunia. Para pendukung Persikad boleh jadi tidak akan pernah merasakan momen paripurna sebagai pendukung sepak bola, yaitu menyaksikan klubnya juara. Namun mendukung Persikad bagi saya bukanlah soal kapan menjadi juara, namun lebih kepada wujud nyata kecintaan terhadap olahraga sepak bola. Hanya dengan mendukung klub inilah saya bisa menyelami denyut sepak bola Indonesia secara langsung dan merasakan seperti apa mendukung klub lokal, klub yang ada di depan mata. Tidak jauh seperti mereka yang ada di Eropa sana. Menyoraki, merasa cemas, senang dan sedih sekaligus mengintimidasi pemain dan suporter lawan dapat dirasakan hanya dengan meluangkan waktu selama 90 menit di stadion Merpati, dan buat saya sih kegiatan ini lebih menyenangkan ketimbang menonton film seru di bioskop sekalipun. Ya, menonton sepak bola di stadion, bagi saya sudah seperti piknik.

Momen kemenangan Persib ini, bagaimanapun telah meluruskan pikiran saya untuk terus menonton sepak bola langsung dari dekat. Siapa tahu kebetulan kosmik lainnya hadir dalam bentuk kesempatan menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di Eropa. Siapa tahu.

Wednesday, August 6, 2014

Menyaksikan Langsung Umpan Diagonal Pirlo

Cepat, klinis dan tidak sekadar menunggu bola di kotak penalti lawan adalah ciri seorang second striker klasik. Dan kira-kira dua tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan seorang mantan pemain yang mengusung gaya tersebut. Dialah Andriy Shevchenko. Di stadion GBK kala itu, saya menyaksikan Sheva yang bermain untuk Milan Glorie.

Sedikit memodifikasi gaya bermain lantaran usia, Sheva kemudian menjadi seorang target man yang berada di antara dua bek tengah lawan. Dalam sebuah kesempatan ketika berhasil lolos dari jebakan offside, Sheva membobol gawang tim gabungan Indonesia dengan sebuah penyelesaian akhir yang amat dingin, tidak jauh berbeda ketika ia masih bermain. Sheva seperti bisa mencetak gol bahkan dengan mata tertutup.

Bermain di posisi deep-lying playmaker dapat membuat kita amat menikmati permainan karena dari posisi itulah bola dialirkan ke segala arah. Di posisi itu, siapa lagi yang lebih baik ketimbang seorang Andrea Pirlo. Dan semalam, saya melihat langsung bagaimana Pirlo (susah memotretnya karena kualitas kamera ponsel yang tidak secanggih kamera DSLR andalan para turis kece) mengirim puluhan umpan terobosan diagonal ke sisi kiri pertahanan lawan dengan amat smooth dan effortless dalam latihan terbuka klub Juventus. Pirlo seperti bisa mengirim umpan bahkan dengan mata tertutup.

Saya tidak ingin membahas detail statistik Pirlo bermain, atau bagaimana perannya secara taktikal karena sudah ada 12334565437 orang yang telah membahasnya. Yang saya ingin kedepankan adalah bagaimana Pirlo mengirim umpan.

Passing, passing, dan passing adalah senjata mematikan dalam sepak bola kekinian. Banyak tim yang amat terobsesi dengan passing, namun lupa bahwa gol harus dicetak. Namun banyak pula tim yang memang mengusung gaya possession football demi meruntuhkan sistem pertahanan lawan lalu kemudian mencetak gol ketika pertahanan tersebut melonggar. Bisa melakukan simple passing dengan presisi adalah keahlian yang dibutuhkan untuk menyusun serangan.

Simple passing atau umpan pendek mendatar yang dikirimkan kepada rekan terdekat terlihat amat sederhana dan mudah dilakukan. Namun jika simple passing tersebut dilakukan 10-20 kali dalam satu serangan, dan dalam satu babak terjadi 20 serangan, bayangkan betapa pentingnya kebisaan seorang pemain melakukan sebuah simple passing. Sepak bola jaman sekarang bukanlah mendribel bola melewati dua-tiga pemain lanjut berlari dengan heroik, lalu seolah tidak masalah untuk mengirim umpan yang salah. Sepak bola jaman sekarang adalah seperti yang digambarkan oleh pelatih rekaan bernama Erick Dornhelm kepada pemain yang juga rekaan bernama Santiago Munez dalam sebuah sesi latihan yang juga rekaan dalam film bertema sepak bola berjudul Goal.

Bagi Pirlo, mengirim umpan terobosan diagonal ke sisi sayap maupun umpan terobosan ke kotak penalti mengalahkan perangkap offside sudah seperti seorang Sergio Busquets mengirim umpan pendek kepada Xavi (Hernandez) atau (Andres) Iniesta untuk mengolah permainan Barca.

Tanpa bermaksud membandingkan Pirlo dengan Busquets, apa yang dilakukan Pirlo secara kasat mata terlihat lebih menentukan. Ia tidak sekadar mengirim umpan diagonal, namun juga menjadi algojo bola mati atau bahkan melakukan dummy running yang akan berperan langsung pada gol yang tercipta. Dengan karakter unik dan kebisaan yang  jarang dimiliki pemain lain, maka tidak heran jika Pirlo akan menjadi pusat permainan tim manapun yang diperkuatnya.

Sesuai dengan judul biografinya, ‘I Think Therefore I Play’, Pirlo adalah pemikir di lapangan. Ia tidak banyak beradu fisik dengan lawan dan jarang melakukan sliding tackle. Ia bermain dengan ratusan skenario untuk membangun serangan, untuk itu sebagian orang menjulukinya sebagai ‘sang arsitek’. Ia sudah teramat berkharisma tanpa harus berteriak dan memarahi teman-temannya. Ia sudah mengalirkan bola sejauh puluhan meter tanpa harus berlari kencang dengan dribel heroik. Entah kapan sepak bola Italia (atau bahkan sepak bola di negeri manapun) mampu memproduksi lagi pemain seperti Pirlo.


Sunday, July 13, 2014

Ketika Joachim Loew Beradapatasi

Pertengahan tahun 2000, mendukung timnas Jerman mungkin akan menjadi bahan tertawaan. Tim dengan permainan kaku seperti robot, dengan pemain-pemain tua mendominasi, skema yang tidak jelas ditambah lagi liga yang kurang komersil dan kompetitif. Sepak bola Jerman kala itu mengalami stagnan yang parah.

Namun seperti halnya bangsa besar, kegagalan total pada Euro 2000 bukannya membuat mereka semakin terpuruk, melainkan menjadi alasan kuat untuk bangkit. Jerman melalui DFB (Federasi Sepak bola) melakukan serangkaian program yang kelak membuat timnas Jerman menjadi seperti yang kita lihat sekarang dan klub-klub asal Bundesliga kerap berjaya di Liga Champions Eropa.

DFB ketika itu menyadari bahwa kunci kegagalan timnas adalah minimnya talentpool alias ketersediaan pemain-pemain berbakat berkelas dunia. Berangkat dari kesadaran itu, mereka lantas memperbaiki sistem pembinaan pemain dan kompetisi, dua hal krusial yang menjadi rahasia keberhasilan sepak bola sebuah negara.

Pembinaan pemain dimulai dengan pembangunan 366 fasilitas latihan yang tersebar di seluruh negara. Dengan terbangunnya infrastruktur, maka talenta yang semula terlantar kemudian akan tersalurkan dengan baik.

Satu terobosan penting kemudian dilakukan terkait imigran. Menyadari bahwa negeri Luftwaffe memang banyak dihuni oleh imigran asal Turki, Polandia maupun benua Afrika, mereka melonggarkan kebijakan terkait imigran tersebut sehingga talenta-talenta mereka dapat memberi warna baru bagi sepak bola Jerman.

Kini kita saksikan sendiri betapa Jerman seakan tidak pernah kehabisan talenta. Kolaborasi talenta pribumi seperti Thomas Mueller, Mario Goetze maupun Marco Reus bersanding dengan Ilkay Guendogan, Mesut Ozil, Sami Khedira dan lainnya. Bahkan meskipun Reus dan Guendogan absen dari Piala Dunia 2014 ini, kekuatan Jerman seakan tidak terpengaruh.

Barisan talenta ini telah diuji pertama kali saat mereka menjadi tuan rumah tahun 2006. Kala itu di bawah Juergen Klinsmann, Jerman bermain lebih atraktif dan cair. Mereka akhirnya terhenti pada babak semifinal di tangan Italia yang akhirnya menjadi juara turnamen. Namun meski gagal, harapan baru mewarnai sepak bola mereka.

Selanjutnya, Jerman terus menunjukkan peningkatan permainan dan prestasi. Di bawah Joachim Loew yang menjadi asisten Klinsmann tahun 2006, Jerman terus memperlihatkan permainan cantik hasil kolaborasi para pemain-pemain berbakat yang seakan tidak ada habisnya. Tahun 2008 mereka menjadi finalis Piala Eropa, 2010 mereka menjadi semifinalis Piala dunia, dan 2012 mereka juga menjadi semifinalis Piala Eropa.

Setelah puas hanya menjadi finalis ataupun semifinalis, banyak yang beranggapan bahwa Jerman masih kehilangan sebuah ciri khas yang di masa lalu menjadikan mereka sebagai tim juara, yaitu mental. Jerman yang sekarang dinilai hanya bisa bermain cantik dan mengesankan di awal turnamen, namun melempem jelang akhir turnamen. Karena alasan itulah, Loew kemudian beradaptasi.

Kedatangan Pep Guardiola ke Bayern Muenchen awal musim lalu memberi ide pada Loew. Dengan bermaterikan sebagian besar pemain Bayern, Loew juga sedikit mengkopi apa yang dilakukan Pep terhadap kapten Philipp Lahm, yaitu menggeser sang bek sayap ke gelandang bertahan. Dengan kemampuan yang lengkap, Lahm ternyata tidak canggung memerankan posisi ini.

Kondisi ini menambah variasi permainan bagi Loew. Pola 4-1-4-1, 4-2-3-1 atau 4-3-3 dapat digunakannya sekaligus dalam satu pertandingan. Dan dengan trend taktik baru belakangan ini, Loew juga berani memainkan seorang single pivot dalam diri Lahm. Dipakainya single pivot, berarti memperkaya variasi serangan karena gelandang-gelandang lain memiliki lisensi untuk menyerang. Bedakan saja permainan Khedira di Real Madrid dengan di Nationalmannschaft sebagai contoh.


Yang jelas, adaptasi yang dilakukan Loew berhasil membawa Jerman ke babak final untuk pertama kalinya sejak 12 tahun silam. Baginya, inilah pencapaian tertinggi setelah final Piala Eropa 2008. Menang atau kalah nantinya, Loew telah meninggalkan impresi positif sekaligus memperlihatkan suatu hal. Bahwa dengan materi yang dimilikinya sekarang, Jerman akan tetap menjadi kandidat juara Piala Dunia setidaknya dalam tiga Piala Dunia ke depan.

Sunday, July 6, 2014

Untuk Anda Si Nomor 10 (Bukan Surat Terbuka)

Disclaimer: Jangan tertipu dengan judul Blog ini. Entri ini memang bertujuan untuk sedikit memberi pandangan berbeda kepada si nomor 10. Oh iya, ini bukan surat terbuka seperti yang lagi ngetrend di kalangan pendukung fanatik capres sekarang ini. 

“Woi! Oper dong bolanya ke gue! Mata lo di mana?”
“Lo ngerasa lebih jago? Ayo kita man to man di lapangan.”
“Minggir lo! Cuma gue yang boleh ambil eksekusi penalti ini!”
Dan kalimat-kalimat makian yang tidak pantas ditulis.

Kalimat-kalimat seperti itu seringkali kita dengar dari seseorang. Seorang pemain bola di lapangan yang merasa dirinyalah yang paling jago. Dan karena merasa paling jago, dia juga merasa mengemban beban yang tinggi untuk timnya, dan untuk itulah ia juga merasa berhak memarahi rekan setim yang tidak mendukungnya. Ada lagi, dia seolah merasa memliki license untuk banyak menggiring bola, dan menembak ke gawang lawan, seberapapun seringnya ia gagal. Jika ia berhasil, maka itu karena kehebatannya. Jika ia gagal, itu karena memang kebetulan. A self-proclaimed key player.

Mau bermain di manapun, kapanpun, dalam suasana apapun, orang ini selalu serius. Jiwa kompetisinya sangat tinggi dan ia juga amat membenci kekalahan. Ia akan memberikan segenap kemampuannya dan akan sangat terganggu jika mengalami kekalahan. Itu semua benar, tapi sebetulnya yang membuat dia lebih terganggu adalah jika ada rekan setim yang lebih jago darinya.

Orang-orang seperti itu jelas ada. Mereka akan memperlakukan orang lain seperti itu, baik dikenalnya ataupun tidak. “I am the captain. I am the most passionate on this game. I am simply the best. I am the center of this team. It’s always be about me.”

Agar kelihatan tidak terlalu menyudutkan, sebetulnya si nomor 10 ini bisa melakukan berbagai hal luar biasa dalam sepak bola. Hal-hal yang membuat sepak bola lebih mengejutkan, terutama dalam perkembangan taktik yang makin mengurangi ruang untuk berkreasi ini. Jika tidak bisa melakukan hal-hal luar biasa seperti ini, maka anda bukanlah nomor 10 beneran. Di antaranya adalah:
  • Si nomor 10 bisa menjadi motivator rekan-rekannya, bahkan tanpa perlu berteriak-teriak. Sejurus akselerasi kilat yang membelah selapis-dua lapis pertahanan lawan akan membuka ruang. Dari situ, ia bisa mengeksekusinya langsung atau mengoper kepada rekannya yang semula bingung bagaimana cara menembus pertahanan sdisiplin lawan.
  • First touch adalah hal kecil yang membedakan apakah seorang pemain berkelas top atau biasa-biasa saja. Tidaklah berlebihan, karena dengan first touch yang prima, seorang nomor 10 bisa mengarahkan bola ke tempat di mana lawan kehilangan kewaspadaan.
  • Imajinasi tinggi mutlak dimiliki si nomor 10. Gaya bermainnya tidak boleh monoton. Gocek ya gocek terus, posisi menembak ya dari arah yang sama. Tidak demikian. Nomor 10 harus menjelajah ke setiap jengkal pertahanan lawan. Ia mungkin bukan seorang ramdeuter yang mencari ruang tanpa bola di kakinya, melainkan ia membuka ruang kepada rekan-rekannya dengan bola di kakinya. Imajinasinya harus tanpa batas dan tak tertebak lawan.
  • Skill tertinggi di antara rekan-rekannya juga harus dimiliki si nomor 10. Bola adalah teman sejatinya. Satu hentakan, terobosan, gerak tipu, tembakan atau gocekan bisa mengubah arah permainan.
Tidak gampang, bukan? Jadi jika anda tidak memiliki atribut-atribut di atas, tahu dirilah sedikit dan berhentilah merasa bahwa anda adalah si nomor 10. Tanpa harus merasa sebagai si nomor 10, anda masih boleh bermain sepak bola.

Bukannya membantu tim, kemampuan tanggung anda justru malah akan membuat permainan menjadi tidak menarik dan rekan-rekan anda menjadi sebal. Mulailah bermain untuk tim dan melakukan simple passing yang presisi dan milikilah kesadaran posisi yang akan menguntungkan tim anda sendiri. Karena seperti kata Cruyff, “Playing simple football is the hardest thing to do.”

Tapi bagaimanapun, ada kalanya kita tidak bisa mengubah keadaan. Akan selalu ada si nomor 10 di manapun anda bermain. Jika anda berada satu tim dengan pemain seperti itu, dukunglah jika memang ia si nomor 10 beneran. Tapi jika ia hanyalah si nomor 10 nanggung, berbesar hati saja untuk terus mengoper kepadanya. Toh jika kualitasnya abal-abal, kejelekannya akan mudah terlihat, dan sepak bola tentu selalu punya caranya sendiri untuk menggiring pemain-pemain seperti itu ke luar lapangan.

Ya, karena sepak bola itu bersebelas, bung. Dan seperti halnya dalam kehidupan: kecuali anda memang benar-benar sempurna (dan memang tidak mungkin ada yang sempurna), maka anda tidak berhak untuk merasa lebih baik daripada orang lain.

Ah, kenapa ending tulisan ini jadi kaya tag line motivator begini?

Tuesday, April 15, 2014

Saatnya Overhaul, Milan

Milan menang dalam 4 laga beruntun. Diawali laga melawan Fiorentina, kemudian berlanjut pada Chievo, Genoa dan Catania. Sebuah streak kemenangan terbanyak musim ini, seakan memperlihatkan bahwa tim ini sudah back on track dan siap menyongsong musim depan yang lebih baik.

Benarkah demikian?

Anda boleh berpendapat lain, namun saya sudah beberapa tahun belakangan tidak menyukai apa yang terjadi pada tim ini. Yang saya maksud adalah visi dari manajemen. Tanpa bermaksud sok tahu, dari yang saya baca (mungkin bacaan yang sama dengan kalian), Milan memang tidak mampu mengganti para pemain bintangnya yang hengkang akibat krisis finansial yang melanda.

Bukan itu yang sebetulnya mengganggu, well, krisis finansial memang tak terhindarkan apalagi dengan berbagai kontroversi yang dibuat Berlusconi yang salah satunya membuat Milan harus turut menganggung denda 500 juta euro yang dibebankan kepada Fininvest, salah satu perusahaan Berlusconi. Namun yang cukup mengganggu adalah, Milan hanya melakukan perekrutan yang sifatnya tambal sulam. Ibarat sebuah mobil, Milan sudah waktunya turun mesin, namun bukannya melakukan itu malahan sibuk mengecat body agar tetap terlihat kinclong. Melihat hal ini, saya jadi sepenuhnya memahami curhat Paolo Maldini yang berkata bahwa Milan memang tidak memiliki real project. Skuat yang ada hanya bermanfaat 2-3 tahun, yang tentunya tidak mengherankan jika tidak terjalin kekompakan, apalagi menimbulkan kebanggaan dan identitas.

Memang bukan perkara mudah. Ini adalah kebijakan yang diambil, dan yang namanya kebijakan, bisa benar dan bisa salah. Dalam hal ini, saya pribadi menilai Milan telah keliru dalam mengabaikan pendidikan pemain muda. Setelah Billy Costacurta, Demetrio Albertini dan Max Ambrosini, siapa lagi yang lolos ke tim utama? Justru mereka harus menebus Ignazio Abate, Luca Antonini dan juga Alessandro Matri setelah mereka bersinar lebih dulu di klub lain. Atau, mereka harus rela melihat Pierre Aubameyang, Marco Donadel, dan bahkan Matteo Darmian yang ternyata cukup cemerlang setelah klub-klub lain memberikan kepercayaan.

Bagi Milan, adalah penting untuk lolos setiap tahun ke kompetisi Eropa agar pendapatan mereka stabil, sehingga mereka mampu membayar gaji pemain-pemain yang menurut pendapat saya berkemampuan nanggung. Bukankah lebih baik mengembangkan pemain-pemain muda dari akademi lalu mengombinasikannya dengan talenta-talenta muda dari klub lain walaupun harus membeli mahal sedikit? Daripada membeli pemain gratis berusia 28-32 tahun namun masa jayanya telah lewat dan gajinya di atas 1,5 juta euro?

Satu-satunya yang patut diapresiasi dari kebijakan Milan adalah menyangkut marketing. Di liga Italia, merekalah yang mendapatkan pemasukan tertinggi dari segi sponsorship. Dalam hal ini, Milan memang telah banyak mencontoh klub-klub Inggris. Selain cukup aktif di social media, Milan juga (dengan nama besar Berlusconi) mampu menjalin berbagai kerjasama komersial menguntungkan, yang berbuah pendapatan di atas 100 juta euro per musimnya.

Namun sayangnya kerjasama komersial ini juga berkorelasi dengan prestasi. Dengan menduduki zona champions, tentu banyak pihak yang masuk sebagai sponsor. Untuk itulah selalu ada tekanan masuk zona Champions tiap musimnya agar mendapatkan dana untuk membayar hutang, dan tentunya hal ini memerlukan dana untuk membeli pemain-pemain berpengalaman. Catat, pemain berpengalaman yang didapat dengan free transfer bukan berarti tidak perlu biaya sama sekali, karena mereka tentunya memiliki gaji besar.

Dengan menurunnya prestasi Milan sekarang ini, ditambah ancaman tidak lolos ke kompetisi antar klub Eropa, memang semestinya sudah saatnya bagi Milan untuk melakukan overhaul secara besar-besaran. Buang pemain-pemain senior bergaji besar minim kontribusi, percayakan pemain-pemain akademi macam Bryan Cristante dan Andrea Petagna. Beli pemain muda potensial, mahal sedikit gak masalah, namun efeknya berkepanjangan.


Dan tentunya dengan tidak mengikuti kompetisi Eropa, Milan sadar betul bahwa mereka tidak memiliki pendapatan cukup untuk membayar biaya gaji di atas 150 juta euro setahun. Semestinya keadaan ini memaksa mereka untuk melakukan restrukturisasi gaji musim depan, caranya ya dengan melepas pemain-pemain berkategori senior gaji besar minim konribusi tadi. Tidak perlu berharap untuk kembali lolos ke Liga Champions musim depan, melihat Juventus, Roma, Napoli, bahkan Inter Milan masih akan setangguh sekarang musim depan. Betulkan mesin, jangan hanya kilapkan cat.

Perjuangan Si Anak Punk

Anda ingin dicap sebagai penggemar sepak bola yang unik dan berbeda dari yang lain? Saran saya mulailah memperhatikan Atletico Madrid, tontonlah pertandingannya, koleksilah jersey-nya. Anda akan sekeren dan sekece penggemar baru Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund.

Berbicara Atleti, berarti membicarakan tim underdog. Secara alamiah, tidak semua orang menyukai hegemoni. Bayern Muenchen adalah penguasa baru, Real Madrid atau Barcelona adalah penguasa lama, sementara Chelsea meski baru 1 dekade ini menggebrak namun sudah 7 musim beruntun lolos ke semi final Liga Champions. Atleti? Mereka hanyalah anak bau kencur dibandingkan 3 semifinalis lainnya.

Jika diibaratkan sebagai anak musik, Atleti ini seperti anak punk. Bermodal tampang gahar, penampilan urakan, musik yang berisik dan minim pertunjukan skill. Mereka tidak peduli pada kord miring atau solo gitar yang keriting. Mereka hanya ingin meluapkan ekspresi seliarnya, berteriak sekenanya, dan melawan segala bentuk kemapanan meskipun hanya sepukul dua pukul.

Oleh masyarakat, anak-anak punk mungkin dijauhi. Mereka dicap suka berbuat onar, gak jelas, dekil dan stereotip-stereotip beserta generalisasi lain yang memang sudah terdoktrin. Tapi jangan lupa, mereka kini adalah underdog. Seorang underdog bisa berubah dari troublemaker menjadi liberator. Lihatlah sosok Bane dalam film Batman. Coba katakan, Bane itu penjahat atau liberator?

Atleti bukanlah Bayern Muenchen yang begitu digdaya, rapi, intelek dan kece. Bayern seperti halnya musik band Dream Theater yang begitu presisi, rumit, rigid, megah dan berkelas. Apakah semua suka musik seperti itu? Tidak juga.

Bagaimana dengan Real Madrid? Madrid itu seperti musisi Glam Rock yang dulunya berjaya, namun sekarang masih mencoba mengumpulkan puing-puing kejayaan. Proyek megah senilai MRT Jakarta seperti Los Galacticos jilid 1 dan 2 terus digulirkan namun hasilnya masih nihil. Terakhir kali mereka merebut Champions League adalah tahun 2002 saat Zinedine Zidane cs sukses mengandaskan pasukan Cristoph Daum, Bayer Leverkusen.

Kalo Chelsea itu seperti musik apa? Hmm mungkin seperti musik dance, elektrik dan hip-hop yang digemari mayoritas anak-anak muda. Mereka lamban di intro, lalu menghentak di chorus, lalu mengakhiri lagu dengan klimaks. Persis seperti gaya Jose Mourinho.

Jadi, 'musik' apakah yang akan berkumandang di Lisabon nanti? Mampukah anak-anak punk asuhan Diego Simeone membuat kejutan?

Tuesday, March 18, 2014

Krisis Milan Bukan Buah Kesalahan Selama Setahun-Dua Tahun

Saat kekalahan atas tim seperti Udinese, Sassuolo atau Parma sudah dipandang sebagai hal biasa, maka jelas ada yang salah dari Milan. Milan bagaimanapun adalah bagian dari kejayaan sepak bola Italia. Sepak bola Italia memiliki kultur keras yang mengutamakan hasil pertandingan di atas segalanya, bahkan terlihat obsesif. Anda tidak akan menemukan presiden klub seperti Maurizio Zamparini di Liga Inggris misalnya.

Memainkan sepak bola indah tanpa hasil adalah hal tak termaafkan di Italia. Berbeda dengan di Spanyol, misalnya. Tanyakan saja kepada Fabio Capello yang dipecat justru saat baru mengantar Real Madrid menjadi juara liga. Alasannya, di tangan Capello, permainan Madrid tidak atraktif.

Namun sebaiknya kita memandang krisis yang terjadi secara berimbang. Anda boleh berpendapat lain, namun menurut pandangan saya krisis ini bukanlah kesalahan pelatih tertentu, bukan pula disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang dilakukan awal musim ini atau musim lalu. Krisis ini ibarat bom waktu yang telah meledak sejak ditanam kira-kira satu dekade lalu.

Satu dekade lalu, siapa tak gentar menghadapi tim yang diperkuat poros serangan Pirlo, Kaka, Rui Costa, Seedorf dan Shevchenko, dengan dilindungi seorang hard man bernama Gattuso. Memasuki lini pertahanan, siapa yang tak terkesima dengan bek-bek elegan (tidak usah jauh-jauh ke era Baresi) seperti Maldini, Nesta atau bek raksasa seperti Jaap Stam.

Ya, Milan pernah mengalami masa itu. Masa di mana Liga Champions adalah DNA mereka, masa di mana tim-tim lawan bergidik gentar ketika memasuki halaman San Siro.

Namun sebagaimana kehidupan berjalan, terdapat sebuah siklus, peralihan, perputaran. Saat mengalami masa-masa penuh kejayaan, memang akan mudah berpikir untuk terus mempertahankan skuat alih-alih memikirkan regenerasi. Lebih kece memikirkan pembelian pemain matang berusia 27 tahun ke atas daripada mendidik tiga-empat orang teenagers dan menyisipkan mereka sesekali ke tempat latihan dan starting line-up.

Sayangnya, pembelian pemain-pemain tua dan mempertahankan para senatori hingga titik terakhir karir mereka adalah pilihan yang diambil. Memang tidak salah, di tengah industrialisasi sepak bola yang menggila, mungkin tidak ada klub yang menghargai pemain-pemainnya yang telah berjasa seperti halnya Milan. Semangat kekeluargaan ini pula yang membedakan Milan dengan klub lain. Saat Zlatan Ibrahimovic dipanggil ke ruang direksi pasca insiden latihan dengan Oguchi Onyewu, Ibra sudah berpikir bahwa hukuman berat telah menanti, namun Adriano Galliani, layaknya seorang ayah yang sabar dan penuh kasih sayang, merangkulnya sambil berbicara pelan namun tegas “Menghukummu? Ini adalah Milan. Di Milan, kita tidak melakukan cara seperti itu.”

Bagaimanapun, tidak ada sistem buatan manusia yang dapat berjalan sempurna. Kedigdayaan Maldini dkk membuat para petinggi menutup mata pada pentingnya regenerasi. Praktis pemain terakhir lulusan akademi (atau tim primavera) adalah Billy Costacurta, Demetrio Albertini dan Max Ambrosini. Terdapat “masa tenggang” memainkan pemain dari akademi sebelum muncul Mattia De Sciglio dan Bryan Cristante. Alessandro Matri dan Ignazio Abate malah harus “disekolahkan” dulu sebelum ditarik kembali.

Sebelum timbul masalah keuangan, Milan mungkin masih bisa mengabaikan lulusan akademi dan membeli pemain yang sudah jadi. Mereka juga masih mampu membeli pemain muda dengan status hot prospect sekaligus membayar gaji mingguan mereka yang besar. Tapi, itu dulu. Rangkaian kasus Berlusconi melalui Fininvest yang berakibat denda 400 juta euro menjadi pukulan telak yang membuat Milan harus menjual Kaka ke Madrid tahun 2009 lalu. Kesulitan keuangan juga sudah terendus ketika Milan harus menjual Sheva ke Chelsea tahun 2006.

Ketika krisis finansial baru sebatas gejala, atau setidaknya masih bisa diatasi dengan performa stabil di Eropa yang mendatangkan uang banyak, Milan memang masih mampu membeli banyak pemain, tapi ya itu tadi, kualitas pemain-pemain yang dibeli pun tidak sebaik sebelumnya. Seraya mempertahankan para senatori, Milan pun masih bisa melaju dan bersaing.

Milan bahkan masih mampu menggeliat ketika Ibra dan Robinho didatangkan sekaligus. Keberadaan pemain berbakat yang disia-siakan klub mereka sebelumnya ini adalah berkah bagi Milan karena mereka langsung menyumbangkan gelar scudetto. Namun tibalah masa itu. Masa di mana senatori tersebut sudah waktunya meninggalkan Milanello lantaran usia senja. Tidak punya dana cukup untuk mengganti pemain yang memiliki kualitas sebaik mereka, Milan pun terpaksa mendatangkan pemain-pemain yang “seperti itu”.

Keputusan mendatangkan pemain seperti Ibra maupun Robinho harus diakui adalah keputusan yang sifatnya temporer. Usia membuat mereka hanya bisa bermain bagus semusim-dua musim saja, dengan pengecualian untuk Ibra. Saat senatori tersebut pergi, tiba pula saat persiapan Financial Fair Play. Dengan biaya gaji yang nyaris mencapai 200 juta euro semusim, tentu tidak feasible bagi Milan yang pendapatannya hanya berkisar 230-250 juta. Milan pun beroperasi dengan kerugian, dan Financial Fair Play mengharamkan hal itu.

Milan tidak mampu menahan kibasan euro dari nouveu riche PSG yang menginginkan Ibra sekaligus Thiago Silva, pembelian terbaik Milan seperti halnya pembelian mereka kepada Kaka dan Sheva di masa lalu. Kini, Milan tidak mampu menahan Thiago selama mereka menahan Sheva dan Kaka. Tanpa Ibra dan Thiago Silva, tanpa senatori, tidak mampu membeli pengganti yang sepadan, beginilah jadinya.

Keadaan ini akhirnya membuat klub kembali melirik akademi. Pembelian pun sempat bijak, misalnya pembelian Montolivo, Balotelli, El Shaarawy, Saponara, Gabriel atau Niang. Keikutsertaan Liga Champions pun masih dapat dipertahankan. Namun saat momentum sedang bagus, sayangnya kekeliruan kembali terjadi. Pembelian yang terlalu berat ke lini depan adalah bunuh diri seakan mereka menganggap duet Mexes-Zapata tidak jauh berbeda dengan Maldini-Nesta. Belum lagi masalah intervensi taktik, cedera pemain dan pemain-pemain tidak berkontribusi positif yang masih saja dipertahankan.

Sekarang, Milan dihadapkan pada berbagai kesulitan. Masa-masa mediokritas di depan mata. Tanpa mengikuti kompetisi Liga Champions, Milan jelas kehilangan potensi pendapatan hingga 50 juta euro. Secara hitungan kasar, pendapatan Milan akan turun drastis menjadi di bawah 200 juta euro semusim. Jika ingin mematuhi Financial Fair Play, tidak ada jalan lain selain melakukan cuci gudang demi meringankan biaya gaji, sekaligus menjadikan youth project berporos De Sciglio-Cristante-El Shaarawy sebagai andalan, bukan slogan kosong semata.

Sudah saatnya Milan bertransformasi menjadi klub yang lebih berpikiran bisnis. Hal ini memang boleh jadi membuat Berlusconi harus melepas sebagian sahamnya demi kelangsungan hidup Milan. Identitas boleh jadi tergerus, namun dalam sepak bola modern seperti sekarang ini, hal tersebut memang tak terhindarkan, bukan?

Pembangunan stadion baru memang akan memaksa Milan untuk berkata arrivederci kepada San Siro yang megah dan bersejarah. Namun dengan membangun stadion baru modern berkapasitas 55 ribu-70 ribu, Milan dapat berharap untuk memperoleh pendapatan 100 juta euro setahun, yang tentu saja mengikis ketergantungan berlebih pada pemasukan dari hak siar. Tidak ada salahnya pula Milan mencontoh kebijakan klub seperti Dortmund yang hanya membeli pemain muda dan meningkatkan peran pemain akademi. Lihatlah bagaimana Dortmund kini menjadi klub papan atas setelah 1 dekade lalu sempat bangkrut.


Ibarat sebuah siklus, Milan kini memang berada di bawah. Namun kehidupan selalu memberi pilihan untuk merangkak ke atas. Sekarang, klub-klub Seri A seperti Juventus, Napoli, dan Roma sudah beberapa langkah lebih maju ketimbang Milan. Mengejar mereka mungkin sulit sekarang ini, namun tentu dapat dimulai secara gradual dan terukur.

Saturday, March 1, 2014

Kelemahan Timnas U-19

Seperti yang sering saya tulis, tim nasional U-19 memang satu dari sedikit tim Indonesia yang unik dalam artian positif. Mereka bermain dengan mengandalkan possession football dan zone press, sebuah taktik yang sejalan dengan perkembangan belakangan ini. Sepanjang saya menonton liga Indonesia tingkat apapun, saya baru melihat permainan seperti ini ditunjukkan oleh klub Persiba Balikpapan beberapa tahun silam kala diasuh Peter Butler.

Pelatih Indra Sjafri sudah menggunakan pola 4-3-3 dan permainan possession football pada timnas U-19 sejak tahun lalu. Kecocokan Indonesia dengan pola 4-3-3 memang sudah terjadi sejak dulu. Antun “Toni” Pogacnik, pelatih tim nasional Indonesia era 50an pernah mengungkapkan bahwa secara tradisi, Indonesia memiliki banyak pemain sayap yang cepat. Untuk mengejawantah kecepatan tersebut di lapangan, memang tidak ada pola yang lebih tepat selain 4-3-3.

Namun, pemain-pemain Indonesia secara umum memang berbakat, namun mereka bukanlah pengejawantah taktik yang handal. Inilah sedikit banyak alasan mengapa kehebatan tim nasional kita yang sempat ditakuti pada era 50an lambat laun terkikis di saat bangsa lain berinovasi. Ya, kita terlalu banyak berdiam diri dan berjalan di tempat.

Inilah yang coba didobrak oleh sekelompok orang yang menjadi satu kesatuan dalam awak tim nasional U-19.

Pelatih Indra Sjafri amat menekankan penguasaan bola yang sudah dimulai dari lini belakang. Saat salah satu bek menguasai bola, salah satu dari trio gelandang Hargianto, Zulfiandi ataupun Evan Dimas akan mencari posisi kosong agar bola dapat dioper dengan mudah oleh bek. Dari sinilah permainan diolah.

Hargianto adalah gelandang bertahan dengan kemampuan yang amat langka di Indonesia. Bukan sekadar memiliki kemampuan bertahan, ia juga memiliki umpan-umpan akurat serta mahir dalam bola mati. Hargianto yang lebih defensif ini ditemani dua gelandang yang lebih bernaluri menyerang, Zulfiandi dan Evan Dimas. Zulfiandi memiliki dribel jarak pendek yang mengagumkan dan kemampuan komplet sebgagai gelandang box to box.

Sementara Evan Dimas adalah yang teristimewa. Selain skill yang tinggi dan visi yang berkelas, ia juga amat paham posisi. Saat Zulfiandi atau Hargianto dijaga ketat lawan, ia tidak jarang untuk turun jauh ke belakang. Ia juga kerap muncul dari lini kedua dan siap menyambut umpan silang yang datang dari pemain sayap. Tiga golnya ke gawang Korea Selatan U-19 beberapa waktu lalu lahir dari skema ini.

Gol-gol Evan Dimas tersebut seakan menunjukkan bahwa permainan Indonesia U-19 amat mengandalkan serangan dari sektor sayap, sebagaimana pengaplikasian pola 4-3-3. Game plan tim ini sebetulnya sederhana. Mereka meracik bola dahulu di tengah, memberi terobosan kepada sayap, lalu sayap tersebut melepas umpan silang yang kemudian dikonversi menjadi gol oleh pemain yang posisinya paling menguntungkan.

Game plan ini terus dipakai dalam rangkaian uji coba yang mereka lakoni dalam sebulan terakhir. Kebanyakan gol tercipta lewat skema seperti ini. Kebetulan, kualitas lawan yang dihadapi juga tidak istimewa. Di samping kalah kualitas, lawan-lawan tim nasional U-19 ini juga kalah dari sisi ketahanan fisik. Tidak heran jika timnas Garuda Jaya terus menang meskipun mereka tidak berada pada performa terbaik.

Rekor impresif 8 kemenangan dari 9 laga sejauh ini jelas mengagumkan, apalagi yang dihadapi timnas U-19 adalah tim-tim dengan pemain yang berusia lebih tua, umumnya di atas mereka dua tahun. Meskipun masih lebih muda, namun kematangan yang ditunjukkan melebihi lawan yang lebih tua. Fenomena ini juga sedikit banyak menjelaskan tidak dibinanya dengan baik sepak bola kita, dan betapa klub-klub Indonesia pada umumnya seperti tidak pernah menonton pertandingan sepak bola Eropa kekinian, mereka tidak mampu mengikuti dinamika sepak bola modern.

Namun di balik segala keriaan, terdapat sedikit kekhawatiran. Timnas U-19 ini sudah terlalu kuat bagi lawan-lawan mereka di pulau Jawa. Beberapa hari mendatang, lawan-lawan dari pulau Kalimantan sudah menunggu, menarik mengamati seperti apa kualitas mereka. Dengan semakin seringnya siaran langsung TV yang mendampingi perjalanan timnas U-19, harusnya sudah semakin banyak lawan yang paham bagaimana cara menangkal permainan ball possession mereka.

Seperti sudah menjadi premis yang berlaku umum bahwa permaianan ball possession dapat diredam dengan zonal marking yang disiplin. Tim lawan tidak perlu berlari-larian menerjang pemain timnas U-19 yang menguasai bola, melainkan dapat menunggu dan menjaga setiap jengkal daerah untuk memutus aliran bola. Dalam sebuah pertandingan mereka menghadapi PSIS U-21, terlihat jelas betapa sulitnya timnas U-19 menghadapi lawan yang bermain seperti ini. Inilah kelemahan yang nyata: mereka hanya memiliki satu cara untuk bermain.

PSIS kala itu memainkan pola bertahan dengan memperkuat sektor sayap. Di sini, terdapat dua pemain yang secara bergantian menempel ketat pemain-pemain sayap, yaitu para full back dan defensive wingers. Ditambah lagi, mereka menempatkan dua gelandang bertahan yang bermain amat defensif untuk meredam Evan Dimas dkk. Alhasil, timnas kesulitan menembus pertahanan kokoh yang terstruktur ala PSIS.

Untungnya, PSIS tidak memiliki counter attack berbahaya layaknya tim-tim yang jago memainkan pola bertahan. Gawang timnas pun relatif aman karenanya. Namun berbeda jika lawan yang dihadapi adalah tim nasional negara lain yang lebih kuat dan mapan.

Dari sini, sudah saatnya timnas U-19 mengagendakan uji coba menghadapi lawan yang lebih tangguh. Mereka sudah terbiasa bermain nyaman, bermain di depan publik yang mendukung mereka, dan bermain menghadapi ancaman steril. Dua pencapaian baik tahun lalu juga mereka dapatkan ketika bermain di depan publik sendiri.

Untungnya kali ini federasi lebih sehat. Setelah puas dengan uji coba di negeri sendiri, tim nasional akhirnya diagendakan untuk mengikuti L’Alcudia International Under-20 Football Tournamen yang akan digelar di L’Acudia, Valencia, Spanyol. Turnamen yang akan diselenggarakan bulan Agustus tahun ini tersebut bukanlah turnamen ecek-ecek.

8 negara dan dua klub dipastikan menjadi peserta. Seperti dikutip dari Kompas, peserta yang sudah dipastikan keikutsertaannya adalah timnas China dan Jepang U-20 bersama Indonesia U-19 sebagai wakil Asia. Sementara Chile dan AS U-20 hadir dari benua Amerika, dan wakil dari klub seperti Barcelona dan Valencia U-20.

Melihat lawan-lawan yang akan dihadapi, kualitas timnas U-19 mungkin yang paling lemah. Namun justru hal inilah yang diperlukan. Tim ini perlu kalah, sehingga mereka akan lebih banyak belajar untuk mengikuti turnamen sesungguhnya, yaitu Piala Asia U-19 di Myanmar, Oktober mendatang.

Jika harus menghadapi Barcelona U-20 atau Jepang U-20 yang memiliki ilmu ball possession lebih maju, timnas tentu akan dipaksa untuk memainkan gaya lain, cara lain dan taktik lain. Ini amat positif bagi perkembangan taktik dan penguatan mental bertanding, apalagi di Myanmar nanti mereka juga akan jauh dari pendukung fanatik.


Semoga saja turnamen uji coba ini benar-benar diikuti timnas U-19, tidak ada pembatalan mendadak seperti yang biasa terdengar selama ini.

Wednesday, February 12, 2014

Tim Nasional U-19 Menapaki Jalan Menuju Tim Nasional Terbaik

Menyaksikan laga tim nasional U-19 tidaklah seperti menyaksikan tim nasional Indonesia, begitulah ungkapan banyak orang. Tidak sekadar memberikan gelar Piala AFF U-19 dan melaju ke putaran final Piala Asia termasuk di dalamnya mengalahkan Korea Selatan, namun juga penyajian permainan cantik.

Permainan cantik, jika ingin dijabarkan secara spesifik, berarti memainkan sepak bola dengan benar dan mampu mengikuti perkembangan (taktik) zaman. Jika pada era 90an pola playmaker nomor 10 dan striker nomor 9 begitu meraja, kini perkembangan taktik membuat permainan sepak bola terlihat lebih kolektif, meski tidak sedikit yang menilainya lebih rumit.

Sepak bola sejatinya sejak dulu amat memperhatikan ruang dan jarak. “Sepak bola adalah seni memanfaatkan ruang.” Tegas penulis buku Inverting The Pyramids: The History of Football Tactics, Jonathan Wilson. Menurut sejarahnya pula, perumus ahli taktik pada awal peraturan sepak bola dirumuskan juga berasal dari Inggris. Ada yang mengatakan bahwa ahli taktik sepak bola juga menguasai ilmu pengetahuan lainnya seperti matematika dan arsitektur. Arsitektur? Iya benar. Memang masuk akal karena ilmu arsitektur juga mempelajari tentang ruang.

Jimmy Hogan adalah seorang pelatih kelahiran Inggris yang banyak menghabiskan hidupnya di Eropa Tengah. Ia tidak asing dengan budaya perbincangan sepak bola kafe ala Austria, dan ia juga berteman akrab dengan Hugo Meisl, pelatih legendaris yang menyutradarai kelahiran The Wunderteam Austria. Kombinasi Meisl bersama Hogan melahirkan tim yang amat cepat dalam memainkan bola, tidak banyak melakukan dribble percuma, juga tidak banyak melepas umpan panjang.

Hasil kerja dua orang inilah yang kemudian banyak menginspirasi pelatih-pelatih besar lainnya untuk melahirkan tim-tim terbaik. Il Grande Torino tahun 1940an, Hungaria tahun 1954, Brasil tahun 1962, Belanda tahun 1974, Ajax Amsterdam tahun 1970an, AC Milan tahun 80an, hingga Barcelona era kekinian adalah tim-tim yang dipandang terbaik dunia baik dari sisi permainan maupun pencapaian.

Kembali ke konteks tim nasional Indonesia U-19, memang terlalu naif jika hendak membandingkan tim ini dengan para tim terbaik. Namun setidaknya –dalam level yang berbeda- tim ini telah melakukan pendekatan permainan yang tepat untuk menjadi tim hebat –setidaknya tim nasional yang hebat untuk ukuran Indonesia- dan syukur-syukur menapak naik level Asia.

Salah satu panutan saya menulis sepak bola, Hedi Novianto telah dengan bernas mengupas ciri permainan tim nasional U-19 dalam esainya di situs Goal Indonesia. Ia menggambarkan pendekatan permainan anak asuh Indra Sjafri yang amat memperhatikan jarak antar pemain baik ketika menguasai bola maupun ketika bola dikuasai lawan.

Trio gelandang Hargianto-Zulfiandi-Evan Dimas disebutnya spesial karena kerap membentuk segitiga untuk menjaga jarak agar saat salah satu dari mereka menguasai bola, posisi tidak merenggang sehingga terhindar dari situasi harus mengumpan panjang.
Pemahaman taktik dan posisi sebetulnya hal lumrah ketika kita bermain bola. Seringkali pelatih kita berteriak “Deketin temennya! Jangan nunggu!” dengan maksud menginstruksikan pemainnya untuk menjaga zona permainan, mempertahankan bentuk formasi dan intensitas umpan pendek agar bola tidak mudah direbut lawan.

Serangan juga dibangun dari belakang. Ketika penjaga gawang menguasai bola, ia tidak langsung melepas tendangan gawang ke tengah, melainkan mengoper kepada bek terdekat. Di sinilah peran bek sebagai ball player mutlak diperlukan. Seorang bek handal memang tidak hanya dituntut untuk asal main gaprak, tapi juga harus bisa menjadi pengumpan yang baik dan tenang dalam menguasai bola. Apalagi dengan sistem zonal, garis pertahanan memang tinggi, tidak heran jika atribut pemahaman posisi mutlak diperlukan bagi tim U-19.

Tim  U-19 bagaimanapun belum teruji hingga level kontinental. Piala Asia Junior yang akan berlangsung akhir tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagaimana tim ini menghadapi lawan yang level permainannya setara, bahkan lebih baik. Tim nasional Korea Selatan U-19 yang dikalahkan tempo hari memang sedang mengalami penurunan kualitas, sehingga mengalahkan mereka bukanlah ukuran kekuatan yang pas.

Satu hal lagi, tim ini masih belum teruji pemain pelapisnya. Jika salah satu trio lini tengah absen (apalagi Evan Dimas), maka kualitas permainan tim nasional sudah pasti menurun drastis. Tim ini masih harus mencari plan b atau alternatif lain jika para pemain utamanya absen.


Selain itu, kompetisi junior yang belum memadai turut menjadi penghalang, meskipun pelatnas jangka panjang telah digelar. Menghadapi negara lain dengan kompetisi yang lebih rapi dan terstruktur, bukan tidak mungkin euforia yang telah terbentuk dan asa yang telah terlanjur tertanam akan hilang tanpa bekas di tanah Burma, dan lagu-lagu sumbang siap berkumandang. 

Monday, January 13, 2014

Pukulan Telak dari Emilia-Romagna

Domenico Berardi, 19 tahun dan berbakat. Foto: footballmanagerstory.com

Entah mengapa saya agak malas menulis soal AC Milan belakangan ini. Seolah seluruh artikel dan tulisan yang ada telah mewakili. Sudah terlalu obvious untuk dilakukan analisa, terlalu basi untuk didebatkan, dan terlalu satir untuk dibela.

Kedatangan Keisuke Honda dan Adil Rami –Rami telah berlatih bersama selama berbulan-bulan- seakan memberi harapan baru yang akan memperbaiki performa Rossoneri pada paruh kedua Seri A 2013/2014. Honda diharap memberi kualitas yang mereduksi mediokritas penciptaan peluang, sementara Rami diharap mampu menambal kebocoran lini belakang. Pada kenyataannya, Cristian Zapata yang terus dipasang meski pemain ini kerap salah posisi dan gegabah. Tolong dipahami bahwa performa Zapata di Milan berbeda dengan Zapata yang berbaju Udinese tiga-empat musim silam.

Debut Honda telah berlangsung kurang lebih setengah jam kala bersua Sassuolo. Ya, Sassuolo klub promosi yang performanya juga sama tidak konsistennya dengan Milan. Namun siapa sangka juara Seri B yang presidennya terang-terangan mengaku sebagai Milanista ini ini membuat debut Honda di Italia terasa hambar.

Honda masuk menggantikan Robinho, yang satu golnya di babak pertama menjadi pledoi bagi Allegri untuk mempertahankannya meski dalam 20 menit babak kedua ia sudah terlihat clueless. Saat akhirnya Honda masuk, permainan Milan berubah cukup drastis dengan tambahan kelas yang dibawa oleh sang playmaker Jepang.

Berbagai kans bagus tercipta, lebih-lebih setelah ditarik keluarnya pencetak poker, Domenico Berardi. Jangan sampai ketinggalan informasi, Berardi yang dimiliki setengah-setengah oleh Sassuolo dan Juventus ini baru berusia 19 tahun dan telah mencetak 11 gol di Seri A musim ini, termasuk sebuah hattrick kala jumpa Sampdoria pada giornata 12 dan sebuah gol yang menahan imbang AS Roma di Olimpico sepekan berselang.

Ditarik keluarnya prontagonis lawan setelah mereka unggul ini mengingatkan saya pada cerita laga lawan Torino dan Livorno beberapa bulan silam. Kala itu, Alessio Cerci dan Luca Siligardi ditarik keluar setelah tim mereka unggul. Akibatnya, Milan berhasil mengunci laga dan gol tercipta tinggal menunggu waktu. Khas Allegri.

Laga yang berlangsung di region Emilio-Romagna ini akhirnya berakhir dengan kemenangan 4-3 untuk tuan rumah. Tiang gawang juga turut memusuhi Milan, termasuk Honda dan Pazzini. Upaya yang dilancarkan baik terencana maupun sporadis hanya mampu menambah sebuah gol di babak kedua. Mereka tidak mampu mengejar gol demi gol yang dicetak Berardi, pemain kidal yang entah kebetulan atau tidak memiliki karakteristik spesial untuk meluluhlantakkan pertahanan Milan seperti yang dilakukan oleh Cerci, Siligardi, dan juga Leo Messi di kancah UCL.

Setidaknya saya memperhatikan satu hal bahwa pertahanan Milan memang sangat lemah menghadapi pemain menyerang kidal yang kerap bermain melebar, baik sebagai inverted winger maupun secunda punta (second striker). Urby Emanuelson yang kerap dipasang sebagai bek kiri memang tidak memiliki kapasitas mumpuni untuk bertahan dengan kuat. Dan pelatih Eusebio Di Francesco tahu betul bahwa kualitas finishing yang dimiliki Berardi lebih dari cukup untuk memanfaatkan celah di antara Emanuelson dan bek tengah kiri, yang saat itu diisi Daniele Bonera.

Sekadar saran, mungkin Allegri dapat mencoba menempatkan pemain berkaki natural kanan jika menghadapi lawan yang memiliki pemain bertipe ini. Sebagaimana diketahui, menempatkan seorang bek kiri yang tidak kidal cukup efektif untuk meredam seorang inverted winger.

Sudah bukan hal aneh, bukan jika dalam laga-laga memimpin Milan, Allegri selalu berhasil menampilkan drama hingga laga usai. Dan skenario roller-coaster sebagai kompensasi buruknya pertahanan memang terjadi. Menunjukkan sebuah tim yang immature. Serangkaian peluang tercipta, bahkan banyak di antaranya berkategori peluang emas. Namun publik Alberto Braglia -yang merupakan kandang asli Modena, digunakan Sassuolo karena stadion Enzo Ricci tidak memenuhi syarat- urung melihat comeback  dramatis Milan dalam laga terakhir putaran pertama Seri A ini.

Sepertinya memang harus berkata arrivederci kepada kompetisi UCL musim depan, dan harapkan partisipasi Eropa lewat jalur Coppa Italia, kejuaraan yang ironisnya sudah 11 tahun tidak dimenangi Rossoneri.

Wednesday, January 8, 2014

Cerita Diskon Jersey

Photo: Personal

Dalam mendukung klub favorit, saya bukanlah orang yang militan. Saya memilih untuk membela tim dalam diam. Saya juga memilih untuk tidak bergabung dengan perkumpulan fans club karena alasan yang tidak akan saya share di tulisan ini.

Ada hal baru yang terjadi tahun lalu, yaitu mulainya saya ikut-ikutan mengoleksi jersey. Tidak perlu saya sebutkan apakah jersey original atau jersey KW, karena memang tulisan ini tidak bertujuan mendebatkan soal itu. Kegiatan mengoleksi jersey tentu saja semakin mengikat diri kita kepada 'perusahaan' bernama klub sepak bola. Klub-klub sepak bola memang dengan cerdik memanfaatkan fanatisme pendukung untuk terus menjual merchandising, yang tentunya akan dibeli oleh para fans tersebut berapapun harganya. Alasan kecintaan buta pada klub telah benar-benar membutakan.

Sikap tidak militan pada klub favorit itu ternyata terbawa dalam cara mengoleksi jersey. Dalam mengoleksi 'kain laknat', saya tidak terfokus mengoleksi jersey klub favorit, melainkan lebih tertarik mengoleksi jersey yang relatif jarang dikoleksi orang.

Tanpa bermaksud menjadi hipster atau eksklusif, entah mengapa ada kepuasan tersendiri saat memiliki jersey klub seperti St. Pauli atau Spartak Moscow. Seperti ada kemenangan kecil saat berpapasan dengan seseorang yang memakai jersey klub mainstream, dan orang itu seperti mengernyitkan dahi menerka-nerka jersey apa yang saya sedang pakai.

Maka perasaan saya bercampur aduk antara senang dan sebal ketika terjadi diskon besar-besaran akhir tahun lalu terhadap jersey buatan sebuah brand besar. Jersey yang agak langka di Indonesia seperti Wolfsburg, Benfica, Bayer Leverkusen, Olympique Marseille, hingga tim-tim nasional seperti Ukraina, Rusia, Denmark dan Yunani pun didiskon dengan harga yang sangat gila, meskipun mereka yang berkecimpung di industri perlengkapan olahraga sudah pasti tahu bahwa menjual dengan harga tersebut pun perusahaan masih meraup untung. Momen ini tentu saja turut memukul pedagang jersey KW.

Saya memang ikut arus pemborongan, meskipun tidak terlalu membabi buta. Jersey Ukraina dan Rusia baik home maupun away tentu menjadi sasaran utama mengingat cinta buta saya pada dua negara itu.

Untuk saat ini, entah sampai kapan, saya tidak akan sering mengenakan hasil buruan tersebut. Dengan adanya diskon besar-besaran, sudah pasti akan banyak orang yang tiba-tiba memakai jersey Rusia atau Ukraina di mall atau tempat umum lain. Perasaan saya jika bertemu orang yang mengenakan jersey unik identik akan sama seperti seorang perempuan yang gaun andalannya disamai perempuan lain saat berada di sebuah acara. Untuk itu, saat ini saya masih akan jarang mengenakan jersey hasil buruan tadi.

Sunday, December 8, 2013

Calon Jagoan Rusia Baru Bernama Arsenal Tula

Sepak bola Rusia dalam beberapa tahun terus berkembang pesat. Keterlibatan para oligarki lokal yang banyak membiayai klub-klub sepak bola menjadi salah satu alasan untuk setidaknya memperkenalkan daerah mereka kepada kalangan luas melalui sepak bola, di luar dampak-dampak negatif yang mereka tinggalkan.

Penyelenggaraan Piala Dunia yang akan berlangsung tahun 2018 di negeri ini juga memberi angin segar dalam hal peningkatan kualitas infrastruktur. Belum lagi melihat kiprah pengelola liga mereka yang terus memperjuangkan penyatuan liga Rusia dengan Ukraina demi meningkatkan popularitas.

Semua hal di atas mencerminkan sepak bola yang tengah berkembang. Momentum positif ini juga ditandai dengan kemunculan berbagai klub antah berantah yang tiba-tiba mencuat ke permukaan, sebut saja Zenit St. Petersburg, Anzhi Makhachkala dan Terek Grozny yang kini mapan di Russian Premier League, liga sepak bola tertinggi Rusia.

Baik Zenit, Anzhi maupun Terek didanai oleh para miliuner yang juga pengusaha lokal. Dengan modal pendanaan tersebut, pemain-pemain hebat bereputasi internasional mampu mereka datangkan. Maka tidak heran jika prestasi cepat diraih dan mereka dengan cepat menyejajarkan diri dengan klub-klub Moskow yang memiliki tradisi lebih kuat.

Namun dalam waktu yang dirasa tidak akan terlalu lama lagi, kita dapat melihat sebuah klub yang akan turut meramaikan sepak bola level tertinggi Rusia, yaitu FC Arsenal Tula.

Arsenal Tula tidak ada hubungannya dengan The Gunners Arsenal FC yang bermarkas di London, Inggris ataupun Arsenal de Sarandi yang berbasis di Buenos Aires, Argentina. Arsenal Tula berasal dari Tula, kota kecil berpenduduk 500 ribu jiwa yang berjarak 193 kilometer di sebelah selatan Moskow. Sepanjang sejarahnya, klub yang telah berdiri sejak tahun 1946 dengan nama FC Zenit Tula ini telah sering berganti nama, yaitu sebanyak 8 kali. Mereka juga belum pernah mengecap pengalaman berkompetisi liga teratas Rusia hingga kini.

Tahun 2011 lalu, mereka masih bermain di kompetisi Liga Amatir, atau terendah dalam piramida kompetisi sepak bola Rusia. Prestasi klub ini mulai mencuat sejak ditangani oleh pelatih yang juga mantan pemain top Rusia, Dmitri Alenichev pada tahun yang sama.

Reputasi karir bermain Alenichev tidaklah main-main. Hingga kini, ia masih menjadi satu-satunya pemain Rusia yang pernah mengangkat trofi Liga Champions. Saat itu, ia menjadi bagian dari tim FC Porto yang memenangi Liga Champions tahun 2004 di bawah asuhan Jose Mourinho. Alenichev juga menjadi satu dari tiga pemain selain Ronald Koeman dan Ronaldo Luiz Nazario yang mencetak gol dalam dua laga final antar klub Eropa secara beruntun. Sebelum mencetak gol pada final Liga Champions tahun 2004 ke gawang AS Monaco tersebut, ia juga membobol gawang Glasgow Celtic dalam final Piala UEFA tahun 2003. Dua gol tersebut berkontribusi pada kejayaan Porto di Eropa.

Karir Alenichev sebagai pelatih ia mulai tahun 2010 saat menangani tim nasional Rusia U18. Selepas pensiun sebagai pemain tahun 2006, Alenichev memang tidak langsung menjadi pelatih, melainkan terlebih dahulu menjadi politisi. Namun ia tidak mampu menampik romansa ketegangan di lapangan hijau setelah tim nasional U18 mengontaknya.

Arsenal Tula beruntung dilatih oleh seorang mantan pemain yang pernah mengecap ilmu dari pelatih-pelatih hebat macam Oleg Romantsev, Fabio Capello dan Jose Mourinho. Dengan pengalamannya tersebut, Alenichev membuat klub semenjana dari kota kecil bertransformasi menjadi klub dengan mental juara dan permainan atraktif. Alenichev menyukai permainan menyerang dari naluri yang didapatnya semasa bermain, juga ditularkan oleh Oleg Romantsev yang menjadi pelatihnya di Spartak Moskow.

Alenichev hanya butuh setahun untuk mengangkat prestasi Arsenal Tula dari Liga Amatir ke Professional Football League (setara Divisi Dua). Dan hebatnya lagi, Arsenal Tula kemudian dibawanya promosi ke Rusian Football National League, atau satu divisi saja di bawah kasta sepak bola tertinggi, Russian Premier League. Ia selalu membawa klubnya promosi setiap tahun.

Yang cukup menarik, pada awal petualangannya di Arsenal Tula, Alenichev sempat menggunakan pengaruhnya sebagai mantan pesepakbola top untuk menarik beberapa rekannya semasa bermain. Pesepakbola seperti Yegor Titov, Vladimir Beschasthnykh, Yuri Kovtun, Dmytro Parfenov dan Dmitri Khlestov adalah mantan pemain nasional Rusia maupun Ukraina era 90an akhir hingga 2000an awal yang diajak Alenichev untuk bermain di Arsenal Tula selama semusim, padahal pemain-pemain ini sebelumnya sudah menyatakan pensiun dari sepak bola. Keberadaan para veteran ini ternyata mampu meningkatkan motivasi dari skuat secara keseluruhan, meski hanya setahun berselang mereka kembali pensiun.

Hingga pekan ke 24 Rusian National League, Arsenal Tula menduduki posisi ke-4 yang berarti zona play-off promosi ke Russian Premier League. Mereka hanya berselisih 6 angka dari Alaniya Vladikavkaz yang berada di posisi kedua, tempat idaman yang akan membawa mereka promosi secara otomatis. Penyerang mereka Aleksandr Kutyn juga menduduki posisi teratas sebagai pencetak gol terbanyak.

Transformasi kilat dalam waktu 3 tahun dari klub amatir menjadi klub yang bertarung memperebutkan tiket promosi ke kasta tertinggi bukanlah prestasi sembarangan. Alenichev jelas menjadi sosok yang paling menentukan di balik semua ini. Berbekal filosofi melatih dan pengalamannya sebagai pemain, ia sukses membawa tim tanpa anggaran belanja besar ini ke level yang jauh dari perkiraan mereka sebelumnya.