Pages

Tuesday, October 27, 2015

Jon Dahl Tomasson, Sang Profesional Sejati yang Sering Dilupakan

Jon Dahl Tomasson (photo from tv3sport.dk)

"Etos kerja pemain Denmark mengejutkan saya. Mereka memberikan segalanya saat latihan. Pada umumnya, mereka juga sangat profesional dan memiliki skill tinggi. Yang selalu menampilkan yang terbaik dan berkelanjutan adalah Jon Dahl Tomasson. Ia berada pada masa sulit karena harus bersaing dengan penyerang-penyerang berkelas dunia. Situasi yang tidak mudah, tapi ia tidak pernah menyerah dan selalu memanfaatkan kesempatan yang didapat."

Begitulah komentar dari pelatih sukses Milan, Carlo Ancelotti tentang Jon Dahl Tomasson, penyerang asal Denmark yang memperkuat Milan pada tahun 2002 hingga 2005. Komentar tersebut memang menyimpulkan perjalanan karir Tomasson selama bermain di Milan, di mana ia lebih banyak bermain sebagai pemain pengganti karena harus bersaing dengan nama-nama besar macam Andriy Shevchenko dan Filippo Inzaghi.

Nama Tomasson mungkin akan dengan mudah dilupakan oleh penggemar Milan. Larinya tidak secepat Sheva, gocekannya juga tidak semenawan Rui Costa. Namun jangan lupakan fakta bahwa selain harus bersaing dengan Sheva dan Pippo, ia juga tidak bermain di posisi idealnya semasa bermain di Rossoneri. Sebelumnya, Tomasson lebih banyak bermain sebagai gelandang serang atau penyerang kedua.

Sedikit flashback, The Next Michael Laudrup adalah julukannya ketika ia masih bermain di Belanda bersama Heerenveen. Julukan yang membandingkannya dengan gelandang serang legendaris Denmark ini merujuk pada kemampuan istimewanya dalam mengolah bola, visi bermain, dan keahliannya dalam mencetak gol-gol indah.

Dalam sebuah pertandingan saat masih bermain di Heerenveen, Tomasson pernah mencetak gol seperti yang biasa dilakukan Lionel Messi pada masa sekarang. Saat timnya melakukan serangan balik, Tomasson yang mendapat bola dari garis tengah lapangan langsung menggiringnya dengan cepat ke arah gawang lawan. Melihat kiper yang menghadang, Tomasson mencungkil bola dengan kaki kirinya melewati kepala sang kiper.

Kecemerlangan di Belanda membawanya sejajar dengan Patrick Kluivert, Gerald Sibon dan Roy Makaay dalam persaingan memperebutkan pencetak gol terbanyak. Hal ini menjadikannya diincar banyak klub, dan pada usianya yang belum genap 21 tahun, sang pemain menjatuhkan pilihan pada Newcastle United, klub yang kala itu cukup berkibar di Inggris di bawah asuhan Kenny Dalglish.

Newcastle mendatangkannya dengan mahar 3,9 juta euro. Di Toon Army, ia diproyeksikan untuk bermain sedikit di belakang bomber andalan, Alan Shearer. Segalanya berjalan begitu baik ketika dalam laga pramusim, keduanya tampak serasi. Namun kemudian Shearer mengalami cedera yang cukup parah sehingga harus lama beristirahat. Untuk menggantikan peran Shearer, Dalglish memasang Faustino Asprilla, penyerang eksentrik asal Kolombia.

Malang tidak dapat ditolak karena Asprilla kemudian menyusul Shearer ke meja perawatan. Stok penyerang Newcastle tinggal menyisakan Ian Rush, sang veteran yang telah melewati permainan terbaik. Dalglish pada akhirnya meminta Tomasson untuk bermain sebagai ujung tombak, hal yang malah menurunkan standar permainannya karena ia tidak ditunjang fisik yang mumpuni untuk menjadi penyerang tengah di Liga Inggris.

“Saat dua penyerang utama cedera, seseorang harus maju menggantikannya, dan saya adalah orang tersebut. Ini bukanlah posisi natural saya, dan hasilnya sangat terlihat jelas. Ketika bermain sebagai gelandang serang, saya mencetak gol, tapi tidak ketika menjadi penyerang. Saat Shearer kembali, saya kehilangan tempat. Lalu Dalglish menempatkan saya di bangku cadangan, bahkan kadang di bangku penonton,” ujarnya.

Tomasson menyelesaikan musim dengan hanya mencetak tiga gol dalam 23 penampilan. Ia meminta klub untuk menjualnya, dan kebetulan Feyenoord datang mengajukan penawaran. Di kota Rotterdam, ia kembali menemukan kenikmatan bermain sebagai gelandang serang. Berkat kontribusinya, Feyenoord keluar sebagai juara Eredivisie, di mana 13 gol berhasil disumbang. Tiga musim berikutnya dijalani dengan sumbangan dua digit gol setiap musim, termasuk mengantar Feyenoord ke tangga juara Piala UEFA tahun 2002.

Usai kesuksesan ini, Tomasson menolak tawaran perpanjangan kontrak dan merasa sudah siap menjalani tantangan baru di panggung yang lebih besar. Tawaran datang dari Milan, dan ia tidak kuasa menolak kesempatan besar ini. Namun sayangnya, slot untuk gelandang serang sudah terisi penuh oleh Rui Costa, Clarence Seedorf dan Rivaldo. Ancelotti lebih menyukai ide untuk menjadikannya pelapis bagi Sheva dan Inzaghi.

Kejadian ini bagaikan deja-vu karirnya di Newcastle, namun kali ini Tomasson menolak untuk menyerah. Belajar dari pengalaman, ia dengan sabar menunggu giliran bermain, lalu mencoba memukau Ancelotti di setiap kesempatan. Kesabaran sang pemain berbuah hasil, karena meski jarang bermain penuh, ia kerap mencetak gol-gol penting. Golnya ke gawang Ajax Amsterdam pada menit terakhir babak perempat final Liga Champions menentukan kemenangan Milan, dan diklaimnya menyelamatkan Ancelotti dari ancaman pemecatan. Di tahun ini pula Milan berhasil menjuarai Liga Champions.

“Dia akan dipecat jika gagal membawa Milan ke semifinal, gol saya menyelamatkannya,” kenangnya.

Musim berikutnya, Ancelotti memberi kesempatan lebih kepada Tomasson, dan hasilnya amat positif: 12 gol di ajang Seri A, termasuk masing-masing ke gawang Juventus dan Inter Milan. Kontribusi ini turut membawa gelar scudetto pada Milan musim 2003-04. Namun sayangnya, inilah tahun terbaik Tomasson di Milan.

Musim selanjutnya, Tomasson kembali banyak menghuni bangku cadangan, terlebih saat Milan meminjam Hernan Crespo dari Chelsea. Ia akhirnya dijual ke Vfb Stuttgart dengan nilai 7,5 juta euro. Milan jelas beruntung, baik secara finansial maupun prestasi berkat Tomasson. Ia hanya semusim bermain di Stuttgart sebelum hijrah ke Villareal dan kemudian kembali ke Feyenoord, tempat mengakhiri karir.

Tomasson adalah contoh pemain dengan bakat besar yang kurang mendapat penghargaan, meski akan terlalu berlebihan pula jika kemampuannya patut dijajarkan dengan pemain seperti Rui Costa atau Shevchenko. Namun sekali lagi, pemain dengan kepribadian seperti Tomasson tidaklah mengeluh dan protes seperti anak kecil. Peran sebagai penyerang tengah pun dilakoni dengan baik, sebagai bukti bahwa ia rela berkorban untuk tim. 

Bersaing dengan nama-nama besar pun tidak membuatnya berkecil hati. Ia mampu berperan sama baik ketika menjadi 'ikan besar di kolam kecil' atau ketika terpaksa menjadi 'ikan kecil di kolam yang besar'. Sebuah sikap seorang profesional sejati yang dengan tepat telah digambarkan oleh Ancelotti dalam penuturannya di awal tulisan ini.

Lihatlah rekaman gol-gol Tomasson ketika bermain di Milan, lalu bandingkan dengan gol-golnya ketika bermain di Feyenoord atau timnas Denmark. Di Milan, gol-golnya begitu khas penyerang klasik: meneruskan bola muntah atau  menuntaskan umpan silang dengan simple tap-in, berbeda dengan gol-golnya saat ia bermain sebagai gelandang serang yang lebih bervariasi prosesnya. 

“Ia adalah seorang pemain besar dengan kepribadian yang baik, juga seorang team player sejati,” puji Morten Olsen, pelatih yang pernah menanganinya di timnas Denmark, di mana ia berhasil menyumbangkan 52 gol dari 112 penampilan

Torehan ini sekaligus menjadikan Tomasson sebagai pencetak gol terbanyak di timnas Denmark di era sepak bola modern. Poul “Tist” Nielsen juga mencetak 52 gol, namun ia melakukannya tahun 1910 hingga 1925. Meski tidak mampu memberi gelar pada tim nasionalnya seperti Michael Laudrup, dan juga tidak memiliki reputasi setinggi sang gelandang legendaris, namun setidaknya ia mampu menulis ceritanya sendiri lewat kesuksesan di level klub, gol-gol penting yang dicetak, serta totalitasnya sebagai team player.

No comments:

Post a Comment