Pages

Thursday, June 9, 2016

Italia Dengan Segala Keterbatasannya Di Euro 2016

 
Timnas Italia. Foto: Getty Images





Sudah sejak seminggu lalu pelatih Antonio Conte telah mengumumkan skuat timnas Italia. Banyak yang menyebut bahwa ini adalah salah satu skuat paling minim talenta yang pernah dibawa Gli Azzurri ke sebuah turnamen besar, dan karena alasan itu, Italia hanya pantas dipandang sebagai kuda hitam, bukan lagi unggulan. Apakah saya sependapat? Bisa ya dan tidak. 

Jika dikatakan 23 pemain yang dipanggil Conte begitu minim talenta dan nama besar, ya betul juga. Selain Buffon dan trio BBC (Barzagli-Bonucci-Chiellini), praktis tidak ada nama pemain-pemain Italia yang pantas muncul setidaknya sebagai 20 pemain terbaik dunia saat ini. Sebetulnya Marco Verratti dan Claudio Marchisio boleh jadi pantas masuk daftar, tetapi sayangnya mereka menderita cedera.

Hilangnya Verratti dan Marchisio jelas sebuah pukulan besar. Pasalnya, mereka berdua boleh dikata sebagai yang terbaik di posisi gelandang Italia saat ini. Verratti mampu menjadi roh permainan skuat bertabur bintang Paris SG, sementara Marchisio memotori kebangkitan Juventus sejak putaran kedua kompetisi Seri A Italia musim ini, sekaligus melepas ketergantungan Juve pada sosok Andrea Pirlo yang telah hengkang ke kompetisi MLS.

Tanpa keduanya, Conte memanggil Daniele De Rossi dan Stefano Sturaro. De Rossi dihadirkan kembali setelah dalam dua tahun terakhir hanya dua kali memperkuat Gli Azzurri untuk mengisi posisi sentral yang ditinggalkan Verratti, sementara Sturaro disiapkan sebagai pelapis Thiago Motta, Marco Parolo dan Alessandro Florenzi. Padahal untuk memercikkan kreativitas, Conte masih bisa memanggil Giacomo Bonaventura, Franco Vazquez atau Jorginho, yang musim ini begitu memukau bersama Milan, Palermo dan Napoli, atau bahkan memanggil kembali Pirlo.

Dengan minimnya talenta, kreasi, fantasi sekaligus pengalaman, saya jadi merasa dejavu dengan situasi skuat Italia pada Piala Dunia 2010. Saat itu, pelatih Marcello Lippi begitu percaya diri dengan tidak menyertakan pemain-pemain bertalenta seperti Antonio Cassano dan Fabrizio Miccoli meski saat itu permainan keduanya tengah cemerlang. Lippi memiliki pandangan sendiri, bahwa tidak dipanggilnya Miccoli adalah semata alasan teknis, sementara Cassano ditinggalkan karena memiliki perangai buruk.

Semua sudah tahu bagaimana hasil Italia di Piala Dunia yang diselenggarakan di Afrika Selatan itu. Italia tidak mampu mengalahkan Paraguay, Selandia Baru dan Slowakia, dan akhirnya gagal lolos ke babak 16 besar. Saat itu Italia terlihat begitu sulit menembus lawan yang bermain bertahan. Ketiadaan sosok playmaker kreatif membuat serangan negeri Peninsula begitu monoton dan mudah dipatahkan. 

Bukannya bermaksud mengatakan situasi 2010 sudah pasti berulang di Piala Eropa 2016 ini. Meski tanpa para ‘pemikir’ di lapangan tengah, timnas Italia asuhan Conte jelas masih berpeluang untuk memberi kejutan. Conte begitu menitikberatkan mental dan karakter alih-alih talenta, dan hasilnya Italia ala Conte sulit dikalahkan, meskipun tidak dapat dikatakan impresif karena selama babak kualifikasi, hanya sekali saja mereka berhasil mencetak lebih dari dua gol, yaitu kala bertandang ke Azerbaijan.

Italia tetaplah Italia. Langkah mereka tetap sulit ditebak. Jika diremehkan, biasanya mereka malah tampil impresif. Jika keberangkatan diiringi banyak persoalan, mental juara mereka akan terlecut untuk kemudian mengejutkan banyak orang. Dari dulu, Italia memang selalu melahirkan cerita tersendiri setiap kali memenangkan kejuaraan. Silakan baca sendiri kisah mereka tahun 1930, 1934, 1982 dan 2006.

Tetapi, tradisi ini sepertinya hanya berlaku bagi Italia di ajang Piala Dunia. Justru di ajang Piala Eropa, Italia sepertinya kurang bersinar. Mereka hanya mampu memenangi sebuah trofi, yaitu tahun 1968, dan hanya dua kali meraih posisi runner-up yaitu tahun 2000 dan 2012. Kemenangan tahun 1968 pun didapat pada saat klub-klub asal Italia merajai kompetisi Eropa. Dalam dekade 60an tersebut, duo Milan dan Inter masing-masing memenangi dua gelar Piala Eropa (sekarang Liga Champions). Pemain-pemain yang menghuni skuat Azzurri pun banyak disumbang duo klub kota mode seperti Gianni Rivera, Sandro Mazzola atau Giacinto Facchetti. Keadaan yang begitu jauh berbeda dengan sekarang. 

Kini, skuat Italia dapat dikatakan hanya mengandalkan kokohnya pertahanan. Tetapi faktor ini dapat menjadi pembeda. Seperti pernah diungkapkan pelatih legendaris Sir Alex Ferguson, “Attack wins you games, defence wins you titles”. Dalam pertandingan-pertandingan turnamen yang berjalan ketat, pertahanan yang kuat dapat memberi perbedaan hasil pertandingan. Andai Buffon dan trio BBC terus fit sampai akhir turnamen, Italia jelas memiliki harapan. Conte sudah begitu mengenal mereka dan tahu betul cara memaksimalkan keempatnya.

Hal yang cukup mengkhawatirkan terlihat di barisan gelandang dan penyerang. Selain minimnya sosok kreatif, para gelandang ini juga kurang berpengalaman. Hanya De Rossi dan Candreva yang memiliki catatan caps di atas 30. Sementara di barisan penyerang, tidak ada di antara nama Graziano Pelle, Simone Zaza, Eder, Ciro Immobile dan Lorenzo Insigne yang bahkan sudah mengumpulkan 15 caps! Terhadap fenomena ini, Conte memang tidak banyak pilihan. Italia memang sudah cukup lama tidak memiliki lini depan menakutkan pasca era Christian Vieri, Filippo Inzaghi dan Alex Del Piero. Namun sebetulnya Conte memiliki pilihan untuk memanggil Domenico Berardi, Nicola Sansone atau Andrea Belotti, tiga penyerang muda berbakat demi kepentingan regenerasi.

Akan sampai di mana perjalanan timnas Italia? Sekali lagi, hasil pertandingan sepak bola antara tim mana pun tidaklah dapat ditebak. Sepak bola dapat dikatakan sebagai olahraga yang penuh faktor kejutan. Tim terbaik tidak selalu menang, dan keberadaan pemain-pemain terbaik bukanlah jaminan juara. Kokohnya pertahanan Italia dapat menutupi kelemahan yang mencolok di lini depan. Saya pun akhirnya setuju bahwa dengan segala keterbatasan, Italia setidaknya memiliki kapasitas untuk dapat merepotkan tim-tim unggulan seperti Prancis, Jerman, Spanyol atau.. well.. Inggris.