Pages

Monday, February 25, 2013

Stramaccioni Did it Again

Not a good day for Super Mario


The optimistic has been high above the sky in Milanello, as they beat the world greatest team Barcelona few days back in Champions League first knock out stage. They then faced the derby della madonnina with full of confidence against the under-perform, Internazionale Milan.

Milan fielded their best available Starting XI. Constant, Ambrosini, and Pazzini who became starter at Barcelona game replaced by De Sciglio, Nocerino and Balotelli respectively. While Inter using 4-4-2 formation with Cambiasso and Gargano played as double-pivot midfielder supported Ricky Alvarez and Fredy Guarin as paired attacking midfielder. Cassano and Palacio played up front, but practically they played wide. Andrea Ranocchia managed to play although he has to deal with his injury.

That optimistic was justified at the first half of the match in San Siro. Mario Balotelli, who is cup-tied and fully fit because of didn’t play against Barcelona, was being a constant threat for Inter defense. He was menacing with his header, free kick, and he managed to create chances for his team mates. If it had not been Samir Handanovic, Milan would have led by two goals or three in first 45 minutes.

Inter also showing poor defenses. Goal from El Shaarawy came from mistake by the Japanese Yuto Nagatomo, who didn’t track the Italian young striker who burst the through ball and then beat Slovenian international with a good strike. Milan was superb at first half, they dominated the possession and attack from both wings. El Shaarawy combined well with De Sciglio. The 20 year old defender, who is naturally a right full back did well as a left back both attack and defense. It looks like Nagatomo could not cope them both. However, only one goal ahead is a slender lead.

Only a goal conceded from many chances created was good enough for Nerazzuri. They had their time fixing everything in the next 45 minutes. Stramaccioni did well in the dressing room, he showed his great tactical ability by switching Nagatomo with the captain Javier Zanetti. The 39 year old Argentinian never looked old anyway. He’s still got pace and strength to limit El Shaarawy’s movement. While Nagatomo use his attacking ability to limit Abate’s threat from the right side.

Fredy Guarin also deserved credit. The Colombian midfielder showed his ability to be a playmaker, but unlike Wesley Sneijder and Philippe Coutinho, he also have a good defensive awareness. He tracks back and interrupt Montolivo in the heart of Milan’s midfield. He’s got a good pace, strength and sometime he threat with his shot. At one moment, he almost get the equalizer when he flick the cross from the right, but Abbiati’s full stretch save thwart the goal.

Stramaccioni then put Ezequiel Schelotto for Cambiasso. It was a brilliant substitution as the Italian international combine well with Zanetti to give more pressure to El Shaarawy and De Sciglio. His pace, cross and movement were what Inter need. The magic moment came just a few minutes after he’s coming. A good cross from Nagatomo could not reached by Mexes, then Schelotto in the right time and the right place headed the ball straight to the right corner of Abbiati’s goal.

That goal gave a glimmer of hope for Il Biscione. With the crowds behind them they keep on controlling the game. Strama then made another two substitutions. Kuzmanovic and Chivu came on for Alvarez and Nagatomo. Kuzmanovic’s excellent ball control kept Nerazzuri’s possession. He also initiate the attack, distribute well and give cover to defense.

Allegri then made 3 substitutions in last 10 minutes. Niang, Bojan and Ambrosini came on for Boateng, El Shaarawy and Muntari. It may be too late as both Bojan and Niang didn’t give their impact as a game changer. Inter’s confident was too high and their defense has been in a formidable form. A few dribble attempt by Bojan to get pass Zanetti ended miserably as the Nerazzuri captain did well to close down the ex Barcelona forward.

Milan’s inability to end the game more quickly is the key for Inter’s turnaround. A fine display by Samir Handanovic was the inspiration and for that he deserves a man of the match. Balotelli's failure to find a net was also the cause of this result. The striker has tried everything, but ended without scoring. The moment when he kicked the goal post at the first half has showed enough his frustation. 

The tactical change and the inspired substitution performed by Stramaccioni also important. Milan need to be more clinical on their attack, they need to score more goals in first half because defending one goal is too hard for them. The derby game itself has never been an easy game. It was a high tension, many cards shown by the referee. It was a hard game, and never meant to be an easy one. Milan has never beaten Inter in last 4 matches. Under Stramaccioni, Inter won 2 times and manage to get 1 draw. A good record for the young coach.

Saturday, February 23, 2013

Jelang Derby Milano: Bahayanya Euforia


Kemenangan atas Barcelona mungkin membuat beberapa Milanisti tidak bisa tidur beberapa hari ini. Mereka sibuk membicarakan kemenangan ini dengan semua orang hingga mulut mereka pegal. Belum lagi, kemenangan ini seolah menegaskan bahwa tim ini telah bangkit dan kembali ke jajaran tim elit di Eropa, tidak hanya di Italia.

Sanjungan, pujian dan pembahasan luas dari berbagai media memang konsekuensi logis dari sebuah kemenangan sensasional. Percayalah bahwa Seri A akan kembali dilirik orang setelah ini, alih-alih terus menonton liga mainstream EPL. Bagaimana tidak, Milan mengalahkan tim terbaik di dunia dengan mutlak, baik dari segi skor maupun permainan di lapangan. Logika sederhananya, Milan dapat mengalahkan siapapun jika telah mengalahkan tim terbaik dunia.

Tetapi sayangnya, sepak bola jauh dari logika sederhana. Sepak bola tidak sesederhana itu, sepak bola lebih dari soal hidup dan mati jika meminjam kata-kata Bill Shankly. Sepak bola tidak mengenal keabadian, dan jika taktik Milan kelak akan menjadi referensi tim-tim lain untuk menjungkalkan Barcelona, ini mungkin akan mengakhiri sebuah hegemoni dari klub raksasa Catalan yang dalam beberapa tahun kebelakang seperti mengajarkan dunia bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan itu.

Barcelona tidak pernah memiliki standar baik atau buruk, tidak mengenal hari baik atau buruk. Yang menjadi standar mereka adalah mengumpan bola dengan cepat, menguasai laga, melakukan pressing ketat kepada lawan yang menguasai bola, mencetak gol sebanyak-banyaknya, bahkan jika perlu berbuat curang di lapangan.

Namun Milan memberi mereka hari yang buruk untuk pertama kalinya. Ini adalah kali pertama sepanjang pengamatan saya Barcelona kalah segalanya dan mati kutu dalam sebuah pertandingan. Ketika untuk pertama kalinya kalah di La Liga musim ini dari Real Sociedad, Lionel Messi berkomentar diplomatis bahwa “memang ini saatnya Barcelona kalah.” Yang bisa diartikan bahwa Barcelona tidak terpukul-terpukul amat atas kekalahan itu. Ini sangat berbeda dengan kekalahan atas Milan yang langsung disambut masygul oleh para punggawa mereka. Gerard Pique berkomentar bahwa akhirnya orang menyadari bahwa Barcelona memang tidak bagus-bagus amat dan bisa juga kalah, sementara Daniel Alves mengimbuhi bahwa Barcelona memang tampil buruk.

Tampil buruk itulah yang tidak biasa dari Barcelona. Sistem permainan mereka sudah terlalu canggih hingga ruang untuk tampil buruk dan melakukan kesalahan sangat minim. Faktanya adalah Allegri mampu menerapkan taktik brilian yaitu menutup segala ruang ekspresi para Cules, yang akan membatasi ruang gerak mereka.

“Kalo kata Jonathan Wilson, sepak bola adalah memanfaatkan ruang.” Begitu ujar rekan saya suatu kali. Allegri berhasil memanfaatkan ruang-ruang kosong yang ditinggalkan oleh Jordi Alba dan Daniel Alves untuk mengiris pertahanan Barcelona yang tinggal menyisakan Puyol dan Pique, serta dibantu bek komplementer Sergio Busquets. Dengan kecepatan yang dimiliki El Shaarawy, Boateng maupun Niang dan klinisnya penyelesaian kaki kiri Boateng dan Muntari, Milan sukses menenggelamkan Barca.

Rangkaian cerita yang bagaikan dongeng itu tidak akan mudah dilupakan, dan dongeng itu akan coba dilanjutkan Milan dalam pertemuan derby akhir pekan ini menghadapi Inter. Inter adalah tim yang kondisinya bertolak belakang dengan Milan. Entah apa yang terjadi dengan manajemen mereka, pemain-pemain bagus terus dilepas. Coutinho, Longo, dan Marko Livaja yang justru tenaganya bakal dibutuhkan seiring cedera panjangnya Diego Milito malah mereka lepas.

Mereka malah mendatangkan pemain-pemain berumur di awal musim. Cassano yang sudah 30 tahun, Gaby Mundigayi yang sudah 31 tahun, bahkan Tomasso Rocchi yang sudah jarang bermain di Lazio mereka datangkan. Fenomena revolusi setengah hati dari manajemen Inter inilah mungkin yang menjadi alasan penurunan performa mereka belakangan ini.

Inter seperti tidak beruntung karena disaat performa mereka sedang buruk-buruknya, mereka harus melakoni partai derby melawan tim yang sedang on-fire. Namun sekali lagi saya bilang, tidak ada logika yang sederhana dalam sepak bola. Terlebih ini adalah partai derby penuh gengsi yang membelah kota Milan menjadi merah dan biru.

Inter memang seperti mencari gara-gara dengan menggunakan warna merah pada kostum away mereka. Entah maksudnya apa, namun hal itu seperti menunjukkan betapa mereka sangat percaya diri bahwa merekalah kini penguasa kota Milan. Memang, lemari trofi mereka lebih penuh ketimbang Milan jika melihat pada kondisi lima tahun kebelakang. Bara api kembali ditimbulkan dengan kepindahan Cassano dari Milanello ke Appiano Gentile seraya menyebut Inter adalah klub yang menjadi impiannya sejak kecil.

Belum dingin bara tersebut, Milan membalas dengan merekrut eks pemain mereka, Balotelli. Balo yang cuma mencetak sebuah gol dalam rataan tiga pertandingan di Inter (maupun di Manchester City) kini seolah menemukan rumahnya di Milan. Balo berubah menjadi lebih dewasa dan juga lebih tajam bersama klub idamannya ini. Balo is coming home. Akan menarik menantikan bagaimana sambutan Interisti pada eks pemainnya ini, sebagaimana sambutan Milanisti pada Cassano di pertemuan pertama.

Partai derby Milano ini tentu tidak akan mudah bagi Milan. Ingat, tiga laga terakhir derby kesemuanya dimenangi Inter, dan mereka memenanginya di saat kondisi terakhir mereka juga sedang tidak lebih baik dari Milan. Kita bisa mengenyampingkan kondisi dan statistik terakhir jika menyangkut derby. Lebih spesifik lagi, Stramaccioni selalu menang dalam dua pertemuannya dengan Allegri.

“Kami tidak akan tampil seperti ini saat menghadapi Milan.” Tegas kapten Javier Zanetti sesaat setelah mereka ditaklukkan Fiorentina 1-4 pekan lalu. Ini seperti menjadi alarm bagi Milan untuk memberikan fokus mereka seutuhnya pada laga ini, dan secepatnya melupakan kemenangan lawan Barcelona.

“Euforia ini sebenarnya berbahaya. Kemenangan lawan Barcelona memang fantastis, namun kami sesungguhnya belum meraih apapun,” tegas Philippe Mexes, pemain yang di lapangan kadang lebih banyak mengoleksi kartu ketimbang mengamankan pertahanan. Ucapan Mexes tadi seperti membawa Milan kembali ke bumi dan tidak terbang terlalu lama, karena Inter bisa saja menemukan kebangkitannya di partai ini.

“Tidak ada yang bisa diprediksi dari partai derby.” Demikian ditutup oleh Mattia De Sciglio. Milan harus menaruh respek pada Inter, karena bagaimanapun juga jurang poin yang memisahkan mereka tidaklah dalam. Inter berada di posisi 5 dan hanya tertinggal 2 poin dari Milan. Kemenangan dalam derby ini tentu otomatis membawa mereka menyalip Milan. 

Jangan pernah berharap tifosi Inter memasuki lapangan dan lalu berteriak "Basta!" atau "Cukup!" ketika mereka sudah tertinggal lima gol dari Milan. Dengan segala hormat pada Inter yang hebat, momen itu memang orgasmik, namun percayalah bahwa itu sulit untuk diulangi lagi.

Thursday, February 21, 2013

The Under-estimated menjawab!


Diremehkan adalah salah satu perlakuan paling tidak enak dalam hidup. Namun dari perlakuan itu, manusia sebenarnya memiliki dua pilihan, merasa frustrasi lalu menyerah atau merasa kesal lalu bangkit untuk menunjukkan betapa salahnya orang itu menilai kita.

Semalam, Milan menunjukkan bahwa mereka memilih yang kedua. Milan adalah tim yang diremehkan, pemain-pemain mereka diremehkan, pelatih mereka juga diremehkan. Tidak ada yang berani mengunggulkan mereka dalam menghadapi Barcelona, tim yang dianggap terkuat di dunia saat ini, meski pertandingan berlangsung di San Siro.

Bagaimana tidak diremehkan jika komentator terus saja salah menyebut nama Stephan El Shaarawy, padahal pemain ini adalah salah satu bakat terbesar dunia sepak bola saat ini dan telah menyumbang 15 gol di Seri a. Sangat jelas bahwa kompetisi liga Italia saat ini memang bukan menjadi tontonan mainstream.

Belum lagi jika menyebut pelatih Max Allegri. Saya menjadi bahan tertawaan suporter klub rival ketika menyebut bahwa Allegri adalah calon pelatih terbaik Italia tahun ini. Nyatanya semalam strategi dan pilihan pemain dari Allegri jugalah yang memberikan kemenangan yang akan sulit dilupakan ini.

Coba simak saja twit dari para pundit sepak bola ternama yang menyanjung Allegri atas kemenangan dua gol tanpa balas yang sensasional ini.
Pujian dari master sepak bola Italia

Pujian dari jurnalis sepak bola Italia

Pujian dari jurnalis ESPN

And here we go, pujian dari jurnalis dan penulis yang juga seorang... Juventini!

Menarik pula menunggu reaksi Presiden Silvio Berlusconi, orang yang tidak mendukung sang pelatih untuk menukangi tim yang telah dimilikinya. Kini tepat 27 tahun peringatan kepemilikannya atas Rossoneri, Allegri memberikan kado yang sangat spesial sekaligus pembuktian elegan pada eks Perdana Menteri Italia itu.

Milan sungguh bermain mengagumkan, bahkan suporter netral maupun superter Barcelona juga mengakuinya. Pertahanan mereka tampil disiplin dan nyaris tanpa cela. Mereka juga berhasil mengisolasi sang alien, Lionel Messi hingga La Pulga nyaris tidak berkontribusi apa-apa sepanjang laga yang membuat San Siro full house ini. 

Kedisiplinan ini memang memaksa Milan bermain dengan serangan balik, sesuatu yang sebetulnya bukan kebiasaan mereka. Penguasaan bola yang dipegang Barca hingga 70% seolah menunjukkan siapa yang lebih berpeluang menang di partai ini. Namun Milan bertanding layaknya petarung cerdik yang memang menunggu saat tepat sang lawan berbuat kesalahan.

Milan mencuri dua gol dengan klinis memanfaatkan kegagalam para pemain Barca mempertahankan ball possession. Di gol pertama, bola memang sempat mengenai tangan Cristian Zapata sebelum dihajar Boateng, namun wasit melihatnya sebagai tindakan yang tidak disengaja karena bola yang menuju tangan, bukan tangan yang sengaja mengenai bola. Selanjutnya proses gol kedua lebih elegan karena M'baye Niang mengawalinya dengan meliuk-liuk hingga membuat Carles Puyol tersungkur, Key passes yang kemudian ia berikan kepada El Shaarawy akhirnya diselesaikan dengan cantik oleh tendangan voli Sulley Muntari.

Catat, dua gol yang tercipta juga lahir dari pemain yang selalu diremehkan: Boateng dan Muntari.

Barca yg memang sudah kalah angin tidak mampu mencuri gol away sebagai bekal pertemuan di Camp Nou nanti. Milan kini diatas angin dan hanya butuh untuk tidak kalah lebih dari dua gol saja demi melaju ke perempat final. Segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Milan menunjukkan diri sebagai tim berpotensi dengan mengalahkan tim terbaik dunia. Jika akhirnya bisa menyingkirkan Barca, Milan akan menjadi kandidat serius juara turnamen ini dan mendapat respek dari semua pihak.

Apapun itu, ini adalah kemenangan bersejarah yang patut dirayakan dengan sukacita. Apapun hasil di Camp Nou nanti, Milan telah menunjukkan karakter juara yang membanggakan. Para penonton dari aliran mainstream akan mulai menonton laga-laga Seri A seperti dulu, dan mereka akan mulai menyisihkan uang untuk membeli jersey El Shaarawy agar tidak salah lagi menyebut namanya.

Monday, February 18, 2013

Bukan soal menjadi yang terbaik


Tidak ada hal khusus yang saya bisa soroti dari kemenangan ke 11 Milan dari 17 laga terakhir  lawan Parma selain permainan yang kurang memuaskan dari Rossoneri. Saya juga sudah mulai bosan mereview pertandingan Milan kali ini setelah sebelumnya juga absen memberi catatan pertandingan lawan Cagliari. Namun melihat sedikitnya tulisan soal kompetisi Seri a dan tentunya Milan di media, toh saya jadi merasa termotivasi untuk sedikit mengguratkan sedikit curhatan yang akan lebih terdengar seperti meracau ini.

Jika anda bukan penggemar Seri a, sebaiknya anda berhenti membaca posting ini dan ganti saja laman anda dengan berita bagaimana Real Madrid tertahan imbang oleh Manchester United, Arsenal yang lagi-lagi tanpa gelar, atau Liverpool yang tiba-tiba menang besar.

Oke, kembali ke lapangan (macam komentator tv aje). Milan yang bermain di San Siro tidak mampu mengembangkan permainan mereka dan mengkreasi peluang melawan Gialloblu. Memang Parma adalah tim yang sedang menanjak dan memainkan sepak bola yang bagus. Gabriel Paletta seolah menemukan permainan terbaiknya dan Ishak Belfodil adalah penyerang masa depan seri a.

Allegri menurunkan 4 pemain gelandang yaitu Montolivo, Muntari, Nocerino dan Boateng. Diatas lapangan, Boateng tampil di sisi penyerang sayap kiri yang biasanya dihuni si fenomenal Stephan El Shaarawy.

Jujur saja, saya lebih suka menyaksikan Milan yang bangkit sebelum Balotelli datang ketimbang sekarang. Milan dengan Balotelli ini seperti mengulang keadaan musim lalu ketika Zlatan Ibrahimovic masih bercokol di lini depan Rossoneri.

Balo mengambil eksekusi bola mati, mengalirkan bola dari tengah ke sayap, menahan bola, menyelesaikan peluang persis seperti apa yang Ibra lakoni selama menghabiskan dua musim di Milanello. Akibatnya, permainan Milan menjadi tidak sekohesif masa-masa Oktober hingga Desember lalu.

Milan memang meraih hasil-hasil menggembirakan, dan untuk itu saya tidak ragu mendaulat Max Allegri sebagai contender pelatih terbaik Seri a musim ini bersama nama-nama pelatih lain seperti Vladimir Petkovic yang stabil mengangkat Lazio ke papan atas Seri a dan melaju ke Final Coppa Italia atau Vincenzo Montella yang menjadikan Fiorentina sebagai penantang pemburu tiket Liga Champions setelah musim sebelumnya habis-habisan bertarung di zona relegasi.

Allegri adalah pelatih yang bekerja dibawah banyak tekanan. Ia dipaksa memainkan pemain yang seadanya (untuk ukuran Milan), merombak sistem permainan dan jangan lupa bahwa ia harus tetap mempertahankan lagi spirit menang sekaligus kekeluargaan bagi Rossoneri. Tidak peduli apa kata orang, saya lebih melihat bahwa Allegri telah dikuras kemampuannya sampai pada batas tak terbayangkan.

Anda tidak bisa menolak lupa bahwa eks pelatih Cagliari ini beberapa bulan lalu telah berada di ancaman pemecatan. Saat itu, Milan menghadapi kalender berat karena Napoli, Juventus dan Anderlecht sudah menunggu sebagai lawan. Nyatanya, Milan meraih dua kemenangan diantara 3 laga itu. Memang tactical failure sempat dilakukannya kala menghadapi Fiorentina di San Siro di periode itu, namun selanjutnya Milan dibawanya kepada identitas baru lalu kembali akrab dengan kemenangan dan perlahan tapi pasti posisi papan atas digapai.

Bukan perkara gampang melakoni start baik dengan tim yang habis dipreteli diawal musim seperti Milan. Saya memang sempat meragukan kapasitasnya. Berbagai kritik seputar pemilihan pemain, pemaksaan pola 4-3-1-2, hasil-hasil buruk melawan tim lemah, dipasangnya Boateng di pos penyerang sayap, seringnya terjadi pergantian kapten tim, permasalahan siapa duet terbaik di sentral pertahanan hingga keributannya dengan Pippo Inzaghi dan urgensi digelarnya ritiro di akhir pekan seolah menjadi santapan lezat para pengkritik. Mereka mengonfirmasi bahwa telah terjadi krisis di Via Turatti. Namun sang pelatih mampu melalui semua itu.

James Horncastle dalam tulisannya bilang bahwa Allegri bukanlah pelatih yang diinginkan Berlusconi. Opa Berlusconi yang keinginannya tidak boleh ditolak itu lebih menyukai Marco Van Basten, Frank Rijkaard, bahkan Roberto Donadoni untuk duduk ditemani Mauro Tassotti di bangku kepelatihan. Bahkan sampai ada isu bahwa Milan akan dijual ke keluarga Ferrero yang seperti memperlihatkan bahwa Berlusconi seperti sudah kehilangan selera mengurusi Milan.

Namun Allegri menjawab dengan hasil di lapangan. Dengan pemain-pemain non bintang yang dibekalkan kepadanya sebagai amunisi, ia mengubah taktik, keluar dari zona nyaman, mendengarkan masukan, mencoba segala kemungkinan hingga ia ajeg dengan pola 4-3-3. Penempatan Montolivo sebagai regista, Flamini sebagai enforcer dan Boateng bergantian dengan Nocerino sebagai mezz’ala dibantu agresivitas bek sayap dan dua penyerang sayap fit dengan kemampuan menyerang dan bertahan sama baiknya menjadi kunci permainannya kini.

Rangkaian hasil positif tadi membuat Berlusconi kembali turun gunung seperti seorang pembina Karang Taruna yang puas melihat anak-anak remaja binaannya bekerja dengan rajin. Berlusconi kembali mengeluarkan visi cita rasa tingginya dengan mencoba mendatangkan bintang. Berdalih romantisme, ia coba mendatangkan Kaka. Namun pada akhirnya pilihan jatuh pada Mario Balotelli, pemain yang sebelumnya ia pernah sebut sebagai “apel busuk”.

Romantisme toh masih ada. Catatan rekan saya di Bolatotal sungguh jelas memperlihatkan fragmen romantisme dalam sepak bola memang ada. Wujud seorang maverick seperti Balotelli tiba-tiba berubah menjadi figur seorang kakak bagi M’baye Niang. Balo dengan penuh wibawa dan tanpa menyombongkan diri menghampiri Niang sesaat setelah tendangan bebas berkelasnya menjebol gawang Parma. Niang yang sebelumnya gusar terlihat terhibur dan bisa menerima hal ini. Pemandangan seperti inilah yang sangat jarang terjadi dalam lapangan sepak bola, yang membuat para penonton yang meski hanya menyaksikan ribuan kilometer jauhnya dari kotak canggih bernama televisi turut tersenyum haru.

Berlusconi memang seorang raja yang perkataannya tidak boleh dibantah, namun tidak bisa dielakkan lagi bahwa ia jugalah yang menciptakan kultur la famiglia di Milan. Ketika Zlatan Ibrahimovic bertengkar dengan Oguchi Onyewu di sesi latihan, Adriano Galliani, si Ronald Weasley-nya Berlusconi dengan arif menyelesaikan permasalahan antara mereka berdua secara kekeluargaan alih-alih dengan hukuman denda atau skors. “Ini Milan, kita tidak melakukannya dengan cara ini.” Begitu ucap Galliani pada Ibra.

Allegri, bagaimanapun juga telah membuat Berlusconi kembali rela berkunjung ke Milanello juga menonton langsung ke San Siro seperti seorang Bapak yang menunggui anaknya di Taman Kanak-Kanak. Bagi Berlusconi, pemain bintang adalah solusi untuk menjadi tim super, tidak peduli ia didatangkan dari klub lain atau dari akademi sendiri. Mendatangkan Balotelli memang belum tentu mendatangkan kesuksesan, namun kehadirannya yang mengundang histeria tifosi adalah sebuah gerimis di musim kemarau. Balotelli sudah dijadikan simbol kebangkitan menuju dinasti Milan berikutnya, mengembalikan khitah Milan sebagai tim top dan sekaligus keluar dari jeratan finansial yang sempat membuat geger negeri peninsula ini.

Balotelli memang baru menaikkan penjualan kaus, juga baru memainkan tiga laga. Kehadirannya juga bisa memakan korban. El Shaarawy boleh jadi tidak setajam di paruh pertama, Pazzini boleh jadi akan manyun di bangku cadangan. Kedatangan Balotelli memaksa Allegri kembali pada situasi saat Ibra masih bercokol. Tugasnya kini adalah menemukan irisan antara visi kebintangan Berlusconi dengan visi The New Milan yang telah susah payah ia bangun selama ini.

Dan perdebatan mengenai apakah Allegri cocok menjadi calon pelatih terbaik rasanya sudah tidak relevan lagi. Terpilih atau tidak, ia tetap telah bekerja dengan baik tidak peduli tifosi berkata apa.

Tulisan ini saya tutup dengan dua kalimat.

Saya bukan pembela Allegri, tapi saya pencinta Milan yang selalu bilang bagus jika memang bagus dan jelek jika memang jelek.

Saya mungkin pencinta Milan, tapi jauh diatas itu saya pencinta sepak bola yang tidak memandang sepak bola hanya terpusat pada sebuah bendera klub.

Wednesday, February 13, 2013

Welcome to the Jungle, Blanco!

Djohar Arifin dan Luis Manuel Blanco. Photo by vivanews


Tidak ada ekspektasi tinggi saat saya menunggu pertandingan pertama tim nasional Indonesia di babak kualifikasi Piala Asia 2015 menghadapi Irak pekan lalu. Irak adalah juara Piala Asia 2007, dan seperti tim dari region Asia Barat pada umumnya, mereka memiliki keunggulan dalam segala hal atas Indonesia. Ya, tim Asia Timur juga selalu superior atas timnas Indonesia sih.

Anyway, pertandingan memang tidak berlangsung di kandang Irak karena alasan keamanan. Venue digeser sedikit ke tenggara tepatnya ke kota Dubai. Hal menarik dari pertandingan kemarin adalah banyaknya penonton wanita pendukung kesebelasan Irak yang justru terlihat modis dan gaya, jauh dari kesan tertutup yang sebelumnya terpapar. Meski stadionnya relatif kecil, hanya berkapasitas 18 ribu penonton, dan membuat syahdunya suara adzan maghrib menjadi terdengar membahana di tengah-tengah pertandingan.

Meski stadion Maktoum Bin Rashid Al Maktoum yang mungil itu tidak dipenuhi penonton, namun kenikmatan tersendiri tetap tersaji, baik yang menonton dari layar kaca, apalagi yang menonton langsung. Di samping “kualitas” penonton yang hadir, kualitas lapangan pertandingan juga sangat bagus. Tidak seperti saat menjalani laga uji coba lawan Yordania beberapa hari sebelumnya yang dilangsungkan di lapangan yang buruk, kualitas rumput lapangan di Stadion Maktoum Al Rashid kemarin sangat baik.

Lalu kita ke suporter. Meski berjumlah lebih sedikit, namun suporter Indonesia tetap mampu membuat orkestrasi khas suporter “Ayo Indonesia, kuingin kita harus menang” di beberapa momen. Menggambarkan betapa luar biasanya suporter dari negeri kita ini, tidak peduli carut marut yang melanda federasi.

Namun tidak ada yang lebih menarik ketimbang apa yang diperagakan pasukan merah putih di lapangan. Ketika traumatik masih melanda negeri ini pada pertandingan lawan tim-tim dari Timur Tengah –terlebih baru dibantai Yordania 0-5 beberapa hari sebelumnya- laga lawan Irak ini tidak lebih adalah laga di mana publik hanya berharap agar Indonesia tidak dibantai.

Ternyata, Indonesia memang tidak membiarkan diri dicabik-cabik oleh Irak. Dengan segala keunggulan dari banyak sektor –tidak hanya postur- para pemain Irak mencoba terus melambungkan bola ke kotak penalti Indonesia. Hingga satu jam pertandingan, pertahanan Indonesia nyatanya tampil disiplin dan sigap menghalau serangan-serangan Irak. Younis Mahmoud, striker andalan Irak itu bahkan beberapa kali terlihat frustasi.

Jika bukan karena passing ceroboh Handi Ramdan dan Wahyu Wijiastanto yang memang hanya segitu kecepatan larinya, Younis Mahmoud mungkin tidak akan membawa kemenangan bagi Irak, dan Indonesia dapat membawa pulang satu poin berharga.

Strategi bertahan yang dipilih Nil Maizar jelas pilihan bijak. Sangat tidak rasional meladeni permainan Irak dengan permainan terbuka padahal tim kita yang memang (lagi-lagi) bukan tim terbaik ini memang kalah kualitas dari Singa Mesopotamia. Indonesia kalah terhormat, meski kekalahan tetaplah kekalahan.

Sehari selepas pertandingan itu, tidak disangka-sangka Djohar Arifin mendatangkan Luis Manuel Blanco, pelatih asal Argentina. Tidak jelas kehadiran Blanco untuk menduduki posisi apa, yang jelas Blanco didatangkan tanpa mekanisme rapat Exco, sebuah mekanisme prosedural yang wajib dijalani jika ingin menunjuk pelatih tim nasional. Kedatangan Blanco banyak diprakarsai oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bulan lalu bertemu Presiden Argentina Christina Fernandez de Kirchner. Hasil pertemuan mereka ternyata tidak hanya membahas hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga membahas sepak bola.

Track record Luis Manuel Blanco tidaklah gemerlap untuk menjadi pelatih timnasi Indonesia sekalipun. Rekan saya di Football Fandom, Sirajudin Hasbi telah memaparkan profil Blanco di kolom olahraga Yahoo! Indonesia dan bagaimana hal ini menunjukkan ketidakjelasan program kerja PSSI untuk kesekian kalinya.

Belakangan, PSSI mengatakan bahwa mereka tidak serta merta memecat Nil Maizar, pelatih timnas sekarang. Entah nantinya sebagai apa Blanco bertugas, yang jelas penunjukan pelatih asing semacam ini seperti dijadikan pencitraan bagi PSSI bahwa mereka memang bekerja.

Kenyataan yang terlihat ternyata tidak seperti itu. Disaat jargon profesional mereka terus kumandangkan, pertunjukan manajemen amatiran justru yang terbongkar. Dari blog seorang eks Corporate Secretary PSSI, amatlah jelas bahwa orang-orang yang sebenarnya diharapkan untuk memperbaiki sepak bola nasional bukan hanya sibuk berpolitik dan memperebutkan kekuasaan, tapi juga bekerja seperti memanajeri sebuah tim kampung.

Dan yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana nasib Blanco kemudian harinya. Meski gajinya dikabarkan akan dibayar pihak ketiga, tidak menjamin bahwa Blanco akan dapat bekerja dengan tenang menjalankan program-programnya jika manajemen internal PSSI tidak diurusi dengan benar karena para pengurus sibuk dengan pencitraan dan perebutan kekuasaan.

Sudah banyak korban dari ketidakjelasan program PSSI ini juga dari rangkaian konflik norak ini, dan mereka itu umumnya orang-orang terbaik dan mencintai Indonesia lebih dari mereka. Timo Scheunemann, Alfred Riedl, dan kini mungkin Nil Maizar. Belum lagi jika kita mengingat Diego Mendieta dan Bruno Zandonadi.

Jika keadaan tetap seperti ini, Blanco mungkin akan memikul beban entah seberat apa untuk menjuarai SEA Games 2013, Piala AFF 2014 dan yang terdekat Kualifikasi Piala Asia 2015. Seperti yang pernah teman saya Saleh Assegaf bilang ketika ditanya mengenai apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki sepak bola Indonesia, marilah kita banyak berdoa saja.

Sunday, February 10, 2013

Pelajaran dari Milan Glorie: Antara Idola utopis dan Local Hero

Pemandangan yang so yesterday

Apa yang anda lakukan ketika melihat langsung sang idola? Meluapkan histeria? Membuka lebar-lebar sifat ekstrovert dengan menuliskan setiap detik momen itu di status social media? Turut mengantre acara meet and greet meski harga tiketnya tidak realistis?

Terserah. Semuanya sah-sah saja. Semua orang punya saat di mana dirinya dengan tulus terlihat rapuh dan merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan seorang manusia lain, dan rela melakukan apa saja demi pujaannya.

Andriy Shevchenko adalah salah satu idola saya dalam dunia sepak bola. Di antara tokoh-tokoh lain yang saya kagumi belakangan melalui proses pembelajaran dan pengalaman, Sheva termasuk paling awal karena sosoknya masuk hingga ke alam bawah sadar saya melalui gol-gol yang ia ciptakan dulu, dan membuat saya tidak malu hati untuk menjadi impostor dirinya ketika sedang bermain sepak bola seadanya bersama teman-teman.

Saya sebenarnya berksempatan untuk bertatap muka langsung dengan dia kemarin. Mungkin menanyakan satu-dua pertanyaan mudah yang pasti sudah biasa dijawab sang mantan bintang, juga berfoto bareng. Namun sebuah penawaran tiket yang terjadi di injury time menjadi tidak berarti karena saya sudah terlanjur memiliki agenda lain yang tidak bisa saya batalkan. Toh meski demikian saya tidak sampai meratapinya seperti ABG labil yang baru diselingkuhin selingkuhannya.

Saya lebih melihat Sheva sebagai pesepak bola, di luar itu saya melihatnya sebagai manusia biasa. Saya tidak sebegitunya ingin bertemu langsung, karena ekstasinya Sheva bagi saya adalah melihatnya langsung bermain bola dengan jersey tim sepak bola, bukan menjawab pertanyaan normatif setting-an dengan kostum kasual dan rambut yang ditata rapi.

Keinginan saya terwujud. Saya lihat Sheva memasuki lapangan, bermain dan mencetak gol melalui satu-satunya peluang gol yang ia dapatkan. Ini seperti bukti masih klinis dan dinginnya ia di depan gawang lawan. Seperti halnya Michael Phelps yang tidak akan lupa cara berenang, Sheva juga tidak akan lupa cara mencetak gol. Selebrasi khasnya juga ia tunjukkan, seperti membawa saya ke era kejayaan sang bintang. Pada pertandingan Milan Glorie lawan Indonesia All Stars itu, kecepatan memang sudah bukan lagi atribut andalan Sheva seperti satu setengah dekade lalu, tapi percayalah bahwa akan selalu ada ancaman bagi lawan setiap ia berada di lapangan.

Selebrasi khas itu
Tidak hanya Sheva, tapi ada pula Maldini. La Bandiera ini masih mampu menyuguhkan permainan cantik, elegan dan berkelas seperti biasanya. Ia adalah sosok pemain utopis yang karirnya hanya kurang trofi Piala Dunia. Maldini adalah sedikit dari seorang pemain belakang yang punya kemampuan kontrol bola, visi, umpan, kecerdasan dan kepemimpinan yang nyata. Sebuah kombinasi kemampuan yang langka yang memang membedakan pemain bagus dan pemain top. Kemarin, Maldini bermain selama 90 menit sebagai bek kiri, posisi saat ia memulai karirnya. Dia menyuguhkan standar tinggi, standar pemain top. And Maldini will always be the top player.

Hujan deras turun sebelum pertandingan, namun berangsur berhenti seiring dimulainya laga. Lapangan yang basah dan cuaca yang sejuk memang sangat menyenangkan buat dipakai bermain sepak bola, lebih dari apapun juga. Para serdadu tua Milan tetap saja unggul taktik dan organisasi permainan dibanding tim Indonesia All Stars, yang padahal masih diperkuat beberapa pemain aktif.

Jarak antar pemain, positioning, juga umpan-umpan terobosan memikat memang tidak bisa menipu bagaimana para legenda ini memang pernah menjadi poster boy di kamar banyak anak-anak di seluruh dunia. Bahkan seorang Pietro Vierchowod yang sudah lebih cocok memancing atau menjadi bintang tamu acara masak-memasak saja masih memiliki game intelligent yang baik.

Satu hal yang merusak hidangan spesial kemarin adalah saat Milanisti menyoraki Bepe. Ya, Bepe sang legenda Indonesia, negara yang mereka tinggali itu. Bepe disoraki oleh suporter yang padahal masih suka sarapan dengan nasi uduk dan bukan pizza itu.

Tidak peduli apakah Bepe itu seorang Interisti (lagipula jika Interisti memangnya kenapa?), tapi mereka seharusnya lebih memandang Bepe sebagai legenda Indonesia. Untungnya Bepe memang dasarnya pemain berkelas. Di akun twitternya dia dengan elegan menyebut bahwa mendapat sorakan adalah hal yang biasa, dan secara khusus ia malah membagi momen kebahagiaannya saat bertukar kaus dengan Kurniawan Dwi Yulianto, idolanya yang juga legenda Indonesia.

Ya, Bepe sayangnya menjalani dunia paradoksal selama pertandingan kemarin. Ia disoraki di negeri sendiri, di stadion yang biasanya bersahabat dengannya, oleh publik yang seharusnya selalu berada di belakangnya. Sepak bola memang kadang tidak masuk akal, namun saya sangat sulit mencerna kelakuan suporter yang sampai menyoraki legendanya sendiri.

Mereka tetaplah sama-sama legenda

Semoga kedatangan tokoh-tokoh utopia pengantar tidur macam Sheva atau Maldini tidak serta merta menggerus kebanggaan kita pada pahlawan yang berada di depan mata sehari-hari. Tidak juga membuat kita lupa pada sosok legenda pahlawan bangsa yang dekat dengan kita seperti Mas Bambang Pamungkas.

Monday, February 4, 2013

Who said life is fair, anyway?

Such a familiar celebration


Berita bagus! Kita mendapatkan Mario Balotelli. Lalu Balotelli mencetak brace dalam debut, setelah itu Milan berada di posisi 4 karena Inter kalah, perbedaan poin dengan Lazio di posisi 3 hanya tinggal 3 angka. Tiga angka menuju tempat impian: Zona Champions. Jika Milanisti mengatakan ini 6 bulan lalu mungkin akan menjadi bahan tertawaan, tapi kini? Lihat Milan berada dimana!

Balotelli sungguh menjanjikan. Ia membuat seluruh tim seperti bergerak. Kita seperti melihat Nocerino yang mencetak 10 gol musim lalu, Flamini ketika masih berada di Arsenal, dan bayangkan pula dampak kehadiran Super Mario terhadap Kevin Prince Boateng.

Balotelli dengan trik, skill dan ketajamannya sungguh menghibur San Siro. M’Baye Niang bermain seolah bersama abangnya, begitu pula El Shaarawy yang mengesankan seperti biasa. Bersama di lini depan, mereka membentuk tridente mohawk, tridente yang bisa menembus nominasi perolehan Ballon D’or di masa depan.

Udinese, lawan yang menjadi partai debut Super Mario dibuat bagaikan mendapat hari buruk. Milan tampil seperti petinju muda yang kaya pukulan, bersemangat dan membuat penonton berdecak kagum. Permainan seperti inilah yang menjadi identitas The New Milan harapan kita semua.

Balotelli memang fenomenal. Ia meningkatkan jumlah fans yang hadir menonton latihan, juga jumlah yang memadati San Siro semalam. Balotelli akan menjadi katalis performa sekaligus mengangkat nama tim yang terlucuti kekuatannya di awal musim. Balotelli adalah euforia, kebanggaan sekaligus harapan. Memang bukan tanpa sebab Milan menuruti permintaan City yang meminta 25 juta euro yang pada akhirnya mampu diturunkan oleh Galliani hingga 20 juta. Buat Milan, harga itu mahal, harga itu pula yang membuat mereka tidak jadi merekrut Ricardo Kaka. Tapi buat Balotelli, yang juga seorang Milanista, Milan rela. Galliani rela. Galliani akhirnya mendapat tepukan tangan meriah dari suporter seperti layaknya seorang atlit yang baru mendapat medali emas.

Namun cukup sudah. Buat saya, pertunjukan bagus Milan hanyalah di 45 menit pertama. Selanjutnya, Milan termakan strategi pertahanan rapat anak asuhan Francesco Guidolin, termakan provokasi Maurizio Domizzi, juga termakan serangan balik. For God’s sake, kebobolan Milan oleh Giampiero Pinzi diawali dengan kalahnya Daniel Bonera dalam duel udara dengan Antonio Di Natale. Ya, anda tidak salah membaca, itu Antonio Di Natale yang tingginya mungkin saja 10 cm dibawah Bonera (saya malas mengecek Wikipedia).

Setelah itu, Milan seperti memperlihatkan diri sebagai petinju limbung yang lemah dalam bertahan dan tidak memiliki pukulan mematikan untuk segera meng-KO lawan. Yang ada, Milan seperti kehilangan arah karena salah passing dan lemahnya penyelesaian akhir membuat mereka menunda pesta. Ya memang ada sih ketidakberuntungan karena tendangan Niang menghajar keras tiang gawang.

Saya sudah bisa menerima hasil imbang ini hingga kemudian terjadi tekel keras oleh bek Thomas Heurteaux kepada El Shaarawy di kotak penalti. Wasit tahu, Tuhan tahu, semua orang tahu kalau tekel itu bersih, sebersih wajah para model iklan pembersih wajah. Tekel itu mengenai bola dan seharusnya Milan hanya mendapat tendangan penjuru untuk itu, bukannya penalti.

Balotelli memang belum pernah gagal menendang penalti sepanjang karirnya, dan ia terus memperpanjang catatan manis itu. Pedelli, penjaga gawang cadangan Udinese yang tampil gemilang tertipu oleh gerakan Balotelli. San Siro berpesta, Milan berpesta, Balotelli disanjung, Allegri lega, Galliani lega. Tapi saya tidak. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari kemenangan yang berasal dari cara seperti ini. Udinese jelas layak meradang karena mereka setidaknya pantas membawa pulang satu poin dari Milan yang limbung. Milan sebenarnya tidak butuh hal semacam ini untuk menang.

Penalti ini impas? Impas seperti saat Balotelli dijatuhkan Domizzi berberapa menit sebelumnya? Impas karena tahun lalu gol Muntari tidak disahkan? Ayolah, tidak ada istilah impas atau apapun itu dalam sepak bola. Jika wasit di masa lalu pernah mengambil keputusan salah yang merugikan sebuah tim, bukan berarti wasit akan memberikan keputusan menguntungkan lawan hanya untuk menebus kesalahan. Apakah hanya ini yang bisa dilakukan? Mengkambinghitamkan wasit? Kalau mau menang ya cetak gol lebih banyak daripada lawan. Sepak bola sesungguhnya sesederhana itu. Saya lebih senang hasil seri ketimbang menang dengan cara seperti ini. Walaupun ada kemasygulan berjamaah bahwa “Siapa bilang hidup ini adil?”

Ketimbang merayakan debut gemilan Balotelli, saya lebih suka mengkritik penampilan skuat Allegri semalam. Milan bermain baik hanya 1 babak, dan diluar kebiasaan, justru itu terjadi di babak pertama. Kehadiran Balotelli yang mampu menahan bola lebih baik dan memiliki skill set lebih lengkap sebagai penyerang tengah memang membuat Milan mampu mengendalikan laga dan mendikte lawan sejak awal. Namun tidak ada gunanya jika pukulan mematikan tidak mampu dimiliki dan pertahanan lemah masih saja diperagakan.

Lawan jelas tahu persis kelemahan Milan di sisi pertahanan, juga lini tengah yang kemarin kurang disiplin memotong laju serangan balik lawan. Absensi Mexes memang membuat Allegri menurunkan Bonera, namun hal itu justru aneh karena ia memiliki Cristian Zaccardo dan Bartosz Salomon. Mereka mungkin belum tentu lebih baik daripada Bonera, tapi jika hanya menjadi bek tengah kelima dan keenam, buat apa Milan repot-repot mendatangkan mereka?

Dipasangnya Niang sejak awal bisa berarti baik atau buruk. Niang memang makin menampakkan bakatnya, namun kegagalan demi kegagalan mencetak gol cepat membuat Milan limbung di babak kedua seperti kemarin, dan di bangku cadangan Milan hanya memiliki Bojan, Traore dan Robinho yang mungkin dimainkan untuk mengubah keadaan. Diantara ketiga pemain itu, hanya Bojan yang efektif jika dimainkan di pertengahan laga, sementara Robinho lebih membutuhkan adaptasi lebih awal dalam sebuah laga dengan diturunkan sejak awal. Traore? Dia butuh lebih banyak kesempatan lagi.

Mengandalkan Balotelli seperti mengingatkan kita pada saat masih ada Ibra disini. Semuanya just leave it to the Big Swede. Gejala ini timbul kembali di era sekarang. Balotelli menjadi tumpuan, inspirator sekaligus penentu. Pembebanan tanggung jawab yang berat hanya ke satu orang hanya akan membuat Milan kembali menjadi one-man team.

Ketimbang membangun tim di sekeliling Balotelli, mungkin akan lebih bijak jika permainan kolektif yang sebenarnya sudah tercipta selama ini dipertahankan. Menjadikannya sebagai penentu sangatlah wajar, namun membagi peran dengan yang lain akan membuat Milan menjadi tim yang lebih kuat. Allegri harus sadar bahwa Pazzini sedang menjalani salah satu tahun terbaik dalam karirnya, dan mencadangkannya hanya akan membuatnya melempem lagi. Opsi memainkan kedua penyerang ini patut dicoba.

Senjata paling mutakhir telah dimiliki, tinggal bagaimana menggunakannya dengan bijak.