Pages

Wednesday, February 12, 2014

Tim Nasional U-19 Menapaki Jalan Menuju Tim Nasional Terbaik

Menyaksikan laga tim nasional U-19 tidaklah seperti menyaksikan tim nasional Indonesia, begitulah ungkapan banyak orang. Tidak sekadar memberikan gelar Piala AFF U-19 dan melaju ke putaran final Piala Asia termasuk di dalamnya mengalahkan Korea Selatan, namun juga penyajian permainan cantik.

Permainan cantik, jika ingin dijabarkan secara spesifik, berarti memainkan sepak bola dengan benar dan mampu mengikuti perkembangan (taktik) zaman. Jika pada era 90an pola playmaker nomor 10 dan striker nomor 9 begitu meraja, kini perkembangan taktik membuat permainan sepak bola terlihat lebih kolektif, meski tidak sedikit yang menilainya lebih rumit.

Sepak bola sejatinya sejak dulu amat memperhatikan ruang dan jarak. “Sepak bola adalah seni memanfaatkan ruang.” Tegas penulis buku Inverting The Pyramids: The History of Football Tactics, Jonathan Wilson. Menurut sejarahnya pula, perumus ahli taktik pada awal peraturan sepak bola dirumuskan juga berasal dari Inggris. Ada yang mengatakan bahwa ahli taktik sepak bola juga menguasai ilmu pengetahuan lainnya seperti matematika dan arsitektur. Arsitektur? Iya benar. Memang masuk akal karena ilmu arsitektur juga mempelajari tentang ruang.

Jimmy Hogan adalah seorang pelatih kelahiran Inggris yang banyak menghabiskan hidupnya di Eropa Tengah. Ia tidak asing dengan budaya perbincangan sepak bola kafe ala Austria, dan ia juga berteman akrab dengan Hugo Meisl, pelatih legendaris yang menyutradarai kelahiran The Wunderteam Austria. Kombinasi Meisl bersama Hogan melahirkan tim yang amat cepat dalam memainkan bola, tidak banyak melakukan dribble percuma, juga tidak banyak melepas umpan panjang.

Hasil kerja dua orang inilah yang kemudian banyak menginspirasi pelatih-pelatih besar lainnya untuk melahirkan tim-tim terbaik. Il Grande Torino tahun 1940an, Hungaria tahun 1954, Brasil tahun 1962, Belanda tahun 1974, Ajax Amsterdam tahun 1970an, AC Milan tahun 80an, hingga Barcelona era kekinian adalah tim-tim yang dipandang terbaik dunia baik dari sisi permainan maupun pencapaian.

Kembali ke konteks tim nasional Indonesia U-19, memang terlalu naif jika hendak membandingkan tim ini dengan para tim terbaik. Namun setidaknya –dalam level yang berbeda- tim ini telah melakukan pendekatan permainan yang tepat untuk menjadi tim hebat –setidaknya tim nasional yang hebat untuk ukuran Indonesia- dan syukur-syukur menapak naik level Asia.

Salah satu panutan saya menulis sepak bola, Hedi Novianto telah dengan bernas mengupas ciri permainan tim nasional U-19 dalam esainya di situs Goal Indonesia. Ia menggambarkan pendekatan permainan anak asuh Indra Sjafri yang amat memperhatikan jarak antar pemain baik ketika menguasai bola maupun ketika bola dikuasai lawan.

Trio gelandang Hargianto-Zulfiandi-Evan Dimas disebutnya spesial karena kerap membentuk segitiga untuk menjaga jarak agar saat salah satu dari mereka menguasai bola, posisi tidak merenggang sehingga terhindar dari situasi harus mengumpan panjang.
Pemahaman taktik dan posisi sebetulnya hal lumrah ketika kita bermain bola. Seringkali pelatih kita berteriak “Deketin temennya! Jangan nunggu!” dengan maksud menginstruksikan pemainnya untuk menjaga zona permainan, mempertahankan bentuk formasi dan intensitas umpan pendek agar bola tidak mudah direbut lawan.

Serangan juga dibangun dari belakang. Ketika penjaga gawang menguasai bola, ia tidak langsung melepas tendangan gawang ke tengah, melainkan mengoper kepada bek terdekat. Di sinilah peran bek sebagai ball player mutlak diperlukan. Seorang bek handal memang tidak hanya dituntut untuk asal main gaprak, tapi juga harus bisa menjadi pengumpan yang baik dan tenang dalam menguasai bola. Apalagi dengan sistem zonal, garis pertahanan memang tinggi, tidak heran jika atribut pemahaman posisi mutlak diperlukan bagi tim U-19.

Tim  U-19 bagaimanapun belum teruji hingga level kontinental. Piala Asia Junior yang akan berlangsung akhir tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagaimana tim ini menghadapi lawan yang level permainannya setara, bahkan lebih baik. Tim nasional Korea Selatan U-19 yang dikalahkan tempo hari memang sedang mengalami penurunan kualitas, sehingga mengalahkan mereka bukanlah ukuran kekuatan yang pas.

Satu hal lagi, tim ini masih belum teruji pemain pelapisnya. Jika salah satu trio lini tengah absen (apalagi Evan Dimas), maka kualitas permainan tim nasional sudah pasti menurun drastis. Tim ini masih harus mencari plan b atau alternatif lain jika para pemain utamanya absen.


Selain itu, kompetisi junior yang belum memadai turut menjadi penghalang, meskipun pelatnas jangka panjang telah digelar. Menghadapi negara lain dengan kompetisi yang lebih rapi dan terstruktur, bukan tidak mungkin euforia yang telah terbentuk dan asa yang telah terlanjur tertanam akan hilang tanpa bekas di tanah Burma, dan lagu-lagu sumbang siap berkumandang.